Mengulang tradisi di tahun-tahun sebelumnya, dalam tulisan kali ini aku ingin menuliskan rencana serta harapan yang inginn kucapai di tahun 2024. Secara umum apa yang ingin kucapai di tahun 2024 ini mungkin tidak akan terlalu banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bukannya aku tidak ingin mencapai sesuatu yang baru, tetapi menurutku menjaga konsistensi menjadi lebih prioritas dibandingkan hanya sekedar mengejar target one-time. Tema di tahun 2024 ini mungkin masih sama: menyeimbangkan antara apa yang sudah diraih vs menikmati apa yang sudah ada. Di tahun 2024 sejujurnya aku tidak ingin terlalu ngoyo, let it flow saja lah.
Senin, Januari 01, 2024
Minggu, Desember 31, 2023
364 Days Active in 2023
Kamis, November 23, 2023
Catatan Liburan ke Ambarawa & Dieng
Setelah tertunda entah berapa lama, akhirnya aku sekeluarga berkesempatan untuk liburan ke Dieng. Dieng menjadi salah satu wishlist destinasi yang ingin kami kunjungi sejak beberapa tahun ke belakang, dan akhirnya baru bisa tereksekusi di akhir bulan Juni lalu bertepatan dengan waktu liburan sekolah anak-anak. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan di internet, banyak spot wisata yang bisa kami kunjungi di Dieng. Selain itu, aku juga berencana untuk mencoba beberapa rute tanjakan di daerah sekitaran Dieng. Dengan pertimbangan ini pada akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil waktu liburan agak lama, yaitu selama 4 hari. Seandainya bukan karena rencana untuk mengikuti RUPS nya Samudera Indonesia di tanggal 28 Juni, mungkin akan ku-extend liburanku hingga waktu Idul Adha.
Rabu, Januari 04, 2023
Recap 2022: My Best Year so far
Tahun 2022 telah berakhir, dan sejauh ini 2022 menjadi tahun terbaik yang pernah kujalani. Ada beberapa pencapaian yang menurutku bisa dijadikan sebagai milestone dan layak untuk dirayakan. Could I have done it better? Tentu saja. Banyak pelajaran yang kupetik dan memberikan ruang untuk kuperbaiki di waktu yang akan datang. Namun secara umum, aku sudah cukup puas. Sejujurnya, aku lebih menyukai jalanan yang berliku dan mungkin jarang dilalui orang, jadi walaupun hasilnya kurang sesuai ekspektasi, setidaknya aku mendapat pengalaman baru.
Selasa, Juni 01, 2021
7 Tingkat dalam Kebebasan Finansial
Setelah membaca Financial Freedom karya Grant Sabatier, aku merasa perlu menuliskan kembali beberapa hal yang kuanggap penting dari buku ini. Pada awalnya aku tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi pada buku ini, namun setelah selesai kubaca semuanya, buku ini memberikan cukup banyak inspirasi terkait dengan rencanaku dalam mencapai kebebasan finansial dan pensiun lebih cepat. Selain itu, karena ada cukup banyak kesamaan antara pandanganku terkait dengan kebebasan finansial dengan apa yang ditulis, ini setidaknya memberikan dukungan moral dan membuatku lebih percaya diri bahwa rencanaku ini memang bisa dieksekusi, tidak sekedar rencana diatas kertas saja.
Minggu, Juli 08, 2018
Harapan & Resolusi 2018
Senin, April 23, 2018
Flash Back 2017
Resolusiku di tahun 2017 bisa dilihat di tulisan: Resolusi 2017, dan berikut adalah pencapaianku.
Selasa, Februari 21, 2017
Resolusi 2017
Berbicara mengenai resolusi, tidak harus selalu berkaitan hal-hal yang luar biasa. Terkadang hal-hal yang sepele dan terlihat mudah malah lebih sulit untuk dicapai jika targetnya berkesinambungan.
Minggu, Juni 24, 2012
Lelah: Working Harder but Not Smarter
Ibarat sebuah sistem yang memiliki kapasitas produksi X dan bisa menampung antrian sebanyak Y. Sistem tersebut dapat memproses X dalam waktu T. Secara teoritis sistem tersebut akan memproses secara sekuensial, tergantung prioritasnya. Jika sudah selesai, maka akan memproses antrian berikutnya. Normalnya, dalam waktu T, sebanyak X pekerjaan dapat diselesaikan.
Anggap saja kemampuanku dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan contoh diatas. Nah, yang terjadi dalam kasusku adalah, aku diberikan pekerjaan sejumlah > X, tentunya sebagian akan aku masukkan dalam antrian dong. Yang memberiku pekerjaan sudah tahu kapasitasku, sebanyak X dan akan selesai dalam waktu T. Permasalahannya, terkadang tiba-tiba ada pekerjaan yang dimasukkan ke dalam antrian dan memiliki prioritas 'Real Time', yang artinya mesti diselesaikan pada saat itu juga.
Tidak seperti processor komputer jaman sekarang yang sudah multicore, otak manusia ya core nya cuma satu. Jika menerima pekerjaan semacam itu, yang terjadi adalah semua pekerjaan yang masuk dalam kategori X akan distop dulu, dan mengerjakan pekerjaan dengan prioritas 'Real Time' tersebut lebih dulu. Setelah selesai, baru lanjut lagi dengan pekerjaan sebelumnya. Perpindahan ini tentunya memakan resource. Artinya otak perlu di-reload ketika memindahkan fokus dari dan ke pekerjaan yang memiliki prioritas yang lebih tinggi. Memori otak manusia juga mengalami keterbatasan. Bisa jadi saat akan memindahkan fokus ke pekerjaan yang lebih rendah, ada sesuatu yang terlewat. Yang aku alami sekarang, banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang datang tiba-tiba dan memiliki prioritas 'Real Time'. Gimana nggak puyeng coba.
Hasil akhirnya bisa ditebak, pekerjaan-pekerjaan mendadak yang biasanya nggak terlalu penting dibandingkan dengan project besar akan selesai tepat waktu. Project besar yang di depan mata terkadang terbengkalai, namun biasanya sih pasti kelar karena pada suatu saat tingkat prioritasnya akan naik menjadi 'Real Time' juga. Pekerjaan-pekerjaan yang sudah masuk dalam proses produksi, bakalan molor dan memakan waktu lebih dari T. Bagaimana dengan pekerjaan yang masih dalam antrian? Nggak akan pernah selesai, karena waktu yang diberikan tidak mencukupi. Ujung-ujungnya motivasi jadi menurun karena capek dan merasa sibuk, tetapi hasil yang didapatkan nggak optimal. Rasanya ini kerja nggak tambah cerdas, cuma nambah capek aja.
Minggu, Maret 18, 2012
Bahagia itu Sederhana
Ada yang menggelitik pikiranku saat mataku menangkap seorang ibu dan anaknya bermain-main di area peron. Ibu dan anak tersebut juga berinteraksi dengan petugas stasiun yang juga sedang senggang. Melihat dari cara interaksi mereka, sepertinya ibu dan anak tersebut bukan calon penumpang dan tinggal di area dekat stasiun. Pemandangannya sangat kontras, mereka bisa tertawa-tawa dengan lepas, berbeda dengan ekspresi dan mimik para calon penumpang yang kebanyakan justru serius, atau bahkan tanpa ekspresi.
Setelah kuamati cukup lama, aku menyadari arti kebahagiaan itu begitu sederhana, tetapi banyak orang yang terus mencarinya. Mencari kebahagiaan, tetapi pada akhirnya apa yang mereka dapatkan hanyalah kebahagiaan semu. Mengamati apa yang terjadi di depan mataku, aku hanya bisa terdiam. Aku merasa iri, aku merasa malu pada diriku sendiri. Rasanya perasaan bahagia seperti yang dirasakan oleh ibu dan anak tersebut, jarang sekali kurasakan belakangan ini. Sepertinya kesibukanku belakangan ini dan tekanan-tekanan dari pekerjaan telah membuatku lupa tentang arti bahagia itu sendiri.
Yah, bahagia itu sangat sederhana, namun juga menjadi pilihan. Setiap orang punya hak untuk merasa bahagia. Dan setiap orang juga punya pilihan untuk merasa bahagia ataupun tak merasa bahagia. Berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang telah diharapkan bisa memberikan kebahagiaan. Melakukan hal-hal yang menyenangkan juga bisa memberikan kebahagiaan. Merasa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki juga bisa memberikan kebahagiaan. Tinggal kita mau pilih yang mana.
Ah, kurasa minggu-minggu berikutnya, aku harus mulai meluangkan lebih banyak waktu untuk sekedar menikmati hidup dan merenungkan segala hal yang sudah kumiliki dan membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang malah membuat dunia tampak begitu rumit. Banyak jalan menuju Roma, dan banyak pula jalan menuju kebahagiaan...
Sabtu, Januari 07, 2012
Warna-warni 2011 - Bagian 3 (Tamat)
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya saat aku masih melajang #halah, di tahun 2011 ini semuanya tampak berubah. Tidak semua hal bisa aku lakukan sebebas seperti dulu. Apalagi hal-hal yang menyangkut pengeluaran, perlu didiskusikan baik-baik dengan istri sebelum memutuskan. Namun demikian bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa-apa. Menteri keuangan kan tugasnya hanya mengawasi :p, jadi dengan komunikasi yang tepat, semuanya mungkin untuk dilakukan. Yang penting tujuan tercapai lah.
Pada bagian yang terakhir ini, aku merangkum segala hal yang bertema 'senang-senang' selama tahun 2011.
Upgrade PC
Sebagai penggemar game Age Of Empires III aku merasa PC lamaku ini kurang berfungsi secara optimal. Aku tak bisa bermain pada resolusi maksimum dengan nyaman. Pada resolusi rendah saja kadang-kadang masih lambat, apalagi pada resolusi maksimum. Tadinya sih rencananya mau beli PC baru sekalian. Tapi rasanya sayang aja, PC lama masih bisa digunakan. Dan terlebih lagi keperluannya hanya untuk bermain game aja. Kalaupun untuk urusan kerjaan ataupun remote, spesifikasinya masih cukup. Akhirnya aku putuskan untuk mengupgrade sebagian komponennya: motherboard, power supply, memory, dan VGA card.
Motherboard dan power supply nya diganti karena waktu itu sudah kurang stabil karena listrik di rumahku yang sebelumnya bermasalah. Sebel aja nih, padahal motherboardku yang rusak itu adalah motherboard yang bagus, dan pada saat aku beli dulu harganya lumayan. Yah, sebagai penggantinya sih kupikir nggak perlu beli yang mahal-mahal lah. Yang penting bisa buat maen game :p. Namun demikian, untuk power supply, aku sengaja membeli yang agak bagus. Alasanku adalah, jika suatu saat nanti aku akan merakit PC baru, nggak perlu beli lagi power supply nya.
VGA Card adalah komponen yang jelas perlu aku upgrade. Setelah aku upgrade ke VGA Card kelas menengah, performa game Age Of Empires III yang biasa aku mainkan meningkat cukup signifikan. Nggak ada lagi yang namanya nge-lag, walaupun dalam setingan dan resolusi maksimum. Hanya saja, dalam benchmarknya, score VGA Card ku tidak maksimal karena processor yang aku gunakan bisa dibilang udah outdated, sementara VGA Card yang aku pakai tergolong masih baru. Sehingga aku tak bisa memainkan game-game rilis terbaru dengan maksimal.
Nikon AF 85mm f/1.8D
Waktu itu sih justifikasinya untuk foto-foto sang buah hati yang baru lahir. Tapi… setelah dicoba rasanya lensa 85mm ini terlalu panjang fokusnya. Agak kurang-kurang cocok untuk foto-foto bayi kalo menurutku. Pakai lensa 35mm hasilnya malah lebih bagus. Kecuali nanti si dede nya udah bisa berdiri dan jalan, baru deh nge pas. Ah, yang penting barangnya udah kebeli dulu lah. Dipake mah belakangan aja. Huehehe..
Mac Book Air 2011
Ini adalah hadiah ulang tahun untuk diriku sendiri. Walaupun sebenarnya aku nggak terlalu butuh, tapi memang pengen sih. Maklum udah sejak lama mengincar model laptop ini. Apalagi setelah beberapa sebelumnya istriku membeli Mac Book juga. Jadi tambah kepengen deh. Alasan utama membeli laptop ini adalah karena ringan, dan spesifikasinya juga lumayan oke. Terlebih lagi aku ingin menjajal sistem operasi Mac OSX, bosen sama Windows mulu.
Dalam kenyatannya, laptop ini jarang sekali kupakai untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Keseringannya adalah untuk browsing, mengolah foto, ngoprek, main game, menonton film, dan mendengarkan musik. Namun, karena ringan, laptop ini sering kubawa kemana-mana. Kalaupun memang perlu untuk mengerjakan pekerjaan kantor, tinggal remote saja, dan beres lah kerjaan. Aku agak-agak malas untuk memindahkan semua urusan kantorku ke laptop ini. Pertama karena sistem operasinya. Banyak aplikasi-aplikasi yang biasa aku gunakan, hanya ada untuk versi Windows. Dan alasan kedua karena ukuran media penyimpanan laptop ini tidak terlalu besar, hanya 120 GB karena menggunakan SSD.
Secara umum, menurutku jajarannya Mac Book Air ini sangat cocok digunakan untuk hal-hal yang berbau hiburan. Walaupun ukuran media penyimpanannya hanya 120 GB, namun performa SSD ini sungguh memuaskan. Untuk mengolah dokumen-dokumen berukuran yang cukup besar, laptop ini tidak mengalami masalah yang berarti. Waktu yang diperlukan untuk membuka aplikasi-aplikasi yang cenderung berat seperti Photoshop juga relatif cepat. Setelah menggunakan laptop ini, aku berpikir untuk mengganti media penyimpanan laptop lamaku dengan SSD. Namun performa yang tinggi juga diimbangi dengan harga yang tinggi juga. Hix..
Jalan-jalan ke Belitung
Bisa dibilang acara jalan-jalan bersama anak-anak Pura Pala ini termasuk dadakan. Hanya direncanakan 2 minggu sebelum hari keberangkatan. Tapi hasilnya sangat memuaskan. Agak-agak nggak enak juga sih karena istriku nggak bisa ikut. Tapi yah, pada kenyatannya aku pergi juga. Hehehe.. Maklum pada acara jalan-jalan Pura Pala sebelumnya aku nggak ikutan, jadi ya di acara jalan-jalan kali ini aku mengusahakan untuk ikut. Cerita lebih lanjut mengenai acara ini bisa dilihat di dalam tulisan Trip to Belitung, Negeri Laskar Pelangi.
Samsung Galaxy Tab 8.9
Akhir tahun ini ditutup dengan kejutan yang menyenangkan. Diawali dengan undangan workshop dari unit kerja lain. Jarang-jarang undangan workshop pas liburan akhir tahun begini. Sesuai dengan dugaan, acara yang terkait dengan kerjaannya sih nggak terlalu banyak. Acara jalan-jalannya yang lebih terasa. Ternyata di pada acara workshop ini ada door prize nya. Dan aku mendapatkan hadiah utamanya, Samsung Galaxy Tab 8.9.
Sebenarnya aku nggak terlalu suka dengan produk Samsung, secara doi banyak menjiplak desain produknya Apple. Tadinya mau aku jual aja, tapi rasanya sayang aja barang pemberian malah dijual. Terlebih lagi, aku ingin menjajal dan ngoprek OS Android dulu. Rencananya tahun ini aku akan membeli iPad. Dan setelah memiliki Galaxy Tab ini, rasa-rasanya aku ingin membuat perbandingan diantara keduanya.
Sejauh ini sih, aku nggak terlalu banyak memakai barangnya, karena kebetulan istriku suka dan dia yang lebih banyak memakai. Namun dari pengalamanku, produk tablet sepertinya sangat cocok untuk dijadikan bahan oprekan. Sayang aja kalau cuma dipakai baca ebook dan main game. Tidak seperti Apple yang cenderung tertutup, Android lebih terbuka dan bebas. Tapi aku masih belum nyoba kalau sampe nge-root dan nge flash ROM nya. Selain beresiko gagal dan menghilangkan garansinya, saat ini aku tidak memiliki cukup waktu untuk ngoprek-ngoprek.
Warna-warni 2011 - Bagian 2
Pada bagian ini, aku akan mencoba untuk mengupas beberapa catatan terkait dengan keluargaku. Tentunya aku tidak akan menuliskan hal-hal yang bersifat personal disini.
Tua di Jalan???
Inilah tahun pertama dimana aku tinggal setahun penuh di Bekasi. Jika dilihat di peta, jarak dari tempat tinggal ku sebelumnya, di daerah Tangerang Selatan lebih jauh daripada Bekasi. Tapi jarak tidak berelasi dengan waktu tempuh ke kantor. Waktu 1,5 jam adalah waktu paling cepat yang bisa ditempuh dari Bekasi ke kantor, tapi biasanya sih bisa lebih lama lagi. Yah, bisa aja sih lebih cepat, tapi tentunya berangkat lebih pagi dan menurutku berangkat sebelum jam 5:30 agak kurang masuk akal.
Ada beberapa alternatif kendaraan umum yang bisa digunakan. Naik bus, omprengan, atau naik kereta. Naik bus atau omprengan waktu tempuhnya bisa diluar perkiraan. Semakin siang, tol dalam kota macetnya bukan main. Dan dari pintu keluar Tol Cawang sendiri bisa 1 jam sendiri untuk sampai ke kantor. Naik omprengan lebih sedikit manusiawi karena sudah tentu kebagian duduk. Sementara naik bus dapat duduk saja sudah untung. Sementara itu kalau naik kereta, keuntungannya adalah waktu tempuh lebih cepat, walaupun nanti mesti naik angkutan umum sekali lagi. Permasalahannya adalah rute angkutan umum setelah naik kereta ini adalah rute macet. Yah, lebih baik waktu tempuh 1,5 jam tapi paling nggak bisa melihat banyak pemandangan sepanjang jalan daripada 1,5 jam tapi berhenti total. Pilihan yang sulit
Permasalahan berikutnya adalah ketika pulang. Jika masih dibawah jam 8, aku masih bisa naik omprengan. Diatas itu, mesti naik bus, dan busnya tentu saja belum tentu kebagian duduk dan kadang menunggunya pun lumayan lama. Waktu tempuh ketika pulang bisa dibilang lebih manusiawi lah dibanding waktu berangkat. Asal nggak parah-parah banget, bisa lah 1 jam sampai ke rumah.
Sebagai perbandingannya, ketika tinggal di Tangerang Selatan, waktu tempuh pulang pergi kurang lebih sama, sekitar 1 jam. Dan tidak perlu terjebak dalam macet pula, karena naik kereta dan rute kendaraan umum dari stasiun ke kantor bukan rute macet. Yang paling nyaman adalah waktu tempuhnya kurang lebih sama jika aku berangkan jam 6, jam 7, atau jam 8 sekalipun. Hehehe
Rumah Baru
Di awal tahun aku dan istriku memutuskan untuk membeli rumah di dekat tempat tinggalku dulu, di daerah Tangerang Selatan. Aku cukup beruntung untuk mendapatkan rumah dengan lokasi dekat stasiun dan pasar dan dengan harga yang terjangkau. Sebenarnya cluster rumahnya sudah terbeli semua. Hanya saja ada yang membatalkan. Dan kebetulan aku mendapat info tersebut. Beruntungnya, harga rumahnya sama dengan penawaran pertama 1 tahun yang lalu, dalam artian harganya belum naik. Dengan lokasi se-strategis itu, aku bisa mendapatkan rumah dengan harga yang lebih murah daripada rumah dengan tipe yang sama yang lokasinya di sekitaran rumahku.
Walaupun sekitar pertengahan tahun 2011 rumah ini sudah jadi, namun baru akan kami tempati tahun ini. Maklum lah, udah jadi kan bukan berarti bisa langsung ditempati. Perlu waktu untuk mengisinya sedikit-sedikit. Belum lagi rencananya tahun ini kami akan menambah satu kamar lagi. Yah, semoga rencana ini bisa berjalan dengan lancar.
Sang Buah Hati
Pada bulan April, tepatnya tanggal 19 April, telah lahir putra pertama kami. Terasa lengkap sudah kebahagiaan yang kami rasakan. Pada awalnya aku dan istriku berencana untuk menjalani persalinan normal. Namun apa daya keinginan itu tak menjadi kenyataan. Di hari kelahirannya, ketuban pecah duluan. Karena masih menginginkan persalinan secara normal, dokter menyarankan untuk induksi. Konon katanya sakitnya bukan main. Yah, terbukti dari ganasnya cakaran-cakaran istriku setelah dilakukan induksi. Setelah beberapa jam tanpa ada hasil, terlebih lagi ketubannya sudah pecah sejak pagi, akhirnya kami memilih untuk persalinan secara caesar. Sore hari, pukul 15:30 putra pertama kami lahir.
Dengan bertambahnya anggota keluarga, selalu ada alasan untuk pulang cepat dari kantor. Hehehe.. Sayangnya dalam beberapa minggu pertama sejak hari kelahirannya aku tak bisa mengabadikan foto-fotonya karena kameraku tiba-tiba (dan entah kenapa) rusak. Sebenernya sih bisa aja ngambil pakai kamera HP, tapi berasa ga worth aja #lebay. Beban pengeluaran bulanan pun bertambah. Dan bertambahnya pun lumayan banyak. Pengeluaran untuk susu dan lain-lain kalau aku hitung-hitung kurang lebih sama dengan pengeluaran operasional bulanan untuk diriku sendiri. Apalagi ASI istriku tidak terlalu banyak, sehingga dari sejak lahir ya setengah-setengah dengan susu formula. Tapi walaupun demikian, kebahagiaan yang diberikan sebanding kok.
Investasi
Di sekitaran awal tahun 2011 aku memutuskan untuk mengkonversi sebagian tabunganku ke dalam dinar emas. Setelah sekian lama tidak yakin dengan dinar, akhirnya aku beranikan juga untuk mencoba. Secara performa, kenaikan harga emas per tahunnya ini jauh lebih baik daripada deposito. Dan kalau dipikir-pikir menyimpan uang di deposito itu malah rugi karena kisaran bagi hasil/bunganya berada di bawah inflasi. Sejak saat itu, ketika ada uang nganggur, aku konversikan ke dinar emas yang aku beli melalui geraidinar (www.geraidinar.com). Alasan lain adalah, aku memerlukan instrumen investasi (bukan invest sih, tapi lebih tepat kalau preserve kali yah) yang cukup likuid, mudah untuk dicairkan namun tetap perlu usaha untuk mencairkannya. Bayangkan aja kalo ngendon di deposito atau tabungan, bisa gampang banget kepake nya.
Pada saat pertama membeli dinar, harga per koin nya adalah sekitar 1,7 juta. Dan sekarang selang hampir setahun, harganya meningkat menjadi sekitar 2,1 juta. Agak-agak menyesal juga sih kenapa nggak dari dulu berinvestasi di dinar. Jika membeli melalui gerai dinar, kita akan diberikan 2 pilihan: membeli dinar fisiknya atau menyimpannya kedalam m-dinar. M-dinar ini semacam tabungan, yang nanti dananya akan diputar lagi oleh gerai dinar, sehingga tiap bulan pemilik akun m-dinar akan menerima bagi hasil. Walaupun bagi hasilnya ini tidak sebesar bunga bank konvensional atau bagi hasil dari bank syariah, namun nilai yang disimpan dalam satuan dinar. Jadi jika harganya naik ya nilai total investasi kita bertambah. Dengan memiliki dinar ini sebenarnya kita tidak akan bertambah kaya, karena nilainya ya segitu-segitu saja. Pemilik dinar akan memperoleh keuntungan dari capital gain karena memang tidak ada cash flow nya. Dinar hanya berfungsi sebagai instrumen yang menjaga nilai kekayaan yang dimiliki oleh pemegang dinar.
Pada pertengahan tahun, secara tak sengaja ditawari keripik Maicih yang dijual oleh salah satu resepsionis di kantorku. Karena rasanya enak dan istriku suka, akhrnya jadi sering membeli dan kecanduan deh. Akhirnya istriku mulai membawa produk tersebut ke kantornya, dan ternyata teman-teman kantornya banyak yang suka juga. Akhirnya istriku pun memutuskan untuk mencoba berjualan produk-produk Maicih di kantornya. Dan kini selain Maicih, merambah juga ke produk lain yaitu keripik Uyut. Walaupun keuntungan dari usaha ini kecil, namun paling nggak ada uang yang mengalir disini, tidak seperti dinar yang hanya tersimpan dan tidak termanfaatkan secara optimal. Dengan adanya cash flow, artinya dana yang kita miliki bisa termanfaatkan dengan baik dan tidak hanya diam saja.
Karena keterbatasan waktu dan hal-hal lain, perkembangan usaha jualan ini tidak terlalu pesat. No pain no gain lah. Walaupun masih untung, namun menurutku masih kurang optimal. Harapanku di tahun 2012 ini aku dan istriku bisa mengembangkan usaha ini dan kalau perlu merambah ke usaha-usaha lain. Btw, kalau mau produk-produk diatas, bisa menghubungi kami, nanti insyaAllah kami layani. Hehe, numpang ngiklan :p
Warna-warni 2011 - Bagian 1
Karena banyak sekali yang ingin kutulis disini, aku membagi-bagi catatanku dalam beberapa bagian. Di bagian pertama ini aku akan mengupas beberapa catatan terkait dengan pekerjaan.
Jam Kerja
Tahun 2011 ini saatnya cooling down. Tidak seperti tahun sebelumnya dimana banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan waktu ekstra untuk menyelesaikannya. Bahkan sampai menginap di kantor dan pulang keesokan harinya. Di tahun 2011 ini semuanya terasa lebih ringan. Sejak istriku hamil tua, aku skip pekerjaan-pekerjaan yang memaksaku untuk lembur. Pekerjaan memang tidak ada habis-habisnya, jadi nggak usah terlalu dipaksakan lah. Kerjakan keesokan harinya. Sekalinya lembur sampai malam, bisa rusak itu jadwal tidur jam biologis. Terlebih lagi aku tinggal di Bekasi yang walaupun secara jarang bisa dibilang tak terlalu jauh, tapi waktu tempuh pulang pergi bisa bikin tua di jalan.
Bos Baru
Sebenernya sih nggak baru-baru banget karena Bos baruku ini resmi jadi Manager di departemenku mulai pertengahan tahun 2010. Hanya saja, berhubung sebelumnya jabatan Manager sampai General Manager di tempatku kosong, bisa dibayangkan kan adanya bos baru ini bagaikan hujan di musim kemarau #lebai. Setidaknya begitulah kesan awalnya. Adanya bos berarti ada seseorang yang bisa dijadikan panutan dan mengarahkan bawahannya dalam urusan pekerjaan. Dibanding dengan kondisi sebelumnya yang aku rasakan seperti orang luntang-lantung dan tersesat dalam pekerjaan, tentunya bos baru membuat suasana menjadi lebih baik.
Bos baruku ini cekatan, cepat tanggap, sangat mampu untuk berinisiatif namun juga panikan. Karena sifat-sifat positifnya ini, jika dilihat dari sudut pandang bos diatasnya lagi: manusia super yang sangat bisa diandalkan. Jadilah departemenku berasa tong sampah. Banyak pekerjaan yang terkadang kurang jelas lingkup dan tanggung jawabnya dilimpahkan ke departemenku. Kondisi ini diperparah dengan kondisi departmen yang memiliki jumlah staf terbanyak dalam satu divisi. Jumlah staf banyak kan bukan berarti kerjanya nyantai. Namanya juga manager, ya tugasnya mengatur pekerjaan. Limpahan pekerjaan yang aneh-aneh tadi tentunya akan didisposisikan lagi ke staf-staf dibawahnya. Dengan karakter dan kondisi seperti ini, tentunya bawahannya tidak tinggal diam. Yah, sesekali ada lah pemberontakan-pemberontakan kecil :p
Walaupun demikian, aku belajar banyak hal dari bos baruku ini. Kemampuan analisis dan negosiasiku meningkat cukup pesat. Kemampuan berdebat apalagi. Hehe. Yang namanya belajar itu bisa dari mana saja.
Promosi
Alhamdulillah, di pertengahan tahun 2011 aku dipromosikan satu level ke atas. Walaupun masih dalam masa probation selama 6 bulan, tapi tetep dapet tunjangannya. Lumayan untuk nambah-nambah pemasukan, apalagi setelah punya anak, biaya hidup meningkat dan banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang mendadak. Sekarang udah nggak ada lagi uang lembur, tapi bodo amat lah. Emang udah jarang lembur juga. Malah kalo ada dihindari. Huehehehe..
Bulan Berkabung untuk Layanan SMS Premium
Seperti yang diketahui, belakangan ini marak isu-isu terkait dengan Layanan SMS Premium. Kejadiannya tepatnya terjadi pada bulan Oktober 2011. Entah bagaimana mulainya sehingga isu ini langsung cepat mencuat dan menimbulkan kehebohan yang besar. Hanya saja kurasa sepertinya ada oknum-oknum yang mungkin keceplosan ngomong dan tidak menyadari bahwa efeknya akan begitu besar. Tanggal 18 Oktober 2011 mungkin adalah tanggal yang bersejarah, karena pada tanggal tersebut, semua layanan di-reset. Tak ayal lagi banyak Content Provider yang merugi dan konon banyak pula yang gulung tikar. Untuk isu ini, aku nggak akan menjelaskan panjang lebar. Terkait dengan kode etik dan daripada nanti salah info kan bisa berabe.
Aku sangat bersyukur karena dulu memilih untuk meninggalkan tim yang menangani Layanan-layanan SMS Premium di perusahaanku. Walaupun saat ini lingkup pekerjaanku masih menangani platform yang digunakan, tetapi paling nggak aku nggak perlu ikut merasakan 'kerusuhan-kerusuhan' yang terjadi. Lembur sana sini untuk memenuhi permintaan dari regulasi, hingga diperiksa oleh pihak berwenang. Namun, walaupun demikian, imbasnya ke pekerjaanku cukup terasa.
Bukan tanpa alasan aku menulis masalah ini dalam tulisanku. Karena salah satu pekerjaanku adalah mengurusi platform yang digunakan dalam bisnis ini, dan terlebih lagi dulu ketika aku baru masuk aku ditempatkan di tim yang mengurusi teknis layanan ini, jadi cukup tahu seluk beluk yang terjadi. Dan lagi aku cukup dekat dengan orang-orang yang berada di tim tersebut. Wajar lah, dulu aku 3 tahun disana. Yah, semoga permasalahan yang terjadi ini segera berakhir dan badai segera berlalu.
Reorganisasi
Menjelang akhir tahun ada isu akan dilakukannya reorganisasi dalam perusahaan. Kalau jadi, nantinya unit kerja yang berkutat dengan bisnis akan terpisah dengan unit kerja yang terkait dengan bagian teknis. Sisi positifnya adalah unit kerja dimana aku berada bakalan bisa lebih independen dan bebas. Selama ini, tempatku seolah hanya berfungsi sebagai pelengkap dan support untuk unit kerja yang mengurusi bisnis. Sisi baiknya lagi adalah sepertinya di tahun 2012 nanti nggak bakalan ada lagi workshop-workshop maut yang kerjanya bisa sampe pagi. Fiuhh….
One Time Compensation
Di akhir tahun ini, semua karyawan di kantorku mendapatkan one time compensation sesuai dengan tuntutan serikat pekerja perusahaan. Paling nggak demo yang waktu itu kami jalani di Bulan November tak sia-sia lah.One time compensation ini dibayarkan sebagai bentuk kompensasi penyesuaian untuk kenaikan inflasi yang belum dibayarkan selama periode tahun 2008-2010. Alhamdulillah, Lumayan, berasa mendapatkan rejeki nomplok tiba-tiba :p
Senin, November 21, 2011
20112011
Jumat, Januari 21, 2011
Masihkan Kejujuran Diperlukan?
Di dalam hidup ini tidak ada yang sempurna. Kondisi ideal tidak pernah ada. Sifat manusia yang tidak pernah puas menunjukkan adanya keinginan-keinginan baru yang harus selalu terpenuhi. Sudah seharusnya kita sebagai manusia bisa mengatur keinginan-keinginan tersebut, memilah-milahnya berdasarkan skala prioritas, dan apakah ada hak-hak orang lain yang kita ambil dalam memenuhi keinginan-keinginan tersebut.
Begitu halnya dengan dunia kerja, tidak ada kondisi ideal disini. Jangan berpikir bahwa semua orang yang berada di sekitar kita bekerja dengan jujur. Bukan berarti kita berprasangka buruk dengan mereka, tetapi lihatlah kenyataan. Dimana-mana selalu terdengar si X melakukan ini itu, si Y selalu mencari muka, dan lain sebagainya. Entahlah, jika ada kondisi yang benar-benar ideal, aku menyangsikannya. Bahkan jika mau ditelaah lebih lanjut lagi dalam skala yang lebih besar, apakah perusahaan tempat kita bekerja sudah berperilaku dengan jujur dan ideal? Tanyakanlah kepada diri masing-masing. Terkadang perusahaan hanya menargetkan peningkatan revenue, revenue, dan revenue, tanpa ada guideline bagaimana cara memperoleh revenue yang baik, jujur, dan tidak merugikan orang lain. Lantas apakah bisa dianggap jujur juga seandainya perusahaan tempat kita bekerja juga bekerja sama dengan perusahaan lain anggap saja perusahaan X, dan perusahaan X ini bertindak tidak jujur dalam mencapai targetnya, sementara revenue yang didapat di share dengan perusahaan kita. Semua orang mungkin menyadari bahwa ini salah dan harus diperbaiki, tetapi seolah-olah tidak ada tindakan apa-apa untuk memperbaikinya. Sepertinya menghitung pendapatan lebih mudah dibandingkan dengan menghitung semua dosa diakibatkan karena tindakan yang tidak jujur.
Selain hal diatas, ada lagi bentuk-bentuk ketidakjujuran lainnya. Segelintir orang-orang yang mencari keuntungan demi kepentingan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan perusahaan atau bahkan merugikan kepentingan perusahaan itu sendiri. Lantas ada juga orang-orang yang memancing di air keruh, mengambil keuntungan dari suasana yang tidak kondusif: mencari muka, melakukan fitnah, menyebar berita-berita yang tidak benar, saling sikut menyikut dalam lingkungan kerja. Dan tentunya yang harus diingat, berapa banyak hak orang lain yang terambil karena tindakan-tindakan diatas. Jadi penasaran, apa sih motif untuk melakukan hal-hal seperti diatas? Apakah karena alasan materi? Ingin diperhatikan oleh atasan? Membat suasana kerja menjadi tidak kondusif? Entahlah. Tentunya masih ada bentuk-bentuk ketidakjujuran lain dengan skala lebih rendah: terlambat masuk kerja, bekerja dengan setengah hati, mangkir ketika jam kerja, pulang lebih awal, dan lain sebagainya.
Saat ini sudah banyak orang yang pintar, cerdas, dan memiliki keahlian, tetapi mungkin banyak diantaranya yang tidak jujur, terutama ketika dihadapkan pada godaan-godaan dan kondisi yang 'memaksa' mereka untuk menyimpang. Pertanyaannya sekarang adalah dengan melihat kondisi saat ini apakah keberadaan orang yang jujur masih dibutuhkan? Idealnya tentu saja iya, tetapi marilah kita melihat dari sudut pandang yang lebih realistis. Mungkin jawabannya tidak akan selalu iya, tergantung dari situasi dan kepentingan masing-masing.
Catatan: Tulisan ini hanyalah opini dan sedikit curhatan penulis dan tidak ada maksud untuk menyinggung pihak-pihak tertentu.
Sabtu, April 24, 2010
Setelah 5 hari Pulang Malem
- Stress. Pikiran nggak fokus dan males mau ngapa-ngapain. Sampe kebawa mimpi buruk. Parah dah.
- Batuk nggak sembuh-sembuh. Parah emang, semingguan belakangan ini berasa jadi orang paling berisik di kantor. Sampe dibilang pesakitan ama bos. Ya iyalah pulang malem mulu karena kebanyakan kerjaan. Ditambah banyak permen bertebaran dimana-mana dan makanan manis lainnya yang menggiurkan. Tergoda deh. Maaf ya teman-teman kalo terganggu karena berisik.
- Konsumsi Fisherman's Friend ama Strepsils meningkat. Walaupun lumayan melegakan, ternyata efeknya nggak bisa mengalahkan efek konsumsi permen. Heheheh. Mana ada efek sampingnya pula lagi, jadi cepet haus.
- Telat makan malem. Tiap hari makan malem diatas jam 9. Untung maag nggak kumat nih.
- Lebih hemat. Nggak percaya? Coba aja. Karena pulang malem-malem, dari kantor nggak gampang tergoda untuk mampir kmana-mana dulu. Maunya pulang cepet dan ngejar kereta. Alhasil pada hari-hari pas pulang malem, pengeluaran bisa ditekan, karena duit cuma abis buat transport aja.
- Kerjaan beres doongg. Yoi, klo kerjaan nggak beres mah ngapain juga pulang malem.
- Ngerusuhin orang-orang IT ama Network. Sering bolak-balik plus minta ini itu, jadi makin dikenal deh sbagai tukang rusuh. Sigh, yg penting kelar laah.
Kamis, Juni 18, 2009
Karena Wanita Membutuhkan Rasa Aman
Masa-masa lajang adalah masa-masa penuh kebebasan. Belum ada beban dan tanggungan, gaji juga masih utuh, pos-pos pengeluaran belum terlalu banyak *kecuali orangnya boros*. Sementara itu setelah menikah, pengeluaran menjadi lebih banyak, ada tanggungan istri dan anak, sehingga semua yang menyangkut masalah keuangan harus didiskusikan dulu, walaupun itu untuk kepentingan keluarga sekalipun. Itulah kata mereka, laki-laki yang telah menikah, yang ceramahnya seringkali kudengar.
Ungkapan dan sindiran seperti "Wah, itu mesti di acc sama menteri keuangan dulu" sudah menjadi jamak di lingkungan kantorku, terutama dari suami-suami yang istrinya memang tinggal di rumah dan tidak bekerja. Bahkan walaupun sang istri sudah bekerja sekalipun, tetap saja pengeluaran si suami mesti di-acc dulu. Tak heran, untuk membeli barang yang katakanlah nggak terlalu mahal dan nggak aneh-aneh pula *dalam artian masih sangat terjangkau sekalipun* tapi bukan termasuk kebutuhan primer, perlu persetujuan istri dulu *pernyataan yang ini sih aku dengar dari teman perempuanku sendiri yang telah menikah*.
Berhubung aku sendiri belum menikah dan belum mengalami masalah-masalah seperti itu, muncullah berbagai pertanyaan yang tak bisa aku pahami. Jika aku membuat sebuah daftar pertanyaan mengenai masalah ini, kira-kira hasilnya akan seperti ini:
- Apakah kekuasaan istri itu sedemikian tingginya sehingga dia adalah orang yang berhak untuk meng-acc segala pengeluaran? Pertanyaan ini berlanjut dengan: Lantas apakah kuasa suami sang pencari nafkah sangat kecil pada uang yang diperolehnya? Aneh memang. Apakah semua ini terjadi karena suami tidak bisa dipercaya untuk memegang uang atau karena kebanyakan suami adalah tipe-tipe pemboros yang selalu mementingkan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kepentingan keluarganya? Ataukah suami biasanya cenderung malas untuk memegang uang dan menyerahkan sepenuhnya pengelolaan keuangan kepada istri?
- Bagaimana status uang yang diperoleh oleh suami? Apakah sepenuhnya milik istrinya? Secara istri yang meng-acc semua pengeluaran. Seringkali aku mendengar istilah seperti ini: "Uang suami adalah uang istri, uang istri adalah uang istri." Terdengar tak adil. Memang. Ada yang salah. Dalam pemahaman agamaku, uang suami adalah uang suami, uang istri adalah uang istri, tetapi suami wajib menafkahi istri dan keluarganya. Disini berarti suami seharusnya bisa mengontrol secara penuh masalah keuangannya. Istri seharusnya menerima lah, selama dalam batas yang wajar, sesuai yang aku pelajari dalam hadis-hadis hshahih. Dalam Islam kan nggak dikenal harta gono-gini. Harta milik suami ya nggak bisa di-klaim oleh istrinya. Tapi kenapa yang terjadi seolah harta suami ya harta istri juga.
- Sebenarnya suami itu terpaksa atau sukarela yah dengan keadaan yang seperti ini? Habisnya seringkali mereka berkata seperti ini: "Kamu enak tuh masih lajang, beli aja barang-barang yang kamu suka selagi masih bebas. Nanti kalo sudah nikah susah lho, mesti ada yang meng-acc dulu". Kalo mendengar pernyataan diatas, sepertinya mereka terpaksa melakukan itu semua, dan seolah-olah iri dengan status kelajangan teman-teman mereka sendiri.
Walaupun cuma tiga poin, tapi pertanyaannya membuat pening.
Selain itu, sedikit menyimpang dari topik utama, saat ini jarang sekali wanita *yang belum menikah* yang aku temui yang benar-benar ingin menjadi ibu rumah tangga, dalam arti dia tidak bekerja dan mengejar karir. Kebanyakan dari mereka menginginkan tetap bekerja setelah menikah. Ada selusin alasan mengapa mereka menginginkan tetap bekerja: ingin mengejar karir dan maju, ingin mandiri, ingin tidak tergantung pada suaminya just in case terjadi apa-apa pada suaminya, dan alasan-alasan lain. Alasan-alasan yang berhubungan dengan anak ataupun apapun seolah tak pernah terbahas. Dari sini aku melihat adanya kekurangpercayaan istri pada suaminya. Agak-agak aneh aja, perempuan diciptakan sebagai pelengkap untuk laki-laki dan begitu pula sebaliknya. Ini kok malah ingin mandiri, padahal manusia sendiri adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Terdengar agak-agak aneh.
Dari sini aku mencoba menarik sebuah pertanyaan lain. Dari semua kasus, bisa aku simpulkan bahwa wanita cenderung takut dan cemas akan hal-hal yang menurutku belum tentu terjadi seperti: suami meninggal duluan, suami selingkuh, suami bersenang-senang sendiri dengan uang yang dia peroleh, uang yang dimiliki tak cukup, dan segenap pikiran-pikiran yang lebih mengarah kepada prasangka yang nggak-nggak. Dan untuk mengurangi resiko terjadinya hal-hal diatas, mereka cenderung untuk menginginkan bekerja secara mandiri dan atau menuntut hak pengelolaan atas pemasukan yang diperoleh oleh suami. Benarkah demikian? I don't know lah. Aku bukan wanita, dan terlebih lagi belum menikah pula.
Yang menarik lagi ada salah satu kerabatku *laki-laki tentunya* yang sudah menikah dan bercerita padaku bahwa semua harta benda yang dia miliki atas nama istrinya. Agak-agak kaget juga mendengarnya. Pertanyaan selanjutnya: Apakah ini merupakan cara yang bijak dan tidak berlebihan? Ataukah memang kerabatku sangat sangat murah hati dan sangat mencintai istrinya atau memang karakter istri cenderung lebih 'menguasai'? Cerita selanjutnya dari kerabatku ini yang menurutku bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya adalah: "Karena wanita membutuhkan rasa aman".
Jawaban yang sangat masuk akal dan bisa menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan yang ada. Hmm.. anggap saja ini adalah jawaban yang benar dan menjadi kesimpulan dari semua hal diatas. Maka itu berarti wanita bukan bermaksud untuk menguasai, tetapi lebih didorong oleh kebutuhan akan rasa aman. Dari sisi suami, bukan berarti suami kurang berkuasa atau terlalu mudah diatur oleh istrinya, tetapi mungkin sebagai wujud kasih sayang dan kepercayaan yang diberikan kepada istri sehingga bisa memberikan rasa aman. Nah, nyambung kan dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya? Jadi, suami mengalah dan mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kepentingan istrinya: yang kesimpulannya menurutku adalah adalah suami yang seperti ini tentu sangat menyayangi istrinya. Asal jangan sampai disalahgunakan aja tuh kepercayaan yang didapat. Terkait dengan wanita yang ingin tetap bekerja, tentu berhubungan dengan jawaban diatas. Bekerja agar mereka merasa aman dari sisi finansial.
Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah kondisi ini memang sudah ideal? Apakah suami tidak terlalu memanjakan istrinya jika seperti ini? Apakah memang tidak ada jalan lain untuk mengelola keuangan secara lebih fair, mengingat suami juga memiliki hak atas pemasukan yang dia peroleh, selama menurutku hak untuk keluarga telah diberikan secara fair. Mungkin memang kecenderungannya seperti ini, dimana memang wanita itu adalah sebaik-baiknya perhiasan bagi kaum pria. Efeknya adalah: laki-laki sangat mudah sekali terpengaruh oleh wanita, dan bahkan bisa hancur hidupnya karena urusan ini *sudah banyak kasus seperti ini*. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa wanita adalah fitnah terbesar untuk kaum pria.
Wanita memang membutuhkan rasa aman, that's why dalam urusan pernikahan wanita cenderung membutuhkan kepastian dan menikah sesegera mungkin, sementara dari sudut pandang laki-laki, cenderung berpikir lebih dulu karena pernikahan berarti komitmen, dan artinya banyak hal-hal yang tadinya bebas dilakukan menjadi tak bebas dilakukan. Benarkah demikian? Well.. kayaknya butuh masukan dan opini dari sudut pandang perempuan nih. Terutama yang sudah menikah.
Rabu, Juni 10, 2009
Asahlah Gergajimu
Dalam satu minggu terakhir, aku mencoba menerapkan secara konsisten aturan diatas. Datang dan pulang kantor tepat waktu. Diluar jam kantor, sebisa mungkin aku tak terlibat dengan apapun yang berkaitan dengan pekerjaanku. Dengan memaksa keadaan seperti ini, aku memiliki waktu luang yang jauh lebih banyak. Penekananku disini waktu diluar jam kantor benar-benar aku gunakan untuk rileks, bukannya aku gunakan untuk hal-hal lain semacam berkeluyuran kemana-mana sehingga pulang ke rumah terlalu larut.
Semakin capat aku pulang ke rumah, semakin banyak waktu yang aku miliki untuk istirahat. Waktu istirahat ini jika diakumulasikan dalam 5 hari kerja, sudah cukup untuk membuat akhir pekan menjadi lebih senggang. Aku tak perlu berhibernasi untuk membayar utang tidur karena terlalu capai atau pulang terlalu larut di hari-hari kerja. Hal-hal lain yang bisa aku dapatkan adalah aku bisa mengerjakan hal-hal lain yang tentunya diluar pekerjaanku seperti membaca, merencanakan sesuatu, istirahat, dan belajar sesuatu yang baru. Efek yang paling terasa adalah lebih terbukanya pikiran, sehingga memungkinkan terciptanya ide-ide baru yang kurasa tak akan pernah muncul ketika setiap hari tubuh terlalu dibebani dengan berbagai macam pekerjaan dan pikiran. Dengan semakin banyaknya waktu luang yang aku miliki, memungkinkanku untuk berpikir lebih jernih dalam merencanakan dan menata ulang hal-hal yang ingin aku capai dalam hidupku. Seperti judul dalam tulisan ini, saat-saat ketika sedang mengasah gergaji adalah waktu yang tepat untuk melihat dan mengevaluasi sejauh mana pencapaian yang telah dilakukan dan menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Mengasah gergaji memang terdengar sepele, namun terkadang seringkali terlupakan apalagi ketika sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang tak ada habisnya seperti yang aku rasakan belakangan ini. Namun pada suatu titik aku merasa jenuh dan harus melakukan sesuatu. Setelah mencoba berbagai hal, tampaknya membatasi jam kerja dan pulang ke rumah sesegera mungkin adalah salah satu solusi terbaik saat ini. Sejauh ini baru aku uji coba selama satu minggu. Aku berniat untuk meneruskan rencanaku ini dalam sebulan kedepan dan aku penasaran dengan hasilnya. Paling tidak, aku berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan pekerjaan, jangan sampai pekerjaan mengontrol kehidupanku. Justru sebaliknya, aku harus bisa mengontrol pekerjaan dan membuatku tak terikat padanya.
Minggu, Mei 24, 2009
The Cost of Waiting
What kind of wish it was? It's just a silly wish: Expecting someone to change. It seemed impossible, since changing someone's behaviour is out of my control. But I believed I could do it, even it would take me a years.
Developing a better relationship with someone who had lost her trust to me was quite hard to do. I did a mistake in the past which deteriorate my relationship with my friend. I had tried everything I could to make it better. But I always failed. I didn't give up at the time. In my conviction, I should not abandon what I had started. As time went by, I began to focus to other things, but of course I still kept that wish, but not in my priority list.
Eventually, few weeks ago, I sensed something was changing. Her cold attitude to me began to melt. At the time, I could believe this. How come? Now, my relationship was better than before. I could see the barrier between she and I began to disappear. It took more than one year to recover my relationship with her. I take a lesson from this experience: I can even change a thing that beyond my control. The key are: patience, strong willing, always keeps trying, and how long I can keep my wish to achieve my goal.
Senin, Maret 16, 2009
Rumahku
Membasuh tubuh lelahku
Rimbunan pohon-pohon
Menaungi dari teriknya sang mentari
Sebuah taman kecil berikan kehidupan
Memanjakan dengan kesejukan
Menaungi dengan keteduhan
Ditengah segala kesibukan yang menipu
Aku disini untuk kembali
Aku sunyi.. Diantara keramaian dunia
Semua harapan semu yang tak berujung
Telah kupendam dan tak terungkit lagi
Inilah rumahku
Tempat ku kembali pulang
Awal dimana semuanya akan dimulai
Menyongsong harapan sang mentari pagi
