Di hari ketiga, itinerarynya adalah mengunjungi pulau-pulau yang menjadi ikon pariwisata Belitung. Ada itinerary untuk snorkeling juga di tengah-tengah sesi. Karena berhubungan dengan pulau-pulau, kami sudah di brief agar sudah menggunakan baju siap basah dari sejak pertama meninggalkan hotel, dan tentunya menyiapkan baju ganti juga. Sama seperti halnya dengan kunjungan kami ke Pulau Leebong di hari sebelumnya, destinasi wisata kami di hari ketiga ini hanya satu: Pantai Tanjung Kelayang. Dari Pantai Tanjung Kelayang, kami akan naik perahu dan mengunjungi satu persatu pulau-pulau yang berada tak jauh dari pantai, kembali lagi ke titik awal, dan kembali ke hotel.
Pantai Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung kelayang berjarak kurang lebih 30km dari Kota Tannjung Pandan. Pantai ini berfungsi sebagai dermaga utama untuk aktivitas island hopping. Walaupun pantainya bisa digunakan untuk berenang, tetapi itu tidak ada di itinerary kami. Kalau kuperhatikan, tak banyak juga wisatawan lain yang berenang disini, lebih banyak transit untuk kemudian mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya.
![]() |
| Pantai Tanjung Kelayang |
Setelah tiba di pantai ini, kami tak berlama-lama. Setelah berfoto di papan nama pantainya, kami segera naik perahu untuk melanjutkan aktivitas kami berikutnya.
Pulau Batu Garuda
Pulau Batu Garuda adalah destinasi kami yang pertama, karena bisa dibilang jaraknya sangat dekat dengan Pantai Tanjung Kelayang. Sesuai namanya, daya tarik pulau ini adalah formasi batuan granit raksasa yang menyerupai kepala burung garuda. Namun demikian, kami tidak benar-benar mengunjungi pulau ini, hanya berfoto-foto saja dari jarak yang lumayan dekat. Sepertinya di sekitaran pulau ini banyak batu karangnya sehingga kurang aman untuk kapal berlabuh.
![]() |
| Pulau Batu Garuda |
Pulau Pasir
Destinasi kami berikutnya adalah Pulau Pasir. Pulau ini adalah salah satu destinasi wisata unik di Belitung. Keunikan utama Pulau Pasir terletak pada fenomena alamnya yang luar biasa: hamparan pasir putih tersebut hanya muncul saat air laut surut, dan seolah-olah menghilang tenggelam ke bawah permukaan laut ketika air pasang. Bisa dibilang mirip dengan Pulau Pasir Timbul yang kami kunjungi di hari sebelumnya. Seperti halnya dengan Pulau Pasir Timbul, di Pulau Pasir ini banyak ditemui bintang laut yang berwarna merah. Jumlahnya kurasa lebih banyak dibandingkan dengan yang kami temui di Pulau Pasir Timbul.
Sayangnya ketika kami kesana, pulau ini lumayan padat, penuh dengan wisatawan walaupun waktu itu Hari Senin. Sehingga walaupun pemandangannya cukup indah disini, suasananya tidak se syahdu ketika kami mengunjungi Pulau Pasir Timbul. Pada hari itu, langitnya juga sedang tidak cerah, berawan dan cenderung gelap. Kombinasi yang kurang menunjang untuk foto-foto.
Pulau Kepayang
Destinasi kami berikutnya adalah Pulau Kepayang yang lokasinya tak jauh dari Pulau Pasir. Namun demikian destinasi kami bukan pulau utamanya melainkan gugusan batu granit di sekitaran pulau. Aku agak lupa apakah pulau Kepayang ini terhitung milik pribadi atau bukan. Namun berdasarkan penjelasan dari tour guide kami, di pulau ini ada restonya, yang hanya buka jika ada group order minimal 30 orang.
![]() |
| Pulau Kepayang |
Tak lama setelah kami merapat ke pulau ini untuk berfoto-foto, langit tiba-tiba menjadi gelap. Awan gelap yang pada awalnya terlihat dari kejauhan, tiba-tiba sudah ada di atas kepala kami. Hujan mulai turun, tak hanya hujan biasa, melainkan hujan diserai dengan angin yang cukup kencang. Sebelum hujannya bertambah deras, kami segera kembali ke kapal. Akibat angin yang kencang, posisi kapal bergeser ke arah pulau yang lebih dangkal. Pemilik kapal sampai meminta bantuan tour guide kami untuk mendorong kapal ke perairan yang lebih dalam.
Suasananya menegangkan sih, hujan deras yang disertai angin yang kencang membuat kami basah kuyup. Jarak pandang juga berkurang cukup jauh karena kencangnya angin. Mungkin 10 menit kami terjebak disana, sebelum akhirnya perahu kami berada di perairan yang cukup dalam untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya: Pulau Lengkuas. Di perjalanan menuju Pulau Lengkuas, hujannya mulai reda.
Pulau Lengkuas
Pulau Lengkuas adalah pulau yang paling ikonik di perjalanan kami di hari itu. Daya tarik utama pulau ini adalah keberadaan mercusuar bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1882. Namun demikian, pada saat kunjungan kami mercusuar ini ditutup untuk umum. Di kunjunganku 15 tahun silam, pengunjung dapat memasuki mercusuar dan naik hingga ke atas untuk melihat pemandangan Pulau Lengkuas yang menakjubkan dari ketinggian.
![]() |
![]() |
![]() |
| Pulau Lengkuas |
Banyak spot foto yang menarik di pulau ini. Banyak formasi dan gugusan batu granit raksasa yang megah. Yang mungkin agak disayangkan adalah kondisi langit pada saat itu, penuh dengan awan, sehingga untuk foto-foto terasa kurang memuaskan. Kondisi ini sangat kontras dengan hari sebelumnya ketika kami mengunjungi Pulau Leebong.
![]() |
| Spot foto lain di Pulau Lengkuas |
![]() |
| Mercusuar di Pulau Lengkuas |
![]() |
| Gugusan batu granit di Pulau Lengkuas |
Di pulau ini juga ada warung yang menjual berbagai minuman dan makanan ringan. Tour guide kami bilang, biasanya di warung ini menjual kelapa pandan, yang katanya varietas khusus yang aroma kelapanya harum. Belum banyak yang membudidayakan varietas kelapa ini, dan salah satunya katanya dijual di daerah sekitaran Pantai Kelayang. Sayangnya ketika itu sepertinya stoknya sedang habis, padahal lumayan penasaran juga untuk menjajal.
![]() |
| Foto dari atas Mercusuar, dari kunjungan 15 tahun silam |
Pulau Batu Berlayar
Setelah puas menikmati suasanya di Pulau Lengkuas, destinasi kami berikutnya dalah Pulau Batu Berlayar. Pulau ini sebenarnya berada tak jauh dari Pulau Pasir, namun secara itinerary dibuat belakangan untuk kunjungannya. Pulau ini bisa dibilang berukuran kecil, lebih kecil dibandingkan dengan Pulau Pasir. Namun tak seperti Pulau Pasir yang cenderung kosong, di pulau ini ada 2 batu granit yang berukuran besar yang berdiri tegak. Berdasarkan informasi yang kudapat, ketika air laut pasang dan menggenangi landasan pasirnya, kedua batu besar ini terlihat seolah-olah mengapung dan berlayar di tengah lautan luas. Demikianlah asal muasal pemberian nama pulau ini.
![]() |
| Pulau Batu Berlayar |
Karena cuacanya agak gerimis ketika kami datang, kami tak lama-lama disini. Setelah berfoto-foto sebentar, kami segera kembali ke perahu untuk mengunjungi destinasi kami yang terakhir: Pulau Kelayang.
Pulau Kelayang
Bisa dibilang Pulau Kelayang adalah pulau yang paling ramai di acara island hopping kami. Hanya pulau inilah yang menyediakan fasilitas untuk makan. Karena kami memang tidak terlalu terburu-buru, kami baru makan siang di pulau ini ketika waktu sudah menunjukkan jam 14:30 lewat. Menu makan siangnya walaupun sederhana namun lumayan enak, mungkin karena rasa lapar yang sudah kami tahan sebelumnya.
![]() |
| Menu makan siang di Pulau Kelayang |
![]() |
| Menuju Goa Kelayang |
Selesai makan siang, kami trekking singkat untuk mengunjungi Goa Kelayang yang ada di sisi lain pulau. Goa Kelayang terbentuk dari tumpukan batu granit raksasa. Di area goa ini, pengunjung juga bisa menikmati kolam air laut alami yang dalamnya kurang lebih sepinggang orang dewasa. Jujur aja agak-agak ngeri sedap, karena aku membawa kamera, dan lawannya juga bukan air tawar, tapi air laut yang lumayan korosif.
![]() |
| Goa Kelayang |
![]() |
| Spot foto lain di Pulau Kelayang |
Setelah kami selesai mengeksplorasi Goa Kelayang, kami kembali ke perahu dan menyeberang kembali ke Pantai Tanjung Kelayang. Karena tidak ada lagi destinasi wisata yang akan kami kunjungi di hari itu, tanpa berlama-lama, kami segera kembali lagi ke hotel.
Artikel Utama: 5D 4N Trip To Belitung
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar