Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 08, 2024

Catatan Liburan ke Situ Gunung

Di awal bulan Desember lalu aku dan keluargaku menginap di Situ Gunung, Sukabumi sebagai bagian dari pembayaran sajen untuk acara gowes Jabar Loop ku yang akan kueksekusi di minggu depannya. Rencana ini sempat tertunda 4 bulan dimana waktu itu tol seksi Cigombong-Cibadak baru dibuka di bulan Agustus. Harapannya dengan dibukanya tol hingga Cibadak, perjalanan menuju Situ Gunung yang biasanya sangat-sangat melelahkan bagi sopir baik ketika pergi maupun pulang bisa lebih menyenangkan.

Namun pada kenyataannya setelah pintu tol sudah dibuka sampai Cibadak, jalurnya tetap saja seperti neraka. Perjalanan ketika pergi maupun pulang tercatat memerlukan waktu 4-5jam ++ dimana ekspektasiku bisa dicapai dalam 3 jam. Dari Cibadak hingga pertigaan yang menuju Situ Gunung ini hanya berjarak 10-12 km an kalau aku nggak salah hitung. Namun demikian, jarak sependek ini harus ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Benar-benar pemborosan waktu. Well, Situ Gunung ini adalah salah satu tempat favoritku, dan ada kemungkinan kedepannya aku akan kesini lagi. Namun dengan kondisi seperti ini, aku mungkin akan menunggu hingga tolnya benar-benar sudah sampai Sukabumi terlebih dahulu sebelum berpikir untuk memutuskan apakah akan berlibur kembali kesini atau nggak.

Sabtu, Januari 06, 2024

Books read in 2023

Salah satu resolusi di tahun 2023 lalu adalah self improvement melalui membaca buku, dengan target yang tidak muluk-muluk: 12 buku dalam setahun atau kurang lebih 1 buku/bulan.

Alhamdulillah di 2023 kemarin targetnya tercapai, dan berikut adalah buku yang berhasil kuselesaikan (urutan acak):

  1. GRIT
  2. Thinking in Bets
  3. Talking to Strangers
  4. The Little Book of Common Sense Investing
  5. Quit: The Power of Knowing When to Walk Away
  6. The Simple Path to Wealth
  7. The Little Book That Still Beats the Market
  8. Joy of Missing Out
  9. Ikigai
  10. Ichigo Ichie
  11. The 5 Am Club
  12. Richer Wiser Happier
  13. Courage to Be Disliked

Dari 13 buku diatas, mungkin yang paling memberikan pencerahan adalah Quit yang ditulis oleh Annie Duke dan Courage to Be Disliked.

Quit memberikan perspektif yang berbeda dalam membuat keputusan. Ada kalanya kita harus “menyerah” dan move on dari kondisi yang sedang kita jalani. Menyerah bukan berarti karena kita tidak memiliki kegigihan, tetapi memberikan jalan untuk kita dalam membuang hal-hal yang kurang penting sehingga bisa fokus pada hal yang lebih penting. Dijabarkan juga beberapa contoh nyata bagaimana persistensi untuk tetap melanjutkan sebuah project berakhir buruk karena sudah terlalu terlambat untuk dibatalkan.

Sementara itu Courage to Be Disliked yang masuk ke dalam kategori self-help, jujur aku agak sulit untuk menggeneralisir inti sarinya karena banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Sesuai dengan judulnya, buku ini menekankan perlunya courage/keberanian dalam mengejar kebahagiaan dan hal-hal yang ingin dicapai dalam kehidupan, bahkan jika itu tidak disukai oleh orang lain. Buku ini juga menyatakan bahwa kebahagiaan itu adalah pilihan. Ketidakbahagiaan tidak disebabkan oleh pengalaman masa lalu, tetapi karena ketidakmauan kita untuk berubah dan tidak memiliki keinginan yang kuat untuk merasakan kebahagiaan. Bahasanya agak sulit dicerna sih, tetapi begitulah, menurutku sangat masuk akal.

Minggu, Februari 21, 2021

Singabera, Teh Premium Produksi Lokal

Belakangan ini, teh menjadi salah satu minuman favoritku selain kopi tentunya. Kopi di pagi hari, sementara teh untuk konsumsi siang dan malam hari. Untuk pilihannya, aku lebih memilih teh seduh dibanding teh celup. Memang sedikit lebih ribet ketika membuatnya, tetapi ini anggap saja sebagai bagian dari ritual meminum teh itu sendiri, sama seperti halnya ketika menyeduh kopi V60 favoritku. Selain itu teh seduh menurutku memberikan fleksibilitas yang lebih dalam mengatur tingkat kepekatan tehnya. Jika ingin teh yang lebih pekat, tinggal ditambah saja tehnya.


Teh seduh banyak sekali pilihannya, dari mulai merek lokal seperti Tong Dji (ini adalah salah satu merk teh seduh favoritku), Teh Poci, Dandang, Nyapu, Sintren, hingga teh impor seperti Dilmah, Twinnings, Ahmad Tea, dan TWG. Untuk teh merek lokal yang kusebutkan diatas biasanya potongan daunnya lebih besar dan kasar atau bisa dibilang teh tubruk. Seringkali tidak hanya berisi potongan daun juga tetapi ada juga potongan batang tehnya juga. Sementara itu teh impor biasanya potongan daunnya lebih kecil, dan tentunya hanya berisi daun tehnya saja, tanpa potongan batang teh.

Minggu, November 29, 2020

Ulasan Keyboard Logitech K380

Dalam tulisan kali ini aku mencoba untuk mengulas keyboard Logitech K380 yang sudah kugunakan selama beberapa minggu. Sebelumnya aku menggunakan keyboard Apple Magic Keyboard generasi pertama yang terhubung ke PC ku yang menggunakan OS Windows. Keyboard tersebut aku gunakan juga untuk mengetik di iPad ku walaupun frekuensinya tidak terlalu sering. Permasalahannya adalah Apple Magic Keyboard hanya di desain untuk dapat terhubung ke 1 perangkat saja, sehingga jika ingin dihubungkan dengan perangkat lain, perlu proses pairing ulang yang menurutku sangat tidak praktis. Jadi kebutuhan awalnya adalah:

  • Keyboard bluetooth yang dapat terhubung ke lebih dari 1 perangkat tanpa proses yang ribet
  • Nyaman dipakai untuk mengetik dan tidak berisik, dengan ekspektasi senyaman menggunakan Apple Magic Keyboard ku yang sebelumnya

Sabtu, Januari 18, 2020

Resolusi & Harapan 2020

Di tahun 2020 ini ada beberapa resolusi yang ingin aku capai. Walaupun mungkin di dalam blog ini aku sudah mulai jarang menulis, khusus untuk resolusi aku merasa harus menuliskannya ke dalam sebuah catatan tersendiri. Alasanku sederhana: karena apa yang hendak kita capai cenderung lebih mudah untuk direalisasikan jika kita menuliskannya. Sudah aku praktekkan di resolusi pada tahun-tahun sebelumnya dan menurutku memudahkanku untuk mengingat apa yang menjadi resolusiku di sepanjang tahun.

Selasa, September 24, 2019

Membatasi waktu penggunaan iPhone/iPad anak

Melanjutkan tulisan sebelumnya terkait dengan fitur Screen Time di iOS dan cara membuat akun Apple ID untuk anak, di tulisan kali ini aku ingin berbagi cara untuk membatasi waktu penggunaan perangkat iOS yang digunakan oleh anak-anak dengan menggunakan Screen Time. Fitur Screen Time ini sangat bermanfaat bagi orang tua yang ingin mengontrol dan memonitor penggunaan perangkat iOS yang digunakan oleh anaknya. Proses kontrol dan pengawasannya pun tidak ribet, semuanya dapat dilakukan dari perangkat iOS yang dimiliki oleh orang tua. Yang penting adalah akun Apple ID anak terdaftar sebagai Family Member dan dipasang pada perangkat iOS yang akan dimonitor.

Senin, April 15, 2019

Catatan Herbana Bromo KOM Challenge 2019: Perlu remedial

Tahun 2018 lalu, aku batal untuk mengikuti acara gowes Bromo 100K yang sudah diadakan secara rutin setiap tahunnya. Sebenarnya sudah mendaftar, tetapi karena tiba-tiba acaranya dibatalkan dan diganti jadi event KOM race dimana jaraknya berkurang menjadi 40km dan startnya dari Pasuruan, jadinya aku batalkan. Rasa-rasanya nanggung gowes jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk gowes sejauh 40km disana, walaupun 40km itu sebenarnya adalah inti dari acaranya itu sendiri.

Nah berhubung di tahun 2019 ini format acaranya dikembalikan seperti semula dimana start gowesnya dari Surabaya, aku memutuskan untuk ikut lagi. Namun demikian beberapa minggu sebelum acaranya, sempat muncul keraguan karena aku sebenarnya mengincar jarak PP, sehingga total jarak yang ditempuh menjadi 200km. Sementara beberapa temanku rencananya hanya one way saja. Beruntung pada akhirnya beberapa temanku mau gowes PP, jadi ada barengan untuk gowes pulangnya. 

Jumat, Januari 05, 2018

BFC Mini Farm Bintaro

Beberapa waktu lalu, warga komplek perumahanku mengadakan acara yang bertema “Satu Hari Bersama Ayah”. Sesuai dengan namanya peserta acara ini hanya anak-anak dan para ayah saja, sementara para ibu tidak ikut serta. Belakangan aku baru tahu sementara para ayah menemani anak-anaknya bermain, para ibu bersenang-senang sarapan dan ngopi-ngopi cantik di hotel 🤦🏻‍♂️. Nah, acaranya diadakan di BFC Mini Farm Bintaro. Lokasinya dipilih karena cocok untuk anak-anak, dan tidak hanya bersenang-senang, namun ada edukasinya juga. Pada awalnya kupikir karena namanya ada kata-kata “farm” nya, tempatnya akan menyediakan edukasi mengenai bercocok tanam, ternyata istilah “farm” disini untuk peternakan hewan.

Kamis, Desember 07, 2017

Catatan Liburan ke Pangandaran

sunset di Pangandaran
Perjalanan Berangkat
Aku dan anak-anak berangkat jam 3 pagi di hari Sabtu. Perjalanan masih cukup panjang karena harus menjemput istriku dulu di Bandung dan kemudian mampir dulu di Ciamis untuk membeli abon untuk oleh-oleh sekaligus bertemu dengan teman lamaku. Tak lupa aku mengunjungi Bakso langgananku ketika SMA dulu.

Jika ditotal sih waktu yang diperlukan sekitar 12 jam, termasuk melipir sebentar si Bandung, dan beristirahat kurang lebih 2 jam di Ciamis. Seandainya nggak mampir-mampir dulu, tentunya bisa lebih cepat. Dan karena perjalanannya didominasi di pagi dan siang hari, jalanannya pun ramai.

Sabtu, Mei 06, 2017

Ulasan Wahoo ELEMNT

Beberapa waktu yang lalu aku membeli ELEMNT, perangkat bike computer keluaran Wahoo yang sudah dilengkapi dengan GPS. Sejauh ini, sebenarnya kebutuhanku untuk merekam aktivitas bersepedaku sudah cukup terakomodasi oleh aplikasi Cyclemeter + Strava. Sementara untuk dapat memonitor kecepatan, heart rate, dan cadence secara realtime, aku sudah cukup puas menggunakan RFLKT keluaran Wahoo juga. iPhone yang aku gunakan berfungsi sebagai bike computer nya, dan informasi nya akan ditampilkan melalui RFLKT.

Namun demikian godaan untuk memiliki ELEMNT sangatlah besar, apalagi di Bukalapak aku menemukan ada yang menjual barang ini dengan harga Rp4,5 juta saja. Beda tipis lah dari harga aslinya USD 329, dan pada umumnya ELEMNT dibanderol dengan harga diatas Rp 5 juta di Bukalapak, dan bahkan ada juga yang menjualnya di harga Rp 6 juta an. Salah satu kekurangan yang paling mendasar ketika menggunakan handphone sebagai bike computer adalah borosnya konsumsi baterai, terutama untuk aktivitas gowes yang memakan waktu cukup panjang. Selain itu untuk aktivitas gowes yang mengharuskanku untuk melihat rute dan arah secara rutin, terasa sangat merepotkan jika aku harus sering berhenti untuk melihat peta di handphone. Kedua hal ini menurutku sudah cukup menjustifikasiku untuk membeli perangkat ini. 😁

Rabu, Juli 13, 2016

Intellie Notes 2 aplikasi Penyimpan Catatan Serbaguna

Aplikasi Intellie Notes 2 saat ini telah menjadi salah satu aplikasi favoritku untuk menyimpan catatan-catatan sederhana di Macbook ku. Sebelumnya untuk menyimpan catatan yang kompleks, aku biasanya menggunakan aplikasi One Note yang tersedia dari paketan Microsoft Office. One Note aku akui sangat powerful karena bisa melakukan sinkronasi secara otomatis dengan perangkat lain seperti PC di Windows, maupun ke iPad ku. Namun demikian, aplikasi ini menurutku terlalu ‘berat’ jika hanya untuk menyimpan catatan-catatan sederhana seperti kode script ataupun teks yang tidak memerlukan formatting.

Senin, Juli 11, 2016

Cardiogram, Aplikasi Pencatat Detak Jantung

Sejak menggunakan Apple Watch, aku jadi sedikit peduli dengan heart rate ku atau istilahnya detak jantung. Apple Watch memiliki fitur untuk mengukur detak jantung secara otomatis dengan menggunakan teknologi photoplethysmography. Ketika digunakan, perangkat ini akan secara periodik mengukur detak jantungku, kalau nggak salah 10 menit sekali. Sementara, jika sedang digunakan untuk melakukan aktivitas olahraga, pengukurannya akan semakin sering, dalam 1 menit bisa beberapa kali, aku lupa tepatnya.

Data-data detak jantung ini kemudian akan dikirimkan ke iPhone dan bisa dilihat melalui aplikasi Health. Melalui aplikasi ini pengguna iPhone dapat melihat data-data historis detak jantung beserta data-data lainnya yang relevan dengan kesehatan, tergantung dari sensor eksternal yang terhubung dengan iPhone. Namun demikian melalui aplikasi bawaan Health ini, data yang ditampilkan kurang nyaman untuk dilihat karena hanya berupa angka saja, bayangkan jika Anda menggunakan Apple Watch seharian, data yang ditampillkan berupa angka sebanyak 144 record dengan interval 10 menit.

Rabu, Desember 10, 2014

Mencicip Teknologi 4G LTE Telkomsel

Tanggal 8 Desember 2014 lalu, Telkomsel resmi menggelar teknologi 4G LTE (Long Term Evolution) di dua tempat: Jakarta dan Bali yang tersebar di 200 titik. Layanan ini digelar di frekuensi 900Mhz dengan kecepatan yang ditawarkan hingga 36Mbps. Untuk dapat menikmati teknologi 4G ini, pengguna selain harus memiliki perangkat yang sudah mendukung teknologi 4G, juga harus menggunakan sim card khusus (USIM). Untuk mendapatkan USIM, pelanggan Telkomsel dapat menukarkan sim card nya dengan USIM di Grapari.

Perlu diingat, tidak semua perangkat/handphone yang telah mendukung 4G dapat digunakan untuk menikmati layanan 4G Telkomsel. Karena frekuensi 4G yang digunakan adalah 900 Mhz, maka hanya perangkat yang dapat beroperasi pada frekuensi tersebut saja yang dapat digunakan.

Minggu, Agustus 24, 2014

Hidup Lebih Mudah dengan Mandiri e-money

Mungkin judul tulisan ini bisa dibilang sudah telat karena produk ini sudah cukup lama beredar di pasaran. Namun demikian, walaupun sudah cukup lama dipasarkan, sepertinya belum terlalu banyak yang menggunakan produk ini. Mungkin sedikit kalah pamor dibandingkan dengan produk dari bank sebelah (Flazz), dimana merchant nya pun lebih banyak dibandingkan dengan produk ini.

Sebelumnya, aku bukanlah pengguna kartu-kartu semacam ini. Melihat dari iklan dan kegunaannya, produk Flazz dan Mandiri e-money tampaknya lebih dominan dan menguasai pasar. Dan yang apesnya lagi, aku tidak memiliki rekening di kedua bank tersebut. Jadi kupikir memiliki produk kartunya tanpa memiliki rekening banknya akan cukup merepotkan untuk kedepannya.

Sabtu, Agustus 23, 2014

Kelebihan dan Kekurangan Seagate Central

Part 1 - Mengapa Seagate Central?
Part 2 - Unboxing dan Instalasi
Part 3 - Uji Coba Perangkat
Part 4 - Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan
  • Harga cukup terjangkau dibandingkan dengan produk NAS lain
  • Setup dan instalasi yang mudah
  • Kecepatan baca dan tulis yang lumayan cepat (ketika dihubungkan dengan jaringan yang telah mendukung gigabit ethernet)
  • Bisa memainkan semua konten yang didukung secara native oleh perangkat iOS
  • Integrasi yang mudah dengan fitur Time Machine
  • Mendukung streaming konten ke AppleTV (Anda membutuhkan perangkat iOS untuk melakukan hal ini)
  • Mendukung protokol DLNA, yang bisa diakses melalui perangkat seperti SmartTV maupun smartphone dengan aplikasi yang mendukung
  • Bisa mengakses konten secara remote melalui internet
  • Memiliki expansion port yaitu USB 2.0 yang memungkinkan pengguna untuk membackup konten yang ada pada produk ini ke media penyimpanan eksternal lain (hard disk eksternal ataupun USB flash disk)

Kekurangan
  • Aplikasi SeagateMedia hanya mendukung konten yang disupport secara native oleh perangkat. Jadi misalnya untuk konten film, format yang didukung oleh aplikasi SeagateMedia versi iOS adalah format mp4 atau m4v. Anda tidak dapat memainkan konten film dengan format mkv
  • Fitur Facebook backup untuk membackup seluruh konten video maupun foto tidal bekerja sesuai dengan yang diharapkan
  • Dashboard aplikasi sangat sederhana, tidak ada pengaturan untuk pengguna tingkat lanjut (advanced). Dan berdasarkan pengamatanku, konfigurasi fitur-fitur seperti DLNA, iTunes, dll akan ter-reset ketika Anda me-restart perangkat. Jika sebelumnya Anda mematikan salah satu fitur, misalnya agar tidak bisa dilakukan remote access, maka ketika Seagate Central Anda restart, fitur ini kembali aktif.
  • Tidak dapat memonitor aktivitas yang sedang terjadi maupun menampilkan progress dari sebuah aktivitas
  • Media yang digunakan tidak dapat dipartisi
  • Fitur SlideShow pada aplikasi SeagateMedia hanya menampilkan konten pada resolusi yang telah disesuaikan dengan perangkat. Jika akan ditampilkan ke layar eksternal yang lebih besar seperti TV, konten gambarnya menjadi kurang tajam.
  • Fitur iTunes yang disediakan perangkat ini tidak mendukung playlist
  • Aplikasi SeagateMedia masih memiliki banyak bug dan perlu perbaikan. Namun demikian karena produk ini menggunakan protokol DLNA, bisa digunakan aplikasi alternatif lainnya

Kesimpulan
Secara keseluruhan, perangkat ini tidak mengecewakan. Kebutuhanku untuk backup data dan streaming konten melalui perangkat mobile seperti smartphone dan tablet sudah terpenuhi. Namun demikian, rasa-rasanya masih ada beberapa fitur seperti DLNA yang belum bisa kumanfaatkan dengan optimal karena keterbatasan perangkat yang kumiliki yang mendukung protokol tersebut.

Bagi Anda yang berniat membeli produk ini, harap diperhatikan bahwa Seagate Central memerlukan koneksi ethernet untuk dapat digunakan. Sehingga Anda tidak dapat menghubungkannya langsung dengan PC/laptop menggunakan kabel USB. Port USB yang ada pada perangkat ini hanya dapat digunakan untuk printer dan hard disk eksternal lain. Selain itu untuk pengalaman yang lebih baik, disarankan agar menggunakan jaringan yang sudah mendukung gigabit ethernet.

Harap diperhatikan juga, tidak semua konten didukung oleh aplikasi Seagate Media. Konten yang didukung bisa berbeda-beda tergantung dari platform perangkatnya (iOS, Android, dan lain sebagainya).

Uji Coba Seagate Central

Part 1 - Mengapa Seagate Central?
Part 2 - Unboxing dan Instalasi
Part 3 - Uji Coba Perangkat
Part 4 - Kelebihan dan Kekurangan

Setelah mencoba perangkat ini selama beberapa hari, rasanya aku tak salah telah memutuskan untuk membeli perangkat ini. Sesuai dengan ekspektasiku di awal, aku berencana untuk menyimpan seluruh koleksi film dan foto-fotoku di perangkat ini. Dan karena perangkat ini otomatis dikenali melalui aplikasi Finder di Mac, proses penyalinan kontennya dapat dilakukan dengan mudah. Satu hal yang cukup mengganggu adalah router yang aku gunakan di rumah bukan router Gigabit, sehingga kecepatan transfernya secara teori tidak akan melebihi 100Mbps (kurang lebih 12,5MB/s). Bisa dibayangkan untuk menyalin konten film dengan ukuran 3GB akan diperlukan waktu kurang lebih 3 s/d 5 menit. Jika ada 100 film, bisa berjam-jam nih. Untuk itu, agar bisa melakukan uji coba dengan maksimal, selain aku lakukan di rumah, aku lakukan juga di kantor yang notabene jaringannya sudah menggunakan gigabit ethernet.

Seagate Central: Unboxing & Instalasi

Part 1 - Mengapa Seagate Central?
Part 2 - Unboxing dan Instalasi
Part 3 - Uji Coba Perangkat
Part 4 - Kelebihan dan Kekurangan

Isi Kemasan
Dus perangkat ini cukup besar. Ketika dibuka, Anda akan menemukan:
  • 1 box perangkat penyimpanan
  • Power adapter, yang dilengkapi dengan beberapa pilihan colokan listrik
  • 1 buah kabel ethernet
  • Quick Start Guide
Pada bagian belakang perangkat Seagate Central, Anda akan menemukan 3 buah port:
  • Port untuk power
  • Port USB 2.0, yang bisa digunakan untuk menancapkan hard disk eksternal lain maupun printer
  • Port gigabit ethernet untuk dihubungkan dengan jaringan lokal
Pada bagian bawah boxnya Anda akan menemukan tombol reset, yang bisa digunakan untuk me-reset konfigurasi Seagate Central tanpa menghapus data yang sudah ada di dalamnya. Tombol ini dapat anda gunakan ketika misalnya Anda lupa password administrator perangkat.

Mengapa Seagate Central?

Part 1 - Mengapa Seagate Central?
Part 2 - Unboxing dan Instalasi
Part 3 - Uji Coba Perangkat
Part 4 - Kelebihan dan Kekurangan

Berawal dari sisa space hard disk eksternalku yang kian hari semakin menipis, rasa-rasanya sudah saatnya membeli hard disk baru dengan kapasitas yang lebih besar. Salah satu konten yang paling rakus dalam urusan space adalah film. Film-film yang biasanya sudah aku tonton akan aku koleksi siapa tahu di masa yang akan datang ketika mau nonton lagi kan nggak perlu repot-repot mencari (padahal sih dalam kenyataannya jarang sekali aku dan mungkin pembaca sekalian untuk menonton film yang sama lebih dari satu kali). Alasan yang lebih logisnya adalah siapa tahu nanti ada teman, saudara, atau tetangga yang kebetulan belum nonton kan tinggal dikasih aja.

Sementara itu, konten-konten lain selain film seperti lagu, dokumen, foto-foto, dan dokumen-dokumen terkait pekerjaan tidak terlalu memakan spacehard disk. Kuperkirakan dengan menggunakan hard disk berukuran 1TB, diluar untuk menyimpan konten film, sisa space tersebut sudah mencukupi kebutuhanku selama beberapa tahun kedepan.

Sabtu, Agustus 09, 2014

Lezatnya Bakmi Mbah Marso

Sejujurnya, aku bukan tipe penggila kuliner yang senang mencoba tempat-tempat makan yang baru. Berawal dari beberapa tahun yang lalu ketika masih tinggal bersama mertua di Bekasi, tanpa sengaja menemukan bakmi jawa ini. Bakmi Jawa menurutku bukanlah tipe makanan pasaran seperti nasi goreng dan bakso yang bisa ditemukan di hampir semua tempat. Apalagi jika tempat makannya cukup ramai ketika kita menemukannya. Semakin membuat penasaran kan?

Sebenarnya apa sih yang spesial dari bakmi jawa ini? Salah satu yang khas dari bakmi jawa adalah dari cara memasaknya yang tidak menggunakan kompor minyak atau gas, tapi dari bara api. Konon cara memasak ini berpengaruh ke dalam cita rasa yang dihasilkan. Walaupun sejujurnya aku belum pernah membandingkan rasanya jika dimasak dengan bara api atau kompor gas. Untuk campuran bumbu dan bahannya kurang lebih sama dengan yang bakmi yang lain: telur, ayam, dan sayuran seperti kubis, bawang daun, dan tomat.

Minggu, Juni 15, 2014

[Review] Ulasan Klipsch A5i

Sebenarnya, tulisan ini bisa dibilang sudah agak basi, mengingat earphone Klipsch A5i yang akan aku ulas disini sudah cukup lama kubeli. Sejak earphone Philips SHE9850 ku bermasalah karena kabelnya terkelupas, aku sedikit alergi pada produk earphone Philips. Jujur saja, kuakui suara earphone Philips ku yang lama sudah cukup dan so far aku puas banget. Namun demikian, build quality produk yang buruk  membuatku berpikir dua kali untuk membeli produk yang sama.

Setelah melihat berbagai pilihan yang ada, aku memutuskan untuk membeli produk Klipsch. Satu hal yang aku sukai dari Klipsch adalah dia menyediakan model-model tertentu yang khusus di-desain agar kompatibel dengan produk Apple seperti Mac, iPhone, iPod, dll. Pada produk yang dibuat khusus untuk produk Apple, Klipsch menambahkan huruf ‘i’ di belakang namanya.

Kembali ke topik utama, akhirnya aku memutuskan untuk membeli Klipsch A5i, dengan warna hijau terang dan cukup mencolok. Ada beberapa alasan sih mengapa aku memilih produk ini. Salah satunya adalah diskon dari Bhinneka yang cukup menggiurkan (harga ketika aku beli 1,299 juta), dan tampaknya itu adalah clearance sale dari Bhinneka. Karena tak lama setelah itu produk tersebut sudah tidak ada lagi di Bhinneka. Alasan-alasan lainnya adalah:

  • Berdasarkan ulasan dari hasil googling, produk ini cukup bisa diandalkan. Kabelnya dibuat dari bahan kevlar yang konon awet.
  • Klipsch A5i ini didesain untuk pengguna yang hobi olahraga, jadi konon katanya tidak masalah ketika dipakai berbasah-basahan dengan keringat. Sejujurnya sih pada saat membeli produk ini aku bukan tipe orang yang senang berolahraga, cuma yah gara-gara earphone ini sekarang sudah nggak lagi :p
  • Memiliki 3 tombol yang berfungsi untuk mengatur volume dan musik, yang tentunya kompatibel dengan produk Apple. Selain itu, earphone ini memiliki penjepit, jadi nggak ribet ketika digunakan.
  • Memiliki microphone yang bisa digunakan untuk menerima panggilan


Okeh, itu adalah alasan-alasan mengapa aku membeli produk ini. Dan setelah menggunakan selama beberapa bulan, berikut adalah hasil ulasannya:

Kualitas Suara
Kualitas suara bisa dibilang cukup oke. Jika dibandingkan dengan Philips SHE9850 sih aku lebih prefer SHE9850. Suara bass produk ini menurutku cukup oke, namun terlalu dalam, dan tidak seimbang dengan treble nya. Ear tip nya pun cukup lumayan dalam meredam suara-suara di sekelilingnya. Berhubung earphone ini sering aku gunakan dalam perjalanan pulang pergi ke kantor via kereta Commuter, aku tidak terlalu mempermasalahkan kualitas suaranya. Apalagi jika digunakan untuk olahraga, kualitas suara mungkin bukan menjadi prioritas.

Build Quality
Produk ini aku akui cukup durabel. Bahan kabelnya resisten terhadap kelembaban dan keringat. Bahkan Klipsch A5i ini pernah aku gunakan dalam kondisi ekstrim: bersepeda ketika hujan cukup deras, dan sejauh ini oke-oke saja. Pada intinya sih produk ini cocok digunakan untuk pengguna yang senang dengan aktivitas outdoor.

Tambahan informasi:
Earphone ini pernah tidak sengaja tercuci di mesin cuci. Dan sejauh ini kualitas suaranya masih oke. Baik kabel maupun ear tip nya tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Ketiga tombol dan microphone nya masih bisa berfungsi dengan normal.

Kompatibilitas
Berdasarkan pengalamanku, produk ini kompatibel dengan iPhone, iPod Touch, iPad, iPod Nano, dan Mac. Untuk produk-produk Apple diluar itu earphone tetap bisa digunakan, namun tombol dan mic nya tidak berfungsi. Untuk produk diluar Apple, aku belum mencobanya sih, tapi kemungkinan sama saja, hanya fungsi earphone nya saja yang bisa digunakan.

Ergonomis
Earphone ini memiliki pengait yang digantungkan ke telinga yang berfungsi untuk mempertahankan earphone agar tetap pada posisinya walaupun digunakan dalam kondisi ekstrim. Pengait ke telinga nya cukup lentur sehingga nyaman digunakan. Selain itu ear tip nya bisa diatur, ada semacam gagang yang lentur yang bisa disesuaikan dengan lubang telinga.

Untuk penggunaan normal sehari-hari, produk ini berfungsi sebagaimana mestinya dan sangat nyaman untuk digunakan. Namun ketika digunakan untuk aktivitas outdoor yang membuat tubuh banyak mengeluarkan keringat, produk ini sedikit ‘bermasalah’. Produk ini sering kugunakan untuk menemaniku ketika berolahraga: berlari dan bersepeda. Ketika berlari, tubuh cenderung lebih banyak berkeringat dibandingkan dengan bersepeda. Dan ada kalanya keringat itu sampai membasahi telinga dan lubang telinga sehingga ear tip dari produk ini menjadi basah dan sedikit tidak ngepas. Karena menjadi tidak ngepas ke lubang telinga, seringkali suara yang aku dengar menjadi seolah tidak balance antara kiri dan kanan. Namun demikian, earphone nya tidak sampai terlepas kok. Cuma membuat menjadi sedikit tidak nyaman aja.