Selasa, Juli 14, 2026

Short Trip Kota Yogyakarta

Pada awal bulan Juli ini, aku ikut berpartisipasi dalam event sepeda Lakoni 600K di Yogyakarta. Biasanya aku selalu pergi membawa kendaraan sendiri. Jika eventnya start di hari Sabtu, aku selalu berangkat hari Jumat dini hari. Sampai Yogyakarta di jam-jam makan siang setelah sebelumnya mampir dulu di warung langganan di daerah Ambarawa. Namun kali ini karena ada opsi untuk memakai jasa angkut sepeda yang layanannya door-to-door, aku putuskan untuk mencobanya. Transportasi PP ke Yogyakarta aku putuskan untuk menggunakan kereta api dengan alasan lebih cepat. Sebenarnya ingin mencoba transportasi menggunakan bus, namun waktu tempuhnya nggak kaleng-kaleng: masa bedanya sampai 6 jam dengan kereta. Aku merasa terlalu mubazir waktuku dihabiskan di jalan.

Menggunakan kereta api sebagai transportasi ke Yogyakarta memberikan banyak keuntungan. Lokasi stasiun Tugu Yogyakarta yang bisa dibilang berada di jantung kota, dimana banyak titik-titik point of interest yang bisa dieksplorasi, membuatku tak perlu berpikir dua kali untuk langsung menghilangkan alternatif transportasi lain. Pada awalnya aku masih ragu apakah harus berangkat hari Kamis malam atau di Jumat pagi. Karena pengambilan race-pack Lakoni 600K dijadwalkan Jumat sore hingga malam hari, kedua opsi tadi sama-sama tidak masalah. Pada akhirnya kuputuskan untuk menggunakan kereta Taksaka di Kamis malam, sampai Yogyakarta di jam 03:30 pagi. Setelah itu, aku memiliki waktu kurang lebih setengah hari hingga sholat jumat untuk check-in di penginapan, unloading sepeda, beristirahat sebentar, dan sore harinya mengambil racepack. Berhubung event Lakoni start di daerah utara (mendekati Kaliurang), penginapanku juga tak jauh-jauh dari sana. Jarak tempuhnya hampir 20km dari pusat kota. Karena alasan inilah, aku tak bisa berlama-lama di kota Yogyakarta.
Stasiun Tugu di waktu Shubuh

Waktu yang efektif dari Shubuh hingga jam sholat jumat dan makan siang rencananya aku gunakan untuk mengeksplorasi area sepanjang Tugu Jogja - Malioboro - hingga Keraton dengan berjalan kaki. Rencana awalnya tujuan awalku adalah mengunjungi Museum Benteng Vredeburg dan Kampung Wisata Taman Sari, namun setelah kupertimbangkan dengan baik, Museum Benteng Vredeburg aku skip, atas saran temanku, lebih baik mengunjungi Taman Sari terlebih dahulu, jika terlalu siang cukup panas.

Berikut adalah beberapa point-of-interest yang aku kunjungi:

Tugu Jogja
Tugu Jogja, atau yang memiliki nama asli Tugu Golong Gilig, merupakan landmark paling ikonik yang berdiri kokoh di pusat Kota Yogyakarta. Didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, monumen ini bukan sekadar pembatas jalan biasa, melainkan simbol yang sarat akan makna spiritual dan filosofis. Tugu ini dibangun di atas garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di sisi utara, Keraton Yogyakarta di tengah, dan Laut Selatan di ujung selatan, melambangkan konsep Manunggaling Kawula Gusti atau persatuan antara manusia dengan Sang Pencipta.
Tugu Jogja

Setelah sholat shubuh di stasiun, aku berjalan kaki menuju Tugu Jogja yang jaraknya kurang lebih 800m. Langit masih gelap, dan jalanannya masih sepi, namun kulihat sudah ada beberapa orang yang berolahraga lari di sepanjang jalan. Sesampainya di Tugu Jogja, aku mengambil beberapa foto. Walaupun masih pagi, jalanannya nggak sepi-sepi banget, jadi aku nggak berani untuk mengambil foto lebih dekat. Aku disana mungkin hanya 5 menit, setelah itu langsung memutar balik melewati jalanan yang sama, namun kali ini kulalui sisi yang berseberangan dengan jalur sebelumnya. Di sisi yang berseberangan ini kulihat banyak fotografer yang sudah siap mengambil foto-foto pelari yang lewat. Tak hanya fotografer solo, banyak juga yang berkelompok.

lampu taman di area jalan Tugu Jogja

Malioboro

Jalan Malioboro membentang sepanjang kurang lebih 1 kilometer dari Stasiun Tugu hingga pasar Beringharjo. Aku melewati jalan ini pada pukul 6 pagi, dimana jalanannya sudah mulai ramai oleh orang-orang yang berolahraga. Trotoarnya relatif sepi dan kosong. Beberapa toko sudah ada yang buka di jam 6 pagi, namun kebanyakan masih tutup. Agak disayangkan di sepanjang jalan ini banyak tercium bau pesing, tak hanya di satu titik, tapi tercium di sepanjang perjalananku menuju Titik Nol Kilometer.

Jalan Malioboro

Pasar Beringharjo

Karena cuci mata dan belanja bukan menjadi hobbyku, di sepanjang jalan ini hampir tidak ada spot menarik untuk difoto. Aku hanya berhenti untuk mengambil foto bagian depan Pasar Beringharjo, sebelum aku lanjutkan kembali langkahku ke Titik Nol Kilometer yang jaraknya sekitar 200m dari situ.

Titik Nol Kilometer Yogyakarta

Titik Nol Kilometer Yogyakarta merupakan sebuah kawasan yang terletak di jantung kota, tepatnya di persimpangan yang menghubungkan Jalan Malioboro, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan KH. Ahmad Dahlan, dan Jalan Panembahan Senopati. Kawasan ini disebut sebagai jantungnya Jogja karena menjadi pusat orientasi geografis sekaligus titik awal pengukuran jarak antarwilayah di Yogyakarta. Letaknya yang sangat strategis membuat Titik Nol Kilometer menjadi poros penghubung antara pusat perbelanjaan Malioboro dengan pusat kebudayaan Keraton Yogyakarta.

Bank BNI di pusat Titik Nol Kilometer

Yang membuat Titik Nol Kilometer menarik adalah karena di sekitar perempatan ini berdiri bangunan bersejarah yang berarsitektur kolonial Belanda. Beruntung pagi itu cuaca sangat cerah, tidak ada awan sama sekali. Aku cukup puas mengambil beberapa foto bangunan di sekitaran titik ini:  Bank BNI dan Bank Indonesia. Di seberang Bank Indonesia, ada Museum Benteng Vredeburg. Karena lokasinya agak kedalam dan jauh dari jalan raya, dan pada saat itu juga belum buka, aku tidak bisa mengambil foto-foto disana.

beberapa POI di area Titik Nol Kilometer

Dari titik Nol Kilometer, aku melanjutkan perjalanan ke arah Keraton, melalui Alun-alun utara. Kebetulan disana ada penjual soto ayam lesehan. Aku pesan 2 porsi soto ayam dan 1 es teh manis, hanya perlu membayar Rp 23 ribu. Waktuku masih tersisa cukup lama sambil menunggu Kampung Wisata Taman Sari buka pukul 9 pagi. Setelah bersantai cukup lama, kuputuskan untuk melanjutkan berjalan kaki ke Taman Sari karena kulihat disana ada kedai kopi yang sudah buka dan bisa kukunjungi sambil menunggu.

Kampung Wisata Taman Sari

Kampung Wisata Taman Sari merupakan salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya terletak tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Kawasan ini berdiri di atas reruntuhan situs Taman Sari, yang dahulu merupakan taman air atau istana tempat peristirahatan Sultan beserta keluarga kerajaan yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Kini, kompleks yang dulunya eksklusif ini telah menyatu dengan pemukiman warga lokal, menciptakan sebuah kampung wisata unik di mana jejak kemegahan arsitektur masa lalu berdampingan harmonis dengan kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Daya tarik utama dari Kampung Wisata Taman Sari terletak pada arsitekturnya yang megah dengan perpaduan gaya Jawa dan Portugis. Area yang paling ikonik dan sering dikunjungi adalah Umbul Pasiraman, yaitu kompleks kolam pemandian yang dikelilingi oleh dinding-dinding tinggi dan menara pengawas. Selain menyuguhkan pesona bangunan bersejarah, berjalan-jalan di dalam Kampung Wisata Taman Sari memberikan pengalaman interaksi budaya yang hangat. Gang-gang sempit di pemukiman warga dihiasi oleh mural-mural kreatif dan deretan toko kerajinan lokal.

Pintu depan Mesjid di area Taman Sari

Ketika aku sampai area Kampung Wisata Taman Sari, tempatnya belum terlalu ramai. Aku masih punya waktu hampir 1.5 jam hingga jam buka. Di dekat pintu masuk kawasan ada mesjid yang dari bangunannya sepertinya sudah cukup lama. Berjalan lebih ke dalam lagi, ada kedai kopi yang sebelumnya sudah kulihat di Google Maps ketika sarapan tadi: Arka Coffee and Space. Tempatnya cukup nyaman, dan tiap tempat duduknya ada colokan untuk nge-charge. Jadi tidak perlu bingung dan pilih-pilih tempat duduk. Kuhabiskan waktu disana selama hampir 1 jam.

Ngopi dulu sambil menunggu Taman Sari buka

Pintu masuk menuju Taman Sari

20 menit sebelum buka, aku berjalan ke arah pintu masuk. Tak berapa lama, kawasannya mulai ramai oleh pengunjung, kebetulan karena aku sudah berada disana ketika orang-orang belum mulai membentuk antrian, aku dapat antrian ke-2 untuk pembelian tiketnya. Segera setelah membeli tiket, aku langsung buru-buru masuk mumpung pengunjung lain belum banyak yang masuk. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk segera mengambil foto-foto di Taman Sari yang masih kosong melompong. Sayang, karena kawasannya cukup luas, ada spot-spot yang menurutku bagus, tetapi aku tak bisa mengabadikannya tanpa ada objek orang di frameku.





foto-foto di pemandian dan komplek Taman Sari

Area kolam pemandiannya yang instagrammable sebenarnya tidak terlalu luas, 20-30 menit sudah cukup untuk berfoto-foto disini. Namun demikian area kampung wisatanya ini lumayan luas kalau mau dieksplorasi, karena bisa dibilang menyatu dengan area pemukiman warga. Ada bekas reruntuhan hingga lorong bawah tanah yang melewati pemukiman. Selain itu di area ini juga ada situs mesjid tertua yang berada bawah tanah, Sumur Gumuling. Namun demikian situs ini ditutup sejak pandemi Covid-19 dan belum dibuka lagi untuk umum.

Museum Wahanarata

Museum Wahanarata didirikan untuk menyimpan, merawat, dan memamerkan koleksi kereta kencana bersejarah milik Kesultanan Yogyakarta yang telah digunakan dari generasi ke generasi. Berawal dari sebuah garasi dan kandang kuda kekaisaran yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VI pada tahun 1855, kawasan ini bertransformasi menjadi museum yang secara resmi dibuka untuk umum pada tahun 1985 guna melestarikan armada pusaka kerajaan. Di dalam museum ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung puluhan koleksi kereta kencana legendaris dengan filosofi budaya Jawa yang sangat kental.
Museum Wahanarata

Tadinya aku tidak ada rencana untuk kesini. Setelah berkunjung dari Taman Sari, aku berencana untuk sholat Jumat di Mesjid Gedhe Keraton sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan. Namun karena museum ini terlewati, dan pada saat itu kulihat waktu adzan masih lama, kuputuskan untuk mampir.

Berbagai koleksi museum

Koleksi kereta kencana di museum ini lumayan banyak. Jika mau dilihat satu persatu, mungkin akan memakan waktu cukup lama. Selain itu, museum ini menurutku cukup modern, pintu-pintu dari satu area ke area lainnya dibuat otomatis membuka dan menutup, walaupun desain bangunannya masih mempertahankan gaya aslinya. Selain itu ada beberapa display yang menggunakan animasi dan juga interaktif, yang seharusnya akan membuat kunjungan ke museum ini menyenangkan jika membawa anak-anak.

Semua koleksi kereta kencananya dapat difoto kecuali satu: Kanjeng Nyai Djimat, yang merupakan kereta pusaka utama. Dikutip dari penjelasan di museum:

Diperoleh dari hadiah Gubernur Jendral Jacob Mossel (1750-1761), kereta pusaka Kanjeng Nyai Djimat menjadi kereta pertama keraton yang digunakan sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I hingga Sultan Hamengku Buwono III. Sebutan Kanjeng Nyai untuk kereta ini disebabkan di bagian depan karena terdapat patung putri yang menyangga papan di depan tempat duduk kusir

kereta. Semenjak Sultan Hamengku Buwono VI naik takhta, Kanjeng Nyai Jimat sudah tidak dikeluarkan lagi dalam upacara kerajaan. Kanjeng Nyai Djimat merupakan kereta tertua, sehingga menjadi kereta utama yang selalu dibersihkan saat Bulan Sura (Muharram). Sementara untuk kereta kedua dipilih secara bergantian.

Mesjid Gedhe Keraton

Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta, merupakan salah satu bangunan ibadah bersejarah paling penting di Yogyakarta. Didirikan pada 29 Mei 1773 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu keraton pertama), masjid ini dibangun sebagai bagian dari kelengkapan konsep tata kota "Catur Gatra Tunggal" Kesultanan Yogyakarta. Konsep ini menyatukan empat elemen utama dalam satu poros kebudayaan, yaitu Keraton sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun sebagai ruang rakyat, Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi, dan Masjid Gedhe sebagai pusat spiritual keagamaan.

Mesjid Gedhe Keraton

Setelah mengunjungi Museum Wahanarata, aku menuju Mesjid Gedhe Keraton yang jaraknya hanya 200m saja. Karena pada saat itu waktu adzan masih tersisa cukup lama, mesjidnya belum terlalu penuh oleh pengunjung. Aku masih bisa masuk ke ruangan utama mesjidnya. Kontras dengan bagian selasar yang pencahayaannya maksimal, di bagian ruangan utamanya ini kesannya lebih gelap jika dilihat dari luar. Namun begitu masuk, mataku menyesuaikan, tidak segelap yang kukira. Namun demikian dengan jumlah lampu atap kaca yang terbatas membuat pencahayaan di ruangan ini agak gelap. Melihat struktur tiang-tiang di ruangan utama mesjid ini membuatku teringat dengan struktur pendopo di Pura Mangkunegaran yang sebelumnya pernah aku kunjungi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar