Sabtu, Juli 11, 2026

Short Trip Kota Surakarta

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan untuk mengunjungi Kota Surakarta untuk menghadiri undangan pernikahan teman kantorku dari divisi lama. Karena acara pernikahannya di hari libur tanggal merah, dan tengah minggu pula, aku putuskan untuk tidak cuti. Jadi kesana hanya menginap semalam, dan pulang lagi ke Jakarta keesokan harinya di hari H nya. Acara pernikahannya di Karanganyar, cukup jauh dari Kota Surakarta, lumayan agak merepotkan untuk pergi-pulangnya dari Surakarta-Karanganyar.

Kesempatan ini ingin kugunakan untuk mengeksplorasi Kota Surakarta, walaupun mungkin waktuku tidak banyak hanya dari setelah acara pernikahan hingga malam hari. Dengan pertimbangan ingin sat-set dan juga ingin foto-foto, rencanaku spot-spot yang akan kukunjungi lokasinya tidak terlalu jauh dari Stasiun Solo Balapan, sehingga masih bisa kueksplorasi dengan berjalan kaki saja. Setelah berkonsultasi dengan AI dan melihat peta di area sekitaran Stasiun Solo, aku memutuskan untuk mengunjungi titik-titik ini:

Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Mangkunegaran yang terletak di pusat kota. Didirikan pada tahun 1757 oleh Raden Mas Said, yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa, setelah ditandatanganinya Perjanjian Salatiga, istana ini berdiri sebagai simbol kedaulatan politik dan kultural.

Pura Mangkunegaran

Ini adalah titik pertama yang aku kunjungi. Setelah selesai acara kondangan, aku langsung menuju titik ini. Sayangnya karena pada hari itu tanggal merah, tempatnya lumayan ramai dipadati pengunjung. Pengunjung tidak bisa langsung masuk ke Pura Mangkunegaran, melainkan akan dimasukkan ke dalam grup/rombongan dan ditemani oleh pemandu. Nah karena sedang ramai-ramainya, jadi lumayan mengantri. Informasi dari petugasnya, kemungkinan paling cepat aku baru bisa masuk 2 jam lagi, waktu yang cukup lama dan mubazir jika kugunakan hanya untuk menunggu antrian. Pada akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan dulu ke Fort Vastenburg dan Keraton Surakarta yang kupikir bisa kueksplorasi dalam waktu 2 jam.

Fast forward, pada akhirnya aku baru bisa masuk ke Pura Mangkunegaran di sore hari. Dalam rombonganku setidaknya ada 15 orang pengunjung, yang rata-rata barengan, hanya aku saja yang sendirian. Ketika masuk, dijelaskan kompleks Pura Mangkunegaran ini masih menjadi tempat tinggal keluarga keturunan keraton Mangkunegaran. Sebagian wilayah kompleksnya dijadikan area cagar budaya yang bisa diakses publik. Alasan inilah yang menyebabkan semua kunjungan harus ditemani oleh pemandu, agar pengunjung dapat diawasi dan tidak sembarangan masuk ke area privat.

Saat memasuki kompleks istana, pengunjung akan langsung disambut oleh Pendopo Ageng, sebuah struktur bangunan joglo megah tanpa paku yang merupakan salah satu pendopo terbesar di Indonesia. Di langit-langit pendopo ini, pengunjung dapat melihat lukisan astrologi Hindu-Jawa berupa Kumudawati yang memesona dengan warna-warna simbolis. Selain itu,
pengunjung juga bisa melihat seperangkat gamelan pusaka (ada beberapa dan ada nama-namanya juga) yang dikeramatkan serta menyaksikan para penari tradisional yang kerap berlatih di area ini pada hari-hari tertentu.

interior pendopo dan koleksi gamelam

Perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dan gaya Eropa nya sangat terasa ketika memasuki Pendopo Ageng. Dari bentuk lampu gantungnya bisa dikatakan ini bukan dari Jawa. Berdasarkan informasi dari pemandunya juga lantai marmer di pendoponya ini didatangkan langsung dari Eropa. Pada awalnya warnanya putih, namun kemudian di tahun 1960an gitu katanya terjadi banjir besar di Surakarta yang menyebabkan area pendopo terendam lumpur. Marmer bisa dibilang menyerap warna lumpurnya, jadi setelah dibersihkan, masih tertinggal corak kecokelatannya.

lukisan astrologi & lampu gantung di pendopo


Bergerak lebih dalam ke area Pringgitan dan Museum, pengunjung dapat menyaksikan kekayaan sejarah Mangkunegaran yang tak ternilai harganya. Di dalam museum, dipamerkan berbagai koleksi memorabilia kerajaan seperti perhiasan emas, perlengkapan upacara, koleksi cangkir, stained glass, pakaian adat, hingga senjata tradisional seperti keris dan tombak.

koleksi memorabilia museum

Rasanya kunjunganku kemarin belum memuaskan. Seandainya ada private tour, aku mungkin akan memilih ini walaupun harus membayar harga yang lebih mahal. Karena ramai-ramai, jadi tidak terlalu konsentrasi dengan apa yang dijelaskan oleh pemandunya.

Fort Vastenburg
Fort Vastenburg (atau Benteng Vastenburg) adalah benteng pertahanan kolonial Belanda peninggalan abad ke-18. Didirikan pada tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, benteng berbentuk bujur sangkar ini awalnya dinamai de Grootmoedigheid (kemurahan hati) sebelum diubah menjadi Vastenburg yang berarti "benteng yang kukuh".

Fort Vastenburg

Ini tempat kedua yang kukunjungi, karena lokasinya terhitung tidak terlalu jauh dari Pura Mangkunegaran dan bisa kulewati sekalian ke Keraton Surakarta. Ketika kesana, sepertinya tidak banyak yang bisa kulihat. Pintu gerbangnya ditutup, jadi tidak bisa melihat ke dalam. Hanya bisa melihat dan mengambil foto-foto di depan pintu gerbangnya saja.

Keraton Surakarta
Keraton Surakarta Hadiningrat adalah istana resmi Kasunanan Surakarta yang menjadi pusat kebudayaan dan sejarah hidup di Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1744 oleh Susuhunan Pakubuwana II sebagai kelanjutan dari Kerajaan Mataram Islam yang dipindahkan dari Kartasura, keraton ini merupakan hulu dari tradisi, adat istiadat, dan seni adiluhung masyarakat Solo.

Keraton Surakarta

Ketika sampai di area keraton, impresi pertamaku adalah arsitekturnya yang cukup eye-catching dengan warna yang didominasi putih dan biru muda yang terhitung nge-jreng. Di bagian sebelah kiri ada menara berbentuk segi delapan. Belakangan baru tahu kalau menara ini dinamai Panggung Sanggabuwana yang fungsi utamanya pada masa itu adalah sebagai menara pengawas untuk memantau pergerakan aktivitas pasukan Belanda yang berada di Benteng Vastenburg.

bagian dalam keraton & Panggung Sanggabuwana

Tadinya kupikir pintu masuknya area Keraton ini di bagian depan, ternyata area museum dan area publiknya berada di samping. Di bagian depan keraton, ada 2 orang penjaga yang tampaknya selalu standby. Belakangan aku baru tahu kalau pintu depan hanya bisa dilewati oleh orang-orang tertentu saja, diantaranya Raja dan keluarga dekat keraton, abdi dalem, serta tamu resmi kerajaan. Jadi sepertinya memang wajar kalau pintunya selalu dijaga.

koleksi museum Keraton Surakarta

Ketika aku datang ke pintu masuk yang untuk wisatawan, pengunjungnya tidak terlalu banyak seperti Pura Mangkunegaran. Seperti halnya kunjungan ke Pura Mangkunegaran, pengunjung akan ditemani oleh pemandu yang akan mendampingi menyusuri kompleks istana dan museum, serta memberikan penjelasan sejarah, budaya, dan koleksi keraton. Karena tidak terlalu ramai, aku tak perlu menunggu terlalu lama untuk masuk ke area keratonnya.

Jika dibandingkan dengan Pura Mangkunegaran, koleksi museum Keraton Surakarta menurutku terkesan lebih lawas. Di dalam museum ini, tersimpan rapi berbagai benda pusaka dan memorabilia kerajaan, mulai dari kereta kencana megah yang dulu ditarik kuda, senjata tradisional seperti keris dan tombak, alat musik gamelan kuno, hingga patung-patung mistis. Seperti halnya Pura Mangkunegaran, arsitektur keraton ini tampaknya banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa. Di bagian dalam pelataran keraton bisa dilihat ada patung-patung bergaya Eropa yang berwarna putih, sepertinya terbuat dari marmer.

Mesjid Raya Sheikh Zayed
Masjid Raya Sheikh Zayed di Surakarta merupakan salah satu replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque yang berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Diresmikan pada akhir tahun 2022, masjid megah ini berdiri sebagai simbol persahabatan yang erat antara Indonesia dan Uni Emirat Arab. Dengan dominasi warna putih yang dipadukan dengan aksen emas, bangunan ini menampilkan arsitektur Islam modern yang berpadu harmonis dengan sentuhan budaya lokal.

Mesjid Raya Syeikh Zayed Surakarta

Beberapa kali ketika pulang ke Tulungagung naik kereta Brawijaya, mesjid ini selalu menarik perhatianku. Di malam hari, warna lampunya yang biru terlihat indah, kontras dengan warna cahaya lampu sekitarnya. Terlebih lagi, posisi mesjid ini berada di tikungan rel kereta rute Solo Jebres - Semarang, dan lokasinya tak jauh dari stasiun, sehingga ketika melewati mesjid ini, kereta berjalan pelan. Memberikan pemandangan ikonik yang bisa dinikmati selama kurang lebih 1 menit dari atas kereta.

eksterior mesjid

interior mesjid

Pada akhirnya, di perjalanan singkatku ke kota Surakarta, aku berkesempatan untuk mengunjungi mesjid ini, yang ternyata lebih besar dan megah dari yang kukira. Arsitektur dan ornamennya unik, kental dengan gaya khas timur tengah. Tadinya kupikir mesjid ini tidak terlalu ramai, ternyata pengunjungnya lumayan banyak, sepertinya sudah menjadi destinasi wisata dari orang-orang luar kota. Aku sengaja berkunjung kesini di jam sore sambil menunggu maghrib, sehingga bisa melihat transformasi landskapnya ketika lampu-lampu mesjidnya mulai menyala dengan warna birunya yang khas.



warna cahaya lampu mesjid yang khas berwarna kebiruan

Sate Buntel Pak H Kasdi
Ini adalah destinasi terakhirku sebelum pulang ke Jakarta, berlokasi tak jauh dari Stasiun Solo Balapan dan searah dengan jalur jalan kakiku dari kunjungan ke Mesjid Raya Syeikh Zayed. Dari beberapa rekomendasi sate buntel di kota Surakarta, aku memilih Sate Buntel pak H Kasdi karena pertimbangan rating, lokasi yang tak jauh dari stasiun, dan direkomendasikan oleh istriku yang sebelumnya pernah kesini.

sate buntel Pak H Kasdi

Karena seharian aku sudah cukup lelah berjalan kaki, malam itu aku merasa lumayan kelaparan sehingga tanpa basa-basi aku memesan sate kambing, sate buntel, gule, dan tak lupa seporsi nasi. Ibu penjualnya sampai kaget disangkanya aku pesan untuk 2 orang. Tak perlu menunggu lama pesanananku sudah diantar, padahal saat itu tempatnya lumayan ramai. Sepertinya pelayanannya sat-set, di jam sibuk sate buntel dan sate kambingnya sudah langsung disiapkan walaupun belum ada yang memesan. Secara rasa, menurutku oke banget. Sate buntelnya walaupun 1 porsi hanya berisi 2 tusuk, tapi dagingnya banyak sekali. Secara rasa, masih belum mengalahkan sate favoritku di Tulungagung, tetapi ini jauh lebih oke lah dibandingkan dengan sate kambing yang kumakan di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar