Teh seduh banyak sekali pilihannya, dari mulai merek lokal seperti Tong Dji (ini adalah salah satu merk teh seduh favoritku), Teh Poci, Dandang, Nyapu, Sintren, hingga teh impor seperti Dilmah, Twinnings, Ahmad Tea, dan TWG. Untuk teh merek lokal yang kusebutkan diatas biasanya potongan daunnya lebih besar dan kasar atau bisa dibilang teh tubruk. Seringkali tidak hanya berisi potongan daun juga tetapi ada juga potongan batang tehnya juga. Sementara itu teh impor biasanya potongan daunnya lebih kecil, dan tentunya hanya berisi daun tehnya saja, tanpa potongan batang teh.
Tampilkan postingan dengan label Iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iseng. Tampilkan semua postingan
Minggu, Februari 21, 2021
Singabera, Teh Premium Produksi Lokal
Belakangan ini, teh menjadi salah satu minuman favoritku selain kopi tentunya. Kopi di pagi hari, sementara teh untuk konsumsi siang dan malam hari. Untuk pilihannya, aku lebih memilih teh seduh dibanding teh celup. Memang sedikit lebih ribet ketika membuatnya, tetapi ini anggap saja sebagai bagian dari ritual meminum teh itu sendiri, sama seperti halnya ketika menyeduh kopi V60 favoritku. Selain itu teh seduh menurutku memberikan fleksibilitas yang lebih dalam mengatur tingkat kepekatan tehnya. Jika ingin teh yang lebih pekat, tinggal ditambah saja tehnya.
Senin, Februari 17, 2020
Sakau Gorengan
Dalam usahaku untuk mencapai target resolusiku di tahun 2020, selama 1 bulan belakangan ini aku mencoba untuk mengurangi konsumsi daging merah dan makanan yang dimasak dengan cara digoreng. Kuakui, cukup sulit untuk benar-benar berhenti mengkonsumsi dua kategori makanan diatas, terutama jika makanannya sudah tersaji di meja makan. Jika sudah seperti ini, biasanya aku mengambil seperlunya saja. Yang saat ini benar-benar bisa kukontrol adalah makan siangku ketika aku berada di kantor.
Selasa, September 03, 2019
Membuat akun Apple ID untuk Anak
Berawal dari iPad lamaku yang dalam penggunaannya semakin lebih sering digunakan oleh anak-anakku, akhirnya kuputuskan untuk membuat akun Apple ID sendiri untuk mereka. Ada beberapa alasan mengapa aku putuskan agar iPad tersebut menggunakan Apple ID milik mereka sendiri dan bukan Apple ID milikku:
Rabu, Agustus 21, 2019
Move On
Lebaran tahun ini menjadi momen penting dalam perjalanan hidupku. Di lebaran ini, kami sekeluarga pindah ke tempat tinggal yang baru, rencana yang sudah aku tunda-tunda dari 2 tahun yang lalu. Dan kebetulan juga setelah lebaran aku mendapat mendapat penugasan baru di luar unit kerjaku pada saat itu. Cukup kaget juga sih, karena sebelumnya tidak ada berita apa-apa. Tadinya kupikir akan dirotasi di internal saja, ternyata sampai ke luar unit kerjaku.
Dua peristiwa yang berhubungan dengan pindahan ini kupandang sebagai sebuah kesempatan untuk move on. Tidak hanya move on dari lingkungan lama ke lingkungan baru saja, tetapi juga dari kebiasaan-kebiasan lama yang kurang produktif. Ada beberapa kebiasaan yang kurasa kurang produktif namun sulit untuk aku ubah karena aku sudah merasa nyaman dengan kondisiku pada saat itu. Perubahan kondisi ini memberikan peluang untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih produktif, menyesuaikan dengan kondisiku pada saat ini.
Dua peristiwa yang berhubungan dengan pindahan ini kupandang sebagai sebuah kesempatan untuk move on. Tidak hanya move on dari lingkungan lama ke lingkungan baru saja, tetapi juga dari kebiasaan-kebiasan lama yang kurang produktif. Ada beberapa kebiasaan yang kurasa kurang produktif namun sulit untuk aku ubah karena aku sudah merasa nyaman dengan kondisiku pada saat itu. Perubahan kondisi ini memberikan peluang untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih produktif, menyesuaikan dengan kondisiku pada saat ini.
Minggu, Juni 23, 2019
Menikmati Teh Oplosan
Dalam sebulan terakhir ini aku memiliki hobi baru: menikmati teh oplosan. Awalnya sih dari acara jalan-jalan di akhir bulan April lalu ke Solo, dimana ketika sarapan di hotel aku sempatkan untuk meminum teh yang sudah tersaji. Karena tinggal ngambil sendiri di server, pada awalnya sih kupikir teh yang dipakai palingan teh-teh seduh yang instan semacam Sariwangi gitu. Ternyata rasanya oke dan mantap, dan seumur-umur aku belum pernah merasakan cita rasa teh yang seperti ini. Berhubung aku penasaran dengan teh apa yang dipakai, aku tanyakan ke petugas hotelnya. Ternyata teh yang dipakai adalah teh campuran dari beberapa merek yang berbeda. Sayangnya sih aku nggak inget itu campuran tehnya apa saja, salah satu merk yang kuingat adalah teh Dandang.
Senin, Mei 20, 2019
Catatan Perjalanan ke Solo
Beberapa waktu lalu kami sekeluarga pergi ke Solo untuk menghadiri undangan acara pernikahan teman kantorku. Karena beberapa hari sebelumnya istriku ada acara kantor di luar kota, pada awalnya rencana ini bersifat tentatif menggunakan jalur darat. Karena tentatif ini lah, rencananya kami akan go show saja, toh juga belum pesan kamar hotel. Jadi kalaupun nggak jadi, nggak rugi apa-apa. Niatnya kami jadi pergi ke Solo sekalian jalan-jalan singkat: wisata kulineran sekalian mampir ke Borobudur & Museum Ambarawa.
Perjalanan Dini Hari
Hari Jumat sepulang kantor, aku sengaja tidur cepat. Rencananya kami akan berangkat dari rumah sekitar jam 1:30 dini hari, dengan tujuan pertama kami Candi Borobudur. Harapannya, sampai Candi Borobudur masih pagi, jadi punya banyak waktu luang untuk istirahat sebelum menghadiri undangan resepsi pernikahan temanku jam 7 malam keesokan harinya.
Aku bangun jam 1 pagi dan langsung memeriksa Google Maps. Wow, ternyata jam segitu JORR macet parah. Ditambah dari keluar JORR hingga Cikarang juga merah darah. Ternyata di hari Jumat malam hujan deras dan beberapa wilayan terkena banjir cukup parah, sehingga jam 1 malam pun masih bersisa macetnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur lagi, berharap 1 jam kemudian kondisi jalanan sudah membaik.
Jam 2 pagi, kondisi masih belum berubah, JORR masih merah darah. Kulanjutkan lagi tidurku hingga jam 3 pagi. Nah disini kulihat JORR sudah agak mendingan, tapi dari Bekasi sampai Cikarang masih merah. Akhirnya kuputuskan untuk berangkat, karena aku khawatir semakin siang kondisi di tol Cikampek akan semakin tidak kondusif. Dalam hari perasaanku sudah nggak enak, karena alamat bakalan tambah lama ini perjalanannya.
Sekitar jam 8 pagi aku keluar tol di Batang untuk mengisi bensin sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anakku untuk mandi. Nah dari sini aku mengarahkan Google Maps ke Borobudur. Ternyata perjalanannya memerlukan waktu sekitar 3 jam lewat jika lewat tol dengan jarak kurang lebih 180km. Sementara itu aku bisa menggunakan jalur alternatif dengan jarak yang jauh lebih pendek, 127 km namun waktu tempuhnya sekitar 30 menit lebih lambat. Setelah berdiskusi dengan istriku, akhirnya kuputuskan untuk tidak lewat tol.
Batang-Magelang-Borobudur
Jalur yang kami lalui tidak semulus yang kami bayangkan. Karena namanya jalan pintas, ya wajar saja jika jalanannya tidak selalu mulus dan memakan waktu 3,5 jam walaupun jaraknya hanya 127km. Aku tidak ingat nama-nama daerah yang kami lalui, namun aku sangat menikmati rutenya. Dari mulai jalan aspal mulus, jalan beton, hingga jalan kecil dan berlubang dimana-mana kami lalui. Jalanan rata dengan pemandangan sawah hingga jalanan naik turun melalui perbukitan juga kami lalui. Beruntung karena rute yang kuambil bisa dibilang rute alternatif, jalanannya tidak terlalu ramai, cenderung sepi.
Sebelum sampai ke Candi Borobudur, kami putuskan mampir dulu di Magelang untuk makan siang berhubung kami belum sarapan sejak berangkat. Berbekal Google kami mencoba mencari kuliner yang direkomendasikan, dan akhirnya kami putuskan untuk mencoba Sop Senerek Bu Atmo. Setelah sampai di lokasi, ternyata warung nya kecil dan agak kurang meyakinkan. Namun berhubung sudah lapar, percaya aja deh dengan rekomendasi netizen.
Setelah mencoba sop senerek, jujur saja rasanya agak-agak asing. Mungkin karena campuran bahan-bahannya agak nggak biasa kali yah, karena aku sendiri belum pernah mencoba campuran seperti kacang merah, wortel, bayam, dan jeroan dijadikan satu seperti ini. Ditambah lagi cita rasa sup nya cenderung agak manis. Kurasa jika tanpa jeroan, sop senerek ini akan menjadi menu sehat karena isinya sayuran semua. Hehehe.
Setelah makan siang perjalanan dilanjutkan ke Candi Borobudur yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Magelang, kurang lebih 30 menit saja. Kami sampai sekitaran jam 2 siang. Beruntung juga kami sampai sudah siang menjelang sore, jadi sudah tidak terlalu panas. Namun demikian walaupun sudah sore, lokasi ini cukup ramai oleh pengunjung. Harga tiket masuk untuk dewasa Rp 40.000 sementara untuk anak-anak Rp 20.000.
Berhubung waktu kami cukup sempit untuk mengejar acara pernikahan temanku di Solo, jadi kami berkeliling di Candi Borobudur hanya 2 jam saja. Sebenarnya sih bisa lebih cepat, namun berhubung bawa anak-anak ya mau nggak mau dibawa sedikit santai. Waktu 2 jam tersebut sudah cukup lah untuk berjalan dari pintu masuk, naik ke candi, berfoto ria, menuruni candi, dan membeli oleh-oleh. Harap diketahui jalan dari pintu masuk menuju candi dan dari candi hingga ke pintu keluar lumayan jauh. Kurasa kalau ditotal 800m s/d 1km ada kali yah.
Borobudur-Solo
Jam 4 sore kami meninggalkan Candi Borobudur dan langsung menuju Solo. Seperti biasa kami mengandalkan Google Maps untuk mencari rute tercepat. Pada saat itu ada 3 rute yang bisa kuambil: lewat utara (melewati Salatiga), lawat jalur tengah, atau lewat selatan (melewati Yogyakarta). Dan tentu saja rute tercepat adalah rute jalur tengah seperti yang ada pada gambar dibawah. Secara jarak memang tidak terlalu jauh, kurang dari 80 km, tapi perjalanannya memerlukan waktu 2 jam lewat. Perhitunganku masih cukup lah waktunya untuk mengejar resepsi pernikahan temanku di jam 7 malam.
Berhubung rencana perjalanan ini go show, alias nggak pakai plan macem-macem, pada saat itu kami belum menentukan dimana kami akan menginap. Nah jadi di perjalanan menuju Solo ini jadinya kami baru mencari hotel untuk menginap. Dan ternyata, mencari hotel untuk hari Sabtu pada saat itu sangatlah sulit. Hotel-hotel berbintang 4 dan 3 sudah di telpon satu persatu dan semuanya penuh. Ada sih beberapa yang bintang 5 yang masih available tapi harganya sudah nggak masuk akal, apalagi ini hanya untuk semalam saja, besok paginya juga sudah caw. Setelah menelpon ke belasan hotel, akhirnya dapat juga kamar kosong di sebuah hotel syariah di kawasan dekat Universitas Muhammadiyah. Wew.. nggak lagi-lagi deh untuk urusan hotel baru pesan di hari H seperti ini.
Sementara itu, perjalanan menuju Solo tidak semulus yang kuharapkan. Google Maps ternyata mengarahkan ke rute alternatif, dimana rute yang kulalui adalah jalan potong dan tidak melalui jalur utamanya. Bisa dibayangkan sore-sore menjelang maghrib kami melewati jalanan yang hanya muat 1 mobil ditambah lagi jalanannya naik turun karena melewati perbukitan. Di beberapa ruas kombinasinya sedikit mengerikan, tanjakan/turunan dengan belokan patah. Beberapa kali aku mesti memindahkan transmisi mobilku ke gigi 1 secara manual karena transmisi otomatisnya sudah tidak mampu menangani buasnya tanjakan.
Setelah jalur potong ini berakhir, kami masuk kembali ke jalur utama. Dan disinilah aku merasa tidak menyesal mengambil rute ini. Pemandangannya luar biasa indah walaupun hari sudah hampir gelap. Jika seandainya aku melewati rute ini pagi-pagi, tentunya akan jauh lebih menyenangkan. Jalur yang kulewati menyusuri lereng gunung Merbabu, sementara di sebelah kananku kulihat lembah dan pemandangan gunung Merapi. Suatu hari nanti kuharap bisa kembali melewati rute ini, namun menggunakan sepeda tentunya :D.
Kami tiba di hotel jam 18:45. Langsung mandi, sholat, dan berangkat lagi ke acara resepsi jam 19:30, dan tiba di lokasi resepsi kira-kira jam 8 malam. Walaupun lokasinya dekat, rupanya jalanan macet dimana-mana. Beruntung di acara resepsi ini masih kebagian makanan walaupun rasanya kurang puas.
Setelah resepsi, kami tidak langsung ke hotel. Akhirnya kami putuskan untuk lanjut makan mie jawa di dekat rumah tante istriku di daerah Karanganyar. Tadinya mau sekalian mampir kesana, namun karena keluarga tante istriku sedang keluar kota, jadinya ya mampir di warung mie jawa nya saja. Lagi-lagi kami beruntung, ini warung mie jawa nya udah mau tutup, jadi kami adalah pelanggan terakhir disini.
Solo-Ambarawa-Tegal-Jakarta
Hari Minggu kami checkout pukul 9 pagi. Tujuan kami berikutnya adalah Museum Ambarawa. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam melalui tol. Niat awalnya sih mau nyobain naik kereta yang ada di museum ini, namun apa daya tiketnya sudah habis untuk semua perjalanan di hari itu. Konon katanya sih kalau mau berniat naik keretanya yang hanya tersedia di akhir pekan atau hari libur itu, mesti datang pagi-pagi sebelum museum buka (jam buka museum jam 08:00). Temanku yang pernah datang jam 8:15 saja katanya sudah kehabisan tiket.
Tiket masuk ke Museum Ambarawa ini cukup murah meriah, Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Sementara tiket kereta wisatanya Rp 50.000 yang dengan jadwal keberangkatan pukul 10:00, 12:00, dan 14:00 yang hanya dibuka di hari libur saja.
Walaupun tidak bisa naik kereta, kami bisa melihat-lihat koleksi lokomotif yang pernah dioperasikan dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Entah ada berapa banyak koleksinya, modelnya mirip-mirip, namun jika dilihat lebih detail nomor serinya berbeda. Di museum ini, pengunjung juga dapat melihat diorama sejarah perkeretaapian Indonesia, dari awal awal hingga kini.
Cukup lama kami berada di museum ini, selain tempatnya lumayan luas, ada banyak spot untuk berfoto-foto ria. Ada banyak model lokomotif dan gerbong kereta yang bisa dijadikan latar belakang. Selain itu karena museum ini dulunya adalah stasiun kereta, jadi tambah unik deh. Terlebih lagi bangunan stasiunnya ini masih menggunakan gaya bangunan belanda yang lama.
Di lokasi museum ini juga ada banyak penjual makanan dan minuman, jadi tidak perlu khawatir pengunjung akan kelaparan. Namun demikian penjual makanannya ini tidak berjualan di dalam museum, melainkan di tempat parkir, di luar museum. Kami meninggalkan museum Ambarawa kurang lebih jam 1 siang, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan kembali melalui tol menuju Jakarta.
Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk mampir di Tegal, untuk menikmati wisata kuliner sate Tegal yang menjadi rekomendasi salah satu anggota keluargaku: Sate Tegal Warung Bu Eva yang lokasinya tidak jauh dari pintu tol kota Tegal. Kami memesan sate kambing, gule, dan tongseng, biar sekalian nggak penasaran. Rasa satenya lumayan enak kalau dibandingkan dengan beberapa sate kambing yang pernah kujajal di Jakarta. Porsi daging nya lebih besar, dan lebih empuk. Gulenya biasa saja, namun setelah diberi kecap menjadi jauh lebih oke. Sementara untuk tongseng kurasa biasa-biasa saja, cenderung tidak sesuai dengan ekspektasiku.
Dan pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Jakarta jam 16:30, dan baru sampai Jakarta sekitar jam 22:30. Jalan tolnya ternyata ramai dan semakin mendekati Jakarta semakin banyak titik-titik kemacetan.
Perjalanan Dini Hari
Hari Jumat sepulang kantor, aku sengaja tidur cepat. Rencananya kami akan berangkat dari rumah sekitar jam 1:30 dini hari, dengan tujuan pertama kami Candi Borobudur. Harapannya, sampai Candi Borobudur masih pagi, jadi punya banyak waktu luang untuk istirahat sebelum menghadiri undangan resepsi pernikahan temanku jam 7 malam keesokan harinya.
Aku bangun jam 1 pagi dan langsung memeriksa Google Maps. Wow, ternyata jam segitu JORR macet parah. Ditambah dari keluar JORR hingga Cikarang juga merah darah. Ternyata di hari Jumat malam hujan deras dan beberapa wilayan terkena banjir cukup parah, sehingga jam 1 malam pun masih bersisa macetnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur lagi, berharap 1 jam kemudian kondisi jalanan sudah membaik.
Jam 2 pagi, kondisi masih belum berubah, JORR masih merah darah. Kulanjutkan lagi tidurku hingga jam 3 pagi. Nah disini kulihat JORR sudah agak mendingan, tapi dari Bekasi sampai Cikarang masih merah. Akhirnya kuputuskan untuk berangkat, karena aku khawatir semakin siang kondisi di tol Cikampek akan semakin tidak kondusif. Dalam hari perasaanku sudah nggak enak, karena alamat bakalan tambah lama ini perjalanannya.
Sekitar jam 8 pagi aku keluar tol di Batang untuk mengisi bensin sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anakku untuk mandi. Nah dari sini aku mengarahkan Google Maps ke Borobudur. Ternyata perjalanannya memerlukan waktu sekitar 3 jam lewat jika lewat tol dengan jarak kurang lebih 180km. Sementara itu aku bisa menggunakan jalur alternatif dengan jarak yang jauh lebih pendek, 127 km namun waktu tempuhnya sekitar 30 menit lebih lambat. Setelah berdiskusi dengan istriku, akhirnya kuputuskan untuk tidak lewat tol.
Batang-Magelang-Borobudur
Jalur yang kami lalui tidak semulus yang kami bayangkan. Karena namanya jalan pintas, ya wajar saja jika jalanannya tidak selalu mulus dan memakan waktu 3,5 jam walaupun jaraknya hanya 127km. Aku tidak ingat nama-nama daerah yang kami lalui, namun aku sangat menikmati rutenya. Dari mulai jalan aspal mulus, jalan beton, hingga jalan kecil dan berlubang dimana-mana kami lalui. Jalanan rata dengan pemandangan sawah hingga jalanan naik turun melalui perbukitan juga kami lalui. Beruntung karena rute yang kuambil bisa dibilang rute alternatif, jalanannya tidak terlalu ramai, cenderung sepi.
Sebelum sampai ke Candi Borobudur, kami putuskan mampir dulu di Magelang untuk makan siang berhubung kami belum sarapan sejak berangkat. Berbekal Google kami mencoba mencari kuliner yang direkomendasikan, dan akhirnya kami putuskan untuk mencoba Sop Senerek Bu Atmo. Setelah sampai di lokasi, ternyata warung nya kecil dan agak kurang meyakinkan. Namun berhubung sudah lapar, percaya aja deh dengan rekomendasi netizen.
![]() |
| sop senerek |
Setelah makan siang perjalanan dilanjutkan ke Candi Borobudur yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Magelang, kurang lebih 30 menit saja. Kami sampai sekitaran jam 2 siang. Beruntung juga kami sampai sudah siang menjelang sore, jadi sudah tidak terlalu panas. Namun demikian walaupun sudah sore, lokasi ini cukup ramai oleh pengunjung. Harga tiket masuk untuk dewasa Rp 40.000 sementara untuk anak-anak Rp 20.000.
Berhubung waktu kami cukup sempit untuk mengejar acara pernikahan temanku di Solo, jadi kami berkeliling di Candi Borobudur hanya 2 jam saja. Sebenarnya sih bisa lebih cepat, namun berhubung bawa anak-anak ya mau nggak mau dibawa sedikit santai. Waktu 2 jam tersebut sudah cukup lah untuk berjalan dari pintu masuk, naik ke candi, berfoto ria, menuruni candi, dan membeli oleh-oleh. Harap diketahui jalan dari pintu masuk menuju candi dan dari candi hingga ke pintu keluar lumayan jauh. Kurasa kalau ditotal 800m s/d 1km ada kali yah.
![]() | ![]() | ![]() |
| Candi Borobudur | ||
Jam 4 sore kami meninggalkan Candi Borobudur dan langsung menuju Solo. Seperti biasa kami mengandalkan Google Maps untuk mencari rute tercepat. Pada saat itu ada 3 rute yang bisa kuambil: lewat utara (melewati Salatiga), lawat jalur tengah, atau lewat selatan (melewati Yogyakarta). Dan tentu saja rute tercepat adalah rute jalur tengah seperti yang ada pada gambar dibawah. Secara jarak memang tidak terlalu jauh, kurang dari 80 km, tapi perjalanannya memerlukan waktu 2 jam lewat. Perhitunganku masih cukup lah waktunya untuk mengejar resepsi pernikahan temanku di jam 7 malam.
Berhubung rencana perjalanan ini go show, alias nggak pakai plan macem-macem, pada saat itu kami belum menentukan dimana kami akan menginap. Nah jadi di perjalanan menuju Solo ini jadinya kami baru mencari hotel untuk menginap. Dan ternyata, mencari hotel untuk hari Sabtu pada saat itu sangatlah sulit. Hotel-hotel berbintang 4 dan 3 sudah di telpon satu persatu dan semuanya penuh. Ada sih beberapa yang bintang 5 yang masih available tapi harganya sudah nggak masuk akal, apalagi ini hanya untuk semalam saja, besok paginya juga sudah caw. Setelah menelpon ke belasan hotel, akhirnya dapat juga kamar kosong di sebuah hotel syariah di kawasan dekat Universitas Muhammadiyah. Wew.. nggak lagi-lagi deh untuk urusan hotel baru pesan di hari H seperti ini.
Sementara itu, perjalanan menuju Solo tidak semulus yang kuharapkan. Google Maps ternyata mengarahkan ke rute alternatif, dimana rute yang kulalui adalah jalan potong dan tidak melalui jalur utamanya. Bisa dibayangkan sore-sore menjelang maghrib kami melewati jalanan yang hanya muat 1 mobil ditambah lagi jalanannya naik turun karena melewati perbukitan. Di beberapa ruas kombinasinya sedikit mengerikan, tanjakan/turunan dengan belokan patah. Beberapa kali aku mesti memindahkan transmisi mobilku ke gigi 1 secara manual karena transmisi otomatisnya sudah tidak mampu menangani buasnya tanjakan.
Setelah jalur potong ini berakhir, kami masuk kembali ke jalur utama. Dan disinilah aku merasa tidak menyesal mengambil rute ini. Pemandangannya luar biasa indah walaupun hari sudah hampir gelap. Jika seandainya aku melewati rute ini pagi-pagi, tentunya akan jauh lebih menyenangkan. Jalur yang kulewati menyusuri lereng gunung Merbabu, sementara di sebelah kananku kulihat lembah dan pemandangan gunung Merapi. Suatu hari nanti kuharap bisa kembali melewati rute ini, namun menggunakan sepeda tentunya :D.
Kami tiba di hotel jam 18:45. Langsung mandi, sholat, dan berangkat lagi ke acara resepsi jam 19:30, dan tiba di lokasi resepsi kira-kira jam 8 malam. Walaupun lokasinya dekat, rupanya jalanan macet dimana-mana. Beruntung di acara resepsi ini masih kebagian makanan walaupun rasanya kurang puas.
| Mie Jawa |
Setelah resepsi, kami tidak langsung ke hotel. Akhirnya kami putuskan untuk lanjut makan mie jawa di dekat rumah tante istriku di daerah Karanganyar. Tadinya mau sekalian mampir kesana, namun karena keluarga tante istriku sedang keluar kota, jadinya ya mampir di warung mie jawa nya saja. Lagi-lagi kami beruntung, ini warung mie jawa nya udah mau tutup, jadi kami adalah pelanggan terakhir disini.
Solo-Ambarawa-Tegal-Jakarta
Hari Minggu kami checkout pukul 9 pagi. Tujuan kami berikutnya adalah Museum Ambarawa. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam melalui tol. Niat awalnya sih mau nyobain naik kereta yang ada di museum ini, namun apa daya tiketnya sudah habis untuk semua perjalanan di hari itu. Konon katanya sih kalau mau berniat naik keretanya yang hanya tersedia di akhir pekan atau hari libur itu, mesti datang pagi-pagi sebelum museum buka (jam buka museum jam 08:00). Temanku yang pernah datang jam 8:15 saja katanya sudah kehabisan tiket.
Tiket masuk ke Museum Ambarawa ini cukup murah meriah, Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Sementara tiket kereta wisatanya Rp 50.000 yang dengan jadwal keberangkatan pukul 10:00, 12:00, dan 14:00 yang hanya dibuka di hari libur saja.
![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() |
| Museum Ambarawa | |
Walaupun tidak bisa naik kereta, kami bisa melihat-lihat koleksi lokomotif yang pernah dioperasikan dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Entah ada berapa banyak koleksinya, modelnya mirip-mirip, namun jika dilihat lebih detail nomor serinya berbeda. Di museum ini, pengunjung juga dapat melihat diorama sejarah perkeretaapian Indonesia, dari awal awal hingga kini.
Cukup lama kami berada di museum ini, selain tempatnya lumayan luas, ada banyak spot untuk berfoto-foto ria. Ada banyak model lokomotif dan gerbong kereta yang bisa dijadikan latar belakang. Selain itu karena museum ini dulunya adalah stasiun kereta, jadi tambah unik deh. Terlebih lagi bangunan stasiunnya ini masih menggunakan gaya bangunan belanda yang lama.
Di lokasi museum ini juga ada banyak penjual makanan dan minuman, jadi tidak perlu khawatir pengunjung akan kelaparan. Namun demikian penjual makanannya ini tidak berjualan di dalam museum, melainkan di tempat parkir, di luar museum. Kami meninggalkan museum Ambarawa kurang lebih jam 1 siang, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan kembali melalui tol menuju Jakarta.
| Sate Tegal |
Dan pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Jakarta jam 16:30, dan baru sampai Jakarta sekitar jam 22:30. Jalan tolnya ternyata ramai dan semakin mendekati Jakarta semakin banyak titik-titik kemacetan.
Kamis, Oktober 11, 2018
Mengenal Fitur Screen Time di iOS 12
Screen Time adalah salah satu fitur baru yang diperkenalkan Apple di iOS 12. Dari sekian banyak fitur baru yang lain, fitur ini menurutku paling menarik. Dengan Screen Time, pengguna iOS 12 dapat melihat gambaran lamanya waktu penggunaan perangkat iPhone/iPad nya ketika dalam mode aktif. Tidak sampai disini saja, informasi yang lebih rinci mengenai waktu penggunaan per spesifik aplikasi juga dapat diketahui. Informasinya tersedia dalam 1 hari maupun dalam 7 hari terakhir.
Di era digital saat ini dimana handphone menjadi perangkat yang tak pernah lepas dari genggaman, seringkali penggunanya tidak sadar berapa banyak waktu yang telah dihabiskan di depan layar perangkat kesayangannya. Karena alasan inilah, secara personal aku menganggap fitur ini sangat bermanfaat. Sebelum fitur ini ada, aku hanya tahu aplikasi apa saja yang sering aku gunakan, tanpa mengetahui berapa sih sebenarnya jumlah waktu yang aku buang setiap harinya untuk membuka aplikasi tertentu. Dengan adanya fitur ini, tentunya informasi diatas menjadi tersedia, sehingga jika dirasa banyak membuang-buang waktu untuk aktivitas yang kurang produktif, bisa diambil tindakan lebih lanjut.
Di era digital saat ini dimana handphone menjadi perangkat yang tak pernah lepas dari genggaman, seringkali penggunanya tidak sadar berapa banyak waktu yang telah dihabiskan di depan layar perangkat kesayangannya. Karena alasan inilah, secara personal aku menganggap fitur ini sangat bermanfaat. Sebelum fitur ini ada, aku hanya tahu aplikasi apa saja yang sering aku gunakan, tanpa mengetahui berapa sih sebenarnya jumlah waktu yang aku buang setiap harinya untuk membuka aplikasi tertentu. Dengan adanya fitur ini, tentunya informasi diatas menjadi tersedia, sehingga jika dirasa banyak membuang-buang waktu untuk aktivitas yang kurang produktif, bisa diambil tindakan lebih lanjut.
Jumat, Agustus 17, 2018
Save the Earth: Kurangi Penggunaan Plastik
Pada edisi Juni 2018 lalu, majalah National Geopgraphic mengangkat isu plastik sebagai topik utamanya. Material plastik merupakan polimer atau rantai berulang dari monomer atau molekul dasarnya (misal PET, PVC, dll). Rantai yang berulang ini menjadikan plastik memiliki sifat yang kuat, ringan, dan tahan lama. Karena sifat inilah, plastik sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, bisa dikatakan saat ini kita sangat bergantung kepada material yang satu ini. Barang-barang yang kita gunakan sehari-hari tak luput dari plastik: mulai dari kemasan, tas belanja, botol minuman, kartu kredit, kabel, peralatan elektronik & rumah tangga, mainan, dan berbagai peralatan lain yang tidak perlu disebutkan satu persatu.
Selasa, April 03, 2018
The Power of Power Meter
Sesuai dengan postingan sebelumnya mengenai berbagai macam sensor yang digunakan dalam bersepeda, power meter merupakan salah satu sensor yang keberadaannya cukup penting, khususnya dalam sesi training. Harganya yang cukup mahal sempat membuatku berpikir dua kali untuk membelinya. Namun demikian sensor ini menjadi salah satu perangkat sepeda yang menurutku paling worth untuk dibeli di tahun 2017 lalu. Alih-alih meng-upgrade group set yang sudah direncanakan jauh-jauh sebelumnya, aku putuskan untuk membeli power meter, yang ternyata lebih memberikan manfaat.
Minggu, April 09, 2017
Pengalaman Gowes Bromo 100KM 2017: Tanjakannya Mantapp!!
Pada tanggal 25 Maret lalu, aku dan temanku Muh berkesempatan untuk mengikuti event tahunan yang diselenggarakan oleh Jawa Pos: Bromo 100KM. Sesuai dengan namanya, jarak tempuhnya kurang lebih 100km, start dari Surabaya dan finish di Wonokitri Bromo. Rencana awalnya, seharusnya ada 3 orang teman kantorku yang ikut. Namun sayangnya ketiga-tiganya sakit dan berhalangan, sehingga tidak bisa mengikuti event ini.
Packing
Ini adalah kali pertama aku gowes ke luar kota. Dan berhubung ke Surabaya naik peaawat, jadi mau nggak mau sepeda harus dimasukkan ke dalam bike box. Agak ribet juga ternyata packing sepeda ke dalam bike box.
Untuk pengalaman pertamaku ini, perlu waktu 1 jam lebih untuk membongkar sepeda dan menatanya ke dalam bike box. Yang perlu di bongkar antara lain:
Packing
Ini adalah kali pertama aku gowes ke luar kota. Dan berhubung ke Surabaya naik peaawat, jadi mau nggak mau sepeda harus dimasukkan ke dalam bike box. Agak ribet juga ternyata packing sepeda ke dalam bike box.
Untuk pengalaman pertamaku ini, perlu waktu 1 jam lebih untuk membongkar sepeda dan menatanya ke dalam bike box. Yang perlu di bongkar antara lain:
- Ban depan dan belakang, pastikan keduanya sudah kempes ketika dimasukkan ke dalam bike box.
- Handle bar
- Seat post
- Pedal
Selasa, Maret 21, 2017
Gowes Edisi Endurance Ride: Gadog-Cianjur PP
![]() |
| pemandangan kebun teh dari warung Mang Ade |
Gowes edisi kali ini memang aku tujukan sebagai uji nyali dan mental dalam mempersiapkan event Bromo 100 yang akan digelar minggu ini. Jadi itung-itung sebagai latihan terakhir lah. Selama ini biasanya jika latihan di medan menanjak memang on the spot, nggak gowes dari rumah. Jadi pas nanjak ya masih fresh. Untuk menguji endurance, mesti dipaksa melibas tanjakan dalam kondisi stamina sudah terkuras. Dan aku melihat rute Gadog-Cianjur ini bisa merepresentasikan kondisi diatas. Tanjakan pertama dari Gadog-Mang Ade sebagai pemanasan, sementara tanjakan kedua dari Cianjur-Mang Ade sebagai uji endurance nya.
Sabtu, Februari 25, 2017
Jakarta Audax 2017
Pada tanggal 19 Februari lalu, aku berkesempatan untuk menjajal event Jakarta Audax yang biasanya digelar setiap tahun. Audax bukanlah event untuk balapan. Tantangannya adalah menyelesaikan jarak gowes yang lumayan jauh di rentang waktu tertentu. Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya jarak tempuh untuk event ini minimum 200km, namun pada tahun ini dibuka 2 kategori: 100km dan 200km.
Aku memilih kategori 100km karena tidak ingin terlalu capek dan biar cepet kelar. Sebenarnya sih tertarik juga untuk menjajal 200km, cuma berhubung sebelumnya belum pernah ikutan event nya, aku putuskan untuk mengikuti kategori 100km saja. Apalagi acaranya hari Minggu, kalau tepar kan ribet karena besoknya harus masuk kantor.
Aku memilih kategori 100km karena tidak ingin terlalu capek dan biar cepet kelar. Sebenarnya sih tertarik juga untuk menjajal 200km, cuma berhubung sebelumnya belum pernah ikutan event nya, aku putuskan untuk mengikuti kategori 100km saja. Apalagi acaranya hari Minggu, kalau tepar kan ribet karena besoknya harus masuk kantor.
Jumat, Januari 06, 2017
Gowes Perdana 2017
Bintaro Loop menjadi rute gowes perdana ku di tahun 2017 ini. Tidak seperti tahun lalu ketika gowes perdanaku masuk trek JPB dengan MTB ku, gowes perdana kali ini aku lebih memilih menggunakan road bike dan muter-muter saja di Bintaro Loop. Tadinya sih mau gowes di hari Rabu, dan karena itungannya di hari itu tidak ada jadwal peloton yang biasa gowes di Bintaro Loop, rencanaku mau gowes santai saja. Namun apa daya pagi-paginya hujan deras. Abis shubuh ya mendingan tarik selimut deh.Jadilah gowes perdananya bergeser ke hari Kamis, dimana aku bisa gowes bareng dengan rombongan yang lain. Pada awalnya, gowesnya cukup santai dengan kecepatan rata-rata 30km/jam. Namun di tengah-tengah tiba-tiba ada rider yang melaju kencang yang diikuti oleh beberapa anggota peloton yang lain sehingga pelotonnya menjadi rusak. Akhirnya pun aku mengikuti rombongan peloton yang lebih cepat tersebut, namun apa daya, nggak kuat bo. Gara-garanya aku ngikut di belakang salah satu rider namun aku tidak sadar kalau rider ini sudah lumayan tertinggal dari peloton di depannya. Tambah susah deh, mending nyerah aja dan ngikut peloton yang lebih lambat.
Walaupun peloton di belakang lebih lambat, namun berhubung sudah jalan 1 jam, kecepatannya sudah mulai tinggi. Perkiraanku kecepatan rata-ratanya diatas 35km/jam. Dan di beberapa segmen bisa mencapai 40km/jam. Beruntung aku masih bisa mengikuti, paling nggak heart rate ku masih di Zona 3. Pada akhirnya sekitar jam 8, rombongan pelotonku bubar, dan aku jarak yang aku tempuh sekitar 68km dalam waktu 2 jam. Lumayan kecepatan rata-ratanya 34km/jam, dan mendapat 10 PR di Strava. Not bad lah untuk gowes perdana.
Senin, November 21, 2016
Selamat Datang di Dunia Introvert
Telah lama aku menyadari bahwa diriku adalah seorang introvert. Dari sejak dulu kala aku paling benci dengan keramaian dan bertemu dengan orang-orang baru. Sebaliknya, aku lebih senang menghabiskan waktuku sendirian: membaca buku/artikel, menulis, dan sekelumit aktivitas lainnya yang bisa memaksaku untuk fokus dan tidak perlu melibatkan kontak dengan orang lain. Kalaupun harus bertemu dengan orang lain, biasanya mereka adalah orang-orang yang sudah aku anggap dekat dan aku kenal dengan baik.
Sabtu, November 19, 2016
Sakit adalah Berkah
Di awal minggu ini, dengan terpaksa aku ijin tidak masuk kantor karena alasan sakit. Sehari sebelumnya, kepalaku tiba-tiba pusing dan malamnya demam tinggi. Aku pikir keesokan harinya kondisinya akan membaik setelah memutuskan untuk tidur lebih awal. Ternyata, di hari Senin pagi, sakitnya malah semakin menjadi. Demamnya tidak hilang, kepalaku masih pusing, ditambah diare pula. Rencana untuk mengerjakan pekerjaan secara remote pun hanya menjadi wacana, karena sakitnya membuat aku tidak bisa fokus dan berkonsentrasi.
Minggu, September 25, 2016
Aktivitas Gowes Sejauh ini
Well done.. tahun ini sudah memasuki bulan September, masih tersisa 3 bulan lagi hingga pergantian tahun. Dalam tulisan kali ini, aku ingin berbagi sedikit cerita tentang aktivitas seputar gowesku sejauh ini beserta beberapa pencapaian yang menurutku lumayan lah untuk permulaan dalam mencapai target berikutnya yang lebih menantang.
Minggu, Agustus 07, 2016
1 Minggu bersama Anak-anak
Sedikit late post. Seharusnya tulisan ini kuposting jauh-jauh hari sebelumnya. Namun apa daya, karena banyaknya godaan untuk mengerjakan yang lain, jadi ya gitu deh.
Lebaran telah berlalu, dan seperti biasanya minggu-minggu pertama setelah lebaran menjadi minggu yang cukup berat bagi sebagian besar pasangan suami istri yang dua-duanya bekerja dan memiliki anak kecil. Pengasuh anak pulang kampung. Yah.. inilah masalah umum yang terjadi, dan dialami oleh banyak orang setiap tahunnya. Seringkali pembantu/pengasuh anak tidak kembali lagi setelah lebaran. Mencari pengganti yang sesuai juga bukan pekerjaan waktu yang mudah, dan semuanya berburu dengan waktu: sisa cuti hingga hari masuk kantor tiba. Sebelum masuk kantor sudah harus ada penggantinya.
Lebaran telah berlalu, dan seperti biasanya minggu-minggu pertama setelah lebaran menjadi minggu yang cukup berat bagi sebagian besar pasangan suami istri yang dua-duanya bekerja dan memiliki anak kecil. Pengasuh anak pulang kampung. Yah.. inilah masalah umum yang terjadi, dan dialami oleh banyak orang setiap tahunnya. Seringkali pembantu/pengasuh anak tidak kembali lagi setelah lebaran. Mencari pengganti yang sesuai juga bukan pekerjaan waktu yang mudah, dan semuanya berburu dengan waktu: sisa cuti hingga hari masuk kantor tiba. Sebelum masuk kantor sudah harus ada penggantinya.
Minggu, Maret 13, 2016
1000 km Pertama dengan Road Bike
Tak terasa sudah 2 bulan lebih sejak aku memiliki road bike Pertamaku: Polygon Helios A8. Dan kini berdasarkan catatanku di Strava , kilometernya sudah melewati 1000km. Sejak kubeli, bisa dibilang sepeda ini menjadi sepeda utamaku, menggantikan MTB yang sudah kumiliki sebelumnya. Namun demikian, bukan berarti aku beralih ke aliran road bike. Karena memang belakangan ini sudah memasuki musim hujan, sehingga trek favoritku di dekat rumah kurang nyaman untuk dilibas dengan MTB. Pilihan gowes ku menjadi terbatas pada jalanan aspal, yang tentunya akan lebih nyaman jika dilibas dengan Helios.Rabu, Januari 06, 2016
My First 100km ride
Tanggal 3 Januari 2016 menjadi hari yang cukup bersejarah dalam aktivitas gowesku. Di hari itu, untuk pertama kalinya aku bersepeda sejauh 100km. Rekor terjauhku sebelumnya adalah 80km dengan rute yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya karena rutenya memutar, jarak tempuhnya menjadi jauh. Sementara untuk gowes 100km kali ini, rute yang aku ambil adalah Rumah - Serpong - Parung - Bogor - Parung - Pamulang - Rumah.Sudah cukup lama niatku untuk bersepeda dengan jarak minimum 100km. Selama ini belum kesampaian karena aku nggak cukup pede dengan kekuatanku yang tentunya akan mempengaruhi waktu tempuhnya. Semakin lama, artinya aku harus bergowes ria dibawah teriknya sinar matahari di tengah hari. Pertimbangan lainnya lebih ke persiapan dan mental. Bagaimana jika nanti terjadi apa-apa di tengah aktivitas dan ternyata malah membuatku kerepotan sendiri.
Gowes Perdana 2016
Tahun 2016 ini aku awali dengan bergowes ria ke Jalur Parigi Baru (JPB) yang lokasinya memang tak jauh dari rumahku. Padahal sih rencana awalnya mau ke Sentul, gowes uphill dengan rute Bagol - Katulampa - Gunung Geulis - Rainbow Hill - KM0 - dan balik lagi ke Bagol. Namun apa daya, pada hari itu aku bangun agak kesiangan gara-gara begadang di malam sebelumnya. Ditambah lagi kekhawatiran nanti kena arus balik dari orang-orang yang merayakan tahun baru di Puncak.
Langganan:
Postingan (Atom)














