Pada hari ke-empat kunjungan kami ke Pulau Belitung, itinerarynya bisa dibilang sudah tak sama lagi dengan itinerary awal yang diinfokan tour guide kami di hari pertama. Destinasi kami di hari ke-4 ini seharusnya hanya ada 2 destinasi: Peternakan Lebah Madu dan eksplorasi Pantai Tanjung Tinggi. Namun karena itinerary nya diperbolehkan untuk fleksibel, jadi bisa menyesuaikan dengan keinginan kami.
Kopi Kong Djie
Selain Mie Atep, Kopi Kong Djie adalah salah satu destinasi kuliner yang wajib dikunjungi di Tanjung Pandan. Dalam itinerary awal memang ada kunjungan ke Kopi Kong Djie, namun di hari ke-5, dan itupun jadwalnya di siang hari. Karena jadwal kami fleksibel, kami minta agar kunjungan ke Kopi Kong Djie nya ini dimajukan ke hari ke-4 di pagi hari setelah sarapan di hotel.
![]() |
| Kopi Kong Djie Siburik |
Jika dilihat di Google Maps, ternyata banyak sekali warung Kopi Kong Djie yang bertebaran. Tadinya kukira ini bisnis franchise, jadi cabangnya banyak. Ternyata nama Kopi Kong Djie ini tidak melekat ke satu pemilik, mungkin karena namanya sendiri tidak dipatenkan, sehingga orang bebas saja membuka warung kopi dengan nama Kopi Kong Djie. Berdasarkan informasi dari tour guide kami, Kopi Kong Djie yang akan kami kunjungi bukan warung Kopi Kong Djie yang orisinil, jadi aku meminta agar kami dibawa ke warung kedai Kopi Kong Djie yang asli, kalau di Google Maps namanya Kopi Kong Djie Siburik.
![]() |
| Pesananku: kopi susu |
Kopi Kong Djie Siburik adalah salah satu kedai kopi legendaris di Tanjung Pandan, yang telah berdiri sejak tahun 1943. Kedai kopi ini didirikan oleh Ho Kong Djie, seorang perantau Tionghoa dari Pulau Bangka, dan dikenal sebagai kedai kopi tertua di Belitung. Karena Belitung sendiri tidak memiliki perkebunan kopi, biji kopi yang digunakan berasal dari Jawa dan Sumatra, berupa campuran arabika yang diseduh hingga menghasilkan kopi yang kuat dengan aroma khas.
Warung kopi ini berlokasi di pinggir jalan raya, tak tak terlalu jauh dari pelabuhan. Tempatnya bersifat semi-terbuka sehingga menambah suasana akrab, meski bisa terasa cukup panas jika hari sudah beranjak ke siang. Karena tempatnya terbatas, warung ini menyediakan bangku dan kursi yang fleksibel bisa dipindahkan hingga ke seberang jalan. Menu yang ditawarkan juga bisa dibilang sederhana namun khas, mulai dari kopi susu, roti bakar, hingga gorengan.
Kebetulan selama 4 hari terakhir di Belitung, warung kopi ini sudah beberapa kali kulewati sambil lari pagi, jadi aku cukup memperhatikan suasananya. Jika kuperhatikan setiap kali lewat, walaupun mungkin ga penuh banget, selalu ada pengunjungnya. Ketika kami berkunjung di pagi itu, warungnya cukup ramai. Kami memilih untuk duduk di seberang, menggunakan bangku dan kursi yang fleksibel bisa dipindah-pindahkan. Di deretan kami ada 3-4 bangku dipenuhi oleh pengunjung. Melihat suasananya, tampaknya cukup merepresentasikan situasi sehari-hari masyarakat Belitung: warung kopi ini menjadi lokasi untuk bersosialisasi, tanpa mengenal strata sosialnya.
Pada kunjungan kami saat itu, kami hanya memesan kopi susu saja. Walaupun roti bakarnya direkomendasikan, namun karena sebelumnya sudah sarapan di hotel, jadi masih kenyang.
Museum & Kebun Binatang Tanjung Pandan
Destinasi ini tidak ada di itinerary, namun setelah ngobrol-ngobrol dengan tour guide kami selama 4 hari terakhir, aku jadi cukup tertarik lebih jauh tentang sejarah dan produksi timah di Belitung. Walaupun saat ini bisa dibilang Timah bukan lagi komoditas utama di Belitung, namun dulunya pernah menjadi primadona ketika masa jaya-jayanya, hingga disebutkan juga di novel Laskar Pelangi nya Andrea Hirata.
![]() |
| Koleksi Museum Tanjung Pandan |
Nah salah satu destinasi yang bisa memberikan informasi terkait sejarah kota Belitung adalah Museum & Kebun Binatang Tanjung Pandan. Awalnya aku juga bingung, museum dan kebun binatang ini kan biasanya dipisah ya. Namun mungkin karena keterbatasan dana dan tempat, mungkin jadinya disatukan agar pengelolaannya lebih mudah.
Museum ini menawarkan wawasan mendalam tentang sejarah geologi Belitung dan Indonesia, dengan koleksi berbagai batuan dan artefak yang berkaitan dengan eksplorasi pertambangan timah, memberikan gambaran menyeluruh tentang teknik pertambangan tradisional maupun modern.
Di bagian belakang museum, ada kebun binatang kecil. Koleksi satwanya tidak terlalu banyak, namun yang paling mencolok adalah buaya yang ukurannya lumayan besar. sedikit kontras dengan museumnya yang cukup terawat, kondisi kebun binatangnya kurang terawat dan menurutku termasuk memprihatinkan. Semoga saja untuk kedepannya kebun binatangnya bisa lebih diperhatikan.
Honey Queen Trigona Bee Farm
Honey Queen Trigona Bee Farm adalah tempat wisata edukasi sekaligus rumah makan unik yang berlokasi di Air Seru, Sijuk, Kabupaten Belitung. Peternakan ini berfokus pada budidaya lebah tanpa sengat (stingless bee) dari genus Trigona. Berbeda dari lebah madu konvensional (Apis), lebah Trigona berukuran lebih kecil dan menghasilkan madu dengan cita rasa khas manis-asam yang segar. Peternakan ini memanfaatkan lingkungan alam yang asri sebagai sumber vegetasi pakan lebah yang kaya nektar dan resin, sehingga lebah dapat menghasilkan madu dan propolis secara optimal. Menariknya, rasa madu yang dihasilkan tidak selalu sama. Karakter manis, asam, dan pahitnya dapat berbeda-beda tergantung dari jenis bunga atau tanaman yang menjadi sumber nektar lebah pada masa panen tersebut, sehingga setiap batch madu bisa memiliki profil rasa yang unik.
![]() |
| Honey Queen Trigona Bee Farm |
Ketika kami berkunjung disini, ada petugasnya yang memberikan edukasi dan memperlihatkan kotak-kotak penangkaran lebah Trigona yang tersebar di area belakang. Kami diberikan penjelasan mengenai proses produksi madu, hingga memberikan kami kesempatan untuk mencicipi madu segar dari sarangnya. Tiap sarang rasanya bisa berbeda-beda. Pada saat kami kesana, hanya menjajal dari 2 sarang saja yang rasanya manis, dan satunya lagi relatif asam segar.
![]() |
| sarang lebah dan peternakan lebah di area belakang |
Danau Kaolin
Kunjungan kami berikutnya adalah danau kaolin. Meski bukan fenomena alam murni melainkan hasil aktivitas pertambangan, danau kaolin tetap menjadi salah satu spot foto favorit di Belitung. Kaolin sendiri merupakan bahan utama untuk pembuatan keramik dan produk kosmetik, sementara tumpukan pasir yang membentuk gundukan menyerupai perbukitan kecil ini sebenarnya adalah endapan pasir sisa penambangan. Setelah aktivitas penambangan berhenti, lubang bekas galian yang tergenang air perlahan berubah menjadi danau dengan air berwarna biru kehijauan (turquoise) yang kontras dengan pasir putih di sekelilingnya, menciptakan pemandangan yang unik dan sangat fotogenik.
![]() |
| salah satu danau kaolin yang kami kunjungi, tak bisa terlalu mendekat |
Karena danau ini berasal dari aktivitas pertambangan, jadi bisa dibilang jumlahnya banyak, dan tidak spesifik me-refer ke satu tempat. Kebetulan tour guide kami membawa kami ke danau kaolin yang lokasinya tak jauh dari Honey Queen Trigona Bee Farm. Sayangnya sih pada hari itu langit sedang tidak cerah, dan danau kaolin yang menjadi tujuan lebih cenderung berwarna putih, sehingga untuk foto-foto jadi agak kurang memuaskan.
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi konon adalah salah satu pantai paling ikonik dan paling terkenal di Pulau Belitung, tak jauh dari Pantai Tanjung Kelayang. Pantai ini populer karena pasirnya yang halus, air lautnya yang jernih, serta formasi bebatuan granit raksasa yang unik menghiasi sepanjang garis pantainya. Yang membuat Tanjung Tinggi semakin istimewa adalah statusnya sebagai lokasi syuting film "Laskar Pelangi”, sampai ada papannya di jalan masuk menuju pantainya.
![]() |
| Pantai Tanjung Tinggi & tanda lokasi syuting Laskar Pelangi |
Karena pantainya berbentuk teluk, jadi ombaknya tidak terlalu kencang. Ketika kami kesini, banyak pengunjung yang sedang berenang di tepi pantainya, lumayan ramai mungkin karena hari libur tanggal merah juga. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini: berenang, body boarding, naik boat, jet ski, hingga canoing. Namun karena pada saat itu kami tak berniat basah-basahan, jadi ekspektasi nya hanya menikmati pemandangan di gugusan batu granitnya sambil menunggu matahari tenggelam.
![]() |
| Spot ikonik formasi batu granit di Pantai Tanjung Tinggi |
Belakangan aku baru tahu kalau pantai ini ternyata bukan pantai umum, tetapi ada pemilik lahannya. Pantas saja ketika berkunjung kesini tidak perlu ada bayar tiket atau retribusi. Agak aneh sih karena ada beberapa aktivitas ekonomi yang dilakukan di pantai ini seperti sewa boat atau jetski, entah apakah ada tarif atau retribusi yang mereka bayar ke pemilik pantainya atau tidak.
![]() |
| menanti matahari tenggelam |
![]() |
| matahari tenggelam, sayangnya tertutup awan |










Tidak ada komentar:
Posting Komentar