Selasa, Agustus 17, 2010

Dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas

Dua novel dalam satu buku. Inilah kesan pertama yang aku dapat ketika membeli buku ini. Kupikir tadinya secara fisik ada dua buku terpisah, ternyata dua novel ini digabung menjadi satu buku. Beruntung dwilogi ini langsung diterbitkan bersamaan, jadi nggak perlu menunggu kelanjutan novel berikutnya seperti halnya menunggu kelanjutan novel-novel dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Novel Pertama, Padang Bulan berkisah tentang Enong yang memiliki 3 orang adik dan ayah seorang pendulang timah. Suatu ketika ayahnya terkena musibah ketika sedang mendulang timah dan meninggal dunia. Ayahnya yang merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga telah meninggalkan keluarga Enong untuk selama-lamanya. Sebagai anak yang paling tua, Enong telah dibebani oleh tanggung jawab yang besar. Tak rela melihat ibunya berjuang sendiri, Enong memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan menjadi pendulang timah, pekerjaan yang paling kasar dan hanya dilakukan oleh laki-laki pada saat itu. Enong yang memiliki minat yang begitu besar pada Bahasa Inggris, berusaha dengan keras mendulang timah hingga mengalami kejadian-kejadian pahit yang tidak terlupakan selama hidupnya.

Di sisi lain, ada cerita Ikal yang cinta mati kepada A Ling dan  sahabatnya yang bernama Detektif M Nur yang menyukai berbagai macam hal yang berbau spionase dan rahasia. Dua-duanya adalah bujang pengangguran yang belum mendapat pekerjaan. Detektif M Nur yang bercita-cita untuk menjadi teknisi parabola di kampungnya berusaha membantu Ikal untuk mengejar A Ling, yang dalam kisahnya dilamar oleh seseorang pemuda ganteng dan tampan pula. Dalam novel ini diceritakan kisah-kisah konyol yang dialami Ikal  yang cemburu dan bagaimana Ikal mencoba untuk unjuk kebolehan kepada pemuda tersebut yang diakhiri dengan kekalahan telak untuk Ikal.

Novel kedua, Cinta di Dalam Gelas lebih banyak bercerita tentang filosofi kopi dilihat dari sudut pandang orang-orang melayu. Entah benar atau tidak, dalam novel ini Andrea Hirata banyak mengulas tentang kebiasaan meminum kopi masyarakat melayu, dimana warung kopi menjadi tempat pertemuan semua lapisan masyarakat untuk sekedar ngobrol-ngobrol ataupun curhat. Bahkan diceritakan pula, mengapa meminum kopi di warung kopi lebih nikmat dibanding dengan meminum kopi yang sama di rumah. Cinta di Dalam Gelas ini sendiri pun merujuk pada kopi. Judul novel ini diambil dari kebiasaan ibu Enong yang membuatkan kopi untuk suaminya sebelum meninggal. Kopi dalam gelas itulah cinta ibunda Enong untuk suaminya.

Namun demikian, inti dari novel kedua ini adalah keinginan Enong yang tak lain adalah Maryamah Karpov untuk mengikuti pertandingan catur dalam menyambut 17 Agustus-an. Sebelumnya, hanya laki-laki saja yang boleh mengikuti pertandingan ini. Apa alasan Enong yang tidak bisa main catur ini bersikeras untuk mengikuti pertandingan catur? Di novel ini pula diceritakan  mengapa Maryamah binti Zamzami mendapat julukan Maryamah Karpov. Dalam novel ini pula, segala kenangan pahit yang pernah dialami Enong yang belum tuntas diceritakan di novel pertamanya diulas hingga tuntas.

Secara umum, walaupun kedua novel ini banyak dibumbui dengan tingkah lucu Ikal dan Detektif M Nur, aku lebih menyukai novel yang kedua. Buku pertama lebih membosankan dibanding buku keduanya. Selain alur ceritanya yang lebih menarik, semua hal yang jadi pertanyaan di novel pertama terjawab di novel keduanya. Dwilogi ini menurutku lumayan mengobati kekecewaanku pada novel terakhir Tetralogi Laskar Pelangi: Maryamah Karpov.

Jika diperhatikan lebih lanjut, di dalam novel yang kedua ini ada beberapa pesan moral yang bisa diambil: kesabaran, kerja keras, persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Bagaimana seorang Enong yang pada mulanya tidak bisa bermain catur sama sekali berniat dan bekerja keras agar bisa bermain catur untuk mengalahkan mantan suaminya yang dulu pernah menghianatinya. Selain itu, perjuangannya pun akhirnya tidak hanya membuahkan hasil untuk dirinya sendiri, namun juga untuk masyarakatnya dimana kaum perempuan tidak dilarang lagi untuk bertanding catur pada acara 17 Agustus-an. Sungguh insporatif menurutku. Inti dari pesan moral ini mungkin bisa dirangkai dalam 3 kata: sacrifice, honesty, freedom. Ketiga kata inilah yang merefleksikan hidup Enong yang penuh pengorbanan dan ketulusan untuk mencapai kebebasan yang diidam-idamkannya.