Minggu, Maret 17, 2024

EJJ 2024 1500km: Bagian 10 - Gowes Day-3

Aku bangun kesiangan di pagi itu, seharusnya bangun jam 3 tapi malah jam 4, itu juga terbangun oleh alarm normalku yang memang biasa ku set jam segitu. Agak terburu-buru aku langsung beberes, dan bersiap-siap untuk sholat shubuh. Selepas sholat shubuh kami jalan, kembali lagi ke rute utama yang berjarak hampir 2 km dari Hotel Cakra.

Gn Semeru dari kejauhan

Baru beberapa km, Om Terry menyuruh aku duluan. Tampaknya sepedanya sedikit bermasalah di rem belakangnya. Info terakhir agak blong katanya. Akhirnya di pagi itu aku jalan duluan, menyusuri jalan ke arah selatan.

Tidak sampai 10km dari tempat menginap, aku harus melewati tanjakan dengan gradien yang cukup curam, segmennya lumayan panjang juga seingatku 4-5km. Beruntung masih pagi, udara masih segar jadi nanjak masih terasa adem. Setelah melalui tanjakan ini aku bisa melihat pemandangan Gunung Semeru di sebelah kiriku. Setiap kali aku melihat pemandangan pegunungan, aku selalu takjub. Beruntung pagi itu lumayan cerah jadi pemandangan ke arah Gunung Semeru bisa terlihat dengan jelas.

Rute ke arah selatan relatif menurun dan mulus, walaupun ada beberapa rolling. Di sekitaran km745 s/d km787 jalannya menjadi melebar dan mulai berbelok ke arah barat. Ini Jalur Lintas Selatan lagi yang kulewati. Tidak seperti segmen Puger-Pasirian yang relatif flat dan membosankan, rute yang kulewati ini cenderung naik turun, tak terhitung berapa jumlah segmen rolling nya. Pemandangannya juga berbeda, kiri dan kanan jalan berupa hutan. Walaupun ketika aku melewati rute ini masih terhitung pagi, namun panasnya mulai terasa menyengat. 

jalur JLS Malang-Blitar cenderung rolling dan melewati hutan

Keluar dari JLS aku mencari warung untuk melipir mencari minuman dingin dan mengisi bidon yang baru habis 1 botol. Dari sini jalannnya agak menanjak ke arah utara, hingga akhirnya turun. Dari atas bukit kulihat Waduk Karangkates dari kejauhan.

es tebu di waduk Karangkates 
Setelah melewati daerah Waduk Karangkates, rutenya melalui jalan raya utama Malang-Blitar. Walaupun jarak ke CP 2 tersisa 40km lagi, rasanya jauh sekali. Selain cuacanya cukup terik, mendekati daerah Blitar aspalnya sedikit tidak mulus. Disini aku disapa pleh dot watcher yang menggunakan sepeda motor, Mas Alex. Dia seorang cyclist juga, dan mengakui memang di Blitar sulit sekali untuk mencari rute yang mulus untuk dilewati Road Bike.

Akhirnya aku sampai di CP 2 Blitar km 863 sekitaran jam 12:30. Disini aku langsung meminta ke mekanik untuk membereskan permasalahan rantaiku, sekaligus membersihan dan melumasi rantaiku. Karena lokasi CP nya ada di Istana Gebang yang notabene lokasi wisata, ada banyak warung-warung disitu. Aku sekalian sholat dan makan siang, lumayan jadi praktis nggak perlu banyak berhenti.  Di CP ini aku juga memanfaatkan dengan baik fasilitas untuk massage, lumayan untuk stretching melemaskan kaki-kakiku.

CP2 Blitar: Istana Gebang, disini aku sekalian sholat & makan siang

Di CP2 ini aku juga sempat diwawancara oleh rekan dari Mainsepeda (lupa nggak sempat tanya nama), yang menanyakan apakah aku ada target tertentu di event ini mengingat posisiku saat itu ada di urutan 2 untuk kategori umur 40 tahun keatas. Selain itu namaku juga tidak masuk ke dalam bursa kandidat juara, jadi ini mungkin yang membuat tim Mainsepeda penasarsan. Aku juga dianggap sedang bersaing ketat dengan Om John Boemihardjo yang berada di belakangku. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, aku hanya menjawab nggak ada target apapun. Yang penting bisa finish dalam waktu 5 hari, karena target awalnya ya hanyan ngonten saja. Soal Om John, aku bilang paling nanti juga disusul sama dia.

masalah di rantaiku
dibereskan di CP2
Sebelum berangkat dari CP2, aku mengabari ayahku kalau aku mau jalan. Jarak dari CP2 ke Boyolangu sekitaran 80km, aku perkirakan 4 jam lagi sampai sana, selepas maghrib. Karena infonya setelah CP2 ini ada segmen gravelnya, jadi aku nggak muluk-muluk. Pasang estimasi 20km/jam sudah oke.

Tak lama setelah aku jalan dari CP2, hujan mulai turun. Pada saat itu aku sudah mulai memasuki jalanan aspal rusak. Karena semakin deras, terpaksa aku mengeluarkan jas hujan dan lanjut gowes. Pemandangannya cukup ciamik menurutku, melewati perkebunan tebu, namun kontur tanahnya berbukit. Sayang karena hujan cukup deras dan tanganku basah jadi nggak bisa medokumentasikan pemandangannya melalui HP ku.

Disini ada satu segmen tanjakan yang lumayan berat sepanjang 5-6km an. Yang membuat berat adalah karena jalananya jelek, aspal rusak dimana batu-batu besarnya sudah keluar. Beruntung aku nggal perlu sampai nuntun. Semakin memasuki kabupaten Tulungagung, jalanannya menjadi lebih bagus dan mulus. Jalanan yang sebelumnya banyak didominasi oleh rolling naik dan turun, berubah menjadi flat. Sebagai orang yang lahir di Tulungagung, baru kali ini aku melewati rute yang kulalui.

foto bareng ayahku
sebelum masuk segmen gravel
 
Sekitar 5km sebelum segmen Boyolangu Riverside, aku tetiba disapa oleh pengguna motor. Ternyata ayahku. Aku kira tadinya mau ikutan menyemangatiku di awal segmen gravelnya, ternyata malah menjemput, padahal pada saat itu aku belum menginformasikan lokasi ku yang bisa dipantau lewat racemap. Akhirnya sebelum masuk ke segmen, aku berhenti melipir ke Alfamart, mengisi bidon, makan roti, dan refuelling dengan minum-minuman manis. Di sini ternyata juga ada dot watcher yang lain, yang tampaknya memonitor keberadaanku melalui racemap.

Berdasarkan informasi dari ayahku, sore itu hujan, jadi kemungkinannya segmen gravel yang kulalui bakalan becek. Aku hanya berharap hujannya deras sekalian, agar sepedaku nanti tidak mengalami banyak masalah. Aku masuk ke segmen gravel Boyolangu Riverside sekitar jam 7 malam, dan ayahku berinisiatif untuk menemani menggunakan sepeda motornya. Walaupun sudah kuminta agar tidak perlu menemani karena jalanannya mungkin bakalan membuat masalah, ayahku tetap bersikeras. Akhirnya ya sepanjang rute 20km itu bisa dibilang aku ditemani oleh ayahku dari belakang.

tetap hepi walaupun sepeda penuh lumpur

Rute sepanjang 20km ini pada awalnya berupa jalanan tanah & rumput, namun setelahnya jalanannya sudah lebih bagus dengan paving block. Namun kondisi ini tidak sampai ujung, di tengah-tengah ada kombinasi antara jalanan berbatu dan jalanan tanah. Jalanan berbatu paling menyakitkan ke pantat dan tangan, sementara jalanan tanah beresiko membuat sepeda kotor dan berlumpur.

akhir segmen gravel sepanjang 20km
Di rute ini aku berusaha untuk tetap hepi, walaupun tak terhitung berapa kali aku harus berhenti untuk membersihkan ban. Hanya saja kurasa tidak separah ketika aku menjajal rutenya sehari sebelum event, dimana waktu itu tanahnya sudah agak kering sehingga lebih lengket dan mudah untuk membuat ban menjadi stuck. Rasa-rasanya ini adalah rute tersulit. Di Ijen, dengan nuntun saja sudah beres, disini selain nuntun, sepeda juga kotor. Beruntung sekali aku menggunakan cleat MTB. Urusan lepas sepatu sangat mudah, alhamdulillah sepanjang rute aku nggak ada kejadian aku sampai terjatuh karena terlambat lepas cleat.

lapar, aku pesan indomie dobel
Seingatku, aku sampai di ujung segmen Boyolangu Riverside jam 22:30 malam. Seandainya ayahku tidak menemani, aku sudah langsung bablas kuteruskan gowesnya ke arah pantai Gemah. Sejujurnya aku overekspektasi di segmen ini, tadinya kuperkirakan maksimal bisa kuselesaikan dalam waktu 2 jam, ternyata molor sampai 3.5 jam. Kesalahan perhitungan ini cukup fatal, karena targetku di hari itu baru akan beristirahat di km1040 daerah Trenggalek, sekitaran 75km dari ujung segmen gravel.

Di ujung segmen kebetulan ada warung yang masih buka. Aku pesan makanan dan minuman sementara ayahku menemani. Karena sudah cukup lapar aku memesan indomie dobel. Beruntungnya di warung ini ada air yang dari keran, sehingga aku sempatkan untuk sekalian cuci-cuci dan bersih-bersih sepedaku yang sudah kotor dan penuh lumpur, terutama di ban dekat area rimbrake. Sekitaran 1 jam kemudian aku melanjutkan perjalanan, sementara ayahku pulang, menempuh rute 20km lagi untuk sampai rumah.

pantai Gemah dari atas bukit
Rute berikutnya aku tahu tidak akan mudah karena sebelumnya pernah kulewati dengan menggunakan sepeda juga. Rutenya menanjak melewati bukit sebelum akhirnya turun ke arah Pantai Gemah. Jalanannya sangat sepi, gelap tanpa lampu penerangan, namun aspalnya mulus dan lebar. Ya, ini adalah Jalur Lintas Selatan yang menghubungkan Tulungagung dengan Trenggalek. Di pergantian hari, aku melewati Pantai Gemah, sempat berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan cahaya lampu warung dan kios di sepanjang pantai dari atas bukit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar