Tahun 2018 masih tersisa 6 bulan lagi, dan rasanya belum terlalu terlambat untuk menuliskan resolusi dan harapanku untuk tahun 2018 ini. Sejujurnya di tahun ini tidak ada resolusi khusus atau hal-hal yang benar-benar ingin aku capai. Tidak seperti tahun sebelumnya dimana targetku cukup banyak, di tahun 2018 ini aku ingin sedikit lebih bersantai. Tema ku di tahun 2018 ini adalah minimalis dan fokus pada investasi.
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juli 08, 2018
Minggu, Desember 20, 2015
Wisata Murah Meriah dengan Commuter Line
Hari ini aku berencana untuk menjajal aturan baru KCJ yang telah menghapuskan fasilitas free out per 16 Desember lalu. Fasilitas free outmemungkinkan pengguna untuk tap out di stasiun yang sama tanpa dikenakan denda selama berada dalam periode dibawah 1 jam sejak tap in. Jika tap out dilakukan 1 jam setelah tap in, maka akan dikenakan denda sebesar Rp 11.000 (ini untuk Kartu Multi Trip ya). Nah setelah aturan ini dihapus, tap out di stasiun yang sama mau kurang atau lebih dari 1 jam akan dikenakan tarif flat sebesar Rp 2.000 (kalau beda hari kayaknya sih nggak bisa), sesuai dengan tarif paling rendah dalam perjalanan KRL. Jadi sekali sudah tap in, KCJ minimal akan mendapatkan revenue sebesar Rp 2.000 lah kasarnya.
Walaupun katanya penghapusan tarif ini untuk mengurangi tindakan kecurangan yang dilakukan segelintir oknum tertentu, namun menurutku aturan baru ini juga membuka celah baru bagi orang-orang iseng yang melakukan tap in lalu menjajal semua rute perjalanan KRL dan kembali lagi di stasiun yang sama dan tap out disana. Salah satu orang iseng itu adalah aku tentunya :p.
Selamat Tinggal Free Out Commuter Line
Mulai 16 Desember lalu, PT KCJ menghapus fasilitas free out untuk pengguna Commuter Line. Jika sebelumnya pengguna Commuter Line dapat melakukan tap in dan tap out di stasiun yang sama tanpa dikenakan biaya selama masih dalam durasi 1 jam sejak tap in, sekarang tap in dan tap out di stasiun yang sama akan dikenakan denda Rp 2.000. Sebelumnya juga sudah ada denda Ro 11.000 jika pengguna melakukan tap out lebih dari 1 jam di stasiun yang sama.
Di awal Desember, rencana PT KCJ ini sudah mulai ramai diperbincangkan di dunia maya. Banyak yang tidak setuju dengan segudang alasan yang menurutku sih pelan-pelan nanti juga terbiasa. Sama seperti halnya ketika tiket elektronik Commuter Line diperkenalkan pertama kali dan mengundang banyak kritik dan reaksi negatif. Buktinya sekarang baik-baik saja karena para penggunanya sudah terbiasa.
Minggu, Februari 16, 2014
JNE oh JNE: Pengalaman Kurang Menyenangkan dengan JNE
<gw mode on>
Siapa yang tak kenal dengan JNE? Para online seller dan orang-orang yang sering berbelanja online tentunya mengenal perusahaan jasa pengiriman barang ini. Konon perusahaan ini mengklaim bahwa jaringannya terluas dan terbesar di Indonesia, menjadikannya pilihan para online seller untuk mengirimkan barang dagangan mereka ke seluruh pelosok negeri. Namun terluas bukan berarti terbaik loh ya. Semakin luas berarti resiko yang harus ditanggung menjadi lebih besar karena harus melayani pelanggan yang lebih banyak daripada kompetitornya.
Siapa yang tak kenal dengan JNE? Para online seller dan orang-orang yang sering berbelanja online tentunya mengenal perusahaan jasa pengiriman barang ini. Konon perusahaan ini mengklaim bahwa jaringannya terluas dan terbesar di Indonesia, menjadikannya pilihan para online seller untuk mengirimkan barang dagangan mereka ke seluruh pelosok negeri. Namun terluas bukan berarti terbaik loh ya. Semakin luas berarti resiko yang harus ditanggung menjadi lebih besar karena harus melayani pelanggan yang lebih banyak daripada kompetitornya.
Pertama-tama yang mau gw bilang adalah don’t judge the article from the title. Dengan membaca judul diatas, mungkin yang baca akan berpikir bahwa gw akan menulis sesuatu yang negatif tentang perusahaan ini. Nggak 100% seperti itu sih, ada lesson learned nya juga. Gw mau berbagi pengalaman aja, yang mungkin bisa sedikit berguna bagi orang-orang yang sudah mau meluangkan waktunya buat membaca artikel ini.
Senin, Desember 16, 2013
Selamat Datang Ebooks
Ada beberapa alasan kenapa aku lebih memilih buku fisik dibandingkan dengan ebook. Buku fisik lebih aku pilih karena untuk buku-buku lokal, lebih mudah aku temukan versi fisiknya di toko buku terdekat dibandingkan dengan versi ebooknya. Selain itu buku fisik lebih bisa dikoleksi dan dipajang di rak buku (walaupun menuh-menuhin juga sih ujung-ujungnya), sehingga lebih bisa menumbuhkan rasa memiliki terhadap buku itu. Alasan terakhir adalah, pada saat itu perangkat yang bisa digunakan untuk membaca ebook belum terlalu mendukung. Pada saat itu, layar ponsel berukuran kecil dan belum memiliki layar sentuh seperti sekarang. Jadi membaca ebook menggunakan ponsel bisa dikatakan kurang nyaman.
Senin, Oktober 28, 2013
Semakin Nyaman Menjadi Pejalan Kaki di Jakarta
Beberapa bulan belakangan ini trotoar di sepanjang jalan Gatot Subroto diperbaiki. Bukan diperbaiki sih, tepatnya diganti. Trotoar yang lama dibongkar dan diganti dengan yang baru. Jika kuperhatikan, kini dari perempatan kuningan hingga depan gedung Manggala Wanabakti sudah menggunakan trotoar yang baru. Entah apakah perbaikan dan penggantian trotoar ini untuk jalan-jalan arteri saja atau akan diteruskan ke jalan-jalan lain.
Lebih dari itu, di sepanjang jalur yang diperbaiki juga dibuat jalur khusus untuk tunanetra yang ditandai dengan paving block berwarna kuning. Selain itu tak lupa bangku taman turut menghiasi trotoar yang baru. Selain berfungsi sebagai tempat duduk, cukup menambah estetika jalanan Jakarta yang terkenal dengan carut-marutnya.
Lebih dari itu, di sepanjang jalur yang diperbaiki juga dibuat jalur khusus untuk tunanetra yang ditandai dengan paving block berwarna kuning. Selain itu tak lupa bangku taman turut menghiasi trotoar yang baru. Selain berfungsi sebagai tempat duduk, cukup menambah estetika jalanan Jakarta yang terkenal dengan carut-marutnya.
Senin, Oktober 21, 2013
Pengalaman dengan T-Cash
T-Cash merupakan layanan uang elektronik yang dimiliki oleh Telkomsel. Dengan T-Cash, pelanggan tidak perlu lagi membawa uang tunai dan direpotkan oleh uang kembalian, semua bisa dilakukan melalui ponsel pelanggan. Kurang lebih demikian lah informasi yang bisa didapatkan melalui situs resmi Telkomsel. Walaupun layanan ini sudah diluncurkan beberapa tahun lalu, kalau nggak salah dari tahun 2008, aku belum pernah sekalipun mencoba menggunakan layanan ini, walaupun sudah sejak lama melakukan aktivasi.
Dulu ketika layanan ini diluncurkan, salah satu merchant yang digaung-gaungkan dalam marketingnya adalah Indomaret. Pelanggan bisa berbelanja di Indomaret dengan menggunakan T-Cash. Dan seperti penjelasan di awal paragraf, secara teori, nggak perlu ribet dan tidak perlu repot dengan uang kembalian. Well, benarkah demikian? Dalam dua minggu terakhir ini aku mencoba melakukan pembelian di beberapa Indomaret dan ketika akan melakukan pembayaran, kasirnya selalu kutanya apakah bisa melakukan pembayaran melalui T-Cash. Semua kasir tampak kebingungan menjawab pertanyaanku. Ada yang bilang takut salah, ada yang mencoba-coba, yang pada akhirnya gagal. Yah, pada intinya sih dari semua Indomaret yang aku coba, tidak ada satupun yang berhasil dan ujung-ujungnya aku mesti bayar cash dengan uang tunai.
Dulu ketika layanan ini diluncurkan, salah satu merchant yang digaung-gaungkan dalam marketingnya adalah Indomaret. Pelanggan bisa berbelanja di Indomaret dengan menggunakan T-Cash. Dan seperti penjelasan di awal paragraf, secara teori, nggak perlu ribet dan tidak perlu repot dengan uang kembalian. Well, benarkah demikian? Dalam dua minggu terakhir ini aku mencoba melakukan pembelian di beberapa Indomaret dan ketika akan melakukan pembayaran, kasirnya selalu kutanya apakah bisa melakukan pembayaran melalui T-Cash. Semua kasir tampak kebingungan menjawab pertanyaanku. Ada yang bilang takut salah, ada yang mencoba-coba, yang pada akhirnya gagal. Yah, pada intinya sih dari semua Indomaret yang aku coba, tidak ada satupun yang berhasil dan ujung-ujungnya aku mesti bayar cash dengan uang tunai.
Rabu, September 04, 2013
Commuter Line yang Semakin Tak Nyaman
Beberapa waktu lalu KJC memberlakukan tarif progresif untuk KRL Commuter Line. 5 stasiun pertama penumpang hanya perlu membayar Rp 3.000 (disubsidi menjadi Rp 2.000), dan untuk 3 stasiun berikutnya dikenakan tambahan Rp 1.000 (disubsidi menjadi Rp 500). Walaupun memang tujuannya baik, yaitu agar Commuter Line ini bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, namun tampaknya penurunan tarif ini tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas kereta untuk mengimbangi peningkatan jumlah penumpang.Memang sih sebelum tarifnya turun, tidak bisa dibilang juga kalau KRL waktu jam-jam sibuk nggak penuh. Tapi, setelah penurunan tarif, penuhnya nggak kira-kira. Terkadang saking penuhnya, mau masuk saja sudah susah. Kalaupun berhasil masuk, nanti di stasiun-stasiun berikutnya akan masuk lebih ke dalam lagi oleh penumpang-penumpang yang 'memaksa' masuk. Yah bukan salah mereka juga sih, namanya juga sama-sama penumpang, maunya kan pasti terangkut dan bisa sampai ke stasiun tujuan dengan cepat.
Minggu, Juni 17, 2012
Prospek Blackberry di Indonesia
Melihat berita akhir-akhir ini, platform mobile untuk pasar global dikuasai oleh iOS dan Android. Sementara Blackberry pangsa pasarnya terus menurun. Namun demikian di Indonesia lain sendiri ceritanya. Konon produk Blackberry di Indonesia masih diminati, dan memiliki pangsa pasar tersendiri. Fenomena ini bisa dibilang sedikit aneh, karena berlawanan dengan kenyataan yang terjadi secara global.
Sebenarnya apa sih kelebihan Blackberry dibandingkan dengan platform lain, seperti iOS ataupun Android? Secara pribadi, bisa dibilang hampir tidak ada. Sampai saat ini aku masih setia menggunakan Blackberry, dan selama aku menggunakannya, banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Beberapa diantaranya adalah:
Dari sekian banyak fitur Blackberry yang ada, yang aku gunakan sampai saat ini hanyalah: Push Email, BBM, dan Twitter. Hanya 3 itu saja? Yup, benar sekali. Alasanku masih tetap menggunakan Blackberry adalah karena tuntutan pekerjaan. Di lingkungan kerjaku, BBM secara tidak tertulis menjadi alat komunikasi standar untuk berkoordinasi. Terlebih lagi fitur ini digunakan untuk berkomunikasi dalam keluargaku. Nggak lucu kan kalo tiba-tiba leave grup keluarga dengan alasan sudah nggak pakai Blackberry lagi.
Killer App Blackberry menurutku hanyalah aplikasi Blackberry Messenger (BBM). Hanya fitur ini saja yang tidak ada pada platform lain. Fitur seperti Email, Twitter, Facebook, dan fitur-fitur lainnya bisa ditemukan pada platform lain, bahkan user experiencenya jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang ada pada Blackberry.
Lantas mengapa Blackberry masih diminati di pasar lokal? Kurasa fitur BBM itulah alasannya. Di pasaran sana bisa dikatakan banyak aplikasi dengan fitur yang lebih baik daripada BBM, katakanlah Whatsapp yang bisa cross platform. Mengapa BBM bisa menjadi killer App? Jawabannya simple saja: aplikasinya mudah digunakan. Ketika membeli Blackberry, tinggal beli paket, maka otomatis fitur BBM langsung bisa digunakan. Praktis kan? Tidak perlu membuat username, password, dan hal-hal lain yang bikin tambah ribet.
Tidak semua orang Indonesia melek teknologi. Dan kurasa, jika digambarkan dalam sebuah piramida, maka bagian bawah atau populasi paling besar akan didominasi oleh orang-orang yang tidak terlalu melek teknologi. Dengan banyaknya populasi yang masuk kategori tersebut, maka wajar saja jika di Indonesia masih banyak yang berminat untuk menggunakan Blackberry. Untuk orang-orang yang lebih melek kepada teknologi, kurasa mereka akan memilih handset dengan platform lain, seperti Android atau iOS, atau menjadikan Blackberry sebagai handset kedua.
Fitur BBM ini memang sangat cocok dengan karakter orang Indonesia yang memang gemar ngerumpi dan bersosialisasi. Jika dalam suatu komunitas sudah mulai menggunakan Blackberry untuk berkomunikasi, maka lambat laun, anggota komunitas yang tidak menggunakan Blackberry cenderung akan membeli Blackberry juga. Terlebih lagi jika fitur BBM sudah digunakan dalam komunitas keluarga, tekanan untuk menggunakan Blackberry akan semakin besar tentunya.
Melihat kenyataan ini, tampaknya dalam beberapa tahun kedepan, Blackberry masih akan terus digunakan di Indonesia. Menurutku, agak sedikit sulit untuk seorang individu dalam sebuah komunitas pengguna BBM yang sudah ada untuk keluar grup dan berpindah ke platform lain. Kecuali satu komunitas tersebut secara bersama-sama memutuskan untuk tidak menggunakan BBM lagi. Opsi paling mungkin adalah membeli handset dengan platform lain, namun tetap mempertahankan Blackberry sebagai handset kedua. Who knows?
Sebenarnya apa sih kelebihan Blackberry dibandingkan dengan platform lain, seperti iOS ataupun Android? Secara pribadi, bisa dibilang hampir tidak ada. Sampai saat ini aku masih setia menggunakan Blackberry, dan selama aku menggunakannya, banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Beberapa diantaranya adalah:
- Lelet dan seringkali tidak responsif
- Dukungan aplikasi yang sedikit
- Paket berlangganannya dirasa cukup mahal dibandingkan dengan berlangganan paket data unlimited - Untuk menggunakan perangkatnya secara optimal, paling nggak mesti berlangganan paket Blackberry - Resolusi layar tidak terlalu besar
- Dan lain sebagainya
Dari sekian banyak fitur Blackberry yang ada, yang aku gunakan sampai saat ini hanyalah: Push Email, BBM, dan Twitter. Hanya 3 itu saja? Yup, benar sekali. Alasanku masih tetap menggunakan Blackberry adalah karena tuntutan pekerjaan. Di lingkungan kerjaku, BBM secara tidak tertulis menjadi alat komunikasi standar untuk berkoordinasi. Terlebih lagi fitur ini digunakan untuk berkomunikasi dalam keluargaku. Nggak lucu kan kalo tiba-tiba leave grup keluarga dengan alasan sudah nggak pakai Blackberry lagi.
Killer App Blackberry menurutku hanyalah aplikasi Blackberry Messenger (BBM). Hanya fitur ini saja yang tidak ada pada platform lain. Fitur seperti Email, Twitter, Facebook, dan fitur-fitur lainnya bisa ditemukan pada platform lain, bahkan user experiencenya jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang ada pada Blackberry.
Lantas mengapa Blackberry masih diminati di pasar lokal? Kurasa fitur BBM itulah alasannya. Di pasaran sana bisa dikatakan banyak aplikasi dengan fitur yang lebih baik daripada BBM, katakanlah Whatsapp yang bisa cross platform. Mengapa BBM bisa menjadi killer App? Jawabannya simple saja: aplikasinya mudah digunakan. Ketika membeli Blackberry, tinggal beli paket, maka otomatis fitur BBM langsung bisa digunakan. Praktis kan? Tidak perlu membuat username, password, dan hal-hal lain yang bikin tambah ribet.
Tidak semua orang Indonesia melek teknologi. Dan kurasa, jika digambarkan dalam sebuah piramida, maka bagian bawah atau populasi paling besar akan didominasi oleh orang-orang yang tidak terlalu melek teknologi. Dengan banyaknya populasi yang masuk kategori tersebut, maka wajar saja jika di Indonesia masih banyak yang berminat untuk menggunakan Blackberry. Untuk orang-orang yang lebih melek kepada teknologi, kurasa mereka akan memilih handset dengan platform lain, seperti Android atau iOS, atau menjadikan Blackberry sebagai handset kedua.
Fitur BBM ini memang sangat cocok dengan karakter orang Indonesia yang memang gemar ngerumpi dan bersosialisasi. Jika dalam suatu komunitas sudah mulai menggunakan Blackberry untuk berkomunikasi, maka lambat laun, anggota komunitas yang tidak menggunakan Blackberry cenderung akan membeli Blackberry juga. Terlebih lagi jika fitur BBM sudah digunakan dalam komunitas keluarga, tekanan untuk menggunakan Blackberry akan semakin besar tentunya.
Melihat kenyataan ini, tampaknya dalam beberapa tahun kedepan, Blackberry masih akan terus digunakan di Indonesia. Menurutku, agak sedikit sulit untuk seorang individu dalam sebuah komunitas pengguna BBM yang sudah ada untuk keluar grup dan berpindah ke platform lain. Kecuali satu komunitas tersebut secara bersama-sama memutuskan untuk tidak menggunakan BBM lagi. Opsi paling mungkin adalah membeli handset dengan platform lain, namun tetap mempertahankan Blackberry sebagai handset kedua. Who knows?
Langganan:
Postingan (Atom)
