Beberapa waktu lalu akhirnya Blackberry merilis BBM untuk iOS dan Android. Tidak seperti rilis sebelumnya yang bisa dibilang ‘gagal’, pada rilis kali ini Blackberry sepertinya sudah lebih siap untuk mengantisipasi lonjakan trafik dari penggunanya. Pengguna yang telah mengunduh aplikasinya via App Store maupun Google Play Store harus sedikit bersabar karena mereka tidak bisa langsung menggunakan layanan ini. Blackberry menerapkan sistem antrian untuk mengatasi lonjakan trafik, sehingga pengguna harus menunggu beberapa saat (pengalamanku kemarin sih harus menunggu kurang lebih 1 jam).
Setelah melewati antrian, pengguna diberikan dua pilihan: Sign In dengan BlackberryID yang sudah ada, atau membuat BlackberryID yang baru. Pengguna handset Blackberry yang sudah mengupgrade dan menggunakan BBM versi 7 (versi terakhir) dapat memigrasikan kontak-kontaknya ke BBM versi iOS dengan cara Sign In menggunakan BlackberryID yang digunakan pada handset Blackberrynya. Perlu dicatat bahwa BlackberryID hanya dapat digunakan pada 1 perangkat saja. Ketika BlackberryID yang digunakan pada handset Blackberry digunakan untuk Sign In di BBM untuk iOS, maka otomatis pengguna tidak bisa menggunakan aplikasi BBM yang ada di handset Blackberry lagi, kecuali menggunakan BlackberryID yang baru.
Tampilkan postingan dengan label Blackberry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blackberry. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 03, 2013
Minggu, April 28, 2013
Ketika Baterai BlackBerry Berulah
![]() |
| sumber: forums.crackberry.com |
Belakangan ini, entah kenapa si BB ini batrenya cepet banget nge-drop, padahal baru 5 bulan ganti karena batre yang lama bermasalah dan ga bisa dipakai. Di layar BlackBerry hanya muncul simbol baterai yang kosong disertai dengan tanda silang. Orang awam pun bisa menerjemahkan itu: permasalahan ada di baterainya.
Minggu, Juni 17, 2012
Prospek Blackberry di Indonesia
Melihat berita akhir-akhir ini, platform mobile untuk pasar global dikuasai oleh iOS dan Android. Sementara Blackberry pangsa pasarnya terus menurun. Namun demikian di Indonesia lain sendiri ceritanya. Konon produk Blackberry di Indonesia masih diminati, dan memiliki pangsa pasar tersendiri. Fenomena ini bisa dibilang sedikit aneh, karena berlawanan dengan kenyataan yang terjadi secara global.
Sebenarnya apa sih kelebihan Blackberry dibandingkan dengan platform lain, seperti iOS ataupun Android? Secara pribadi, bisa dibilang hampir tidak ada. Sampai saat ini aku masih setia menggunakan Blackberry, dan selama aku menggunakannya, banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Beberapa diantaranya adalah:
Dari sekian banyak fitur Blackberry yang ada, yang aku gunakan sampai saat ini hanyalah: Push Email, BBM, dan Twitter. Hanya 3 itu saja? Yup, benar sekali. Alasanku masih tetap menggunakan Blackberry adalah karena tuntutan pekerjaan. Di lingkungan kerjaku, BBM secara tidak tertulis menjadi alat komunikasi standar untuk berkoordinasi. Terlebih lagi fitur ini digunakan untuk berkomunikasi dalam keluargaku. Nggak lucu kan kalo tiba-tiba leave grup keluarga dengan alasan sudah nggak pakai Blackberry lagi.
Killer App Blackberry menurutku hanyalah aplikasi Blackberry Messenger (BBM). Hanya fitur ini saja yang tidak ada pada platform lain. Fitur seperti Email, Twitter, Facebook, dan fitur-fitur lainnya bisa ditemukan pada platform lain, bahkan user experiencenya jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang ada pada Blackberry.
Lantas mengapa Blackberry masih diminati di pasar lokal? Kurasa fitur BBM itulah alasannya. Di pasaran sana bisa dikatakan banyak aplikasi dengan fitur yang lebih baik daripada BBM, katakanlah Whatsapp yang bisa cross platform. Mengapa BBM bisa menjadi killer App? Jawabannya simple saja: aplikasinya mudah digunakan. Ketika membeli Blackberry, tinggal beli paket, maka otomatis fitur BBM langsung bisa digunakan. Praktis kan? Tidak perlu membuat username, password, dan hal-hal lain yang bikin tambah ribet.
Tidak semua orang Indonesia melek teknologi. Dan kurasa, jika digambarkan dalam sebuah piramida, maka bagian bawah atau populasi paling besar akan didominasi oleh orang-orang yang tidak terlalu melek teknologi. Dengan banyaknya populasi yang masuk kategori tersebut, maka wajar saja jika di Indonesia masih banyak yang berminat untuk menggunakan Blackberry. Untuk orang-orang yang lebih melek kepada teknologi, kurasa mereka akan memilih handset dengan platform lain, seperti Android atau iOS, atau menjadikan Blackberry sebagai handset kedua.
Fitur BBM ini memang sangat cocok dengan karakter orang Indonesia yang memang gemar ngerumpi dan bersosialisasi. Jika dalam suatu komunitas sudah mulai menggunakan Blackberry untuk berkomunikasi, maka lambat laun, anggota komunitas yang tidak menggunakan Blackberry cenderung akan membeli Blackberry juga. Terlebih lagi jika fitur BBM sudah digunakan dalam komunitas keluarga, tekanan untuk menggunakan Blackberry akan semakin besar tentunya.
Melihat kenyataan ini, tampaknya dalam beberapa tahun kedepan, Blackberry masih akan terus digunakan di Indonesia. Menurutku, agak sedikit sulit untuk seorang individu dalam sebuah komunitas pengguna BBM yang sudah ada untuk keluar grup dan berpindah ke platform lain. Kecuali satu komunitas tersebut secara bersama-sama memutuskan untuk tidak menggunakan BBM lagi. Opsi paling mungkin adalah membeli handset dengan platform lain, namun tetap mempertahankan Blackberry sebagai handset kedua. Who knows?
Sebenarnya apa sih kelebihan Blackberry dibandingkan dengan platform lain, seperti iOS ataupun Android? Secara pribadi, bisa dibilang hampir tidak ada. Sampai saat ini aku masih setia menggunakan Blackberry, dan selama aku menggunakannya, banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Beberapa diantaranya adalah:
- Lelet dan seringkali tidak responsif
- Dukungan aplikasi yang sedikit
- Paket berlangganannya dirasa cukup mahal dibandingkan dengan berlangganan paket data unlimited - Untuk menggunakan perangkatnya secara optimal, paling nggak mesti berlangganan paket Blackberry - Resolusi layar tidak terlalu besar
- Dan lain sebagainya
Dari sekian banyak fitur Blackberry yang ada, yang aku gunakan sampai saat ini hanyalah: Push Email, BBM, dan Twitter. Hanya 3 itu saja? Yup, benar sekali. Alasanku masih tetap menggunakan Blackberry adalah karena tuntutan pekerjaan. Di lingkungan kerjaku, BBM secara tidak tertulis menjadi alat komunikasi standar untuk berkoordinasi. Terlebih lagi fitur ini digunakan untuk berkomunikasi dalam keluargaku. Nggak lucu kan kalo tiba-tiba leave grup keluarga dengan alasan sudah nggak pakai Blackberry lagi.
Killer App Blackberry menurutku hanyalah aplikasi Blackberry Messenger (BBM). Hanya fitur ini saja yang tidak ada pada platform lain. Fitur seperti Email, Twitter, Facebook, dan fitur-fitur lainnya bisa ditemukan pada platform lain, bahkan user experiencenya jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang ada pada Blackberry.
Lantas mengapa Blackberry masih diminati di pasar lokal? Kurasa fitur BBM itulah alasannya. Di pasaran sana bisa dikatakan banyak aplikasi dengan fitur yang lebih baik daripada BBM, katakanlah Whatsapp yang bisa cross platform. Mengapa BBM bisa menjadi killer App? Jawabannya simple saja: aplikasinya mudah digunakan. Ketika membeli Blackberry, tinggal beli paket, maka otomatis fitur BBM langsung bisa digunakan. Praktis kan? Tidak perlu membuat username, password, dan hal-hal lain yang bikin tambah ribet.
Tidak semua orang Indonesia melek teknologi. Dan kurasa, jika digambarkan dalam sebuah piramida, maka bagian bawah atau populasi paling besar akan didominasi oleh orang-orang yang tidak terlalu melek teknologi. Dengan banyaknya populasi yang masuk kategori tersebut, maka wajar saja jika di Indonesia masih banyak yang berminat untuk menggunakan Blackberry. Untuk orang-orang yang lebih melek kepada teknologi, kurasa mereka akan memilih handset dengan platform lain, seperti Android atau iOS, atau menjadikan Blackberry sebagai handset kedua.
Fitur BBM ini memang sangat cocok dengan karakter orang Indonesia yang memang gemar ngerumpi dan bersosialisasi. Jika dalam suatu komunitas sudah mulai menggunakan Blackberry untuk berkomunikasi, maka lambat laun, anggota komunitas yang tidak menggunakan Blackberry cenderung akan membeli Blackberry juga. Terlebih lagi jika fitur BBM sudah digunakan dalam komunitas keluarga, tekanan untuk menggunakan Blackberry akan semakin besar tentunya.
Melihat kenyataan ini, tampaknya dalam beberapa tahun kedepan, Blackberry masih akan terus digunakan di Indonesia. Menurutku, agak sedikit sulit untuk seorang individu dalam sebuah komunitas pengguna BBM yang sudah ada untuk keluar grup dan berpindah ke platform lain. Kecuali satu komunitas tersebut secara bersama-sama memutuskan untuk tidak menggunakan BBM lagi. Opsi paling mungkin adalah membeli handset dengan platform lain, namun tetap mempertahankan Blackberry sebagai handset kedua. Who knows?
Kamis, Januari 19, 2012
Review Blackberry 9790 Bellagio
Blackberry 9790 dengan kode Bellagio ini adalah penerus seri Blackberry Onyx sebelumnya. Sebelumnya RIM telah mengeluarkan Onyx 1 dan Onyx 2, dan Blackberry 9790 ini adalah Onyx 3. Tidak seperti Onyx 1 dan Onyx 2 yang desainnya mirip, Onyx 3 cukup banyak berubah. Desainnya lebih ramping dan tipis, sementara tombol-tombol Call/Send, Menu, Escape, dan End/Power nya timbul, tidak seperti seri sebelumnya yang terasa rata jika diraba. RIM juga meningkatkan kapasitas memorinya menjadi 768 MB dan kapasitas penyimpanan aplikasi sebesar 512 MB. Menurutku sudah lebih dari cukup lah. Perbedaan lainnya adalah, Onyx 3 menggunakan OS 7 dan layarnya pun layar sentuh. Menurutku agak-agak aneh aja sih layar sentuh tapi ukuran layarnya tidak terlalu lebar (2.45 inch).
Selain itu, Onyx 3 dilengkapi dengan media penyimpanan internal sebesar 8 GB (menurut spec nya 8GB, tetapi jika aku lihat informasinya di menu Options, yang tertera adalah 6 GB). Dengan kapasitas media penyimpanan sebesar ini, menurutku sudah tidak perlu lagi membeli memori tambahan, terlebih lagi kecepatan baca dari media penyimpanan eksternal (MicroSD) lebih lambat dibandingkan dengan media penyimpanan internalnya. Pernah aku coba untuk membuka file video yang ukurannya cukup besar, dan hasilnya jika file video tersebut aku simpan di media eksternal, gambarnya kurang smooth. Spesifikasi teknis lebih lengkap bisa dibaca disini.
Pada tulisan ini, aku akan mencoba menuliskan pengalamanku dalam menggunakan Onyx 3, yang tentunya bisa dibilang sangat subyektif. Jadi no offense yah kalau ada yang nggak sesuai. Untuk sisi obyektifnya, silakan mengacu ke spesifikasi teknis yang telah aku sebutkan pada tautan diatas.
Desain
Tidak seperti Onyx 1 dan Onyx 2 yang menurutku desainnya elegan, desain Onyx 3 bisa dibilang kurang elegan, tidak terlihat kesan bahwa produk ini memiliki spesifikasi yang high end. Tapi memang begitulah kenyatannya. Dari sisi harga aja jauh dibawah Dakota. Bodinya juga terkesan lebih ringkih dibanding pendahulunya, mungkin karena ukurannya lebih tipis kali yah. Jika aku perhatikan, yang mirip dan tidak mengalami banyak perubahan adalah bentuk keypadnya.
Fitur & Aplikasi
Secara fitur, menurutku tidak terlalu banyak perubahan yang berarti. OS 7 yang digadang-gadang RIM memiliki banyak fitur baru, rupanya kemampuannya hanya segitu saja. Jika anda menggunakan BB untuk urusan pekerjaan, perbedaannya tidak akan terlalu terasa. Yang jelas sih, proses restart/boot up masih memerlukan waktu yang cukup lama (bisa sampai 5 menit bahkan lebih). OS 7, yang artinya OS terbaru, tentunya mengkonsumsi lebih banyak memori dan storage.
Rasa-rasanya peningkatan kapasitas memori menjadi 768 MB dan kapasitas media penyimpanan aplikasi sebesar 512 MB tidak terlalu berpengaruh buatku. Karena memang produk ini aku gunakan kebanyakan untuk urusan pekerjaan semata, jadi tidak perlu ada aplikasi aneh-aneh. Selama masih bisa ber BBM ria, menjawab email, browsing, dan membuka twitter/facebook, chatting menggunakan YM/Google Talk/WhatsApp, rasa-rasanya sudah cukup. Untuk urusan hiburan, masih cukup lah untuk mendengarkan musik atau menonton video, hanya saja untuk bermain game bisa dikatakan semua produk Blackberry tidak didesain untuk itu.
Fitur touch screen nya sangat berguna untuk navigasi pada menu-menu serta shortcut di Home Screen nya, terlebih lagi ketika browsing (melakukan zoom dan scrolling). Namun fitur ini ternyata juga lumayan merepotkan ketika produk ini dimasukkan ke dalam saku celana, tetapi tidak dalam keadaan terkunci. Biasanya yang terjadi adalah tanpa disadari ada menu-menu yang tidak sengaja terpilih atau ada aplikasi-aplikasi yang tidak sengaja terbuka. Bisa gawat kan kalau tanpa disengaja dan disadari produk ini tiba-tiba mengrimkan pesan/email yang tidak diinginkan ke pengguna lain.
Sementara itu, dari sisi aplikasinya menurutku tidak ada yang istimewa pada aplikasi-aplikasi bawaan produk ini. Bisa kubilang, RIM kurang berinovasi pada OS 7 yang digunakan produk Onyx 3 ini. Aplikasi bawaannya jika aku lihat tidak jauh berbeda dengan perangkat-perangkat pendahulunya. Yah paling nggak ada OS baru ya ada aplikasi baru gitu yang disertakan dalam perangkatnya. Seandainya Onyx 3 ini tidak memiliki layar sentuh, secara experience, kurasa tidak ada bedanya jika perangkat ini menggunakan OS 6. Mengecewakan sekali..
Baterai
Walaupun dilengkapi dengan baterai 1230 mAh, perangkat ini menurutku sangat boros. Sekali charge sampai penuh paling banter bisa bertahan kurang dari 12 jam. Tidak seperti produk pendahulunya, yang baterainya bisa bertahan lebih dari sehari semalam. Ini pun menggunakan jaringan 2G. Bisa dibayangkan kan jika menggunakan jaringan 3G. Nggak sampai 6 jam juga sudah keok. Namun secara subyektif, menurutku daya tahan baterainya masih lebih baik lah dibandingkan dengan Monza atau Dakota. Dengan daya tahan baterai seperti ini, sangat disarankan untuk senantiasa membawa charger produk ini. Jika hendak dibawa ke acara-acara outdoor seperti outing seharian penuh, bisa dipastikan produk ini tidak akan bertahan sampai acaranya selesai. Akan lebih baik jika memiliki dan membawa serta portable charge.
Kesimpulan
Sebagai pengguna yang pernah merasakan Onyx 1, aku cukup puas dengan performa Onyx 3. Perangkat Blackberry ini relatif stabil walau terkadang muncul jam yang berputar-putar alias nge-hang, tapi bisa dibilang jarang lah. Bagi para penggemar Blackberry yang memiliki bugdet yang cukup besar, produk ini cukup layak untuk dimiliki. Kecuali kalau memang untuk alasan prestise, menurutku lebih baik membeli Dakota atau Monza saja sekalian, karena dari sisi spec, kedua perangkat diatas berada diatas Bellagio.
Namun demikian, sejak pertama kali menggunakan Blackberry, menurutku tidak ada kemajuan yang cukup berarti. Dari dulu aplikasi-aplikasi yang aku gunakan ya itu-itu aja. Mau install aplikasi yang agak berat, pasti mikirnya nanti bakalan nge-hang lah atau nggak stabil lah, dan sebagainya. Fitur yang memang benar-benar bisa diandalkan hanya BBM dan email, yang memang menjadi killer apps nya Blackberry. Aku memang pengguna Blackberry, tapi bukan penggemar produk ini karena menurutku bisa dibilang ketinggalan jaman. Memang diluar sana masih banyak pengguna Blackberry yang benar-benar bisa memanfaatkan fitur-fiturnya secara penuh, tetapi dengan kemampuannya yang minim fitur baru, Blackberry kelas bawah seperti Gemini saja aku rasa sudah cukup. Terakhir, IMHO dengan fitur-fitur seperti yang telah disebutkan diatas, rasa-rasanya terlalu mahal untuk mengeluarkan 4,6 juta rupiah untuk membeli Bellagio. Dengan uang tersebut, sudah cukup untuk membeli handphone Android kelas atas yang bisa digunakan untuk berkirim email dan browsing, namun minus BBM tentunya.
Langganan:
Postingan (Atom)

