Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 14, 2026

Short Trip Kota Yogyakarta

Pada awal bulan Juli ini, aku ikut berpartisipasi dalam event sepeda Lakoni 600K di Yogyakarta. Biasanya aku selalu pergi membawa kendaraan sendiri. Jika eventnya start di hari Sabtu, aku selalu berangkat hari Jumat dini hari. Sampai Yogyakarta di jam-jam makan siang setelah sebelumnya mampir dulu di warung langganan di daerah Ambarawa. Namun kali ini karena ada opsi untuk memakai jasa angkut sepeda yang layanannya door-to-door, aku putuskan untuk mencobanya. Transportasi PP ke Yogyakarta aku putuskan untuk menggunakan kereta api dengan alasan lebih cepat. Sebenarnya ingin mencoba transportasi menggunakan bus, namun waktu tempuhnya nggak kaleng-kaleng: masa bedanya sampai 6 jam dengan kereta. Aku merasa terlalu mubazir waktuku dihabiskan di jalan.

Sabtu, Juli 11, 2026

Short Trip Kota Surakarta

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan untuk mengunjungi Kota Surakarta untuk menghadiri undangan pernikahan teman kantorku dari divisi lama. Karena acara pernikahannya di hari libur tanggal merah, dan tengah minggu pula, aku putuskan untuk tidak cuti. Jadi kesana hanya menginap semalam, dan pulang lagi ke Jakarta keesokan harinya di hari H nya. Acara pernikahannya di Karanganyar, cukup jauh dari Kota Surakarta, lumayan agak merepotkan untuk pergi-pulangnya dari Surakarta-Karanganyar.

Kesempatan ini ingin kugunakan untuk mengeksplorasi Kota Surakarta, walaupun mungkin waktuku tidak banyak hanya dari setelah acara pernikahan hingga malam hari. Dengan pertimbangan ingin sat-set dan juga ingin foto-foto, rencanaku spot-spot yang akan kukunjungi lokasinya tidak terlalu jauh dari Stasiun Solo Balapan, sehingga masih bisa kueksplorasi dengan berjalan kaki saja. Setelah berkonsultasi dengan AI dan melihat peta di area sekitaran Stasiun Solo, aku memutuskan untuk mengunjungi titik-titik ini:

Minggu, Juni 21, 2026

Mangewu Mangatus 5500 - 8th Series Cirebon

Setelah dua kali mengikuti event 5500 ini (5500 5th series Yogyakarta & 5500 6th series Bandung), dua-duanya tak mudah dan sangat melelahkan. Entah apakah karena rutenya yang sulit ataukah karena aku yang cukup memaksa untuk nge-push. Jika kuperhatikan, dalam membuat rute aku selalu membuat patokan agar dalam 1 hari pertama target jarak yang kutempuh bisa diatas 350km. Namun asumsi ini selalu runtuh, karena elevation gain dan tanjakan di hari pertama seringkali kulibas dengan agak nge-push. Bisa dibilang aku underestimate dengan efeknya. Setelah tanjakan, performa menjadi drop dan ini terbawa hingga pergantian ke hari berikutnya. Harapanku dari awal lebih ingin menikmati gowesnya ini, lebih santai, namun pada akhirnya nge-push juga karena ingin penderitaan ini segera berakhir.

Kamis, April 30, 2026

Short Trip Bandung - Surabaya: Review Wisata Kota

Sesuai dengan rencana awal, kami tidak berniat kemana-mana ketika di Bandung karena waktunya cukup sempit. Rencananya, kami akan berkeliling ke spot-spot yang kami anggap menarik ketika kami di Surabaya, ada waktu 1 hari penuh yang bisa kami manfaatkan untuk berkeliling.

Short Trip Bandung - Surabaya: Review Wisata Kuliner

Kuliner Bandung
Karena kami hanya menginap selama 1 malam saja di Bandung, tidak banyak opsi yang bisa kami coba pada saat itu. Kami memutuskan untuk mencari makan di dekat stasiun saja agar sat-set dan bisa dijangkau dengan jalan kaki, Kebetulan di sepanjang jalan tempat kami menginap banyak warung-warung makan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Short Trip Bandung - Surabaya: Review Argo Wilis Panoramic

Karena jadwal keretanya lumayan pagi, jam 07:35 membuat kami kurang fleksibel. Beruntung hotel tempat menginap hanya berjarak 5 menit dengan berjalan kaki, jadi tidak perlu terburu-buru. Namun demikian kekurangannya adalah kami tidak sempat sarapan di hotel. 

Sekitar jam 06:40 kami check out dan berjalan kaki ke stasiun. Keretanya sudah tersedia di stasiun jadi kami langsung masuk. Seandainya keretanya berangkat agak siangan sedikit, seharusnya kami bisa menjajal fasilitas Luxury Lounge stasiun Bandung.

Short Trip Bandung - Surabaya: Review Pangandaran Panoramic

Ada harga ada rupa. Dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan kelas Eksekutif biasa,  kereta Panoramic menawarkan pengalaman yang berbeda di gerbongnya dengan jendela kaca berdimensi besar di sisi kiri, kanan, dan atap (sunroof). Secara umum fasilitas yang diberikan kurang lebih seperti ini:

  • Fasilitas Luxury Lounge di Stasiun Gambir. Sayangnya sih menurutku aura luxury nya nggak terlalu berasa karena banyaknya perjalanan kereta dari Stasiun Gambir ke luar kota. Selain itu, lokasinya yang juga menjadi jalur penumpang yang menggunakan lift jadi mengurangi ke-eksklusifan lounge nya.
  • Kaca panoramic ekstra besar: bisa dibilang ini menu utamanya. Dan pengalaman ini yang ingin kami coba. Terlebih lagi di jalur Cikampek-Purwakarta-Padalarang pemandangannya oke. 
  • Konfigurasi kursi 2-2 (AB - CD), di ujung gerbong ada kursi yang hanya 1 saja.
  • Dedicated Train Attendant. Kuperhatikan di gerbong panoramic ini setidaknya ada 2 petugas yang stand by untuk melayani penumpang: mulai dari mengatur barang bawaan & koper penumpang, membagikan snack, hingga menginformasikan ketika kereta akan melewati spot-spot iconic.
  • Reclining seat yang dapat diputar 180 derajat dan dapat dihadapkan pada jendela. Pada kenyataanya, karena kami berempat dan duduk di sisi kiri, settingnya jadi duduk berhadap-hadapan. Nggak sempat kami coba untuk diset agar menghadap ke jendela karena bisa mengurangi mobilisasi.
  • Rak bagasi khusus di ujung gerbong. Jadi begitu masuk kereta, barang bawaan bisa langsung disimpan di rak bagasi, tanpa perlu dibawa ke tempat duduk seperti halnya kereta kelas Eksekutif biasa. Setiap tas/koper akan diberikan tag khusus oleh petugasnya.
  • Toilet modern yang estetik & otomatis. Bisa dibilang terhitung mewah. Lebih luas dibandingkan dengan kelas biasa. Di sisi lain, kemewahan ini lumayan membingungkan bagi orang awam sepertiku yang biasa sat-set. Kebanyakan tombol dan serba otomatis. Beruntung perjalanannya pendek jadi tidak perlu banyak berurusan dengan toilet.
  • Konsumsi gratis: berupa snack roti, pop corn, kue kering, dan air mineral. Baru tahu kalau untuk snack nya ini di provide oleh XXI Cafe. Selain itu penumpang gerbong ini akan mendapatkan Hydro Coco + pilihan minuman panas (teh, kopi, cokelat)
  • Mini Bar
  • Free Wifi, cukup untuk browsing dan akses yang tidak memerlukan bandwidth besar.
  • Televisi: nggak terlalu berguna sih, tapi memang mesti ada.
  • Stop kontak untuk masing-masing kursi. Posisi nya berada di bawah kursi. 

Short Trip Bandung - Surabaya: Review Penginapan - Grand Sovia & Hotel Sahid

Hari pertama kami menginap di Hotel Grand Sovia yang lokasinya berada tepat di seberang Stasiun Bandung. Hotelnya cukup oke dengan harga yang ditawarkan. Di sepanjang jalan tersebut ada juga beberapa alternatif hotel lainnya, namun sepertinya hotel ini secara lokasi sudah paling dekat dengan stasiun. Di radius 500m-1km dari hotel ini juga banyak pilihan tempat makan, convenience store seperti Alfamart dan Indomaret. Menurutku hotel ini worth it sih untuk transit. Petugas hotelnya pun cukup ramah. Yang belum bisa kuulas mungkin menu sarapannya, yang belum sempat kami coba karena harus berangkat pagi-pagi mengejar kereta Bandung-Surabaya. Jika ada kesempatan seperti ini lagi, akan kupertimbangkan untuk bisa menginap kembali disini. 

Sementara untuk hari kedua kami menginap di Hotel Sahid Surabaya. Well.. kami pilih hotel ini karena lokasinya paling dekat dengan Stasiun Gubeng tanpa perlu menyeberang jalan. Sebagai informasi tambahan, Stasiun Gubeng berada di tengah kota dan jalanan yang melewati stasiun ini bisa dibilang jalan utama yang menurut prediksiku bakalan selalu ramai. Jadi aku berpikir akan ribet kalau nanti sambil bawa-bawa barang mesti menyeberang jalan juga.

Hotel Sahid ini bisa dibilang hotel tua, dan sepertinya dari bangunannya mungkin dulunya adalah salah satu hotel yang lumayan mewah. Dengan mempertimbangkan harga, rasanya kurang worth it. Tak jauh dari hotel Sahid ada beberapa hotel lain yang lebih baru yang menawarkan harga yang mirip-mirip juga. Bedanya perlu menyeberang jalan saja. Ada beberapa sisi minusnya yang kurasakan: hotel ini tidak menyediakan tissue di kamar (hanya tissue toilet saja), tidak ada hair dryer, dan juga tidak menyediakan setrika (walaupun sudah meminta ke resepsionis), selain itu pilihan menu sarapannya juga terkesan minimalis dan tidak banyak. Dengan pengalaman seperti ini rasanya aku tidak akan menginap disini lagi jika memang nggak kepaksa.

Berikutnya: Review Kereta #1 🚆 Pangandaran Panoramic

Artikel Utama: Short Trip Bandung - Surabaya: Menjajal Kereta Api Wisata Panoramic & Compartment Suite

Short Trip Bandung - Surabaya: Menjajal Kereta Api Wisata Panoramic & Compartment Suite

Di pertengahan bulan Februari lalu, tepatnya ketika libur Imlek, kami sekeluarga jalan-jalan ke Bandung & Surabaya menggunakan moda transportasi kereta api. Perjalanan ini sekaligus menutup resolusi #7 ku di tahun 2026: merasakan pengalaman di kereta api wisata panoramic & compartment, yang sudah menjadi wishlistku dari tahun lalu.

Rencana awalnya, hanya aku dan istriku saja yang akan menjajal kereta panoramic & compartment ini. Tentu saja pertimbangannya adalah harga tiketnya yang lumayan menguras kantong, belum termasuk biaya akomodasi hotel. Namun karena waktunya bisa diatur pas anak-anak juga sedang libur sekolah, pada akhirnya perjalanan ini kami eksekusi ber-empat.

Selasa, Februari 17, 2026

Jabar Banten Loop: Penutup

Ada perasaan senang ketika aku berhasil menyelesaikan rute ini. Tak disangka rute yang kukira sulit, ternyata bisa dieksekusi juga. Yang menunjukkan bahwa tantangan terbesarnya adalah mental. Sementara kondisi fisik bisa disesuaikan. Walaupun di hari ketiga target jaraknya melenceng, pada akhirnya perjalanan ini bisa diselesaikan tanpa lewat dari 4 hari. Selama 1 tahun terakhir, banyak kekhawatiran ketika aku mencoba rute ini, akan memakan waktu lebih dari 4 hari. Sehingga menjadikan wishlist 2 tahun ini tidak pernah bisa tereksekusi.

Sebuah kepuasan tersendiri bagi seorang INTJ sepertiku ketika eksekusi di lapangan nggak melenceng jauh dari rencana. Tapi selalu ada faktor X. Kita nggak tahu apa yang terjadi di hari pertama maupun hari kedua. Kegagalan perencanaan di hari ketiga ini seharusnya bisa jadi masukan untuk melewati rute ini lagi: spare waktu yang cukup panjang sangat diperlukan ketika melewati segmen tanjakan panjang dan pedas. Kecepatan rata-rata 19,9 km/jam di hari itu, seharusnya bisa jadi gambaran untuk perencanaan yang lebih baik ke depan. Perencanaan matang memang penting, tapi juga diperlukan adaptability jika seandainya terjadi sesuatu yang diluar rencana.

Pada akhirnya, perjalanan ini memberikan pelajaran yang bisa dipetik: perencanaan itu penting, namun harus siap jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. We can’t predict, but we can prepare. Dengan membuat perencanaan, paling tidak kita bisa tahu baseline dari hasil yang diharapkan. Ketika kita mengeksekusi perencanaan tersebut, kita harus selalu memonitor progress, apakah masih on track, ataukah sudah melenceng sehingga memerlukan penyesuaian. Perencanaan dan eksekusi menjadi 2 hal yang saling melengkapi. Eksekusi tanpa perencanaan bisa berakhir buruk, perencanaan tanpa eksekusi, hanya akan menjadi mimpi.

Artikel utama: Yang Tersisa dari Jabar Banten Loop

Jabar Banten Loop Dalam Angka

 Total Perjalanan (versi Strava)

Metrik Nilai
Total Jarak 1.215,43 km
Total Elevasi 10.148 m
Total Moving Time 51 jam 28 menit
Rata-rata Harian 304 km/hari


Statistik Harian (versi Cyclocomp)

Hari Rute Jarak Elevasi Moving Time Avg Speed
1 Jakarta → Ciamis 363,21 km 2.311 m 13jam 14menit 27,4 km/jam
2 Ciamis → Sindangbarang 309,81 km 2.479 m 12jam 59menit 23,8 km/jam
3 Sindangbarang → Muara Binuangeun 260,99 km 3.464 m 13jam 03menit 19,9 km/jam ⚠️
4 Muara Binuangeun → Jakarta 281,42 km 1.694 m 12jam 12menit 23 km/jam

⚠️ Hari terberat: tanjakan Puncak Habibi & Sawarna


Pengeluaran

Kategori Rincian Nominal
🏨 Penginapan 3 malam (Ciamis, Sindangbarang, Muara Binuangeun) Rp950.000
🍽️ Makan Besar Sarapan, makan siang, makan malam Rp662.000
🥤 Snack & Minum Semua yang dibeli di minimarket Rp752.800
📦 Logistik Kirim pakaian (Lion Parcel/JNE) Rp50.550
TOTAL Rp2.415.350

💡 Per orang: Rp1.207.675 (dibagi 2)

Rincian pengeluaran harian:
Hari Keterangan Kategori Pengeluaran
Hari ke-1 Indomaret Snack Rp61.400
Makan Siang - Cirebon (Ayam + Telur) Makan Besar Rp60.000
Makan Malam - Ciamis (Nasi Goreng) Makan Besar Rp80.000
Indomaret Snack Rp42.400
Penginapan - Ciamis Penginapan Rp380.000
Alfamart Snack Rp68.400
Alfamart Snack Rp42.400
Hari ke-2 Tips Penginapan Penginapan Rp20.000
Sarapan - Ciamis (Kupat Tahu) Makan Besar Rp47.000
Makan Siang - Cikalong (Sop Iga) Makan Besar Rp123.000
Makan Malam - Sindangbarang (Pecel Ayam) Makan Besar Rp33.000
Penginapan - Sindangbarang Penginapan Rp300.000
Indomaret Snack Rp55.000
Indomaret Snack Rp113.100
Indomaret Snack Rp37.200
Biaya packing paket - Ciamis Logistik Rp20.000
Kirim Lion Parcel - Ciamis Logistik Rp30.550
Hari ke-3 Sarapan - Sindangbarang (Kupat Tahu) Makan Besar Rp47.000
Makan siang - Palabuhan Ratu (Sop Iga) Makan Besar Rp179.000
Kopi - Puncak Habibi Snack Rp17.000
Makan malam - Malingping (Soto Ayam) Makan Besar Rp43.000
Penginapan - Muara Binuangeun Penginapan Rp250.000
Alfamart Snack Rp63.500
Indomaret Snack Rp108.000
Alfamidi Snack Rp12.400
Hari ke-4 Sarapan - Cibaliung (Nasi Uduk) Makan Besar Rp50.000
Indomaret Snack Rp37.000
Indomaret Snack Rp33.500
Indomaret Snack Rp61.500
Total Rp2.415.350

Berikutnya: Jabar Banten Loop: Penutup

Artikel utama: Yang Tersisa dari Jabar Banten Loop

Jabar Banten Loop Day 4: The Mechanical & Mental Battle (Muara Binuangeun → Jakarta, 281km)

[06:00] Start Tanpa Sarapan & Hujan Gerimis

Hari terakhir menyisakan jarak sekitar 280km-an untuk sampai kembali ke Jakarta. Kalau sesuai rencana dan bisa menginap di daerah Sumur, sisa perjalanannya sekitar 230km dan relatif flat. Rute pada gap 50km antara Muara Binuangeun dan Sumur bisa dibilang nggak mudah. Jalanannya relatif menanjak sampai Cibaliung dan banyak segmen rolling sepanjang rute tersebut. Inilah kenapa di rencana awal, target hari ke-3 menginap di daerah Sumur, karena setelah ini rute menuju Jakarta sudah bisa dibilang enteng, flat. Jadi ekspektasiknya di hari terakhir bisa benar-benar santai.

Sarapan di Cibaliung

Seperti biasa kami jalan jam 6 pagi. Tapi berhubung tempat kami menginap agak di luar pusat keramaian, jadi di dekat penginapan nggak ada warung yang jual sarapan. Kami putuskan untuk lanjut menuju Cibaliung yang berjarak sekitar 38km dari penginapan. Cuaca pada pagi itu mendung dan gerimis. Kami sampai di Cibaliung (km 962) sekitar jam 7:30, dan langsung cari sarapan nasi uduk sekalian mampir di minimarket untuk refuelling.

Jabar Banten Loop Day 3: The Mountain Test (Sindangbarang → Muara Binuangeun, 260km)

[06:00] Start & Masalah Logistik

Perjalanan di hari ke-3 dimulai sekitar jam 6 pagi, seperti biasa. Di hari ini, kami menitipkan kembali baju kotor di penginapan untuk bisa di-pick up kurir, yang belakangan ternyata jasa pickup-nya nggak tersedia di Sindangbarang. Pada akhirnya temanku minta orang penginapan untuk mengirimkan barang kami melalui kurir terdekat. Dan itupun baru bisa dikirimkan keesokan harinya karena hari ke-3 ini jatuh pada hari Minggu, dimana kurir tutup.

Sebelum melanjutkan ke arah Palabuhan Ratu, kami sarapan dulu di warung kaki lima yang tak jauh dari penginapan. Yang penting sarapan, jadi nggak pilih-pilih makanannya. Begitu lihat ada penjual kupat tahu, langsung kami putuskan untuk sarapan di sini.

Jabar Banten Loop Day 2: The Rolling Hell (Ciamis → Sindangbarang, 308km)

[05:45] Checkout & Logistik

Kami checkout sekitar jam 5:45 pagi. Pakaian kotor dari hari pertama kami titipkan di hotel untuk di-pick up kurir dan dikirimkan kembali ke Jakarta. Lumayan, beban berkurang. Sebelum melanjutkan, kami cari sarapan di dekat alun-alun, sekalian berfoto di sana.

Pakaian kotor dikirimkan kembali ke Jakarta, titip ke penginapan
Berfoto di spot ikonik Ciamis, lanjut sarapan

Jabar Banten Loop Day 1: The Flat Marathon (Jakarta → Ciamis, 363km)

start dari Citos
[05:30] Start & Janjian di Citos

Aku start dari rumah sekitar jam 5:30. Janjian dengan Om Terry di Citos jam 6. Pagi itu cuaca cukup cerah, berkebalikan dengan cuaca seminggu sebelumnya. Tiap pagi selalu hujan, jadi nggak sempat mencoba settingan sepeda. Barang bawaanku cukup minim. Tapi karena membawa tas expedition 14L, ya kuisi aja agar nggak terlalu kosong. Dibandingkan dengan Om Terry, barang bawaanku bisa dibilang nggak minimalis: aku malah membawa handuk kecil, sajadah, dan sarung, untuk memastikan bisa sholat di kondisi apa pun.

[06:00-14:00] Pantura: Sangat Flat dan Membosankan

Kami menyusuri TB Simatupang hingga Pasar Rebo, berbelok ke arah Condet dan UKI, menyusuri jalanan Kalimalang hingga Bekasi dan dari Bekasi menyusuri jalur pantura yang sangat flat dan membosankan hingga Cirebon. Sepanjang 260km, kecepatan rata-rata kami sekitar 30km/jam. Nggak terlalu cepat, dan nggak terlalu lambat juga.

Di rute ini aku bisa merasakan sepeda baruku smooth. Di jalan mulus rasanya hampir nggak ada suara dan getaran tambahan, berbeda dengan sepeda lamaku yang sedikit berisik. Beberapa hal lain yang kuperhatikan: ban 32c bisa dibilang sangat nyaman walaupun memakai merek yang baru kudengar, Obor Mojo Stamina. Untuk jalanan yang agak kasar dan nggak mulus, masih bisa dilibas dengan nyaman.


Tapi entah kenapa aku merasa perlu power yang lebih besar daripada sepeda lamaku untuk bisa maintain speed. Entah karena ban yang profilnya lebih lebar, ataukah karena WS yang kugunakan adalah WS bawaan yang lebih berat dan kurang aerodinamis (dari spek lebih berat 300gr).

Jabar Banten Loop: Persiapan

gambaran setup sepeda
Sejujurnya tidak ada latihan khusus untuk menjajal rute ini. Hanya saja karena rutenya banyak beririsan dengan rute Jabar Loop namun dibalik arah, jadi cukup terbayang medan dan kondisi jalan yang akan dilewati. Secara fisik tidak ada persiapan khusus latihan, apalagi plannya cukup mepet, hanya sekitar 2 minggu dari sejak aku tuliskan di resolusi 2026-ku. Dalam waktu 1 minggu terakhir ini lebih banyak dihabiskan untuk perencanaan terkait bagaimana kami akan menyelesaikan rute ini: berapa target jarak harian, di mana tempat untuk menginap, dan bagaimana strategi agar tidak terlalu banyak membawa barang dengan memanfaatkan jasa logistik dan kurir.

Rute Jabar Banten Loop yang kubuat berjarak sekitar 1200km dengan elevation gain 9900m versi Strava. Rute ini start dan finish di Jakarta, sesuai namanya "loop" dan mengitari wilayah Jawa Barat dan Banten. Rute ini melewati Bekasi - Cikampek - Cirebon - Kuningan - Ciamis - Banjar - Pangandaran - Cijulang - Pameungpeuk - Rancabuaya - Sindangbarang - Agrabinta - Surade - Palabuhan Ratu - Sawarna - Bayah - Malingping - Muara Binuangeun - Cibaliung - Sumur - Tanjung Lesung - Anyer - Serang - Tangerang - dan kembali ke Jakarta. Jalan yang dilalui adalah jalan raya utama, menghindari jalan-jalan kecil jika memang tidak terpaksa.

Yang Tersisa Dari Jabar Banten Loop

Rute gowes yang berjarak kurang lebih 1200km ini pada awalnya kubuat setelah aku dan rekanku (Om Terry Tarigan) menyelesaikan rute Jabar Loop untuk partisipasi dalam event PRCC Seceng di akhir tahun 2023. Pada saat itu, masih dalam suasana euforia menyelesaikan Jabar Loop yang berjarak kurang lebih 950km, iseng-iseng kubuat rutenya jika mengelilingi Jawa Barat + Banten. Ternyata rutenya hanya bertambah sekitaran 250km. Jika pada saat itu Jabar Loop bisa kami selesaikan 3 hari 3 malam, maka seharusnya tambahan 250km ini akan menambah waktu perjalanan 1 hari saja.

Karena waktu itu hanya iseng-iseng saja, tidak ada rencana yang nyata untuk mewujudkan rute ini. Tapi ternyata di akhir tahun 2024, aku memasukkan rute ini sebagai salah satu resolusiku di 2025, yang pada akhirnya di tahun tersebut tidak terwujud juga. Banyak pertimbangan mengapa rute ini sangat sulit untuk direalisasikan:

Minggu, Maret 02, 2025

Catatan Gowes rute Ciwidey Bandung

Di penghujung tahun 2024 lalu, aku dan 2 orang temanku menjajal rute Hell of South yang konon cukup terkenal di Bandung. Namun demikian, gowesnya sendiri tidak dari Bandung melainkan dari Jakarta, dengan rencana awalnya rute yang kami ambil adalah sebagai berikut: Jakarta - Bogor - Cibadak - Palabuhan Ratu - Jampang Kulon - Tegal Buleud - Sindang Barang - Cidaun - Naringgul - Ciwidey - Soreang - Cianjur - Jonggol - Jakarta. Kurang lebih rutenya berupa loop dengan jarak tempuh sekitar 560km dengan elevation gain sekitar 7000m++.

Rute ini sebenarnya sudah kubuat sekitaran 2 tahun lalu, dan selalu menjadi wishlist ku. Namun karena konon katanya rutenya lumayan berat ditambah lagi nggak mungkin digowes sehari yang artinya perlu menginap, jadilah menjajal rute diatas ini selalu terkendala di perencanaannya. Mencari kombinasi waktu yang pas dan mood untuk gowes minggat secara kolektif bukan hal yang mudah. Sejujurnya mu gowes sendiri juga aku masih mikir-mikir, berat di effort dan bakalan garing karena dokumentasinya mungkin akan minim.

Senin, Januari 06, 2025

Wishlist dan Resolusi 2025

Tahun 2024 telah berlalu, meninggalkan cerita, pelajaran dan momen-momen berharga. Aku cukup beruntung di tengah bulan Desember lalu sempat sakit, sehingga waktu yang biasanya kupakai untuk berolahraga aku gunakan untuk pemulihan sekaligus merencanakan hal-hal yang ingin kucapai di tahun 2025. Sebagai bentuk pengingat, semua harapanku di tahun 2025 akan aku tuliskan disini. Semoga tahun depan aku tak lupa untuk membuat tulisan untuk evaluasi pencapaiannya.

Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana wishlist dan resolusiku aku kelompokkan ke dalam kategori tertentu, di tahun 2025 ini aku memilih untuk straight to the point. Tujuannya adalah agar poin-poin yang ingin kucapai menjadi lebih spesifik dan lebih mudah untuk dievaluasi.


🎯 Menyelesaikan jigsaw puzzle Starry Night karya Van Gogh.

Puzzle ini memiliki 4800 pieces dan kurasa akan menjadi tantangan tersendiri untukku. Sebelumnya aku sudah pernah menyelesaikan puzzle yang sama, namun hanya memiliki 1200 pieces. Untuk menyelesaikan puzzle ini saja membutuhkan waktu yang cukup lama, karena lukisannya sendiri bisa dibilang abstrak, banyak warna yang mirip-mirip sehingga cukup menyulitkanku dalam menyelesaikannya. Waktu pengerjaannya tidak aku batasi, namun targetku harus diselesaikan sebelum pergantian tahun.


🎯 
Strava 330 days active

Jika di tahun 2024 lalu aku berhasil mencatatkan rekor sempurna: 366 days active tanpa bolong sama sekali, maka di tahun 2025 ini aku berusaha tetap komit namun tidak akan mengejar target perfect lagi. Alasannya sederhana, target yang sempurna akan menyulitkanku ketika aku sedang pergi ke luar kota, misal karena ada keperluan kantor ataupun liburan bersama keluarga. Di tahun 2025 ini cukup 330 hari saja, dengan kategori yang masuk perhitungan adalah olahraga bersepeda dan lari (indoor & oudoor). Sementara olahraga lain seperti jalan kaki & hiking tidak masuk hitungan.


🎯 Partisipasi di Event Bersepeda

Di tahun 2025 ini aku tidak akan muluk-muluk mengejar target untuk mengikuti berbagai event gowes. Sejauh ini ada 3 yang menarik perhatianku:


  • Lakoni. Ini aku tertarik dengan konsepnya, semoga saja event ini diadakan lagi di tahun ini. Mungkin aku akan mengambil kategori pair jika ada.
  • Mangewu Mangatus 5500. Aku berharap event ini diadakan lagi di Jawa Barat, biar nggak perlu jauh-jauh nyetir. Bandung atau Tangerang sepertinya bakalan menarik. Sama seperti Lakoni, aku juga menyukai konsepnya. Rute yang dibuat sendiri memberikan tantangan tersendiri dan lebih memacu adrenalin, karena kecil kemungkinan bertemu dengan peserta lain kecuali di titik CP. Oleh karena itu, persiapannnya juga mesti lebih matang. Di event yang sebelumnya aku hampir DNF gegara ban ku bocor sampai 3x. Di event ini aku juga berharap bisa pair dengan peserta lain.
  • Audax. Setelah absen dengan sama sekali tidak mengikuti event Audax di tahun 2024, aku berencana untuk mengikuti paling tidak 1 event Audax di tahun 2025 ini. Ada beberapa opsi kota yang ingin kuikuti:
    • Malang 300K. Alasannya sederhana, karena belum pernah gowes disini. Jarak juga terhitung moderat
    • Semarang 400K. Dulu pernah ikut Audax 200K di kota ini, rutenya menarik, dan kurasa jarak 400K lebih menarik lagi. Namun aku sedikit ragu bisa ikut karena jadwal event nya ini tepat dengan hari ulang tahun anakku yang pertama.
    • Bali 400K. Sudah lama aku ingin gowes mengelilingi Bali. Aku mungkin akan mengikuti event ini jika seandainya ada barengan untuk bisa gowes rame-rame disini. Kalau nggak sih mungkin mikir-mikir lagi.
    • Jakarta Festive 600K. Jujur aku agak kapok untuk mengikuti event Audax yang diadakan di Jakarta, karena biasanya rutenya akan menerabas banyak kemacetan. Namun karena ini jaraknya 600Km, kurasa akan banyak keluar kota. Dan karena event ini kemungkinan juga berbarengan dengan event PRCC seceng, bisa sekalian nambah-nambah kilometer.


🎯 
Eksplorasi Rute Gowes Baru

Fokusku di tahun ini adalah memperbanyak eksplorasi rute-rute sepeda tanpa melalui partisipasi di event. Itungannya sih biar nggak terlalu banyak tekanan dan bisa mencari banyak konten. Di tahun 2025 ini ada 2 rute yang ingin kujajal:

  • Jabar Banten Loop. Dengan rute mengelilingi propinsi Jawa Barat dan Banten yang memutar searah jarum jam. Estimasi jarak yang ditempuh 1.215km++ dengan elevation gain 9.925m. Karena paling nggak rute ini memerlukan 5 hari gowes full, bakalan perlu persiapan yang matang untuk menyelesaikannya, terutama untuk urusan logistiknya. Berdasarkan pengalaman Jabar Loop sebelumnya, membawa terlalu banyak barang bawaan akan menyulitkan di rute-rute yang memiliki banyak tanjakan. Sehingga sepertinya perlu diatur lagi berapa jumlah BiB & jersey ganti yang perlu dibawa. Titik drop bag juga sepertinya perlu dipertimbangkan, agar tetap bisa gowes dengan nyaman namun dengan jumlah barang bawaan yang lebih manageable.
  • Citorek Loop. Dengan rute Jakarta-Bogor-Pelabuhan Ratu - Warung Banten - Citorek - Jasinga - Tenjo - Jakarta. Estimasi jarak yang ditempuh 322km dengan elevation gain 6.164m. Target utamanya adalah menginap di Citorek dan melihat keindahan lembah di atas awan. Karena hanya perlu 2 hari, kurasa rute ini lebih mudah untuk dieksekusi tanpa perlu banyak persiapan.

🎯 Perfect Strava Badge

Aku menargetkan untuk bisa menyelesaikan Strava Challenge bulanan untuk kategori berikut:

  • 5K Challenge: Menyelesaikan aktivitas lari sejauh 5km
  • 10K Challenge: Menyelesaikan aktivitas lari sejauh 10km
  • Gran Fondo Challenge: Menyelesaikan aktivitas bersepeda sejauh 100km
  • 600K Challenge: Menyelesaikan aktivitas bersepeda sejauh 600km, akumulatif dalam 1 bulan
  • Cycling Elevation Challenge: Mendapatkan elevation gain dari aktivitas bersepeda sebanyak 7.000m, akumulatif dalam 1 bulan

Seharusnya target ini tidak terlalu susah untuk dicapai. Namun demikian tetap membutuhkan komitmen dan konsistensi, terutama untuk elevation challenge dimana dalam 1 bulan harus ada gowes nanjak.

🎯 Half Marathon

Di tahun 2025 ini, aku ingin mencoba untuk mengikuti event lari. Targetku adalah mengikuti event Half Marathon namun dengan target waktu dibawah 2 jam. Secara teori sih seharusnya memungkinkan, karena terakhir aku mencoba HM catatan waktuku 2 jam 10 menit, dimana masih banyak yang bisa di-improve. Sebelum aku serius mengikuti event lari ini, sepertinya aku harus membereskan masalah kaki kananku terlebih dahulu yang mengalami cedera. Sampai sekarang jika kupakai lari dengan pace yang agak kencang, pasti sakit.

🎯 12 Buku untuk Dibaca

Jumlah ini sebenarnya tidak terlalu menantang, karena di tahun 2024 lalu jumlah buku yang berhasil kuselesaikan jauh diatas target ini. Namun demikian, aku tidak ingin terlalu banyak fokus pada jumlah. Angka 12 ini aku anggap sebagai komitmen awal agar selalu ada buku yang kubaca di sela-sela waktu luangku. Berikut adalah judul buku yang menjadi target untuk kuselesaikan di tahun ini:

  • The Dip, Seth Godin
  • The Wealth Money Can’t Buy, Robin Sharma
  • Slow Productivity, Cal Newport
  • The Power of When, Michael Breus
  • The Decision Book, Mikael Krogerus & Roman Tschappeler
  • The Monk Who Sold His Ferrari, Robin Sharma
  • Stillness is The Key, Ryan Holiday
  • Mind Management not Time Management, David Kadavy
  • Die With Zero, Bill Perkins
  • The Science of Getting Rich, Wallace D Wattles
  • Good Vibes Good Life, Vex King
  • Same as Ever, Morgan Housel


🎯 30 % Saving Rate

Aku menargetkan angka saving rate sebesar 30% di tahun 2025 ini. Angka ini merepresentasikan rasio dari jumlah uang yang tidak terkonsumsi (unspent) yang kudapat dari gajiku selama setahun penuh. Angka unspent ini adalah sisa uang gaji setelah dikurangi seluruh pengeluaran, namun diluar pengeluaran Zakat & Infaq dimana untuk pos pengeluaran ini tidak aku ambil dari gaji, melainkan dari portofolio sahamku. Di tahun 2024, saving rate ku 46%. Melihat historis dari tahun sebelumnya, angka 30% sepertinya tidak terlalu sulit untuk dicapai. Namun demikian untuk berjaga-jaga dari pengeluaran-pengeluaran yang mendadak di tahun 2025, aku pasang target 30% agar lebih realistis.


🎯 Pertumbuhan Portofolio Saham 10%

Di saat kondisi ekonomi yang sedang mengalami banyak tekanan, angka 10% sepertinya terbilang cukup besar. Namun melihat performa portofolio sahamku di tahun 2024 yang tumbuh sebesar 12.8%, rasa-rasanya target 10% masih terhitung realistis. Angka ini mungkin akan banyak tergantung pada faktor eksternal yang berada di luar kontrolku. Yang bisa aku kontrol adalah pemilihan emiten-emiten yang mengisi portofolioku. Jadi bisa dibilang given. Seandainya pada akhirnya nanti dibawah 10% dan dibawah pertumbuhan IHSG, mungkin aku perlu me-review ulang portofolioku. Jika diberi lebih, ya alhamdulillah,



🎯 
Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging adalah metode membeli saham secara dalam jumlah tetap secara berkala tanpa perlu melihat fluktuasi harga sahamnya. Metode ini biasanya dilakukan dalam periode yang cukup panjang, sehingga pada akhirnya akan didapatkan harga rata-rata yang lebih baik jika dibandingkan dengan membeli dengan metode lumpsum.

Berkaitan dengan wishlist dan resolusiku di tahun 2025 ini, aku berencana untuk melakukan DCA pada salah satu emiten kesayanganku: MPMX dengan target minimal 8 tahun. Mengapa MPMX? Karena secara historis 5 tahun ke belakang emiten ini konsisten memberikan dividen dengan yield yang lumayan, sekitar 10% dan harganya pun relatif stabil, tidak terlalu volatile. Rencanaku, pembelian akan dilakukan setidaknya 1x setiap minggunya dengan angka lot yang tetap. Sumber dana untuk investasi di saham ini berasal dari 30% saving rate yang sudah dijelaskan sebelumnya ditambah dengan dividen yang kudapatkan dari portofolio sahamku. Agar lebih mudah dalam fungsi monitoring, evaluasi, dan kontrol, investasiku di emiten ini akan aku lakukan di akun sekuritas yang terpisah yang memang hanya diisi oleh emiten ini saja. Dengan asumsi dividen yield sebesar 10%, maka diharapkan di tahun ke-8 dividen yang kudapatkan dari emiten ini sudah setara dengan nilai top up tahunanku.

Itu adalah rencana jangka panjangnya. Untuk tahun ini, aku hanya perlu memastikan bahwa nilai top up ku sesuai dengan apa yang sudah kurencanakan. Karena rencana pembeliannya juga sudah diatur (fixed setiap minggu akan membeli minimal 1x), perlu dipastikan juga sustainability nya, jangan sampai ketika waktunya beli, dananya tidak ada.


🎯 5 Digit Portofolio Saham

Manusia hanya bisa berencana, namun rezeki sudah ada yang mengatur. Wishlist ini termasuk yang sangat ambisius, ibarat ngarep menang lotre. Tapi namanya juga #ngarep, tidak ada yang melarang. Melihat realita dan performa di tahun ini, wishlist ini akan lebih realistis dicapai dalam 2-3 tahun kedepan. Jujurly, aku melihat tahun 2025 bakalan suram. Namun pasar saham yang suram tentunya akan memberikan banyak peluang jika kita masih punya amunisi yang cukup.

Seandainya wishlist ini bisa tercapai di tahun 2025, sepertinya aku akan melakukan beberapa penyesuaian di portofolioku. Cash out beberapa emiten yang mungkin sudah bisa aku ambil profitnya, dan memindahkannya ke instrumen lain yang memberikan return yang tidak terlalu besar namun memiliki resiko yang lebih minim.



🎯 
Road Trip ke Bali

Setelah menjajal road trip ke Banyuwangi & Bali di tahun 2024 lalu, di tahun 2025 ini aku ingin menjajal kembali road trip ke Bali. Kali ini destinasiku bukan Bali Barat lagi, melainkan Bali daerah Tengah (Ubud & Bedugul) dan daerah Nusa Penida. Harapannya sih di tahun ini perjalanannya tidak terburu-buru jadi bisa benar-benar menikmati perjalanan dan mungkin mampir di beberapa kota ketika perjalanan pulang nantinya. Kota Malang dan Tulungagung ada di dalam list kota yang mungkin akan kusinggahi nantinya, sambil melihat situasi apakah waktu kami cukup untuk mampir.



🎯 
A Brand New Bike

Sebenarnya ini adalah satu wishlist yang sangat sulit untuk direalisasikan karena sepedaku saat ini masih berfungsi normal. Walaupun mungkin ada beberapa kekurangan yang disebabkan karena masa pakainya yang sudah lebih dari 8 tahun, namun aku masih bisa mentoleransi. Dengan kondisi ini, justifikasi untuk membeli sepeda baru tidak cukup kuat, walaupun sejujurnya untuk melakukan pembelian ini visa nya sudah keluar entah dari kapan. Oleh karena itu, wishlist ini akan kueksekusi dalam bentuk self reward jika emiten kesayanganku TSPC menyentuh harga 3000 di tahun 2025. GTC sudah dipasang, dan aku tinggal duduk manis, apakah harga 3000 bisa tersentuh, dan jemuran sahamku ada yang mengambil.

Senin, Januari 08, 2024

Catatan Liburan ke Situ Gunung

Di awal bulan Desember lalu aku dan keluargaku menginap di Situ Gunung, Sukabumi sebagai bagian dari pembayaran sajen untuk acara gowes Jabar Loop ku yang akan kueksekusi di minggu depannya. Rencana ini sempat tertunda 4 bulan dimana waktu itu tol seksi Cigombong-Cibadak baru dibuka di bulan Agustus. Harapannya dengan dibukanya tol hingga Cibadak, perjalanan menuju Situ Gunung yang biasanya sangat-sangat melelahkan bagi sopir baik ketika pergi maupun pulang bisa lebih menyenangkan.

Namun pada kenyataannya setelah pintu tol sudah dibuka sampai Cibadak, jalurnya tetap saja seperti neraka. Perjalanan ketika pergi maupun pulang tercatat memerlukan waktu 4-5jam ++ dimana ekspektasiku bisa dicapai dalam 3 jam. Dari Cibadak hingga pertigaan yang menuju Situ Gunung ini hanya berjarak 10-12 km an kalau aku nggak salah hitung. Namun demikian, jarak sependek ini harus ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Benar-benar pemborosan waktu. Well, Situ Gunung ini adalah salah satu tempat favoritku, dan ada kemungkinan kedepannya aku akan kesini lagi. Namun dengan kondisi seperti ini, aku mungkin akan menunggu hingga tolnya benar-benar sudah sampai Sukabumi terlebih dahulu sebelum berpikir untuk memutuskan apakah akan berlibur kembali kesini atau nggak.