Minggu, Oktober 25, 2009

SSH tanpa password pada Putty

Pada tulisan sebelumnya (SSH Tanpa Password), dibahas mengenai bagaimana melakukan autentikasi SSH tanpa memasukkan password di Unix. Pada tulisan kali ini, aku ingin mengulas langkah-langkah autentikasi SSH tanpa password menggunakan PuTTY di Windows. Di Windows, proses ini dapat dilakukan menggunakan tools PuTTYgen untuk meng-generate pasangan public/private key, PuTTY sebagai SSH client, serta Pageant yang bersifat optional sebagai authentication agent untuk PuTTY.

Membuat pasangan Public/Private Key
Untuk meng-generate pasangan public/private key, jalankan aplikasi PuTTYgen.


Klik Generate untuk membuat pasangan public/private key yang baru. Jika memiliki private key yang sebelumnya dibuat di Unix, bisa melakukan import dengan mengklik Conversions->Import Key.


Masukkan Key comment sesuai dengan keinginan. Kosongkan field Key passphrase dan confirm passphrase agar ketika melakukan autentikasi SSH tidak perlu memasukkan password. Namun demikian, passphrase ini bisa diisi bebas. Jika passphrase diisi, untuk melakukan login SSH tanpa memasukkan password sama sekali, dapat menggunakan toos Pageant yang hanya menanyakan passphrase sekali saja ketika key nya ditambahkan dalam daftar key di Pageant.

Simpan public key dan private key yang telah dibuat. Private key yang dibuat akan memiliki ekstensi .ppk.

Untuk menyimpan public key yang dibuat di server tujuan agar dapat melakukan autentikasi SSH menggunakan private key yang dibuat sebelumnya, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Login ke server tujuan menggunakan PuTTY.
  2. Tambahkan isi public key yang telah dibuah ke dalam file ./ssh/authorized_keys yang ada pada direktori home user yang dituju.
  3. Login ke Server menggunakan Putty
Agar dapat menggunakan private key yang telah dibuat sebelumnya di PuTTY, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Jalankan aplikasi PuTTY.
  2. Pilih menu Connection->SSH->Auth. Klik browse dan pilih private key yang telah dibuat.
  3. Pilih menu Connection->Data. Masukkan auto-login username dengan user account yang dituju pada server tujuan. Ini dilakukan agar ketika melakukan autentikasi, tidak perlu memasukkan username dan password.
  4. Pada menu Session, masukkan alamat host server tujuan, dan masukkan nama session dan klik Save untuk menyimpan session. Ini dilakukan agar konfigurasi sesi yang diinginkan bisa disimpan, dan kedepannya tidak perlu repot-repot lagi untuk melakukan langkah 2 dan 3.
  5. Klik Load pada sesi yang telah disimpan untuk melakukan login ke server tujuan.
Menggunakan Pageant
Pageant dapat digunakan untuk memudahkan proses autentikasi menggunakan pasangan public/private key pada PuTTY. Aplikasi ini akan menyimpan private key yang telah dibuat sebelumnya menggunakan PuTTYgen di memory, sehingga pengguna dapat menggunakannya langsung tanpa perlu memasukkan passphrase yang ada pada private key tersebut. Dibanding dengan cara sebelumnya, pengguna masih bisa melakukan login tanpa perlu memasukkan password walaupun private key tersebut diproteksi dengan passphrase. Pengguna hanya akan diminta untuk menginput passphrase yang benar ketika menambahkan private key untuk selanjutnya disimpan di memory.

Pageant memungkinkan pengguna tidak perlu mengatur konfigurasi private key pada PuTTY. Bahkan jika pengguna tersebut memiliki lebih dari satu private key yang digunakan untuk melakukan login pada server yang berbeda-beda, semuanya dapat diakomodasi melalui Pageant.

Untuk menggunakan PuTTY bersama Pageant, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Jalankan aplikasi Pageant.
  2. Pada jendela utama, klik Add Key untuk menambahkan private key untuk disimpan di memori. Masukkan passphrase jika ada.
  3. Jalankan Putty, dan login ke server tujuan.
Artikel terkait:
SSH Tanpa Password

Sabtu, Oktober 17, 2009

Unfinished Bridge

Foto ini aku ambil di Putrajaya, sebuah kawasan pusat pemerintahan yang letaknya tak terlalu jauh dari Kuala Lumpur. Ketika senja tiba, semua pemandangan dan arsitektur seperti ini terlihat begitu indah. Hanya sayangnya saja ketika gampar ini aku ambil, aku belum mempersiapkan tripod agar efek air di danau buatannya tak terlihat kaku. Momen seperti memang tak berlangsung lama. Tak berapa lama setelah mengambil foto ini aku mengambil dan mempersiapkan tripod. Namun matahari sudah semakin tenggelam, sehingga langit yang semula jelas terlihat biru kemerahan menjadi gelap.

Putrajaya dapat ditempuh dari Kuala Lumpur dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena kawasan ini adalah pusat kantor-kantor pemerintahan, yang termasuk didalamnya kantor Perdana Menteri, ketika hari libur tiba, kota ini tampak seperti kota mati. Jalanan begitu lengang dan kosong. Kalau ada kota semacam ini di Indonesia, pasti sudah dipenuhi orang-orang yang pacaran karena saking sepinya, dan jalanannya digunakan untuk balapan liar. Dengan arsitektur bangunan yang terhitung baru, yang menurut informasi dibangun sekitar 10 tahun yang lalu ketika Malaysia sedang berada pada jaman keemasannya, ditambah dengan lengangnya kota, plus suasananya yang aman, kota ini cocok untuk fotografer yang demen mengambil foto-foto arsitektur: dari mulai kantor Perdana Menteri, Mesjid Rayanya, plus bangunan-bangunan lain.

Di tengah-tengah kota, dibuat danau buatan yang lumayan besar. Dan setahuku sampai ada wisata perahunya juga. Di tengah-tengah danau dibangun beberapa jembatan, yang aku taksir minimal ada 4 lah yang menyeberangi danau ini. Salah satunya adalah jembatan yang ada dalam fotoku diatas. Entah mengapa jembatan ini tak diselesaikan. Untuk sebuah negara kaya seperti Malaysia kurasa nggak banget kalau alasannya karena kekurangan dana. Atau mungkin sengaja tidak diselesaikan karena objeknya menarik untuk para fotografer yang berkunjung.

Senin, Oktober 12, 2009

Kerjaan: Lain dulu, lain sekarang

Well, setelah 2,5 tahun bekerja di perusahaan yang selama ini aku anggap sebagai tempat bekerja yang menyenangkan, aku sempat kepikiran untuk menulis perbandingan job desc ku, dan segala hal yang terkait dengan kerjaanku ketika pertama kali masuk dan keadaan saat ini. Setelah aku pikir-pikir perbedaannya lumayan jauh. Beberapa ekspektasiku terpenuhi, dan beberapa lagi lewat begitu saja. Untuk itu, dalam tulisanku kali ini, aku mencoba membuat perbandingan baik secara obyektif dan subyektif dari sudut pandangku.

3 bulan pertama: Masa Probation
  • Berasa makan gaji buta. Masih belum jelas apa pekerjaanku. Bahkan sempet kepikiran sebenarnya di departemenku butuh orang tambahan nggak sih?
  • Biasanya ngebantu-bantuin kerjaan senior, yang untungnya sih baik-baik dan nggak pernah sampe disuruh bikin kopi :P
  • Suasana kerja sangat menyenangkan, lingkungannya nyaman. Secara umum, tingkat stress dalam lingkungan kerja masih tergolong rendah.
  • Belum diberikan tanggung jawab untuk memegang suatu proses bisnis tertentu atau peoyek tertentu
  • Waktu banyak terbuang dengan percuma, karena nggak banyak yang dikerjakan. Bisa aku manfaatkan untuk membaca beberapa ebook serta artikel-artikel lain.
  • Lembur: Karena kerjaan dikit, kayaknya cuma beberapa kali aja, itu juga untuk kerjaan-kerjaan yang mendadak dan perlu dikerjakan cepet.
  • Rasio job desc dan gaji: sangat worth lah, malah berasa makan gaji buta.
  • Email: tiap hari masih kosong. Rata-rata menerima email dikit banget, dan isinya biasanya bukan kerjaan.
    Jam kantor: datang pagi-pagi, pulangnya nggak terlalu malam lah (probation gituh loh)

3 bulan sampai 1 tahun pertama:
  • Mulai diberikan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih spesifik
  • Load pekerjaan secara umum masih belum terlalu tinggi. Waktu luang yang dimiliki masih banyak. Rasio antara kerja dan nggak kerja, bisa dibilang 1:1.
  • Mulai melihat adanya beberapa proses bisnis yang bisa diautomatisasi. Yang tentunya jadi kerjaan iseng-iseng berhadiah. Kalau jalan diterusin, kalau nggak ya udah.
  • Ketika load pekerjaan sedang mencapai puncaknya, efeknya cuma sementara dan tidak terus berlanjut. SLA untuk pekerjaan masih bisa dijamin. Pekerjaan paling telat dikerjakan keesokan harinya dan bisa langsung solved.
  • Lembur: Jarang banget. Sesekali masih boleh lah. Rata-rata lembur sebulan maksimal 2 atau 3 kali. Kalau sengaja nyari lemburan sih jangan mimpi deh.
  • Rasio job desc dengan gaji: masih sama, belum ada keluhan. :P
  • Email: walaupun email yang masuk mulai banyak, biasanya jarang sampai menumpuk. Ketika aku pulang, aku pastikan semua email sudah terbaca dan ter-follow up.
  • Sore-sore masih sering ada ajakan untuk makan mie ayam di belakang kantor. Padahal waktu masih menunjukkan jam 4.
  • Akhir tahun ketika semua masih cuti, masih bisa sempet maen game rame-rame se-divisi. Jam kerja pula lagi.
    Jam kantor: datang jam 8 an lewat, pulangnya tepat waktu :D
1 tahun pertama sampai tahun kedua:
  • Sejak ganti bos baru, kerjaan jadi lebih fleksibel, walaupun secara load sih sama aja.
  • Load pekerjaan tentunya meningkat lah. Kerjaan yang aku lakukan sudah jauh lebih spesifik dan general (loh): mulai dari ngurusin audit, dokumen harian, urusan koding dan automatisasi, dan sampe iseng-iseng memanfaatkan PC yang nggak kepakai sebagai server lokal yang akhirnya malah kepake banget.
  • Mulai melihat adanya ketergantungan data dari IT, biar nggak bolak-balik minta terus. Tapi apa daya nggak punya storage yang cukup.
  • Suasana kerja masih menyenangkan, beberapa orang senior yang diberikan tanggung jawab yang lebih besar mulai sibuk mengurusi hal-hal yang non teknis. Ini menyebabkan pekerjaan teknis jadi beraalih ke aku semua.
  • Pagi-pagi masih bisa baca koran. Jam kerja yang bener-bener kerja baru mulai jam 10 pagi, dan biasanya jam 3 atau jam 4 dah kelar semua. Bisa istirahat dan pulang cepet.
  • Jam kantor: dateng rada siang, dan pulang tepat waktu. Intinya ngapain kerja lama-lama kalo bisa pulang cepet. Mulai melihat adanya peluang untuk memperoleh dan belajar hal lain di luar jam kantor.
  • Masih sempet lah ngerjain proyek-proyek diluar kepentingan kantor di luar jam kantor.
  • Email: kayaknya nggak ada perubahan dari yang sebelumnya.

Setelah tahun kedua
  • Restrukturisasi dan reorganisasi mengacaukan segalanya. Kurang resources menjadi hal yang lumrah.
  • Jam kantor: datang sebelum jam 8, pulangnya bisa sampai malam.
  • Load pekerjaan: meningkat dengan drastis. Issue kurang orang menjadi issue utama, namun nggak bisa solved dengan segera karena ada kebijakan zero growth dari perusahaan
  • Suasana kerja sudah mulai tak kondusif (karena loadnya tinggi) walaupun masih menyenangkan lah.
  • Pagi-pagi, udah nggak keburu baca koran. Kerjaan utama pagi-pagi adalah panen di Farm Ville mumpung lagi sempet. Siangnya biasanya udah kesita dengan banyak pekerjaan.
  • Pekerjaan menjadi nggak fokus. Banyak sekali hal-hal kecil yang harus dikerjakan walaupun tidak mendesak tapi penting. Mesti bisa bekerja dan menyelesaikan masalah secara all-in-one.
  • Email: Ini sih jangan tanya. Lagi weekend 2 hari aja bisa-bisa nambah sampai puluhan, apalagi pas hari kerja. Bikin stress pas ngebuka email hari Senin pagi.
  • Kebanyakan target yang mesti dicapai. Padahal banyak hal juga yang mesti dibenahi dari proses bisnis yang sudah ada dan berjalan sejak dulu kala.
  • Lembur: Suka-suka deh. Kalau dulu nyari lemburan susah karena emang mau ngerjain apa lagi. Kalau sekarang: bisa milih mau lembur hari apa. Selalu ada pekerjaan yang bisa dikerjakan untuk lembur.
  • Sore-sore bawaannya mau pulang cepet aja kalau lagi nggak ada pekerjaan. Biar bisa cepet sampai rumah dan istirahat deh.
  • Rasio gaji dan job desc: Bikin ngeneg aja. Apalagi kena korban Job Valuation di perusahaan yang konon katanya bulan Oktober ini udah kelar.
Yah, memang ada suka dukanya. Yang penting masih bisa dinikmati lah. ;)

Selasa, Oktober 06, 2009

Bad Mood

Bayangkan apa yang terjadi ketika Mars yang sedang stress, mengantuk, dan capek karena workshop yang berlangsung seharian penuh, dan mana sampai malam pula, tiba-tiba dimarahi oleh seorang Venus yang tanpa diduga-duga mendebatnya, menyalahkannya, dan bahkan tak memberinya kesempatan untuk berbicara untuk menjelaskan. Menurut John Gray, ketika Mars stress, hormon testosteronnya akan menurun, dan butuh istirahat dengan tenang untuk menaikkan kembali kadar hormonnya sehingga stressnya bisa berkurang. Jadi bisa dibayangkan apa akibatnya: jelas Mars akan berusaha mengakhiri konflik seolah-olah cuek. Sebenernya lain lagi ceritanya kalo si Venus disini adalah seseorang yang spesial untuk si Marsnya. Berhubung ini Venusnya juga siapa dia gitu, yang berhak untuk memarah-marahi dan tanpa kompromi langsung menyalahkan. Emang gw pikirin???

Malam itu, rusaklah sudah moodku. Sampai akhirnya mau nginep di hotel nggak jadi dan prefer untuk pulang dan tidur di rumah. Kayaknya ini udah kelewatan. Dulu ngomong aku orang gagal, sementara sekarang seenak jidat sendiri main-main nyalah-nyalahin.

Nggak perlu lah aku sebut orangnya ataupun apapun itu masalahnya. Satu hal yang perlu aku tekankan disini adalah: sesuatu yang disembunyikan, lama-lama juga pasti akan ketahuan. Apalagi kalau orangnya jujur, secara tak langsung akan banyak mengeluarkan sinyal-sinyal 'kejujuran' yang tanpa disadarinya ditangkan oleh orang-orang bertipe pengamat *tipe 5* yang memiliki insting yang cukup tajam. Apalagi waktunya sudah berjalan cukup lama, sehingga walaupun lingkungan sekitar tampak anteng-anteng aja, padahal mereka sudah tahu semuanya. Dan ini harusnya disadari sejak awal.

Yang kedua adalah: facebook, blog, dan aplikasi-aplikasi web sejenis bersifat publik. Kalo memang nggak mau dicurigai, ya ngapain nulis macem-macem disitu dengan sesuatu yang memancing perhatian dan keingintahuan orang-orang. Situ yang posting, gw yang komen, kok jadi nyalahin. Emang pernah ngasih statement gw nggak boleh komen? Konyol banget deh.

Ketiga: ketika bertemu dengan temen-temen sendiri di lingkungan sendiri pula, sebaiknya jangan terlalu curiga atau menuduh deh. Kalo memang nggak ada maksud apa-apa, kenapa mesti disalah-salahin sih? GR amat. Lagian menanyakan kabar temennya sendiri emang nggak boleh ya? Hal yang konyol. Just want to make this thing clear: I don't even need to talk to them, I believe they already know this. Mana bisa menduga mereka belum tahu, emang udah pernah nanyain satu-satu. Alibi yang nggak berdasar.

Capek deh...

Jumat, Oktober 02, 2009

Warrior of The Light

Ini adalah buku ke-11 Paulo Coelho yang aku baca. Nggak terasa sudah 10 buku aku baca sejak pertama kali membaca The Alchemist yang direkomendasikan oleh salah seorang teman kantorku. Pada awalnya kukira isi buku ini mirip seperti Like The Flowing River yang lebih berisi cerita-cerita yang ditulis Coelho selama dalam kurun waktu tertentu. Jadi semacam rangkuman catatan-catatannya dia. Ternyata Warrior of The Light lebih berisi manual atau petunjuk, tapi isinya nggak nge-judge, namun inspiratif.

Memang dalam buku ini dia menempatkan seorang 'Warrior' sebagai inti semua petunjuknya. Seolah-olah mengatakan seorang 'Warrior' itu seperti begini dan begitu, akan melakukan hal-hal seperti ini dan seperti itu. Walaupun isinya inspiratif, terkadang aku masih nggak ngerti kenapa dia mesti menggunakan 'Warrior' sebagai inti ceritanya. Karena dari kata pengantar dan penutup bukunya, seolah semuanya menjadi tak jelas antara imajinasi dan kenyataan. Aku menangkap kesan 'Warrior' ini sebagai imajinasi fiktif dan tidak nyata. Entah apakah 'Warrior' ini diambil karena Coelho tidak menemukan kiasan dan tokoh fiktif yang tepat, sehingga dia memutuskan untuk menggunakan 'Warrior of The Light' sebagai inti cerita dan tokok utama.

Aku setuju buku ini sangat inspiratif, tapi aku merasa seolah ada yang kurang dalam penyajiannya. Aku malah lebih suka dengan Like The Flowing River nya. Namun demikian, kurasa tiap orang memiliki persepsi berbeda. Kalau membaca review bukunya di Goodreads, banyak yang memberikan rating 5, mungkin karena mereka cocok dengan penyajiannya. Tapi ada pula yang memberikan rating yang kurang memuaskan. Sepertinya otaknya nggak nyambung tuh dengan pemikiran-pemikiran Paulo Coelho, jadinya sekalinya memberikan rating, dikasih bintang 1. Buku ini cocok lah untuk orang-orang yang demen mencari inspirasi.