Cerita ini dimulai ketika aku yang pada saat itu belum mengenal dunia saham tetiba mendapatkan opsi untuk mendapatkan saham TLKM melalui ESOP (Employee Stock Ownership Program). Saham ini sudah lama tak berada di portofolioku, semua sahamnya kujual setelah periode lock-up nya selesai. Keputusan untuk membeli ESOP ini mungkin terlihat remeh, namun setelah waktu berlalu hingga kini, dampaknya luar biasa pada kehidupan yang aku jalani.
Tahun 2026 adalah tahun ke-13 ku berkecimpung di pasar saham. Banyak cerita yang mewarnai perjalananku dalam rentang waktu tersebut. Banyak pelajaran yang bisa kupetik dari perjalananku di pasar saham. Bukan pelajaran finansial, namun justru yang paling banyak kurasakan adalah pelajaran tentang hidup. Yang kuingat, dulu aku cukup idealis: dunia seharusnya berjalan di kondisi ideal yang memenuhi aturan.
Selama ini, aku pernah merasa sudah melakukan analisis dengan benar, tetapi harga saham bergerak berlawanan. Aku pernah memegang saham yang naik tinggi, tetapi gagal menjualnya di waktu yang tepat. Aku juga pernah membeli saham karena ikut-ikutan, lalu harus menanggung akibatnya. Dari sana aku mulai memahami bahwa pasar saham bukan hanya tempat menguji kemampuan membaca laporan keuangan dan key stat suatu emiten, melainkan juga tempat menguji karakter dan mental.
Kembali ke masa kini, aku tak lagi memandang kehidupan ini sebagai hitam dan putih. Banyak gradasi abu-abu di antara keduanya. Pasar saham mengajarkan bahwa manusia hanya dapat mengendalikan proses dan responsnya, bukan hasil akhirnya. Emiten yang bagus belum tentu sahamnya naik, emiten yang jelek juga belum tentu harga sahamnya turun. Pasar saham lebih terlihat sebagai panggung sandiwara, di mana para pelakunya harus lebih hati-hati dengan apa yang tampak di depan mata. Pasar saham adalah tempat di mana batu dijual seharga berlian dan berlian dijual seharga batu bukan sebagai sesuatu yang mustahil.
Di tulisan ini, aku ingin sedikit berbagi cerita dari perjalanan 13 tahunku mengarungi dunia pasar modal, sekaligus sebagai refleksi untuk diriku sendiri untuk bisa terus belajar dan berkembang.
Disclaimer: Tulisan ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi memiliki risiko dan perlu disesuaikan dengan kondisi serta profil masing-masing investor.
Daftar Isi
Pelajaran 1: Manusia hanya bisa berikhtiar
Pelajaran 2: Ego adalah musuh terbesar
Pelajaran 3: Spekulasi boleh, tapi pahami konsekuensinya
Pelajaran 4: Investasi itu seharusnya sederhana, jangan dibuat rumit
Pelajaran 5: Power of letting go
Pelajaran 6: Kesabaran adalah kunci
Recap: Pentingnya mengelola risiko
Penutup
Istilah & definisi singkat
Pelajaran 1: Manusia hanya bisa berikhtiar
Bisa dikatakan, ini adalah pelajaran yang paling menempel di kepalaku. Pasar saham mengajariku bahwa banyak sekali hal-hal yang tidak bisa kukontrol: saham yang kita miliki tiba-tiba loncat tinggi atau malah jeblos tanpa kita tahu apa penyebabnya, atau tiba-tiba memberikan dividen besar atau bahkan tiba-tiba delisting karena terkena kasus atau force majeure, dan lain sebagainya. Banyak informasi yang tidak kita ketahui. Memiliki informasi lebih banyak belum tentu analisis kita benar. Analisis kita benar pun belum tentu harga sahamnya naik. Ini semua menyadarkanku bahwa sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang memiliki kontrol terbatas pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
Beberapa kali aku mengalami kondisi di mana aku akan dapat keuntungan yang sangat banyak jika dalam beberapa waktu sebelumnya aku melakukan aksi tertentu (misal membeli dalam jumlah banyak, atau menunda penjualan semua sahamku dan menunggu waktu yang lebih lama), atau tiba-tiba mendapatkan rezeki nomplok dari dividen yang di luar ekspektasi seperti dua contoh dibawah ini:
TKIM
Dulu aku pernah memiliki saham TKIM cukup banyak. Waktu itu aku yakin (perlu kutegaskan rasa yakin ini seharusnya dihindari, karena tidak ada yang pasti di sini) saham ini akan naik kencang melewati angka 20.000 per lembarnya karena sedang ekspansi cukup besar. Pada kenyataannya harga saham ini tidak pernah melewati angka tersebut. Aku akan mendapatkan realized gain yang cukup besar jika berhasil kujual di harga pada saat itu yang berada di angka 18 ribuan rupiah. Namun pada kenyataannya aku tidak menjualnya. Hari itu, harganya mencapai All Time High (ATH), dan setelah itu terkoreksi terus dan pada akhirnya aku harus rela menjualnya di harga yang tak terpaut cukup jauh dari harga ATH nya. Analisis atau tesis investasi yang pada akhirnya terbukti benar pun tak serta-merta akan membuat harga saham naik mengikuti ekspektasi kita.
HEXA
Contoh lainnya adalah ketika aku memiliki saham HEXA, yang kumiliki karena emiten ini rajin membagikan dividen dengan yield cukup tinggi, sekitar 10-15% pada saat itu. Di tahun 2021 silam, tiba-tiba emiten ini memutuskan untuk membagikan saham dengan yield 35% (berdasarkan harga rata-rataku). Siapa yang menyangka ketika ekspektasi yield hanya 10-12% tiba-tiba malah diberi 35%.
Dari dua contoh ini, aku percaya bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur, jadi tidak perlu ngoyo. Yang penting kita sudah ikhtiar berinvestasi di saham yang kriterianya benar. Harga sahamnya naik atau turun, ini sudah di luar kontrol kita.
Pelajaran 2: Ego adalah musuh terbesar
Ego adalah musuh terbesar dalam perjalanan investasiku. Bisa muncul dalam bentuk Fear of Missing Out (FOMO), greed, atau terus average down tanpa melakukan analisis lebih lanjut. Godaannya nyata, bahkan setelah lewat bertahun-tahun dan pernah kejeblos pun, seringkali perasaan FOMO ini muncul tanpa sadar, dalam bentuk yang lebih samar. FOMO di dalam pasar saham seringkali berkaitan dengan aksi pembelian atau penjualan yang agresif karena mengikuti trend atau hype dari lingkungan sekitar (bisa dari teman, media sosial, maupun berita yang sedang beredar). Jika FOMO dipicu oleh faktor eksternal, greed lebih disebabkan oleh faktor internal, merasa yakin bahwa emiten yang dipegang memiliki fundamental bagus dan diprediksi akan to the moon, sehingga menambah porsi lebih banyak untuk mendapatkan untung yang lebih besar. Sementara itu terus-menerus melakukan average down lebih kuanggap sebagai perilaku denial, tidak mau mengakui kalau emiten yang kita pilih salah (dan akan selalu mencari berita-berita positif dan denial terhadap sisi negatifnya). Di sini, keputusan jual beli menjadi lebih emosional tanpa pertimbangan dan analisis yang kuat mengapa aku harus melakukan transaksi itu dan risiko-risiko apa yang mungkin timbul dari aksi ini.
B7
Contoh pertama adalah pada saat itu aku membeli saham B7 (Bakrie group). Sejujurnya jika saat ini aku ingat kembali masa-masa itu, rasanya pembelianku pada saat itu bisa kukatakan tak masuk akal. Bagaimana tidak, secara fundamental bisa dibilang kurang bagus, GCG juga diragukan, tidak ada dividen pula sebagai bantalan jika terjadi sesuatu yang di luar ekspektasi. Namun kenyataannya pada saat itu aku mengoleksi hampir semua saham B7 karena pengaruh hype dan berita di internet. Mau cuan malah buntung (beruntung beberapa ada yang berhasil exit dengan cuan walaupun menunggu lumayan lama, beberapa sahamnya ada yang terkena suspend cukup lama). Pengalaman ini kuanggap sebagai sunk-cost, ongkos belajar yang memang tidak akan didapatkan dengan mudah melalui teori, tetapi perlu dirasakan dari pengalaman nyata.
TRAM
Contoh lainnya adalah membeli saham TRAM yang kini sahamnya suspend sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Secara fundamental, saham TRAM ini mirip-mirip B7. Pada saat itu cukup ramai dibahas, dan karena transaksi hariannya cukup tinggi dan likuid jadi nyicip, turun nambah, average down, dan demikian seterusnya sampai harganya 50 dan terkena suspend karena ada kasus dengan komisarisnya. Ini semua karena FOMO & denial. FOMO karena ikut-ikutan orang, dan egoku juga bermain di sini. Ketika porto minus, seringkali kita bernafsu untuk average down, bukannya me-review lebih lanjut apakah ada yang salah dengan saham yang sudah kupilih. Ini dilakukan untuk memberi makan ego diriku sendiri: bahwa keputusanku untuk membeli saham yang telah kupilih sudah benar, dengan melakukan average down, agar ketika sahamnya naik cuannya bisa lebih banyak. Aku juga menjadi denial dengan informasi & fakta negatif yang mungkin menyebabkan sahamnya turun terus, tidak melakukan refleksi lebih lanjut dan tidak mau mengakui kerugian (cut loss), karena cut loss berarti aku mengakui kesalahan yang telah kubuat.
SMDR
Contoh FOMO yang lebih samar adalah yang berlanjut ke greed. Ketika saham yang dipilih memiliki fundamental yang baik lalu sahamnya pada akhirnya ikut naik, aku menambah posisi di sini, dan langsung banyak. Apalagi ditambah dengan berita-berita positif yang mendorong harga sahamnya terus naik. Di sini FOMO berubah menjadi greed, tamak. Ingin cuan lebih, ditambah lagi saham yang dipilih bukan gorengan, jadi semakin yakin harga saham akan terus naik. Contoh ini bisa kugambarkan dengan kepemilikanku di SMDR. Pada saat itu aku beruntung memiliki saham ini di harga rendah karena utang minim dan rajin membagi dividen. Tiba-tiba ada lonjakan cukup besar pada tarif kargo yang menyebabkan keuntungan emitennya meningkat pesat. Pada akhirnya aku menambah porsi dalam jumlah banyak. Banyak berita-berita positif pada saat itu: ekspansi perusahaan yang masif, dan owner juga rajin menambah porsi kepemilikannya. Pada akhirnya walaupun aku bisa untung, namun tidak maksimal, karena greed. Seharusnya mengurangi posisi ketika harga sahamnya sudah tidak masuk akal lagi, malah tetap berharap sahamnya naik terus. Dan pada akhirnya ketika sudah turun jauh dari harga tertingginya aku baru menjual sahamnya.
B7 mengajariku bahaya membeli tanpa dasar. TRAM mengajariku bahwa kesalahan pertama dapat berubah menjadi kesalahan yang lebih besar ketika diteruskan dengan average down. SMDR menunjukkan bahwa bahkan saham berkualitas pun dapat membuatku kehilangan disiplin ketika greed mulai mengambil alih.
Ego ini memang paling sulit dilawan. Musuhnya bukan investor lain, melainkan diri sendiri, di mana emosi dan akal sehat selalu bergerak dinamis, naik turun. Salah satu caraku saat ini untuk melawan rasa FOMO, greed, dan denial ini adalah dengan memilih saham dengan fundamental yang baik, lalu menerapkan prinsip DCA (Dollar Cost Averaging), di mana aku mengalokasikan sejumlah angka tertentu untuk melakukan pembelian suatu saham secara bertahap. Misal jika ada saham X aku menargetkan untuk memiliki 1000 lot sampai akhir tahun. Maka aku bisa memecahnya menjadi per bulan atau per minggu. Katakanlah ada 10 minggu lagi, maka aku akan melakukan pembelian 100 lot tiap minggu di harga berapapun pada saat itu. Dengan metode ini, aku bisa mengeksekusi tanpa perlu terburu-buru dan tanpa banyak terpengaruh oleh emosi. Dengan DCA, mungkin keuntungannya tidak maksimal, namun risiko bisa lebih di manage ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan: harga yang kudapatkan adalah harga rata-rata selama periode pembelian melalui skema DCA ini.
Pelajaran 3: Spekulasi boleh, tapi pahami konsekuensinya
Pelajaran ini masih berhubungan dengan ego. Didorong FOMO dan greed beberapa kali aku memutuskan untuk masuk ke suatu saham dengan ekspektasi dapat mengambil keuntungan dengan cepat. Keputusan ini hanya berdasar dari ekspektasi berlebihan tanpa melakukan analisis lebih jauh. Tepatnya aku berusaha untuk berspekulasi saham A akan naik dalam waktu dekat dengan triggernya berita-berita positif seperti ekspansi, isu corporate action, dan lain sebagainya. Memang dari beberapa kali percobaan aku melakukan spekulasi ini, ada juga yang berhasil cuan. Tapi kalau kupikir lebih lanjut, ini karena faktor keberuntungan saja.
Spekulasi ini akan memberikan dampak kerusakan yang besar jika saham yang dibeli cukup banyak dan dan hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Kerusakan ini menjadi lebih besar jika setelah tahu hasilnya tidak sesuai ekspektasi, malah tidak cepat-cepat menjual dengan berspekulasi lagi jika penurunannya hanya sekedar koreksi, bukannya terus turun menuju jurang.
SRIL
Salah satu contoh spekulasi yang penerapannya salah adalah ketika aku membeli saham SRIL di 2015-2016 silam. Saham ini sempat masuk watchlistku karena labanya yang cukup besar pada saat itu dengan P/E (price-to-earnings ratio) dibawah 10. Aku berspekulasi harga saham nya bisa naik karena P/E rasio nya terhitung rendah. Pada akhirnya spekulasiku ini disebabkan karena keterbatasan ilmuku pada saat itu, yang tidak mempertimbangkan angka Debt to Equity Ratio nya yang besar, di atas 1. Artinya utang yang harus ditanggung perusahaan sudah di atas nilai bukunya. Jujur aku tidak ingat apakah pada saat itu aku berhasil exit dengan kondisi untung atau rugi.
Namun demikian, berdasarkan perjalanan investasiku, aku melihat spekulasi ini bukan sesuatu yang perlu dihindari selama konsekuensinya bisa dipahami, agar risikonya bisa dibatasi. Jika baru mau masuk ke suatu saham dan berekspektasi di jangka pendek, perlu dipastikan emitennya memiliki fundamental dan margin of safety yang baik, dan tetapkan strategi exit, jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan maka harus melepas semua kepemilikan dengan disiplin. Contoh spekulasi yang bersifat positif akan kujelaskan di pelajaran berikutnya.
Pelajaran 4: Investasi itu seharusnya sederhana, jangan dibuat rumit
Jika melihat kembali daftar saham yang menjadi watchlist ku di 10 tahun ke belakang ini, banyak di antaranya yang sudah naik cukup banyak dan memberikan dividen pula selama periode ini. Pada saat itu, setelah aku cukup banyak merasakan kerugian karena membeli suatu saham baik karena FOMO, spekulasi, dan tidak ada dasar fundamentalnya, aku mulai membaca buku-buku terkait dengan investasi di saham (investasi yah yang time-frame nya lebih panjang, bukan trading apalagi scalping). Dari beberapa buku yang kubaca pada akhirnya aku menyusun beberapa prinsip untuk menentukan apakah suatu emiten layak untuk investasi:
- Perusahaan memiliki rekam jejak laba yang positif
- Arus kas dan kas perusahaan cukup sehat
- Utang berada pada tingkat yang dapat dikelola dan syukur-syukur tidak ada utang
- Manajemen memiliki rekam jejak tata kelola/GCG yang baik.
- Perusahaan konsisten membagikan dividen
- Dividen didukung oleh laba dan arus kas, bukan hanya utang atau aksi korporasi satu kali
- Yield cukup menarik dibandingkan risiko dan alternatif investasi lain
Jika disederhanakan ke dalam metrik untuk screening menjadi kurang lebih seperti ini (metrik ini adalah preferensiku untuk screening kasar):
- cash per share tinggi setidaknya di atas 20% harga sahamnya
- Net profit positif di 3 tahun terakhir
- Debt to Equity Ratio (DER) rendah, mendekati 0
- Konsisten membagikan dividen setidaknya 5 tahun terakhir
- Dividen yield yang tinggi, sebisa mungkin di atas 6%.
Kriteria ini mungkin tidak optimal, namun sejauh kuterapkan, it works for me. Works di sini artinya aku sudah cukup puas dengan pencapaianku dengan mempertimbangkan risiko yang mungkin timbul dari pemilihan sahamku. Di dalam investasi saham performa lebih baik dari indeks saja sudah cukup memuaskan. Terlebih lagi ekuitas bisa naik di atas angka deposito sudah merupakan pencapaian sendiri. Apakah ada metode lain yang lebih baik dari ini? Jelas ada. Namun mungkin risikonya di atas toleransiku. Dengan kriteria ini, seandainya analisisku salah dan harga sahamnya jatuh, paling tidak aku masih bisa mendapatkan uang tunggu berupa dividen.
Yang ku ingat dari screeningku di atas keluar daftar saham seperti: SMDR, TOTL, NRCA, DMAS, HEXA, MPMX, ASGR, PTBA, MBAP, BSSR, ITMG, HRUM, JRPT dan lain sebagainya yang aku tidak ingat lagi daftarnya. Tapi saham-saham yang kusebutkan ini pernah kumiliki dan berada dalam portofolioku walaupun sekarang mungkin sudah tersisa lebih sedikit karena belakangan aku mencoba mengkonsentrasikan saham-sahamku agar tidak terlalu banyak.
Berikut adalah beberapa contoh pengalamanku di mana aku berhasil cuan lumayan:
HRUM
HRUM kubeli di harga 1200-1300an seingatku. Walaupun dividennya kecil, tetapi aku melihat cash per share nya beda tipis dengan harga sahamnya. Ibaratnya beli rumah harganya 1.2M, tetapi didalamnya ada kas 1.2M juga. Aku melihatnya sebagai peluang karena margin of safety nya tinggi. Kadang memang market bisa irasional ke batas yang tidak terbayangkan. Berlian dijual seharga batu. Pada akhirnya aku bisa exit bertahap, dan terakhir kujual di harga 4000an.
HEXA
HEXA dulu kubeli karena dividen yieldnya yang tinggi, di atas 10%. Pada saat itu sepertinya pasar kurang mengapresiasi saham ini, yang menyebabkan yield nya tinggi. Harga hanya bergerak ketika ada pengumuman dividen. Di luar itu harganya relatif sideways. Aku mencoba memanfaatkan situasi ini dengan mengoleksinya di masa sideways tersebut. Menariknya lagi, kinerjanya yang cukup stabil membuat emiten ini dulunya lebih predictable untuk besaran dividennya. Dengan melihat data Q1-Q3, sudah dapat ancer-ancer estimasi dividen totalnya. Pada akhirnya aku sempat merasakan dividen jumbo setara yield 35% dan setelah itu seingatku aku berhasil menjual semua kepemilikanku di harga atas ketika emiten ini mendapatkan angin segar dari kenaikan harga komoditas batu bara.
MPMX
MPMX kubeli dengan alasan yang sama, namun yang kuingat dulu mulai masuk di harga tinggi (sekitar 1400-1500an) setelah ada pengumuman pembagian dividen jumbo karena divestasi anak usahanya. Setelah itu harganya turun terus hingga sempat menyentuh angka 300an. Ketika turun terus, aku semakin agresif membeli, namun tetap dengan strategi DCA. Aku berspekulasi positif di sini karena Margin of Safety MPMX yang kurasa cukup tinggi: harga mendekati cash per share, minim utang, rajin membagi dividen dan dividen yieldnya pun terhitung tinggi, aku beranikan untuk terus membeli. Aku berpikir, kalaupun aku terpaksa nyangkut di sini, paling tidak masih ada uang tunggu berupa dividen. Pada akhirnya harga rata-rataku di 520an dan sudah balik modal dari dividen yang dibagikan dalam 5 tahun berikutnya. Saham ini bisa dikatakan menjadi core stock ku. Masih kupegang hingga saat ini dan terus average up hingga sekarang harga reratanya di 820an. Di harga tersebut, dividen yield yang kuterima di tahun 2026 lalu sebesar ~20%.
MPMX juga mengajariku bahwa average down tidak selalu identik dengan denial. Perbedaannya terletak pada alasan di balik keputusan tersebut. Aku tetap menambah posisi bukan semata-mata karena harga turun, tetapi karena tesis awal di mana kas, utang, dividen, dan margin of safety masih kuanggap berlaku dan justru angkanya semakin besar seiring dengan penurunan harga sahamnya. Tentu saja, penilaian itu tetap bisa salah. Namun setidaknya keputusanku ini dibuat berdasarkan analisis yang dapat kujelaskan, bukan sekadar keinginan untuk menurunkan harga rata-rata pembelianku.
Apakah ada contoh lain di mana aku menerapkan kriteria-kriteria ini namun malah rugi? Jelas ada. Akan tetapi kurasa lebih tepat jika kumasukkan sebagai contoh di pelajaran berikutnya. Namun demikian jika kulihat lebih jauh, dari semua saham yang masuk ke screenerku dan aku masuk di dalamnya, secara rasio tetap lebih besar yang sukses dibanding dengan yang gagal. Paling tidak kriteria-kriterianya sejauh ini memang proven working, bukan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, tapi mencari saham yang risikonya lebih terbatas.
Pelajaran 5: Power of letting go
Ini adalah pelajaran yang paling berat: berani mengakui kesalahan jika analisis yang dilakukan salah, dan disiplin untuk segera cut loss. Teorinya kurang lebih seperti itu, namun pada kenyataannya, ego seringkali bermain sehingga sulit untuk cut loss. Merasa bahwa keputusan untuk membeli suatu saham sudah benar, jadi jika ternyata salah, dan menjual di harga yang lebih rendah (merealisasikan kerugian) ini dirasakan sebagai sebuah tindakan yang menyinggung ego. Pada akhirnya ketika harga saham sudah turun terlalu dalam, keputusan yang diambil adalah membiarkannya dalam posisi floating loss dengan harapan harganya bisa kembali lagi ke harga awal daripada merealisasikan kerugian yang cukup besar.
Kesulitan untuk melakukan cut loss ini juga bisa disebabkan karena attachment atau fanatik terhadap suatu saham tertentu. Sampai saat ini pun aku masih sering merasa kalau aku memiliki attachment yang lebih besar pada saham tertentu yang sudah kumiliki. Attachment melibatkan emosi, dan seringkali membuatku mengabaikan fakta serta data yang ada.
KKGI
Salah satu contoh yang ingin kuberikan adalah KKGI, yang terhitung masih fresh. Saham ini memiliki fundamental yang bagus: cash melimpah, utang tipis, dan secara historis rajin membagikan dividen. Pada akhirnya aku menerapkan DCA di saham ini. Ketika sahamnya mulai turun, aku terus menambah karena melihat fundamentalnya tidak masalah. Namun di sini lah permasalahannya, sebagai manusia yang memiliki banyak keterbatasan, ada informasi-informasi yang mungkin tidak terungkap ke investor publik: dari mulai berita force majeure pada salah satu tambangnya yang menyebabkan produksinya turun, lalu berlanjut ke pemotongan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya kegiatan pertambangan) hingga turun setengahnya, dan terakhir dividennya berkurang cukup jauh. Secara historis, seharusnya perusahaan bisa membagikan dividen dengan rasio yang lebih besar, namun pada RUPS sepertinya pihak manajemen lebih memilih untuk menahan dividen karena kejadian force majeure dan pemotongan RKAB tadi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.
Kesalahanku adalah ketika aku mendengar berita insiden di salah satu tambangnya, seharusnya aku dengan segera cepat mengurangi porsi kepemilikanku (kebetulan KKGI memiliki porsi yang cukup besar dalam portofolioku). Namun karena aku masih berharap pada dividennya, aku biarkan sambil berharap dividen yieldnya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Ternyata perkiraanku salah: harga semakin anjlok dan dividen pun tidak sesuai ekspektasi. Dalam 6 bulan terakhir ini pada akhirnya aku berani mengakui kesalahanku: cut loss secara bertahap, dan kini posisi terakhir saham KKGI ini walaupun masih berada di dalam portofolioku, porsinya sudah berkurang sangat jauh dari posisi awal, tersisa 5% nya sekarang, yang rencananya akan kujual juga dalam waktu dekat, sambil melihat kondisi pasar.
Ini adalah pelajaran yang mahal, dan bisa kukatakan dari ini adalah realisasi kerugian terbesarku dari satu emiten saja. Apakah aku menyesal? Tentu saja. Namun penyesalanku bukan karena pernah memiliki saham ini, tetapi karena tidak melakukan tindakan ketika ada fakta yang bisa mempengaruhi kinerja emiten ini kedepannya. Secara fundamental, perusahaan dari saham KKGI ini bagus, bahkan ketika labanya tertekan, masih mau membagi dividen interim, yang kurasa ini mungkin alasan perusahaan tidak membagikan seluruh rasio dividennya pada saat itu: memilih untuk diberikan bertahap. Dan sejujurnya membuatku memiliki attachment yang sudah kusebutkan di awal, bukan fanatik buta tapi karena kagum dengan GCG yang diperlihatkan oleh perusahaan ini.
Dari KKGI ini aku belajar bahwa “fundamental bagus” bukanlah stempel yang berlaku selamanya. Fundamental adalah kondisi yang harus terus diuji. Perusahaan yang sehat hari ini tetap dapat menghadapi kejadian yang mengubah prospek bisnisnya di keesokan harinya. Ada faktor X yang tidak bisa aku kontrol di sini, di luar prediksi. Sudah seharusnya, kita sebagai investor retail untuk terus memonitor saham-saham yang kita pegang, apakah kondisinya masih relevan dengan alasan kita memiliki saham ini di awal. Jika sudah tidak sesuai, sebagai investor sudah seharusnya kita segera membuat keputusan dan mengambil tindakan.
Pelajaran 6: Kesabaran adalah kunci
Kesabaran adalah teman terbaik ketika berinvestasi di saham. Konteksnya di sini adalah investasi yang memiliki timeframe yang panjang, bukan trading jangka pendek. Dalam perjalananku seringkali aku merasa tak sabar. Ujian terbesar adalah ketika analisis sudah dilakukan dan memiliki conviction yang kuat pada suatu saham, lalu kemudian aku membeli saham tersebut dan mencapai porsi yang sudah ditetapkan, eh harganya nggak kemana-mana, cenderung sideways bahkan turun. Di situasi ini seringkali conviction yang sudah dibangun mulai goyah, dan mempertanyakan kredibilitas diri sendiri ketika melakukan analisis di awal.
Jika pada akhirnya saham tersebut cenderung sideways dalam waktu yang lama, apalagi jika tipe sahamnya bukan dividend play, di mana emitennya menahan laba untuk tidak dibagikan menjadi dividen tetapi digunakan untuk ekspansi, aku merasa ada opportunity cost yang ku keluarkan. Jika aku masukkan alokasi ini ke emiten yang memberikan yield dividen menarik, tentunya akan mendapat tambahan cash flow yang digunakan untuk membeli saham lain. Ini adalah posisi yang cukup sulit, terutama jika harga saham pada saat itu tidak berbeda jauh dengan harga rata-rata atau bahkan berada di bawahnya (floating loss).
ESSA
Salah satu contoh ketidak sabaranku adalah ketika berinvestasi di ESSA. Ketika itu aku cukup terpapar oleh berita-berita positif di media sosial dan mulai menggali informasi terkait dengan saham ini. Setelah aku mendapat informasi yang cukup, DCA kumulai. Seiring dengan berjalannya waktu, conviction-ku semakin kuat karena emiten ini sedang melakukan ekspansi pabrik.
Setelah pabrik sudah jadi dan mulai uji coba produksi, laba perusahaan mengalami kenaikan. Namun di sini harga sahamnya hanya naik sedikit, tidak merepresentasikan kenaikan kinerja emitennya. Di sinilah aku mulai goyah dan meragukan analisisku, memunculkan kekhawatiran apakah ada informasi yang terlewat atau bahkan tidak kuketahui yang mungkin negatif dan tidak diungkap ke publik.
Pada akhirnya aku menjual semua kepemilikanku. Beruntung posisiku pada saat itu sedang floating profit. Jadi walaupun pada saat itu perusahaan belum membagikan dividen, aku tidak merasa rugi-rugi amat. Pada kenyataannya, seandainya aku bersabar lebih lama (aku lupa, tetapi sepertinya perlu 1-2 tahun lagi), aku bisa mendapatkan gain lebih dari 100% di saham ini.
RIGS
Jika ESSA berakhir kurang memuaskan, ada pengalamanku yang berakhir dengan sangat memuaskan di saham RIGS. Aku masuk ke saham ini di tahun 2021 ketika harganya sideways dalam waktu yang cukup lama. Perusahaan ini memang tidak membagikan dividen, namun minim utang. Aku masuk di harga 200-240an dan kurang lebih harga rerataku juga di sekitar itu karena sahamnya sideways lama. Pada akhirnya setelah menunggu kurang lebih 2 tahun, sahamnya akhirnya bergerak, dan aku berhasil menjual dengan profit lebih dari 100% (bagger).
Kenapa di RIGS aku bisa lebih sabar? Mungkin karena RIGS harganya cenderung sideways dan tidak volatile seperti ESSA. Selain itu RIGS juga kurang likuid, sehingga ketika sudah banyak dikumpulkan, tidak serta-merta bisa dijual cepat. Faktor noise dari market yang lebih sedikit di RIGS juga lebih membuatku tenang dan nyaman untuk memegang saham ini dalam waktu yang lama.
Kedua pengalamanku ini memberiku pelajaran berharga, analisis sudah benar pun masih memerlukan conviction yang kuat untuk tetap bertahan tanpa terpengaruh noise dari market, tidak menjualnya, dan memberikan waktu yang cukup agar market mengapresiasi. Akan tetapi menunggu lebih lama pun belum tentu sahamnya bisa naik. Di sinilah pentingnya memiliki plan: berapa lama time frame yang diharapkan, kalau memang dalam waktu yang sudah ditetapkan belum sesuai harapan, ya seharusnya tetap disiplin. Kalau setelah disiplin menjual sahamnya naik kencang, anggap saja itu bukan rezeki.
Recap: Pentingnya mengelola risiko
Jika kutarik satu benang merah dari keenam pelajaran di atas, semuanya sebenarnya bermuara pada satu hal: pengelolaan risiko. Semakin lama aku berkecimpung di dunia saham, semakin kusadari bahwa banyak hal-hal yang tidak diketahui: informasi yang belum atau tidak pernah diungkap ke publik, perubahan kondisi bisnis, keputusan manajemen, arah dan mood pasar, dan berbagai faktor eksternal lain yang di luar kendaliku. Keterbatasan ini membuat pengelolaan risiko menjadi sangat penting. Seberapa besar risiko yang mau kita ambil? Ini menjadi pertanyaan pertama sebelum berbicara mengenai profit.
- Risiko portofolio terjun bebas jika terjadi hal buruk dapat diantisipasi dengan diversifikasi pada beberapa saham di sektor yang berbeda — pelajaran yang kudapat setelah merasakan sendiri betapa satu faktor X (seperti kasus KKGI) bisa memukul telak jika porsinya terlalu besar.
- Risiko harga saham yang sideways bertahun-tahun dapat diantisipasi dengan membeli saham yang konsisten membagikan dividen dengan yield cukup tinggi seperti HEXA dan MPMX, yang memberi "uang tunggu" ketika harga belum bergerak. Kombinasi sideways dan dividen yield tinggi malah menurutku bagus: tidak banyak noise dan bisa melakukan DCA dengan tenang.
- Risiko floating loss yang terlalu dalam dapat diantisipasi dengan disiplin cut loss ketika tesis investasi batal — pelajaran mahal yang kupetik dari KKGI.
- Risiko realisasi profit yang kurang optimal karena fluktuasi dapat diantisipasi dengan menjual secara bertahap ketika sahamnya naik — sesuatu yang gagal kulakukan di SMDR karena greed.
- Risiko salah beli saham dengan kualitas buruk dapat diantisipasi dengan screening di awal: ketahui dulu perusahaannya, fundamentalnya, dan perkembangan bisnisnya, seperti kriteria yang kususun setelah gagal di SRIL dan B7.
- Risiko membeli saham di harga yang terlalu tinggi dapat diantisipasi dengan strategi DCA, dengan catatan fundamental dan margin of safety-nya baik — seperti yang akhirnya berhasil di MPMX.
Cara-cara antisipasi di atas mungkin memang tidak memaksimalkan profit, tapi risikonya bisa kubatasi. Dan pada akhirnya bukan itu yang paling penting.
Penutup
Mengetahui apa yang tidak kita ketahui bukan alasan untuk berhenti berinvestasi. Kesadaran itu justru membuat pengelolaan risiko menjadi penting. Sebelum bertanya berapa besar profit yang ingin dicapai, mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa besar risiko yang sanggup kita tanggung jika semuanya berjalan tidak sesuai harapan?
Selain itu aku juga belajar bahwa tidak semua peluang harus dikejar, tidak semua kerugian harus dipertahankan, dan tidak semua keuntungan harus dianggap sebagai hasil kehebatan pribadiku. Aku lebih merasa bahwa faktor luck/keberuntungan juga banyak berperan di sini, pelajaran-pelajaran yang kudapat bisa kukatakan memperbesar peluang untuk terciptanya keberuntungan ini. Pasar saham telah mengajariku untuk berikhtiar tanpa merasa mampu mengendalikan semuanya, bersabar tanpa menjadi pasif, dan melepaskan tanpa menganggapnya sebagai kekalahan.
Perjalanan ini masih panjang. Masih akan ada keputusan yang benar dan salah, keuntungan dan kerugian, kejutan dan penyesalan. Namun demikian, yang ingin kubangun dari perjalanan ini bukan hanya portofolioku yang menjadi lebih besar, tetapi juga diri yang lebih tenang dalam menghadapi dunia yang tidak pernah sepenuhnya bisa kukontrol.
Istilah & Definisi singkat
| Istilah | Deskripsi |
| ESOP | Program kepemilikan saham bagi karyawan |
| Lock-up period | Periode ketika saham tidak boleh dijual atau dialihkan |
| Realized gain | Keuntungan yang sudah direalisasikan melalui penjualan |
| Floating loss | Kerugian yang belum direalisasikan karena harga saham masih di bawah harga beli (saham belum dijual) |
| GCG | Tata kelola perusahaan yang baik |
| DCA | Pembelian aset secara berkala dan bertahap |
| Margin of safety | Jarak antara estimasi nilai wajar dan harga beli |
| Cash per share | Kas perusahaan yang dihitung per lembar saham |
| DER | Rasio total utang terhadap total ekuitas |
| RKAB | Rencana kerja dan anggaran biaya kegiatan pertambangan |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar