Selasa, Agustus 25, 2026

Trip to Belitung Day-2: Pulau Leebong

Di hari kedua, destinasi wisata yang kami kunjungi hanya satu: Pulau Leebong. Pulau Leebong ini adalah destinasi wisata pulau pribadi (private island) yang terletak di sisi barat Pulau Belitung. Pulau Leebong ini dapat diakses melalui Pelabuhan Tanjung Ru, dan dilanjutkan dengan menyeberang menggunakan perahu tradisional selama kurang lebih 20 menit. Terhitung dekat, karena pulaunya sendiri masih dapat terlihat dari Pelabuhan Tanjung Ru.

Berdasarkan informasi dari tour guide kami, itinerary dan kunjungan ke Pulau Leebong ini diatur sepenuhnya oleh pengelola pulaunya. Jadi walaupun kami menggunakan jasa tour, mereka hanya bertugas mengantarkan hingga Pelabuhan Tanjung Ru. Selanjutnya semua itinerary seperti jadwal perahu yang mengantar jemput hingga kepulangan diatur oleh pengelola pulau.

Pelabuhan Tanjung Ru

Pelabuhan Tanjung Ru berfungsi sebagai pintu gerbang transportasi laut antar pulau di Pulau Beliting. Berbeda dengan pelabuhan yang ada di Kota Tanjung Pandan yang hanya melayani mobilisasi penumpang, pelabuhan ini melayani pergerakan kendaraan hingga angkutan logistik. Peran pelabuhan ini sangat dominan dalam mendukung pasokan kebutuhan pokok dan barang konsumsi dari luar daerah, sekaligus penggerak roda perekonomian dan pariwisata di Kabupaten Belitung. Bahkan batu bara yang digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik untuk seluruh pulau, disuplai melalui pelabuhan ini. Namun demikian, jadwal penyeberangan dari pelabuhan ini tidak setiap hari ada. Jadi kalau hanya mau menyeberang katakanlah ke Pulau Bangka, lebih baik melalui pelabuhan di Kota Tanjung Pandan.

Dermaga untuk ke Pulau Leebong

Ketika kami sampai ke Pelabuhan Ru, cuacanya sangat terik, padahal masih sekitar jam 9-10 pagi. Belum sempat untuk berfoto-foto di dermaganya, kami sudah dipanggil untuk naik ke perahu tradisional yang akan mengantarkan kami ke Pulau Leebong.

Fasilitas bongkar muat batu bara

Pulau Pasir Timbul

Di tengah-tengah perjalanan ke Pulau Leebong, kami singgah dahulu di Pulau Pasir Timbul. Sesuai dengan namanya, pulau ini hanya berupa hamparan pasir putih, yang muncul ketika sedang surut saja. Ketika air laut pasang, pulang ini akan terendam sepenuhnya oleh air laut. Pulau ini tak sepenuhnya kosong, ada beberapa ayunan yang terbuat dari batang kayu yang lokasinya tersebar. Di satu sisi mungkin ayunan ini untuk menunjukkan jika di situ ada pulau yang akan muncul ketika pantai surut.


Pulau Pasir Timbul

Karena cuaca cukup terik dan minim awan, pulau ini menjadi sangat eksotis untuk spot foto-foto. Ada beberapa wisatawan lain yang berkunjung ke pulau itu, tapi bisa dibilang tidak terlalu ramai, sehingga aku tidak terlalu kesulitan untuk mengambil spot-spot foto yang bersih dari pengunjung lain.

Pulau Pasir Timbul

Di pulau ini banyak ditemukan bintang laut yang warnanya merah dan aman untuk disentuh. Bintang laut ini tidak bergerak secara aktif, hanya mengandalkan arus air yang pasang dan surut. Karena inilah kami banyak menemukan bintang laut yang kekeringan terjebak di tengah-tengah pulau. Ketika kami menemukannya, segera kami bawa ke bibir pantai agar tidak sampai mati kekeringan.

Pulau Leebong

Setelah puas mengeksplorasi dan berfoto-foto di Pulau Pasir Timbul, kami naik perahu lagi melanjutkan perjalanan ke Pulau Leebong. Di itinerary kami seharusnya ada tur untuk menyusuri mangrove yang berada di pulau lain. Namun karena pada saat itu air lautnya sedang surut, itinerary tersebut tidak bisa dieksekusi.

Dermaga di Pulau Leebong

Fasilitas yang tersedia di Pulau Leebong ini antara lain: restoran, kafe, toko oleh-oleh, sepeda (untuk mengelilingi pulau, kayak, ATV, bola untuk volley pantai, dan paddleboard. Selain itu, di pulau ini juga tersedia akomodasi berupa cottage untuk menginap. Ada 2 macam cottage: yang berada di pulau, dan yang berada di pinggir laut. Terakhir aku mencoba googling untuk mengetahui ratenya, harganya lumayan mahal. Mahal atau murah itu mungkin relatif ya, tapi setelah mengetahui dari tour guide kami kalau di malam hari nyamuknya lumayan banyak di pulau ini, ditambah dengan udaranya yang panas dan lembab, mungkin harga yang mahal itu menjadi nggak worth it.

Pulau Leebong

Pantai Chicas

Pantai Chicas berada di sisi lain Pulau Leebong yang bisa diakses dengan berjalan kaki kurang lebih 10 menit. Daya tarik utama Pantai Chicas terletak pada fasilitas ikoniknya berupa gazebo-gazebo kayu yang dibangun tepat di atas permukaan air laut. Pengunjung dapat berjalan menyusuri dermaga kayu untuk mencapai gazebo ini, menjadikannya spot favorit untuk berfoto, bermeditasi, atau menikmati embusan angin laut dengan latar belakang horizon yang biru. Selain bersantai, area perairan di sekitar pantai ini juga relatif aman dan dangkal untuk berenang.

Pantai Chicas

Nah pada saat kami berkunjung ke Pulau Leebong, bisa dibilang cuaca sedang terik-teriknya. Udaranya juga panas dan lembab, membuat badan terasa lengket-lengket walaupun tidak banyak beraktivitas. Kondisi ini sejujurnya membuat kami mager. Alih-alih beraktivitas seperti bersepeda ataupun mencoba kayak, kami lebih memilih untuk rebahan. Walaupun kami membawa baju ganti, namun kami berusaha untuk tidak basah-basahan karena takut lengket-lengket.

Sejujurnya, spot foto paling bagus di hari itu adalah ketika kami mengunjungi Pulau Pasir Timbul. Setengah hari yang kami habiskan setelah makan siang hingga kepulangan kami, bisa dianggap kurang faedah. Mau beraktivitas mager, mau foto-foto juga spotnya tidak terlalu bagus. Selain itu fasilitas sepedanya agak kurang terawat. Walaupun banyak sepeda yang bisa digunakan, namun banyak yang sudah tidak nyaman lagi untuk digunakan, entah itu bannya yang kempes, stang yang tidak lurus, hingga sadel yang kurang nyaman.

Antara worth it dan nggak worth it sih kunjungan ke Pulau Leebong ini. Kunjungan ke Pulau Leebong ini menghabiskan kurang lebih 1/5 dari total biaya keseluruhan itinerary kami. 4/5 sisanya untuk kunjungan ke tempat wisata lain selama 4 hari + biaya menginap di hotel bintang 4 selama 4 hari juga. Secara harga kurang worth it dibandingkan dengan experience yang didapat, namun foto-foto di Pulau Pasir Timbul ketika cuaca sedang cerah-cerahnya ini mungkin bisa dibilang menjadi bagian yang paling memberikan cerita di kunjungan kami kali ini.

Sunset di Pelabuhan Tanjung Ru

Hari sudah cukup sore ketika kami kembali ke Pelabuhan Tanjung Ru. Karena sore itu itinerary yang tersisa hanya makan malam, aku meminta waktu untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam di pelabuhan ini. Karena posisi pelabuhannya mengarah ke barat, kami bisa menikmati pemandangan sunset dengan berlatar perahu-perahu nelayan dan kapal ferry besar yang berada di tengah laut, tak jauh dari pelabuhan. Sayangnya pada saat itu mataharinya tertutup oleh awan, kurang indah untuk difoto, tetapi masih bisa dinikmati.

pemandangan matahari tenggelam di Tanjung Ru

Artikel Utama: 5D 4N Trip To Belitung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar