Selasa, Agustus 25, 2026

Trip To Belitung Day-1: Belitung Timur

Agar bisa memaksimalkan waktu eksplorasi di Belitung, kami naik pesawat yang paling pagi ke Tanjung Pandan, Belitung. Di hari itu, fokus eksplorasinya ada di daerah Belitung Timur yang jaraknya kurang lebih 80km dari kota Tanjung Pandan. Kalau kuperhatikan dalam beberapa paket tour, eksplorasi daerah Belitung Timur ini seringkali dilakukan di hari pertama. Mungkin ada pertimbangan karena biasanya wisatawan mengejar pesawat yang paling pagi, jadi kurang tidur. Perjalanan ke Belitung Timur yang makan waktu cukup lama 1.5-2jam bisa digunakan untuk tidur dan beristirahat.

Mie Atep

Sebelum kami ke Belitung Timur, tempat yang kami kunjungi pertama adalah Mie Khas Belitung: Mie Atep. Di kunjunganku 15 tahun silam, mie ini juga menjadi salah satu tempat makan yang aku kunjungi, jadi ya bisa dibilang sudah terkenal dan legendaris. Penyajiannya cukup unik, mie nya ditaruh di piring yang diatasnya diberi selembar daun simpur. Secara sekilas agak mirip dengan daun jati, tetapi daun simpur ini permukaan daunnya halus. Nah mie nya ini disiram dengan kuah kaldu udang. Tidak hanya itu saja, ada topping nya juga: emping, potongan ketimun, tahu goreng, dan kentang rebus.

Mie Belitung Atep di Tanjung Pandan

Sementara untuk minumannya, paling recommended adalah es jeruk kunci. Bisa dibilang ini adalah minuman khas di Belitung, walaupun pada kenyataannya pohonnya dapat juga dibudidayakan di daerah lain. Tapi mungkin memang di Belitung saja yang menu minuman ini hampir selalu ada di tempat-tempat makan.

Di menunya seingatku hanya ada 2 pilihan: Mie Belitung dan Nasi Tim. Sayangnya sih kami sekeluarga tidak ada yang tertarik untuk mencoba Nasi Tim dan lebih memilih sarapan mie. Jadi nggak bisa berkomentar untuk rasanya.

SD Muhammadiyah Gantong (SD Laskar Pelangi)
Setelah sarapan, kami langsung menuju ke SD Muhammadiyah di daerah Gantong. Jaraknya cukup jauh, sekitar 1.5 jam perjalanan dari kota Tanjung Pandan. yang kami kunjungi ini bukan SD asli, namun replika yang digunakan untuk shooting film Laskar Pelangidi tahun 2008 silam. Setelah digunakan untuk shooting film, bangunannya tidak dirobohkan, tapi dialihfungsikan menjadi objek wisata sejarah.

Replika SD Muhammadiyah Gantong

Kalau kubandingkan kondisi replika SD ini saat kemarin dengan kunjungan terakhirku di 15 tahun silam, kondisinya cukup banyak berubah. Di tahun 2011 lalu, kondisi bangunannya terlihat seperti bangunan yang tidak terurus. Di kunjunganku kali ini, bangunannya seperti sudah direnovasi. Berdasarkan informasi dari driver sekaligus tour guide kami, anak-anak yang tinggal di lokasi ini sangat antusias ketika ada wisatawan yang datang. Mereka akan ramai-ramai masuk ke kelas, seolah-olah sedang belajar.

anak-anak warga lokal yang antusias ketika ada wisatawan datang

Pada saat kami berkunjung kesana, cuacanya sedang benar-benar terik. Tidak banyak awan yang terlihat, sementara lokasi bangunannya ini berada sedikit diatas dibanding jalan raya, dan di sekelilingnya tidak ada pohon tinggi yang menaungi. Berada di luar untuk sekedar foto-foto membuat kami gosong terpapar panas.

Museum Kata Andrea Hirata

Kunjungan kami berikutnya adalah Museum Kata Andrea Hirata. Jujurly, aku baru tahu ada spot ini. Walaupun katanya sudah didirikan dari tahun 2010, namun baru diresmikan pada tahun 2012. Mungkin ketika kunjunganku 15 tahun silam, tempat ini belum terlalu dikenal jadi terlewat. Dari informasi yang kudapatkan di internet, Museum Kata merupakan museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia, yang didirikan oleh Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi. Kuakui pada masa itu, membaca karya novelnya banyak memberiku banyak inspirasi, dan tak kusangka dampaknya sangat besar di Belitung hingga beberapa spot lokasi shooting film nya dijadikan tempat wisata, dan bahkan sampai mendirikan museum disini.

Museum Kata Andrea Hirata - 1

Eksterior bangunannya yang warna-warni

Museum ini bisa dibilang cukup unik dan lumayan ngejreng karena dinding dan interiornya dicat dengan warna-warna cerah, mirp kombinasi warna pelangi. Memasuki museum, seingatku ada banyak ruangan, dan masing-masing ruangan ada tematiknya sendiri. Memang wajar jika disebut museum sastra karena koleksinya menurutku lumayan banyak dan beragam: koleksi buku dan literatur berbagai genre, kutipan-kutipan inspiratif, dokumentasi perjalanan karya Laskar Pelangi termasuk foto-foto dokumentasi dalam pembuatan filmnya, literatur tentang Belitong, hingga memorabilia Andrea Hirata dan karya-karyanya.

Bagian museum bekas Warung Kopi Kuli

Di bagian belakang museum, ada ruangan yang sebelumnya digunakan untuk Warung Kopi Kuli. Di ruangan ini ada dapur, tungku untuk merebus air dan beberapa meja dan kursi. Kini Warung Kopi Kuli nya dipindah ke bagian depan, menjadi bangunan yang agak terpisah dari museum. Dugaanku sepertinya Warung Kopi ini dipindah karena sekarang masuk ke museum ini harus membeli tiket masuk, sebelumnya gratis. Kan nggak lucu orang mau ngopi mesti bayar dulu tiket ke museum. Informasi dari tour guide ku kebijakan ini dibuat karena tempat ini terlalu ramai dan mungkin perlu biaya perawatan yang lebih.

Koleksi & memorabilia di Museum Kata

Setelah berkunjung ke museum ini, kami sempatkan untuk mampir di Warung Kopi Kuli yang lokasinya disamping museum, sekalian nyemil kudapan khas yang dijual disana: gorengan dan pempek.

Kampung Ahok

Objek wisata Kampung Ahok kini telah berubah nama menjadi Kampung Fifi. Lokasinya tak jauh dari Museum Kata Andrea Hirata. Objek wisatanya berupa rumah panggung. Nah katanya di dalam rumah ini ada galeri dan memorabilianya Ahok, namun ketika kami datang kesana, bagian dalam rumah panggungnya tidak bisa diakses, jadi hanya bisa foto-foto di depan rumahnya saja.

Kampung Ahok/Kampung Fifi

Di seberang rumah panggung ini, ada rumah keluarga Ahok di mana Ahok tinggal di situ ketika masih kecil. Di samping rumahnya, ada Galeri Daun Simpor yang menjadi wadah bagi UMKM masyarakat sekitar untuk memperkenalkan warisan budaya Belitung Timur kepada para pengunjung.

Vihara Dewi Kwan Im

Vihara Dewi Kwan Im yang terletak di Desa Burung Mandi, Kabupaten Belitung Timur, merupakan tempat ibadah umat Buddha tertua dan terbesar di Pulau Belitung. Berdasarkan informasi yang kudapat, vihara ini didirikan sekitar tahun 1747. Bangunannya terdiri dari beberapa tingkatan altar yang dihubungkan oleh anak tangga batu, dengan patung Dewi Kwan Im berukuran besar yang berdiri megah di bagian paling atas sebagai ikon utamanya.

Vihara Dewi Kwan Im

Ketika kami kesana, komplek vihara ini sedang di renovasi. Namun demikian, pengunjung dapat langsung mengakses ikon utama destinasi wisata ini, Dewi Kwan Im, tanpa harus melewati komplek viharanya. Karena untuk mengakses patungnya ini lumayan melelahkan, harus melalui banyak anak tangga, kami tak berlama-lama disini. Anak-anak tidak mau ikut ke atas, jadi hanya aku dan istriku saja.

Pantai Burung Mandi

Pantai Burung Mandi menjadi destinasi kami berikutnya. Lokasinya tak jauh dari Vihara Dewi Kwan Im, karena bisa dibilang masih satu desa. Tak seperti pantai-pantai yang nanti akan kami kunjungi di hari berikutnya, Pantai Burung Mandi terlihat unik, karena di pantai ini aku tidak melihat batu-batu granit raksasa di sepanjang bibir pantai.

Pantai Burung Mandi

Bisa dibilang objek wisata ini agak membosankan. Karena banyak perahu nelayan di sekitar pantai, tak banyak spot foto yang bisa diambil. Terlebih lagi, pengunjung pantai ini kemungkinan besar banyak yang baru datang di sore hari, setelah sebelumnya mengunjungi objek-objek wisata lainnya. Jadi ya sudah cukup lelah untuk meng-eksplorasi. Jika kulihat pengunjung-pengunjung lain, rata-rata hanya duduk-duduk sambil menyeruput kopi ataupun kelapa utuh yang dijual disana.

Pantai Bukit Batu

Tour guide kami sempat menceritakan adanya keberadaan pantai di wilayah yang termasuk privat. Nah karena waktu itu belum terlalu sore, kami
ingin sekalian berkunjung kesana. Nama pantainya adalah Pantai Bukit Batu, lokasinya cukup tersembunyi. Dan karena berada di kawasan milik pribadi, jadi ya ketika kami kesana sangat sepi. Sepertinya hanya bertemu dengan 1-2 pengunjung saja.

Pantai Bukit Batu

Karakteristik pantainya berbeda dengan Pantai Burung Mandi yang menurutku lebih tenang. Disini ombaknya terasa lebih deras. Dan di sekitar pantai banyak tumpukan batu-batu granit. Bahkan yang cukup unik, di pinggir pantai yang agak tinggi, batu granitnya berwarna merah. Cukup lama kami di pantai ini, selain banyak spot untuk berfoto ria, pantainya cukup luas untuk dieksplorasi.

Menjajal Durian Lokal

Di perjalanan pulang ke Tanjung Pandan, kami mampir ke kedai durian langganan tour guide kami. Jadi awalnya ketika dalam perjalanan ke Manggar di pagi hari aku sempat melihat ada pohon durian di pinggir jalan. Ketika kutanyakan, ternyata pada saat itu sedang musim panen durian, setelah tahun sebelumnya tidak ada panen raya. Nah driver kami memang menjanjikan akan mengantar kami ke tempat langganannya. Bukan kios atau kedai besar sih, durian yang dipajang tidak terlalu banyak, namun yang berjualan adalah pemilik kebunnya langsung, yang katanya kebunnya berlokasi kurang lebih 8km an dari rumahnya.

Mencicip durian lokal di perjalanan pulang

Jujur aku agak lupa nama-nama duriannya, namun ketika berkunjung kesana kami ditawarkan 3 macam durian: durian biasa, dan durian tembaga yang katanya khas dari Belitung. Dan durian tembaga ini seingatku ada tingkatannya, yang paling mahal daging buahnya katanya ketika ditekan ini bisa balik ke bentuk asal. Karena malas berspekulasi, kami pesan durian biasa dan durian yang varietas tembaga biasa. Durian tembaga yang kami makan menurutku benar-benar mantap: manis, legit, dan bisa dibilang rasa pahitnya lumayan dominan. Setelah kami menyantap durian tempaga, penjualnya memberikan kami bonus durian biasa. Walaupun rasanya manis, terasa sekali downgrade-nya, rasanya menjadi kurang memuaskan.

Artikel Utama: 5D 4N Trip To Belitung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar