Alasan inilah yang membuatku ingin mengambil kategori pair saja di event 5500 Cirebon ini. Kalender sudah kutandai dari sejak pengumuman dari rute.syahdu, penyelenggara event ini. Ekpektasinya, dengan pair gowesnya bisa lebih santai, memperbanyak konten dan haha-hihi. Seperti biasa untuk urusan per-pairan aku mengajak rekanku Om Terry. Namun sayangnya hingga mendekati 1 bulan sebelum hari H, tidak ada tanda-tanda dia bisa ikut berpartisipasi. Aku hampir mengurungkan diri untuk tidak berpartisipasi dalam event ini.
Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar early bird di event ini. Karena eventnya diadakan di long weekend (2-3 Mei), dimana 1 Mei nya hari libur nasional, aku merasa akhir pekan tersebut bisa lebih produktif jika kugunakan untuk gowes melalui event. Selain itu, jarak Jakarta-Cirebon bisa dibilang relatif dekat untuk dijangkau dengan kendaraan, dan mentok-mentok hanya perlu tambahan cuti satu hari di hari Senin nya. Alasanku yang lain adalah, jarak 500km dari kota Cirebon seharusnya bisa memberikan banyak ruang untuk menjajal rute-rute yang belum pernah kulewati sebelumnya, hitung-hitung memperluas heatmaps Strava ku. Yang kubayangkan adalah rute 500km ini bisa menjangkau daerah-daerah sekitar Cirebon seperti Kuningan, Majalengka, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Purwokerto, Tegal Pekalongan. Apalagi jika ingin mendapatkan elevation gain 5000m keatas pastinya rutenya harus dibuat ke arah selatan yang merupakan daerah gunung dan perbukitan.
By the way, format event 5500 8th series Cirebon ini agak sedikit berbeda, biasanya selalu ada 2 kategori:
- 500km 5000m elevation gain dengan rute yang dibuat sendiri
- 125km dengan rute yang telah ditentukan
kali ini ada 1 tambahan kategori: 500km dengan minimum 500m elevation gain. Tentu saja aku mengikuti kategori yang pertama, karena akan lebih menantang.
Perencanaan & Persiapan Event
Latihan
Seperti halnya pada event-event 5500 sebelumnya, tidak ada latihan persiapan khusus untuk mengikuti event ini. Aktivitas gowes yang kulakukan di akhir pekan hanya melalui rute-rute yang relatif pendek, dimana jam makan siang aku sudah berada di rumah lagi. Jadi jaraknya hanya berkisar 150-200km, dan itu pun elevation gainnya tidak terlalu sadis.
Rute
5500 8th series Cirebon memiliki 3 titik CP dan 4 titik parcour yang harus dilewati:
- CP1 – Talaga, Majalengka
- CP2 – Banjar, Kota Banjar
- CP3 – Pejagan, Brebes
- Waduk Setupatok – Cirebon
- Waduk Darma – Kuningan
- Jembatan Cirahong – Tasikmalaya
- Hängebrücke Citanduy – Ciamis
Di hari H panitia mengumumkan titik CP dan titik parcour yang harus dilewati, aku langsung membuat draft rutenya. Bisa dibilang informasi titik-titik ini sesuai dengan ekspektasiku pada event ini dari awal: menjajal rute yang belum pernah kulewati dengan sepeda sebelumnya: segmen Cikijing-Wado, Malangbong-Tasik, dan segmen Banjar-Majenang-Ajibarang, dan segmen Purbalingga ke arah Tegal. Percobaan pertama membuat rute, ternyata bisa langsung pas dapat jarak 500km dengan elevation gain di 5400m++.
Secara umum rute yang kubuat seperti ini:
Titik Parcour 1
Start dari hotel Zamrud, rute langsung kubuat ke arah titik parcour Waduk Setupatok. Sebenarnya titik parcour ini bisa dilewati belakangan ketika sudah mau finish, tapi mempertimbangkan nanti mesti keluar jalur utama ketika asik-asiknya melibas rute flat, kuputuskan untuk ‘sengsara’ di awal.
Titik Parcour 2
Dari Waduk Setupatok, rute kubuat ke ke arah selatan menuju kota Kuningan dan lanjut ke Waduk Darma. Karena rute Jabar Banten Loop ku kemarin melewati rute yang sama, jadi sudah cukup tahu tantangannya: tanjakan halus nan panjang hingga Waduk Darma.
Titik CP 1
Dari Waduk Darma, ke arah barat menuju Cikijing dan terus ke arah CP 1 Telaga. Jaraknya seharusnya cukup dekat 15-20km an dari Waduk Darma.
Titik Parcour 3
Rute dari Telaga kubuat ke arah barat menuju Wado. Ini adalah jalur yang belum pernah kulewati, berdasarkan survey menggunakan Google Maps tampaknya jalannya relatif mulus. Dari Wado lanjut menuju Malangbong, rute yang pernah kulewati di 5500 6th series Bandung, dimana jalannya lumayan menanjak dengan elevasi lumayan. Dari Malangbong, sedikit nanjak dan dilanjutkan dengan jalanan yang relatif menurun hingga Tasikmalaya. Jalur ini juga belum pernah kulewati. Kuputuskan untuk melewati jalan besar. Aku tak mau mengambil resiko.
Dari Tasikmalaya, rute menuju titik parcour 3 di Jembatan Cirahong kubuat untuk melewati jalur menuju Manonjaya. Rencanaku menyeberangi Jembatan Cirahong dari arah Tasikmalaya menuju kota Ciamis. Aku cukup tahu rute ini karena ketika SMP dulu pernah sepedaan di jalur ini walaupun arahnya terbalik (dari Ciamis-Jembatan Cirahong-Tasikmalaya).
Titik Parcour 4
Titik Parcour 3 sebenarnya tidak terlalu jauh dari jalan utama Tasikmalaya-Ciamis (seingatku kurang dari 5km), jadi rutenya kubuat langsung ke jalan raya utama tersebut dan langsung ke arah Banjar. Di tengah jalan antara Ciamis-Banjar keluar jalur melewati jalan kecil menuju Titik Parcour 4 Hängebrücke Citanduy. Alhamdulillah ketika ku survey jalannya mulus walaupun hanya muat 1 mobil: sudah diaspal pula.
Titik CP 2
Dari titik Parcour 4 secara jarak sudah tidak terlalu jauh untuk menuju titik CP2 Banjar. Namun jalanan yang kulewati bukan jalanan utama, hanya jalur alternatif yang menyusuri rel kereta hingga Banjar, menuju CP2.
Titik CP 3
Bisa dibilang titik CP 3 ini jaraknya paling jauh: 220km dari CP2. Mengingat ini adalah titik terakhir, sepertinya panitia ‘mengarahkan’ rute yang dibuat peserta hingga Banjar. Dari Banjar hingga Cirebon dibebaskan untuk membuat rute sesuka hati tanpa ada titik parcour yang di tentukan di wilayah Jawa Tengah.
Rute yang kubuat pada akhirnya seperti ini: Banjar-Majenang-Ajibarang-Purwokerto-Purbalingga-Randudongkal-Slawi-Pejagan. Aku belum pernah melewati rute Banjar-Majenang-Ajibarang. Sementara jalur Purbalingga yang menuju Slawi rasa-rasanya aku pernah melaluinya menggunakan kendaraan ketika pulang dari event Tour de Ambarukmo beberapa tahun lalu. Yang kuingat kala itu hari sudah malam dan jalanannya menanjak panjang.
Finish
Jarak dari CP 3 hingga finish kubuat menyusuri jalanan utama pantura yang relatif flat. Dengan jarak kurang lebih 40km, seharusnya di segmen ini bisa digas. Jalur pantura yang relatif ramai seharusnya memberikan keuntungan berupa drafting dengan kendaraan lain.
Setup Sepeda
Untuk sepeda, aku memutuskan untuk menggunakan sepeda baruku: Polygon A9x. Tidak seperti ketika gowes di Jabar Banten loop, kali ini aku memutuskan untuk menggunakan wheelset ku yang lebih enteng dengan ukuran ban 28c, bukan wheelset bawaan dengan ukuran ban 32c. Pertimbanganku lebih ke arah performa saja. Seandainya apes-apes rute yang kulewati banyak jalur gravel, ya mau nggak mau dibawa lebih santai gowesnya.
Untuk barang bawaan, kali ini aku lebih moderat dan ingin eksperimen dengan menggunakan tas punggung untuk trail. Aku tidak berencana untuk menggunakan tas apiduraku (baik yang packable backpack maupun seri hydration vest). Alasannya cukup sederhana: packable backpack walaupun kapasitas besar, namun kurang oke jika berniat membawa banyak barang. Kuncian atau strap di dadanya hanya 1 dan terhitung longgar, jadi seringkali ketika tas penuh, posisi di punggung menjadi tidak simetris dan berat sebelah. Selain itu, jika aku membeli minuman tambahan untuk dibawa di tas, agak kurang ergonomis. Apidura hydration vest sebenarnya lebih oke untuk gowes 1-2 hari, namun sayang kapasitas tasnya kurang besar karena memang didesain untuk diisi air.
Dengan menggunakan tas yang didesain untuk trail run, ada beberapa kelebihan: kapasitas cukup besar untuk memasukkan sarung, kabel, charger, pompa portabel. GPS, kunci mobil, hingga berbagai snack, gel, dan dapat membawa 2 botol minuman tambahan yang kapasitas nya 500ml. Selain itu tas ini cukup ergonomis, walaupun agak penuh, namun tetap nyaman digunakan.
Untuk barang-barang bawaan lain aku mencoba untuk lebih minimalis. Aku tidak membawa bib & jersey cadangan karena tidak berniat menginap. Selain barang konsumsi diatas, aku hanya membawa 2 ban cadangan, tools sepeda, pompa portabel, tire lever, dan tube patch, just in case ban ku bermasalah lagi seperti event 5500 Jogja lalu.
H-1
Aku berangkat ke Cirebon menggunakan kendaraan pribadi setelah sholat Jumat dan makan siang. Aku pesan penginapan di Hotel Zamrud Convention, hotel yang sama dengan titik start dan finish event 5500 ini. Karena relatif santai, baru sampai di penginapan sekitar jam 18:00. Di jam tersebut pengambilan racepack dan bike check dilakukan di hotel Zamrud. Malah lebih praktis, jadi tidak perlu keluar hotel lagi.
Hari H Event
Menuju titik CP1 Telaga Wetan (84km)
Acara 5500 ini dimulai tepat pukul 06:00. Agak menyayangkan kenapa tidak dimulai lebih pagi, mengingat belakangan ini cuaca kemarau sedang terik-teriknya. Memulai event lebih siang berarti akan lebih cepat terpapar panas. Ternyata pesertanya tidak terlalu banyak, kurang dari 30, itu juga sudah termasuk kategori 500km dengan elevation gain minimum 500m.
![]() |
| start pukul 06:00 dari Hotel Zamrud Cirebon |
Ternyata ada beberapa peserta yang memiliki strategi yang sama denganku: titik parcour Waduk Setupatok akan dilewati paling duluan dibandingkan titik parcour yang lain. Walaupun kami tak saling berkomunikasi, rute yang diambil pun sama persis, jadi ada teman seperjalanan menuju waduk.
Sesampainya di waduk, ternyata rutenya nge-prank. Jalur parcour dari panitia ternyata melewati jalur lama yang sudah tidak ada lagi. Sampai kami menerabas jalur yang tidak ada dan pada akhirnya memutar balik dan melewati jalur lain. Sampai ada peserta yang bannya bocor karena menerabas. Sangat disayangkan karena hitung-hitunganku paling nggak sudah hilang waktu 15 menit.
![]() |
| waduk Setupatok |
Dari waduk, rutenya kulanjutkan menuju jalan raya Cirebon-Kuningan dimana rute ini nanjak halus sepanjang 40km dengan elev gain sekitar 700m hingga titik parcour berikutnya: Waduk Darma. Disini cuaca sudah mulai terasa terik walaupun masih pagi. Bahkan walaupun baru start, aku merasa performaku tidak sebagus ketika melibas rute ini di awal tahun, padahal pada saat itu sudah menempuh jarak sekitar 250km an dari Jakarta.
Parcour yang yang kulalui bisa dibilang mengitari area Waduk Darma. Tadinya kupikir jalanannya bakalan kurang bersahabat untuk sepeda. Ternyata dugaanku salah, jalanannya aspal mulus, walaupun tidak lebar. Mobil kalau papasan mesti pelan-pelan. Disini rutenya lumayan menguras tenaga, karena naik turun. Setelah keluar dari area Waduk Darma, jalanannya menurun menuju Cikijing dan Titik CP1: Telaga Wetan.
Aku sampai di titik CP ini sekitar jam 9:50an. Terhitung lambat dan diluar ekspektasiki, hampir 4 jam hanya untuk menempuh jarak sekitar 84km. Pada saat itu elev gain yang kudapatkan baru 1200m. Mungkin ini sedikit disumbang oleh jam tidurku di beberapa hari terakhir yang kuakui agak kurang.
Menuju titik CP2 Banjar (136km)
Seperti biasa, aku tidak terlalu lama berhenti di titik CP. Selain mengisi ulang bidon, tak lupa aku menyetok minuman soda dan Mogu-Mogu untuk kubawa di tas punggungku. Pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10, terhitung pagi, tapi teriknya lumayan. Untuk jarak 84km biasanya aku baru minum 1 bidon, kali ini 2 bidonku sudah tiris. Ini menunjukkan cuaca tidak hanya panas, tapi juga lembab, membuat badan lebih mudah berkeringat dan kehilangan cairan.
Dari CP1 Telaga Wetan menuju Wado ternyata cukup berat. Jalanannya pada awalnya menurun panjang, sebelum akhirnya menanjak melibas bukit sebelum menurun panjang hingga Wado. Gradiennya sebenarnya tidak terlalu curam, namun cuaca yang panas dan lembab membuat tanjakan halus sekalipun menjadi lebih menantang. Sampai di puncak bukit aku merasa tenagaku habis, turunan hingga Wado kugunakan untuk mengistirahatkan kakiku dengan freewheel. Tidak boleh ngepush, karena setelah Wado ini tantangannya lebih berat.
Tahun lalu, aku melewati rute Wado-Malangbong setelah shubuh. Dan yang kuingat tanjakan sepanjang 9km dengan elev gain hampir 500m ini membuatku bonk pada saat itu, dan aku harus berhenti beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan. Dan kali ini kondisinya terbalik 180 derajat: melewati rute ini di tengah hari ketika matahari sedang terik-teriknya. Pada akhirnya di tengah-tengah tanjakan aku menyerah, tidak hanya sekali, tapi 2 kali. Aku berhenti beberapa saat sambil minum air dari bidonku. Baru 40km dari titik CP terakhir, tapi bidonku sudah habis 1, 1 nya lagi sisa setengah. Minuman soda dan Mogu=Mogu? Sudah habis duluan.
Tak jauh dari titik puncak aku memutuskan untuk sholat sekalian mencari toilet. Pada saat itu perutku sedang kurang bersahabat, sehingga kupikir ya sekalian saja cari musholla atau mesjid bisa sekalian sholat. Beruntung di musholla ini bisa refill bidonku yang sudah hampir habis. Aku beristirahat cukup lama disini, kugunakan waktu ini sekalian untuk nge charge HP ku.
Dari mushola ini jalanannya menurun hingga Malangbong. Terakhir aku melewati rute Wado-Malangbong, jalanannya bisa dibilang agak kasar, jadi di turunan tidak bisa terlalu kencang. Tetapi ketika kulewati di event 5500 Cirebon ini, jalanannya sudah diperbaiki sehingga aspalnya lebih mulus. Bahkan di rute tanjakan yamg 9km ini, kuperhatikan menjadi lebih lebar jalannya.
Setelah Malangbong, ada sisa 1 tanjakan lagi yang gradiennya lumayan, walaupun nggak panjang. Setelah ini rutenya bisa dibilang menurun hinga Tasikmalaya-Ciamis-Banjar. Karena yang kulewati bisa dibilang jalan raya propinsi hingga Tasikmalaya, aspalnya ya jelas mulus. Dari Tasikmalaya aku keluar dari jalan raya utama untuk menuju titik parcour berikutnya: Jembatan Cirahong.
Aku sampai di parcour ini sekitar jam 15:30 sore. Lumayan pangling dengan spot ini. Dulu seingatku tidak terlalu ramai, namun ketika kulalui, tempat ini seolah menjadi tempat wisata yang tidak resmi. Banyak sekali orang berjualan. Banyak orang yang nongkrong-nongkrong mungkin sekedar menikmati pemandangan jembatan sambil menunggu kereta lewat. Jadi jembatan Cirahong ini menyeberangi sungai Citanduy, menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Bagian atasnya dilalui rel kereta, sementara bagian bawahnya untuk dilalui kendaraan roda dua. Dulu seingatku mobil bisa lewat sini walaupun harus bergantian, tetapi sekarang sudah tidak bisa dilalui lagi oleh mobil.
![]() |
| makan siang soto di Ciamis |
Sekitar pukul 16:00 aku melewati kota Ciamis, tak jauh dari tengah kota, aku melipir untuk makan soto. Hitunganku ini makan siang. Dari roti yang kumakan pagi-pagi sebelum event dan ketika istirahat di CP1 ternyata cukup membuatku bertahan hingga sore hari.
Setelah makan, aku sekalian mengisi bidon. Lumayan untuk cadangan walaupun titik CP berikutnya tersisa 20km an lagi. Perjalanan kulanjutkan menuju kota Banjar, di tengah jalan aku keluar jalur propinsi untuk menuju titik parcour terakhir: Hängebrücke, jembatan gantung yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Beruntung walaupun jalan kesini terhitung sempit, sudah diaspal mulus. By the way jembatan gantung ini menyeberangi sungai Citanduy lagi, namun kali ini posisinya berada di hilir.
| titik parcour Hängebrücke Citanduy |
Pada akhirnya aku sampai di titik CP2 Banjar sekitar jam 17:10 dengan jarak 220km dan total elev gain 3000an m. Aku terlalu overekspektasi. Hitungan kasarku jarak 200km bisa kuselesaikan di jam 15:00, ternyata lumayan bergeser hingga 2 jam.
Menuju titik CP3 Pejagan
Melewati CP2 perjalanan kulanjutkan menuju Majenang-Wangon yang berjarak sekitar 80km. Jalur yang kulewati adalah jalan propinsi yang bisa dibilang mulus. Disini rutenya relatif flat, ada beberapa tanjakan halus tapi pendek-pendek, bisa dibilang dibawah 2km. Mendekati malam, aku menyalakan lampu depan dan belakang. Karena penerangan jalannya cukup oke dan jalanannya mulus, aku menyalakan lampu dengan mode low untuk menghemat baterai. Walaupun sudah malam, namun udaranya agak lembab, sehingga 2 bidonku yang kuisi penuh di CP2, cepat habis. Bisa jadi juga sebenarnya aku sudah dehidrasi dari sebelum CP2 dan efeknya baru terasa di malam hari.
Di perjalanan, kuputuskan untuk refuelling bidon, sekalian makan malam ketika sudah melewati Wangon dan menuju Ajibarang agar tidak perlu 2x melipir. Karena pernah melewati rute ini sebelumnya di event Audax beberapa tahun lalu, aku cukup hapal rute yang kulewati ini lumayan menanjak dari Wangon menuju Ajibarang kemudian menurun panjang hingga Purwokerto. Ekspektasiku setelah melewati Wangon aku makan malam, sehingga ketika melibas tanjakan perutku sudah terisi.
Keputusan ini kusesali belakangan, karena kurang lebih 20km menuju Wangon banyak kutemui rest area dan tempat makan yang cukup besar yang kulewatkan begitu saja. Dan setelah belok di Wangon menuju Ajibarang, bisa dibilang tidak ada rumah makan besar yang kulewati. Pada akhirnya karena bidonku sudah menipis, aku melipir di warung nasi goreng yang kutemui di pinggir jalan. Pada waktu itu jam menunjukkan pukul 21:00. Beruntung disini warungnya menyediakan air minum yang bisa kugunakan untuk mengisi bidonku hingga penuh.
Perjalanan pun kulanjutkan menuju Ajibarang-Purwokerto, melewati kota Purbalingga dan terus ke arah utara melewati jalan raya Purbalingga-Tegal. 50 km dari titik terakhir aku makan malam aku melipir ke minimarket untuk mengisi bidon dan membeli minuman manis. Kali ini 2 bidon air hanya bertahan untuk jarak 50km, padahal hari sudah malam. Dibandingkan di siang hari, aku mengkonsumsi lebih banyak air per-kilometernya. Memang luar biasa cuacanya, lembab dan seolah tidak ada angin. Membuat tubuh lebih cepat dehidrasi.
Tak lama dari aku mengisi bidon, aku melipir untuk sholat. Setelah titik pemberhentianku ini, segmen berikutnya adalah tanjakan sepanjang kurang lebih 14km dengan elev gain sekitar 700m. Beruntung tanjakan kali ini walaupun panjang, namun gradiennya lebih manusiawi dibandingkan dengan segmen Wado-Malangbong. Namun demikian malam itu aku merasa udaranya sangat lembab walaupun elevasinya cukup tinggi. Di segment tanjakan ini aku idak ngepush, tapi badanku berkeringat, bukan karena effort ekstra yang karena tanjakan, tapi karena gerah. Memang agak lain, malam hari di gunung seharusnya udaranya dingin, tapi aku malah kepanasan. Setelah segmen tanjakan ini berakhir, segmen berikutnya adalah turunan panjang hingga Randudongkal. Jalannya bercabang disini, aku mengambil rute ke kiri, menuju Slawi.
Gowes non stop tanpa tidur membuatku sangat lelah. Pada jam 02:30 pagi, kurang lebih 47km dari titik aku terakhir berhenti untuk sholat, aku putuskan untuk melipir ke minimarket yang buka 24 jam. Selain refuelling, aku mencoba untuk tidur sebentar. Lumayan bisa power nap sekitar 10 menit. Buatku sudah cukup untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah menyerang dari tengah malam. Aku merasa tak perlu terlalu terburu-buru juga. Masih ada jarak 100km lagi menuju titik finish, dan sisa jarak yang harus kulalui hanya tersisa turunan hingga Slawi dan setelah itu jalurnya relatif flat. Di jarak 400km ini, bisa dibilang total elev gain yang kudapat sudah mencapai 5000m.
10 km sebelum titik CP3, aku melipir untuk sholat shubuh. Yang tidak disangka disana kebetulan sedang ada kajian dan aku diberi sarapan nasi bungkus gratis.
Aku sampai di titik CP3 kurang lebih jam 05:45, hari Minggu pagi. Ada sedikit drama di CP ini karena aku tidak menemukan barcode untuk ku-scan. Khawatirnya salah titik CP. Ternyata titik CP nya sudah benar tetapi memang stiker barcode nya ada yang iseng membuang.
Menuju titik Finish
Di titik CP ini ada sedikit insiden. Ketika hendak mencari stiker barcode, aku salah menaruh sepedaku, sehingga RD ku membentur tembok, pelan sih nggak kencang. Namun akibatnya cukup fatal, sepertinya sistem Di2 mendeteksi kejadian ini sebagai crash. Ini menyebabkan RD ku tidak bisa aku pindahkan giginya, dan hanya mau di 2 gigi paling kecil. Karena belum pernah punya pengalaman seperti ini sebelumnya, dan aku merasa sisa jarak 40km ini berupa jalur flat, aku lanjutkan perjalananku.
![]() |
| segmen CP3 - Finish, 40km flat |
Di awal-awal, aku masih bisa all-out. Kondisi udara pagi yang sejuk dan adem, rute yang relatif flat, dan ditambah banyak kendaraan besar yang lewat, memberikan banyak keuntungan aerodinamis. Aku bisa mempertahankan kecepatan diatas 35 kpj. Namun pada akhirnya karena aku dipaksa menggunakan cadence yang rendah, ujung-ujungnya ya kaki kemeng. Hanya bertahan separuh perjalanan sebelum aku mulai melambat, Melambat pun tetap di cadence yang rendah, tidak menyelesaikan masalah juga.
Pada akhirnya aku sampai di titik finish sekitar jam 7:20 pagi, dengan catatan total waktu 25 jam ++. Ternyata aku finish pertama, dan selisihku dengan peserta di urutan kedua cukup jauh. Aku tidak tahu berapa lama, namun yang aku ingat disana sampai aku nebeng mandi dan berganti pakaian, hingga makan siang di jam 11an hingga aku pulang kembali ke Jakarta siang itu, peserta kedua belum finish juga. Cukup senang juga karena bisa memecahkan rekorku sebelumnya di 5500 Bandung. Waktu itu aku finish sekitar 28 jam. Selisih 3 jam ini bisa kumaklumi karena pada saat 5500 Bandung, aku sempat istirahat lumayan lama untuk tidur. Artinya secara kecepatan tidak berbeda jauh dengan 5500 sebelumnya, selisuh waktunya bisa kubuang karena aku memilih untuk tidak tidur.
![]() |
| finally it's done |
Penutup
Setelah 3x mengikuti event 5500, bisa kusimpulkan semuanya tak ada yang mudah. Dan masing-masing series memiliki tantangannya sendiri. Di event kali ini, tanjakan bukan menjadi tantangan utama, bisa dibilang masih lebih ringan dibandingkan dengan 2 series sebelumnya. Tantangan yang paling berat menurutku faktor cuaca dan kondisi udara yang lembab bahkan hingga malam hari. Apakah di event-event 5500 berikutnya aku akan berpartisipasi? Jujur aku belum tahu. Untuk kategori solo, sepertinya aku sudah cukup kapok. Untuk kategori pair, sepertinya bisa kupertimbangkan. Belakangan ini aku melihat event gowes yang kuikuti seharusnya bisa menjadi sarana untuk refreshing, healing, dan fun. Bukan sebagai sarana untuk nge-push dan menyiksa diri. Memang ada kepuasan tersendiri ketika bisa finish strong, namun tampaknya masa-masa itu sudah menjadi tidak terlalu relevan dengan kondisiku saat ini.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar