Sabtu, Agustus 23, 2014

Seagate Central: Unboxing & Instalasi

Part 1 - Mengapa Seagate Central?
Part 2 - Unboxing dan Instalasi
Part 3 - Uji Coba Perangkat
Part 4 - Kelebihan dan Kekurangan

Isi Kemasan
Dus perangkat ini cukup besar. Ketika dibuka, Anda akan menemukan:
  • 1 box perangkat penyimpanan
  • Power adapter, yang dilengkapi dengan beberapa pilihan colokan listrik
  • 1 buah kabel ethernet
  • Quick Start Guide
Pada bagian belakang perangkat Seagate Central, Anda akan menemukan 3 buah port:
  • Port untuk power
  • Port USB 2.0, yang bisa digunakan untuk menancapkan hard disk eksternal lain maupun printer
  • Port gigabit ethernet untuk dihubungkan dengan jaringan lokal
Pada bagian bawah boxnya Anda akan menemukan tombol reset, yang bisa digunakan untuk me-reset konfigurasi Seagate Central tanpa menghapus data yang sudah ada di dalamnya. Tombol ini dapat anda gunakan ketika misalnya Anda lupa password administrator perangkat.

Mengapa Seagate Central?

Part 1 - Mengapa Seagate Central?
Part 2 - Unboxing dan Instalasi
Part 3 - Uji Coba Perangkat
Part 4 - Kelebihan dan Kekurangan

Berawal dari sisa space hard disk eksternalku yang kian hari semakin menipis, rasa-rasanya sudah saatnya membeli hard disk baru dengan kapasitas yang lebih besar. Salah satu konten yang paling rakus dalam urusan space adalah film. Film-film yang biasanya sudah aku tonton akan aku koleksi siapa tahu di masa yang akan datang ketika mau nonton lagi kan nggak perlu repot-repot mencari (padahal sih dalam kenyataannya jarang sekali aku dan mungkin pembaca sekalian untuk menonton film yang sama lebih dari satu kali). Alasan yang lebih logisnya adalah siapa tahu nanti ada teman, saudara, atau tetangga yang kebetulan belum nonton kan tinggal dikasih aja.

Sementara itu, konten-konten lain selain film seperti lagu, dokumen, foto-foto, dan dokumen-dokumen terkait pekerjaan tidak terlalu memakan spacehard disk. Kuperkirakan dengan menggunakan hard disk berukuran 1TB, diluar untuk menyimpan konten film, sisa space tersebut sudah mencukupi kebutuhanku selama beberapa tahun kedepan.

Sabtu, Agustus 09, 2014

Lezatnya Bakmi Mbah Marso

Sejujurnya, aku bukan tipe penggila kuliner yang senang mencoba tempat-tempat makan yang baru. Berawal dari beberapa tahun yang lalu ketika masih tinggal bersama mertua di Bekasi, tanpa sengaja menemukan bakmi jawa ini. Bakmi Jawa menurutku bukanlah tipe makanan pasaran seperti nasi goreng dan bakso yang bisa ditemukan di hampir semua tempat. Apalagi jika tempat makannya cukup ramai ketika kita menemukannya. Semakin membuat penasaran kan?

Sebenarnya apa sih yang spesial dari bakmi jawa ini? Salah satu yang khas dari bakmi jawa adalah dari cara memasaknya yang tidak menggunakan kompor minyak atau gas, tapi dari bara api. Konon cara memasak ini berpengaruh ke dalam cita rasa yang dihasilkan. Walaupun sejujurnya aku belum pernah membandingkan rasanya jika dimasak dengan bara api atau kompor gas. Untuk campuran bumbu dan bahannya kurang lebih sama dengan yang bakmi yang lain: telur, ayam, dan sayuran seperti kubis, bawang daun, dan tomat.

Minggu, Agustus 03, 2014

Tips Menghemat Baterai Macbook

Pada umumnya Macbook yang beredar di pasaran saat ini dibekali dengan baterai yang bisa bertahan hingga 5 jam untuk sekali charge. Macbook keluaran terbaru yang sudah menggunakan processor Intel Hasswell bahkan diklaim bisa bertahan antara 8 s/d 12 jam tergantung pada tipe Macbook nya. Bagi Anda yang menggunakan Macbook di rumah ataupun di kantor, tentunya kapasitas baterai bukan menjadi masalah, karena Macbook Anda dapat tetap terhubung dengan sumber daya listrik. Namun sebagai pengguna Macbook yang selalu mobile, tentunya Anda ingin agar Macbook yang Anda pakai bisa bertahan selama mungkin tanpa tergantung pada sumber daya listrik (stop kontak). Tergantung pada penggunaannya, baterai Macbook Anda mungkin memerlukan waktu yang lebih cepat untuk di-charge ulang.

Rabu, Juli 30, 2014

Shafiya in Action





Shafiya - 10 Bulan

Bulan Juli ini Shafiya genap berusia 10 bulan. Dalam 2 bulan terakhir ini, perkembangannya cukup cepat. Sayang sekali belakangan ini aku nggak sempat untuk menulis perkembangannya dari bulan ke bulan seperti Quanta dulu.

Dimulai dari kira-kira 2 bulan yang lalu, Shafiya sudah belajar untuk duduk dan mulai sering mengoceh. Namanya juga baru belajar, terkadang duduknya masih belum stabil dan mesti sering diawasi agar tidak jatuh. Shafiya juga sudah bisa memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan. Walaupun belum bisa bergerak merangkak, dia bisa bergerak dengan menggulingkan badannya. Jika sebelumnya posisi tidurnya selalu stabil, sekarang posisi badan ketika dia tidur dan bangun bisa berubah 180 derajat. Kupikir namanya anak perempuan posisi tidurnya akan lebih sedikit teratur, ternyata sama aja dengan kakaknya *doh.

Sabtu, Juli 05, 2014

Olahraga Yuks - Part 2

Dan jauh-jauh hari sebelum aku membiasakan diri untuk rutin berlari setiap minggu, sudah terbersit keinginan untuk memiliki sebuah sepeda. Niatnya ya hanya untuk digunakan sesekali saja, bukan untuk digunakan secara rutin. Namun yah karena waktu itu masih tinggal sama mertua dan belum pindah ke rumah sendiri, aku tahan keinginan itu. Mengapa sepeda? Ini mengingatkanku pada jaman sebelum kuliah dulu, dimana bersepeda adalah salah satu aktivitasku untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru yang jangkauannya jelas lebih jauh daripada berjalan kaki. Alasan lain mengapa aku tidak segera membeli sepeda juga karena di luaran sana banyak sekali pilihannya, dan ini benar-benar membingungkan.

Pada akhirnya niat untuk membeli sepeda baru pun semakin menguat ketika lambat laun para tetangga di komplek rumahku mulai membeli sepeda. Rayuan maut dari mulut ke mulut memang sangat efektif. Terutama karena di komplek rumahku memang ada salah satu tetangga yang hobi bersepeda dan sudah jauh berpengalaman dengan segala tetek bengeknya. Jadi dia bisa memberi saran mengenai spek sepeda yang cocok dan segala kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan. Dan aku ingat betul sarannya yang paling bermanfaat: “Yang penting itu adalah komitmen…”. Yup, tidak peduli seberapa mahal sepeda yang akan dibeli, yang penting adalah komitmen untuk menggunakannya secara rutin. Semakin mahal tentunya akan semakin sayang kan jika tidak dipakai. Dan alasan ini cukup beralasan karena walaupun di komplek rumahku sudah cukup banyak yang memiliki sepeda, banyak diantara mereka yang tidak menggunakannya secara rutin. Memang hanya ada beberapa orang yang benar-benar hobi bersepeda dan secara rutin bersepeda setiap minggu.

Minggu, Juni 29, 2014

Olahraga Yuks - Part 1

Jauh-jauh hari sebelum tulisan ini dibuat, nggak pernah sekalipun terpikir untuk berolahraga walaupun di akhir pekan. Biasanya akhir pekan kuhabiskan untuk beristirahat di rumah setelah seminggu berlelah-lelah ria dengan pekerjaan. Beberapa bulan lalu semuanya berubah, dimulai dari insiden earphone Philips ku yang rusak dan memaksaku untuk membeli earphone baru dengan spec build quality yang lebih baik. Pilihanku pun jatuh pada Klipsch S4i II yang memang didesain untuk perangkat iOS dan Mac. Walaupun earphone ini tidak didesain untuk berolahraga, sempat terbersit juga untuk menggunakannya sambil berolahraga ria.

Pilihanku pun jatuh pada lari. Alasannya sederhana: olahraga ini sangat simpel, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja (selama ada niat, disitu ada jalan), dan tidak memerlukan biaya tambahan. Akhirnya dimulailah olahraga lari keliling komplek sambil mendengarkan musik dengan earphone baru ku. Untuk permulaan, lari 1,5km saja sudah ngos-ngosan. Tapi namanya juga permulaan, yang penting konsisten pikirku waktu itu.

Minggu, Juni 15, 2014

[Review] Ulasan Klipsch A5i

Sebenarnya, tulisan ini bisa dibilang sudah agak basi, mengingat earphone Klipsch A5i yang akan aku ulas disini sudah cukup lama kubeli. Sejak earphone Philips SHE9850 ku bermasalah karena kabelnya terkelupas, aku sedikit alergi pada produk earphone Philips. Jujur saja, kuakui suara earphone Philips ku yang lama sudah cukup dan so far aku puas banget. Namun demikian, build quality produk yang buruk  membuatku berpikir dua kali untuk membeli produk yang sama.

Setelah melihat berbagai pilihan yang ada, aku memutuskan untuk membeli produk Klipsch. Satu hal yang aku sukai dari Klipsch adalah dia menyediakan model-model tertentu yang khusus di-desain agar kompatibel dengan produk Apple seperti Mac, iPhone, iPod, dll. Pada produk yang dibuat khusus untuk produk Apple, Klipsch menambahkan huruf ‘i’ di belakang namanya.

Kembali ke topik utama, akhirnya aku memutuskan untuk membeli Klipsch A5i, dengan warna hijau terang dan cukup mencolok. Ada beberapa alasan sih mengapa aku memilih produk ini. Salah satunya adalah diskon dari Bhinneka yang cukup menggiurkan (harga ketika aku beli 1,299 juta), dan tampaknya itu adalah clearance sale dari Bhinneka. Karena tak lama setelah itu produk tersebut sudah tidak ada lagi di Bhinneka. Alasan-alasan lainnya adalah:

  • Berdasarkan ulasan dari hasil googling, produk ini cukup bisa diandalkan. Kabelnya dibuat dari bahan kevlar yang konon awet.
  • Klipsch A5i ini didesain untuk pengguna yang hobi olahraga, jadi konon katanya tidak masalah ketika dipakai berbasah-basahan dengan keringat. Sejujurnya sih pada saat membeli produk ini aku bukan tipe orang yang senang berolahraga, cuma yah gara-gara earphone ini sekarang sudah nggak lagi :p
  • Memiliki 3 tombol yang berfungsi untuk mengatur volume dan musik, yang tentunya kompatibel dengan produk Apple. Selain itu, earphone ini memiliki penjepit, jadi nggak ribet ketika digunakan.
  • Memiliki microphone yang bisa digunakan untuk menerima panggilan


Okeh, itu adalah alasan-alasan mengapa aku membeli produk ini. Dan setelah menggunakan selama beberapa bulan, berikut adalah hasil ulasannya:

Kualitas Suara
Kualitas suara bisa dibilang cukup oke. Jika dibandingkan dengan Philips SHE9850 sih aku lebih prefer SHE9850. Suara bass produk ini menurutku cukup oke, namun terlalu dalam, dan tidak seimbang dengan treble nya. Ear tip nya pun cukup lumayan dalam meredam suara-suara di sekelilingnya. Berhubung earphone ini sering aku gunakan dalam perjalanan pulang pergi ke kantor via kereta Commuter, aku tidak terlalu mempermasalahkan kualitas suaranya. Apalagi jika digunakan untuk olahraga, kualitas suara mungkin bukan menjadi prioritas.

Build Quality
Produk ini aku akui cukup durabel. Bahan kabelnya resisten terhadap kelembaban dan keringat. Bahkan Klipsch A5i ini pernah aku gunakan dalam kondisi ekstrim: bersepeda ketika hujan cukup deras, dan sejauh ini oke-oke saja. Pada intinya sih produk ini cocok digunakan untuk pengguna yang senang dengan aktivitas outdoor.

Tambahan informasi:
Earphone ini pernah tidak sengaja tercuci di mesin cuci. Dan sejauh ini kualitas suaranya masih oke. Baik kabel maupun ear tip nya tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Ketiga tombol dan microphone nya masih bisa berfungsi dengan normal.

Kompatibilitas
Berdasarkan pengalamanku, produk ini kompatibel dengan iPhone, iPod Touch, iPad, iPod Nano, dan Mac. Untuk produk-produk Apple diluar itu earphone tetap bisa digunakan, namun tombol dan mic nya tidak berfungsi. Untuk produk diluar Apple, aku belum mencobanya sih, tapi kemungkinan sama saja, hanya fungsi earphone nya saja yang bisa digunakan.

Ergonomis
Earphone ini memiliki pengait yang digantungkan ke telinga yang berfungsi untuk mempertahankan earphone agar tetap pada posisinya walaupun digunakan dalam kondisi ekstrim. Pengait ke telinga nya cukup lentur sehingga nyaman digunakan. Selain itu ear tip nya bisa diatur, ada semacam gagang yang lentur yang bisa disesuaikan dengan lubang telinga.

Untuk penggunaan normal sehari-hari, produk ini berfungsi sebagaimana mestinya dan sangat nyaman untuk digunakan. Namun ketika digunakan untuk aktivitas outdoor yang membuat tubuh banyak mengeluarkan keringat, produk ini sedikit ‘bermasalah’. Produk ini sering kugunakan untuk menemaniku ketika berolahraga: berlari dan bersepeda. Ketika berlari, tubuh cenderung lebih banyak berkeringat dibandingkan dengan bersepeda. Dan ada kalanya keringat itu sampai membasahi telinga dan lubang telinga sehingga ear tip dari produk ini menjadi basah dan sedikit tidak ngepas. Karena menjadi tidak ngepas ke lubang telinga, seringkali suara yang aku dengar menjadi seolah tidak balance antara kiri dan kanan. Namun demikian, earphone nya tidak sampai terlepas kok. Cuma membuat menjadi sedikit tidak nyaman aja.

Senin, Juni 02, 2014

Gebrakan T-Cash: Promo dengan Harga Hot

Sejujurnya, menurut pendapatku pribadi layanan T-Cash itu bagai hidup segan mati pun tak mau. Sebagai pionir layanan uang elektronik dalam industri telekomunikasi di tanah air, belakangan ini pamornya seolah ditelan oleh pesaing-pesaingnya. Dalam setahun belakangan ini pertumbuhan merchant nya tidak terlalu signifikan. Sejauh ini T-Cash aku manfaatkan untuk membayar tagihan-tagihan, mengisi pulsa, dan membeli token listrik prabayar PLN. Sialnya, dalam sebulan belakangan ini T-Cash tidak bisa digunakan untuk membeli token PLN. Mau belanja di Indomaret? Coba saja, dan Anda akan beruntung jika kasirnya bisa melayani pembelian barang dengan T-Cash. Melihat kenyataan ini, rasa-rasanya semakin ‘malas’ saja menggunakan T-Cash.