Senin, Oktober 12, 2009

Kerjaan: Lain dulu, lain sekarang

Well, setelah 2,5 tahun bekerja di perusahaan yang selama ini aku anggap sebagai tempat bekerja yang menyenangkan, aku sempat kepikiran untuk menulis perbandingan job desc ku, dan segala hal yang terkait dengan kerjaanku ketika pertama kali masuk dan keadaan saat ini. Setelah aku pikir-pikir perbedaannya lumayan jauh. Beberapa ekspektasiku terpenuhi, dan beberapa lagi lewat begitu saja. Untuk itu, dalam tulisanku kali ini, aku mencoba membuat perbandingan baik secara obyektif dan subyektif dari sudut pandangku.

3 bulan pertama: Masa Probation
  • Berasa makan gaji buta. Masih belum jelas apa pekerjaanku. Bahkan sempet kepikiran sebenarnya di departemenku butuh orang tambahan nggak sih?
  • Biasanya ngebantu-bantuin kerjaan senior, yang untungnya sih baik-baik dan nggak pernah sampe disuruh bikin kopi :P
  • Suasana kerja sangat menyenangkan, lingkungannya nyaman. Secara umum, tingkat stress dalam lingkungan kerja masih tergolong rendah.
  • Belum diberikan tanggung jawab untuk memegang suatu proses bisnis tertentu atau peoyek tertentu
  • Waktu banyak terbuang dengan percuma, karena nggak banyak yang dikerjakan. Bisa aku manfaatkan untuk membaca beberapa ebook serta artikel-artikel lain.
  • Lembur: Karena kerjaan dikit, kayaknya cuma beberapa kali aja, itu juga untuk kerjaan-kerjaan yang mendadak dan perlu dikerjakan cepet.
  • Rasio job desc dan gaji: sangat worth lah, malah berasa makan gaji buta.
  • Email: tiap hari masih kosong. Rata-rata menerima email dikit banget, dan isinya biasanya bukan kerjaan.
    Jam kantor: datang pagi-pagi, pulangnya nggak terlalu malam lah (probation gituh loh)

3 bulan sampai 1 tahun pertama:
  • Mulai diberikan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih spesifik
  • Load pekerjaan secara umum masih belum terlalu tinggi. Waktu luang yang dimiliki masih banyak. Rasio antara kerja dan nggak kerja, bisa dibilang 1:1.
  • Mulai melihat adanya beberapa proses bisnis yang bisa diautomatisasi. Yang tentunya jadi kerjaan iseng-iseng berhadiah. Kalau jalan diterusin, kalau nggak ya udah.
  • Ketika load pekerjaan sedang mencapai puncaknya, efeknya cuma sementara dan tidak terus berlanjut. SLA untuk pekerjaan masih bisa dijamin. Pekerjaan paling telat dikerjakan keesokan harinya dan bisa langsung solved.
  • Lembur: Jarang banget. Sesekali masih boleh lah. Rata-rata lembur sebulan maksimal 2 atau 3 kali. Kalau sengaja nyari lemburan sih jangan mimpi deh.
  • Rasio job desc dengan gaji: masih sama, belum ada keluhan. :P
  • Email: walaupun email yang masuk mulai banyak, biasanya jarang sampai menumpuk. Ketika aku pulang, aku pastikan semua email sudah terbaca dan ter-follow up.
  • Sore-sore masih sering ada ajakan untuk makan mie ayam di belakang kantor. Padahal waktu masih menunjukkan jam 4.
  • Akhir tahun ketika semua masih cuti, masih bisa sempet maen game rame-rame se-divisi. Jam kerja pula lagi.
    Jam kantor: datang jam 8 an lewat, pulangnya tepat waktu :D
1 tahun pertama sampai tahun kedua:
  • Sejak ganti bos baru, kerjaan jadi lebih fleksibel, walaupun secara load sih sama aja.
  • Load pekerjaan tentunya meningkat lah. Kerjaan yang aku lakukan sudah jauh lebih spesifik dan general (loh): mulai dari ngurusin audit, dokumen harian, urusan koding dan automatisasi, dan sampe iseng-iseng memanfaatkan PC yang nggak kepakai sebagai server lokal yang akhirnya malah kepake banget.
  • Mulai melihat adanya ketergantungan data dari IT, biar nggak bolak-balik minta terus. Tapi apa daya nggak punya storage yang cukup.
  • Suasana kerja masih menyenangkan, beberapa orang senior yang diberikan tanggung jawab yang lebih besar mulai sibuk mengurusi hal-hal yang non teknis. Ini menyebabkan pekerjaan teknis jadi beraalih ke aku semua.
  • Pagi-pagi masih bisa baca koran. Jam kerja yang bener-bener kerja baru mulai jam 10 pagi, dan biasanya jam 3 atau jam 4 dah kelar semua. Bisa istirahat dan pulang cepet.
  • Jam kantor: dateng rada siang, dan pulang tepat waktu. Intinya ngapain kerja lama-lama kalo bisa pulang cepet. Mulai melihat adanya peluang untuk memperoleh dan belajar hal lain di luar jam kantor.
  • Masih sempet lah ngerjain proyek-proyek diluar kepentingan kantor di luar jam kantor.
  • Email: kayaknya nggak ada perubahan dari yang sebelumnya.

Setelah tahun kedua
  • Restrukturisasi dan reorganisasi mengacaukan segalanya. Kurang resources menjadi hal yang lumrah.
  • Jam kantor: datang sebelum jam 8, pulangnya bisa sampai malam.
  • Load pekerjaan: meningkat dengan drastis. Issue kurang orang menjadi issue utama, namun nggak bisa solved dengan segera karena ada kebijakan zero growth dari perusahaan
  • Suasana kerja sudah mulai tak kondusif (karena loadnya tinggi) walaupun masih menyenangkan lah.
  • Pagi-pagi, udah nggak keburu baca koran. Kerjaan utama pagi-pagi adalah panen di Farm Ville mumpung lagi sempet. Siangnya biasanya udah kesita dengan banyak pekerjaan.
  • Pekerjaan menjadi nggak fokus. Banyak sekali hal-hal kecil yang harus dikerjakan walaupun tidak mendesak tapi penting. Mesti bisa bekerja dan menyelesaikan masalah secara all-in-one.
  • Email: Ini sih jangan tanya. Lagi weekend 2 hari aja bisa-bisa nambah sampai puluhan, apalagi pas hari kerja. Bikin stress pas ngebuka email hari Senin pagi.
  • Kebanyakan target yang mesti dicapai. Padahal banyak hal juga yang mesti dibenahi dari proses bisnis yang sudah ada dan berjalan sejak dulu kala.
  • Lembur: Suka-suka deh. Kalau dulu nyari lemburan susah karena emang mau ngerjain apa lagi. Kalau sekarang: bisa milih mau lembur hari apa. Selalu ada pekerjaan yang bisa dikerjakan untuk lembur.
  • Sore-sore bawaannya mau pulang cepet aja kalau lagi nggak ada pekerjaan. Biar bisa cepet sampai rumah dan istirahat deh.
  • Rasio gaji dan job desc: Bikin ngeneg aja. Apalagi kena korban Job Valuation di perusahaan yang konon katanya bulan Oktober ini udah kelar.
Yah, memang ada suka dukanya. Yang penting masih bisa dinikmati lah. ;)

Selasa, Oktober 06, 2009

Bad Mood

Bayangkan apa yang terjadi ketika Mars yang sedang stress, mengantuk, dan capek karena workshop yang berlangsung seharian penuh, dan mana sampai malam pula, tiba-tiba dimarahi oleh seorang Venus yang tanpa diduga-duga mendebatnya, menyalahkannya, dan bahkan tak memberinya kesempatan untuk berbicara untuk menjelaskan. Menurut John Gray, ketika Mars stress, hormon testosteronnya akan menurun, dan butuh istirahat dengan tenang untuk menaikkan kembali kadar hormonnya sehingga stressnya bisa berkurang. Jadi bisa dibayangkan apa akibatnya: jelas Mars akan berusaha mengakhiri konflik seolah-olah cuek. Sebenernya lain lagi ceritanya kalo si Venus disini adalah seseorang yang spesial untuk si Marsnya. Berhubung ini Venusnya juga siapa dia gitu, yang berhak untuk memarah-marahi dan tanpa kompromi langsung menyalahkan. Emang gw pikirin???

Malam itu, rusaklah sudah moodku. Sampai akhirnya mau nginep di hotel nggak jadi dan prefer untuk pulang dan tidur di rumah. Kayaknya ini udah kelewatan. Dulu ngomong aku orang gagal, sementara sekarang seenak jidat sendiri main-main nyalah-nyalahin.

Nggak perlu lah aku sebut orangnya ataupun apapun itu masalahnya. Satu hal yang perlu aku tekankan disini adalah: sesuatu yang disembunyikan, lama-lama juga pasti akan ketahuan. Apalagi kalau orangnya jujur, secara tak langsung akan banyak mengeluarkan sinyal-sinyal 'kejujuran' yang tanpa disadarinya ditangkan oleh orang-orang bertipe pengamat *tipe 5* yang memiliki insting yang cukup tajam. Apalagi waktunya sudah berjalan cukup lama, sehingga walaupun lingkungan sekitar tampak anteng-anteng aja, padahal mereka sudah tahu semuanya. Dan ini harusnya disadari sejak awal.

Yang kedua adalah: facebook, blog, dan aplikasi-aplikasi web sejenis bersifat publik. Kalo memang nggak mau dicurigai, ya ngapain nulis macem-macem disitu dengan sesuatu yang memancing perhatian dan keingintahuan orang-orang. Situ yang posting, gw yang komen, kok jadi nyalahin. Emang pernah ngasih statement gw nggak boleh komen? Konyol banget deh.

Ketiga: ketika bertemu dengan temen-temen sendiri di lingkungan sendiri pula, sebaiknya jangan terlalu curiga atau menuduh deh. Kalo memang nggak ada maksud apa-apa, kenapa mesti disalah-salahin sih? GR amat. Lagian menanyakan kabar temennya sendiri emang nggak boleh ya? Hal yang konyol. Just want to make this thing clear: I don't even need to talk to them, I believe they already know this. Mana bisa menduga mereka belum tahu, emang udah pernah nanyain satu-satu. Alibi yang nggak berdasar.

Capek deh...

Jumat, Oktober 02, 2009

Warrior of The Light

Ini adalah buku ke-11 Paulo Coelho yang aku baca. Nggak terasa sudah 10 buku aku baca sejak pertama kali membaca The Alchemist yang direkomendasikan oleh salah seorang teman kantorku. Pada awalnya kukira isi buku ini mirip seperti Like The Flowing River yang lebih berisi cerita-cerita yang ditulis Coelho selama dalam kurun waktu tertentu. Jadi semacam rangkuman catatan-catatannya dia. Ternyata Warrior of The Light lebih berisi manual atau petunjuk, tapi isinya nggak nge-judge, namun inspiratif.

Memang dalam buku ini dia menempatkan seorang 'Warrior' sebagai inti semua petunjuknya. Seolah-olah mengatakan seorang 'Warrior' itu seperti begini dan begitu, akan melakukan hal-hal seperti ini dan seperti itu. Walaupun isinya inspiratif, terkadang aku masih nggak ngerti kenapa dia mesti menggunakan 'Warrior' sebagai inti ceritanya. Karena dari kata pengantar dan penutup bukunya, seolah semuanya menjadi tak jelas antara imajinasi dan kenyataan. Aku menangkap kesan 'Warrior' ini sebagai imajinasi fiktif dan tidak nyata. Entah apakah 'Warrior' ini diambil karena Coelho tidak menemukan kiasan dan tokoh fiktif yang tepat, sehingga dia memutuskan untuk menggunakan 'Warrior of The Light' sebagai inti cerita dan tokok utama.

Aku setuju buku ini sangat inspiratif, tapi aku merasa seolah ada yang kurang dalam penyajiannya. Aku malah lebih suka dengan Like The Flowing River nya. Namun demikian, kurasa tiap orang memiliki persepsi berbeda. Kalau membaca review bukunya di Goodreads, banyak yang memberikan rating 5, mungkin karena mereka cocok dengan penyajiannya. Tapi ada pula yang memberikan rating yang kurang memuaskan. Sepertinya otaknya nggak nyambung tuh dengan pemikiran-pemikiran Paulo Coelho, jadinya sekalinya memberikan rating, dikasih bintang 1. Buku ini cocok lah untuk orang-orang yang demen mencari inspirasi.

Selasa, September 29, 2009

Perahu Kertas: Melebihi Ekspektasi

Aku masih ingat ketika buku ini tiba-tiba nongol di iniBuku bulan lalu. Maklum, penulisnya adalah Dee yang buku-bukunya tentunya sudah masuk wish-list ku, ga peduli isinya bagus atau nggak, whatsoever kata orang, yang penting beli dan punya koleksinya. Apalagi iniBuku ngasih embel-embel kalo pre-order bakalan dapet tanda tangannya Dee di dalam bukunya. Yah, sebenernya ga terlalu penting, tapi sesekali bolehlah. Dan lebih spesial lagi, bukunya diantar pas hari ulang tahunku. Komplit deh. Walaupun demikian, bukunya baru mulai kubaca belakangan ini aja. Maklum, waktu kubeli masih ada antrian buku yang mesti kubaca.

Buku ini menceritakan kisah Kugy dan Keenan. Kugy yang berantakan, cuek, aneh, namun senang membuat dongeng. Disisi yang lain Keenan cerdas dan pandai melukis. Keduanya memiliki karakter yang berlawanan namun saling melengkapi. Dari awal sampai akhir buku ini, keduanya menghadapi banyak sekali rintangan dan konflik-konflik. Baik Kugy dan Keenan berusaha mencari jati diri mereka masing-masing, antara realita dan kenyataan. Pada akhirnya mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit: merelakan kata hati mereka dan menerima kenyataan yang ada.

Novel ini adalah novel tentang cinta, namun tentunya tidak dikemas dengan cara yang biasa. Yang membuat novel ini menarik adalah alur cerita yang dibuat seolah semuanya terjadi secara kebetulan. Rumit dan berliku-liku tapi dibuat sebenarnya sederhana. Jika dibuat film, pemainnya sih nggak terlalu banyak, tapi masing-masing memiliki hubungan dengan pemain-pemain yang lain. Alur ceritanya dibuat memiliki banyak konflik yang seolah-olah tak pernah habis, membuat pembacanya terutama aku, selalu penasaran dan ingin segera menyelesaikan bukunya. Banyak sekali hal-hal konyol dan lucu yang kutemui di novel ini, begitu pula hal-hal yang mengharukan dan menyedihkan, terutama di bagian ketika Keenan atau Kugy dihadapkan pada pilihan yang pahit.

Baru tahu kalo novel ini mulai ditulis pada tahun 1996 dan sempat terhenti dan nggal dilanjutkan lagi. Tapi katanya novel ini ditulis ulang dari nol, nggak melanjutkan dari versi sebelumnya. Walaupun aku belum membaca semua karya Dee (baru baca Supernova yg pertama, Rectoverso, dan Filosofi Kopi), I guess this is her best novel lah. Apalagi dikerjainnya selama 60 hari doang. Recommended dan worth lah..

Jumat, September 25, 2009

Maxis: Menjawab kebutuhan Internet Selama Liburan

Rasanya, internet sekarang sudah menjadi kebutuhan primer nih. Aku merasa saat ini membutuhkan koneksi internet secara mobile. Nggak hanya bisa diakses dari PC atau laptop, tapi sampai level HP mesti bisa konek ke internet. Memang sih di tempat aku Pakdeku ada koneksi internet unlimited, tapi ya jangkauannya cuma disitu aja.

Selain itu, aku juga perlu nomor lokal untuk tetap berkomunikasi dengan teman-temanku di Indonesia. Jadi maunya beli nomor prepaid skalian mencari paket internet yang paling murah. Setelah melihat-lihat, aku memutuskan untuk memilih Maxis karena nggak sengaja melihat iklan Prepaid Broadband. Tarif tanpa paket sekitar 1 sen/Kb. Atau 1RM 100 KB yang bisa dibulatkan menjadi Rp. 3000. Masih terhitung sangat mahal lah, bahkan dibandingkan dengan di Indonesia yang per Kb nya dibawah Rp 5. Tetapi Maxis menyediakan paket broadband untuk 1 minggu seharga 25 RM untuk pemakaian sebesar 2GB. Jika dirupiahkan menjadi sekitar 75 ribu rupiah. Per MB nya nggak sampai 50 rupiah. Terhitung sangat murah jika dibandingkan dengan tarif per Kb nya.

Walaupun aku nggak terlalu membutuhkan speed, tetapi kecepatannya cukup memuaskan. Paling nggak stabil lah, dan nggak tersendat-sendat. Mungkin kecepatannya bisa stabil karena penduduknya disini juga nggak terlalu banyak dan perilakunya juga nggak aneh-aneh seperti di Indonesia, dimana jaringannya di-abuse habis-habisan. Semoga aja nanti di Indonesia ada paket volume based untuk Postpaid, yang tentunya untuk kartuHaloku. Paket unlimited sepertinya sudah tidak terlalu menarik lagi karena memang aku sendiri jarang menggunakan bandwidth sampai mentok. Yang penting bisa konek dan internetan dari HP. Ketika iseng-iseng aku coba test koneksinya melalui www.speedtest.net, ternyata lumayan kenceng juga.

koneksi ke server lokal

koneksi ke server indonesia

Selasa, September 22, 2009

Nokia Chat Beta: Mengecewakan

Beberapa waktu lalu, Nokia merilis aplikasi Nokia Chat versi Beta yang bisa digunakan di handphone E71 ku. Sebelumnya versi beta nya hanya tersedia untuk E75, namun kini tersedia juga untuk E63 dan E71.

Aplikasi Nokia Chat ini bisa digunakan untuk chatting ke sesama pengguna Yahoo Messenger, Ovi, dan Google Talk. Tadinya kupikir karena bikinan Nokia, dan untuk seri E pula lagi, aplikasinya akan berbasis Symbian. Ternyata malah berbasis Java, yang menurutku cenderung 'lambat' dan fitur-fiturnya jadi kurang maksimal.

Setelah kucoba, dugaanku nggak meleset. Saat ini masih sebatas mencoba fitur chat ke sesama pengguna YM, tapi sudah cukup lah. Kesan pertamaku adalah aplikasinya terlihat monoton dan kurang menarik. Entah apa karena ini masih versi beta. Jika dibandingkan dengan aplikasi messenger sejenis shMessenger yang dari sisi tampilannya saja sudah OK, Nokia Chat masih tertinggal jauh lah.

Inilah beberapa kekurangan yang menurutku harus dibenahi:
  • Berbasis Java. Banyak fitur-fitur yang kurang optimal jika dikembangkan dengan Java.
  • Respon lebih lambat. Membutuhkan waktu lebih dari 30 detik untuk me-load seluruh contact yang ada di list ku, dan ini lumayan menyebalkan karena aplikasi sejenis Slick dan shMessenger lebih responsif.
  • Window untuk chattingnya lebih ribet. Aku lebih menyukai shMessenger yang sangat memudahkan penggunanya untuk beralih dari jendela utama ke jendela percakapan dengan pengguna lain.
  • Untuk sebuah aplikasi buatan Nokia, dan terutama untuk handphone Nokia, fitur-fitur yang disediakan masih minim. Masa kalah oleh aplikasi messenger lain yang notabene dikembangkan oleh vendor lain.

Semoga saja kedepannya fitur-fitur di aplikasi Nokia Chat ini bisa terus disempurnakan sampe versi release nya keluar. Lumayan aja nih kalo nanti tiba-tiba jadi keluar versi Symbian nya, tentu akan lebih responsif dan fitur-fiturnya lebih banyak.

Minggu, September 20, 2009

All Those Things We Never Said

Kesan pertama ketika melihat buku ini kukira isinya 'serius', apalagi setelah melihat cover dan sinopsisnya. Karena memang dari covernya cukup menarik dan membuatku penasaran, aku beli juga bukunya.

Novel ini menceritakan kehidupan Julia, seorang wanita yang memiliki pekerjaan sebagai seorang animator dan akan segera menikah. Sayangnya semua rencananya berantakan ketika dia mendapat kabar ayahnya meninggal dan akan dimakamkan di hari dimana dia seharusnya menikah. Hubungan dengan ayahnya kurang begitu baik karena selama ini dia merasa diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri. Dan sekarang, tiba-tiba ayahnya menggagalkan rencana pernikahannya dengan Adam, calon suaminya.

Tak lama setelah pemakaman ayahnya, datang sebuah paket yang diantar ke apartemennya. Isinya sungguh mengejutkan: sebuah manusia android yang begitu mirip dengan ayahnya, Anthony Walsh. Julia hanya memiliki waktu 6 hari bersama android kembaran ayahnya karena baterai androidnya hanya bertahan selama 6 hari.

Walaupun hubungan mereka tak terlalu baik, namun ternyata Anthony sangan mencintai Julia. Selama 6 hari tersebut, mereka berdua melakukan perjalanan ke Kanada, Paris, dan Berlin untuk mengungkap hal-hal yang tak pernah diungkapkan oleh Anthony selama 20 tahun, yang mengantarkan Julia kepada kenangan masa lalu mengenai cinta pertamanya yang dia sangka telah mati.

Walaupun terkesan cukup serius, namun di dalam novel banyak sekali ditemukan hal-hal konyol dan lucu, terutama dalam pilihan kata-kata dan dialog, yang terjadi antara Julia dan Anthony. Secara garis besar, novel ini menceritakan kisah kasih sayang seorang ayah kepada putrinya yang tak pernah terungkap dan perjuangan mencari cinta pertama yang disangka telah mati. Novel ini diluar ekspektasiku, yang tadinya kukira novel pop semata, ternyata malah nggak nyesel untuk membelinya: gaya bahasanya unik *yang mungkin karena sebelumnya aku underestimated* Jadi malah kepingin membaca karya Marc Levy yang lain, tapi tampaknya yang baru diterjemahkan cuma yang ini aja :(

Jumat, September 18, 2009

Apapun temuannya, back date solusinya

Topik yang satu ini memang nggak akan pernah habis dibahas. Karena memang ini adalah kontrol dan pekerjaan rutin yang mau nggak mau harus dikerjakan. Resikonya jika sampai nggak dikerjakan adalah adanya temuan yang artinya defisiensi dan artinya bonus berkurang karena audit ini merupakan salah satu komponen KPI.

Di tempat aku bekerja, kontrol untuk audit ini secara umum dibagi menjadi dua: kontrol transaksional, dan kontrol untuk IT. Kontrol secara transaksional menyangkut dokumen-dokumen yang terkait dengan pekerjaan harian, yang pada umumnya selalu ada dan selalu dibuat, jadi nggak mungkin lupa. Sementara kontrol yang satunya lagi ini yang nggak jelas: kontrol IT.

Dokumen yang mesti di-submit adalah dokumen-dokumen semacam kesepakatan antara departemenku dan departemen IT, yang dalam jangka waktu tertentu harus selalu diperbaharui *walaupun isinya ya bgitu-bgitu saja, yang jelas beda tanggal lah*. Nah dokumen-dokumen ini nih yang terkadang lupa dibuat, atau misalnya belum ada serah terima antara departemen terkait dengan departemenku, sehingga belum bisa dibuat tapi sudah ditagih oleh audit. Dokumen-dokumen ini so far yang aku tahu nggak pernah diperiksa isinya oleh audit: yang penting dokumennya ada. Karena itulah, dokumen-dokumen semacam ini sangat mudah dibuat walaupun dalam kondisi mendesak. Tinggal back date *membuat dokumen dengan tanggal jauh-jauh ke belakang* seolah dokumen tersebut dibuat pada periode audit yang ditentukan, sehingga tak menjadi temuan. Sangat konyol memang, tapi itulah yang terjadi. Dimana-mana seperti itu. Nggak di departemenku, nggak di IT, back date selalu menjadi sebuah solusi. Nah, kali memang kejadiannya sudah terlalu banyak, kira-kira salahnya dimana ya? Apakah memang orang-orangnya yang malas dan lupa membuat dokumen, atau memang membuat dokumen seperti ini dianggap membuang-buang waktu dan nggak jelas gunanya: toh nggak diperiksa juga isinya. Jadi, siapa yang salah???

Kamis, September 17, 2009

Lovely Bookmark

Kemarin, rekan kerjaku memberiku oleh-oleh dari Korea: sebuah pembatas buku berbentuk daun yang terbuat dari logam tipis. Lumayan, untuk menambah koleksi barang-barang 'antik' yang sudah aku miliki. Yang lebih mengharukan lagi temanku mengatakan dia tahu kalo aku suka baca buku, jadi dia memilih cindera mata itu untukku. Aku suka pembatas buku itu karena bentuknya seperti daun yang menampilkan serat-seratnya, sehingga terkesan natural. Semoga aja nggak rusak dan kelipet deh.

Minggu, September 13, 2009

SSH Tanpa Password

Tulisan ini mungkin sudah masuk kategori ketinggalan jaman banget, secara protokol SSH sudah digunakan dari jaman dulu kala. Namun tak ada salahnya juga sih, siapa tahu ada sebagian orang yang belum mengetahui tekniknya.

Secara konvensional jika seseorang melakukan login menggunakan protokol SSH ke suatu server, akan muncul prompt password. Prompt password ini mungkin akan dirasa cukup merepotkan jika orang tersebut adalah admin yang menangani mesin server yang lumayan banyak. Terlebih lagi jika password dari masing-masing username pada masing-masing mesin tersebut berbeda-beda dan susah untuk diingat.

Dengan menggunakan public/private key, maka memungkinkan untuk login menggunakan protokol SSH tanpa perlu memasukkan password. Agar lebih aman, private key yang dimiliki dapat diatur apakah memiliki passphrase atau tidak. Jika passphrase dikosongkan, maka tidak perlu memasukkan password lagi ketika melakukan login. Jika mekanisme ini diaplikasikan pada kasus diatas, maka admin tidak perlu lagi memasukkan password atau hanya perlu memasukkan passphrase yang sama ketika login ke semua mesin server yang ditangani oleh admin tersebut.

Berikut ini adalah langkah-langkahnya:
  1. Login ke client yang akan digunakan untuk login ke mesin server

  2. Membuat pasangan public/private key yang akan digenerate secara random menggunakan perintah ssh-keygen -t dsa atau ssh-keygen -t rsa tergantung tipe key yang akan digenerate apakah menggunakan protokol RSA atau DSA. Dari info yang aku peroleh, protokol DSA lebih aman.
  3. Output dari perintah diatas jika menggunakan perintah ssh-keygen -t dsa akan kira-kira akan seperti berikut:
    $ ssh-keygen -t dsa
    Generating public/private dsa key pair.
    Enter file in which to save the key (/home/test/.ssh/id_dsa):
    Created directory '/home/test/.ssh'.
    Enter passphrase (empty for no passphrase):
    Enter same passphrase again:
    Your identification has been saved in /home/test/.ssh/id_dsa.
    Your public key has been saved in /home/test/.ssh/id_dsa.pub.
    The key fingerprint is:
    78:2d:16:3a:72:48:ea:c9:49:2b:2e:86:99:27:b6:b9 test@anwyn
    The key's randomart image is:
    +--[ DSA 1024]----+
    | |
    | |
    | . . |
    | o . o o |
    | o o = S . |
    | + + o + . |
    |oo* |
    |B+o |
    |+Eo |
    +-----------------+


    Masukkan nama file untuk menyimpan private key atau kosongkan untuk menyimpannya ke dalam file default (biasanya di $HOME/.ssh/id_dsa). Kosongkan passphrase yang diminta agar tidak muncul prompt ketika sudah digunakan nantinya.

    Public key secara default akan disimpan dengan nama id_dsa.pub dan disimpan di folder .ssh pada home directory.

  4. Login ke server tujuan dan salin isi public key yang telah digenerate sebelumnya ke dalam file authorized_keys yang ada di folder .ssh pada home directory. Untuk lebih mudahnya dapat dilakukan perintah berikut untuk memudahkan proses penyalinan:
ssh-copy-id -i [letak public key] username@targetserver
Pada proses diatas akan muncul prompt password untuk user username pada mesin targetserver. Masukkan password yang sesuai dan selanjutnya akan muncul keterangan bahwa public key telah ditambahkan kedalam target server.

Sekarang setiap kali login ke mesin server tujuan dengan username yang telah ditentukan, tidak akan muncul prompt password. Login menggunakan protokol SSH tanpa password sudah bisa dilakukan.

Notes tambahan:
- Masing-masing user dapat membuat pasangan public/private keynya sendiri, dan satu private key hanya digunakan oleh satu user. Sementara public key dapat ditambahkan ke user-user lain pada mesin-mesin yang lain. Cara diatas hanya berlaku untuk user tententu pada mesin server tujuan. Untuk memungkinkan akses SSH tanpa password ke user lain di mesin yang sama atau di mesin yang lain, dapat menggunakan perintah ssh-copy-id.