Senin, Maret 16, 2009

Rumahku

Semilir angin sepoi-sepoi
Membasuh tubuh lelahku
Rimbunan pohon-pohon
Menaungi dari teriknya sang mentari

Sebuah taman kecil berikan kehidupan
Memanjakan dengan kesejukan
Menaungi dengan keteduhan
Ditengah segala kesibukan yang menipu

Aku disini untuk kembali
Aku sunyi.. Diantara keramaian dunia
Semua harapan semu yang tak berujung
Telah kupendam dan tak terungkit lagi

Inilah rumahku
Tempat ku kembali pulang
Awal dimana semuanya akan dimulai
Menyongsong harapan sang mentari pagi

Kamis, Maret 12, 2009

Aku Ingin Pulang

Apalah arti semua ini?
Dunia ini sungguh fana dan menipu
Apakah maksud semua ini?
Ketika kesenangan ini menyesatkan dan semu

Hati menjadi tak tenang
Perasaan menjadi gelisah
Hati menjadi sakit
Perasaan tak menentu menyelubungi jiwa

Kesedihan apakah yang sedang kurasakan?
Kurasakan bisikan-bisikan menggoda
Mengotori hati dan jiwaku
Membimbingku kepada jurang kebinasaan

Aku benci kepada diriku sendiri
Aku tak berdaya
Aku sedih
AKu kecewa
Aku marah
Aku kesal
Aku... dan tak perlu aku sebutkan satu persatu

Ya Allah,
Aku telah tersesat
Terseret dalam nafsu dan dosa
Aku lari dari cahayaMu
Dan lebih memilih jalan yang gelap

Ya Allah,
Aku ingin kembali
Aku rindu padaMu
Aku rindu akan perasaan itu
Ketika aku merasa dekat denganMu

Ya Allah
Bimbinglah aku,
Tunjukkan aku jalanmu,
Antarkan aku,
Dan bawalah aku menuju kesana

Selasa, Maret 10, 2009

9th March, 8th Fool Day - Mission Accomplished

Fiuh.. I have been waiting so long for this day. Today is Fool Day. My best friend and I declared 9 March as Fool Day 8 years ago. We had some reasons why we choosed 9th March. About 8 years ago, we always celebrated this Fool Day every 9th day of the month. What a silly job and didn't make sense.

Last year, on 7th Fool Day, I bought a Snoopy puzzle. What a lovely puzzle event it comprised only 300 pieces of puzzle. But I liked it, and right now, I can't find it in any store I know. It's rare and expensive because of its quality. I wish I could find it, but I didn't.

Several months ago, I intended to buy a wide lens for my Nikon camera. I felt, I should have one, because it would be very useful when I take a landscape photograph. I thought that I need a wide angle lens to fulfill my need. At the day, I decided to buy Sigma 10-20mm. I had enough money to buy it. But at the time I just had bought SB-600 speed light. I should spare my money and not to indulge my desire to buy and buy more accessories. Yeah, suppose it was a practice to make me more patient and more able to control myself. As time went by, I decide to buy Tokina 11-16mm because its build quality is better than Sigma though it's more expensive. Moreover, it has fix aperture size at F2.8.

So, after waiting for about 4 months, I buy Tokina 11-16mm equipped with Kenko Pro 1 CPL filter. It cost me more than 8 million. One thing I forgot to consider was the filter. I decided to buy an expensive filter because I wanted to try it. Peoples say thay CPL filter is a must, so I bought it. Cost me about 930 thousand. I thought the combination of this two gears is cool even I didn't try them at outdoor. Unfortunately, heavy rain washed Jakarta this evening, so I couldn't use it :(. And I'm not sure I have some opportunities to shoot until weekend.

As complement, I bought some snoopy stuffs. It was a pencil case, two magnetic sticker, and some another stickers which can be used for books, notebooks, bags, and so on. I will take all of this and put it on my desk at office. Yeah, everything placed up in my desk will be snoopy stuffs, eeyore doll, and a doll from my friend. I have no plan what kind of stuff I'm going to buy next year. But it seems, to purchase another snoopy stuffs next year is a must.

Selasa, Maret 03, 2009

Menghitung Hari

Beberapa hari ini, status YM dan Facebook ku adalah menghitung hari secara mundur. Memang sih, saat ini aku sedang menunggu hari itu. Beberapa orang teman yang cukup perhatian dan ngeh akan statusku yang sama dalam beberapa hari ini menanyakan: "Sedang nunggu apa Ko?", yang biasanya aku jawab dengan alasan-alasan yang cukup masuk akal namun sebenernya adalah kedok. Ujung-ujungnya aku katakan: "Adda deeeeh", setelah itu mereka diam. Hehehe...

Hanya sedikit temanku yang mengetahui apa yang sebenarnya aku tunggu. Salah seorang diantara mereka malah berkomentar aku seperti orang yang kurang kerjaan dan nggak jelas. Memang sih, rasa-rasanya untuk orang-orang pada umumnya, apa yang aku kerjakan ini seperti orang yang kurang kerjaan aja. Tapi aku tentunya juga bebas melakukan segala sesuatu yang aku pikir tak ada hubungannya dengan orang-orang sekitarku, apalagi sampai merugikan mereka.

Seperti apa yang dikatakan di dalam buku Little Prince: kita harus bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang telah kita 'jinakkan'. Dan waktu yang telah kita habiskan inilah yang membuat sesuatu yang telah kita 'jinakkan' itu berharga. Hari yang telah aku tunggu adalah hari yang telah aku rayakan sejak beberapa tahun silam. Walaupun tak ada hubungannya dengan ulang tahun seseorang ataupun keadaan yang pantas untuk dianggap spesial, tak ada salahnya juga jika aku menganggap hari itu cukup spesial. Yang menentukan spesial atau tidak ya diriku sendiri, tak ada hubungannya dengan orang lain.

Aku berharap hari itu segera datang, dan sejarah baru akan aku torehkan ke dalam hari itu.

Minggu, Maret 01, 2009

SMS

Mungkin saat ini kebanyakan orang-orang lebih senang menelpon langsung, chatting, mengirim email atau berkirim pesan melalu situs jejaring sosial untuk saling berkomunikasi. Pilihan kedua hingga keempat bisa dibilang jauh lebih murah dibandingkan dengan SMS. Pilihan pertama bisa jadi lebih murah jika menggunakan layanan VoIP atau menggunakan aplikasi sejenis Skype dan GTalk. Walaupun demikian ada saat-saat tertentu dimana orang lebih memilih untuk berkomunikasi menggunakan SMS.

Beberapa minggu terakhir ini penggunaan layanan SMS di HP ku meningkat dengan tajam. Ada beberapa alasan mengapa aku memilih layanan ini:
  • SMS memungkinkanku untuk menunda jawaban atas SMS yang dikirim masuk. SMS hanyalah sebagai notifikasi yang tak akan menginterupsi pekerjaan yang sedang aku lakukan.
  • Melatih kesabaran *sotoy*. Terkadang harus sabar menunggu jawaban dari SMS yang dikirim keluar. Bisa jadi orang yang aku kirimi SMS sedang sibuk sehingga tak bisa membalas segera.
  • Waktu komunikasinya cenderung lebih lama. Dari SMS pembuka hingga SMS yang menutup keseluruhan sesi komunikasi bisa memakan waktu berjam-jam. Tak jauh dengan chatting sebenarnya, tapi jeda antar pesan yang dikirim lebih lama. Berasa menikmati proses dibandingkan dengan hasil.
  • Orang yang terlibat dalam komunikasi dua arah ini sedang tak bisa online menggunakan layanan messenger seperti Yahoo, GTalk, MSN, dan lain sebagainya.
  • Lebih menghemat waktu dibandingkan dengan menelepon. Menelepon bisa dikategorikan sebagai satu aktivitas yang terfokus. Sementara SMS bisa dilakukan ditengah-tengah aktivitas yang sedang aku lakukan. Hanya perlu beberapa saat untuk menulis dan mengirimkan SMS. Sedikit interupsi tak apa-apa lah.

Kamis, Februari 26, 2009

Am I aggressive?

I was surprised when I heard from a friend of mine that her friend which is also my friend said that I'm aggressive. I have no idea why someone can say that. I think, I'm not aggressive. I see myself as a shy and calm. Sometime, I talk a lot, but to people I've already known, not to  strangers. And usually I keep silent when I am in the middle of peoples. From my explanation, you can conclude that I'm an introvert, which is far from term aggressive.

OK. I'll try to explain it to make the problem clearer. Suppose in the past time you had ever liked someone or maybe you had fallen love to someone. And then you conveyed to her that you liked her. You told everything you need to explain to her. In this case, you don't need answer. Any answer wouldn't change anything as well. Assume, whatever the answer, it wouldn't impact you. It just like: nothing to lose.

Suppose that this someone was your friend at your office. Moreover, what you did was related with her. So everyday, you would deal with her. Since your confession to her, you tried to work professionally with her. You tried not to bring your personal matter to work, of course. When you talk to her, you don't say much, you speak as necessary. You tried to treat her like you treated the others. But she didn't treat you the same. Even you were friend before. She remained keeping a distance with you.

You tried to do everything to make a better relationship with her. You expected that she would treat you like she treated her friends. But everything you had done seemed didn't work at all. Perhaps she thought my action as an aggressive act. But I don't think so. What I have done to her, I did it too to my friends. This is a sample: If you have a friend who has facebook account, I'm sure that you will add him or her as your friend on facebook. Yeah, I did it, but she ignored it. Do this can be considered as an aggressive action? I don't think so. You do that to others as well.

And, at this moment, you heard from your friend that she judged you as an aggressive person. How could she say like that? So weird huh? I have no idea what she thinks about me. Is it so difficult to change her point of view of me and make a better relationship?

Rabu, Februari 25, 2009

Antara Benci dan Suka

Ah, apa daya, jika ada suatu pekerjaan yang kita benci sekaligus kita sukai. Mungkin agak-agak aneh juga kedengarannya, tapi itulah yang aku rasakan. Pekerjaan itu adalah coding. Aku menyukai coding, karena istilahnya sudah hobi lah. Sangat menyenangkan ketika bisa memecahkan berbagai persoalan yang bisa ditransformasikan kedalam baris-baris kode. Ada kepuasan tersendiri ketika aku bisa menyelesaikan suatu masalah coding ini. Suatu kepuasan yang aku rasa hanya bisa aku capai melalui cara ini.

Sementara itu alasan kenapa aku terkadang membencinya adalah, kepuasan yang diperoleh dari coding itu terkadang harus dibayar mahal: kurang tidur, lupa waktu, dan lupa segalanya. Untuk benar-benar bisa fokus dan memperoleh apa yang aku inginkan, seringkali aku tenggelam dalam pekerjaan ini, dan tahu-tahu baru menyadari kalo aku kurang tidur dan bahkan lupa makan.

Dan kejadian ini terjadi kembali malam minggu kemarin. Berhubung sedang ada project yang aku kerjakan saat ini, dan deadlinenya sudah mepet, aku meluangkan waktuku di hari sabtu malam dan hari minggu untuk menyelesaikannya. Secara fungsional sih sebenarnya tidak ada masalah yang berarti. Tetapi memang biasanya tantangan terletak pada hal-hal lain, seperti misalnya fitur-fitur tambahan yang mungkin dirasa tak terlalu perlu tapi bisa menambah nilai estetika dan kemudahan dalam menggunakan aplikasi yang aku kerjakan.

Fitur tambahan itu bernama AJAX. Walaupun framework aplikasi yang aku gunakan telah mendukung AJAX, tapi nggak seru dong kalo istilahnya cuma maen asal pakai saja. Jadinya kemarin aku meng-eksplore framework AJAX lain yang ada di pasaran yaitu Lightbox dan mengimplementasikannya kedalam aplikasi yang aku buat. Sangat menarik sekali disini, karena sebelumnya aku belum pernah menggunakan framework Lightbox.

Efeknya benar-benar parah. Akibat kerjaanku ini, aku telat makan malam, dan semaleman itu nggak bisa tidur. Baru bisa tidur jam setengah 6 pagi setelah sholat shubuh. Itupun aku tidur karena merasa memang seharusnya tidur dulu. Kalo nggak sih bisa terus ngerjain sampe bener-bener kelar. Fiuh... akibatnya jadwalku di hari minggu itu terganggu semua. Rencana awalnya hanya mengerjakan fungsionalitas aplikasi, malah ujung-ujungnya merembet ke fitur non fungsional nya.

Memang, rasa puasnya bener-bener kerasa. Mungkin terakhir kali aku merasa puas seperti ini ketika masih jaman-jaman kuliah dulu, ketika aku masih punya banyak waktu untuk mencoba-coba hal yang baru. Selain itu, dari pengalamanku ini aku memperoleh banyak sekali pelajaran yang berharga, yang kurasa bisa aku manfaatkan di project selanjutnya (jika ada). Sepertinya kedepannya mesti punya banyak waktu luang nih untuk belajar hal-hal yang baru. At least jangan sampe ngerjainnya malem-malem, biar nggak kebablasan.

Kamis, Februari 19, 2009

Hidup adalah Cobaan

Uang adalah hal yang sangat sensitif. Apalagi jika dikaitkan dengan gaji ataupun bonus yang didapatkan dari perusahaan. Keterlambatan sedikit saja pada masalah pembayarannya, sudah cukup bisa membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif. Keresahan, kegelisahan, dan rasa ketidakpastian lah yang biasanya akan dirasakan. Ujung-ujungnya yang jadi kambing hitam adalah bagian HRD perusahaan tersebut. Kata-kata yang berisi kesesalan semua dialamatkan ke bagian HRD, walaupun memang sih suara-suara tersebut tak akan sampai juga ke HRD.

Begitu pula dengan masalah kenaikan golongan yang mengarah pada kenaikan gaji yang sedang terjadi di perusahaanku. Pada umumnya, karyawan yang telah mencapai masa kerja 2 tahun, golongannya akan disesuaikan. Berhubung setahun yang lalu ada restrukturisasi organisasi di semua bagian perusahaan, dimana banyak sekali perubahan nama dan penambahan departemen yang baru, ini menyebabkan perlunya dilakukan evaluasi ulang pada departemen-departemen yang baru. Evaluasi ini mengarah kepada penyesuaian golongan setelah masa 2 tahun tercapai. Karena departemen yang baru belum dievaluasi, ini menyebabkan karyawan yang telah mencapai masa kerja 2 tahun, kenaikan golongannya tak sesuai dengan ekspektasi. Menjadi lebih rendah daripada yang terjadi sebelum adanya reorganisasi.

Kondisi ini diperparah dengan cut-off yang dilakukan tepat ketika aku dan teman-temanku yang satu angkatanku mendekati masa kerja dua tahun. Mengesalkan sekali bukan. Di beberapa bagian, yang duluan masuk sebulan sebelumnya tidak terkena cut-off. Hanya beda sebulan, dan efeknya luar biasa.

Di satu sisi, aku merasa tak adil juga jika keadaannya seperti ini. Tapi disisi yang lain, dengan gaji yang aku terima saat ini sebenarnya masih cukup. Apalagi aku bukan orang yang aneh-aneh alias banyak maunya. Memang untuk jangka panjang, misalnya seperti mencicil rumah masalah ini sangat berpengaruh. Tapi, entahlah. Aku merasa aneh. Disatu sisi mungkin perusahaan tak adil, tapi disisi yang lain, jika aku melihat ke bawah, masih banyak orang lain yang kurang beruntung dibanding dengan aku, yang istilahnya untuk makan aja sudah susah. Sementara aku, kebutuhan primerku sudah terpenuhi semua. What else? Masih ada sisa untuk ditabung kok.

Mungkin ini memang nggak adil, tapi masih bisa diperjuangkan lah. Seandainya pun mentok, ya mau ngapain lagi. Worst casenya, daripada ngarep yang nggak-nggak mending terima aja apa adanya, mengingat diluar sana masih banyak orang-orang yang lebih susah. Atau.. mungkin mencari perusahaan lain atau segudang plan B, C, D, E, dst yang bisa menenangkan hati. Tapi rasa-rasanya semuanya sama saja. Manusia adalah makhluk yang tak akan pernah puas. Daripada terus berangan-angan, kenapa nggak mencoba untuk menerima saja keadaan yang ada saat ini, sambil berusaha untuk meraih sesuatu yang lebih baik. 

Aaah...Hidup memang penuh dengan cobaan. Sama saja seperti mengejar mimpi. Jika harapan tak tercapai,selanjutnya terserah kita sendiri, apakah mau berusaha mengejar harapan-harapan yang lain, atau cuma menangisi keadaan yang notabene juga nggak menyelesaikan masalah. Tinggal fokus aja ke hal-hal yang masih bisa dikerjakan..

Senin, Januari 26, 2009

I Hated It, But I Did It

Should you tell someone that you like her, that you have a feeling to her, that you think she is the right person for you? Yup, you have only two choices. Just tell her what you feel, or just leave it. It should be easy to choose between them. But it would be more complicated when other factors involved.

Each choice has it own consequence. If you choose to tell, then the good news is you could free your feeling, and make it better. Additionally, it depends on whether you need an answer from her or you just want to express your feeling to her. If you don't need an answer, then just say it. The worst case is it could disturb even break your relation with her as an implication of your action. I will not explain, why it could break the relation. I guess everyone know what the answer is. In this condition, you know that you don't need an answer or perhaps, you already knew the answer (it supposed to be a negative response :P). So whatever the answer is, it would not change anything. You have already known about it, but you choose to tell just because you want to release the burden that abide on your heart.

If you need an answer, it become more complicated of course. You don't know what the answer is. You must have been expecting that the answer is a positive response indeed. If she gives you positive response, then she's yours. Otherwise, this is not your lucky day. You should learn how to manage your broken heart, begin to forget her, and look for someone else.

This morning, eventually I did it. I told someone that I thought she was the right person for me. I said that I have an interest on her, but it was not kind of feeling like love or something like that. Yup, I had already known I had no chance at all. I had already known what the answer was. And I didn't need it anymore. What I did was because the condition had forced me to tell the truth to her even though I hated to say that and it was not part of my plan.

She is my close friend. I worried that my statement could lead to an unexpected condition on our relationship. Fortunately, she understood even though she was shocked when she heard it. She promised that it would not affect the relationship between us. I was lucky and relieved. The worst thing that I was afraid of was not happened. I could free my feeling while I could keep my relationship with her. Although the real answer was or course a negative response. But it didn't matter to me. Life must go on. My story had ended here. If everything has been written down, so why should I worry? It is pointless and useless for me to talk about this later. There are still a lot of beautiful story to be created. ^_^

Back to the previous topic to choose between to tell or to leave. I forget to include my opinion when eventually you choose to leave it. This is my opinion: If you choose not to tell her anything, then you are a coward, especially when you need an answer. By not telling someone about your feeling, you had lost your chance. I guess, it is better to take a chance than to leave it before you try it. If you did, then you were a loser.

Teman Seperjalanan

Betapa menyenangkannya ketika sedang bepergian kita bisa mendapatkan teman seperjalanan yang cocok dengan kita. Nyambung ketika diajak ngobrol, sehingga membuat perjalanan menjadi tidak membosankan. Apalagi ketika hal-hal yang dibicarakan merupakan pengalaman-pengalaman baru yang mungkin belum dirasakan oleh si lawan bicaranya. Bisa dijadikan sarana pembelajaran untuk sekedar menambah wawasan mengenai sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui. Walaupun jenis teman yang seperti ini mungkin tak akan pernah kita temui lagi, tetapi terkadang apa-apa yang dibicarakan selama perjalanan bisa menetap dalam ingatan kita.

Seperti yang aku alami ketika pulang kampung kali ini. Alhamdulillah teman seperjalananku enak diajak bicara. Walaupun umurnya sudah kepala 4, pembicaraan kami masih nyambung. Apalagi orangnya jauh lebih tua daripada aku. Dalam perjalanan ini, aku belajar banyak tentang kehidupan darinya. Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu lebih dari 4 jam untuk berbincang-bincang, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk tidur duluan, sementara aku memutuskan untuk membaca buku.

Entah, sudah berapa kali aku melakukan perjalanan jauh seperti ini. Beberapa kali aku mendapatkan teman perjalanan yang menyenangkan, dan beberapa kali juga aku mendapatkan teman perjalanan yang sama 'dingin' dan tampak menjaga jarak, sehingga membuat perjalanan menjadi kurang asyik. Sayangnya, selama ini teman seperjalananku kebanyakan berusia jauh diatasku. Jarang sekali bisa mendapatkan teman sebaya yang seumuran. Apalagi teman seperjalanan perempuan. Jangankan yang sebaya, yang umurnya lebih tua aja rasa-rasanya nggak pernah dapet. :p