Selasa, Januari 19, 2010

Membuat Installer Windows 7 di USB Flash Disk

Iseng-iseng, kmaren baca artikel tentang menginstall Windows 7 dari USB Flash Disk, jadi pengen mencoba. Sekalian membuat backup dari installer yang ada, terlebih lagi USB Flash Disk lebih praktis dan bisa dibawa kemana-mana. Setelah googling sana-sini, pada intinya ada dua cara untuk membuat installer Windows 7 di USB Flash Disk. Cara pertama lebih ribet, sementara cara kedua, memang Microsoft sudah menyediakan tools untuk membuat sebuah USB Flash Disk menjadi installer Windows 7. Yang perlu diperhatikan, kapasitas minimun USB Flash Disk yang dibutuhkan adalah 4GB, karena Installer Windows 7 nya sendiri berukuran sekitar 2,5 GB.

Cara 1
Yang perlu dipersiapkan adalah DVD Installer Windows 7 atau file ISO installernya. Lebih baik  jika memiliki file ISO installernya, karena hanya perlu di mount saja dan kecepatan bacanya tentu jauh lebih cepat. Untuk membuat file ISO Installer Windows 7, dapat menggunakan tools Magic Disc. Tools ini juga dapat melakukan mount ISO untuk membuat semacam Virtual DVD-ROM.
  1. Mount file ISO Installer Windows 7 ke dalam sebuah Virtual DVD-ROM. Jika tidak memiliki file ISO Installer nya, masukkan DVD Installer Windows 7 ke dalam DVD ROM
  2. Format USB Flash Disk yang hendak dijadikan Installer Windows 7.
  3. Jadikan USB Flash Disk menjadi bootable dengan menggunakan tools bootsect yang ada pada DVD ROM/ISO Installernya.
  4. Masuk ke Command Prompt dari menu berikut Start Menu -> All Programs -> Accessories -> Command Prompt. Klik kanan lalu pilih Run As Administrator. Dengan asumsi DVD ROM/Virtual DVD ROM yang berisi Installer Windows 7 ada pada drive D dan USB Flash Disk yang digunakan berada pada drive E, ketik perintah berikut:
    D: 
    cd boot 
    bootsect /nt60 e: 
    
  5. Salin seluruh file instalasi Windows 7 ke USB Flash Disk, bisa menggunakan Windows Explorer atau menggunakan perintah Command Prompt. Masih pada jendela command prompt yang sama, ketik perintah      berikut:
  6. xcopy d:*.* /s/e/f e: 
    Setelah perintah ini dijalankan, akan muncul daftar file yang sedang disalin ke USB Flash Disk, dan tunggu hingga prosesnya selesai.
Nah sekarang USB Flash Disk nya sudah siap untuk digunakan untuk menginstall Windows 7 :).

Cara 2
Cara kedua lebih sederhana dan lebih mudah. Yang diperlukan adalah file ISO yang berisi Installer Windows 7 yang bisa dibuat menggunakan tool MagicDisc seperti pada cara pertama. Selain itu diperlukan juga sebuat tool yang bernama Windows 7 USB DVD Download Tool yang bisa diunduh melalui link Microsoft ini. Jalankan installernya dan ikuti petunjuk-petunjuk yang ada.
  1. Jalankan aplikasinya melalui: Start Menu -> All Progams -> Windows 7 USB DVD Download Tool -> Windows 7 USB DVD Download Tool.
  2. Klik Browse dan pilih file ISO yang telah dibuat sebelumnya lalu klik Next.
  3. Kemudian pilih media yang akan dijadikan instalasi Windows 7. Dalam kasus ini klik USB Device.
  4. Pilih drive USB Flash Disk. Tool ini akan secara otomatis menampilkan drive mana saja yang berisi USB Flash Disk. Dan klik Begin Copying.
  5. Selanjutnya USB Flash Disk yang dipilih akan di-format dan proses penyalinan akan berjalan.
    Setelah semuanya selesai. USB Flash Disk telah siap untuk digunakan.

Untuk menginstall Windows 7 dari USB Flash Disk, restart PC/laptop. Pada menu bios pastikan bahwa USB Flash Disk menjadi pilihan pertama untuk proses booting. Selanjutnya, proses booting akan dijalankan dari USB Flash Disk dan proses instalasi Windows 7 bisa dilakukan seperti melakukan instalasi dari DVD.

Rabu, Januari 13, 2010

God Mode pada Windows 7

Baru mendengar adanya istilah GodMode di Windows 7 beberapa hari yang lalu dari sebuah situs berita. Karena penasaran, mencoba googling dan menemukan beberapa link yang isi penjelasannya sih sama saja. Dengan membuat folder dengan nama GodMode.{ED7BA470-8E54-465E-825C-99712043E01C} di mana saja, maka alih-alih folder biasa yang muncul, namun muncul sebuah folder dengan icon Control Panel. Jika dilihat didalamnya, terdapat lebih dari 200 shortcut untuk mengatur setingan-setingan Windows layaknya fungsi Control Panel.

Kurasa GodMode ini hanyalah tampilan Control Panel yang dibuat lebih detail saja, dengan menampilkan semua fungsi yang ada pada satu aplikasi. Sebagai contohnya, pada Control Panel ada aplikasi yang bernama User Accounts, maka pada folder GodMode ini akan ditampilkan 13 fungsi yang terkait dengan User Accounts: Membuat/menghapus account tertentu, mengganti profile picture account yang aktif, mengganti password account, membuat disk untuk me-reset password, membuat account administrator, dst.




Yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa namanya GodMode yah? Beberapa sumber mengatakan karena nama foldernya diawali dengan GodMode dan memiliki ekstensi {ED7BA470-8E54-465E-825C-99712043E01C}. Setelah aku coba, nama foldernya tidak harus diawali dengan GodMode, yang penting ekstensinya {ED7BA470-8E54-465E-825C-99712043E01C}, maka icon foldernya akan berubah menjadi icon Control Panel. Jadi penasaran, siapa yah orang yang menemukannya pertama kali dan iseng-iseng memberi nama GodMode? Konon trik ini juga bisa digunakan pada Windows Vista, namun pada versi 64 bit, selalu crash (untung bukan pengguna Vista).

Namun demikian, kurasa trik ini cocok untuk pengguna awam yang baru menggunakan Windows 7 dan bingung untuk mengatur berbagai macam konfigurasi yang disediakan. Terutama jika penggunanya sebelumnya menggunakan Windows XP atau Vista dimana konfigurasi pada Control Panel nya masih tidak sebanyak Windows 7.  Daripada mencoba satu persatu aplikasi di Control Panel untuk mencari fungsi yang diinginkan, mending sekalian diberikan list fungsinya sekalian. Jadi bisa sekalian belajar deh.

Selasa, Desember 22, 2009

Perbandingan Nokia E72 vs E71

Sebelumnya, aku punya HP E71 telah menemaniku selama lebih dari 1 tahun. Dan berhubung barangnya kini telah hilang, jadilah beli E72, yang digembor-gemborkan sebagai penerus E71. Karena udah lama pake E71, jadi bisa tahu bedanya seperti apa. Berikut ini adalah perbedaan-perbedaan yang menunjukkan kekuatann E72:
  1. Kecepatan Prosesor
  2. Prosesor yang digunakan E71 adalah 369 MHz, sementara E72 dilengkapi dengan prosesor berkecepatan 600 MHz. Perbedaan ini tentunya lumayan berpengaruh pada kecepatan load aplikasi yang tentunya membuat pengalaman menggunakan E72 menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
  3. Kamera
  4. E72 dilengkapi dengan kamera beresolusi 5 MPix, sementara E71 3,2 MPix. Sebenernya sih fitur ini nggak terlalu berpengaruh, karena fitur kamera memang paling jarang aku gunakan. Nggak peduli resolusinya mau berapa MPix, hasilnya masih jauh dari ekspektasi lah.
  5. GPS, Kompas, dan Akselerometer
  6. Baik E71 dan E72 dilengkapi dengan GPS, namun demikian E72 dilengkapi dengan Kompas Digital dan akselerometer yang tidak ada di E71. Aku masih belum terbiasa dengan fitur ini. Untuk kompas magnetik bisa digunakan di aplikasi Nokia Maps, sementara untuk akselerometernya, belum termanfaatkan secara penuh. Belum nemu aplikasi yang pas untuk digunakan di E72 yang memanfaatkan fitur ini.
    Namun demikian, saat ini E72 telah didukung oleh Ovi Maps versi 3.03 terbaru, dimana semua layanan navigasinya gratis (tidak perlu lisensi). Ovi Maps terbaru ini belum mendukung Nokia E71. Walaupun sama-sama Symbian 3rd edition, namun aplikasinya tidak serta merta dapat digunakan di E71. Selain layanan navigasinya yang gratis, Ovi Maps terbaru ini didukung oleh fitur-fitur lain seperti informasi even, cuaca, dan Lonely Planet yang mampu menampilkan informasi lokasi-lokasi menarik yang berada di sekitar posisi saat ini. Selain itu pengguna juga dapat berbagi informasi mengenai lokasi saat ini melalui Facebook.
    Review mengenai Ovi Maps 3.03 dapat dibaca disini.
  7. Musik
  8. Tidak seperti E71 yang menggunakan jack 2.5mm untuk output audio, E72 menggunakan jack 3.5 mm yang lebih standar. Jadi inget sewaktu menggunakan E71 sempat BT nyari-nyari konverternya. Kalo sekarang sih mau denger musik melalui earphone tinggal colok aja, ga perlu pake konverter segala.
  9. Konektivitas
  10. Baik E72 dan E71 menggunakan kabel data USB yang sama, yaitu CA-101. Namun bedanya pada E72 kabel data ini bisa digunakan untuk melakukan charge baterai. Memang sih lebih lambat dibandingkan dengan menggunakan kabel charger, tetapi lebih praktis karena menyediakan dua pilihan. Siapa tahu kabel chargernya ketinggalan, kan bisa di-charge menggunakan kabel datanya. Untuk koneksi data, E72 mendukung HSDPA yang kecepatannya mencapai 10.2 Mbps dan HSUP hinggal 2 Mbps. Sementara E71 sendiri hanya mendukung HSDPA 3.6 Mbps, dan nggak ada HSUPAnya. Kecepatan uplink maksimalnya adalah 384 Kbps. Namun walaupun terkesan canggih, kayaknya nggak bakalan terlalu kepakai disini. Teknologinya belum mendukung, dan terlebih lagi udah pake paket unlimited yang speednya dibatesin jauh dibawah HSDPA ataupun HSUPA.
  11. Email
  12. Fitur email pada E72 menurutku jauh lebih baik dibandingkan dengan E71. Jika pada E71 aplikasi Mail for Exchange nya harus diunduh terlebih dahulu, pada E72 aplikasi ini sudah tertanam dan terintegrasi. Terlebih lagi, fitur Mail for Exchange nya jauh lebih baik, karena dapat menampilkan email dalam format HTML maupun teks biasa. Pengguna E72 juga dapat menikmati Nokia Email, fitur push email dari Nokia yang mendukung hingga 10 account yang berbeda yang diantaranya adalah Gmail dan Yahoo. Karena semuanya terintegrasi dalam satu client, tampilan email untuk Yahoo, Gmail, dan Mail for Exchange nya pun seragam. Tak seperti pada E71 yang berbeda-beda dan tak terintegrasi. Pada email client yang baru ini, semua folder yang ada pada exchange server bisa ditampilkan. Tidak seperti pada aplikasi Mail for Exchange di E71 dimana pengguna hanya dapat melihat isi Inbox nya saja. Kurasa fitur email inilah yang membuat perbedaan yang besar antara E71 dan E72.
  13. Memori dan penyimpanan data (storage)
  14. E72 memiliki kapasitas penyimpanan data internal sebesar 250 MB, dua kali lebih besar dari E71 yang hanya 110 MB. Dalam paket penjualannya, E72 dilengkapi dengan microSD berukuran 4GB sementara E71 hanya 2GB. Maksimal kapasitas microSD yang didukung E72 pun dua kali lebih besar dibandingkan E71 yaitu 16GB. Terasa lumayan jauh bedanya. Namun kurasa untuk urusan kerjaan sih 4GB aja dah kebanyakan.
  15. Keypad
  16. Walaupun sama-sama QWERTY E72 dilengkapi dengan beberapa tombol keypad baru, yang menempati jatah tombol spasi, yang menyebabkan tombol spasi di E72 setengah kali lebih kecil dibandingkan denga E71. Selain itu, beberapa tombol dapat dijadikan shortcut ketika pengguna berada pada menu stand by: mengaktifkan/mendeaktifkan bluetooth, profil Silent, dan lampu senter. Selain itu, E72 juga dilengkapi Optical Navi Key yang memudahkan navigasi. Rada-rada aneh juga sih karena sebelumnya nggak biasa pake fitur ini. Tapi lumayan membantu ketika browsing, terutama ketika menggunakan Opera Mini. Tombol yang mungkin berguna di E72 yaitu tombol Ctrl, yang bisa digunakan sebagai shortcut untuk Select All (Ctrl+A), Cut (Ctrl+X), Copy, dan Paste ketika sedang mengedit tulisan.
  17. Baterai
  18. E72 menggunakan baterai yang sama dengan E71: BP-4L yang memiliki kapasitas 1500 mAH. Namun demikian sesuai dengan informasi resminya,  waktu bicara dan stand by pada E72 lebih lama dibandingkan dengan E71. Pada E72, waktu bicara dan stand by nya masing-masing 13 jam dan 480 jam (pada jaringan GSM), sementara E71 10.5 jam dan 410 jam. Setelah aku coba untuk internetan dan email seharian, batrenya memang lebih awet dibandingkan E71. Entah apa karena masih beli baru kali ya. Tapi dulu rasa-rasanya sewaktu masih baru-baru pakai E71, batrenya lebih cepet abis dibandingkan dengan E72 ku sekarang.
  19. Personalisasi dan User Interface
  20. E72 menyediakan user interface yang lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan E71 (jelas lah, kecepatan prosesornya aja beda). Terlebih lagi E72 juga dapat menampilkan animasi ketika berpindah-pindah menu ataupun aplikasi (pada HP ku, fitur ini aku disable karena berasa membuat HP jadi lambat). Audio Theme juga didukung pada E72 (pada E71 tidak ada fitur ini), walaupun aku sendiri belum nyoba fitur ini sih.
  21. Aplikasi
  22. Aplikasi bawaan yang terintegrasi pada E72 pada umumnya tidak berbeda jauh dibandingka dengan E71. Pada E72 ada tambahan menu Media yang dapat digunakan untuk sharing konten (gambar, musik, dan video) dan melakukan sinkronisasi konten antara E72 dengan PC melalui jaringan WLAN. Aku sendiri belum pernah mencoba fitur ini,  tetapi sepertinya lumayan berguna untuk orang-orang yang kebutuhan akan konten multimedianya tinggi. Aplikasi lain yang tersedia pada E72 adalah Font Magnifier yang dapat digunakan untuk mengatur ukuran font yang digunakan pada aplikasi. Selain itu terdapat pula Software Update untuk melakukan update firmware E72 melalui jaringan WLAN atau menggunakan GPRS. Sementara itu, aplikasi seperti Download!, yang berisi katalog aplikasi yang bisa diunduh dan digunakan (kebanyakan berbayar) dan aplikasi Advanced Call Manager yang dapat digunakan untuk filter panggilan masuk, tidak disertakan dalam E72. Padahal kedua aplikasi ini cukup berguna ketika aku masih menggunakan E71. Nokia malah cenderung mengintegrasikan aplikasi-aplikasi internet semacam Facebook,  YouTube, dan Ovi Store pada E72. Sepertinya sih Nokia mulai serius untuk merambah gaya hidup pengguna handset saat ini. Terlebih lagi Ovi Store yang sekarang kurasa menjadi fokus Nokia untuk menjual kontennya (mungkin karena alasan inilah menu Download! dihilangkan dari E72).
  23. Fitur lain
  24. Fitur lain yang menurutku lumayan membantu yaitu Noise Cancellation. Waktu itu iseng nyoba nelepon di KRL ekonomi yang sedang jalan, yang tentunya berisik banget. Ternyata suara lawan bicara bisa aku dengar dengan jelas, dan suaraku juga bisa terdengar dengan jelas oleh lawan bicara.
  25. Harga
  26. Ya iyalah. Jelas E72 lebih mahal daripada E71. Hargaya sendiri bisa terpaut 1,5 jt lebih mahal dibanding E71. Tapi kalo melihat spec hardware dan fitur email yang disediakan, kayaknya masih worth lah.
Beberapa kekurangan E72
Ada beberapa hal yang menurutku kurang dari E72: terkadang suka bermasalah ketika dipakai untuk mengetik cepat. Beberapa keypadnya terutama keypad alphabet yang juga bisa digunakan untuk menampilkan angka, terkadang tidak menampilkan karakter yang diharapkan ketika mengetik cepat. Ini terjadi karena ketika aku menekan salah satu huruf, sementara jariku belum lepas, aku sudah menekan huruf yang lain (huruf yang bisa digunakan untuk mengetik angka), maka huruf yang kedua ini nggak akan muncul. Bikin frustasi juga sih, karena masala seperti ini nggak ada di E71. Semoga saja ini adalah bug yang bisa diperbaiki pada versi firmware berikutnya.

Kekurangan yang lain adalah, ketika aku menulis sebuah note yang lumayan panjang, lalu note ini aku kirimkan melalui email, maka isi note ini terpotong. Tidak seperti pada E71 yang langsung mengkopi seluruh isi note nya kedalam email. Kurasa ini adalah sebuah bug lain yang perlu diperbaiki di versi firmware yang akan datang. Ribet amat setiap kali mau ngirim notes, mesti Select All isi note nya, bikin email, dan paste disitu. Bener-bener nggak praktis.

Kesimpulan
Kalo nggak perlu-perlu spec hardware yang tinggi sih sebenernya E71 udah jauh dari cukup. Fitur-fitur penting seperti WLAN, GPS, 3G, QWERTY Keypad, fungsi Email, Musik udah ada semua di E71. E72 hanyalah penerus E71 yang fitur-fiturnya menurutku nggak ada yang 'baru', namun  disempurnakan. Untuk pecinta gadget dan nggak ada masalah dalam urusan budget, mending beli E72 lah. Heheheh...

Senin, Desember 14, 2009

Windows 7 di Toshiba Portege M600

Beberapa waktu lalu, aku mencoba meng-install Windows 7 Ultimate di laptopku. OS bawaan dari seri Portege M600 adalah Vista Business. Cuma karena berat dan kurasa menghabiskan resource yang banyak, aku downgrade ke Windows XP, yang mana jarang aku pake juga karena aku lebih suka menggunakan Ubuntu. Karena ada temenku yang udah menggunakan Windows 7 dan katanya lumayan enteng, aku pun iseng-iseng mencoba.

Proses instalasinya sendiri terhitung mudah dan cepat. Sepertinya nggak sampai 30 menit OS baru ini sudah terinstall. Tadinya aku cukup khawatir mengenai masalah kompatibilitas driver-drivernya. Ternyata kekhawatiranku tak beralasan. Setelah selesai install, hampir semua peripheral laptop yang penting bisa terdeteksi. Tampilan yang OK dan suara yang muncul setelah proses instalasi selesai menunjukkan driver graphic card dan sound card sudah terinstall dengan benar. Bahkan FingerPrint reader nya pun bisa digunakan walaupun nggak secara otomatis terinstall (driver diunduh melalui Windows Update). Perangkat yang tidak dikenali hanyalah Web Cam dan Bluetooth yang drivernya mesti diunduh secara manual dari website Toshiba nya.



Secara sebelumnya aku bukan pengguna Windows Vista, jadi nggak terlalu ngeh sih dengan perubahan yang ada. Kalau dibandingkan dengan Windows XP tentunya jauh lah bedanya. Namun dari segi performa dan fitur, kurasa Windows 7 lebih nyaman untuk aku gunakan ketimbang XP (Apalagi dibandingkan dengan Vista, jauh banget deh). Walaupun penggunaan memorinya lebih boros dibanding dengan XP, tetapi proses booting dan proses load aplikasinya kurasa lebih cepat.

Dari sisi fitur tentunya banyak sekali fitur-fitur baru di Windows 7. Aku akan mencoba menekankan pada masalah experience nya. Mengapa aku bisa mengatakan bahwa produk ini bahkan jauh lebih kupilih dibanding Windows XP yang menurutku sudah enteng banget. Berikut ini adalah perbedaan-perbedaan yang tampak jelas terlihat pada tampilannya:

Windows Taskbar
Pada Windows 7, taskbarnya terlihat lebih simple. Toolbar Quick Launch sudah tidak nampak lagi, digantikan oleh icon-icon shortcut ke aplikasi. Karena taskbarnya lebih berorientasi kepada aplikasi, bukan berorientasi lagi pada window, jadinya judul windownya tidak ditampilkan (walaupun ada opsi untuk menampilkan judul window). Jika ada beberapa window dalam satu aplikasi, akan ditampilkan seperti gambar dibawah ini. Jika mouse diarahkan pada icon aplikasi tersebut, akan muncul preview window-window yang aktif dalam aplikasi tersebut.



Selain itu ada fitur Jump List yang dapat diakses dengan meng-klik kanan icon aplikasi pada taskbar. Contoh dibawah ini adalah Jump List dari aplikasi Google Chrome yang menampilkan halaman-halaman yang terakhir dibuka. Jump List ini dapat diakses walaupun aplikasinya belum dijalankan.




Libraries
Windows Explorer pada Windows 7 kini memiliki Libraries yang merupakan Virtual Folder yang dapat digunakan untuk mengumpulkan file-file yang tersebar di berbagai lokasi dalam satu tempat. Fitur ini lumayan membantu ketika misalnya kita ingin melakukan grouping pada jenis-jenis file tertentu yang lokasinya tersebar, baik di jaringan atau di PC lokal. Fitur ini juga memudahkan sharing dokumen antar sesama pengguna dalam satu PC yang sama.



Desktop dan Personalisasi
Ketika meng-klik kanan mouse pada area desktop akan muncul menu berikut:


Ketiga menu diatas memberikan akses langsung untuk mengubah resolusi layar, mengatur gadgets, dan melakukan personalisasi tampilan (theme, background, sound, dll)

Gadget pada Windows 7 konon lebih hemat memory karena tidak seperti Windows Vista. Jadi kalo nggak ada Gadget yang dijalankan, tidak ada proses yang perlu di-load ke memory. Masih ingat ketika dulu menggunakan Vista, ada proses yang namanya Sidebar yang menurutku malah ngabis-ngabisin memori aja.



Dengan mengakses menu Personalize pada desktop akan muncul sebuah window yang dapat mengatur theme yang digunakan, yang mencakup background wallpaper (yang kini mendukung tampilan slideshow pada desktop), screen saver, suara, dan warna. Tidak seperti pada versi Windows XP yang menurutku pengaturannya theme nya tersebar dan terpisah-pisah.



Device Manager
Pengguna Windows sebelumnya tentu ingat dengan fitur Windows yang bernama Device Manager yang isinya menampilkan list seluruh peripheral yang terpasang pada PC . Pada Windows 7, fitur ini masih ada, namun diperkenalkan dua fitur baru yaitu Device and Printers dan Device Stage.

Device and Printers merupakan fitur baru yang bisa diakses melalui Control Panel dan dapat diakses langsung pada Start Menu. Tidak seperti Device Manager yang menampilkan semua perangkat, pada Device and Printers yang ditampilkan hanyalah perangkat-perangkat yang secara fisik memang terpasang dan mudah dikenal oleh pengguna yang kurang expert seperti USB Drive, Bluetooth, Printer, Web Cam, Hard Disk External, dan lain-lain sebagainya.



Sementara itu, Device Stage merupakan bagian dari Device and Printers yang menampilkan informasi mengenai sebuah perangkat dan operasi apa saja yang bisa dilakukan pada perangkat tersebut. Konon katanya Windows 7 ini dapat mengenali perangkat-perangkat yang umum dipasaran (sejauh ini gadget yang aku miliki terdeteksi dengan baik di Windows 7), dan menyediakan representasi gambar sebuah perangkat dalam resolusi tinggi. Gambar dibawah merupakan salah satu contoh tampilan Device Stage untuk printer yang terpasang di kantorku.




Windows XP Mode
Pengguna Windows 7 versi Ultimate, Enterprise, dan Professional dapat menggunakan fitur yang bernama Windows XP Mode yang dapat diunduh secara terpisah. Fitur ini memungkinkan penggunanya untuk menjalankan aplikasi-aplikasi lama yang hanya kompatibel dengan Windows XP dan tidak kompatibel dengan Windows 7. Untuk menggunakan fitur ini pastikan PC atau laptop yang digunakan sudah mendukung fitur Hardware Virtualization. Dan pastikan fitur ini aktif (yang biasanya bisa diset dari menu BIOS)



Selain fitur-fitur diatas, tentunya masih banyak lagi fitur-fitur lain yang belum sempat aku utak-atik. Fitur-fitur Windows 7 yang lebih lengkap dapat dilihat di:
http://en.wikipedia.org/wiki/Features_new_to_Windows_7
http://windows.microsoft.com/en-us/windows7/products/features

Jumat, November 27, 2009

Format Partisi di Linux

Karena sudah terbiasa meformat hard disk menggunakan aplikasi GUI di Ubuntu, jadinya nggak pernah ngutak-ngatik gimana caranya memformat menggunakan shell. Dalam kasus kali ini, aku ingin memformat hard disk dengan menggunakan file system ext4 dan memasangnya di PC yang menggunakan Ubuntu Server yang nggak ada Desktop nya alias versi text. Setelah melakukan pencarian di Google (ternyata banyak artikel yang aku temukan tidak berkaitan dengan apa yang aku cari), akhirnya aku menemukan artikel yang cukup relevan. Ternyata hanya diperlukan dua perintah saja: fdisk, dan mkfs.ext4.

Berikut langkah-langkahnya:
  1. Membuat partisi baru dengan fdisk
  2. Dalam kasus ini, hard disk yang aku pasang dikenali sebagai /dev/sdb, dan aku hanya ingin membuat satu partisi saja. Perintahnya adalah sebagai berikut (pastikan menjalankan fdisk dalam priveledge root):
    root@liley-II# fdisk /dev/sdb

    The number of cylinders for this disk is set to 38166.
    There is nothing wrong with that, but this is larger than 1024,
    and could in certain setups cause problems with:
    1) software that runs at boot time (e.g., old versions of LILO)
    2) booting and partitioning software from other OSs
    (e.g., DOS FDISK, OS/2 FDISK)

    Command (m for help): n
    Command action
    e extended
    p primary partition (1-4)
    p
    Partition number (1-4): 1
    First cylinder (1-38166, default 1):
    Using default value 1
    Last cylinder, +cylinders or +size{K,M,G} (1-38166, default 38166):
    Using default value 38166

    Command (m for help): t
    Selected partition 1
    Hex code (type L to list codes): 83

    Command (m for help): w
    The partition table has been altered!

    Calling ioctl() to re-read partition table.
    Syncing disks.

  3. Format partisi yang sudah dibuat dengan menggunakan perintah mkfs.ext4 (untuk file system ext3 atau ext2 bisa menggunakan perintah mkfs.ext3 dan mkfs.ext2)
  4. Partisi yang sudah dibuat sebelumnya, dalam contoh ini dikenali sebagai /dev/sdb1.
    Perintah yang dijalankan adalah seperti berikut:
    root@liley-II# mkfs.ext4 /dev/sdb1
    mke2fs 1.41.9 (22-Aug-2009)
    Filesystem label=
    OS type: Linux
    Block size=4096 (log=2)
    Fragment size=4096 (log=2)
    2444624 inodes, 9770492 blocks
    488524 blocks (5.00%) reserved for the super user
    First data block=0
    Maximum filesystem blocks=0
    299 block groups
    32768 blocks per group, 32768 fragments per group
    8176 inodes per group
    Superblock backups stored on blocks:
    32768, 98304, 163840, 229376, 294912, 819200, 884736, 1605632, 2654208,
    4096000, 7962624

    Writing inode tables: done
    Creating journal (32768 blocks): done
    Writing superblocks and filesystem accounting information: done

    This filesystem will be automatically checked every 33 mounts or
    180 days, whichever comes first. Use tune2fs -c or -i to override.

  5. Melakukan mount partisi yang telah dibuat ke dalam sistem
  6. Partisi baru yang telah siap digunakan. Untuk melakukan mount ke dalam sistem, bisa dilakukan secara manual atau menambahkan entry baru di /etc/fstab agar bisa di-mount secara otomatis setelah boot up.

    Dalam contoh ini, aku akan melakukan mount partisi ke direktori /ext (pastikan bahwa direktori /ext telah dibuat).

    Untuk melakukan mount secara manual, jalankan perintah berikut:
    root@liley-II# mount -t ext4 /dev/sdb1 /ext

    Atau bisa juga dengan menambahkan entry di /etc/fstab agar bisa di-mount secara otomatis. Dalam kasus ini, /etc/fstab yang aku miliki berisi:
    # /etc/fstab: static file system information.
    #
    # Use 'blkid -o value -s UUID' to print the universally unique identifier
    # for a device; this may be used with UUID= as a more robust way to name
    # devices that works even if disks are added and removed. See fstab(5).
    #
    #
    proc /proc proc defaults 0 0
    # / was on /dev/sda1 during installation
    UUID=2a927340-4561-419a-809a-e48b4925d093 / ext4 errors=remount-ro 0 1
    # swap was on /dev/sda5 during installation
    UUID=bc428fbf-8cbe-4fc6-ba6d-d4d7ec3bb4a1 none swap sw 0 0
    /dev/scd0 /media/cdrom0 udf,iso9660 user,noauto,exec,utf8 0 0
    /dev/sdb1 /ext ext4 defaults 0 1

Selasa, November 17, 2009

Review Buku: The Winner Stands Alone

Akhirnya aku menemukan karya Paulo Coelho yang lain yang menurutku bisa disejajarkan dengan The Alchemist dan Devil And Miss Prym. Tak seperti novel-novel Coelho yang sebelumnya, The Winner Stands Alone menurutku adalah sebuah gebrakan. Sejauh yang kubaca, biasanya tulisan Coelho sarat dengan muatan spiritual dan memang sih rada-rada nyeleneh dan mistis, namun pada karyanya yang satu ini, patutlah kuberikan bintang 5 di Goodreads.

Berkisah tentang Igor, pemilik salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Rusia yang kehilangan cintanya karena ditinggal oleh istrinya yang berpaling ke laki-laki lain. Igor berjanji akan menghancurkan seluruh dunia hingga mantan istrinya kembali padanya. Setiap kali dia menghancurkan salah satu dunia, sebuah pesan akan dikirimkan kepada istrinya, berharap pesan tersebut dapat menarik perhatiannya. Berlatar belakang festival Film yang diadakan di Cannes, novel ini menyajikan kisah Igor dalam waktu 24 jam yang mampu mengubah nasib orang-orang yang bertemu dengannya selamanya: Olivia, wanita penjual kerajinan di pinggir pantai; Javits, produser dan distributor korup; Maureen, penulis naskah film yang hendak menjual filmnya ke Javits; Gabriela, sang aktris muda; Jasmine Tiger: seorang model; Hamid, pengusaha di dunia fashion yang memulai usahanya dari nol; dan tentunya Ewa, mantan istri Igor.

Novel ini menceritakan berbagai macam kemewahan, glamor, dan kehidupan orang-orang kaya yang bergelimang uang namun penuh dengan kepalsuan dan kepura-puraan. Sungguh menarik, karena menurutku Coelho sangat cerdas dalam menyajikan isi novel dan mengaitkannya dari aspek psikologis manusia yang cenderung tamak dan mementingkan materi untuk menutupi segala kepalsuan dibelakangnya. Namun demikian, dibalik semua itu, banyak pula pesan-pesan moral yang tersebar di seluruh bagian buku. Salah satu kutipan yang aku sukai adalah: "Orang hanya menghargai sesuatu kalau mereka sempat ragu apakah mereka akan mendapatkannya atau tidak."

Sinkronisasi Folder Pada Windows dengan SyncToy

Berawal dari kebutuhan untuk melakukan sinkronisasi dokumen-dokumen kantor dari file server ke laptopku, aku melakukan googling untuk tools sinkronisasi folder, dan menemukan SyncToy yang dikembangkan oleh Microsoft. Versi yang aku gunakan adalah versi 2.0. Tools kecil ini lumayan membantu, daripada mesti bolak-balik copy dan replace, boros di proses IO nya.



Pertama-tama yang harus dilakukn adalah membuat Folder Pair yang berisi pasangan folder yang akan disinkronisasi filenya. Selanjutnya akan muncul pilihan untuk memilih Left Folder dan Right Folder yang masing-masing merepresentasikan folder yang isinya akan disinkronisasi.
Ada 3 mode sinkronisasi:
  • Synchronize: Semua perubahan (penghapusan, dokumen baru, perubahan dokumen) yang ada pada Left Folder ataupun Right Folder akan disinkronisasikan ke folder yang lain. Hasil akhirnya adalah kedua folder berisi dokumen-dokumen yang sama.
  • Echo: Semua perubahan yang ada Left Folder akan disinkronisasikan ke Right Folder. Namun perubahan pada Right Folder tidak akan berpengaruh pada Left Folder.
  • Contribute: Semua perubahan yang ada Left Folder kecuali operasi penghapusan akan disinkronisasikan ke Right Folder. Namun perubahan pada Right Folder tidak akan berpengaruh pada Left Folder.

Ketiga pilihan mode ini menurutku sudah cukup mengakomodasi kebutuhanku. Dan yang paling penting adalah aplikasinya sangat mudah untuk digunakan, dan gratis tentunya. Terlebih lagi sebelum melakukan proses sinkronisasi, bisa di-preview terlebih dahulu operasi apa saja yang akan dilakukan. Jadi bisa memastikan perubahan yang akan terjadi setelah dilakukan sinkronisasi.



Aplikasi SyncToy 2.0 bisa diunduh secara gratis melalui link ini:
http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?familyid=C26EFA36-98E0-4EE9-A7C5-98D0592D8C52&displaylang=en

Sabtu, November 07, 2009

Dewey: Si Kucing Perpustakaan yang Mengagumkan

Siapa sangka, Dewey, seekor kucing yang ditemukan sedang menggigil di kotak pengembalian buku bisa menarik hati warga kota Spencer hingga seluruh penjuru dunia. Ditulis dari sudut pandang Vicki Myron, direktur perpustakaan Spencer yang menemukan dan merawat si kecil Dewey, buku ini menceritakan rangkaian kisah hidup Dewey dari sejak ditemukan hingga akhir hidupnya. Nama Dewey diambil dari sistem desimal Dewey. Ditambah lagi dibelakang namanya diembel-embeli dengan Readmore Books, semakin memantapkan namanya sebagai kucing perpustakaan.

Dengan format memoar, pengarangnya selain mengulas Dewey, juga mengulas beberapa potong kisah hidupnya yang menurutku malah aneh karena seolah-olah buku ini menjadi tak fokus. Namun demikian, sesuai dengan judul bukunya, semua kisah itu berkaitan dengan si lucu Dewey. Dewey yang semula dipelihara dengan sukarela oleh Vicki, akhirnya menjadi daya tarik perpustakaan itu sendiri. Dewey memiliki karakter senang dibelai dan tidak takut pada orang asing, yang menjadikannya dicintai oleh penduduk kota Spencer. Selain itu, dia tidak membeda-bedakan dan pilih kasih. Semua pengunjung yang menyukainya pasti merasakan bahwa mereka memiliki hubungan khusus dengan Dewey: walaupun kenyataannya tentu saja itu karena Dewey bisa memikat hati mereka.

Kisah ini luar biasa. Menurutku banyak sekali hal-hal yang bisa dicontoh dari buku ini walaupun yang menjadi tokoh utamanya adalah seekor kucing. Dewey bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang jatuh hati padanya. Dikisahkan pula bagaimana perilakunya ketika dia bisa menyenangkan seorang anak yang telah jauh-jauh datang dan memberikan hadiah mainan kepadanya. Dewey sendiri tidak menyukai jenis mainan seperti itu, namun ketika kunjungan tersebut, dia bisa menyenangkan anak tersebut dengan memainkan mainan hadiahnya. Aku benar-benar masih setengah percaya jika ini adalah kisah nyata. Kok bisa ada kucing yang seperti ini.

Kurasa, semua pecinta kucing wajib membaca buku ini (dan tentu saja kurasa pengarang buku ini adalah pecinta kucing sejati). Dari mulai kisah yang menyenangkan, mengharukan, lucu, dan menyedihkan semua ada disini. Melihat sampulnya saja sudah membuatku ngiler. Bagaimana tidak, gambar kucing lucu dan manis yang seolah sedang tersenyum siap menggoda: "Hai pecinta kucing, bacalah kisah tentangku!".

Minggu, Oktober 25, 2009

SSH tanpa password pada Putty

Pada tulisan sebelumnya (SSH Tanpa Password), dibahas mengenai bagaimana melakukan autentikasi SSH tanpa memasukkan password di Unix. Pada tulisan kali ini, aku ingin mengulas langkah-langkah autentikasi SSH tanpa password menggunakan PuTTY di Windows. Di Windows, proses ini dapat dilakukan menggunakan tools PuTTYgen untuk meng-generate pasangan public/private key, PuTTY sebagai SSH client, serta Pageant yang bersifat optional sebagai authentication agent untuk PuTTY.

Membuat pasangan Public/Private Key
Untuk meng-generate pasangan public/private key, jalankan aplikasi PuTTYgen.


Klik Generate untuk membuat pasangan public/private key yang baru. Jika memiliki private key yang sebelumnya dibuat di Unix, bisa melakukan import dengan mengklik Conversions->Import Key.


Masukkan Key comment sesuai dengan keinginan. Kosongkan field Key passphrase dan confirm passphrase agar ketika melakukan autentikasi SSH tidak perlu memasukkan password. Namun demikian, passphrase ini bisa diisi bebas. Jika passphrase diisi, untuk melakukan login SSH tanpa memasukkan password sama sekali, dapat menggunakan toos Pageant yang hanya menanyakan passphrase sekali saja ketika key nya ditambahkan dalam daftar key di Pageant.

Simpan public key dan private key yang telah dibuat. Private key yang dibuat akan memiliki ekstensi .ppk.

Untuk menyimpan public key yang dibuat di server tujuan agar dapat melakukan autentikasi SSH menggunakan private key yang dibuat sebelumnya, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Login ke server tujuan menggunakan PuTTY.
  2. Tambahkan isi public key yang telah dibuah ke dalam file ./ssh/authorized_keys yang ada pada direktori home user yang dituju.
  3. Login ke Server menggunakan Putty
Agar dapat menggunakan private key yang telah dibuat sebelumnya di PuTTY, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Jalankan aplikasi PuTTY.
  2. Pilih menu Connection->SSH->Auth. Klik browse dan pilih private key yang telah dibuat.
  3. Pilih menu Connection->Data. Masukkan auto-login username dengan user account yang dituju pada server tujuan. Ini dilakukan agar ketika melakukan autentikasi, tidak perlu memasukkan username dan password.
  4. Pada menu Session, masukkan alamat host server tujuan, dan masukkan nama session dan klik Save untuk menyimpan session. Ini dilakukan agar konfigurasi sesi yang diinginkan bisa disimpan, dan kedepannya tidak perlu repot-repot lagi untuk melakukan langkah 2 dan 3.
  5. Klik Load pada sesi yang telah disimpan untuk melakukan login ke server tujuan.
Menggunakan Pageant
Pageant dapat digunakan untuk memudahkan proses autentikasi menggunakan pasangan public/private key pada PuTTY. Aplikasi ini akan menyimpan private key yang telah dibuat sebelumnya menggunakan PuTTYgen di memory, sehingga pengguna dapat menggunakannya langsung tanpa perlu memasukkan passphrase yang ada pada private key tersebut. Dibanding dengan cara sebelumnya, pengguna masih bisa melakukan login tanpa perlu memasukkan password walaupun private key tersebut diproteksi dengan passphrase. Pengguna hanya akan diminta untuk menginput passphrase yang benar ketika menambahkan private key untuk selanjutnya disimpan di memory.

Pageant memungkinkan pengguna tidak perlu mengatur konfigurasi private key pada PuTTY. Bahkan jika pengguna tersebut memiliki lebih dari satu private key yang digunakan untuk melakukan login pada server yang berbeda-beda, semuanya dapat diakomodasi melalui Pageant.

Untuk menggunakan PuTTY bersama Pageant, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Jalankan aplikasi Pageant.
  2. Pada jendela utama, klik Add Key untuk menambahkan private key untuk disimpan di memori. Masukkan passphrase jika ada.
  3. Jalankan Putty, dan login ke server tujuan.
Artikel terkait:
SSH Tanpa Password

Sabtu, Oktober 17, 2009

Unfinished Bridge

Foto ini aku ambil di Putrajaya, sebuah kawasan pusat pemerintahan yang letaknya tak terlalu jauh dari Kuala Lumpur. Ketika senja tiba, semua pemandangan dan arsitektur seperti ini terlihat begitu indah. Hanya sayangnya saja ketika gampar ini aku ambil, aku belum mempersiapkan tripod agar efek air di danau buatannya tak terlihat kaku. Momen seperti memang tak berlangsung lama. Tak berapa lama setelah mengambil foto ini aku mengambil dan mempersiapkan tripod. Namun matahari sudah semakin tenggelam, sehingga langit yang semula jelas terlihat biru kemerahan menjadi gelap.

Putrajaya dapat ditempuh dari Kuala Lumpur dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena kawasan ini adalah pusat kantor-kantor pemerintahan, yang termasuk didalamnya kantor Perdana Menteri, ketika hari libur tiba, kota ini tampak seperti kota mati. Jalanan begitu lengang dan kosong. Kalau ada kota semacam ini di Indonesia, pasti sudah dipenuhi orang-orang yang pacaran karena saking sepinya, dan jalanannya digunakan untuk balapan liar. Dengan arsitektur bangunan yang terhitung baru, yang menurut informasi dibangun sekitar 10 tahun yang lalu ketika Malaysia sedang berada pada jaman keemasannya, ditambah dengan lengangnya kota, plus suasananya yang aman, kota ini cocok untuk fotografer yang demen mengambil foto-foto arsitektur: dari mulai kantor Perdana Menteri, Mesjid Rayanya, plus bangunan-bangunan lain.

Di tengah-tengah kota, dibuat danau buatan yang lumayan besar. Dan setahuku sampai ada wisata perahunya juga. Di tengah-tengah danau dibangun beberapa jembatan, yang aku taksir minimal ada 4 lah yang menyeberangi danau ini. Salah satunya adalah jembatan yang ada dalam fotoku diatas. Entah mengapa jembatan ini tak diselesaikan. Untuk sebuah negara kaya seperti Malaysia kurasa nggak banget kalau alasannya karena kekurangan dana. Atau mungkin sengaja tidak diselesaikan karena objeknya menarik untuk para fotografer yang berkunjung.