Wednesday, July 01, 2009

Pidgin dan Facebook

Belakangan ini gara-gara ada masalah di Pidgin, iseng-iseng aku mencari paket-paket di Ubuntu yang berhubungan dengan pidgin. Baru ngeh disitu ada paket pidgin-facebookchat yang berupa plugin di Pidgin. Penasaran seperti apa paketnya, aku install aja sekalian.

Ternyata lumayan menarik. Semua temen-temenku yang sedang online ditampilkan beserta statusnya, dan sejak kapan status tersebut dipasang. Dan bisa tahu juga jika seseorang sedang idle atau nggak. Jika ada seseorang yang baru saja online, akan muncul notifikasi di pojok kanan atas workspace. Lumayan membantu walaupun agak-agak mengganggu juga terutama jika ada banyak orang yang online dalam waktu bersamaan. Sayangnya nggak ada notifikasi untuk orang yang baru saja offline.

Fitur chat ini bisa berjalan bersamaan dengan fitur chat yang ada di facebook, jadi apa yang diketik melalui aplikasi ini akan muncul juga di aplikasi chat internal facebook. Yang lebih menyenangkan, nggak perlu khawatir jika ada pesan masuk yang terlewat. Seringkali jika ada seseorang yang mengajak chatting lewat facebook, aku nggak tahu karena biasanya di browser, tab untuk facebook tak selalu aktif, begitu tahu ada pesan masuk, orang yang diajak ngobrol udah offline duluan.

Monday, June 22, 2009

Pidgin Bermasalah ketika Login ke Yahoo

Beberapa hari terakhir ini aku mengalami masalah ketika login ke Yahoo menggunakan Pidgin. Tadinya aku pikir Yahoo nya sendiri yang sedang bermasalah, tetapi aplikasi Yahoo Messenger yang aku gunakan di Windows tidak ada masalah sama sekali. Sementara Pidgin yang aku gunakan di Ubuntu tak mau login.

Setelah googling sana sini, akhirnya menemukan penjelasan yang sangat membantu dari link ini: http://www.celticwolf.com/useful-information/faqs/26-pidgin-yahoo. Yahoo tampaknya sedang melakukan upgrade pada beberapa servernya yang memerlukan metode autentikasi baru. Metode autentikasi ini konon akan didukung di Pidgin versi 2.6.0, yang belum di-release, sementara versi yang aku gunakan di Ubuntu adalah versi 2.5.5.

Pidgin menggunakan domain "scs.msg.yahoo.com" sebagai Pager Server default, dimana domain tersebut di-mapping ke banyak server dibelakangnya. Beberapa server tersebut telah diupgrade, sehingga bisa jadi sesekali waktu proses loginnya berhasil, dan di waktu yang lain gagal (kasus sekarang sih gagal terus, nggak pernah berhasil). Berdasarkan artikel tersebut, solusinya adalah dengan mengganti alamat Pager Server menjadi: cs101.msg.mud.yahoo.com atau 66.163.181.172. Aku mencoba yang pertama dan ternyata bisa.

Thursday, April 23, 2009

Screen - Aplikasi Terminal Virtual

Screen merupakan salah satu utility yang belakangan ini sering aku gunakan dalam Unix khususnya ketika sedang me-remote server menggunakan SSH. Melalui screen, memungkinkan pengguna untuk membuat session baru. Dalam session ini, dapat dibuat beberapa terminal yang virtual. Meskipun pengguna yang membuat sesi screen telah logout ataupun koneksinya terputus, sesi yang telah dibuat akan tetap berjalan, sehingga bisa di-resume kemudian.

Fitur-fitur tersebut sangat bermanfaat ketika menjalankan sebuah proses secara remote melalui SSH. Terutama untuk proses-proses yang memakan waktu dan resource, tanpa perlu khawatir proses tersebut akan di-terminate ketika session SSH tiba-tiba terputus. Lebih terasa lagi manfaatnya jika koneksi jaringan dari client ke server yang sedang di-remote sangat terbatas, seperti misalnya melakukan SSH ke server melalui handphone dan menjalankan sebuah script yang memakan waktu.

Untuk menjalankan screen, hanya perlu mengetikkan:

screen

Perintah tersebut akan menjalankan shell yang baru, seperti shell yang biasa digunakan. Namun shell ini berada dalam sesi screen yang telah dijalankan sebelumnya. Di dalam sesi screen yang sedang aktif, ada beberapa perintah yang dapat dijalankan, dimana semuanya dimulai dengan Ctrl+a. Berikut ini adalah beberapa perintah yang dapat dilakukan dalam sesi screen:

Ctrl+a c: Membuat jendela terminal baru
Ctrl+a 1 ... Ctrl+a 9: Pindah ke terminal 1-9
Ctrl+a n: Pindah ke terminal selanjutnya
Ctrl+a p: Pindah ke terminal sebelumnya
Ctrl+a w: Melihat daftar jendela terminal dalam sesi yang aktif
Ctrl+a d: Detach - Keluar dari sesi yang sedang aktif.
Perintah ini akan mengembalikan shell ke shell yang digunakan untuk menjalankan screen. Sesi yang sebelumnya aktif akan tetap aktif. Untuk kembali ke sesi terakhir (re-attach) yang aktif, dapat menjalankan perintah:

screen -r

Jika ada beberapa sesi screen yang sedang aktif dan ingin kembali ke sesi tertentu dapat menjalankan perintah:

screen -r PID

Dengan PID adalah instance dari sesi screen yang dapat dilihat melalui perintah

screen -list

Perintah-perintah lain yang tersedia dalam sesi screen dapat diakses menggunakan perintah Ctrl+a ?

Thursday, April 16, 2009

Perahu 007

ISO 200 - 1/2s - F22 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~Pantai Ujung Genteng- sunrise ~

Tuesday, April 14, 2009

Sang Penyihir Dari Portobello

Baru beli bukunya beberapa hari yang lalu di Gramedia. Niatnya sih sebelumnya mau pesen online aja, tapi nanggung. Berhubung beberapa hari ini libur, jadi ada kesempatan untuk segera menyelesaikan bukunya.

Buku ini menceritakan kisah hidup tentang Athena, seorang wanita anak seorang gipsi yang dilahirkan di Transylvania yang kemudian diadopsi oleh pasangan yang berasal dari Lebanon. Yang menarik adalah kisah hidup Athena yang merupakan inti dari novel ini, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, orang-orang yang pernah berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengannya: ibu angkatnya, suaminya (dan mantan suaminya), jurnalis, pendeta, alhi kaligrafi, sejarawan, aktris, hingga numerologis. Dan semuanya disusun secara kronologis kecuali di bagian awal bukunya, karena bukunya diawali dengan kisah kematiannya. Menjadikannya semacam biografi namun fiksi tentunya.

Dalam perjalananan ceritanya Athena selalu berusaha menjati jati dirinya. Mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam diri manusia. Dia mencari sesuatu yang hilang dari hidupnya, yaitu apa yang dia sebut sebagai 'ruang kosong'. Pencariannya ini menuntunnya untuk menjadi seorang pemimpin spiritual yang kontroversial di Portobello.

Novel ini menurutku cukup inspiring, mengajari banyak hal berkaitan dengan cinta, identitas, perubahan, dan sudut pandang. Semua yang ada di dalam hidup ini akan tampak berbeda jika mencoba memandangnya dari sudut pandang dan perspektif yang lain, seperti halnya bagaimana karakter Athena yang digambarkan dari sudut pandang orang-orang sekitarnya.

Walaupun demikian, seperti novel-novel Paulo Coelho yang lain, dimana sarat dengan hal-hal yang berbau spiritual, aku merasa banyak pertentangan-pertentangan ketika membaca novel ini, terutama yang berkaitan dengan keyakinan yang aku anut. Memang inspiring sih jika bisa mengambil pesan moralnya, tapi dibumbui dengan hal-hal yang agak-agak klenik dan kontrovesial. Ini nih yang nggak kusuka dari novel-novelnya dia. Yah, mungkin sisi positif yang bisa aku ambil adalah tak ada salahnya juga mengetahui, hitung-hitung menambah pengalaman. Asal jangan ikut-ikutan aja.

Saturday, April 11, 2009

Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Al-Quran yang Terlupakan

Berawal dari melihat secara tak sengaja buku tersebut di rumah, dan kebetulan ada salah seorang temanku yang sudah membaca dan merekomendasikan buku ini, akhirnya aku putuskan untuk membacanya. Tadinya buku ini masuk prioritas terakhir, berhubung masih ada beberapa buku yang ingin aku baca duluan. Tapi sesekali, tak apa-apa lah membaca buku sains daripada kebanyakan membaca novel dan buku-buku bacaan ringan.

Dari judulnya, bisa diterka apa isi buku ini. Buku yang ditulis oleh Agus Purwanto, D.Sc, doktor fisika partikel lulusan ITB dan Universitas Hiroshima ini mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah Al-Quran (ayat-ayat tentang alam semesta) dari perspektif sains modern. Di pengantarnya, penulis menyatakan bahwa kelalaian dan pengabaian sains di Dunia Islam terjadi secara luas. Umat Islam masih berkutat dan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk perkara fikih. Meski ayat-ayat yang mengatur fiqih hanya berjumlah seperlima dari ayat kauniyah yang berjumlah 750 ayat, tetapi telah menyedot hampir semua energi ulama dan umat Islam. Sebaliknya ayat-ayat kauniyah yang berjumlah lebih banyak, malah terabaikan.

Berhubung latar belakang penulis adalah fisika, khususnya fisika partikel, jadinya penjelasan-penjelasan yang ada di buku ini juga dikaitkan dengan ilmu fisikanya. Sangat menarik, karena banyak hal yang aku dapat dari buku ini, terutama mengenai fisika, walaupun sekedar kulitnya saja. Sebagian diantaranya mencoba menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang dipelajari ketika SMA, dan sebagian sisanya, nggak pernah aku dapatkan ketika SMA, antara nggak ngerti apa isinya dan sekaligus penasaran.

Yang disayangkan dari buku ini, karena bahasan yang ditulis cukup banyak, jadi penjelasannya kurang mendalam. Sisi negatifnya, aku jadi nggak ngerti apa yang sedang dijelaskan. Sementara sisi positifnya, ini membuatku penasaran dan ingin mempelajari lebih jauh mengenai bahasan tersebut. Dan terkadang apa yang dijelaskan sudah advanced, jadi mesti nyari-nyari artikel pengantarnya biar aku ngerti apa yang sedang dibahas, Harapanku adalah kedepannya ada lagi buku-buku sejenis yang membahas lebih dalam, atau mencoba mengaitkan ayat-ayat kauniyah Al-Quran dengan ilmu-ilmu lain seperti Biologi dan Kimia misalnya.

Buku cocok dibaca oleh orang-orang yang menyukai sains, khususnya fisika. Entah apa kata mereka yang telah membaca buku ini. Tapi untukku, buku ini memberikan banyak inspirasi dan mendorongku untuk mempelajari lebih jauh mengenai ilmu-ilmu fisika, khususnya fisika partikel. Ada yang berminat?

Thursday, April 09, 2009

Dua Fotografer

ISO 200 - 1/125s - F10 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~Pantai Ujung Genteng~

Wednesday, April 01, 2009

Sebutir Kelapa di Pinggir Pantai

ISO 200 - 1/100s - F11 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~Pantai Ujung Genteng~

Tuesday, March 31, 2009

Sunrise


ISO 200 - 1/60s - F8 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~on the way to Ujung Genteng~

Monday, March 30, 2009

Puteri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Inilah buku ke-4 Jostein Gaarder yang aku baca setelah Dunia Sophie, Gadis Jeruk, dan Misteri Soliter. Buku ini menceritakan kisah Petter si laba-laba. Petter ketika kecil digambarkan sebagai seorang anak yang penyendiri dan jarang bergaul dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian Petter memiliki imajinasi yang kuat sehingga dalam kesendiriannya, dia seringkali menciptakan permainan-permainan dalam bayangannya sendiri.

Gaarder menggambarkan secara implisit Petter kecil sebagai sosok yang bisa dibilang cerdas dan melebihi anak-anak sebayanya yang lain. Ada plot yang menceritakan bagaimana dia mendapatkan uang dengan cara mengerjakan PR teman-temannya. Dan hebatnya lagi, dengan kemampuannya, bahkan dia bisa mengerjakan PR teman-temannya secara kolektif namun hasilnya disesuaikan, sesuai dengan kemampuan temannya. Jadi jika temannya memang dirasa tak mampu, dia tak akan memberikan jawaban yang akan memberinya nilai A. Para guru tidak menyadari jika ternyata PR yang dikerjakan oleh murid-muridnya ternyata hanya dikerjakan oleh satu orang saja.

Dengan daya imajinasinya yang tinggi, Petter seringkali membuat dongeng-dongeng. Dia tak pernah sekalipun kehabisan ide. Selalu saja dia memiliki ide untuk ditulis. Sebenarnya dia bisa saja menjadi penulis hebat, tetapi dia tidak menginginkannya. Petter lebih senang menjadi orang yang berada di belakang layar. Karena dia membutuhkan uang, akhirnya dia jual ide-idenya kepada penulis ataupun calon penulis yang mengalami kebuntuan ide sampai akhirnya terbentuklah jaring rahasia antara Petter dan mereka. Para penulis mengetahui bahwa Petter hanya menjual idenya ke mereka, tanpa tahu bahwa dia juga sebenarnya menjual idenya untuk penulis lain.

Namanya juga cerita, rahasia Petter mulai tercium oleh para penulis tersebut. Para penulis mulai curiga kepada Petter dan tentu saja masalah ini menjadi sangat pelik. Dalam bukunya, diceritakan juga bagaimana Petter diam-diam merekam dan menyimpan bukti setiap transaksi, sehingga bila dia dibunuh, penyebabnya akan diketahui. Benar-benar kisah yang hebat menurutku, karena segala sesuatunya seolah diceritakan secara matang dan penuh rencana.

Kondisi ini tentu saja meresahkan Petter dan dia harus segera mencari cara untuk lepas dari jaring laba-laba yang dia ciptakan sendiri. Dalam pelariannya, dia justru menemukan sesuatu yang tak disangka-sangka, yang menjadi ending dari novel tersebut.

Tak seperti ketiga bukunya yang aku baca sebelumnya, novel ini tak terlalu sarat dengan filosofi-filosofi. Lebih gampang dipahami lah intinya. Di awal membaca buku ini, rada-rada bosan dan kesel, karena isi buku ini sebenarnya adalah kisah Petter yang diceritakan ulang oleh dirinya sendiri, sehingga kebanyakan bagian dari buku ini menggunakan kalimat-kalimat tak langsung. Agak-agak mengesalkan dan terasa monoton. Tetapi begitu konflik ceritanya mulai kelihatan apalagi setelah mengetahui ending ceritanya sangat tak terduga, rasa-rasanya nggak rugi aku membaca buku ini. Pada akhir kisahnya, aku baru menyadari mengapa judul novel ini adalah 'Puteri Sirkus' yang secara nyata tak ada hubungannya dengan alur cerita utamanya.

Friday, March 27, 2009

Ayo Dukung Earth Hour

Apa itu Earth Hour?
Earth Hour merupakan kampanye perubahan iklim global WWF. Individu, pelaku bisnis, pemerintah dari berbagai negara di semua belahan dunia akan mematikan lampu selama satu jam sebagai pernyataan dukungan upaya penanggulangan perubahan iklim pada Sabtu, 28 Maret pukul 20.30 – 21.30 (waktu setempat).

Tahun ini, untuk pertama kalinya Earth Hour dilakukan di Indonesia, di mana Jakarta dipilih menjadi kota pertama tempat penyelenggaraannya.

Pada Sabtu, 28 Maret 2009, tepat pukul 20.30, masyarakat Jakarta akan menyaksikan dan menjadi bagian dari aksi global dalam memadamkan lampu selama 1 jam.

Dan pada saat yang bersamaan, lampu-lampu di bangunan bersejarah seperti Monumen Nasional (Monas) serta di beberapa ciri khas kota Jakarta lainnya, seperti Patung Pemuda, Jembatan Semanggi, Bundaran HI, Air Mancur Arjuna Wiwaha dan tak terkecuali kantor gubernur balaikota akan dipadamkan.

Apa yang ingin dicapai dari pelaksanaan Earth Hour di Jakarta?

  • Mendapat dukungan dan partisipasi pemerintah, pelaku bisnis, dan publik
  • Mengedukasi publik untuk melakukan perubahan gaya hidup sehari-hari demi menurunkan emisi karbon dioksida dan mengurangi dampak perubahan iklim
  • Mengukur kontribusi dan perubahan yang dapat dilakukan Jakarta dalam upaya penurunan emisi karbon dioksida (jika dilakukan tiap tahun atau menjadi program tahunan Pemda DKI Jakarta)
  • Berkontribusi dalam kampanye global untuk membuktikan bahwa dengan bekerja sama kita bisa membuat perubahan besar
Kenapa Jakarta?
Konsumsi listrik di Indonesia masih terkonsentrasi di Jawa, yakni pada 2007 mencapai sekitar 77% dari konsumsi nasional, dan sekitar 20% pengguna listrik di Indonesia berada di Jakarta, sedangkan untuk pasokan listrik di daerah lain di Indonesia masih berbagi dalam jumlah yang lebih kecil.

Total konsumsi listrik wilayah DKI Jakarta dan Tangerang adalah 23% dari total konsumsi listrik di seluruh Indonesia, dengan komposisi terbesar sebagai berikut:
• 34% berasal dari sektor rumah tangga (sebagian besar di DKI Jakarta)
• 30% berasal dari sektor industri (sebagian besar di Tangerang)
• 29% dari sektor bisnis (sebagian besar di DKI Jakarta)

Seberapa penting Earth untuk Jakarta?
Memadamkan lampu di DKI Jakarta 1 jam, sama dengan:
  • 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)
  • Mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
  • Mengurangi emisi sekitar 284 ton CO2
  • Menyelamatkan lebih dari 284 pohon
  • Menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang

(sumber http://www.earthhour.wwf.or.id/)

Saturday, March 21, 2009

Lelah...

Minggu ini benar-benar menjadi minggu yang melelahkan. Dimulai dari awal minggu ketika ada acara dari kantor selama dua hari berturut-turut yang menyebabkan aku kurang tidur + overdosis kopi. Biasanya, dalam keadaan normal, aku jarang-jarang minum kopi. Kalopun minum, dibatasi hanya secangkir dalam satu hari. Konsumsi melebihi 3 cangkir sudah aku anggap sebagai overdosis. Overdosis kopi menyebabkan pikiran menjadi tak jernih dan nggak bisa fokus. Udah tahu bgini, masih aja nambah terus. Kopi memang enak, tapi tak menyehatkan.

Di tengah minggu, tiba-tiba muncul kerjaan yang berhubungan dengan iPhone yang akan di-launch hari Jumat lalu. Yang paling menyebalkan adalah requestnya biasanya suka mendadak dan gampang berubah. Benar-benar bikin kesal. Seolah memberikan kesan bagian yang meminta request nggak konsisten dan mempermainkan. Dan hari Kamis lalu menjadi hari yang paling parah dalam seminggu ini. Pulang dari kantor jam 11 malem barengan ama temen-temen lain yang satu tim juga. Malam itu, aku mendengar gerutuan, caci maki, dan kekesalan yang ditujukan kepada proyek ini. Well.. It's the dark side of iPhone. Bikin panik tiap orang yang terlibat didalamnya hanya gara-gara orang-orang yang kurasa terlalu paranoid akan proyek ini.

Hari Jumatnya, aku sudah sangat lelah. Kerjaan lain sudah menumpuk, pikiran udah jelas nggak jernih gara-gara efek kopi di awal minggu dan efek negatif iPhone di hari sebelumnya. Emosiku nggak stabil. Pikiran nggak tenang. Pola makan menjadi terganggu. Selera makanku agak-agak bermasalah beberapa hari terakhir ini. Pada hari Jumat itu malah aku rasakan aku mengalami 'trashing' -> istilah yang aku dapatkan dari mata kuliah Sistem Operasi *silakan googling untuk mendapatkan penjelasan*. Yah, istilah kasarnya mungkin bisa disamakan dengan idle atau bengong.

Hari ini, aku ada acara keluarga. Dan memakan waktu seharian. Benar-benar membuatku merasa begitu lelah di akhir minggu ini. Tadinya kupikir hanya sampai setengah hari, sehingga setengah harinya bisa kugunakan untuk istirahat. Ternyata aku salah memperhitungkan waktu. Lebih parahnya lagi, besok aku ada rencana lainnya yang kurasa akan memakan waktu seharian juga. Ah, kapan bisa istirahatnya? Should I take one more cup of hot coffee to throw away all of this matter for a while??? Damn, for this question, I can't even make a decision. Sigh..

Thursday, March 19, 2009

Meng-embed Subtitle Kedalam Video

Berhubung iPod tak bisa nenampilkan video dengan file subtitle yang terpisah, jadi kepikiran gimana caranya untuk mengembed file subtitle yang biasanya berekstensi *.srt atau *.sub ke dalam videonya sendiri. iPod sendiri pada dasarnya hanya mengenali format mp4, bukan avi, sehingga video yang ada harus dikonversi dulu menjadi format mp4.

Setelah googling *lupa sumbernya dari mana* untuk mengembed subtitle kedalam video, bisa menggunakan tools MEncoder yang dijalankan dari command line shell. Pada dasarnya tools MEncoder ini dapat digunakan untuk melakukan konversi video ke dalam format lain menggunakan codecs yang berbeda-beda. Secara umum, perintah mencoder adalah sebagai berikut:
mencoder [video source] -ovc [video output codec] -oac [audio output codec] -o [video ouput]

Untuk mengembed subtitle kedalam video output, hanya perlu menambahkan parameter -sub [subtitle file]. Sangat sederhana dan mudah.

Untuk mengkonversi video agar bisa dimainkan di iPod, biasanya aku menggunakan aplikasi yang bernama mvPod. Sayang aplikasi ini belum memiliki fitur untuk meng-embed subtitle kedalam video outputnya. Berhubung mvPod pada dasarnya menggunakan tools mencoder dan tools lain yang bisa diakses dari shell, jadi urutan perintah yang dieksekusi bisa aku ketahui. Setelah mengutak-atik sedikit parameter-parameter yang diperlukan, seperti resolusi video output dan setting untuk subtitlenya, perintah mencoder yang aku gunakan menjadi:

mencoder -aid 1 -o [output] -sub [subtitle] -oac faac -faacopts br=128:mpeg=4:object=2 -channels 2 -srate 48000 -ovc x264 -x264encopts bitrate=500:nocabac:direct_pred=auto:me=umh:frameref=1:level_idc=13:partitions=all:subq=6:threads=auto:trellis=1:vbv_maxrate=768:vbv_bufsize=244:bframes=0 -vf-add scale=480:-2 -vf-add harddup -vf-add expand=480:320:::1 -subfont-autoscale 3 -subfont-osd-scale 4 -subfont-text-scale 3 [source]

Walaupun output dari perintah diatas berupa file mp4, namun format tersebut tidak dikenali oleh iPod (di gtkPod nya sudah di-reject). Ternyata mvPod menggunakan tools tambahan yaitu avi2raw dan mp4creator untuk mengkonversi file output yang dihasilkan oleh mencoder agar bisa dikenali oleh iPod. Perintahnya sangat sederhana, dan memakan waktu yang relatif cepat dibandingkan dengan proses sebelumnya. Berikut ini adalah perintah yang digunakan:

avi2raw --video [output> [output video raw]
avi2raw --audio [output> [output audio raw]

mp4creator --create=[output video raw] -r 23.976 [final output]
mp4creator --create=[output audio raw] [final output]

Output terakhir dari proses ini adalah [final output] yang bisa dimainkan di iPod. Well, sebenernya masih rada-rada nggak mudeng sih penggunaan perintah avi2raw dan mp4creator ini. Udah rada-rada males googling, yang penting tujuan tercapai :P.

Catatan:

  • mencoder dapat diinstall melalui package mencoder (apt-get install mencoder)
  • avi2raw dan mp4creator dapat diinstall melalui package mpeg4ip-server (apt-get install mpeg4ip-server)

Monday, March 16, 2009

Sarapan dan Efisiensi

Mulai awal bulan Maret ini, perusahaan tempat aku bekerja menyediakan sarapan pagi mulai pukul 07:30 s/d 08:15. Jika sebelumnya hanya menyediakan makan siang, sekarang makan pagi juga disediakan, walaupun jumlah porsinya terbatas. Ini tentunya cukup menggembirakan melihat kenyataan beberapa rekan kerjaku seringkali mesti mencari sarapan keluar ketika baru datang ke kantor. Secara pengeluaran, sarapan pagi secara gratisan di kantor berarti penghematan dana untuk sarapan.

Sementara aku sendiri biasanya sarapan di rumah, jadi sebenarnya kebijakan ini tak terlalu berpengaruh. Hanya saja jika aku berniat untuk sarapan di kantor, aku bisa berangkat lebih pagi dari biasanya. Dengan berangkat lebih pagi dan sarapan di kantor, aku bisa menghemat pengeluaran untuk transportasi. Jika biasanya aku naik kereta KRL AC Express seharga 8.000 rupiah, dengan aku datang lebih pagi, aku bisa memilih untuk naik KRL Ekonomi AC dengan tiket seharga 4.500 atau KRL Ekonomi biasa dengan tiket seharga 1.500 rupiah. Dari sisi kenyamanan, aku rasa tak terlalu beda jauh. KRL Ekonomi biasa walaupun tak ber AC, tapi penuhnya nggak nyesek-nyesek banget seperti KRL Ekonomi Jakarta-Bogor. Aku masih bisa baca buku dengan tenang di sepanjang perjalanan.

Kembali ke masalah sarapan pagi di kantor, saat ini aku lihat perilaku dan kebiasaan orang-orang di kantorku mulai berubah. Well.. entah kapan mulainya, tetapi dari dulu walaupun disebutkan jam kantor adalah jam 08:00 s/d 17:00, ini tak berlaku mutlak. Datang jam setengah 9 pun masih bisa dibilang kantor masih sepi. Hanya segelintir ornag-orang yang benar-benar berniat datang pagi. Menurut pengamatanku, kebanyakan rekan-rekan kerjaku mulai benar-benar bekerja jam 9 ke atas.

Entahlah apakah tujuan sampingan dari menyediakan sarapan pagi ini adalah mendorong karyawan agar datang lebih pagi atau tidak. Karena menurutku cara ini sangat halus dan persuasif, dan tampaknya bisa dibilang cukup berhasil. Jika dibandingkan dengan cara kasar dan sedikit memaksa, malah aku lihat tidak akan berhasil karena dari pengamatanku kebanyakan rekan-rekan kerjaku sendiri tipikal orang yang fleksibel dalam urusan waktu, yang penting kerjaan beres. Mari kita lihat dalam sebulan ke depan, apakah bisa memberikan perubahan positif yang cukup signifikan pada perilaku orang-orang disekitarku yang akhirnya bisa mengarah pada efisiensi. Who knows? Hanya waktu yang bisa menjawabnya..

Thursday, March 12, 2009

Telkomsel Luncurkan iPhone 3G

Fiuh.. akhirnya keluar juga informasi resmi mengenai tanggal launching dan harganya. Rencananya iPhone3G akan di launching pada tanggal 20 Maret di Pacific Place.

Berikut ini informasi mengenai paket dan tarif untuk iPhone3G ini:
(dalam ribu rupiah)


Post Paid*Post Paid*Post Paid*Pre Paid
TurboTurbo PlusTurbo PremiumTurbo
Monthly fee**Rp. 354Rp. 488Rp. 733-
Free Talk** -180 minutes360 minutes-
Free SMS** -150 SMS300 SMS-
Free Data** 500 MB500 MB1,000 MB500 MB
Handset Price 8GBRp. 4.455Rp. 3.844Rp. 2.622Rp. 9.605
Handset Price 16GBRp. 5.912Rp. 5.301Rp. 4.079Rp. 11.205

Jam penjualan di Pavilion-South Entrance, Pacific Place

20 Maret 2009 : 08:00 PM – 00:00 AM (Midnight)
21 Maret 2009 : 10:00 AM – 10:00 PM
22 Maret 2009 : 10:00 AM – 10:00 PM


* Untuk pelanggan yang memenuhi persyaratan
** Setiap bulannya selama satu tahun


Sigh, tetep aja mahal euy :'(. Untuk informasi lebih lengkap, klik disini.

Tuesday, March 10, 2009

Resepsi Nikahan Jefri & Vara

Sedikit kecewa karena anak-anak 2002 yang dateng nggak sebanyak yang diperkirakan. Malah yang banyak dateng anak-anak 2003. :( Berhubung yang dateng dikit, foto-fotonya juga dikit jadinya. :P

Foto-fotonya bisa dilihat di:



Monday, March 09, 2009

Mission Accomplished..



Fiuhh.. eventually, after waiting so long

Wednesday, March 04, 2009

Misteri Soliter: Antara Filsafat, Dongeng, dan Fantasi

Permainan soliter adalah sebuah kutukan keluarga. Selalu ada seorang joker yang tak tertipu angan-angan. Dari generasi ke generasi, selalu ada orang bodoh yang berjalan di muka bumi dan tak menjadi tua oleh waktu. Seseorang yang mengetahui takdirnya harus menjalaninya.

Misteri Soliter berkisah tentang perjalanan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang bernama Hans Thomas, yang bersama ayahnya mencari ibunya yang telah menghilang dan meninggalkan mereka berdua 8 tahun silam.

Di dalam perjalanan mereka bertemu dengan kurcaci kecil dan memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar. Tak lama setelah itu, mereka berhenti di sebuah toko roti. Pemilik toko roti yang telah tua itu memberikan beberapa kue kismis kepada Hans Thomas. Ketika memakan kue kismis yang terbesar, dia menemukan sebuah buku mungil yang tulisannya sebegitu kecilnya sehingga tak bisa dibaca menggunakan mata telanjang. Hans Thomas akhirnya membaca buku mungil tersebut menggunakan kaca pembesar yang diberikan oleh sang kurcaci sebelumnya.

Dan setelah itu, cerita dalam buku itu beralih antara kisah perjalanan Hans Thomas beserta ayahnya dan kisah yang diceritakan dalam buku mungil tersebut.

Dalam buku-buku ini akan ditemukan istilah-istilah semacam pulau ajaib, soda pelangi, kartu remi beserta jokernya, filsafat tentang joker, hubungan kartu remi dengan penanggalan, Hari Joker, dan istilah-istilah lain yang menurutku sangat menarik. Apakah hubungan antara Hans Thomas, kurcaci, pemilik toko roti yang sudah tua, semua istilah-istilah aneh yang telah kisebutkan, dan cerita yang ada di dalam buku mungil tersebut? Hmm.. mendingan baca sendiri aja deh. Dalam buku itu juga disebutkan sebuah permainan Joker, dimana seluruh kurcaci di pulau ajaib mendeklamasikan kalimat-kalimat yang jika disusun akan menjadi isi atau inti dari cerita dalam buku Misteri Soliter ini.

Walaupun isi buku ini pada intinya adalah cerita dalam cerita dan cerita tersebut berada dalam cerita yang lain - cukup membingungkan *sigh*, namun isinya sangat menarik. Bintang 5 lah. Dalam buku itu banyak sekali cerita-cerita filosofisnya. Gaarder sangat piawai dalam membungkus filsafat ke dalam dongeng yang penuh fantasi dan menuliskannya dalam sebuah buku. Salah satu pertanyaan yang mengelitik dalam buku ini adalah: 'Siapakah kau? Dari manakah kau berasal?' yang dilontarkan oleh Joker yang selalu ingin tahu. Benar-benar mendalam untuk bahan perenungan.

Monday, March 02, 2009

My Handphone

Fungsi handphone pada saat ini tak hanya digunakan sebatas untuk menelepon dan mengirim sms. Banyak sekali fitur-fitur yang disediakan oleh handphone-handphone keluaran terbaru saat ini. Handphone Nokia E71 yang aku miliki saat ini telah mengubah banyak sekali perilaku dan pola kehidupanku. Sayang saja handphone ini adalah produk Nokia yang harusnya kedepannya aku hindari lah, tapi berhubung udah punya, masa iya mesti dibuang.

Menurutku, handphone ini cocok untuk orang-orang yang seneng online untuk browsing, chatting, berkomunikasi menggunakan email *tapi nggak demen ama Blackberry*, seneng menulis, butuh fungsi modem, dan lain sebagainya. Baik Blackberry dan Nokia E71 ini sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, namun bukan itu yang akan aku bahas dalam tulisanku kali ini.

Berikut ini adalah apa saja yang biasa aku lakukan dengan memanfaatkan handphoneku, yang dalam hal ini tentunya juga didukung oleh fitur-fitur yang tersedia didalamnya.

  1. Berkomunikasi menggunakan email. Nokia menyediakan aplikasi yang bernama Mail For Exchange yang bisa digunakan sebagai mail client untuk Microsoft Exchange. Email di perusahaan dimana aku bekerja menggunakan Ms Exchange. Jadi klop deh. Melalui aplikasi ini tak menjadi masalah kapanpun dan dimanapun aku berada, selama ada koneksi ke internet, aku bisa berkomunikasi menggunakan email (dalam konteks pekerjaan). Tentu saja hal ini sangat memudahkanku, terutama ketika aku tak berada di meja kerjaku.

  2. Selain itu aku juga menggunakan Gmail Mobile untuk membaca semua email yang masuk ke account Gmail-ku. Cukup berguna juga. Bisa mengikuti perkembangan milis kapan dan dimana saja.

  3. Chatting dan Browsing. Didukung dengan keypad QWERTY, chatting menggunakan handphone ini menjadi lebih mudah dan cepat. Ditambah dengan layar yang cukup lebar (320x240 pixel), membuat pengalaman ketika berselancar di internet menjadi lebih menyenangkan. Terlebih banyak sekali situs-situs yang saat ini menyediakan halamannya dalam versi mobile, seperti kompas, facebook, plurk, dan lain sebagainya yang memang tampilannya disesuaikan untuk mobile. Apalagi E71 layarnya lebar, pas deh. Tak masalah mau menggunakan browser bawaan yang sudah mendukung Javascript atau mau menggunakan Opera Mini, sama-sama menyenangkannya.

  4. Fitur WiFi yang disediakan oleh handphone ini memberikan akses koneksi yang lebih cepat, terutama ketika kecepatan menggunakan GPRS dirasa kurang memadai. Di kantor, fitur ini sering aku gunakan untuk menyalin dokumen antara PC dengan handphone menggunakan FTP. Selama PC itu masih satu network dengan WiFi nya. Lebih fleksibel daripada menggunakan kabel data ataupun bluetooth dan tentunya kurasa lebih cepat.

  5. Mendengarkan musik. Walaupun seri E yang memang ditujukan untuk kalangan bisnis, tetap saja aplikasi pemutar musiknya disediakan juga dan memang sudah menjadi standar. Walaupun suaranya nggak sebagus seri N, tapi cukup lah. Sayangnya audio outputnya menggunakan 2.5 mm, bukan 3.5 mm, jadi mesti pake konverter lagi kalo mau denger musik menggunakan earphone yang 3rd party. Tapi setelah memiliki iPod Nano, aku jarang mendengarkan musik melalui handphone.

  6. Menulis draft tulisan untuk blog. Dulu agak-agak ribet untuk menulis draft tulisan menggunakan Nokia N70-ku yang lama. Namun keypad QWERTY yang tersedia di Nokia E71 sangat nyaman ketika digunakan untuk menulis tulisan yang panjang. Selain itu, memungkinkan pula untuk menulis dengan cepat walaupun hanya menggunakan dua jempol. Biasanya ide untuk menulis blog bisa datang kapan saja, seperti misalnya ketika aku sedang dalam perjalanan. Jika tak segera disalurkan, moodnya bisa segera hilang dan males untuk nulis. Karena fitur inilah, aku bisa menulis dimana saja dan kapan saja, termasuk tulisan yang sedang anda baca ini aku tulis menggunakan E71 ku.

  7. Menjadikan handphone sebagai modem. Nokia E71 ku seringkali aku jadikan modem agar bisa berselancar di internet menggunakan PC atau laptop. Dengan fitur HSDPA (walaupun langganannya di paket yang paling murah 256-kbps downlink), kecepatan yang diperoleh sudah memadai untuk sekedar browsing, chatting dan download file-file yang tidak terlalu besar. Sayangnya, handphonenya seringkali cepat panas jika digunakan sebagai modem. Tapi, so what lah.. Selama masih berfungsi dengan baik, dipake aja. Daripada beli modem lagi yang harganya lumayan mahal, belum lagi bongkar-bongkar handphonenya untuk mengeluarkan simcard. Ribet. Lagipula ketika dijadikan sebagai modem, E71 tersebut bisa digunakan untuk menerima dan mengirim sms serta membuat dan menerima panggilan. Itulah keunggulannya dibanding dengan modem.

  8. Memanfaatkan fitur GPS. Nokia E71 memiliki GPS internal yang bisa digunakan untuk mengetahui posisi saat ini. E71 sendiri dilengkapi dengan aplikasi Nokia Maps yang dapat menampilkan posisi saat ini pada peta. Peta yang digunakan oleh aplikasi ini dapat diunduh menggunakan aplikasi Map Loader yang diinstall di PC. Walaupun peta yang disediakan tak terlalu lengkap, tapi sudah cukup memadai untuk sekedar mencari tempat-tempat publik yang ada di Jakarta. Sudah beberapa kali aplikasi GPS ini membantuku dalam mencari suatu tempat, dan menampilkan rute menuju tempat tersebut.

  9. Mengakses server yang ada di kantor. Terkadang jika sedang masalah dengan server yang ada di kantor, masih bisa di handle lah menggunakan E71. Tinggal SSH menggunakan aplikasi Putty yang khusus untuk Symbian, beres deh. Nggak senyaman di PC lah, tapi layarnya yang lebar cukup membuatku nyaman untuk melihat tulisan-tulisan di terminalnya.

  10. Internet Banking dan Mobile Banking. Dengan kemampuan browsernya, kini masalah-masalah yang berhubungan dengan keuangan (asal ga buat ngambil duit aja) seperti transfer, beli pulsa, ngecek saldo, bayar zakat, ngecek daftar mutasi, dll, bisa dilakukan dimana aja. Asal ada koneksi internet aja.

  11. Nonton film. Layar 320x240-nya cukup memadai ketika digunakan untuk menonton film. Lumayan aja kalo lagi di kereta atau di perjalanan yang jauh bisa sambil nonton. Walaupun kerugiannya membuat baterai cepat habis.

  12. Kamus berjalan. Nokia E71 menyediakan kamus Indonesia-English dan English-Indonesia yang sudah terintegrasi. Cukup menyenangkan, tapi rasanya masih kurang, jadi aku install lagi aplikasi kamus lainnya yang perbendaharaan kata-katanya kebih lengkap. Sangat berguna ketika di jalan sedang membaca buku atau novel luar dan tiba-tiba menemukan kata-kata yang tak aku mengerti.

Itulah fungsi-fungsi yang aku manfaatkan secara optimal dari Nokia E71. Diantara fitur-fitur umum yang dimiliki oleh handphoneku, mungkin yang paling jarang aku gunakan adalah fitur kameranya. Nggak pernah percaya dengan kualitas kamera di handphone. Kecuali yah.. Lagi kepepet banget. Kini handphone memiliki banyak sekali fungsi diluar voice dan sms. Dan kurasa Nokia E71 ku ini sudah cukup memadai untuk memenuhi semua kebutuhanku. Terlebih aku juga berlangganan akses internet unlimited pada kartu yang aku gunakan di handphoneku. Kalo nggak, nggak kebayang berapa tagihan yang harus dibayar tiap bulannya.

Monday, February 23, 2009

Are you happy now?

Do you feel contented and satisfied with your life? Are you happy at this moment you read this? Everyone has their own point of view about happiness. The definition of happiness is relative, depend on each person who feels it. In my opinion, happiness is not related with richness and wealth. It comes from ourselves and could be influenced by several factors from outside. For example, if we have something that others people don't, we might feel happy. But anyway, the happiness itself, comes from inside.

Having something that others don't, our perhaps we're richer than others is only related with short term happiness. Perhaps we feel happy after buying a new car. We feel happy because we have promoted to higher position in our company. We feel happy because we have achieved our dream. But how long this happiness could last? How long we could feel it?

Sometimes, we feel envious of our friend's success. When we find that others have more than we do, we said: "How lucky he is, he must be happy". But who know? We do not know about his feeling. We do now know that may be he has a huge problem behind it. It is possible that our condition at that time is better than other people whom we treat as happier than us. But because our mind has said he's luckier than us, if affects our heart and allows our mind to develop a negative thinking about ourself.

The real happiness comes from ourselves by having grateful of everything we have: health, beautiful life, money, etc. People tends to want more and more. Never feels satisfied. When one of our needs has been fulfilled, we seek other things that in our opinion it could make us feel satisfied. It has no end. We never looks around us. So many peoples suffer, so many people are ill-fated, so many people worse than us. We should be grateful. Why should we feel unhappy if there are so many people around us suffer and worse. Perhaps they do not have everything like we do, but who knows if they are apparently happier than us? If they could happy with what they have, why we couldn't? Happiness comes from inside, and no one could make us sad or happy unless we allow it. So, why we are still complaining about our life if we could be happy.

Saturday, February 21, 2009

IniBuku versi Mobile

Beberapa hari yang lalu, dapet notifikasi dari IniBuku, sebuah toko buku online yang sudah menjadi langgananku untuk belanja buku. Notifikasinya selain informasi mengenai buku-buku terbaru, juga informasi mengenai diluncurkannya inibuku versi mobile yang bisa diakses melalui alamat berikut: http://m.inibuku.com.

Namanya juga versi mobile, versi ini dikhususkan untuk pengguna telepon selular dimana tampilannya lebih sederhana dan disesuaikan dengan ukuran layar telepon selular yang mengaksesnya. Hal ini memungkinkan pemesanan buku bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja secara mobile.

Walaupun pada saat ini aplikasi semacam Opera Mini bisa menampilkan satu halaman web (bukan versi mobile) secara utuh dan cepat, namun ada kalanya ketika mengakses suatu halaman web menggunakan telepon selular, halamannya terlalu lebar sehingga tidak nyaman ketika berselancar. Sama halnya ketika mengakses situs seperti facebook misalnya. Menurutku orang akan lebih nyaman membuka halaman versi mobilenya dibandingkan dengan membuka halaman versi aslinya dari telepon selularnya, bahkan menggunakan aplikasi semacam Opera Mini sekalipun.

Senangnya.. Paling nggak kedepannya mencari buku dan sekaligus memesannya dari IniBuku bisa menjadi lebih mudah dan menyenangkan. *Nggak bermaksud promosi loh*

Friday, February 20, 2009

Mengapa Harus Cemas?

Dari sebuah kajian, dijelaskan bahwa rasa cemas dan kegelisahan disebabkan karena pemikiran-pemikiran pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Seringkali kita sebagai manusia terlalu mengkhawatirkan kejadian-kejadian yang belum tentu terjadi di masa depan. Seperti misalnya kekhawatiran apakah besok, minggu depan, bulan depan, ataukah tahun depan semua kebutuhan kita masih bisa terpenuhi seperti sekarang ini. Apakah kelak perusahaan tempat dimana kita bekerja masih sanggup menggaji kita? Apakah pasangan hidup kita kelak akan berselingkuh? Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang mencerminkan kekhawatiran kita yang pada akhirnya membuat kita menjadi tak tenang.

Sebagai solusi dan jawaban atas masalah itu, dalam kajian tersebut disebutkan bahwa sudah seharusnya manusia tak terlalu memusingkan dengan apa yang belum terjadi. Masa depan yang belum pasti sebaliknya bisa dijadikan sebagai sebuah tantangan, yaitu menjadikannya lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Tidak ada salahnya memikirkan masa depan, tetapi tentunya yang bernilai positif, sebagai harapan yang kita miliki, bukan hal-hal negatifnya yang justru tidak diharapkan.

Selain itu disebutkan pula bahwa daripada terlalu fokus dan memikirkan hal-hal yang belum pasti, lebih baik kita fokus pada keadaan saat ini, yang sedang kita alami, yang lebih pasti. Sayang jika energi yang kita miliki hanya dihabiskan untuk memikirkan hal-hal yang hanya membuat perasaan semakin gelisah dan tidak tenang. Inti yang kudapatkan dari pernyataan tersebut adalah jangan sampai kita terlena dengan perencanaan-perencanaan untuk masa depan sementara keadaan kita saat ini terbengkalai dan terabaikan. Mengapa kita harus cemas? Sementara kejadian yang tidak kita harapkan tersebut belum terjadi. Jika memang tak ada plan B untuk meminimalisir hal-hal yang tak kita harapkan, solusi lain mungkin adalah mempersiapkan diri untuk menerima keadaan yang tak diharapkan tersebut. Ujung-ujungnya, rasa cemas dan gelisah itu juga adalah pilihan kita sendiri. Terserah, kita mau pilih yang mana.

Tuesday, February 17, 2009

Little Prince: Sederhana namun Mendalam

Little Prince merupakan novel yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery, seorang penerbang berkebangsaan Prancis pada tahun 1943. Walaupun novel ini untuk anak-anak, tapi kurasa isinya cukup mendalam. Menurutku, banyak hal-hal yang mendasar mengenai hidup yang seringkali menjadi pertanyaan bagi anak-anak, namun telah diabaikan oleh orang dewasa yang diceritakan dalam novel ini.

Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pangeran kecil dari satu planet ke planet lain. Masing-masing planet dihuni oleh orang satu dewasa. Dalam perjalanannya, sang pangeran kecil seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kepada penghuni planet yang dia kunjungi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meskipun mungkin hanya akan bisa dilontarkan oleh anak kecil, namun cukup mendalam untuk direnungkan.

Salah satu pelajaran moral yang menurutku sangat mendalam adalah ketika sang pangeran kecil bertemu dengan seeokor rubah di planet bumi.

"Kau hanya bisa melihat dengan jelas dengan hatimu. Hal yang penting yang tak terlihat oleh mata."

Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh rubah kepada sang pangeran kecil. Pangeran kecil memiliki sebatang mawar di planetnya. Namun apakah yang membedakan antara sebatang mawar tersebut dibandingkan dengan kebun yang berisi ribuan bunga mawar? Ternyata jawabannya adalah waktu yang dihabiskan oleh pangeran kecil untuk mawarnya itulah yang membuat sebatang mawar tersebut menjadi begitu penting. Kita diajari untuk bertanggung jawab, selamanya, atas segala sesuatu yang telah kita 'jinakkan'. Yang dalam kasus ini adalah mawar sang pangeran kecil. Dengan 'menjinakkan' sesuatu, artinya kita telah membangun sebuah ikatan, sebuah hubungan. Ikatan tersebut unik, dan kita harus bertanggung jawab atas ikatan tersebut.

Walaupun novel ini ditulis pada tahun 1943, kurasa isinya tak lekang oleh waktu. Pelajaran-pelajaran moralnya pun cukup banyak. Dan hebatnya lagi dikemas dalam bacaan untuk anak-anak. Novel ini tak terlalu tebal, sekitar 100 halaman dan berisi dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar oleh penulisnya sendiri. Untuk orang-orang yang sedang mencari makna hidup, buku ini kurasa bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan.

Thursday, February 12, 2009

4 Jam Bersama Busway

Hari minggu lalu, setelah pulang dari acara pengajian salah satu mesjid di Menteng, iseng-iseng aku ingin membaca buku di sambil menggunakan jasa Busway. Tadinya sih maunya cuma rute bolak-balik koridor I, tapi tentu saja nggak dari ujung ke ujung. Kalo dari ujung ke ujung, yang ada mesti keluar dari halte, jalan lagi, dan bayar lagi deh.

Start dimulai sekitar jam 10 pagi dari halte Tosari. Aku mengambil rute ke arah blok M. Sambil berdiri, aku mengeluarkan buku yang sudah kusiapkan dari dalam tas, yaitu Misteri Soliter yang ditulis oleh Jostein Gaarder, dan mulai membacanya. Agak susah juga membaca dengan satu tangan sementara tangan lain mesti memegang sesuatu karena nggak dapet duduk. Ketika sudah sampai halte Mesjid Agung Al Azhar, aku turun dan mengambil rute ke arah sebaliknya. Kali ini Busway nya lumayan kosong karena haltenya adalah halte kedua setelah halte Blok M. Cukup nyaman juga membaca buku di dalam Busway. Asal nggak terlalu fokus aja, bisa-bisa halte tujuan malah terlewat.

Akhirnya aku turun di halte Glodok, satu halte sebelum halte terakhir: Stasiun Kota, dan kembali naik Busway ke arah Blok M lagi. Tadinya aku berencana untuk turun di halte Bendungan Hilir, lalu ke Plaza Semanggi. Tapi berhubung diluar sana agak-agak gerimis dan rasanya masih pengen baca buku, aku putuskan untuk mencoba jalan-jalan ke koridor lain. Pilihan aku putuskan untuk turun di halte Dukuh Atas dan beralih ke koridor IV (Dukuh Atas Pulogadung). Nyaman, dan tentu saja bisa duduk. Halte pertama gituh. Ternyata perjalanan dari Dukuh Atas ke Pulogadung tak memerlukan waktu terlalu lama. Nggak kebayang kalo jalan-jalannya pas hari kerja dan jam pulang kantor. Bisa teler di jalan deh.

Sesampainya di halte Pulogadung, kupikir bisa langsung pindah ke koridor II (Pulogadung - Harmoni). Ternyata mesti keluar dulu dan bayar lagi deh Rp. 3.500. Nggak apa-apa, itung-itung pengalaman. Beruntung antriannya nggak terlalu panjang. Yang penting bisa dapet duduk lah. Dari sini aku meneruskan perjalanan melalui koridor II menuju halte Harmoni.

Sesampainya di Harmoni, pikiranku adalah kembali ke koridor I dan pergi ke tempat tujuanku semula: Plaza Semanggi. Tapi melihat antrian yang ke arah Blok M yang sudah begitu panjang membuatku jadi agak-agak malas. Kebetulan melihat antrian yang ke arah Kalideres (koridor III) kosong melompong. Tak ada salahnya juga kupikir untuk iseng-iseng sekalian jalan-jalan. Toh halaman buku yang aku baca juga masih banyak.

Dan dilanjutkanlah lagi perjalanan nggak jelas ke arah Kalideres. Kali ini aku turun di halte Pesakih, dan kembali lagi ke Harmoni. Waktu tempuhnya pulang pergi mungkin nyaris satu jam. Rada-rada jauh soalnya. Yang penting bisa sambil baca buku walaupun nggak dapet tempat duduk.

Dari Harmoni, aku memutuskan untuk langsung pindah koridor ke koridor I, mengingat waktu sudah menunjukkan jam setengah 2 lewat dan aku belum sholat pula. Kebetulan antriannya sekarang lebih pendek, jadi nunggunya nggak terlalu lama. Sekitar 20 menit kemudian aku sampai di halte Bendungan Hilir dan berjalan ke tujuan akhirku: Plaza Semanggi.

Perjalanan yang cukup panjang. Hampir 4 jam berurusan dengan Busway. Lumayan itung-itung mencoba untuk menikmati isi buku dengan cara yang baru. Hanya dengan 7.000 rupiah dah bisa nyobain busway dari koridor I hingga IV. Sesekali memang perlu rasanya melakukan hal-hal yang tak biasa seperti ini. Mungkin nanti kalo koridor VIII sudah ibuka bisa lebih seru lagi. Menurut informasi, koridor VIII Lebak Bulus - Harmoni panjang jalurnya sekitar 20 an km. Pulang pergi kalo nggak macet sekitar 2 jam.

Secara garis besar, inilah rute yang aku ambil kemarin:
Tosari -> Mesjid Agung Al Azhar -> Glodok -> Dukuh Atas -> Pulogadung -> Harmoni -> Pesakih -> Harmoni -> Bendungan Hilir. Kesimpulannya: membaca buku dengan cara ini lumayan menyenangkan. Daripada mesti nyari tempat untuk ngadem dan diem disana sampe baca bukunya selesai. Lain kali bisa dicoba seharian naik Busway dan mencoba semua koridor yang ada.

Tuesday, February 10, 2009

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu: Kumpulan Cerita Leo Tolstoy

Berawal dari kebaikan seorang teman yang menghibahkan salah satu bukunya, yang akhirnya memaksaku untuk membaca buku ini. Tadinya sih nggak tahu buku ini isinya seperti apa, dan penulisnya Leo Tolstoy juga terdengar asing di telingaku. Sampai akhirnya aku membaca salah satu cerita yang ada di dalam bukunya, yang ternyata mendalam banget. Baru tahu ternyata Leo Tolstoy adalah seorang sastrawan Rusia dan dianggap sebagai novelis terbesar pada jamannya.

Menariknya, sepertinya kumpulan ceritanya diurutkan dari yang paling pendek hingga yang paling panjang. Ketika membaca cerita-cerita yang ada di awal masih bisa dinikmati. Begitu membaca 3 cerita terakhir, rasa-rasanya pening. Maklum, nggak biasa membaca karya-karya sastra yang perlu berpikir secara mendalam dulu untuk mencerna isinya, jadi semakin panjang, semakin membuat pening. Terlebih lagi semua ceritanya disajikan begitu saja. Pesan moral dari masing-masing ceritanya tertulis secara implisit. Jadi memang bener-bener mesti direnungi dulu, baru bisa ngerti. Kalo nggak sih ya seperti membaca cerita biasa aja, lewat begitu saja.

Sayangnya sepertinya karya-karyanya yang lain yang tentunya edisi terjemahan sudah jarang beredar. Ada beberapa yang masih dijual, tapi judulnya nggak banyak. Entah apakah karya-karyanya yang lain pernah diterjemahkan sebelumnya, mengingat karya-karyanya adalah sastra klasik yang ditulisnya saja udah tahun kapan.

Monday, February 09, 2009

Kurindukan Keindahan

Kesunyian ini..
Tak seperti biasanya
Awan kelabu terhampar
Kelam.. Suram.. dan Buram

Hatiku risau
Gelisah oleh kemuraman hari
Rasa pilu meresap
Hilang tersapu awan kelam

Hujan rintik-rintik
Membasahi bumi yang telah kering
Membawa kembali kehidupan yang telah hilang
Menumbuhkan benih-benih harapan

Wahai hujan
Basuhlah kerinduanku ini
Bawalah semua kegalauanku ini
Bersama tetesan-tetesanmu yang penuh berkah
Mengalir ke tempatmu bermuara

Kurindukan keindahan
Dibalik awan-awan mendung nan kelam
Wahai matahari
Ku rindu cahayamu
Sinarilah hatiku dengan harapan
Bawalah semua keresahan ini
Bersama hilangnya hujan terbuang ke lautan

Wednesday, February 04, 2009

Begitu Mudahnya Menilai Kegagalan Orang Lain

Apakah arti sebuah kegagalan? Apakah yang akan anda lakukan jika salah seorang teman baik anda mengatakan dan 'men-cap' anda adalah orang gagal? Seolah anda adalah orang yang cukup pantas untuk dikasihani. Seolah anda adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Sementara anda menganggap apa yang telah terjadi pada diri anda adalah sesuatu yang biasa saja.

Itulah yang terjadi pada diriku kemarin. Salah seorang teman yang selama ini aku anggap sebagai teman dekat mengatakan aku adalah orang yang gagal, yang tak pernah bisa membuat kemajuan yang berarti paling tidak sejak dari kami mulai kenal dan menjadi teman. Entah apakah karena dia merasa sudah 'berhasil' lantas mengatakan sesuatu kepadaku yang menurutku cukup menyinggung perasaanku. Bahkan dia berkata kalau dia miris melihat keadaanku sekarang. What the.. @&%$#*(. Mungkin ini adalah bentuk perhatian yang bisa diberikannya padaku, tapi.. kok malah terkesan meledek dan melecehkan yah. Aku nggak se-desperate itu lah.

Jujur, diriku sendiri tidak merasa gagal seperti apa yang dia bilang. Aku merasa baik-baik saja. Walaupun mungkin aku telah gagal untuk mencapai apa yang seharusnya bisa aku raih, tapi aku tak merasa gagal. Justru aku malah mendapat banyak pelajaran berharga dari proses tersebut. Tak semua yang nggak bisa aku raih aku anggap sebagai bentuk kegagalan. Mungkin bagi sebagian orang, hasil lebih penting daripada proses. Tapi bagiku, proses juga tak kalah pentingnya. Justru banyak pelajaran yang tersimpan dibalik proses menuju hasil yang diharapkan. Hasilnya gagal atau berhasil, tak masalah, yang penting aku sudah berusaha dengan sebaik mungkin.

Tapi kata-katanya tak akan aku lupakan. Aku merasa sakit hati dengan kata-katanya. Apakah ada kecenderungan dari orang-orang yang berhasil untuk seolah-olah merendahkan teman dekatnya sendiri yang dianggap gagal olehnya? Nggak pernah terbayang dia bisa mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti itu. Ini sih udah nggak ada hubungannya dengan berhasil atau gagal, ini sudah menyangkut harga diri.

Jangan pernah men-judge orang lain sebagai orang yang gagal. Berhasil atau gagal, hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri. Berpikirlah dua kali sebelum mengatakan kata-kata itu. Sakit hati, merasa direndahkan, dan merasa harga diri diinjak-injak adalah sebagian dari akibat yang mungkin. Luka memang bisa hilang, tapi bekasnya tak akan pernah bisa hilang.

Sunday, February 01, 2009

Small Ladybug..

When I visited one of my family member, I found this creature on backyard. Unfortunately, I didn't bring my tripod, so it was difficult to capture using smaller aperture. My hand usually trembles when I shoot. I decided to use fast shutter speed. This meant I couldn't use smaller aperture to capture all details. The DOF was too shallow :(


ISO 200 - 1/160s - F6.3 - 105mm - Nikon AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED

Saturday, January 31, 2009

Grasshopper

I love green color of this grasshopper, texture on its shell, and contrast between its green shell and the color of the flower. I found it in one of pot around my house. Because lack of light, I used my tripod to help me to produce a sharp image.


ISO 200 - 1/100s - F9 - 105mm - Nikon AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED


Friday, January 30, 2009

Apalah arti cuti 3 hari??

Cuti selama 3 hari yang aku ambil dari hari Selasa hingga Kamis lalu memberikan beberapa hal yang bermanfaat dan menyenangkan, dan priceless tentunya. Jika aku rangkum, mungkin inilah beberapa hal tersebut:

  1. Yang pertama tentu saja untuk rileks dan menyegarkan kembali pikiranku. Namanya juga cuti, harus dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat otak beristirahat. Karena rileks, ini memberiku banyak sekali waktu untuk berpikir dan menyusun kembali rencana-rencanaku di tahun 2009 ini. Intinya sih memungkinkanku untuk memperoleh inspirasi-inspirasi yang tidak akan aku dapat ketika sudah tenggelam dalam pekerjaan.

  2. Mengunjungi keluarga dan bersilaturahmi. Betapa senangnya bisa bertemu dengan keluarga jauhku yang jarang-jarang bisa aku temui, paling banter setahun 2 atau 3 kali.

  3. Wisata Kuliner. Ini adalah hal yang tak boleh dilewatkan ketika aku pulang kampung. Sayangnya aktivitas ini kurang optimal karena seperti Jakarta, di kampungku sedang musim hujan. Mana ujannya lebih parah daripada di Jakarta. Kalo udah ujan, bisa sampe malem nggak berhenti.

  4. Hunting foto. Berhubung sedang musim hujan, jadi nggak bisa kemana-mana. Foto-foto kemarin yang aku anggap lumayan bagus juga cuma sedikit :(. Tapi nggak apa-apa lah. Lagipula objek yang aku cari juga cuma serangga, yang harusnya ada dimana-mana tapi susah nge-capturenya.

  5. Beruntung ketika cuti, sedang ada masalah di kantor. Walaupun ditelepon dari sana-sini, tinggal bilang: "Saya sedang cuti", beres deh masalahnya. Jadi berasa banget ngambil cutinya. Beda kalo cuti akhir tahun atau pas lagi lebaran, yang biasanya nggak ada masalah. Emang cuti itu harusnya diambil pas lagi banyak kerjaan, baru kerasa.

Namun ada juga beberapa hal yang kurang menyenangkan dan aku sesali dari liburan kemarin. Beberapa diantaranya adalah:
  1. Liburan terpotong sehari, gara-gara mesen tiketnya nggak bener :(( (Walaupun sehari, tetapi berharga banget)

  2. Di kampung tempat kelahiranku, lagi musim hujan. Keputusan yang salah ngambil cuti pas lagi musim hujan. Jadi nggak bisa kemana-mana, kebanyakan cuma tinggal di rumah aja. Untuk udah menyiapkan plan B: bawa buku bacaan.

  3. Begitu masuk kantor, langsung diuber-uber kerjaan, mana di perusahaanku sedang dilakukan reorganisasi. Membuat pekerjaan menjadi agak-agak nggak jelas. Selain itu, walaupun sebenarnya pekerjaan yang ke-pending gara-gara cuti bisa dibilang nggak ada, tetep aja pekerjaanku di hari pertama setelah cuti berasa banget, belum lagi udah ditungguin oleh orang audit yang kayaknya nggak bosan untuk mengganggu. Jadi menyesal kenapa cutinya nggak sampai hari Jumat aja sekalian
Fiuhh.. paling nggak masih lebih banyak sisi positifnya daripada sisi negatifnya.

Monday, January 26, 2009

Sebuah Pilihan

Manusia memiliki impian dan keinginannya sendiri. Terkadang impian tersebut adakalanya mudah diraih dan adakalanya pula sulit diraih dan memerlukan perjuangan yang cukup berat. Permasalahannya disini adalah apakah kita cukup berani untuk bermimpi pada hal-hal yang tidak pasti, dimana faktor-faktor penentunya banyak ditentukan oleh lingkungan luar, diluar diri kita sendiri.

Impian dan keinginan memberikan motivasi yang cukup kuat kepada manusia untuk berusaha menggapai sesuatu yang lebih baik. Memiliki mimpi tentu lebih baik daripada tak memilikinya sama sekali. Tak memiliki mimpi berarti tak ada keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.

Sesuai dengan topik permasalahan yang telah aku sebutkan sebelumnya. Seberapa jauh manusia berani bermimpi, jika penentu pencapaian mimpinya itu tidak hanya ditentukan oleh diri sendiri, tapi oleh pihak lain. Jika tingkat kepastiannya rendah, masihkah berani bermimpi? Seperti misalnya masalah karir dan kenaikan posisi yang sering kali diincar, tapi apa daya keputusan tersebut ada di manajemen perusahaan. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana menyikapi masalah ini. Terus menerus bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti menurutku sangat menguras energi dan pikiran. Ujung-ujungnya yang muncul adalah pikiran dan perasaan negatif seperti rasa kecewa dan rasa tidak puas. Istilahnya stress sendiri lah.

Inilah yang aku alami sekarang, dihadapkan diantara dua pilihan. Terus berharap dan mengejar mimpiku atau berusaha untuk melupakannya - at least menerima kondisi serta kenyataan yang ada. Salah satu impianku terancam tak tercapai, karena tingkat kepastian yang rendah dan banyak faktor luar yang mempengaruhi.

Walaupun kemungkinan tercapainya mimpiku kecil, tapi kurasa aku akan tetap berusaha mengejarnya. It's worth every penny and I deserve it. Layak untuk aku perjuangkan hingga titik darah penghabisan, mengingat aku sudah berada di tengah-tengah dan terlalu sayang untuk aku buang dengan percuma. Hanya saja, tampaknya aku harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai konsekuensi dari pilihanku ini. Well, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru seharusnya bisa memotivasi manusia untuk terus memperbaiki dirinya yang pada akhirnya menjadi awal untuk menuju keberhasilan.

Sunday, January 25, 2009

Telkomsel & iPhone 3G

Beberapa hari ini beberapa temanku menanyakan beberapa harga iPhone 3G kepadaku. Rupanya cepat sekali kabar kerjasama antar Telkomsel dan Apple itu menyebar. Well.. jujur aja aku juga nggak tahu berapa harga pastinya. Sejauh yang aku tahu, semua ini masih dalam tahap kerjasama aja sesuai dengan informasi yang dipajang di website resminya yang beralamat di http://www.telkomsel.com/web/corporate_news?cnid=NDkx :

TELKOMSEL bekerjasama dengan Apple menghadirkan iPhone 3G di dalam waktu dekat

Telkomsel today announced it has signed an agreement with Apple to bring iPhone 3G to in the coming months

Nah, buat orang-orang yang tertarik, dan ingin melakukan pemesanan, bisa masuk ke alamat berikut : http://www.telkomsel.com/iphone, dan silakan menunggu dengan sabar kabar berikutnya :P

Ngarep dapat potongan harga nih ^_^

Betapa Pelupanya Aku

Kisah ini dimulai dari rencanaku untuk pulang kampung minggu ini. Berangkat hari Jumat 23 Januari dari Jakarta dan pulang ke Jakarta hari Kamis 29 Januari. Tiket kereta PP sudah aku pesan sejak tahun lalu, sebelum libur tahun baru tiba.

Pada hari kamis kemarin, aku membuka kembali amplop yang berisi tiket kereta tersebut. Memastikan tanggal dan keberangkatan dan kepulanganku. Setelah melihat dengan setengah tak percaya, ternyata jadwal keberangkatan yang tertera di tiket adalah tanggal 24, bukan tanggal 23 seperti yang telah lama ini aku kira.

Aaaargh... #@?!&% Kaget dan kecewa aja nih. Duh, harusnya jatahku pulang kampung adalah 5 hari, sekarang malah berkurang jadi 4 hari. Entah salahnya dimana. Rasa-rasanya ketika itu aku pesen berangkatnya tanggal 23. Tapi udah jelas-jelas di invoice nya tertera tanggal 24. Bahkan aku nggak inget waktu itu apakah aku pesen tanggal 23 atau 24. Parah bener yak..

Aku masih bersyukur pada hari kamis itu aku memastikan kembali tanggal keberangkatannya. Tak terbayangkan jika fakta ini baru aku ketahui setelah berada di Gambir, terlebih lagi pas sudah masuk ke keretanya. Bisa-bisa jadi bahan tertawaan ama orang-orang nih.

Saturday, January 24, 2009

Menulis & Menulis

Sejak pertama kali memiliki blog yang aku mulai sekitar 1,5 tahun yang lalu, aku mulai meninggalkan kebiasaan lamaku ketika itu, yaitu menulis di buku harian. Ketika itu aku masih memiliki banyak waktu senggang untuk sekedar menulis keadaanku, emosiku, perasaanku, dan segudang informasi-informasi lainnya yang kebanyakan bersifat personal.

Setelah memiliki blog, tentu saja hal-hal yang seperti itu tidak akan pernah aku publikasikan. Walaupun baik blog maupun buku harianku sama-sama tersimpan secara digital di dunia maya sana. Blog aku batasi hanya untuk menulis hal-hal yang bersifat umum, dan aku mencoba untuk seobjektif mungkin dalam menulisnya. Sementara dalam buku harian, pilihan bahasa dan isinya lebih bebas dan tidak terikat aturan.

Beberapa hari yang lalu, salah seorang temanku 'memaksaku' untuk membuka kembali catatan-catatan lamaku yang masih tersimpan rapi. Menggelikan juga ketika aku baca paragraf demi paragraf yang menceritakan kegembiraan, kekesalan atau sekedar urusan sepele yang sebenernya nggak perlu dibahas. Hal ini memberikan motivasi untukku untuk memulai kembali kebiasaan lama yang telah aku tinggalkan tersebut. Mungkin apa yang aku kerjakan ini tampak seperti orang yang kurang kerjaan aja yang menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menulis sesuatu yang 'kurang penting'. Tapi kurasa, yang namanya hobi, layak untuk dikerjakan. Apalagi jika setelah beberapa lama, tulisan-tulisan itu dibaca ulang. Cukup menghibur dan membuat diriku bisa mentertawakan diriku sendiri :p.

Thursday, January 22, 2009

Dateng Siang, Pulang Sore, Tapi Kerjaan Beres

Beberapa hari terakhir ini rasa-rasanya males banget datang ke kantor pagi-pagi. Selain karena pagi-pagi biasanya kantor masih sepi banget, ditambah sekarang musim hujan, tambah males deh. Biasanya kantor mulai ramai jam 9 keatas. Kalaupun ada yang dateng pagi-pagi, paling belum ngurusin kerjaan: browsing, sarapan, ngopi, dan baca koran adalah kegiatan yang sudah lazim dilakukan sebelum jam 9.

Kondisi ini diperparah ketika makan siang. Dalam 3 hari terakhir ini ada ajakan untuk makan siang di luar, dimana kembali lagi ke kantor sekitar jam 2 s/d setengah 3. Yang lebih parah lagi adalah dalam 3 hari ini kerjaanku sedang menumpuk dan lumayan banyak. Entah kenapa aja, walaupun menumpuk, aku masih bisa merasa santai dengan waktu yang terbuang.

Setelah aku sakit tipes ketika awal tahun kemarin, aku selalu berusaha untuk pulang tepat waktu, jam 5 udah harus pulang untuk mengejar kereta ekspress yang berangkat dari Stasiun Sudirman jam 17:30, atau paling telat pulang jam 6 kurang. Dan herannya, dengan kondisi ini, justru waktu yang aku miliki benar-benar menjadi efektif walaupun aku merasa sedikit cemas dan panik karena mesti ngejar deadline kerjaan dan deadline jadwal kereta. Dalam 3 hari ini terbukti semua pekerjaanku bisa beres dan aku bisa pulang tepat waktu. Dengan catatan selama bekerja, nggak ada jeda untuk melakukan sesuatu diluar pekerjaan, seperti browsing, chatting, baca koran, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya: Untuk menyelesaikan pekerjaanku dalam sehari, waktu yang dibutuhkan sekitar 5 jam. Sementara jam kerja adalah 8 jam. 3 jam sisanya sebenernya nggak efisien. Karena biasanya ketika kerja 8 jam, banyak waktu yang terbuang juga untuk browsing, chatting, dan segelintir aktivitas-aktivitas lainnya diluar pekerjaan. Untung emang kultur departemenku fleksibel, yang penting kerjaan kelar.

Tuesday, January 20, 2009

Taman Menteng

Cerita ini dimulai dari beberapa bulan yang lalu. Karena penasaran dan seringkali lewat namun tanpa pernah menjejakkan kakiku di taman itu, akhirnya aku meniatkan diri untuk berjalan-jalan kesana. Sejak pertama kali aku kesana, aku merasa cukup betah. Taman Menteng tidak terlalu ramai namun tidak terlalu sepi juga. Ketika pagi hari, banyak orang yang berolahraga disana, atau orang-orang yang hanya datang untuk sekedar berjalan-jalan sepertiku hingga yang hobi fotografi. Ketika malam pun masih ramai juga, tapi dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang sedang berpacaran ria (ugh). Sepertinya taman ini benar-benar sepi ketika siang hari saja. Karena taman ini tak seperti Taman Suropati yang berada tak jauh dari situ yang pohonnya tinggi-tinggi dan rindang, Taman Menteng masih tergolong baru dan pepohonan yang ditanam disana pun tidak terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan ketika siang, pengunjung bisa terpapar sinar matahari langsung yang menyengat. Ada sih beberapa titik yang teduh, tapi hanya ada beberapa, kalopun ada beberapa yang kesana, mau nggak mau harus share tempat tersebut dengan pengunjung yang lain yang kebetulan lagi iseng dateng siang-siang.

Sesuai namanya, taman ini terletak di kawasan Menteng, salah satu kawasan elit di Jakarta. Biasanya sih aku kesini menggunakan P20 jurusan Lebak Bulus-Senen atau Busway Koridor 6 (Ragunan-Kuningan) turun di halte Latuharhari. Cuma kalo naik Busway, mesti jalan lagi sekitar 5-10 menit lah.

Saat ini, taman ini menjadi tempat favoritku ketika aku memiliki waktu senggang. Terakhir kemarin ada acara kumpul-kumpul bareng anak-anak FlashCom Community juga disana. Alasanku aku menyukai taman ini adalah: taman ini tidak terlalu ramai dan cukup tenang sehingga menurutku cocok untuk mengerjakan salah satu hobiku yaitu membaca buku. Terlebih lagi taman ini terletak di pusat kota. Rasa-rasanya seperti surga di tengah neraka kesibukan: tampak dari situ beberapa gedung tinggi di kawasan Thamrin.

Taman ini juga menyediakan hotspot gratis yang powered by Telkom Speedy. Cukup kenceng juga, karena memang yang menggunakan hotspot ini dikit banget. Dan so far, nggak pernah aku lihat ada orang yang sampe bawa-bawa laptop kesini. Sayang saja tidak disediakan meja dan sumber listrik gratis. Kalo iya, mungkin taman ini bisa rame sama yang nge-net (sekalian aja buka kafe). Namun demikian, jangkauan hotpot yang disediakan kurang memadai untuk meng-cover seluruh taman. Hotspot hanya tersedia di area kecil di tengah taman dalam radius sekitar 20-30 m.

Sayang, walaupun menjadi tempat favoritku, taman ini terkesan kering dan panas. Pohon-pohon yang ditanam disana kebanyakan tingginya tak lebih dari 5m, bahkan kebanyakan kurang dari itu. Menjadikan taman ini tak seramai Taman Suropati ketika siang hari.

Wednesday, January 14, 2009

Sekilas Three Cups of Tea: Inspiratif dan Menyentuh

Buku yang ditulis oleh Greg Mortenson dan Oliver Relin ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Greg Mortenson, seorang pendaki gunung yang pada awal cerita di buku tersebut sedang berusaha mendaki K2, gunung kedua tertinggi di dunia. Pendakian tersebut pada akhirnya gagal karena salah satu anggota tim rombongan pendaki mengalami musibah: paru-parunya dibanjiri cairan dan darah akibat tekanan dan tipisnya atmosfer di ketinggian, dan harus segera diselamatkan dengan membawanya turun ke tempat yang lebih rendah. Akhirnya Mortenson dan salah satu rekannya yang membawanya turun ke base camp yang lebih rendah. Proses penyelamatan ini akhirnya menguras energi Mortenson dan memaksanya turun gunung dan tidak bisa melanjutkan pendakian. Pada saat turun gunung, Mortenson tersesat, dan alih-alih menuju desa yang ia tuju, ia tiba di sebuah desa yang bernama Korphe yang tidak tertera di peta. Dalam kisah ini, Mortenson diselamatkan dan dirawat oleh pemimpin desa, Haji Ali hingga ia sembuh. Mortenson terenyuh dengan kebaikan Haji Ali dan keluarganya, dan untuk membalas kebaikannya, dia berjanji untuk membuat sekolah di Korphe.

Itulah awal kisah yang menjadi inti dari buku ini. Selanjutnya dalam buku tersebut diceritakan perjuangan Mortenson untuk mencari dana sebesar 12 ribu dolar untuk membangun sekolah di Korphe. Pada akhirnya dia mendapatkan dana tersebut dari Jean Hoerni, seseorang yang kaya raya yang ketika mudanya pernah menjadi pendaki gunung. Jean Hoerni akhirnya mendirikan CAI (Central Asia Institute) dan menunjuk Mortenson sebagai direkturnya. CAI memiliki misi untuk membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil di Pakistan dan Afghanistan yang tidak terjangkau oleh pemerintah. Kisah perjuangan Mortenson dalam membangun sekolah-sekolah yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan inilah yang mewarnai buku ini hingga halaman terakhirnya.

Judul buku Three Cups of Tea diambil pepatah Balti, dimana di dalam buku ini dikutip dari kata-kata Haji Ali:
"...(Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir yang pertama engkau masih orang asing; cangkir yang kedua, engkau teman; dan cangkir yang ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun - bahkan untuk mati."
Rasa-rasanya tak salah mengambil judul seperti itu. Buku ini menceritakan bagaimana tradisi minum teh untuk menjamu seorang tamu seolah menjadi seperti kewajiban. Dan tiap kali Mortenson melakukan suatu kunjungan, baik itu untuk urusan bisnis atau bukan, selalu saja acara minum teh tak pernah terlewat untuk diceritakan.

Buku ini menurutku sangat menarik walaupun ceritanya agak-agak monoton (karena memang bukan novel sih). Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana pembangunan sekolah-sekolah ini bisa menjadi alat untuk melawan terorisme. Pada salah satu plot di buku ini menceritakan kondisi Afganistan dan Pakistan ketika rezim Taliban berkuasa hingga pada akhirnya terjadilah kejadian 9/11, dimana pada saat itu Amerika menyerang Afghanistan dan menyisakan banyak sekali korban. Dari buku tersebut diceritakan bahwa kaum ekstrimis seperti Taliban merekrut prajuritnya melalui sekolah-sekolah yang sumber dananya diselundupkan dari negara-negara yang mendukung tindakan-tindakan terorisme ini. Melalui sekolah ini, anak-anak yang memang di daerahnya tidak memiliki sekolah lain akan terpaksa untuk bersekolah disana, yang kemudian akan didoktrinasi untuk menjadi teroris. Melalui sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini, diharapkan pengaruh dari sekolah-sekolah kaum ekstrimis ini berkurang. Bukan berarti sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini pro Amerika lho. Karena tujuannya semula CAI ini berusaha memerangi kemiskinan dan menyediakan sekolah bagi kaum perempuan yang notabene dilarang disana.

Terlepas dari apakah buku ini terlalu subjektif atau tidak, buku ini layak untuk dibaca. Perjuangan dan kerja keras Mortenson dalam kisah ini patut untuk ditiru. Sangat inspiring menurutku, bahwa hanya dengan satu orang saja, bisa membawa begitu banyak perubahan untuk penduduk di Pakistan dan Afghanistan. Dan satu hal lagi yang patut untuk direnungkan adalah isu pendidikan yang menjadi misi utama Mortenson. Akan seberapa besarkah dampak yang diakibatkan jika daerah-daerah terpencil di Indonesia diberikan sarana pendidikan yang memadai secara merata? Mungkin pengaruhnya tidak akan terasa secara langsung, tetapi dalam beberapa generasi, bisa terlihat dampaknya.

Wednesday, January 07, 2009

Sekilas The Orange Girl (Gadis Jeruk): Novel Penuh Makna

Buku yang aslinya berjudul Appelsinpiken ini dikarang oleh Jostein Gaarder, pengarang Sophie's World atau Dunia Sophie. Setelah diterjemahkan, bukunya berjudul The Orange Girl atau dalam bahasa Indonesianya menjadi Gadis Jeruk.

Buku ini bercerita tentang Georg Roed, seorang remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Oslo. Georg tinggal bersama ibu, ayah tirinya (Jorgen), dan adik perempuannya dari pernikahan ibu dengan ayah tirinya. Ayah kandung Georg telah meninggal 11 tahun sebelumnya, ketika dia berusia 4 tahun.

Alur cerita dari buku ini muncul ketika nenek Georg menemukan sebuah surat yang ditulis ayah Georg 11 tahun yang lalu beberapa saat sebelum meninggal. Surat tersebut ditujukan untuk Georg. Isi surat inilah yang kemudian dipaparkan dalam buku The Orange Girl dan menjadi inti cerita di dalamnya.

Halaman demi halaman di dalam buku ini menceritakan kisah-kisah pertemuan antara Jan Olav dengan Gadis Jeruk yang misterius yang selalu menghilang tiba-tiba. Diceritakan pula bagaimana di dalam buku ini Jan Olav mengutarakan kepolosannya dengan membuat hipotesis-hipotesis mengapa si Gadis Jeruk membawa jeruk begitu banyak, mengapa si Gadis Jeruk bisa tahu namanya dan dimana dia tinggal. Jostein Gaarder bisa dengan tepat menceritakan keadaan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang berhubungan dengan kekasih hatinya. Dari pertemuan-pertemuan dengan si Gadis Jeruk, aku jadi cukup paham, mengapa cover buku ini didominasi oleh warna oranye tua dan menampilkan seorang gadis yang mengenakan pakaian oranye yang berwarna-warni sambil membawa sekantong besar jeruk.

Setelah melewati 2/3 bagian dari buku, aku mulai menemukan bagian-bagian yang bisa dijadikan pelajaran dan direnungkan. Salah satunya adalah pertanyaan dari Jan Olav kepada si Gadis Jeruk. Jan Olav bertanya mengapa si Gadis Jeruk harus repot-repot membawa puluhan jeruk untuk dilukis. Mengapa tak hanya mengambil satu buah saja dan mengulagi gambar jeruk tadi di atas kanvas. Dan jawabannya sungguh sangat sederhana: Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang sama persis dengan yang lainnya. Bahkan dua batang rumput yang terlihat sama pun tak mungkin benar-benar sama. Dan begitu pula manusia, semuanya unik.

Ketika isi surat dari ayah kandung Georg selesai diceritakan dalam buku ini, inti dari The Orange Girl pun terkuak. Aku menyimpulkan bahwa inti dari buku ini adalah mengenai kehidupan, kematian, dan harapan. Bisa direnungkan bagaimana Georg bisa saja tidak pernah dilahirkan di dunia ini jika Jan Olav dan si Gadis Jeruk tidak pernah bertemu. Jika dipikirkan lebih lanjut, begitu pula dengan dunia yang sedang kita alami sekarang ini. Bisa jadi hal-hal sepele yang kita lakukan pada akhirnya bisa mengubah dunia ini atau sekedar menciptakan kehidupan baru di dalamnya.

Kembali ke topik sebelumnya, pertemuan antara Jan Olav dan Gadis Jeruk menumbuhkan harapan-harapan baru yang dalam bukunya dikisahkan begitu romantis dan dipenuhi antusiasme diantara keduanya. Bagaimana akhirnya mereka mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Georg itu sendiri sebelum akhirnya cerita menjadi berakhir pahit karena Jan Olav sakit dan meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Ya, Gaarder mencoba menjelaskan kematian, namun dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Suatu saat kita semua akan mati, dan Jan Olav menyampaikan pesan tersebut melalui surat yang ditulisnya untuk Georg. Kurasa ini adalah pesan moral terpenting dalam buku ini. Apapun jalan yang kita ambil, suatu saat kita akan mati dan meninggalkan semuanya. Pesan yang bisa diambil adalah: apakah yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita lahir dan ada di dunia ini dan suatu saat akan mati. Jawaban tiap orang tentu saja berbeda mengenai hal ini.

Bahkan di dalam buku ini, ada beberapa pertanyaan filosofi yang agak-agak sulit dijawab. Jika kita diberi kesempatan, apakah yang akan kita pilih: memilih hidup singkat di dunia yang kita tahu kita akan meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi kesana, atau mengatakan 'tidak, terima kasih', dalam artian kita tidak pernah mengalami hidup itu sendiri. Berat sekali untuk direnungkan dan memilih seandainya ada pilihan seperti itu. Dalam keyakinanku, hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita terlahir sebagai manusia juga sudah ada yang mengatur. Ini hanyalah masalah akan diapakan sisa hidup kita. Banyak harapan-harapan yang bisa dicapai sebelum kita mencapai apa yang disebut dengan kematian.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Terutama untuk orang-orang yang menyukai filsafat. Walaupun pada awalnya buku ini seperti novel biasa yang bertema pengejaran cinta, namun bacalah hingga ujung bukunya dan bisa disimpulkan buku macam apa yang ditulis oleh Gaarder. Buku ini adalah buku kedua karangannya yang aku baca setelah Dunia Sophie yang kubaca ketika aku SMP dulu. Udah rada-rada lupa, tapi paling nggak The Orange Girl lebih sederhana dan nggak ribet seperti Dunia Sophie. Rencana berikutnya adalah berburu buku-buku lain karangan Jostein Gaarder, semoga aja masih ada di Kinokuniya / Periplus. Seapes-apesnya paling mesen ke www.inibuku.com edisi terjemahannya.