Jumat, September 18, 2009

Apapun temuannya, back date solusinya

Topik yang satu ini memang nggak akan pernah habis dibahas. Karena memang ini adalah kontrol dan pekerjaan rutin yang mau nggak mau harus dikerjakan. Resikonya jika sampai nggak dikerjakan adalah adanya temuan yang artinya defisiensi dan artinya bonus berkurang karena audit ini merupakan salah satu komponen KPI.

Di tempat aku bekerja, kontrol untuk audit ini secara umum dibagi menjadi dua: kontrol transaksional, dan kontrol untuk IT. Kontrol secara transaksional menyangkut dokumen-dokumen yang terkait dengan pekerjaan harian, yang pada umumnya selalu ada dan selalu dibuat, jadi nggak mungkin lupa. Sementara kontrol yang satunya lagi ini yang nggak jelas: kontrol IT.

Dokumen yang mesti di-submit adalah dokumen-dokumen semacam kesepakatan antara departemenku dan departemen IT, yang dalam jangka waktu tertentu harus selalu diperbaharui *walaupun isinya ya bgitu-bgitu saja, yang jelas beda tanggal lah*. Nah dokumen-dokumen ini nih yang terkadang lupa dibuat, atau misalnya belum ada serah terima antara departemen terkait dengan departemenku, sehingga belum bisa dibuat tapi sudah ditagih oleh audit. Dokumen-dokumen ini so far yang aku tahu nggak pernah diperiksa isinya oleh audit: yang penting dokumennya ada. Karena itulah, dokumen-dokumen semacam ini sangat mudah dibuat walaupun dalam kondisi mendesak. Tinggal back date *membuat dokumen dengan tanggal jauh-jauh ke belakang* seolah dokumen tersebut dibuat pada periode audit yang ditentukan, sehingga tak menjadi temuan. Sangat konyol memang, tapi itulah yang terjadi. Dimana-mana seperti itu. Nggak di departemenku, nggak di IT, back date selalu menjadi sebuah solusi. Nah, kali memang kejadiannya sudah terlalu banyak, kira-kira salahnya dimana ya? Apakah memang orang-orangnya yang malas dan lupa membuat dokumen, atau memang membuat dokumen seperti ini dianggap membuang-buang waktu dan nggak jelas gunanya: toh nggak diperiksa juga isinya. Jadi, siapa yang salah???

Kamis, September 17, 2009

Lovely Bookmark

Kemarin, rekan kerjaku memberiku oleh-oleh dari Korea: sebuah pembatas buku berbentuk daun yang terbuat dari logam tipis. Lumayan, untuk menambah koleksi barang-barang 'antik' yang sudah aku miliki. Yang lebih mengharukan lagi temanku mengatakan dia tahu kalo aku suka baca buku, jadi dia memilih cindera mata itu untukku. Aku suka pembatas buku itu karena bentuknya seperti daun yang menampilkan serat-seratnya, sehingga terkesan natural. Semoga aja nggak rusak dan kelipet deh.

Minggu, September 13, 2009

SSH Tanpa Password

Tulisan ini mungkin sudah masuk kategori ketinggalan jaman banget, secara protokol SSH sudah digunakan dari jaman dulu kala. Namun tak ada salahnya juga sih, siapa tahu ada sebagian orang yang belum mengetahui tekniknya.

Secara konvensional jika seseorang melakukan login menggunakan protokol SSH ke suatu server, akan muncul prompt password. Prompt password ini mungkin akan dirasa cukup merepotkan jika orang tersebut adalah admin yang menangani mesin server yang lumayan banyak. Terlebih lagi jika password dari masing-masing username pada masing-masing mesin tersebut berbeda-beda dan susah untuk diingat.

Dengan menggunakan public/private key, maka memungkinkan untuk login menggunakan protokol SSH tanpa perlu memasukkan password. Agar lebih aman, private key yang dimiliki dapat diatur apakah memiliki passphrase atau tidak. Jika passphrase dikosongkan, maka tidak perlu memasukkan password lagi ketika melakukan login. Jika mekanisme ini diaplikasikan pada kasus diatas, maka admin tidak perlu lagi memasukkan password atau hanya perlu memasukkan passphrase yang sama ketika login ke semua mesin server yang ditangani oleh admin tersebut.

Berikut ini adalah langkah-langkahnya:
  1. Login ke client yang akan digunakan untuk login ke mesin server

  2. Membuat pasangan public/private key yang akan digenerate secara random menggunakan perintah ssh-keygen -t dsa atau ssh-keygen -t rsa tergantung tipe key yang akan digenerate apakah menggunakan protokol RSA atau DSA. Dari info yang aku peroleh, protokol DSA lebih aman.
  3. Output dari perintah diatas jika menggunakan perintah ssh-keygen -t dsa akan kira-kira akan seperti berikut:
    $ ssh-keygen -t dsa
    Generating public/private dsa key pair.
    Enter file in which to save the key (/home/test/.ssh/id_dsa):
    Created directory '/home/test/.ssh'.
    Enter passphrase (empty for no passphrase):
    Enter same passphrase again:
    Your identification has been saved in /home/test/.ssh/id_dsa.
    Your public key has been saved in /home/test/.ssh/id_dsa.pub.
    The key fingerprint is:
    78:2d:16:3a:72:48:ea:c9:49:2b:2e:86:99:27:b6:b9 test@anwyn
    The key's randomart image is:
    +--[ DSA 1024]----+
    | |
    | |
    | . . |
    | o . o o |
    | o o = S . |
    | + + o + . |
    |oo* |
    |B+o |
    |+Eo |
    +-----------------+


    Masukkan nama file untuk menyimpan private key atau kosongkan untuk menyimpannya ke dalam file default (biasanya di $HOME/.ssh/id_dsa). Kosongkan passphrase yang diminta agar tidak muncul prompt ketika sudah digunakan nantinya.

    Public key secara default akan disimpan dengan nama id_dsa.pub dan disimpan di folder .ssh pada home directory.

  4. Login ke server tujuan dan salin isi public key yang telah digenerate sebelumnya ke dalam file authorized_keys yang ada di folder .ssh pada home directory. Untuk lebih mudahnya dapat dilakukan perintah berikut untuk memudahkan proses penyalinan:
ssh-copy-id -i [letak public key] username@targetserver
Pada proses diatas akan muncul prompt password untuk user username pada mesin targetserver. Masukkan password yang sesuai dan selanjutnya akan muncul keterangan bahwa public key telah ditambahkan kedalam target server.

Sekarang setiap kali login ke mesin server tujuan dengan username yang telah ditentukan, tidak akan muncul prompt password. Login menggunakan protokol SSH tanpa password sudah bisa dilakukan.

Notes tambahan:
- Masing-masing user dapat membuat pasangan public/private keynya sendiri, dan satu private key hanya digunakan oleh satu user. Sementara public key dapat ditambahkan ke user-user lain pada mesin-mesin yang lain. Cara diatas hanya berlaku untuk user tententu pada mesin server tujuan. Untuk memungkinkan akses SSH tanpa password ke user lain di mesin yang sama atau di mesin yang lain, dapat menggunakan perintah ssh-copy-id.

Selasa, Juli 21, 2009

Catatan Perjalanan Ke Pulau Pramuka

Perjalanan kali ini bermula ketika pada hari Selasa lalu, aku bersama seorang temanku, Lella, mengunjungi kantor Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada di Salemba. Di sana kami mencari berbagai informasi yang kami butuhkan untuk rencana liburan ke Pulau Seribu. Tadinya kami berencana untuk pergi kesana pada rentang tanggal 18-20 Juli dimana pada hari itu long weekend. Namun berhubung mess yang dikelola oleh Taman Nasionalnya sudah penuh, kami membatalkan rencana tersebut. Namun, setelah datang langsung ke kantornya, kami mendapat informasi mengenai tempat-tempat penginapan yang dikelola oleh penduduk setempat.

Kupikir, pada hari itu, kami cuma mencari informasi saja, tak tahunya Lella malam itu langsung menghubungi salah satu contact person yang mengelola penginapan di Pulau Pramuka, dan ternyata masih ada kamar kosong untuk tanggal 19 & 20 nya. Berhubung mau rame-rame, jadi aku menghubungi Hendy dan Enno malam itu dan mengajak mereka untuk ikut serta. Irpan aku hubungi keesokan harinya. Namun sayang sekali Hendy nggak bisa karena dia sudah ada acara lain. Enno akhirnya memutuskan untuk nggak ikut karena Hendy nggak ikut. Irpan nggak tahu nih kemana rimbanya. Akhirnya ditetapkan yang akan berangkat kesana 5 orang: aku, Lella, dan 3 orang temannya (Sari, Nia, dan Nina) yang semuanya perempuan. Argh.. Tadinya aku udah agak-agak ragu mau ikutan secara aku cowok sendirian, tapi berhubung udah memastikan mau ikut, kayaknya nggak banget deh kalo sampe membatalkan.

Berhubung harus berangkat pagi-pagi sekali, aku memutuskan untuk menginap di kantor Sabtu malamnya. Sekalian aja menginap karena Sabtu sore aku ada acara dengan teman-teman kuliahku dulu. Keesokan harinya, selepas sholat subuh, aku langsung menuju Salemba, tempat dimana kami semua akan berkumpul. Janjinya sih jam 5:30, ternyata ngaret sampe 30 menit lebih. Duh, udah panik aja bakalan ketinggalan perahu. Akhirnya kami berempat: aku, Lella, dan 2 orang temannya naik taksi dari Salemba langsung menuju Muara Angke. Temannya dia yang satunya lagi, Sari, berangkat secara terpisah karena rumahnya sendiri ada di Kelapa Gading. Karena telat, perahu yang berangkat jam 7 pagi dari Muara Angke telah penuh. Hix, mana itu perahu terakhir lagi. Beruntung saat itu lagi musim liburan dimana banyak juga yang telat seperti kami. Setelah ditotal dan ada minimal 50 orang, kami bisa berangkat ke Pulau Pramuka menggunakan perahu yang pada saat itu berangkat dari Pulau Pramuka menuju Muara Angke. Apesnya sih, perahunya baru datang jam 10, jadi lumayan bete juga tuh menunggu di Muara Karang kurang lebih 3 jam, mana disana pelabuhannya kotor banget + baunya juga nggak enak.

Perahunya sendiri baru berangkat jam 11 siang. Sementara perjalanannya membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam *kalo nggak salah*. Sepanjang perjalanan aku tidur. Nggak peduli panas matahari begitu menyengat, karena aku memang benar-benar butuh tidur. Walaupun beralaskan tas kameraku, aku bisa tidur cukup nyenyak walaupun agak-agak kurang nyaman.

Kami sampai di Pulau Pramuka sekitar jam 1:30. Kami dijemput oleh pemilik penginapannya di dermaga. Dan langsung menuju penginapan. Rumah tempat kami menginap berisi 3 kamar, 2 kamar memiliki AC dan 1 kamar lagi hanya dilengkapi dengan kipas. Tebak saja siapa yang menempati kamar terakhir? :P Lumayan murah juga sih, 3 kamar sebenarnya kalo mau dimaksimalkan bisa lah muat sampai 10 s/d 12 orang. Tapi sayang aja kamar mandinya cuma 1, bisa mengantri tuh.

Ternyata pulaunya tak terlalu besar. Percuma juga sih punya sepeda motor atau mobil. Karena jaraknya tak terlalu jauh dari ujung pulau ke ujung yang lain. Setelah beristirahat sejenak, kami makan siang di salah satu warung yang ada di pulau. Maklum, sudah kelaparan karena sebelumnya hanya sarapan dengan bubur :(. Kebetulan sekali pemilik penginapannya juga menyewakan sepeda dengan tarif 10 rib per jam. Dan entah gimana ceritanya, pemilik penginapan tersebut mengijinkan kami membayar tarif 1 jam untuk pemakaian hingga sore hari. Jadilah setelah makan siang kami berjalan-jalan di sekitar pulau menggunakan sepeda. Setelah menemukan spot yang lumayan bagus, foto-foto deh. Sore itu kami tak berniat kemana-mana, karena sudah nanggung, jadi cuma muter-muter aja dan berfoto-foto ria. Reseh juga sih bareng ama cewek-cewek, berasa nggak bebas. Seandainya Hendy dan Irpan ikutan, pasti sejak datang langsung memisahkan diri dan tentu saja hunting.

Sayang banget aku tak sempat mengabadikan sunsetnya. Padahal indah sekali, namun mataharinya tenggelam begitu cepat. Dan aku terlalu lama untuk men set up peralatan kameraku, terutama tripod. Namun demikian, aku masih bisa menikmati sunset yang begitu indah. Sayang sekali cakrawala tak secerah yang aku harapkan. Ada awan disana. Jadi yang bisa aku foto adalah suasana langit pasca sunset. Dimana langit berubah menjadi semburat merah.

Setelah sunset, aku dan Lella memesan ikan untuk dibakar, namun karena memang ini pengalaman pertama kami ke Pulau Pramuka, jadi nggak tahu kalo udah kesorean ikannya kebanyakan sudah habis. Ikan kembung, baronang, dan entah apalah itu sudah habis. Kata si penjualnya, harusnya sih pesannya jam 4 sore tadi. Tapi nggak apa-apalah, yang penting bisa makan enak dan tentu saja sudah dimasak/dibakar, biar nggak repot. Kami akhirnya pulang ke penginapan untuk mandi dan beres-beres. Parahnya pompa airnya nggak jalan, jadilah mesti menimba air di sumur. Konyolnya siapa lagi kalo bukan aku yang kebagian pekerjaan ini. Ampun deh, mana cewek-cewek itu mandinya lama-lama lagi. Baru bener-bener beres dari segala urusan ini jam 8 lewat. Gilee..

Untungnya sih pengalaman makan malamnya begitu menyenangkan. Kami makan malam dengan ikan bakar *ga tahu lah ikan apaan*. Nggak tahu berapa ekor yang dibakar untuk kami berlima, yang jelas sih ada 2 kilo + nasi yang harusnya cukup untuk 4 porsi (3 orang temennya Lella udah ngasih statement kalo mereka nggak makan nasi). Tadinya sih kami berpikir 2 kilo terlalu banyak, tetapi kenyataannya habis semua disikat, mana nasinya juga abis. Karena aku juga kelaparan, jadi aku makan 3 porsi :P. Mengerikan semua deh. Salah satu temennya yang tadinya nggak mau makan nasi, eh akhirnya malah makan nasi juga. Nggak konsisten nih. Menyenangkan sekali bisa makan malam tepat di pinggir laut dan dibawah kilauan bintang-bintang di langit. Ah, jadi ingat perjalananku ke Ujung Genteng dan Lombok, dimana saat itu begitu jelas sekali bintang-bintangnya. Terlebih lagi ketika hampir selesai makan, tiba-tiba ada yang menyalakan kembang api. Bweuh.. Banyak banget. Tadinya sih kupikir cuma petasan biasa, tahunya beneran kembang api. Ah.. Benar-benar puas deh. Nggak rugi nih makan malam ber-5 dengan hanya mengeluarkan uang 40 rb, di pinggir laut, dibawah hamparan bintang dan ditutup dengan kembang api. Mantabss.. Malam itu pun berakhir, kami segera ke penginapan, dan segera beristirahat untuk rencana keesokan harinya.

Hari minggu pagi, selesai sholat subuh, kami ke bagian belakang pulau, untuk melihat sun rise. Konyol juga, baru berangkat jam 6 pagi. Tetapi ternyata nggak terlalu terlambat. Mataharinya baru mulai terlihat sekitar pukul 6:15. Sayang aja sih pantainya nggak terlalu bagus. Saat itu sedang surut, jadi pantainya dipenuhi oleh pohon bakau yang masih kecil-kecil. Mataharinya ketika terbit terlihat begitu besar, rugi kalo ngambil pake lensa tele. Bisa-bisa cuma kena mataharinya aja. Aku switch ke lensa wide ku, dan segera mengambil spot yang bagus. Awan-awan yang menghiasi langit pagi itu terlihat indah. Dan beruntung aku bisa mengabadikannya. Sayang aja nih, filter yang aku gunakan ada 2: UV + CPL. Karena malas melepas filter UV nya, jadi filter CPL nya langsung aku pasang, efeknya adalah vignetting pada fokus 11 dan 12 mm. Kayaknya sebagian foto-fotonya mesti diedit dan di crop lagi nih :(


Acara berikutnya adalah snorkeling. Untuk menyewa perlengkapannya, 50 rb lah perorang. Plus biaya sewa perahu 300 rb. Duh sayang banget itu, padahal dengan 300 ribu itu bisa seharian, padahal kami memakainya nggak sampai setengah hari. Soalnya mesti ngejar perahu pulang yang jam 1 siang untuk menuju Muara Karang. Lumayan puas juga selama snorkeling. Sayang walaupun indah, ikannya nggak terlalu banyak, dan pemandangannya tak seindah di Lombok, dimana waktu itu bisa melihat penyu berenang di dasar laut :(. Aku tak berlama-lama, karena baru 1 jam sudah kedinginan. Padahal air lautnya saat itu terhitung lumayan hangat. Daripada sakit, aku memilih untuk kembali ke perahu dan berjemur deh.

Sehabis snorkeling, kami langsung menuju tempat makan, semacam restoran di pinggir laut yang harganya ternyata lumayan mahal juga *jika dibandingkan dengan makan malam sebelumnya*. Namun demikian, yang penting kenyang dan perut terisi. Maklum sarapan di pagi itu hanya dengan pop mie, itu juga nggak seporsi penuh.

Setelah beres-beres, dan sholat, kami segera menuju dermaga untuk naik perahu ke Muara Karang. Lagi-lagi kami terlambat *karena sudah penuh* :(. Untungnya sih memang ada perahu berikutnya yang lansgung terisi penuh. Kali ini aku nggak bisa tidur selonjoran dengan bebas karena memang hueks.. boro-boro tidur, duduk aja udah nggak nyaman. Tapi tak apalah, pengalaman ke Pulau Pramuka kali ini walaupun untuk pertama kalinya, cukup berkesan, terutama makan malamnya yang menurutku nggak bakalan aku dapatkan di kota seperti Jakarta.

Tips dan pelajaran Moral:
- Untuk berangkat dan pulang, jangan sampai telat deh. Memang jadwal keberangkatan perahu dari Muara Karang jam 7 pagi, tapi itu juga kalo masih dapat tempat. Kurasa datang 1 jam sebelumnya adalah wajib, kalo mau dapet tempat PW. Naik perahunya kalo bisa jangan di bawah: kata orang yang udah pengalaman, bisa bikin mabok laut, dan efeknya bisa sangat parah jika dibandingkan dengan naik diatas.

Kalo udah ketinggalan perahu, mending pulang deh, kecuali kalo memang lagi rame dan at least ada minimal 50 orang yang akan berangkat, baru deh kemungkinan ada perahu tambahan.

- Nggak ada ATM di Pulau Pramuka, jadi lebih baik bawa duit cash yang lumayan banyak ajah.

- Di Pulau Pramuka, listrik dimatikan antara jam 7 pagi s/d 4 sore. Jadi jam sgitu mending nggak berada di penginapan.

- Kalo mau pesen ikan bakar sebaiknya sore hari. Jangan mepet-mepet maghrib deh. Ikan-ikannya dah abis deh kalo telat *secara pengalaman kemaren juga bgitu*, yang ada tinggal sisa doang.

- Menyewa sepeda di pulau adalah pilihan yang lumayan menarik. Daripada jalan kaki loh.

- Biaya sewa perahu rata-rata disana 300 rb untuk seharian. Jadi kalo bisa dimaksimalkan tuh. Harusnya sih berangkat ke sana pagi-pagi, jadi bisa bebas jalan-jalan di hari itu. Dan keesokan harinya udah tinggal pulang aja.

Kamis, Juli 09, 2009

Statistik Incoming SMS

Kemaren malem, aku iseng-iseng menghitung statistik semua SMS yang ada di Inbox HP. Dengan mengambil sampel dari tanggal 27 Juni sampai dengan 8 Juli, didapat total SMS yang masuk adalah 488 SMS atau rata-rata sekitar 40 sms per hari yang aku terima. Dari data tersebut, jika aku kelompokkan berdasarkan kategori-kategori Kerjaan (Atasan, IT / Network, Partnet (CP), Rekan Kerja) dan Pribadi (Teman, Keluarga) didapat hasil seperti dibawah ini:
Urusan teman dan Keluarga memakan hampir 80 % SMS yang masuk pada rentang 12 hari tersebut. Jika ditotal keduanya mencapai 386 SMS. Tentu saja persentase paling besar datang dari teman-temanku sendiri. Urusan kantor dan urusan keluarga memiliki prioritas yang lebih tinggi terutama ketika jam kantor. Kebanyakan komunikasi dilakukan melalui email atau telepon, dan SMS biasanya memang jarang digunakan kecuali untuk sekedar pemberitahuan atau ketika aku tak bisa dihubungi melalui panggilan telepon.

Kedua kategori tersebut (Pribadi dan Kerjaan) jika dilihat secara day-to-day, akan nampak dalam grafik seperti dibawah ini:

Tidak ada satu hari pun dimana SMS untuk urusan kerjaan melebihi urusan pribadi. Bisa dilihat, angka terbesar adalah 60 SMS dari temanku pada tanggal 4 Juli lalu. Kayaknya terbesar sepanjang sejarah nih :P

Kesimpulannya:
Walaupun saat ini sudah banyak jalur komunikasi lain yang lebih cepat, murah, dan praktis seperti chatting, namun SMS masih tetap OK lah. Kerugian SMS kan cuma bayar lebih mahal, pesan yang dikirimkan terbatas, dan kurang 'real-time'. Tetapi kelebihannya adalah: tidak terlalu menginterupsi pekerjaan (bandingkan dengan chatting dan menelepon), tidak tergantung koneksi internet, dan mengirimkan pesan langsung pada tujuan - kecuali HP si penerimanya lagi nggak aktif.

Selasa, Juni 30, 2009

The Loser Stands Alone

Aku telah kalah 
Dan kini aku sendiri 
Berdiri ditengah kesunyian
Menatap keramaian nun jauh disana

Aku tinggalkan bayanganku
Di tempat aku berdiri
Selamat tinggal masa lalu
Ku akan kembali melangkah

Semuanya telah berlalu
Dan biarkanlah ini berlalu dengan indah
Akan kuingat jejak langkahku
Tercipta dalam ingatanku selamanya

Kamis, Juni 18, 2009

Karena Wanita Membutuhkan Rasa Aman

Dalam tulisanku kali ini, aku mencoba untuk menguraikan pendapat-pendapat serta opini-opiniku seputar potongan kehidupan setelah menikah. Info yang aku dapat tentunya aku dapatkan dari orang-orang sekitarku baik itu teman kerja maupun keluarga sendiri. Namun semuanya dari pihak laki-laki (jadi bisa disimpulkan tulisan ini sangat sangat subyektif). Sayang aja nih nggak dapet infonya dari pihak wanitanya, maklum untuk urusan beginian siapa juga yang mau cerita :P. 

Masa-masa lajang adalah masa-masa penuh kebebasan. Belum ada beban dan tanggungan, gaji juga masih utuh, pos-pos pengeluaran belum terlalu banyak *kecuali orangnya boros*. Sementara itu setelah menikah, pengeluaran menjadi lebih banyak, ada tanggungan istri dan anak, sehingga semua yang menyangkut masalah keuangan harus didiskusikan dulu, walaupun itu untuk kepentingan keluarga sekalipun. Itulah kata mereka, laki-laki yang telah menikah, yang ceramahnya seringkali kudengar.

Ungkapan dan sindiran seperti "Wah, itu mesti di acc sama menteri keuangan dulu" sudah menjadi jamak di lingkungan kantorku, terutama dari suami-suami yang istrinya memang tinggal di rumah dan tidak bekerja. Bahkan walaupun sang istri sudah bekerja sekalipun, tetap saja pengeluaran si suami mesti di-acc dulu. Tak heran, untuk membeli barang yang katakanlah nggak terlalu mahal dan nggak aneh-aneh pula *dalam artian masih sangat terjangkau sekalipun* tapi bukan termasuk kebutuhan primer, perlu persetujuan istri dulu *pernyataan yang ini sih aku dengar dari teman perempuanku sendiri yang telah menikah*.

Berhubung aku sendiri belum menikah dan belum mengalami masalah-masalah seperti itu, muncullah berbagai pertanyaan yang tak bisa aku pahami. Jika aku membuat sebuah daftar pertanyaan mengenai masalah ini, kira-kira hasilnya akan seperti ini:
- Apakah kekuasaan istri itu sedemikian tingginya sehingga dia adalah orang yang berhak untuk meng-acc segala pengeluaran? Pertanyaan ini berlanjut dengan: Lantas apakah kuasa suami sang pencari nafkah sangat kecil pada uang yang diperolehnya? Aneh memang. Apakah semua ini terjadi karena suami tidak bisa dipercaya untuk memegang uang atau karena kebanyakan suami adalah tipe-tipe pemboros yang selalu mementingkan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kepentingan keluarganya? Ataukah suami biasanya cenderung malas untuk memegang uang dan menyerahkan sepenuhnya pengelolaan keuangan kepada istri? 

- Bagaimana status uang yang diperoleh oleh suami? Apakah sepenuhnya milik istrinya? Secara istri yang meng-acc semua pengeluaran. Seringkali aku mendengar istilah seperti ini: "Uang suami adalah uang istri, uang istri adalah uang istri." Terdengar tak adil. Memang. Ada yang salah. Dalam pemahaman agamaku, uang suami adalah uang suami, uang istri adalah uang istri, tetapi suami wajib menafkahi istri dan keluarganya. Disini berarti suami seharusnya bisa mengontrol secara penuh masalah keuangannya. Istri seharusnya menerima lah, selama dalam batas yang wajar, sesuai yang aku pelajari dalam hadis-hadis hshahih. Dalam Islam kan nggak dikenal harta gono-gini. Harta milik suami ya nggak bisa di-klaim oleh istrinya. Tapi kenapa yang terjadi seolah harta suami ya harta istri juga.

 - Sebenarnya suami itu terpaksa atau sukarela yah dengan keadaan yang seperti ini? Habisnya seringkali mereka berkata seperti ini: "Kamu enak tuh masih lajang, beli aja barang-barang yang kamu suka selagi masih bebas. Nanti kalo sudah nikah susah lho, mesti ada yang meng-acc dulu". Kalo mendengar pernyataan diatas, sepertinya mereka terpaksa melakukan itu semua, dan seolah-olah iri dengan status kelajangan teman-teman mereka sendiri.

Walaupun cuma tiga poin, tapi pertanyaannya membuat pening.

Selain itu, sedikit menyimpang dari topik utama, saat ini jarang sekali wanita *yang belum menikah* yang aku temui yang benar-benar ingin menjadi ibu rumah tangga, dalam arti dia tidak bekerja dan mengejar karir. Kebanyakan dari mereka menginginkan tetap bekerja setelah menikah. Ada selusin alasan mengapa mereka menginginkan tetap bekerja: ingin mengejar karir dan maju, ingin mandiri, ingin tidak tergantung pada suaminya just in case terjadi apa-apa pada suaminya, dan alasan-alasan lain. Alasan-alasan yang berhubungan dengan anak ataupun apapun seolah tak pernah terbahas. Dari sini aku melihat adanya kekurangpercayaan istri pada suaminya. Agak-agak aneh aja, perempuan diciptakan sebagai pelengkap untuk laki-laki dan begitu pula sebaliknya. Ini kok malah ingin mandiri, padahal manusia sendiri adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Terdengar agak-agak aneh.

Dari sini aku mencoba menarik sebuah pertanyaan lain. Dari semua kasus, bisa aku simpulkan bahwa wanita cenderung takut dan cemas akan hal-hal yang menurutku belum tentu terjadi seperti: suami meninggal duluan, suami selingkuh, suami bersenang-senang sendiri dengan uang yang dia peroleh, uang yang dimiliki tak cukup, dan segenap pikiran-pikiran yang lebih mengarah kepada prasangka yang nggak-nggak. Dan untuk mengurangi resiko terjadinya hal-hal diatas, mereka cenderung untuk menginginkan bekerja secara mandiri dan atau menuntut hak pengelolaan atas pemasukan yang diperoleh oleh suami. Benarkah demikian? I don't know lah. Aku bukan wanita, dan terlebih lagi belum menikah pula.

Yang menarik lagi ada salah satu kerabatku *laki-laki tentunya* yang sudah menikah dan bercerita padaku bahwa semua harta benda yang dia miliki atas nama istrinya. Agak-agak kaget juga mendengarnya. Pertanyaan selanjutnya: Apakah ini merupakan cara yang bijak dan tidak berlebihan? Ataukah memang kerabatku sangat sangat murah hati dan sangat mencintai istrinya atau memang karakter istri cenderung lebih 'menguasai'? Cerita selanjutnya dari kerabatku ini yang menurutku bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya adalah: "Karena wanita membutuhkan rasa aman". 

Jawaban yang sangat masuk akal dan bisa menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan yang ada. Hmm.. anggap saja ini adalah jawaban yang benar dan menjadi kesimpulan dari semua hal diatas. Maka itu berarti wanita bukan bermaksud untuk menguasai, tetapi lebih didorong oleh kebutuhan akan rasa aman. Dari sisi suami, bukan berarti suami kurang berkuasa atau terlalu mudah diatur oleh istrinya, tetapi mungkin sebagai wujud kasih sayang dan kepercayaan yang diberikan kepada istri sehingga bisa memberikan rasa aman. Nah, nyambung kan dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya? Jadi, suami mengalah dan mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kepentingan istrinya: yang kesimpulannya menurutku adalah adalah suami yang seperti ini tentu sangat menyayangi istrinya. Asal jangan sampai disalahgunakan aja tuh kepercayaan yang didapat. Terkait dengan wanita yang ingin tetap bekerja, tentu berhubungan dengan jawaban diatas. Bekerja agar mereka merasa aman dari sisi finansial. 

Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah kondisi ini memang sudah ideal? Apakah suami tidak terlalu memanjakan istrinya jika seperti ini? Apakah memang tidak ada jalan lain untuk mengelola keuangan secara lebih fair, mengingat suami juga memiliki hak atas pemasukan yang dia peroleh, selama menurutku hak untuk keluarga telah diberikan secara fair. Mungkin memang kecenderungannya seperti ini, dimana memang wanita itu adalah sebaik-baiknya perhiasan bagi kaum pria. Efeknya adalah: laki-laki sangat mudah sekali terpengaruh oleh wanita, dan bahkan bisa hancur hidupnya karena urusan ini *sudah banyak kasus seperti ini*. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa wanita adalah fitnah terbesar untuk kaum pria. 

Wanita memang membutuhkan rasa aman, that's why dalam urusan pernikahan wanita cenderung membutuhkan kepastian dan menikah sesegera mungkin, sementara dari sudut pandang laki-laki, cenderung berpikir lebih dulu karena pernikahan berarti komitmen, dan artinya banyak hal-hal yang tadinya bebas dilakukan menjadi tak bebas dilakukan. Benarkah demikian? Well.. kayaknya butuh masukan dan opini dari sudut pandang perempuan nih. Terutama yang sudah menikah.

Sabtu, Juni 13, 2009

Terapi Jantung

Pernahkan anda menghampiri sesuatu yang selama ini selalu anda hindari? Bisa berupa apa saja, termasuk didalamnya ketakutan terhadap sesuatu. Yeah, dalam beberapa hari kebelakang, aku akhirnya mencoba untuk melakukan sesuatu yang tak pernah aku lakukan selama ini, dan sangat-sangat aku hindari: menonton film horor, di bioskop pula lagi. Selama ini aku memang tak cukup memiliki nyali untuk menonton film-film horor. Dari cerita ibuku sih, sepertinya aku pernah ketakutan menonton film horor ketika aku masih kecil.

Bermula dari ajakan seorang teman untuk mengajak nonton di sebuah bioskop di kawasan kuningan. Berhubung belakangan ini sudah suntuk dengan pekerjaan di kantor, aku terima ajakan ini. Sebelumnya aku tak bermasalah untuk menonton film apa saja setelah melihat jadwal film yang sedang tampil tak ada yang aneh-aneh. Setelah diputuskan, aku baru ngeh ternyata genre film yang akan ditonton adalah film horor. @&$!
Kupikir tadinya ini merupakan ide yang bagus. Siapa tahu sebenarnya aku tak bermasalah, hanya pengalaman buruk masa kecil saja yang membuatku berusaha menghindari film tersebut. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Walaupun ketika menonton filmnya aku sedikit ketakutan, tapi setidaknya aku masih bisa tenang. Tapi entah kenapa setelah film selesai, pikiranku menjadi tidak fokus dan tidak nyaman. Detak jantung meningkat dengan cepat dan aku tak bisa merasa tenang. Bahkan sampai berkeringat setelahnya dalam waktu yang cukup lama. Gejala-gejala yang mirip seperti orang yang shock. Entah kapan terakhir aku merasakan sindrom seperti ini. Terakhir aku ingat setelah aku kecopetan di bus dulu.

Mengerikan sekali efeknya, bahkan aku sendiri tak mengerti mengapa bisa terjadi seperti ini. Lebih parah efeknya dari minum kopi yang pernah kuminum yang kafeinnya paling kuat sekalipun. Sepertinya ini adalah emosi akibat suatu kejadian baru yang sebelumnya tak pernah atau jarang aku rasakan. Entahlah rasanya setiap kali mengalami suatu kejadian yang mendebarkan aku selalu merasa tak tenang dan tak nyaman selama beberapa saat. Sepertinya kedepannya menonton film horor lebih sering adalah ide yang cukup bagus untuk menghilangkan rasa tak tenang itu.

Kamis, Juni 11, 2009

Can We Stop For A While?

It was a frantic day. Everyday is a frantic day. For this late month, everyone looks so busy with their own assignment. After my company made a great step to reorganize its structural organization especially on commerce directorate, everything was changed. Our leader challenges all of employees to make more profit by monetizing every opportunity regardless whether it is tangible or not.

For some reasons, I agree with statement above. We have to do our best to increase our revenue. As its impact, now everyone is busy: a lot of homeworks to be accomplished. For short period of time, it sounds good. But for longer period of time it triggers stress and other negative disorders.

Peoples sitting arround me now look so serious. A little mistake can trigger their negative emotion. They sometime express their displeasure or dissatisfaction of their own circumtance by complaining to themselves. I am quite sure that they don't realize that, but peoples around him would sense it. Moreover, they are more likely to speak dirty words. Even they looks usual and ordinary, but they can't hide their true expression.

The situation become worse and worse. Senior manager are challenged to make new innovative products to make more profit. They evaluate and break down the goals into smaller objectives and then pass it to their managers. Managers do the same and pass it to their staff. This means more works to be done. Because there are a lot of assignments to be done, all staffs should rearrange them and make a priority which assignment need to be done first. It means, some assignments would be placed on lower priority and would never be done, believe me.

This situation affects me as well. I can't focus on one assignment and completely finish if before I manage to solve another one. I have to finish several assignments at once, like a concept known as multithreading. But how much time need to be wasted just only to switch from one assignment to another one. But that's the problem: I have no time to ask and complain about this, what I have to do is finishing as many as I'm able to do.

So what's the solution? I think, our management should see this situation is not good for long period of time. Otherwise, perhaps all staffs in my directorate need to learn how to manage time efficiently in a proper way. Anger and emotion management could be added as an optional solution as well.

Rabu, Juni 10, 2009

Asahlah Gergajimu

Dua kata diatas merupakan salah satu dari 7 kebiasaan yang diperkenalkan oleh Stephen Covey dalah bukunya. Ketika pertama kali membacanya, tak terpikir apa maksud dari kata-kata tersebut. Asahlah gergajimu berarti jangan sampai kita terlalu sibuk menggergaji kayu hingga lupa mengasahnya. Contoh lain dalam bukunya yang aku ingat adalah: jangan keasyikan menyetir hingga lupa mengisi bensin. Jika dianalogikan kedalam kehidupan sehari-hari bisa diartikan sebagai: jangan terlalu sibuk bekerja hingga lupa waktu untuk beristirahat.

Dalam satu minggu terakhir, aku mencoba menerapkan secara konsisten aturan diatas. Datang dan pulang kantor tepat waktu. Diluar jam kantor, sebisa mungkin aku tak terlibat dengan apapun yang berkaitan dengan pekerjaanku. Dengan memaksa keadaan seperti ini, aku memiliki waktu luang yang jauh lebih banyak. Penekananku disini waktu diluar jam kantor benar-benar aku gunakan untuk rileks, bukannya aku gunakan untuk hal-hal lain semacam berkeluyuran kemana-mana sehingga pulang ke rumah terlalu larut.

Semakin capat aku pulang ke rumah, semakin banyak waktu yang aku miliki untuk istirahat. Waktu istirahat ini jika diakumulasikan dalam 5 hari kerja, sudah cukup untuk membuat akhir pekan menjadi lebih senggang. Aku tak perlu berhibernasi untuk membayar utang tidur karena terlalu capai atau pulang terlalu larut di hari-hari kerja. Hal-hal lain yang bisa aku dapatkan adalah aku bisa mengerjakan hal-hal lain yang tentunya diluar pekerjaanku seperti membaca, merencanakan sesuatu, istirahat, dan belajar sesuatu yang baru. Efek yang paling terasa adalah lebih terbukanya pikiran, sehingga memungkinkan terciptanya ide-ide baru yang kurasa tak akan pernah muncul ketika setiap hari tubuh terlalu dibebani dengan berbagai macam pekerjaan dan pikiran. Dengan semakin banyaknya waktu luang yang aku miliki, memungkinkanku untuk berpikir lebih jernih dalam merencanakan dan menata ulang hal-hal yang ingin aku capai dalam hidupku. Seperti judul dalam tulisan ini, saat-saat ketika sedang mengasah gergaji adalah waktu yang tepat untuk melihat dan mengevaluasi sejauh mana pencapaian yang telah dilakukan dan menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Mengasah gergaji memang terdengar sepele, namun terkadang seringkali terlupakan apalagi ketika sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang tak ada habisnya seperti yang aku rasakan belakangan ini. Namun pada suatu titik aku merasa jenuh dan harus melakukan sesuatu. Setelah mencoba berbagai hal, tampaknya membatasi jam kerja dan pulang ke rumah sesegera mungkin adalah salah satu solusi terbaik saat ini. Sejauh ini baru aku uji coba selama satu minggu. Aku berniat untuk meneruskan rencanaku ini dalam sebulan kedepan dan aku penasaran dengan hasilnya. Paling tidak, aku berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan pekerjaan, jangan sampai pekerjaan mengontrol kehidupanku. Justru sebaliknya, aku harus bisa mengontrol pekerjaan dan membuatku tak terikat padanya.