Di awal bulan September lalu kami sekeluarga berlibur singkat di Kopeng. Objektif utamanya sebenarnya bukan liburan, tapi karena ada event Merbabu Trail Run yang ingin kuikuti. Selain itu, ada juga keinginan lain:
- Mengunjungi Kopeng Treetop Adventure Park, karena anak perempuanku ingin ke sana lagi. Dua tahun sebelumnya, kami pernah ke sana dan tempatnya memberikan kesan yang sangat baik untuk anakku, jadi kupikir worth it untuk diulang. Dan kebetulan event trail run-ku lokasinya tak jauh dari sana.
- Kopeng secara lokasi juga tak jauh dari Gunung Telomoyo, di mana setiap kali aku menginap di sini, aku selalu membawa sepeda dan gowes hingga puncaknya. Namun kali ini ada unfinished business: di event ultracycling Mangewu Mangatus Yogyakarta, aku gagal menikmati sunrise di sini karena ban bocor tiga kali, waktunya meleset. Kabarnya, sunset di Telomoyo tak kalah indah, jadi kurencanakan untuk redemption ride mengejar sunset-nya.
![]() |
| Tempat favorit untuk mampir kalau ke arah Magelang dan sekitarnya |
Jadi weekend ini menjadi kesempatan sekali mendayung langsung untuk mencapai 3 target: gowes dan menikmati sunset di puncak Telomoyo, mengikuti event trail run, dan menemani anak bermain treetop.
![]() |
| Kopeng Treetop Adventure Park |
Merbabu Trail Run diselenggarakan oleh Sunsetfalls Garden Resort, tempat kami pernah menginap sebelumnya. Awalnya kami berencana untuk menginap di hotel itu agar dekat dengan titik start dan finish. Main-main treetop-nya bisa sebelum atau sesudah acara trail run. Namun tampaknya hotel itu penuh karena dipakai oleh panitia dan penyelenggara. Dan beruntung di Kopeng Treetop Adventure Park masih ada kamar kosong untuk keluarga. Jadi kuputuskan untuk menginap di sana: jauh dari titik start acara lari, namun dekat dengan permainan treetop.
Sabtu Sore: Mengejar sunset di Telomoyo
Begitu sampai di penginapan, aku segera merakit sepedaku. Namun, siang itu aku belum mengambil race pack untuk acara trail run di keesokan harinya. Agak salah prediksi, seharusnya mengambil race pack dulu baru ke penginapan. Namun apa daya hotel Sunsetfalls-nya ditutup karena di hari itu sudah ada kategori race 25 K dan 50 K yang sudah dimulai duluan, sehingga aku kesulitan mencari tempat parkir. Pada akhirnya kuputuskan untuk ke penginapan terlebih dahulu baru mengambil race pack, yang ternyata memakan waktu lebih lama dari prediksiku.
![]() |
| Profil elevasi rute Kopeng - Telomoyo |
Rute PP ke Telomoyo dari Kopeng Treetop Adventure Park tidak terlalu jauh, hanya 22,7 km dengan elevation gain sekitar 864 m. Setup sepedaku cukup minimalis untuk rute pendek ini, aku gunakan wheelset bawaan sepedaku yang lebih berat, dikombinasikan dengan ban berukuran 32c. Ban yang lebih lebar ini harapannya bisa mengurangi getaran karena jalur menuju puncak lumayan kasar, terutama di turunannya nanti pada saat pulang. Aerobar yang biasanya terpasang, kulepas, agar lebih praktis saat bongkar pasang.
Ketika aku ke sana, cuaca cukup cerah, namun aku melihat di bagian puncaknya sepertinya tertutup oleh awan tebal, tapi berdasarkan informasi dari warga lokal, di Kopeng tidak pernah hujan dalam beberapa bulan terakhir. Jadi kuputuskan untuk lanjut walaupun mungkin nanti pemandangannya tak sesuai dengan ekspektasiku.
Di perjalanan menuju puncak Telomoyo aku merasa kondisi jalannya tak terlalu banyak berubah. Segmen awal-awal saja yang sepertinya sudah lebih oke, jalanan berlubangnya sudah banyak ditutup, namun aspal dan cornya masih kasar. Sangat mencukupi untuk jeep dan sepeda motor, tapi kurang nyaman untuk sepeda road.
![]() |
| rutenya Syahdu, di tengah perjalanan kabut tebal menghampiri |
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kabut tebal muncul. Ternyata ini adalah awan tebal yang kulihat ketika masih berada di kaki gunungnya. Jarak pandang lumayan terbatas, namun aku tak merasa terlalu khawatir karena aku sudah memasang lampu depan dan belakang di sepedaku, sebagai persiapan karena pulangnya pasti malam.
Beruntungnya semakin mendekati puncak Telomoyo, kabutnya semakin menipis. Akhirnya aku mendapat spot yang bagus, di mana bisa melihat dengan jelas matahari yang sedang bersiap untuk tenggelam. Masih searah dengan arah matahari tenggelam, aku bisa melihat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Tampak jelas menjulang ke atas menembus hamparan awan. Sungguh pemandangan yang indah, seperti negeri di atas awan. Dari spot-ku, kaki gunung Telomoyo hampir tak terlihat karena tertutup awan, sementara pemandangan langit di atas kepalaku cerah, hampir tidak ada awan.
![]() |
| menanti sunset |
Tak jauh dari spot tersebut, aku bisa melihat Gunung Merbabu di sisi selatan. Kontras dengan Sindoro dan Sumbing, Gunung Merbabu tampak lebih gelap karena tidak terkena cahaya matahari, namun justru karena itu tidak ada backlight, agak gelap tapi aku bisa menangkap detailnya dengan kameraku. Sayangnya jepretanku kurang optimal di sini karena ada pasangan muda-mudi yang berfoto cukup lama dan menghalangi pemandangan.
Aku merasa sangat puas sore itu, dapat spot foto bagus dan juga bisa menikmati pemandangan dengan syahdu karena tak seramai dibandingkan dengan pagi hari. Di titik ini aku merasa unfinished business-ku di event Mangewu Mangatus sudah terbayar lunas. Aku teringat waktu itu baru tiba di area parkir selepas subuh, sudah terlambat untuk mengejar sunrise. Dan sekarang pemandangan sunset tepat di depan mataku, bisa kunikmati transisinya tanpa terlambat sedikit pun. Seandainya event Mangewu Mangatus itu bisa diulang, aku mungkin akan lebih memilih untuk mengejar sunset dibandingkan mengejar sunrise.
![]() |
| pemandangan Gn Merbabu, Sindoro & Sumbing saat sunset |
Setelah berpuas menikmati pemandangan matahari tenggelam aku segera turun. Ternyata pengunjung yang tadi ramai di atas juga bergegas turun serentak. Suhu udara berubah dengan drastis, yang tadinya kuanggap cukup sejuk berubah menjadi dingin yang menusuk. Aku yang menggunakan bib dan jersey pendek langsung menggigil. Aku berusaha untuk bisa berada di belakang rombongan jeep, mempertimbangkan tidak ada lampu jalan di sana, jadi di belakang kendaraan besar relatif memberiku rasa aman. Tanganku pun mulai terasa kebas dan kaku, cukup menyulitkanku di medan turunan yang membuatku harus selalu siap mengerem. Tak salah aku menggunakan ban 32c, rasanya jauh lebih nyaman dibanding terakhir aku menuruni gunung ini dengan menggunakan ban 28c. Menghajar jalanan jelek dan berlubang sekalipun masih dalam batas toleransi kenyamanan.
Akhirnya aku sampai di penginapan agak telat. Sepertinya sudah lewat isya. Agak nggak enak karena aku tinggalkan keluargaku, namun pengalaman sunset pada sore itu layak untuk diulang jika ada kesempatan lagi.
Minggu Pagi: Debut Merbabu Trail Run
Minggu pagi aku bangun lebih awal. Badan masih lelah, sehari sebelumnya nyetir 8 jam dan masih lanjut gowes nanjak ke Telomoyo. Tetapi show must go on, tujuan utamaku ke Kopeng karena acaraku di pagi itu.
Lomba yang aku ikuti adalah kategori 12 K, dengan cut-off time 4 jam. Direncanakan start di pukul 06:00, dan diharapkan semua peserta sudah finish sebelum pukul 10:00. Pada awalnya aku berharap untuk bisa mengikuti kategori di atasnya: 25 K, namun persyaratan yang cukup ketat, di mana untuk kategori 25 K peserta harus sudah pernah menyelesaikan lari marathon, atau trail run dengan jarak dan elevasi tertentu (aku lupa angkanya). Dua persyaratan itu menjadi penghalang. Sementara kategori di bawahnya 12 K memberikan persyaratan yang lebih mudah: minimal pernah lari half marathon, dan ini sudah biasa kulakukan setiap bulannya.
Setelah sholat subuh, aku langsung bergegas ke titik start, Sunsetfalls Garden Resort, diantar oleh petugas di sana menggunakan motor. Udara Kopeng yang berketinggian 1.400 mdpl terasa dingin, dan aku memang rentan kedinginan. Aku membawa semua mandatory gear yang diperlukan untuk lomba di dalam tas trail run-ku, termasuk kamera DSLR-ku yang ternyata cukup ergonomis ketika kupakai gowes ke Telomoyo. Tasnya relatif stabil dan tidak goyang ketika kuuji coba dengan bersepeda maupun berjalan, jadi kurasa akan aman-aman saja kalau kupakai untuk lari.
![]() |
| keseruan di acara Merbabu Trail Run |
Aku tiba kurang lebih 30 menit sebelum flag off. Di depanku kulihat sudah banyak peserta yang memenuhi di bagian depan sebelum garis start. Mungkin mereka datang lebih pagi agar bisa start di posisi depan dan bisa langsung lari tanpa terhalang peserta lain. Sejujurnya saat itu aku merasa asing, karena ini adalah pertama kalinya aku mengikuti event trail run dan mendaftar bukan karena ada ajakan dari orang-orang yang kukenal. Atmosfernya juga berbeda dengan event sepeda ultra cycling yang biasa kuikuti, peserta di sini sangat tampak antusias, sementara di event sepeda rasanya lebih biasa-biasa saja.
Pukul 06:00, acara lombanya resmi dimulai. Sesuai dengan ekspektasiku, karena aku berada di barisan tengah, begitu start aku tidak bisa langsung berlari. Peserta menumpuk di depanku. Terlebih lagi rutenya langsung menanjak, dan tak semua orang mau langsung berlari di tanjakan. Di kurang lebih 1km pertama, banyak effort terbuang untuk mencari-cari celah agar bisa menyalip peserta yang bergerak lebih lambat.
Setelah 1km pertama, jarak antar peserta sudah mulai renggang, aku bisa leluasa berlari dengan pace-ku. Kuakui, trail run ini seru juga. Karena jaraknya relatif pendek hanya 12 km, rutenya banyak melewati jalan-jalan gang perumahan warga lokal dan jalur di perkebunan. Rutenya yang naik turun terasa sangat melelahkan. Ini merepotkanku karena aku terbiasa berlari di jalur road yang pace-nya lebih stabil. Trail run terasa lebih dinamis, mungkin seperti latihan interval yang tidak terstruktur. Di jalur datar aku harus menjaga pace, tetapi di tanjakan aku butuh tenaga lebih besar. Namun seperti halnya bersepeda, tak semua tanjakan perlu ditaklukkan, berlaku juga di sini. Kalau tanjakannya terlalu melelahkan ya jalan aja, tak perlu dipaksa.
![]() |
| Tak perlu khawatir soal dokumentasi, fotografernya banyak |
Awalnya kupikir fotografernya sedikit, jadi aku membawa DSLR. Ternyata aku salah, fotografernya banyak; hampir tiap 300–500 m ada saja yang mengabadikan peserta. Sepanjang rute ada beberapa pemandangan bagus yang ingin kupotret. Namun adrenalin dan suasana lomba membuatku mengurungkan niat. Akhirnya kameraku tak keluar dari tasku sama sekali hingga finish.
Karena ini event pertamaku, persiapanku minim. Saat berlari telapak tangan dan jariku kebas karena dingin. Sensasinya aneh, badanku panas karena effort yang aku keluarkan cukup besar, bisa kurasakan dari napas dan angka heart rate di jamku, namun tanganku kaku. Beberapa kali punggung telapak terasa kesetrum, tak cuma sekali. Membuatku berpikir kalau ke depannya mau ikut event yang serupa, apalagi jika titik start nya di atas 1.000 mdpl lebih baik memakai arm warmer dan sarung tangan.
Karena udara Kopeng dingin, aku tak gampang haus. Dari flask 500 ml, aku hanya minum 2 atau 3 kali, mungkin tak sampai 100 ml. Karena itu, aku melewati water station di km 7 tanpa mampir terlebih dahulu. Aku ingat setelah lomba ini harus menemani anak perempuanku bermain treetop, jadi sebisa mungkin aku tak banyak berlama-lama.
Setelah water station, rutenya menurun tajam. Menyenangkan, kombinasi adrenalin dan jalan yang menurun cukup tajam di jalur single track perkebunan warga, antara ingin bablas dan tetap mengontrol kecepatan agar tak jatuh. Ada peserta lain yang ngebut melewatiku di turunan dengan gap yang lumayan jauh. Aku kagum pada teknik mereka, melaju dengan cepat tanpa kehilangan kontrol. Turunan selalu membuatku khawatir, karena beban kaki lebih besar. Beberapa kali paha atasku tiba-tiba sakit di turunan dan tak bisa kupaksa berlari lagi. Memang tidak selalu terjadi, tapi ini membuatku kepikiran terus. Untungnya setelah finish tidak ada cedera aneh.
![]() |
| Alhamdulillah bisa finish 1 jam 31 menit |
Akhirnya aku finish sekitar jam 07:30. Kalau kulihat, catatan waktu resmiku di 1 jam 31 menit. Tidak terlalu buruk untuk event pertamaku dan memang nggak niat terlalu nge-push juga. Setelah finish, aku hanya foto sekali di depan rute 12 K sekadar untuk kenang-kenangan, dan langsung menuju ke bagian refreshment untuk mengambil konsumsi. Aku sangat puas dengan trail run pagi itu, having fun banget lah. Namun karena jaraknya pendek, rasanya kurang memuaskan pergi jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk bersenang-senang selama 2 jam kurang. Mungkin rute 25 K lebih ideal dari sisi durasi, tak terlalu pendek tapi masih bisa menyisakan waktu untuk beraktivitas lain. Semoga tahun depan bisa ikut untuk kategori tersebut dan memenuhi persyaratannya.
Setelah beristirahat sebentar, aku segera keluar dari area lomba dan kembali ke penginapan. Di sana anakku sudah menunggu, dan hari itu masih ada satu lagi agenda yang perlu kuselesaikan sebelum pulang ke Jakarta.
Setelah Lomba: Bermain Treetop Bersama Anak
Sampai di penginapan, aku segera bersiap bermain treetop bersama anakku. Akan lebih seru kalau istri dan anak laki-lakiku ikut, seperti liburan sebelumnya. Namun mereka tidak tertarik, dan yang paling antusias untuk bermain justru anak perempuanku.
![]() |
| Here we go.. lanjut treetop |
Sebelum bermain kami harus mengenakan perlengkapan yang wajib. Petugasnya menjelaskan aturan, memberi tutorial singkat, lalu mencontohkan dan menemani kami di salah satu sirkuit. Karena sudah pernah bermain di sini, kami tidak kesulitan mengikuti instruksinya. Ada beberapa sirkuit treetop yang bisa dimainkan, dibagi menjadi beberapa kategori disesuaikan dengan umur (berdasarkan tinggi pemainnya) dan juga tingkat kesulitannya. Ada sirkuit khusus anak-anak, tetapi karena anakku sudah cukup besar, ia boleh melewati semua jalur.
Untuk penggemar aktivitas outdoor, bermain treetop ini menyenangkan. Tantangannya beragam: naik-turun jaring tali, meluncur dengan zip line, menyeberang antarpohon di ketinggian, dan yang paling mendebarkan tarzan jump, melompat sambil memegang tali lalu menangkap jaring di seberang. Kombinasi ketinggian dan tantangannya, membuat pemain harus luwes. Kekuatan tangan, fleksibilitas, dan keseimbangan akan diuji. Secara teori semua tantangan bisa dilewati, kecuali pemainnya takut ketinggian. Yang diperlukan adalah usaha lebih: tubuh dipaksa bergerak, menahan tekanan di tangan dan kaki, dan melakukan gerakan-gerakan yang tak biasa. Beberapa kali ototku terasa ditarik karena gerakan yang tak biasa.
![]() |
| Di sirkuit pertama, petugasnya masih menemani dan memberikan panduan |
Sayangnya aku kurang optimal menyelesaikan tantangan di sirkuit. Tubuh yang lelah setelah berlari harus berjuang dengan aktivitas anaerobik, karena ritme tiap tantangan berbeda. Sejujurnya treetop terasa lebih melelahkan dibanding lari. Beberapa kali aku merasa ototku tertarik dan kram. Mungkin tubuhku kehilangan banyak elektrolit di aktivitas sebelumnya.
Namun demikian, setidaknya aku bisa menemani dan menyenangkan hati anak perempuanku. Menepati janjiku untuk ke sini lagi setelah lebih dari satu tahun. Momen seperti ini mungkin semakin sulit untuk diulang seiring dengan bertambahnya usia anakku.
![]() |
| Ada beberapa sirkuit yang tersedia, dan tantangannya bervariasi |
Dari semua sirkuit dewasa, hanya ada satu yang tidak ingin dicoba anakku. Sirkuit dengan tingkat kesulitan paling tinggi: lebih tinggi dibanding sirkuit lainnya, dan zip line yang lebih panjang. Namun coba tebak apa yang membuat anakku tidak mau mencoba? Karena di sirkuit ini ada tarzan jump yang lebih tinggi dari sirkuit yang sudah dicoba sebelumnya. Sejujurnya tarzan jump ini juga menjadi momok buatku, menantang nyali walaupun secara teori aman. Tak lain karena di tantangan ini, peserta akan merasakan jatuh bebas sambil mengayun ke seberang. Nah bisa dibayangkan ketika tarzan jump-nya lebih tinggi, perasaan jatuh bebasnya ini akan lebih panjang.
![]() |
| menyenangkan sekaligus melelahkan |
Aku merasa kecewa sih karena anakku tak ingin mencoba sirkuit yang tersulit. Tapi aku tak ingin memaksa, karena memang tantangan tarzan jumpnya juga membuatku berpikir dua kali kalau mau mencoba. Terlebih lagi, waktu sudah mendekati tengah hari, dan kami harus segera check out dari penginapan. Di titik ini aku merasa estimasi waktuku meleset. Menyelesaikan trail run dan treetop sebelum tengah hari ternyata terlalu memaksa. Ini menjadi unfinished business-ku yang baru, di kunjungan berikutnya seharusnya manajemen waktunya bisa lebih baik lagi.
Penutup
Tak lama setelah bermain treetop, kami segera mandi dan bersiap-siap kembali untuk pulang ke Jakarta. Objektifku tercapai: akhirnya bisa menikmati sunset di Telomoyo menggunakan sepeda, mengikuti event trail run pertama, dan juga menepati janji untuk bermain treetop dengan anakku. Namun kuakui, waktuku di Kopeng terlalu pendek dan jadwalnya kupaksakan. Idealnya menginap 2 malam, namun tidak bisa karena keterbatasan waktu anak-anakku yang sedang tidak ada jadwal libur sekolah.
Aku datang dengan satu unfinished business, dan pulang dengan tiga unfinished business baru: mencoba rute 25 K, bermain treetop tanpa diburu jam check-out, dan mencoba tarzan jump di sirkuit yang paling sulit. Semoga tahun depan masih ada waktu dan kesempatan untuk membayarnya, tak perlu lunas sekaligus.







.png)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar