Kuliner Bandung
Karena kami hanya menginap selama 1 malam saja di Bandung, tidak banyak opsi yang bisa kami coba pada saat itu. Kami memutuskan untuk mencari makan di dekat stasiun saja agar sat-set dan bisa dijangkau dengan jalan kaki, Kebetulan di sepanjang jalan tempat kami menginap banyak warung-warung makan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
🍜 Tjuankie Stasion
Kami makan siang di Tjuankie Stasion lokasinya tidak terlalu jauh dari pintu keluar Stasiun Bandung. Berhubung ketika kami sampai di Bandung belum bisa check in, kami menitipkan barang dulu di hotel baru lanjut jalan kaki ke Tjuankie Stasion, 5-10 menit saja jalan kaki dari hotel. Sejujurnya aku bukan penggemar Tjuankie, jadi tidak terlalu bisa membandingkan dan mengomentari apakah Tjuankie disini bisa dibilang enak atau enak banget.
![]() |
| Tjuankie Stasion |
Untuk tjuankie nya menurutku oke lah. Untuk orang-orang yang mungkin kebetulan ingin makan tjuankie yang rasanya sudah bisa diekspektasi, kurasa cocok makan disini. Sat-set walaupun tempat ramai dan penuh. Hanya aja ya makan tidak bisa berlama-lama karena pasti nggak enak dengan yang sudah mengantri. Untuk indomie nya sendiri, kurang rekomen. Karena mungkin disini mengutamakan sat-set nya, indomie yang disajikan terasa masih setengah matang. Indomie di warmindo yang ditambah add on telur dan potongan sawi rebus jauh lebih enak dan bisa dinikmati dibandingkan dengan indomie yang disajikan disini.
🍜 Waroeng Sate Kardjan
Lokasi Waroeng Sate Kardjan jika dari arah hotel, searah dengan Tjuankie Stasion. Namun demikian lokasinya sedikit lebih jauh. dengan jarak tempuh sekitar 10-15 menit berjalan kaki. Kami putuskan makan malam disini setelah melihat review Google nya yang cukup meyakinkan.
![]() |
| Waroeng Sate Kardjan |
Kami memesan sate dan tongseng. Untuk sate nya sih masih menang sate Tegal kalau menurutku. Sepertinya bukan salah di satenya, tapi di kecap dan bumbunya yang kurang nendang. Kalau untuk tongseng, ini jenisnya bukan jenis tongseng yang sesuai dengan ekspektasiku. Bumbu dan kuahnya agak sedikit biasa saja di lidahku.
Kuliner Surabaya
Di Surabaya, kami menginap 2 malam, jadi ada cukup waktu untuk mengeksplore kota dan mencoba beberapa menu kulinernya.
🍜 Rawon Kalkulator
Berdasarkan rekomendasi awal dari AI, Rawon Setan muncul sebagai destinasi pertama. Namun beruntung ketika naik taksi online untuk menuju kesini, driver taksi merekomendasikan destinasi yang ratingnya sedikit dibawah Rawon Setan: Rawon Kalkulator yang lokasinya berdasa di dalam Taman Bungkul. Menurut informasi drivernya, orang Surabaya malah nggak banyak yang kesana, karena harganya sudah dianggap overpriced (kalau lihat di Google sih bisa dibenarkan statement ini). Katanya tempat ini mungkin lebih dikenal oleh turis dan orang yang tidak tinggal di Surabaya. Kami pun langsung memutuskan putar halauan, tadinya pesan taksi online untuk ke Rawon Setan, diubah ke Rawon Kalkulator. Untuk urusan kuliner, tentu saja kami lebih percaya dengan kearifan lokal.
![]() |
| Rawon Kalkulator |
Ketika kami sampai di Rawon Kalkulator, tempatnya ramai. Namun demikian masih bisa langsung dapat duduk. Meja dan kursinya lumayan banyak yang disediakan, ketika masih di jam-jam ramai pun masih bisa dapat duduk.
Sebagai penyuka rawon, rasa rawon disini oke. Dari sisi harga pun terhitung terjangkau. Sementara kalau melihat di Google, harga Rawon Setan seharusnya bisa dua kali lipatnya dari harga Rawon Kalkulator. Yang agak minusnya mungkin porsi nasinya yang terhitung pelit. Aku sampai menambah 1 porsi lagi pun sejujurnya masih belum kenyang.
🍜 Nasi Bebek H Fauzi
Nasi Bebek ini juga salah satu rekomendasi dari driver taksi online yang sebelumnya mengantar kami ke Rawon Kalkulator. Siang itu, niat awalnya kami makan di tempat lain, untuk bebek sebenarnya lebih diekspektasi untuk makan malam. Namun karena tempat makan tujuan kami pada saat itu tutup, terpaksa putar halauan untuk makan bebek H Fauzi ini, yang lokasinya ternyata cukup jauh dari titik tempat makan awal yang kami tuju.
![]() |
| Nasi Bebek H Fauzi |
Sesampainya di lokasi, agak kaget. Nasi Bebek H Fauzi ini lokasinya bukan di jalan besar, tapi agak masuk lagi ke dalam, bisa dibilang sebelahan dengan Pasar Krukah. Orang yang nggak pernah lewat sini mungkin tidak akan tahu, kecuali mungkin dapat info rekomendasinya dari mulut ke mulut. Tidak seperti bayangan kami dimana tempat rekomendasi biasanya ramai, pengunjungnya pada siang itu hanya kami berempat saja. Sepertinya sih memang baru buka pas jam makan siang.
Karena baru buka, jadi ya yang melayani masih sambil siap-siap dulu. Setelah menunggu 15 menitan pesanan kami diantar. Kombinasi bebek bumbu hitam dan nasi yang masih panas karena baru matang sungguh luar biasa. Nggak salah rekomendasinya. Tempat memang kurang meyakinkan, tapi untuk urusan kuliner seperti ini sih rasa lebih penting. Pedasnya juga lumayan nendang. Mungkin kalau aku ke Surabaya lagi akan kupastikan makan bebek ini lagi walaupun mungkin cukup pesan online saja.
Dari sisi harga pun, terhitung murah menurutku. Mungkin karena lokasinya disamping pasar, jadi target marketnya juga lebih spesifik. Es teh manis saja hanya Rp 3.000 rupiah disini. Dan yang aku ingat, rasa teh manisnya juga enak, seperti bukan teh standar yang dijual di warung-warung makan. Ada rasa madunya. Aku tidak tahu apakah memang tehnya dicampur madu, atau menggunakan teh lain yang ada perisa madu nya.
🍜 Rahang Tuna Surabaya
Rahang Tuna ini memang bukan makanan khas Surabaya. Namun karena driver taksi kami ketika mengantar ke Nasi Bebek sempat-sempat menyebut seafood & rahang tuna, kami memutuskan untuk makan malam di Rahang Tuna yang lokasinya tak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.
Berbeda dengan Nasi Bebek yang hitungannya masih warung, Rahang Tuna yang kami kunjungi ini masuk kelas resto. Ketika kami datang, ada beberapa pengunjung, namun karena tempatnya lumayan luas (dan bisa karaokean juga), jadi terasa sepi dan kosong.
![]() |
| Rahang Tuna Surabaya |
Menu rahang tuna nya menurutku oke dan enak. Terlebih lagi di resto ini disediakan sambal dabu-dabu yang kuantitasnya lumayan banyak. Kebetulan aku menyukai sambal dabu-dabu yang memberikan rasa pedas dan segar. Selain rahang tuna, kami juga memesan ikan bakar dan bakwan jagung yang secara rasa termasuk enak. Namun bakwan jagungnya aku tak terlalu suka karena terlalu tebal, jadi kurang kering.
🍜 Lontong Balap Pak Gendut
Lontong Balap adalah salah satu kuliner yang direkomendasikan oleh AI karena makanan seperti ini akan sulit kutemui di Jakarta. Setelah selesai makan malam di Rahang Tuna, kami sempatkan untuk mampir ke Lontong Balap Pak Gendut. Yang makan sih hanya aku saja karena yang lain sudah kenyang.
![]() |
| Lontong Balap Pak Gendut |
Sejujurnya sih aku mampir kesini karena penasaran saja, seumur-umur belum pernah mencoba lontong balap. Jadi yah sekali seumur hidup paling nggak ya perlu mencoba. Kesan pertamaku: rasanya agak asing, tapi masih bisa kumakan, apalagi ada sate kerangnya juga. Namun sepertinya untuk menyukai makanan ini mungkin perlu beberapa kali makan, atau mencoba lontong balap merek lain sebagai komparasi.
Berikutnya: Review Wisata Kota
Artikel Utama: Short Trip Bandung - Surabaya: Menjajal Kereta Api Wisata Panoramic & Compartment Suite






Tidak ada komentar:
Posting Komentar