Kamis, April 30, 2026

Short Trip Bandung - Surabaya: Review Argo Wilis Panoramic

Karena jadwal keretanya lumayan pagi, jam 07:35 membuat kami kurang fleksibel. Beruntung hotel tempat menginap hanya berjarak 5 menit dengan berjalan kaki, jadi tidak perlu terburu-buru. Namun demikian kekurangannya adalah kami tidak sempat sarapan di hotel. 

Sekitar jam 06:40 kami check out dan berjalan kaki ke stasiun. Keretanya sudah tersedia di stasiun jadi kami langsung masuk. Seandainya keretanya berangkat agak siangan sedikit, seharusnya kami bisa menjajal fasilitas Luxury Lounge stasiun Bandung.

Fasilitas yang didapatkan di kelas Panoramic kereta Argo Wilis bisa dibilang sama saja dengan kelas Panoramic kereta Pangandaran. Namun jika kuperhatikan ada perbedaan di interior kereta. Kelas Panoramic kereta Pangandaran menurutku lebih bagus. Toiletnya pun lebih luas dan lebih mewah. Entah apakah ada perbedaan generasi kelas Panoramic diantara dua kereta ini.

tampak luar dan interior Argo Wilis Panoramic
Dari sisi konsumsi & makanan, penumpang akan mendapatkan snackbox (sponsored by XXI Cafe) yang berisi roti, roti kering danbpop corn. Selain itu juga mendapatkan air mineral, hydro coco, minuman panas (teh, kopi, cokelat), dan 1x jatah makan besar yang bisa disiapkan untuk sarapan atau makan siang. Di perjalanan kemarin, kami semua mengambil jatah makan besar untuk makan siang.

fasilitas toilet

How it goes?
Kereta Argo Wilis yang kami naiki bisa dibilang tepat waktu. Berangkat tepat waktu, sampai di stasiun tujuan: Stasiun Gubeng juga masih terhitung tepat waktu.  Rata-rata berhenti di Stasiun besar (di kota Kabupaten), dan sekalinya berhenti pun tidak terlalu lama. Cukup untuk turun & naik penumpang.

Namun ada satu hal unik di perjalanan kemarin, kereta Argo Wilis yang kami naiki berhenti cukup lama di Stasiun Citanduy. Bisa dibilang ini adalah stasiun kecil diantara Kota Bandung dan Tasikmalaya, namun posisi stasiun ini cukup strategis berada di dekat jalan raya utama Tasikmalaya - Bandung. Keretanya mungkin berhenti kurang lebih 10 menit, dan diumumkan secara resmi oleh petugas. Bahkan petugasnya mempersilakan jika penumpang ingin turun, melihat-lihat stasiun, dan membeli cemilan & snack di warung-warung yang berjejer di dalam stasiun.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku turun untuk melihat-lihat sambil mengambil foto-foto kereta, stasiun, hingga rel nya dari luar. Sementara istriku langsung belanja cemilan di warung-warung yang posisinya tidak berada jauh dari pintu gerbong kelas panoramic.

spot tak terduga: Stasiun Cipeundeuy

Tadinya kupikir kereta ini berhenti karena berpapasan dengan kereta lain. Namun sampai kereta berangkat lagi, tidak ada kereta dari arah berlawanan yang lewat. Aku jadi berpikir apakah memang sengaja diberhentikan agak lama disini, sebagai bagian dari wisata kuliner lokal. Karena hanya di stasiun Citanduy ini saja yang berhentinya lumayan lama.

Bisa dibilang jalur yang paling menarik dan bisa memaksimalkan kelebihan kelas Panoramic adalah Bandung-Tasikmalaya-Ciamis. Jalur sepanjang Bandung-Tasikmalaya-Ciamis berkelok-kelok, melewati jembatan-jembatan tinggi, dan menyusuri area di pinggir gunung dengan view lembah. Karena itulah banyak spot-spot menarik yang dilewati, walaupun untuk mendokumentasikannya ya untung-untungan, tergantung posisi tempat duduk. Selewat kota Ciamis, jalurnya berubah menjadi monoton dan cenderung melewati ara dataran rendah hingga Surabaya.

Walaupun demikian, perjalanan ini tetap bisa kami nikmati. Dengan menggunakan meja lipat yang diperuntukkan untuk makan, aku bisa menaruh laptopku disana dan mulai mengetik. Melanjutkan tulisan pengalaman bersepedaku sebelumnya yang jarang tersentuh. Baru ketika di perjalanan jauh begini, aku bisa cukup produktif untuk menyelesaikan bagian per bagiannya. Diluar aktivitas itu, kami berempat bisa main kartu remi. Dengan posisi berhadap-hadapan, kami bisa bermain ber-empat. Bukan setup yang optimal karena tidak ada meja di tengah. Namun yang penting masih bisa bermain di tengah keterbatasan ini.

Apakah worth it?
Sejujurnya, rute Bandung - Surabaya ini menurutku kurang worth it untuk kelas panoramic dengan mempertimbangkan perbedaan harga yang cukup jauh juga dengan kelas biasa. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, spot-spot ikoniknya terpusat di jalur Bandung-Tasikmalaya-Ciamis, sehingga hanya disinilah kelebihan kaca panoramic yang besar dapat dimanfaatkan dengan baik. Kaca panoramic yang besar menjadi tidak terlalu menarik jika pemandangannya relatif sama dan monoton: pemandangan sawah di dataran rendah.  

fasilitas makan besar 1x

Namun demikian, jika memang ada budget lebih dan ingin mendapatkan benefit lain diluar kaca panoramicnya seperti fasilitas mini bar, konfigurasi kursi yang lebih nyaman dan lebih lega, bisa mempertimbangkan kereta ini.

Apakah mau mencoba lagi?
Pengalaman kemarin mencoba Argo Wilis Panoramic mungkin buatku cukup sekali saja. Jika ada kesempatan lagi untuk berpergian dari Surabaya-Bandung, aku mungkin akan lebih memilih untuk naik kelas eksekutif biasa saja, atau sekalian mencoba Turangga yang kelas Panoramic, dimana waktu perjalanannya di malam hari. Tentunya walaupun tidak bisa menikmati pemandangan indah, namun sensasinya akan lain.

Berdasarkan banyaknya spot-spot ikonik yang bisa dimaksimalkan oleh fungsi kaca panoramic, kurasa kereta Pangandaran kelas Panoramic adalah kereta yang paling bisa kurekomendasikan untuk dicoba. Waktu tempuh perjalanan relatif pendek 6-7 jam dari Jakarta-Banjar, dan harga tiketnya pun setengahnya dari rute Surabaya-Bandung.

Berikutnya: Review Kereta #3 🚆 Argo Semeru Compartment Suite

Artikel Utama: Short Trip Bandung - Surabaya: Menjajal Kereta Api Wisata Panoramic & Compartment Suite

Tidak ada komentar:

Posting Komentar