| gambaran setup sepeda |
Rute Jabar Banten Loop yang kubuat berjarak sekitar 1200km dengan elevation gain 9900m versi Strava. Rute ini start dan finish di Jakarta, sesuai namanya "loop" dan mengitari wilayah Jawa Barat dan Banten. Rute ini melewati Bekasi - Cikampek - Cirebon - Kuningan - Ciamis - Banjar - Pangandaran - Cijulang - Pameungpeuk - Rancabuaya - Sindangbarang - Agrabinta - Surade - Palabuhan Ratu - Sawarna - Bayah - Malingping - Muara Binuangeun - Cibaliung - Sumur - Tanjung Lesung - Anyer - Serang - Tangerang - dan kembali ke Jakarta. Jalan yang dilalui adalah jalan raya utama, menghindari jalan-jalan kecil jika memang tidak terpaksa.
Dengan target penyelesaian 4 hari, estimasi kasar jarak yang harus ditempuh dalam 1 hari sekitar 300km. Namun dengan mempertimbangkan kondisi jalan (apakah cenderung flat, rolling, atau menanjak) rencana awalnya kurang lebih seperti ini:- Hari ke-1: Target jarak ±360km elev gain ±1800m, menginap di Ciamis. Jarak agak jauh karena rute relatif flat dari Jakarta-Cirebon, elevasi kebanyakan didapat dari tanjakan Cirebon-Kuningan hingga menuju Ciamis.
- Hari ke-2: Target jarak ±310km elev gain ±2000m, menginap di Sindangbarang. Meski jalan relatif menurun dari Ciamis menuju Pangandaran dan selanjutnya menyusuri pantai selatan yang seharusnya relatif flat, tapi aku nggak mau underestimate, karena seingatku lumayan banyak segmen rolling. Oleh karenanya, di hari kedua kami targetkan untuk menempuh jarak 310km, lebih kecil dari hari pertama. Seandainya pun di hari kedua ini kami bisa bergerak lebih jauh, tetap akan menginap di Sindangbarang, karena hanya di sini ada penginapan yang cukup proper, sementara penginapan berikutnya jaraknya cukup jauh (±100km di daerah Surade).
- Hari ke-3: Target jarak ±320km elev gain ±3800m, menginap di Sumur. Sejujurnya ketika membuat rencana ini aku ragu-ragu, karena di rute ini ada tanjakan lumayan panjang dari Surade ke arah Palabuhan Ratu. Segmen tanjakan berikutnya adalah Puncak Habibi dan Sawarna, yang dalam ingatanku ketika kesini sih lumayan horor. Kalau target ini terlalu muluk, maka kami akan menginap di daerah Cibaliung, 30km sebelum Sumur.
- Hari ke-4: Target jarak ±230km elev gain ±450m. Dengan target jarak yang relatif pendek ditambah dengan elev gain yang kecil, seharusnya hari terakhir ini bisa lebih santai. Target sampai rumah sebelum malam.
Logistik
Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, membawa barang bawaan yang terlalu banyak sangat berpengaruh ke kecepatan rata-rata dan jarak yang bisa ditempuh, terutama jika rute yang akan dilalui didominasi oleh tanjakan maupun segmen rolling. Oleh karena itu rencana awalnya, pakaian ganti tidak akan dibawa semuanya dari Jakarta, langsung dikirimkan ke penginapan dan keesokan harinya pakaian kotor dikirimkan kembali melalui kurir.
Dari rencana rute yang akan kami tempuh selama 4 hari, yang sudah lebih pasti bisa kami kejar dan sudah ditentukan lokasi penginapannya adalah hari pertama (Ciamis) dan kedua (Sindangbarang), sementara hari ke-3 aku tidak mau terlalu berekspektasi. Namun melihat rating salah satu kurir di Sindangbarang yang tidak terlalu bagus, membuatku khawatir kalau pakaian ganti dikirimkan ke sini dan ternyata tidak terkirim, akan membuat rencana gowes ini berantakan. Pada akhirnya diputuskan pakaian ganti untuk 3 hari hanya akan dikirimkan ke Ciamis saja. Pakaian kotor akan dikirimkan kembali dari Ciamis dan Sindangbarang. Ilustrasinya kurang lebih seperti ini:
- 3 pasang pakaian ganti (bib + jersey) akan dikirimkan ke Ciamis
- Hari ke-1: Barang bawaan minimum
- Hari ke-2: Membawa 2 pasang pakaian ganti, 1 pasang pakaian ganti yang kotor dikirimkan ke Jakarta
- Hari ke-3: Membawa 1 pasang pakaian ganti, 1 pasang pakaian ganti yang kotor dikirimkan ke Jakarta
- Hari ke-4: Membawa 1 pasang pakaian ganti yang kotor, tidak perlu mengirimkan ke Jakarta karena rute relatif flat di hari terakhir.
Dengan rencana ini, target jarak 360km menjadi terjustifikasi. Rute flat dikombinasikan dengan barang bawaan yang minimum diharapkan bisa menaikkan kecepatan rata-rata paling nggak sampai ke Cirebon. Dari Cirebon ke Kuningan dan Ciamis seharusnya juga bisa ditempuh lebih cepat.
Setup Sepeda
Aku sempat ragu apakah akan menggunakan sepeda lamaku atau sepeda baruku yang sudah menggunakan teknologi disc brake. Pertimbangan untuk menggunakan sepeda lama adalah karena sudah terbiasa, jadi sudah punya feel-nya di medan flat, tanjakan, turunan, dan pernah kupakai juga untuk rute-rute jauh. Sementara sepeda baruku, belum pernah kupakai sama sekali untuk gowes multi-day. Belum pernah juga kupakai untuk tanjakan ekstrem.
Namun dengan pertimbangan bahwa sepeda baruku sudah menggunakan disc brake serta memiliki tire clearance yang lebih besar, pada akhirnya kuputuskan untuk menggunakan sepeda baruku, dengan settingan chainring dan sprocket untuk nanjak dan juga ban dengan profile yang lebar. Sekalian test drive untuk long ride multi-day.
Settingan sepeda yang kugunakan kurang lebih seperti ini:
- Sepeda: Polygon Helios A9X, keluaran 2024
- Wheelset: bawaan - Novatec R5
- Ban: Obor Stamina 32c
- Sprocket: 11-34T (11-12-13-14-15-17-19-21-24-27-30-34)
- Crankset: Rotor + Inspider Power Meter
- Chainring: Rotor 50/34T oval.
- Pedal: Shimano XT
Untuk barang bawaannya:
- Bidon 620ml: 2x
- Cyclocomp: Coros Dura + iGPSport iGS 630S
- HRM: Coros HRM
- Lampu depan: NiteCore MH12Pro + Suba 1000 lumens
- Lampu belakang: iGPSport TL30 + Cateye Omni 3 LD135
- Apidura Saddle Bag 14L: yang berisi pakaian ganti, perlengkapan sholat, celana boxer, kaos, kaos kaki, tools, ban dalam cadangan, pompa, tire lever.
- Apidura packable bag yang berisi, handuk kecil, peralatan mandi, charger, kabel, kacamata cadangan
- Helm: Kabuto Aero R2
- Apidura Racing Top Tube (2L): berisi power bank dan kabel
- Apidura top tube bag, isinya kosong
- Pouch bag 1x. Berisi snack: beng-beng, strive gel, dan endurego
- Sepatu: Shimano RX800
- Gloves: Giro Supernatural
Pada awalnya untuk saddle bag aku berencana untuk menggunakan Apidura Racing 7L agar lebih compact, namun aku baru sadar ternyata tas-ku bolong, sepertinya ada bagian yang secara pabrikan dilem, dan sekarang lemnya nggak nempel lagi. Jadi mau nggak mau, karena sudah mepet, ya pakai tas yang ada yang kapasitasnya 14L. Mungkin selanjutnya akan kupertimbangkan untuk membeli saddle bag edisi Expedition yang kapasitasnya lebih rendah (11L).
Untuk kabel, tak lupa aku juga membawa kabel charger untuk power meter-ku dan kabel charger Di2 untuk berjaga-jaga. Secara teori, seharusnya baterainya masih cukup, tapi untuk jaga-jaga, aku putuskan untuk membawanya.
Untuk pemilihan wheelset, aku putuskan untuk menggunakan WS bawaan yang lebih berat dan kurang aerodinamis karena di WS ini sudah terpasang ban untuk endurance yang menggunakan profil ban 32c dan juga sprocket 11-34T. Agak ragu sebelumnya apakah akan lebih baik menggunakan WS yang lebih aero dan lebih ringan dan menggunakan sprocket 11-30T yang konfigurasi giginya lebih rapat. Pada akhirnya diputuskan untuk menggunakan pilihan WS yang pertama, dengan pertimbangan untuk uji coba ban 32c di jalur yang didominasi oleh rute flat dan lebih mencari kenyamanan dibanding speed. Karena sprocket yang digunakan adalah 11-34T di mana ada konfigurasi 1 gigi yang tidak ada (16T), aku putuskan untuk mengganti chainring-ku yang sebelumnya 52-34T menjadi 50-34T untuk mengkompensasi lonjakan celah gigi di antara 15T dan 17T.
Berikutnya: Jabar Banten Loop Day 1 The Flat Marathon (Jakarta → Ciamis, 363km)
Artikel utama: Yang Tersisa dari Jabar Banten Loop

Tidak ada komentar:
Posting Komentar