Selasa, Februari 17, 2026

Jabar Banten Loop Day 3: The Mountain Test (Sindangbarang → Muara Binuangeun, 260km)

[06:00] Start & Masalah Logistik

Perjalanan di hari ke-3 dimulai sekitar jam 6 pagi, seperti biasa. Di hari ini, kami menitipkan kembali baju kotor di penginapan untuk bisa di-pick up kurir, yang belakangan ternyata jasa pickup-nya nggak tersedia di Sindangbarang. Pada akhirnya temanku minta orang penginapan untuk mengirimkan barang kami melalui kurir terdekat. Dan itupun baru bisa dikirimkan keesokan harinya karena hari ke-3 ini jatuh pada hari Minggu, dimana kurir tutup.

Sebelum melanjutkan ke arah Palabuhan Ratu, kami sarapan dulu di warung kaki lima yang tak jauh dari penginapan. Yang penting sarapan, jadi nggak pilih-pilih makanannya. Begitu lihat ada penjual kupat tahu, langsung kami putuskan untuk sarapan di sini.

Sarapan dulu sebelum melanjutkan perjalanan

[06:30-11:00] Sindangbarang-Surade: Deja Vu

Pagi itu cuacanya adem, yang kemudian berubah menjadi gerimis dan hujan yang cukup nanggung, nggak terlalu deras jadi agak malas untuk memakai jas hujan. Dengan cuaca kayak ini, ekspektasinya bisa mengurangi waktu untuk berhenti dan melipir.

Jalur menuju Surade didominasi hutan

Di hari ke-3 ini, kakiku mulai bermasalah. Paha kananku terasa pegal dan agak sakit. Kurasa dari efek di 500km pertama aku cukup banyak nge-push di tanjakan, selalu menggunakan chainring besar. Main torsi besar, cadence rendah. Ternyata berasa bermasalah setelah 500km-an dipaksa seperti gitu. Faktor cleat juga sepertinya lumayan berpengaruh. Kalau kuperhatikan cleat di sepatu kananku agak miring, sehingga posisi kaki kanan cenderung miring ke dalam.

Rute Sindangbarang-Surade ini agak deja-vu. Jalanan di sini sudah 2 kali kulalui, tapi dari arah sebaliknya. Tapi karena sampai daerah ini biasanya sore atau malam, jadi nggak pernah tahu kondisi jalannya seperti apa, terutama segmen 40km pertama dari Sindangbarang-Agrabinta yang ternyata vegetasinya didominasi hutan jati dan karet. Sedikit penasaran di mana aku terakhir jatuh ketika menyelesaikan Jabar Loop yang membuat bibirku waktu itu harus dijahit, karena ternyata banyak melewati hutan.

Rute sepanjang hampir 100km dari Sindangbarang-Surade banyak didominasi segmen rolling. Walaupun banyak, tapi nggak terlalu membuat frustasi seperti segmen Pameungpeuk-Rancabuaya. Rute flat yang relatif panjang seingatku cuma di segmen dekat daerah Tegalbuleud, di mana di situ jalanannya menyusuri pinggir pantai. Setelah itu masuk ke hutan lagi, dan ditutup dengan tanjakan yang lumayan ngehe tapi beruntungnya pendek, sebelum masuk ke Surade.

[11:00] Pitstop Surade & Rencana Makan Siang

Surade (km 756) menjadi titik pitstop pertama di hari itu. Lumayan bisa menempuh jarak cukup jauh sebelum berhenti, karena faktor cuacanya yang mendukung. Karena pada waktu itu belum masuk jam makan, kami putuskan untuk makan di daerah Palabuhan Ratu yang berjarak 70km-an lagi dari Surade.

pitstop di Surade

[11:00-14:30] Surade-Palabuhan Ratu: 1st Test: Tanjakan Panjang nan Halus

Dari Surade, kami berbelok ke arah utara, menuju Jampang Kulon, di mana rutenya menanjak. Ada segmen tanjakan sepanjang 35km dengan perbedaan elevasi sekitar 650m (elev gainnya jelas lebih dari itu, karena ada segmen rolling nya juga).  Walaupun tanjakannya panjang, gradiennya masih sopan. Segmen ini bisa diselesaikan tanpa perlu banyak nge-push.

sebelum masuk Palabuhan Ratu

Setelah sampai puncak, jalanannya menurun hingga ke Palabuhan Ratu. Di sini kami mulai cari-cari warung makan. Baru ketemu yang cocok setelah melewati kota Palabuhan Ratu. Walaupun daerah pantai, makan seafood jelas bukan pilihan yang tepat. Kurang sat-set. Beruntung menemukan warung sop iga. Menu kuah memang selalu jadi pilihan utama ketika long ride seperti ini. Disini seperti biasa, kami memesan porsi dobel, termasuk minumannya.

Mari makaannn

Seingatku, kami melanjutkan perjalanan dari warung sop iga sekitar jam 15:30.

[15:30-19:30] 2nd Test: Puncak Habibi & Sawarna

Dari sini perjalanan dilanjutkan menuju Sawarna. Segmen Palabuhan Ratu-Sawarna-Bayah ini jadi segmen paling neraka di rute keseluruhan Jabar Banten Loop. Walaupun nggak terlalu panjang, tapi aku masih ingat effort yang perlu kukeluarkan untuk melewati segmen ini ketika Banten Loop dulu. Dan kali ini aku harus melewati lagi dengan membawa barang bawaan ekstra. Seandainya aku nggak melewati segmen ini, sprocket 11-30T kurasa sudah lebih dari cukup, nggak perlu pakai 11-34T.

Tanjakan Habibi part pembuka

Segmen neraka ini dimulai sekitar 30 menit dari tempat kami makan siang. Ujian pertama adalah Puncak Habibi. Di sini ada 2 segmen tanjakan: tanjakan pembuka dengan gradien yang ngehe, jarak relatif pendek. Tanjakan penutup, gradiennya sama-sama ngehe, tapi lebih panjang, berakhir di Puncak Habibi. Karena GPX-ku agak miss di sini, jadi nggak kehitung berapa km jaraknya. Tapi kurasa 3-5km ada lah. Gradiennya lumayan kejam, 10% bisa dianggap recovery, dan ada beberapa ruas di bawah 300m yang gradiennya mendekati 20% bahkan lebih. Di sini gear sprocket 34T-ku termanfaatkan dengan baik.

Berfoto di Puncak Habibi

Sesampainya di puncak, kami berhenti dulu untuk berfoto-foto dan pesan minuman. Pemandangannya cukup indah, dari atas bukit ini bisa lihat pantai ke arah bawah, dan pantai Palabuhan Ratu dari kejauhan. Agak sedikit kaget ketika baru kusadari semua sampah minuman dari warung langsung dibuang ke jurang, di sana kulihat sampah-sampah menumpuk yang entah sudah berapa tahun terakumulasi. Setelah tahu fakta ini, mungkin kalau nanti kesini lagi nggak perlu mampir lah.

Dari Puncak Habibi, perjalanan dilanjutkan menuju Sawarna. Yang aku ingat, dari Puncak Habibi menuju Sawarna jalanannya sudah tinggal turunan. Dari namanya aja puncak ke pantai. Ternyata setelah turunan, masih dihajar lagi dengan tanjakan yang lumayan panjang. Tiba-tiba aku teringat ketika menyelesaikan Banten Loop dulu, di tengah-tengah tanjakan ini aku melipir ke warung karena cuaca panas, tanjakan masih panjang, dan bidonku sudah habis. Walaupun secara gradien tak sekejam tanjakan Habibi, tapi effortnya lumayan karena jaraknya agak panjang, kurasa 5km lah paling nggak.

Setelah sampai Cilograng, kami keluar dari jalan utama, menuju Sawarna. Jalanan menuju Sawarna ternyata sudah lebih bagus dari terakhir kali aku lewat kesini. Sebagian besar segmennya sudah berupa aspal mulus. Ada beberapa ruas yang masih jelek, terutama di segmen rolling. Karena pada saat itu sudah mendekati waktu maghrib, penerangan mulai kurang. Agak-agak ngeri ketika rolling kena lubang. Jadi cukup banyak ngerem ketika melewati turunan

Kami sampai Sawarna (km 863) ketika hari sudah gelap, dan dari situ masih ada 1 segmen tanjakan lagi. Kombinasi jalanan yang gelap tanpa penerangan (karena masuk hutan), membuat gradien tanjakan nggak terlihat. Kurasa segmen ini gradiennya di atas 20%, dan kuputuskan untuk langsung menuntun. Keputusan yang benar karena rekanku yang nekat terus gowes, malah lebih lambat di segmen ini.

[19:30-22:40] Mission Abort: Adjust Expectation

Setelah berjuang dengan sempoyongan, kami tiba di Bayah (km 875) sekitar jam 19:30 malam. Di sini kami melipir untuk re-fuelling dan me-review kembali rencana kami untuk menginap di Sumur yang jaraknya masih 100km++ lagi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kalau dipaksakan ke sini, mungkin baru sampai keesokan harinya di dini hari. Akhirnya setelah googling sana-sini untuk availability penginapan terdekat, kami putuskan untuk menginap di daerah Muara Binuangeun yang jaraknya sekitar 50km dari Bayah. Rute Bayah-Muara Binuangeun juga relatif flat karena menyusuri pinggir pantai, jadi dengan tenaga yang tersisa seharusnya masih bisa digowes pelan-pelan.

Akhirnya sampai di penginapan

25 km dari Bayah, kami tiba di Malingping, melipir untuk makan malam di warung soto ayam, sebelum melanjutkan 25km sisanya menuju Muara Binuangeun (km 924). Kami tiba di penginapan sekitar jam 22:40 malam. Penginapannya langsung kami cari on the spot. Baru ngeh ternyata penginapan-penginapan di sini untuk mengakomodir orang-orang luar yang hobi mancing. Banyak perahu di sana, yang bisa disewa 2-3 hari ke tengah laut untuk mancing.

Refleksi Hari ke-3

Di hari ke-3 ini kami menyelesaikan jarak 260km dan elev gain 3500m++, minus 50km dari target awal (310km di daerah Sumur). Walaupun nggak sesuai ekspektasi, tapi nggak terlalu mengecewakan, karena dari awal membuat rute, segmen hari ke-3 ini bisa dibilang paling berat, jadi agak susah mengukur effort yang dikeluarkan dan tingkat kelelahan yang diakibatkan oleh tanjakan-tanjakan ngehe di sepanjang rute.


Berikutnya: Jabar Banten Loop Day 4: The Mechanical & Mental Battle (Muara Binuangeun → Jakarta, 281km)

Artikel utama: Yang Tersisa dari Jabar Banten Loop

Tidak ada komentar:

Posting Komentar