Minggu, Juli 27, 2025

Mangewu Mangatus 6th series Bandung 2025

Setelah mengikuti event 5500 5th edisi Yogyakarta tahun lalu, aku memutuskan untuk memasukkan event 5500 edisi Bandung di wishlistku tahun ini. Menurutku event 5500 ini cukup unik dan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan dengan event-event ultra yang lain. Para peserta diberikan kebebasan untuk mendesain rute, selama rute yang dilewati berjarak minimal 500km dengan elevation gain minimal 5000m, dan tentunya sudah ditentukan pula titik start, finish, titik CP, dan segmen parcour yang wajib dilewati. Dengan peraturan seperti ini, rute keseluruhan tiap peserta pastinya akan berbeda-beda. Walaupun event ini masuk ke dalam kategori race, kuanggap kurang fair. Banyak faktor eksternal yang mempengaruh kecepatan peserta dalam mencapai titik finish: rute yang dipilih, gap jarak dan elevation yang mendekati 500km & 5000m, dan keberuntungan-keberuntungan lainnya. Ibaratnya perbandingannya nggak apple-to-apple lah.

  • Dengan rute yang berbeda tiap peserta, aku harus selalu berasumsi ruteku tidak akan beririsan dengan peserta lain. Artinya, kita mesti selalu siap dengan segala macam kendala teknis & fisik selama event. Pengalamanku di 5500 edisi Yogyakarta sebelumnya agak sedikit pahit, dimana banku bocor sampai 3x, sementara ban cadanganku hanya ada 2. Disini tidak bisa mengandalkan peserta lain yang mungkin lewat di belakang kita dan harus menyelesaikan masalah ini sendiri.
  • Kecil kemungkinan bisa gowes bareng dengan peserta lain. Walaupun memungkinkan ketika dekat-dekat titik CP/segmen parcour, namun buang jauh-jauh asumsi itu kecuali memang sudah diniati dari awal, collab rute dengan peserta lain. Artinya disini kebanyakan waktu akan dihabiskan gowes sendiri. Mungkin untuk orang-orang yang ingin memvalidasi diri sendiri dengan menuntaskan tantangan 5500 event ini sangat cocok, namun kekurangannya secara sosial & networking sepertinya kurang dapat memberikan nilai tambah.
  • Minim dokumentasi. Ini adalah resiko dari peraturan di dalam event. Sumber daya penyelenggara tentunya terbatas dalam menyediakan fotografer yang mampu merekam jalannya event dari awal hingga akhir, apalagi tiap peserta rutenya berbeda-beda. Titik yang paling mungkin untuk merekam dokumentasi adalah titik-titik CP dan segmen parcour, itupun tiap peserta bisa berbeda-beda waktunya, terlebih lagi segmen parcour, tidak harus berurutan.

Pada akhirnya aku berkesempatan untuk menjajal Lakoni 300K Yogyakarta yang kebetulan jadwalnya lebih dulu dibandingkan dengan 5500 edisi Bandung, walaupun registrasi 5500 ini sudah diumumkan sebelum Lakoni 300K. Pengalamanku di event Lakoni 300K seolah menjadi standarku untuk event-event yang akan aku ikuti kedepannya: aku berharap mengikuti event yang bisa kunikmati tanpa grasak-grusuk, dan tentunya banyak foto-foto & dokumentasi yang dihasilkan. Bukan karena aku gila foto, tapi dokumentasi yang baik bisa memberikan story yang baik yang bisa kuingat kedepannya. Event Lakoni 300K seolah langsung menurunkan ekspektasiku di event 5500 edisi Bandung ini, dengan kekurangan-kekurangan seperti yang sudah kujelaskan diatas.

Salah satu alasanku ingin mengikuti 5500 6th edisi Bandung adalah karena berharap rutenya diarahkan menuju Bandung Selatan. Bersepeda di daerah sekitaran Ciwidey, Rancabali, ataupun Pangalengan adalah ekspektasiku untuk event 5500 ini. Pemandangannya oke, dan walaupun banyak tanjakan, effortnya masih sebanding dengan view nya. Ketika titik CP dan segmen parcour untuk event 5500 diumumkan, aku cukup kecewa. Alih-alih diarahkan ke daerah Bandung Selatan, rutenya diarahkan ke arah sebaliknya. Namun demikian komitmen tetaplah menjadi komitmen, sudah daftar dan masuk wishlist, apapun yang terjadi mesti dijalani.

Persiapan Event

Sama seperti halnya Lakoni 300K, tidak ada persiapan khusus dalam menghadapi event 5500 6th edisi Bandung ini. Sebulan terakhir sebelum event, aku hanya gowes dekat-dekat rumah saja, merasa sedikit malas untuk gowes minggat yang jauh-jauh. Lakoni 300K mungkin bisa kuanggap sebagai latihan untuk persiapanku di event ini. Yang menjadi perhatianku adalah apa yang menjadi pengalaman burukku di event 5500 5th edisi Yogyakarta. Di event kali ini, aku membawa 1 ban dalam tambahan, sehingga total ban dalam yang kubawa ada 3 buah. Selain itu, kupastikan tool dan perlengkapan untuk menambal ban (tube patch) kubawa semua. Barang bawaanku terhitung overweight, tapi daripada nanti nangis-nangis ya lebih baik dipersiapkan.

5500 6th edisi Bandung ini memiliki 3 titik CP yang harus dilalui secara berurutan dan 4 segmen parcour:

  • Start & Finish: Bikesystem, Dago Bandung
  • CP1: Sagalaherang, Subang
  • CP2: Kertajati, Majalengka
  • CP3: Balubur Limbangan, Garut
  • Parcour 1: Jembatan Cisomang
  • Parcour 2: Waduk Jatigede
  • Parcour 3: Sarireja
  • Parcour 4: Sawit Serangpanjang

Berdasarkan titik CP dan segmen parcour ini aku mencoba membuat rute. Pada awalnya rutenya tampak menarik karena bisa kuarahkan ke daerah Subang-Sumedang yang belum pernah kulewati. Namun dengan elevation gain 5000m++ ternyata jaraknya tidak sampai 500km, sisa jaraknya lumayan banyak dan harus kuhabiskan di daerah sekitaran Garut atau Bandung. Kurang favorable karena ini akan membuat elevation gain nya meledak diatas 6000m++. Secara kasar, jika kubuat rute yang melewati semua titik CP dan segmen parcour, 5000m elevation gain tidak terlalu sulit untuk dicapai, namun jaraknya terlalu pendek. Pada akhirnya aku simpulkan, panitia ingin peserta mengeksplorasi sisi utara, dan rute yang paling memungkinkan untuk menambah jarak tanpa harus banyak menambah elevation gain adalah segmen flat paling panjang: Jalur Pantura.

rute yang kugunakan di event 5500 6th series

Pada akhirnya, rute final yang kubuat kurang lebih seperti ini:

Bikesystem - langsung nanjak ke arah Lembang melalui Jalan Dago Giri - turun dari Lembang melalui jalan utama dan menuju Padalarang dan lanjut ke arah Purwakarta - di tengah rute daerah Cisomang keluar jalur untuk menuju parcour 1: Jembatan Cisomang - menyusuri rute dan masuk kembali ke jalan raya Padalarang - Purwakarta - Turun ke arah Purwakarta - Naik lagi ke arah Wanayasa - Menuju titik parcour 2: Sawit Serangpanjang - menyusuri jalanan Wanayasa- Subang menuju titik CP1: Sagalaherang, Subang - Dari titik CP1 nanjak melewati Jalan Raya Cicadas hingga bertemu dengan Jalan Raya Ciater (Lembang - Subang) - Turun lagi menuju Jalan Raya Cagak untuk menuju parcour 3: Sarireja - Mengikuti rute loop menuju Jalan Raya Cagak lagi dan menuju kota Subang - Lanjut terus ke utara menuju Pamanukan - Mengikuti rute Pantura hingga Palimanan - Menuju Jatiwangi dan berbelok ke arah utara menuju titik CP2: Kertajati, Majalengka - ke arah selatan menuju parcour terakhir: Waduk Jatigede - Menyusuri jalan Waduk Jatigede menuju Wado - lanjut ke arah selatan menuju Malangbong - Menyusuri jalan utama Tasikmalaya - Bandung menuju titik CP terakhir: Balubur Limbangan, Garut - menyusuri jalan utama menuju Nagreg - Cileunyi - dan menuju titik finish di Bikesystem. 

H-1

Karena partisipasiku di event 5500 6th edisi Bandung ini lebih banyak didorong oleh pemenuhan wishlistku tanpa ada agenda lain, aku merasa tidak perlu berlama-lama di Bandung. Ke Bandung hanya untuk mengikuti acara ini, setelah itu langsung pulang, sat-set. Dengan alasan inilah aku hanya mengambil cuti 1 hari sebelumnya: hari Jumat. Menginap di Bukit Dago Hotel, yang murah-meriah dan lokasi benar-benar dekat dengan Bikesystem, dengan target checkout di hari Minggu agar bisa langsung pulang ke Jakarta dan masuk kembali ke kantor keesokan harinya. Worst case aku akan extend penginapan namun tetap berencana pulang kembali di hari Minggu. Dengan rencana ini, aku menargetkan bisa finish sebelum jam checkout.

pengambilan race pack
Karena benar-benar santai, di H-1 aku baru jalan dari rumah setelah sholat Jumat. Alhamdulillah jalanan ke Bandung relatif lancar, mungkin karena hari kejepit juga sehingga sebagian orang sudah jalan duluan dari hari sebelumnya. Sampai di Bandung mungkin pas di jam Maghrib, dan langsung ke Bikesystem untuk mengambil race pack.

Hari H - Perjalanan menuju CP1

Pagi itu setelah sholat shubuh, aku segera bersiap-siap ke Bikesystem. Disana panitia sudah menyediakan makanan ringan, cukup untuk mengisi perut yang kosong, walaupun sebenarnya aku sudah makan roti sobek besar sebelum jalan ke Bikesystem. Setelah melakukan check in menggunakan HP para peserta segera bersiap untuk start. Agak disayangkan, Bikesystem tidak terlalu luas area parkirnya, dan berada persis di pinggir jalan. Beruntung start nya pagi-pagi sekali, kalau siangan mungkin akan ramai dan mengganggu lalu lintas disana.

start event 5500 6th series

Begitu dilepas untuk start, kulihat semua peserta menuju ke arah selatan, menuruni Dago. Di pagi itu sepertinya hanya aku saja yang menuju arah sebaliknya: langsung melibas tanjakan menuju Lembang menuju Jalan Dago Giri. Rute menanjak ini pernah kulewati sekali, beberapa tahun silam menggunakan MTB. Ternyata rutenya masih terasa nggilani walaupun kali ini kulibas pakai roadbike. Gradien cukup curam, beberapa ruas ada yang sampai diatas 15%, dan kalau bukan karena masih pagi dan fresh mungkin lebih baik kutuntun saja. Benar-benar luar biasa, sebelum 1 jam pertama sudah dapat elevation gain di 500m an, jarak belum juga dapat 10km.

Ketika sampai di Lembang, jalanan dipenuhi kabut. Beruntung rute yang kupilih tidak menanjak ke arah Tangkuban Perahu, mungkin lebih pekat lagi kabutnya. Dari Lembang aku kembali lagi ke kota Bandung melewati jalanan utama. Disini aku banyak berpapasan dengan peserta lain yang mengambil rute menanjak menuju Lembang & Tangkuban Perahu.

Dari Bandung kota aku menuju Padalarang, melewati Cimahi. Hari yang sudah lumayan agak siang membuat jalanan menjadi ramai, walaupun tidak sampai terjebak macet. Hanya di beberapa titik saja yang kecepatanku melambat lumayan signifikan. Macet yang lumayan parah terjadi di Padalarang karena ruteku melewati pasar. Selepas dari Padalarang menuju Purwakarta, jalanan relatif kosong dan tidak terlalu ramai. Tidak banyak juga truk-truk yang lalu lalang, mungkin lebih memilih lewat jalan tol.

Padalarang - Cikalong

Sampai di daerah Cikalong, aku keluar dari jalur utama untuk menuju parcour 1: Jembatan Cisomang (km 72). Jalanannya didominasi turunan yang gradiennya lumayan. Mendekati segmen parcour, jalanannya menyempit dan jalannya pun menjadi jalanan jelek yang berbatu. Masih bisa dilewati tapi tentunya kurang nyaman. Aku melewati parcour Jembatan Cisomang sekitar jam 8:30, sudah lumayan siang dan dari Bandung hingga ke titik ini belum kutemui 1 peserta pun. Sedihnya, aku tak melihat ada fotografer juga disini, entah aku yang kesiangan atau malah belum datang.

parcour Jembatan Cisomang
Segmen parcour ini tidak se-menyeramkan yang kukira. Jalanannya lumayan lebar, namun kalau papasan dengan motor dari arah sebaliknya mesti menepi. Karena dasar jembatan yang dilewati berupa mesh kita bisa dengan jelas melihat apa yang ada dibawah jembatan. Mungkin akan lebih menyeramkan jika berjalan kaki ketika menyeberangi jembatan ini. 

Keluar dari segmen ini, jalanannya sedikit lebih baik dan lebih mulus walaupun menanjak. Disini aku bertemu dengan 2 peserta lain yang sepertinya baru saja melewati parcour ini. Setelah kembali ke jalan raya utama, aku belok kiri menuju Purwakarta. Menyenangkan, karena rute menuju kota Purwakarta didominasi oleh turunan panjang.

Sesampainya di Purwakarta, rute yang kuambil bisa dibilang putar balik. Namun bukan ke arah Cikalong, melainkan ke arah Wanayasa, dimana elevasi yang hilang ketika segmen turunan panjang tadi akan kudapatkan kembali di segmen tanjakan halus yang lumayan panjang juga menuju Wanayasa. Sekitar 10km dari Purwakarta aku melipir untuk refuelling (km 114). Hari itu cuaca cerah, walaupun masih jam 10 pagi, tapi panasnya cukup terasa. Di segmen menuju Wanayasa ini aku mulai merasa lelah, walaupun rasa-rasanya aku nggak terlalu nge push. 

Dari Wanayasa menuju CP1 jalanannya didominasi oleh rute rolling. Ini adalah segmen yang paling memberikanku pengalaman tak menyenangkan. Pertama kali melewati rute ini ketika mengikuti event Etape Pasundan di 2018 silam. Segmen rolling disini membuatku kewer ketika melibas tanjakan terakhir: Tanjakan Emen di event tersebut. Yang berikutnya adalah event Paris Van Java Mountaineering yang kuikuti di tahun 2024 lalu. Rute yang kulewati dari arah sebaliknya. Walaupun aku melewati rute ini sekitar jam 9 malam, namun tubuhku yang sudah lelah dengan tanjakan setelah gowes seharian, semakin tersiksa dengan rute ini. Di event 5500 ini, aku berusaha untuk lebih santai, tidak ingin terlalu banyak nge push, karena setelah CP1 nanti aku harus melewati segmen tanjakan yang lebih menantang.

Di tengah perjalanan antara Wanayasa dan CP1, aku berbelok keluar dari jalan raya utama, untuk melewati segmen parcour 2: Sawit Serangpanjang (km 136). Jalanan yang tadinya berupa aspal mulus, langsung berubah menjadi penuh bebatuan, mendekati makadam walaupun ukurannya lebih kecil. Walaupun segmennya terhitung pendek, namun siksaan jalanannya sangat lumayan, akibatnya disini mesti pelan-pelan gowesnya. Seingatku, sepanjang rute yang kulewati di event ini, ruas jalan disini yang paling jelek. Bahkan segmen gravel di dekat parcour Cisomang walaupun lebih panjang secara jarak, namun masih bisa dilibas dengan kecepatan yang lebih tinggi. Beruntung disini sudah ada fotografer yang sudah stand by. Minimal ada dokumentasi lah. Dan spot nya juga lumayan iconik, penuh dengan hutan sawit.

parcour 2 Sawit Serangpanjang

Tak lama gowes dari segmen parcour ini, aku tiba di CP1, sekitar jam 12:15 (km 142). Di dekat situ kulihat ada warung makan yang dipenuhi oleh para peserta lain. Karena aku baru refuelling, aku merasa tak perlu untuk refuelling lagi dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Alih-alih langsung menuju parcour 2 yang tak jauh dari situ, aku berbelok ke kanan, melibas tanjakan yang dulu menjadi turunan ketika event PVJM 2024 silam. 

Hari H - Perjalanan menuju CP2

Rute tanjakan yang kuambil ini mungkin hanya sekedar memenuhi egoku saja, karena beberapa tahun silam pernah mendengar rute ini lumayan ekstrem tanjakannya dan aku ingin mencobanya. Dan benar saja, walaupun segmen tanjakannya mungkin hanya 6-8km seingatku tapi rasanya nggak habis-habis. Bagaimanapun juga, nanjak di tengah hari bolong bukanlah waktu yang tepat. Segmen pamungkas di ujung tanjakan, gradiennya diatas 15%, disini aku menyerah, aku turun dari sepeda dan lanjut kutuntun mungkin sejauh 100m. Aku merasa lebih baik kutuntun daripada kupaksa nge push dan malah menghabiskan tenagaku. Perjalanan masih jauh.

entah dimana, tapi kemungkinan diantara Purwakarta - Wanayasa

Aku menuruni jalan raya Ciater menuju perempatan Jalan Cagak, dan kemudian berbelok ke kanan untuk melalui segmen parcour 3: Sarireja (km 162). Karena aku memang tidak ingin memutar balik melewati segmen parcour yang sama 2 kali, aku membuat rute nge loop. Kupikir jalannya bagus, ternyata banyak aspal rusak. Lumayan untuk membuat kecepatanku melambat.

Dari jalan Cagak, ruteku berbelok kanan ke arah Subang. Karena disini berupa turunan, aku bisa banyak menghemat tenaga. Namun tidak seperti jalan raya Padalarang-Purwakarta, jalanan dari Perempatan jalan Cagak menuju Subang & Pantura cukup ramai, banyak truk, dan jalannya bergelombang.

Sebelum memasuki kota Subang, aku memutuskan untuk melipir di warung Soto yang kulewati (km 185). Lebih cepat dari targetku yang kuharapkan baru makan siang di km200 an, karena sudah keburu bonked. tadinya mau berhenti agak lama untuk sekalian sholat dan nge charge perlengkapanku, tapi aku urungkan niatku karena mati listrik disitu. Akhirnya disana aku memilih sat-set, makan saja, nggak bisa isi bidon juga karena tidak menjual air mineral dan melanjutkan perjalanan.

Aku melipir lagi sebelum masuk jalur Pantura, kali ini untuk mengisi bidon dengan proper, sekalian refuelling makanan & minuman ringan lainnya (km 217), dan skalian sholat tentunya (km 221). Aku masuk jalur Pantura sekitar jam 16:30 sore, melenceng dari targetku karena underestimate dengan tanjakan dan rute yang kuambil. Aku memang ingin banyak menabung elevation gain di awal-awal, sehingga sisa perjalananku nanti tidak ada utangan elevasi lagi.

dokumentasi event 5500 6th series

Segmen flat Pantura yang kulewati membentang sepanjang ~95km dari Pamanukan hingga Palimanan. Aku cukup beruntung ketika gowes pada saat itu tidak hujan walaupun kulihat langit mendung dan gelap. Di waktu yang sama, peserta lain yang melewati rute Sumedang, harus melipir karena hujan lumayan deras. Walaupun bisa dibilang jalanannya flat, namun kecepatanku tidak bisa optimal di segmen ini. Kelelahan yang sudah akumulatif dan angin yang cukup kencang karena cuaca yang tanggung mau turun hujan membuatku cukup kesulitan untuk bisa mendapatkan kecepatan rata-rata diatas 30kpj. Bahkan aerobar walaupun membantuku lebih rileks, tidak mampu mendongkrak kecepatanku di jalur Pantura ini. Tadinya kupikir bisa menyelesaikan segmen ini di jam 6 sore, yang akhirnya kusesuaikan lagi di jam 7. Pada akhirnya, realitanya aku baru sampai di Palimanan sekitar jam 8 malam.

Di malam itu aku putuskan untuk skip makan malam, targetku adalah melewati parcour terakhir: Waduk Jatigede sebelum tengah malam. Oleh karenanya, tak jauh dari Palimanan aku melipir ke Indomaret (km 326), refuelling serta membeli snack yang agak berat agar tak perlu lagi makan malam. Dari sana, kulanjutkan perjalanan menuju titik CP2: Kertajati, Majalengka.

Aku sampai di titik CP2 (km 360) sekitar jam 10 malam. Info sebelumnya titik CP ini berada di SPBU, namun ternyata realitanya dipindahkan ke minimarket di samping SPBU. Aku mungkin nggak akan tahu jika tidak melihat peserta lain yang sedang melipir. Karena aku baru saja refuelling di titik pemberhentian sebelumnya, kuputuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan. Aku baru ngeh kalau titik CP2 ini dekat dengan Bandara Kertajati, sisi positifnya adalah jalannya jadi relatif lebih lebar dan lebih mulus.

Hari H - Perjalanan menuju CP3 & Finish

Sekitar 14km dari titik CP2, aku keluar dari jalur utama. Sudah masuk ke jalanan yang mengarah ke Waduk Jatigede. Niatku sebelumnya adalah mencari tempat sholat setelah titik CP2, namun baru kutemukan musholla yang lokasinya benar-benar di pinggir jalan setelah keluar dari jalur utama. Karena cukup lelah, aku putuskan untuk sekalian beristirahat di sini sekitar 1 jam, sekalian power nap.

Mendekati tengah malam aku melanjutkan perjalanan. Karena banyak dilalui truk pembawa batu & pasir, jalanannya tidak terlalu ramah road bike. Semakin menjauh dari jalur utama, jalanannya menjadi sangat sepi. Karena tengah malam aku tidak tahu apakah yang kulalui adalah jalur kebun atau hutan. Yang jelas di jalur menuju Waduk Jatigede ini tidak terlalu banyak kujumpai perkampungan dan rumah warga dan tidak ada lampu penerangan di pinggir jalan.

dokumentasi event 5500 6th series

Sebelum memasuki Waduk Jatigede, seingatku ada 2 tanjakan yang lumayan sepanjang 4-5km. Setelah memasuki area waduk, rutenya berubah menjadi dipenuhi rollingan. Entah berapa banyak tanjakan dan turunan pendek-pendek di sepanjang rute. Yang lumayan bikin ngeri-ngeri sedap adalah banyak anjing yang kujumpai di rute ini. Mereka tidak mengejar sih, hanya saja menggonggog ketika aku lewat. Mau melipir ke warung aja jadi berpikir dua kali.

Sebelum keluar dari segmen rollingan Waduk Jatigede, ada satu tanjakan yang mungkin nggak curam-curam amat. Tetapi tenagaku rasanya sudah habis. Disini aku berhenti di tengah tanjakan, beristirahat sebentar sambil mengisi bidonku dengan minuman energi agar tidak bonked. Targetku terlewat cukup jauh. Tadinya kupikir bisa melewati Waduk Jatigede ini jam 12 malam, rupanya aku terlalu meng-underestimate rutenya. Tak kusangka rolling dan tanjakannya lumayan parah, ditambah lagi rasa lelah sudah menghampiriku sejak CP 2.

Aku sampai di Wado sekitar jam 2 pagi (km 413). Berdasarkan rute yang kubuat, tak jauh dari Wado ini aku akan melintasi segmen tanjakan yang lumayan panjang (7km elev gain 420m). Aku melipir mencari warung terdekat, yang berdasarkan pencarianku, seharusnya ada warung yang buka 24jam karena aku akan melalui pasar Wado. Memang targetku untuk melipir disini, untuk makan malam dan refuelling dan mencari minuman hangat sebelum melibas tanjakan terakhir sebelum memasuki Malangbong.

Berdasarkan informasi dari penjual di warung, daerah yang kulewati agak rawan, disarankan untuk melewatinya setelah shubuh saja. Karena pertimbangan ini kuputuskan untuk beristirahat dan tidur dulu di warung ini. Pikirku, kalau bisa tidur, mungkin ketika aku finish nanti nggak akan terlalu lelah dan perlu banyak istirahat sebelum nyetir kembali ke Jakarta. Pukul 4 pagi sebelum waktu subuh, aku melanjutkan perjalanan. Lumayan bisa tidur kurang lebih 1jam walaupun nggak terlalu nyenyak karena udaranya sangat dingin. 

2km dari warung tadi, segmen tanjakannya dimulai. Ternyata bukan kaleng-kaleng tanjakannya. Walaupun sudah makan cukup dan beristirahat tetap saja berat. Aku jadi teringat ketika harus melibas tanjakan Salatiga-Kopeng dini hari ketika 5500 edisi Yogyakarta silam. Kombinasi tanjakan yang lumayan curam dan rasa lelah memberikan siksaan yang lebih panjang. Beruntung aku melewati segmen ini pagi-pagi. Nggak kebayang kalau siang hari terik ketika tenaga sudah habis, harus melibas tanjakan yang seperti ini.

Ketika sudah mencapai puncak, rasanya senang sekali. Karena setelah ini segmennya akan menurun hingga Malangbong, dan tanjakan dengan gradien lumayab yang tersisa adalah Nagreg. Di perjalanan turun, aku melipir ke musholla yang kulewati di perjalanan untuk sholat shubuh.

Sampai di Malangbong sekitar jam 5:45 pagi (km 431). Dari sini aku berbelok ke kanan untuk kembali ke Kota Bandung melalui jalan raya utama. Saatnya kembali ke peradaban dengan jalanan aspal yang mulus. Aku cukup menikmati 17km pertama karena jalanannya relatif menurun sebelum akhirnya berubah menjadi tanjakan panjang yang melalui Nagreg. Segmen tanjakannya jika dihitung dari titik terendah ke titik tertinggi lumayan panjang, sekitar 16km dengan elev gain 350m. CP terakhir: Balubur Limbangan, Garut berada si segmen tanjakan ini, kebetulan masih berada di bagian awal segmen tanjakan.

Aku sampai di CP terakhir (km 450) sekitar jam 6:45 pagi. Beruntung titiknya berupa minimarket dan alhamdulillah sudah buka. Karena jaraknya sudah relatif dekat dengan titik finish (sekitar 50km lagi), aku refuelling dan sarapan roti secara cepat disini, biar sat-set. Mungkin hanya berhenti sekitar 7 menit sebelum aku melanjutkan perjalanan menuju Nagreg.

Walaupun segmen tanjakannya panjang, namun tidak terlalu curam. Masih bisa dilalui walaupun rasanya tenaga sudah habis. Aku berusaha untuk menyimpan banyak tenaga disini agar ketika turunan nanti bisa lebih ngegas. Setelah mencapai puncak, jalanannya relatif menurun. Kombinasi turunan dan jalan aspal yang lebar tidak kusia-siakan disini. 18km tak terasa, tahu-tahu sudah sampai Cileunyi. Dari Cileunyi, aku nggak bisa terlalu ngebut. Sudah memasuki Kota Bandung, jalanan berubah menjadi lebih sempit dan ramai. Ditambah lagi jalurnya nanjak halus hingga Bikesystem. 

akhirnya finish

Pada akhirnya aku berhasil finish di Bikesystem sekitar jam 9 lewat setelah menempuh jarak 503km dan elev gain 5.480m. Sangat hepi karena berhasil menyelesaikan tantangan 5500 ini sesuai dengan target dan bahkan lebih cepat daripada event 5500 sebelumnya dimana aku finish jam 10 pagi. Terlebih lagi di event ini bisa dibilang aku sempat tidur cukup lama. Ternyata aku finish pertama, tak berapa lama setelah aku finish, ada peserta kedua, orang Bandung yang juga finish, namun dari arah yang berbeda.

Penutup

Kuakui 150km terakhir ini diluar dugaan. Dan rutenya seolah diarahkan melewati Jatigede-Wado-Nagreg. Ini mungkin sama dengan event 5500 edisi Yogyakarta sebelumnya. Mau lewat manapun, tetap akan menuju Telomoyo sebagai salah satu titik parcour, dimana tanjakan berat pasti sudah didepan mata. Apalagi ini sudah mendekati kilometer terakhir. Seolah panitia memang mau menyiksa peserta di waktu-waktu terakhir. 

Untuk sementara mungkin aku akan libur dulu dari event 5500 berikutnya. Baru akan kupertimbangkan jika ada yang mengajak pair, dan inipun mungkin gowesnya santai saja, nggak perlu grasak-grusuk kejar setoran. 

Minggu, Juli 13, 2025

Healing di Lakoni Yogyakarta 300km

Event Lakoni telah masuk ke dalam wishlist ku di tahun 2025. Namun di tahun ini aku tak menyangka waktu penyelenggaraan nya sangat mepet dengan pengumuman event nya, hanya memberikan waktu 2-3 minggu. Tadinya kupikir eventnya tidak jadi, karena hingga 1 bulan sebelum penyelenggaraan  tidak ada info apa-apa di kanal sosial medianya. Malah event 5500 yang diadakan oleh rute syahdu di akhir bulan Mei, sudah dibuka sebelum pengumuman Lakoni. Karena acaranya terbilang mepet, sepertinya format acaanya pun sedikit diubah dari tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya 2 hari gowes (jarak 400km dengan 8000m elev gain), kali ini dibuat 1 hari 300km. Namun demikian di hari kedua dilanjutkan dengan trekking ke kaki Gunung Merapi. Pada awalnya aku agak sedikit kecewa karena ekspektasiku formatnya sama dengan tahun sebelumnya, namun karena memang sudah masuk wishlist, jadi ya mesti diikuti. 

Pada akhirnya format gowes + trekking ini menjadi blessing. Mei menjadi bulan yang melelahkan. Seminggu sebelum event, aku baru saja pulang kampung seminggu di Tulungagung karena ayahku baru saja meninggal, yang dilanjutkan dengan menghadiri pernikahan saudara sepupuku  di Malang. Pada saat itu kondisi fisik dan moodku sedang kurang oke, namun aku merasa event Lakoni ini tetap perlu aku ikuti karena kupikir pikiranku bisa sedikit lebih tenang. Aku anggap acara gowes + trekking ini bagian dari healing. Karena acara di hari kedua hanya trekking, artinya aku bisa pulang lebih cepat, nggak perlu mengambil cuti di hari Senin nya.

Minggu, Maret 02, 2025

Catatan Gowes rute Ciwidey Bandung

Di penghujung tahun 2024 lalu, aku dan 2 orang temanku menjajal rute Hell of South yang konon cukup terkenal di Bandung. Namun demikian, gowesnya sendiri tidak dari Bandung melainkan dari Jakarta, dengan rencana awalnya rute yang kami ambil adalah sebagai berikut: Jakarta - Bogor - Cibadak - Palabuhan Ratu - Jampang Kulon - Tegal Buleud - Sindang Barang - Cidaun - Naringgul - Ciwidey - Soreang - Cianjur - Jonggol - Jakarta. Kurang lebih rutenya berupa loop dengan jarak tempuh sekitar 560km dengan elevation gain sekitar 7000m++.

Rute ini sebenarnya sudah kubuat sekitaran 2 tahun lalu, dan selalu menjadi wishlist ku. Namun karena konon katanya rutenya lumayan berat ditambah lagi nggak mungkin digowes sehari yang artinya perlu menginap, jadilah menjajal rute diatas ini selalu terkendala di perencanaannya. Mencari kombinasi waktu yang pas dan mood untuk gowes minggat secara kolektif bukan hal yang mudah. Sejujurnya mu gowes sendiri juga aku masih mikir-mikir, berat di effort dan bakalan garing karena dokumentasinya mungkin akan minim.

Senin, Januari 06, 2025

Wishlist dan Resolusi 2025

Tahun 2024 telah berlalu, meninggalkan cerita, pelajaran dan momen-momen berharga. Aku cukup beruntung di tengah bulan Desember lalu sempat sakit, sehingga waktu yang biasanya kupakai untuk berolahraga aku gunakan untuk pemulihan sekaligus merencanakan hal-hal yang ingin kucapai di tahun 2025. Sebagai bentuk pengingat, semua harapanku di tahun 2025 akan aku tuliskan disini. Semoga tahun depan aku tak lupa untuk membuat tulisan untuk evaluasi pencapaiannya.

Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana wishlist dan resolusiku aku kelompokkan ke dalam kategori tertentu, di tahun 2025 ini aku memilih untuk straight to the point. Tujuannya adalah agar poin-poin yang ingin kucapai menjadi lebih spesifik dan lebih mudah untuk dievaluasi.


🎯 Menyelesaikan jigsaw puzzle Starry Night karya Van Gogh.

Puzzle ini memiliki 4800 pieces dan kurasa akan menjadi tantangan tersendiri untukku. Sebelumnya aku sudah pernah menyelesaikan puzzle yang sama, namun hanya memiliki 1200 pieces. Untuk menyelesaikan puzzle ini saja membutuhkan waktu yang cukup lama, karena lukisannya sendiri bisa dibilang abstrak, banyak warna yang mirip-mirip sehingga cukup menyulitkanku dalam menyelesaikannya. Waktu pengerjaannya tidak aku batasi, namun targetku harus diselesaikan sebelum pergantian tahun.


🎯 
Strava 330 days active

Jika di tahun 2024 lalu aku berhasil mencatatkan rekor sempurna: 366 days active tanpa bolong sama sekali, maka di tahun 2025 ini aku berusaha tetap komit namun tidak akan mengejar target perfect lagi. Alasannya sederhana, target yang sempurna akan menyulitkanku ketika aku sedang pergi ke luar kota, misal karena ada keperluan kantor ataupun liburan bersama keluarga. Di tahun 2025 ini cukup 330 hari saja, dengan kategori yang masuk perhitungan adalah olahraga bersepeda dan lari (indoor & oudoor). Sementara olahraga lain seperti jalan kaki & hiking tidak masuk hitungan.


🎯 Partisipasi di Event Bersepeda

Di tahun 2025 ini aku tidak akan muluk-muluk mengejar target untuk mengikuti berbagai event gowes. Sejauh ini ada 3 yang menarik perhatianku:


  • Lakoni. Ini aku tertarik dengan konsepnya, semoga saja event ini diadakan lagi di tahun ini. Mungkin aku akan mengambil kategori pair jika ada.
  • Mangewu Mangatus 5500. Aku berharap event ini diadakan lagi di Jawa Barat, biar nggak perlu jauh-jauh nyetir. Bandung atau Tangerang sepertinya bakalan menarik. Sama seperti Lakoni, aku juga menyukai konsepnya. Rute yang dibuat sendiri memberikan tantangan tersendiri dan lebih memacu adrenalin, karena kecil kemungkinan bertemu dengan peserta lain kecuali di titik CP. Oleh karena itu, persiapannnya juga mesti lebih matang. Di event yang sebelumnya aku hampir DNF gegara ban ku bocor sampai 3x. Di event ini aku juga berharap bisa pair dengan peserta lain.
  • Audax. Setelah absen dengan sama sekali tidak mengikuti event Audax di tahun 2024, aku berencana untuk mengikuti paling tidak 1 event Audax di tahun 2025 ini. Ada beberapa opsi kota yang ingin kuikuti:
    • Malang 300K. Alasannya sederhana, karena belum pernah gowes disini. Jarak juga terhitung moderat
    • Semarang 400K. Dulu pernah ikut Audax 200K di kota ini, rutenya menarik, dan kurasa jarak 400K lebih menarik lagi. Namun aku sedikit ragu bisa ikut karena jadwal event nya ini tepat dengan hari ulang tahun anakku yang pertama.
    • Bali 400K. Sudah lama aku ingin gowes mengelilingi Bali. Aku mungkin akan mengikuti event ini jika seandainya ada barengan untuk bisa gowes rame-rame disini. Kalau nggak sih mungkin mikir-mikir lagi.
    • Jakarta Festive 600K. Jujur aku agak kapok untuk mengikuti event Audax yang diadakan di Jakarta, karena biasanya rutenya akan menerabas banyak kemacetan. Namun karena ini jaraknya 600Km, kurasa akan banyak keluar kota. Dan karena event ini kemungkinan juga berbarengan dengan event PRCC seceng, bisa sekalian nambah-nambah kilometer.


🎯 
Eksplorasi Rute Gowes Baru

Fokusku di tahun ini adalah memperbanyak eksplorasi rute-rute sepeda tanpa melalui partisipasi di event. Itungannya sih biar nggak terlalu banyak tekanan dan bisa mencari banyak konten. Di tahun 2025 ini ada 2 rute yang ingin kujajal:

  • Jabar Banten Loop. Dengan rute mengelilingi propinsi Jawa Barat dan Banten yang memutar searah jarum jam. Estimasi jarak yang ditempuh 1.215km++ dengan elevation gain 9.925m. Karena paling nggak rute ini memerlukan 5 hari gowes full, bakalan perlu persiapan yang matang untuk menyelesaikannya, terutama untuk urusan logistiknya. Berdasarkan pengalaman Jabar Loop sebelumnya, membawa terlalu banyak barang bawaan akan menyulitkan di rute-rute yang memiliki banyak tanjakan. Sehingga sepertinya perlu diatur lagi berapa jumlah BiB & jersey ganti yang perlu dibawa. Titik drop bag juga sepertinya perlu dipertimbangkan, agar tetap bisa gowes dengan nyaman namun dengan jumlah barang bawaan yang lebih manageable.
  • Citorek Loop. Dengan rute Jakarta-Bogor-Pelabuhan Ratu - Warung Banten - Citorek - Jasinga - Tenjo - Jakarta. Estimasi jarak yang ditempuh 322km dengan elevation gain 6.164m. Target utamanya adalah menginap di Citorek dan melihat keindahan lembah di atas awan. Karena hanya perlu 2 hari, kurasa rute ini lebih mudah untuk dieksekusi tanpa perlu banyak persiapan.

🎯 Perfect Strava Badge

Aku menargetkan untuk bisa menyelesaikan Strava Challenge bulanan untuk kategori berikut:

  • 5K Challenge: Menyelesaikan aktivitas lari sejauh 5km
  • 10K Challenge: Menyelesaikan aktivitas lari sejauh 10km
  • Gran Fondo Challenge: Menyelesaikan aktivitas bersepeda sejauh 100km
  • 600K Challenge: Menyelesaikan aktivitas bersepeda sejauh 600km, akumulatif dalam 1 bulan
  • Cycling Elevation Challenge: Mendapatkan elevation gain dari aktivitas bersepeda sebanyak 7.000m, akumulatif dalam 1 bulan

Seharusnya target ini tidak terlalu susah untuk dicapai. Namun demikian tetap membutuhkan komitmen dan konsistensi, terutama untuk elevation challenge dimana dalam 1 bulan harus ada gowes nanjak.

🎯 Half Marathon

Di tahun 2025 ini, aku ingin mencoba untuk mengikuti event lari. Targetku adalah mengikuti event Half Marathon namun dengan target waktu dibawah 2 jam. Secara teori sih seharusnya memungkinkan, karena terakhir aku mencoba HM catatan waktuku 2 jam 10 menit, dimana masih banyak yang bisa di-improve. Sebelum aku serius mengikuti event lari ini, sepertinya aku harus membereskan masalah kaki kananku terlebih dahulu yang mengalami cedera. Sampai sekarang jika kupakai lari dengan pace yang agak kencang, pasti sakit.

🎯 12 Buku untuk Dibaca

Jumlah ini sebenarnya tidak terlalu menantang, karena di tahun 2024 lalu jumlah buku yang berhasil kuselesaikan jauh diatas target ini. Namun demikian, aku tidak ingin terlalu banyak fokus pada jumlah. Angka 12 ini aku anggap sebagai komitmen awal agar selalu ada buku yang kubaca di sela-sela waktu luangku. Berikut adalah judul buku yang menjadi target untuk kuselesaikan di tahun ini:

  • The Dip, Seth Godin
  • The Wealth Money Can’t Buy, Robin Sharma
  • Slow Productivity, Cal Newport
  • The Power of When, Michael Breus
  • The Decision Book, Mikael Krogerus & Roman Tschappeler
  • The Monk Who Sold His Ferrari, Robin Sharma
  • Stillness is The Key, Ryan Holiday
  • Mind Management not Time Management, David Kadavy
  • Die With Zero, Bill Perkins
  • The Science of Getting Rich, Wallace D Wattles
  • Good Vibes Good Life, Vex King
  • Same as Ever, Morgan Housel


🎯 30 % Saving Rate

Aku menargetkan angka saving rate sebesar 30% di tahun 2025 ini. Angka ini merepresentasikan rasio dari jumlah uang yang tidak terkonsumsi (unspent) yang kudapat dari gajiku selama setahun penuh. Angka unspent ini adalah sisa uang gaji setelah dikurangi seluruh pengeluaran, namun diluar pengeluaran Zakat & Infaq dimana untuk pos pengeluaran ini tidak aku ambil dari gaji, melainkan dari portofolio sahamku. Di tahun 2024, saving rate ku 46%. Melihat historis dari tahun sebelumnya, angka 30% sepertinya tidak terlalu sulit untuk dicapai. Namun demikian untuk berjaga-jaga dari pengeluaran-pengeluaran yang mendadak di tahun 2025, aku pasang target 30% agar lebih realistis.


🎯 Pertumbuhan Portofolio Saham 10%

Di saat kondisi ekonomi yang sedang mengalami banyak tekanan, angka 10% sepertinya terbilang cukup besar. Namun melihat performa portofolio sahamku di tahun 2024 yang tumbuh sebesar 12.8%, rasa-rasanya target 10% masih terhitung realistis. Angka ini mungkin akan banyak tergantung pada faktor eksternal yang berada di luar kontrolku. Yang bisa aku kontrol adalah pemilihan emiten-emiten yang mengisi portofolioku. Jadi bisa dibilang given. Seandainya pada akhirnya nanti dibawah 10% dan dibawah pertumbuhan IHSG, mungkin aku perlu me-review ulang portofolioku. Jika diberi lebih, ya alhamdulillah,



🎯 
Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging adalah metode membeli saham secara dalam jumlah tetap secara berkala tanpa perlu melihat fluktuasi harga sahamnya. Metode ini biasanya dilakukan dalam periode yang cukup panjang, sehingga pada akhirnya akan didapatkan harga rata-rata yang lebih baik jika dibandingkan dengan membeli dengan metode lumpsum.

Berkaitan dengan wishlist dan resolusiku di tahun 2025 ini, aku berencana untuk melakukan DCA pada salah satu emiten kesayanganku: MPMX dengan target minimal 8 tahun. Mengapa MPMX? Karena secara historis 5 tahun ke belakang emiten ini konsisten memberikan dividen dengan yield yang lumayan, sekitar 10% dan harganya pun relatif stabil, tidak terlalu volatile. Rencanaku, pembelian akan dilakukan setidaknya 1x setiap minggunya dengan angka lot yang tetap. Sumber dana untuk investasi di saham ini berasal dari 30% saving rate yang sudah dijelaskan sebelumnya ditambah dengan dividen yang kudapatkan dari portofolio sahamku. Agar lebih mudah dalam fungsi monitoring, evaluasi, dan kontrol, investasiku di emiten ini akan aku lakukan di akun sekuritas yang terpisah yang memang hanya diisi oleh emiten ini saja. Dengan asumsi dividen yield sebesar 10%, maka diharapkan di tahun ke-8 dividen yang kudapatkan dari emiten ini sudah setara dengan nilai top up tahunanku.

Itu adalah rencana jangka panjangnya. Untuk tahun ini, aku hanya perlu memastikan bahwa nilai top up ku sesuai dengan apa yang sudah kurencanakan. Karena rencana pembeliannya juga sudah diatur (fixed setiap minggu akan membeli minimal 1x), perlu dipastikan juga sustainability nya, jangan sampai ketika waktunya beli, dananya tidak ada.


🎯 5 Digit Portofolio Saham

Manusia hanya bisa berencana, namun rezeki sudah ada yang mengatur. Wishlist ini termasuk yang sangat ambisius, ibarat ngarep menang lotre. Tapi namanya juga #ngarep, tidak ada yang melarang. Melihat realita dan performa di tahun ini, wishlist ini akan lebih realistis dicapai dalam 2-3 tahun kedepan. Jujurly, aku melihat tahun 2025 bakalan suram. Namun pasar saham yang suram tentunya akan memberikan banyak peluang jika kita masih punya amunisi yang cukup.

Seandainya wishlist ini bisa tercapai di tahun 2025, sepertinya aku akan melakukan beberapa penyesuaian di portofolioku. Cash out beberapa emiten yang mungkin sudah bisa aku ambil profitnya, dan memindahkannya ke instrumen lain yang memberikan return yang tidak terlalu besar namun memiliki resiko yang lebih minim.



🎯 
Road Trip ke Bali

Setelah menjajal road trip ke Banyuwangi & Bali di tahun 2024 lalu, di tahun 2025 ini aku ingin menjajal kembali road trip ke Bali. Kali ini destinasiku bukan Bali Barat lagi, melainkan Bali daerah Tengah (Ubud & Bedugul) dan daerah Nusa Penida. Harapannya sih di tahun ini perjalanannya tidak terburu-buru jadi bisa benar-benar menikmati perjalanan dan mungkin mampir di beberapa kota ketika perjalanan pulang nantinya. Kota Malang dan Tulungagung ada di dalam list kota yang mungkin akan kusinggahi nantinya, sambil melihat situasi apakah waktu kami cukup untuk mampir.



🎯 
A Brand New Bike

Sebenarnya ini adalah satu wishlist yang sangat sulit untuk direalisasikan karena sepedaku saat ini masih berfungsi normal. Walaupun mungkin ada beberapa kekurangan yang disebabkan karena masa pakainya yang sudah lebih dari 8 tahun, namun aku masih bisa mentoleransi. Dengan kondisi ini, justifikasi untuk membeli sepeda baru tidak cukup kuat, walaupun sejujurnya untuk melakukan pembelian ini visa nya sudah keluar entah dari kapan. Oleh karena itu, wishlist ini akan kueksekusi dalam bentuk self reward jika emiten kesayanganku TSPC menyentuh harga 3000 di tahun 2025. GTC sudah dipasang, dan aku tinggal duduk manis, apakah harga 3000 bisa tersentuh, dan jemuran sahamku ada yang mengambil.

Sabtu, Desember 07, 2024

Mangewu Mangatus 5th series Yogyakarta 2024

Aku mengenal event ini di tahun 2023 lalu melalui postingan di instagram. Ketika itu, sepertinya sudah event yang ke-2, dengan rute starrt/finish dari kota Yogyakarta juga. Konsepnya menarik, berbeda dengan event lain dimana rutenya sudah dibuat dan peserta tinggal menjalani saja, di event Mangewu Mangatus ini peserta diwajibkan untuk membuat rute sendiri. Ada beberapa titik CP & rute parcour yang wajib dilewati. Dan terakhir, total elevation gainnya minimal 5000m (mangewu) dan jarak tempuh minimalnya 500km (mangatus). Entah apa yang membuatku pada tahun 2023 lalu tidak mengikuti event ini. Sepanjang yang kuingat, di tahun lalu aku agak-agak kebanyakan gowes. Hampir semua event audax aku ikuti, karena kebetulan daftar paket super randonneur. Dengan pertimbangan ini, aku masukkan event ini ke dalam wishlist ku di tahun 2024. Jujur, aku kesengsem dengan rutenya yang pada saat itu melewati Dieng, dan berharap di kesempatan berikutnya rutenya akan melalui Dieng juga.

Sebelum Mangewu Mangatus seri Yogyakarta, telah ada 2 seri lain: Bekasi dan Malang, namun tidak aku ikuti karena memang niatnya ikut seri Yogyakarta. Entahlah, Yogyakarta memberikan daya tarik tersendiri buatku untuk gowes. Jalanannya relatif bagus, dan mau ke arah manapun, pasti akan menemui rute nanjak, kecuali gowesnya di sekitaran dalam kota saja.

Beberapa bulan sebelum event ini, sejujurnya aku merasa galau. Event ultra terakhir yang aku ikuti adalah PVJ Mountaineering, dimana di event ini tanganku baru saja dioperasi CTS karena efek dari mengikuti event EJJ di awal tahun. Di event PVJ ini aku merasa agak “memaksakan diri”. Walaupun gowesnya aman, tapi banyak menahan rasa sakit di pergelangan tangan karena efek pasca operasi. Dengan alasan inilah, aku mencoba untuk “tahu diri”, mencoba gowes normal saja yang masih bisa kunikmati tanpa memberikan efek yang merusak.  6 bulan tak gowes minggat membuat moodku galau. Oleh karena itu aku mencoba mengajak temanku untuk pair, paling nggak bisa gowes konten dan reward nya bisa lebih baik dibandingkan dengan gowes sendiri. Awalnya temanku sudah setuju, namun apa mau dikata, sebelum Mangewu Mangatus ada event lain yang sudah menjadi wishlistnya sejak lama. Dengan kenyataan ini, mau nggak mau ya aku gowes sendiri. Berhubung aku sudah commit untuk mengikuti event ini, apapun yang terjadi mesti diusahakan untuk ikut. 

Persiapan Event

Tidak ada persiapan khusus untuk event ini. 1 bulan sebelum acara, aku hanya gowes jarak jauh (long ride) > 150km sebanyak 2x. Yang pertama gowes 190km dengan elevation 3000m++, dengan rute Jonggol-Gn Batu-Ciherang-Cibadak-Gn Pancar-Km0-Rainbow Hill-Gunung Geulis. Sengaja kuambil rute yang banyak tanjakan serta naik turun, untuk mengetes level strengthku. Disini kucoba menggunakan chainring 48/32T yang enteng untuk nanjak. Hasilnya cukup memuaskanku, bisa bertahan di semua tanjakan walaupun uji cobaku tanpa membawa beban macam-macam.

Latihan yang kedua berjarak 170km an dengan elevation gain 1500m++, dengan rute: Jasinga-Maja-Tenjo. Walaupun elevation gainnya cukup tinggi, namun tidak banyak tanjakan panjang. Rutenya didominasi oleh segmen rolling yang menguras tenaga. Dalam latihan ini, aku mencoba menguji level endurance ku dengan rute rolling sambil mensimulasikan jika aku membawa perlengkapan full (+charger, kabel, power bank, dan 1 stel Bib+jersey ganti). Hasilnya kurang memuaskan, avg speed dibawah ekspektasi. Entah apakah memang badanku yang nggaak terlalu fit ataukah karena efek dari beban yang kubawa.

Rencana Rute

Kira-kira 1-2 minggu sebelum acara, diinformasikan oleh panitia jika ada 3 titik checkpoint dan 4 segmen rute parcour yang harus dilewati oleh peserta. Titik checkpoint wajib dilewati secara berurutan, namun untuk segmen parcour ini bebas urutannya:


CP1: Indomaret Colomadu (Surakarta))

CP2: Indomaret Bawen (Ambarawa)

CP3: Indomaret Magelang

Parcour 1: Hutan Pinus Mangunan

Parcour 2: Bendungan Kedung Ombo

Parcour 3: Watu Tlatar Telomoyo

Parcour 4: Kalibening

Yang membuatku menjadi bersemangat adalah parcour 3 di Telomoyo. Tiba-tiba terbersit di dalam pikiranku untuk melihat sunrise dari puncak Telomoyo. Dengan keinginan ini, aku mulai mendesain rute melalui aplikasi Strava. Aku tidak ingin banyak bereksperimen dengan rute-rute yang tidak aku kenal ataupun tidak melalui jalanan besar agar targetku untuk melihat sunrise bisa tercapai. Patokanku adalah memanfaatkan fitur heatmaps Strava, untuk memastikan rute yang kulalui memang pernah/sering dilewati oleh sepeda, dan yang kedua aku kroscek dengan fitur Street View Google Maps, memastikan jalanannya bagus dan mulus, terutama untuk ruas yang mungkin akan kulewati setelah malam tiba.

Melihat pencapaianku di EJJ dimana dalam 1 hari aku bisa gowes sejauh 380-390km an, untuk Mangewu Mangatus ini aku coba memasang target 350km di hari pertama. Km280-290 ke atas mungkin akan kulewati ketika hari sudah malam. Dengan pertimbangan ini, yang perlu menjadi perhatianku adalah:

  • Segmen parcour Watu Tlatar Telomoyo harus kucapai setelah km350
  • Ekspektasi waktu ketika melewaati km280 s/d parcour 3 adalah di malam hari. Jadi perlu dipastikan rute/jalanan di segmen ini adalah jalanan utama
  • Ada 3 rute menuju Telomoyo: via Banyubiru/Wirogomo, via Sepakung, via Kopeng. Dengan asumsi aku nanjak ke Telomoyo di malam hari, aku memilih untuk mengambil rute Kopeng dimana jalanan yang dilewati adalah jalanan utama. Lupakan Banyubiru dan Sepakung, jalanannya sepi dan lewat hutan. Kelelahan di tengah-tengah mungkin akan sangat merepotkan.
  • Karena ada aturan tidak boleh melewati rute yang sama 2x (maks 10km), aku putuskan untuk menuruni Telomoyo melalui rute Banyubiru/Wirogomo. Ini jadi pertimbanganku juga untuk melihat sunrise di Telomoyo, asumsi aku datang lebih cepat, tak perlu buru-buru turun. Jalanan sepi + jalanan sepi + turunan agak-agak berbahaya menurutku.
  • Ekspektasiku, setelah menuruni Telomoyo aku langsung menuju parcour 4 dan CP3, dan langsung menuju titik finish tanpa perlu memutar-mutar untuk mencari tambahan kilometer lagi. Setelah aku hitung-hitung jaraknya dari parcour 4 sekitar 100km, jadi ketika aku sampai di parcour 3, jarak yang kutempuh telah melewati angka 400km.

Dengan pertimbangan diatas, beginilah rute yang kubuat:

rute awal Mangewu Mangatus

Dari titik start aku akan memutar terlebih dahulu untuk mencari jarak, lalu menuju Imogiri dan parcour 1: Hutan Pinus Mangunan (km75), dari sini aku menuju Wonosari namun melewati jalur luarnya untuk menambah kilometer dan berbelok ke utara menuju Klaten, lalu melewati jalan utama Klaten-Surakarta untuk menuju CP 1: Indomaret Colomadu (km200).

Selanjutnya dari CP1, aku mengarah ke Sragen melewati jalur propinsi. Sebelum memasuki kota Sragen, berbelok ke arah barat laut menuju parcour 2: Bendungan Kedung Ombo di km277 lalu terus menuju Juwangi. Sebelum Juwangi, berbelok ke selatan sebelum akhirnya berbelok lagi ke arah barat menuju kota Salatiga, dan terus ke utara menuju CP 2: Indomaret Bawen (km358).

Dari CP 2, aku melewati lingkar luar Ambarawa menuju Banyubiru dan mengarah ke kota Salatiga lagi, sebelum akhirnya ke arah barat menuju Kopeng, lalu ke parcour 3 Telomoyo (km398). 

Dari parcour 3, aku tinggal menuruni Telomoyo via rute Wirogomo/Banyubiru, menuju jalur utama Bawen-Yogyakarta. Setelah melewati jalanan utama, tinggal melewati rute rolling dan turun ke arah Magelang. Sebelum Magelang keluar jalur untuk menuju parcour 4: Kalibening, lalu muter-muter melewati jalur gravel/gang (jujur rute ini kurang meyakinkan jika kulihat melalui Street View Google Maps) sebelum akhirnya menuju kota Magelang dan ke CP3: Indomaret Magelang.

Dari CP3, seharusnya aku tinggal turun menuju titik finish di Yogyakarta dengan jarak tempuh 43km.


Settingan Sepeda & Barang Bawaan

settingan minimalis
Pada awalnya aku berniat untuk membawa BiB & jersey ganti, itung-itung sekalian ngetes tas punggung apidura yang baru kubeli. Pada akhirnya aku putuskan untuk gowes minimalis saja. Chainring 48/32T yang tadinya akan aku gunakan pun aku ganti menjadi 52/34T, karena khawatir baterai power meter assioma ku tidak akan sanggup bertahan hingga finish nanti. Jadinya aku menggunakan power meter rotor inspider yang daya tahannya lebih lama ditambah dengan cleat MTB, untuk berjaga-jaga kalau semisal perlu TTB pas nanjak ga bikin susah.

Secara umum berikut adalah settingan sepeda yang kupakai untuk acara Mangewu Mangatus kemarin

  • Sepeda: Polygon Helios A8, keluaran 2013
  • WS Superteam 50mm, timbrake
  • Ban: Schwalbe Pro One 28c
  • Sprocket: 11-32T SRAM
  • Crankset: Rotor + Inspider Power Meter
  • Chainring: Rotor 52/34T oval
  • Pedal Shimano XT, cleat MTB
  • Aerobar: Profile Design dengan riser 50mm

Untuk barang bawaannya:

  • Bidon 620ml: 2x
  • Cyclocomp: Wahoo Elemnt Bolt (navigasi utama)+ iGPSport iGS 630S (backup)
  • HRM: iGPSport HR70
  • Lampu depan:  Suba 1000lumens + NiteCore MH12
  • Lampu belakang: Rockbros & iGPSport TL30
  • Saddle bag rockbros yang berisi: pompa portabel, ban cadangan 2x, tire lever, tools, dan perintilannya
  • Apidura packable bag backpack yang berisi: handuk kecil, sarung, charger, kabel, power bank, dan jas hujan
  • Helm: Giro Vanquish
  • Apidura top tube bag, isinya kosong, cadangan untuk menyimpan power bank & HP jika hujan
  • Pouch bag yang berisi: stok strive gel, EJ Sport, Endurego, dan Beng-beng
  • Sepatu Shimano RX800
  • Gloves: Giro Supernatural


H-1 acara

Aku menginap di LPP Garden Hotel, tempat yang sama dengan titik start & finish. Disini aku janjian dengan temanku Om Ewin, sebelumnya pernah gowes bareng di event Audax Yogyakarta 1200K & 600K. Lumayan setelah nggak ketemu lama, banyak hal-hal yang didiskusikan termasuk plan untuk mengikuti event di tahun-tahun berikutnya. Ini adalah event minggat nya dia yang pertama setlah sebelumnya vakum cukup lama gegara mengalami musibah di Audax 600K. 

Hari H: Start s/d CP1 - Indomaret Colomadu (200km)

rute Start - CP1
Di hari H sempat ada drama buatku. Karena proses check in di titik start & check point baru di sosialisasikan di malam sebelum acara, sebelum start aku sudah panik dan ribet duluan karena gagal check in di titik start. Proses check in nya menggunakan web IkutAja, yang digunakan untuk proses registrasi event pertama kali. Ternyata alamat email yang kugunakan berbeda dengan yang kugunakan untuk check in, jadi bolak-balik lah sampai perlu reset password. Sebenarnya sih nggak ribet jika sudah disosialisasikan lebih awal sehingga bisa di-prepare sebelum race. Disaat peserta lain sudah mulai jalan, aku masih nguprek-nguprek di meja panitia.

Pada akhirnya aku berhasil check in, dan tak berlama-lama, aku langsung memulai perjalananku untuk menyelesaikan rute yang telah kubuat.

CP1 menjadi titik CP terjauh yang kutempuh di event ini. Setengah jalur ring road Yogyakarta kulewati dari arah barat menuju timur untuk menambah kilometer. Jalan didominasi oleh aspal/cor mulus dan relatif flat hingga km70 an di daerah Imogiri. Nah dari sini penyiksaan pertama dimulai, jalanan dari Imogiri menuju parcour 1 di Hutan Pinus Mangunan seolah berubah 180 derajat. Tanjakannya lumayan berat, paling tidak diluar ekspektasiku karena baru pertama kali lewat sini. 

foto-foto di titik Start

Setelah melewati CP1, tantangan menjadi relatif mudah. Rute didominasi rolling walau cenderung turun hingga daerah Wonosari. Jalanannya pun terhitung mulus. Aku berhenti di Indomaret di daerah Wonosari, km120an untuk mengisi bidon & refuel. Setelah Wonosari ruteku berbelok ke utara menuju Klaten. Jalanannya berubah, nggak semulus yang sebelumnya tapi masih terhitung oke untuk dilewati. 

Hutan Pinus Mangunan

Dari Klaten menuju Solo, sudah tentu jalanannya mulus karena ini adalah jalanan utama. Disini aku sangat terbantu oleh keberadaan aero bar. Rolling speed 33-35kph dapat dicapai tanpa effort, power zona 1, terbantu oleh ramainya kendaraan dan jalanan yang mulus.

Aku sampai di CP 1 jam 1 siang setelah menempuh jarak 200km. Disini aku re-fuel lagi. Karena tidak ada mesjid di dekat CP1, aku memutuskan untuk tidak berlama-lama disini dan melanjutkan perjalanan.

Hari H: CP1 s/d CP2 - Indomaret Bawen (160km)

rute CP1 - CP2
Sebelum keluar dari kota Solo, aku melipir lagi untuk sholat. Karena belum lapar walaupun sudah jam 2 lewat, aku putuskan baru akan berhenti lagi nanti kalau sudah lapar.

Ruteku kali ini menuju kota Sragen. Jalanan yang kulewati tentu saja jalanan utama. Dan kali ini aku terbantu lagi oleh aero bar. Effort minim, kecepatan diatas 30kpj, dan bisa sekalian mengistirahatkan lengan. Sebelum memasuki kota Sragen, aku berbelok ke arah utara. Ini adalah rute yang sama ketika mengikuti event Audax 1000k Yogyakarta tahun lalu. Jalanannya belum berubah, masih kurang oke untuk sepeda, didominasi oleh cor namun banyak retakan. Di jalan menuju parcour 2 Bendungan Kedungombo jalanannya sedikit kubelokkan sebelum akhirnya kembali lagi ke jalur utama, lagi-lagi untuk menambah kilometer. Disini aku ketemu dengan penjual es teh, dan kuputuskan untuk membeli es teh sebelum melanjutkan perjalanan.

Aku sampai di Bendungan Kedung Ombo sekitar jam 5 sore (km 290an). Sampai segmen parcour bendungan jalanannya mulus walaupun ternyata rutenya banyak didominasi segmen rolling yang menguras tenaga. Tak lama setelah melewati parcour, hujan turun. Tak disangka-sangka lumayan deras. Aku tidak memperhitungkan kalau di daerah sini, jam 5:30 sore sudah cukup gelap. Dengan kombinasi jalanan agak gelap + hujan deras, kondisi jalanan di depan menjadi tidak terlalu terlihat. Karena belum benar-benar gelap, lampu sepeda pun tidak terlalu bisa membantu. 

Akhirnya apa yang aku khawatirkan pun terjadi, ada lubang yang tidak terlihat karena dipenuhi air, di turunan pula. Ban sepedaku pun langsung bocor. Setelah kucek, depan dan belakang bocor. Berhubung lokasinya ada di tengah hutan, tanpa berpikir panjang aku langsung menuntun sepedaku mengikuti rute, berusaha untuk mencari tempat teduh yang cukup terang untuk bisa mengganti ban.

Beruntung sekitar 300an m dari lokasiku ada warung. Aku pun berteduh disini sambil berusaha menganti ban dalamku. Karena basah dan banku penuh dengan air, jadi lumayan PR juga untuk mengeringkan sambil memeriksa kondisi ban luarku takut kenapa-kenapa. Disini kuputuskan untuk makan malam sekalian. Disini aku berusaha untuk mencari titik bocor ban dalamku, berharap masih bisa kutambal. Karena bawa ban dalam serep cuma 2, tentunya kalau kenapa-kenapa lagi ya tamatlah perjalananku di event ini. Kondisi ban yang serba basah, serta pompa portabel yang kapasitasnya kecil sangat menyulitkanku untuk mencari titik bocor. Karena bukan bocor halus, tiap kali aku pompa langsung kempes. Akhirnya kuputuskan untuk menyimpan ban dalamku yang bocor, siapa tahu bisa kuperbaiki lagi nanti.

parcour 3 dan CP2

Setelah 1 jam lebih berada di warung, aku melanjutkan perjalanan sekitar jam 7 malam lewat. Aku mulai meragukan rencana awalku untuk bisa melihat sunrise di Telomoyo. Masih ada 100km lagi hingga Telomoyo. Jika jalurnya flat dan jalanannya mulus tentunya akan lebih mudah memperkirakan waktu tempuhnya. Kondisi jalanan yang gelap, banyak lubang, hujan, dan tentunya masih banyak tanjakan sebelum Telomoyo membuatku sedikit frustasi. Apalagi ban cadanganku sudah habis.

Aku melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati. Kecepatan aku kurangi, terutama di turunan. Untuk menghindari terkena lubang. Hujan yang cukup deras juga menghalangi pandangaku yang menggunakan kacamata. Rutenya pun bukan kaleng-kaleng. Banyak rolling, dan tiap kali turunan nggak berani menghajar. Jadi banyak effort yang keluar di segmen ini.

Di sekitaran km311, aku tak sengaja menghajar lubang yang tak terlihat. Lubangny tak terlihat karena berada di sambungan dengan jembatan. Banku bocor lagi. Kali ini ban belakangku saja yang kena. Alhamdulillah ban depan masih aman. Mentalku langsung drop disini, karena ban cadanganku sudah habis. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan walaupun bukan di hutan, kota terdekat (Salatiga) masih berjarak sekitar 40km lagi. Sempat terpikir untuk DNF, best case ya menunggu besok untuk mencari ban serep cadangan. Karena di event ini rutenya berbeda-beda tiap peserta, kupikir akan sangat kecil kemungkinannya untuk bertemu dengan peserta lain.

Namun demikian, aku berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Kubongkar ban belakangku. Kucoba mencari titik bocornya ban. Masih bisa dicari ternyat, hanya perlu effort lebih karena hanya mengandalkan pompa portabel. Setelah ketemu titik bocornya, aku coba tambal, bisa. Pas dipasang, ternyata masih bocor. Semakin deg-degan karena aku ternyata hanya membawa tambalan 2 biji saja. Aku bongkar lagi banku, kuganti dengan ban yang sebelumnya bocor, bisa kutambal. Alhamdulillah ketika kupompa bisa. Tak terasa nguprek-nguprek masalah ban ini menghabiskan waktu 1 jam lebih. Jam 10malam lewat aku melanjutkan perjalanan kembali.

Kondisi yang tak terduga ini membuatku tersadar. Untuk event dengan rute yang bakalan kecil ketemu dengan peserta lain, mungkin alangkan lebih baik jika membawa ban cadangan lebih banyak. Kurasa 4 ban cadangan lebih aman, dengan mempertimbngkan juga kondisi musim hujan. Untuk tambalan ban, sepertinya jug perlu membawa lebih banyak. Kesalahanku juga tidak mengecek berapa tambalan yang kubawa.

2 kali mengalami bocor ban membuatku semakin hati-hati. Energiku pun sepertinya lumayan terkuras hanya untuk mengganti ban. Badanku sudah lelah, namun aku tak ingin beristirahat sebelum sampai CP2.  Alhamdulillah pada saat itu sudah tidak hujan lagi, dan jalanan yang kulalui juga terhitung bagus, sudah masuk di jalan utama menuju kota Salatiga. Namun demikian, rutenya diluar ekspektasiku. Rolling nya masih banyak, dan sebelum masuk Salatiga seingatku ada segmen tanjakan yang lumayan panjang (5km++). Gradiennya sih nggak terlalu parah, namun kalau tubuh sudah lelah, rasanya menyiksa.

Setelah melewati Salatiga, kondisinya lebih baik. Jalan propinsi gitu lho. Dan jalanannya relatif menurun, disini aku baru berani ngegas, karena jalanan dan penerangannya bagus. Akhirnya aku sampai di CP2 (km360) sekitar jam 12 malam. Disini aku beristirahat agak lama karena sudah lumayan mengantuk, sambil nge charge HP dan cyclocomp ku. Baru sadar Wahoo Elemnt Bolt ku tidak bisa ku charge, penyakit yang klasik ketika mencoba nge charge dalam kondisi basah, agak korslet. Kondisi ini pernah kualami ketika Audax Yogyakarta 600K dulu. Kupikir Wahoo ku rusak, ternyata setelah kering masih bisa di-charge. Dengan sisa baterai 44% lagi, aku berharap bisa bertahan sampai titik finish. Ada sih cyclocomp backup ku iGPSport, namun untuk navigasi aku lebih mempercayakan pada Wahoo.

Hari H: CP2 s/d CP3 - Indomaret Magelang (100km)

rute CP2 - CP3
Aku melanjutkan perjalanan dari CP3 sekitar jam 1:15 dini hari, langsung menuju jalan lingkar luar Ambarawa sebelum akhirnya berbelok ke arah Banyubiru. Disini aku melipir untuk mencari mesjid, sholat sekalian mengganti pakaian dalam dan kaos kaki yang sudah basah. Di Banyubiru aku terpaksa memutar balik. Karena di titik ini beririsan dengan rute ku setelah turun dari Telomoyo, rutenya kubuat sedikit lain, yang ternyata ini masuk ke komplek militer dan jalanannya ditutup.

Dari Banyubiru aku berbelok lagi menuju kota Salatiga. Nah disini jalanan mulai menanjak. Tanjakannya bukan kaleng-kaleng: panjang dengan gradien yang lumayan. Terakhir kali aku ke Kopeng, aku sempatkan untuk memutari Gn Merbabu. Walaupun melewati rute yang berbeda, pada saat itu aku merasa tanjakannya lumayan berat. Nah kali ini ditambah kondisi badan sudah lelah dan mengantuk, masih dikasih tanjakan dengan elev gain 1200m++ hingga titik parcour 3 di Telomoyo.  Di tengah-tengah perjalanan aku putuskan untuk melipir karena sudah mengntuk. Aku menemukan tempat terbuka tapi bisa duduk sambil bersandar. Kumanfaatkan waktu 30 menit untuk power nap. sebelum aku melanjutkan perjalanan menuju Telomoyo.

Aku sampai di Telomoyo sekitar jam 04:30, sudah lewat waku shubuh. Disini aku sholat shubuh, dan rencanaku langsung lanjut naik ke atas menuju segmen parcour 3. Ternyata disana aku ketemu peserta lain, Rangga, cyclist yang aku kenal cukup baik dan sudah ketemu beberapa kali di event Audax 1000K dan EJJ. Ternyata dia sudah sampai duluan dan beristirahat di warung sebelah. Akhirnya aku putuskan untuk melipir dulu, makan indomie dan minum teh manis panas. Rangga ternyata belum melewati parcour 3, rencananya dari Telomoyo akan turun melewati rute Sepakung, sementara aku melewati rute Wirogomo/Banyubiru. Dia bilang rute Sepakung lebih bagus jalanannya, namun lebih curam. Akhirnya kami berpisah di gerbang masuk Telomoyo karena Rangga mau ke toilet terlebih dahulu. Aku  ijin untuk jalan duluan.

sunrise di Pagergedog & otw menuju Banyubiru

Rute Telomoyo yang terberat adalah di awal-awal. Kali ini aku sudah sempoyongan untuk melibas tanjakan menuju parcour 3. Tenag ekstra yang kudapatkan dari makan indomie cukup membantu. Puncak Telomoyo kulihat berkabut dan hari sudah lumayan terang walaupun baru jam 5 lewat. Aku merasa sedih karena rencanaku untuk melihat sunrise di Telomoyo gagal, namun dengan kondisi yang kualami, aku merasa bersyukur bisa sampai pada titik ini. Aku hanya berpikir, mungkin suatu saat akan ada kesempatan lagi untuk gowes kesini dan menikmati matahari terbit.

Dari parcour 3 aku langsung menuruni Telomoyo ke arah Pagergedog, tak perlu meneruskan perjalanan menuju puncak Telomoyo. Di Pagergedog, aku melewati jalanan terbuka yang memberikan pemandangan puncak gunung Telomoyo, Walaupun matahari sudah tinggi, namun pemandangaannya masih indah. Kusempatkan untuk berfoto-foto sebentar disini sebelum melanjutkan turun ke arah Banyubiru. Dalam perjalananku menuruni gunung, aku bertemu fotografer Rute Syahdu. Lumayan banyak dapet jepretan disini.

Rute melalui Banyubiru ternyata sesuai dengan informasi dari Rangga. Jalanannya kurang bagus, jadi tiap kali mau melewati jalanan jelek, terpaksa mengerem agak banyak, daripada kenapa-kenapa lagi akan sangat bermasalah disini. Beruntung jalanan yang jeleknya di awal-awal saja, begitu sudah sampai tengah-tengah sampai Banyubiru, aspalnya relatif mulus.

Dari Banyubiru, ruteku berbelok ke kiri menuju jalan raya utama Ambarawa - Magelang. Disini masih ada tanjakan dan segmen rolling yang lumayan banyak. Melelahkan, tapi tidak selelah malam sebelumnya. Setelah segmen rolling nya habis, jalanan berubah menurun. Udara pagi yang masih segar, lalu lintas yang relatif sepi, dan jalanan menurun menjadi kombinasi yang pas. Kali ini aero bar ku kumanfaatkan dengan baik untuk menambah kecepatan di turunan.

Sebelum Magelang, aku keluar rute utama untuk menuju parcour 4: Kalibening. Kontras sekali dengan kecepatan tinggi yang kudapatkan di turunan, aku berbelok memasuki jalanan tanah berpasir dan banyak genangan dimana-mana. Inilah segmen gravel parcour 4 yang diakhiri dengan menyeberang sungai melalui jembatan gantung. Disini aku berpikir sempat berpikir untuk memutar balik dan kembali ke jalur utama. Namun pada akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan gowes sesuai dengan rute yang kuambil.

Ternyata rutenya bukan kaleng-kalen. Setelah menyeberang jembatan jalanannya hanya berupa jalanan semen yang mungkin cuma muat untuk dilewat 2 sepeda motor. Yang membuatku menyesal adalah rutenya ternyata menanjak. Dan aku sampai kaget di cyclocomp ku muncul segmen tanjakan dengan warna merah. Belakangan aku baru tahu ada segmen tanjakan 2.2km dengan elevation gain 150m an. Padahal nggak ada bukit disitu. Karena lumayan curam dan diluar dugaanku, aku memutuskan untuk tuntun bike saja. 

rute CP3 - Finish
Keluar dari segmen ini akhirnya ketemu jalanan aspal, namun ternyata rutenya juga tidak mudah karena naik turun. Akhirnya setelah ketemu jalanan yang cukup besar, kena prank lagi ketika memasuki kota Magelang. Dikasih tanjakan pendek namun dengan gradien yang lumayan,

Akhirnya aku ketemu lagi dengan jalur utama: jalur propinsi Ambarawa-Yogyakarta. Beberapa km dari titik itu, aku sampai di CP3. Entah jam berapa aku sampai sana, kurasa sekitaran jam 8:30 pagi. 

Hari H: CP3 s/d Finish

Di CP3 aku tak mau berlama-lama, hanya check in melalui aplikasi setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Air di bidon ku sudah mau habis, tapi kupikir dengan kondisi jalanan yang relatif menurun dan dengan sisa jarak tempuh sekitaran 43km ke titik finish, aku merasa masih bisa bertahan. 

Dengan sedikit ngegas aku lanjutkan perjalanan. Aero bar jelas sangat membantu disini. Namun aku sedikit underestimate dengan rutenya. Walaupun didominasi turunan, ada juga tanjakan-tanjakan halus nya. Beberapa kali pengen melipir untuk beli minum, namun kupaksakan untuk terus melaju untuk meneruskan momentum.

akhirnya: finish
Pada akhirnya aku finish sekitar jam 10:10 pagi. Total jarak yang kutempuh 504 km, elevation gain 5.620m, dengan waktu 22 jam 39 menit, elapsed time 28 jam 33 menit. Walaupun target utama tidak tercapai, paling nggak bisa jadi first finisher di event ini.