Monday, March 16, 2009

Sarapan dan Efisiensi

Mulai awal bulan Maret ini, perusahaan tempat aku bekerja menyediakan sarapan pagi mulai pukul 07:30 s/d 08:15. Jika sebelumnya hanya menyediakan makan siang, sekarang makan pagi juga disediakan, walaupun jumlah porsinya terbatas. Ini tentunya cukup menggembirakan melihat kenyataan beberapa rekan kerjaku seringkali mesti mencari sarapan keluar ketika baru datang ke kantor. Secara pengeluaran, sarapan pagi secara gratisan di kantor berarti penghematan dana untuk sarapan.

Sementara aku sendiri biasanya sarapan di rumah, jadi sebenarnya kebijakan ini tak terlalu berpengaruh. Hanya saja jika aku berniat untuk sarapan di kantor, aku bisa berangkat lebih pagi dari biasanya. Dengan berangkat lebih pagi dan sarapan di kantor, aku bisa menghemat pengeluaran untuk transportasi. Jika biasanya aku naik kereta KRL AC Express seharga 8.000 rupiah, dengan aku datang lebih pagi, aku bisa memilih untuk naik KRL Ekonomi AC dengan tiket seharga 4.500 atau KRL Ekonomi biasa dengan tiket seharga 1.500 rupiah. Dari sisi kenyamanan, aku rasa tak terlalu beda jauh. KRL Ekonomi biasa walaupun tak ber AC, tapi penuhnya nggak nyesek-nyesek banget seperti KRL Ekonomi Jakarta-Bogor. Aku masih bisa baca buku dengan tenang di sepanjang perjalanan.

Kembali ke masalah sarapan pagi di kantor, saat ini aku lihat perilaku dan kebiasaan orang-orang di kantorku mulai berubah. Well.. entah kapan mulainya, tetapi dari dulu walaupun disebutkan jam kantor adalah jam 08:00 s/d 17:00, ini tak berlaku mutlak. Datang jam setengah 9 pun masih bisa dibilang kantor masih sepi. Hanya segelintir ornag-orang yang benar-benar berniat datang pagi. Menurut pengamatanku, kebanyakan rekan-rekan kerjaku mulai benar-benar bekerja jam 9 ke atas.

Entahlah apakah tujuan sampingan dari menyediakan sarapan pagi ini adalah mendorong karyawan agar datang lebih pagi atau tidak. Karena menurutku cara ini sangat halus dan persuasif, dan tampaknya bisa dibilang cukup berhasil. Jika dibandingkan dengan cara kasar dan sedikit memaksa, malah aku lihat tidak akan berhasil karena dari pengamatanku kebanyakan rekan-rekan kerjaku sendiri tipikal orang yang fleksibel dalam urusan waktu, yang penting kerjaan beres. Mari kita lihat dalam sebulan ke depan, apakah bisa memberikan perubahan positif yang cukup signifikan pada perilaku orang-orang disekitarku yang akhirnya bisa mengarah pada efisiensi. Who knows? Hanya waktu yang bisa menjawabnya..

0 comments: