Monday, March 30, 2009

Puteri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Inilah buku ke-4 Jostein Gaarder yang aku baca setelah Dunia Sophie, Gadis Jeruk, dan Misteri Soliter. Buku ini menceritakan kisah Petter si laba-laba. Petter ketika kecil digambarkan sebagai seorang anak yang penyendiri dan jarang bergaul dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian Petter memiliki imajinasi yang kuat sehingga dalam kesendiriannya, dia seringkali menciptakan permainan-permainan dalam bayangannya sendiri.

Gaarder menggambarkan secara implisit Petter kecil sebagai sosok yang bisa dibilang cerdas dan melebihi anak-anak sebayanya yang lain. Ada plot yang menceritakan bagaimana dia mendapatkan uang dengan cara mengerjakan PR teman-temannya. Dan hebatnya lagi, dengan kemampuannya, bahkan dia bisa mengerjakan PR teman-temannya secara kolektif namun hasilnya disesuaikan, sesuai dengan kemampuan temannya. Jadi jika temannya memang dirasa tak mampu, dia tak akan memberikan jawaban yang akan memberinya nilai A. Para guru tidak menyadari jika ternyata PR yang dikerjakan oleh murid-muridnya ternyata hanya dikerjakan oleh satu orang saja.

Dengan daya imajinasinya yang tinggi, Petter seringkali membuat dongeng-dongeng. Dia tak pernah sekalipun kehabisan ide. Selalu saja dia memiliki ide untuk ditulis. Sebenarnya dia bisa saja menjadi penulis hebat, tetapi dia tidak menginginkannya. Petter lebih senang menjadi orang yang berada di belakang layar. Karena dia membutuhkan uang, akhirnya dia jual ide-idenya kepada penulis ataupun calon penulis yang mengalami kebuntuan ide sampai akhirnya terbentuklah jaring rahasia antara Petter dan mereka. Para penulis mengetahui bahwa Petter hanya menjual idenya ke mereka, tanpa tahu bahwa dia juga sebenarnya menjual idenya untuk penulis lain.

Namanya juga cerita, rahasia Petter mulai tercium oleh para penulis tersebut. Para penulis mulai curiga kepada Petter dan tentu saja masalah ini menjadi sangat pelik. Dalam bukunya, diceritakan juga bagaimana Petter diam-diam merekam dan menyimpan bukti setiap transaksi, sehingga bila dia dibunuh, penyebabnya akan diketahui. Benar-benar kisah yang hebat menurutku, karena segala sesuatunya seolah diceritakan secara matang dan penuh rencana.

Kondisi ini tentu saja meresahkan Petter dan dia harus segera mencari cara untuk lepas dari jaring laba-laba yang dia ciptakan sendiri. Dalam pelariannya, dia justru menemukan sesuatu yang tak disangka-sangka, yang menjadi ending dari novel tersebut.

Tak seperti ketiga bukunya yang aku baca sebelumnya, novel ini tak terlalu sarat dengan filosofi-filosofi. Lebih gampang dipahami lah intinya. Di awal membaca buku ini, rada-rada bosan dan kesel, karena isi buku ini sebenarnya adalah kisah Petter yang diceritakan ulang oleh dirinya sendiri, sehingga kebanyakan bagian dari buku ini menggunakan kalimat-kalimat tak langsung. Agak-agak mengesalkan dan terasa monoton. Tetapi begitu konflik ceritanya mulai kelihatan apalagi setelah mengetahui ending ceritanya sangat tak terduga, rasa-rasanya nggak rugi aku membaca buku ini. Pada akhir kisahnya, aku baru menyadari mengapa judul novel ini adalah 'Puteri Sirkus' yang secara nyata tak ada hubungannya dengan alur cerita utamanya.

3 comments:

edel said...

whew, joostein gardner lagi. gw baca dunia sophie aja gak abis2 :P

Eko Budi Prasetyo said...

Dari 5 bukunya yang udah gw baca, Dunia Sophie emang yang paling ribet. Yang lain lebih ringan lah..

kupretist said...

baca juga bukunya yang berjudul MAYA

http://media.kompasiana.com/buku/2011/04/29/maya-waktu-dalam-kehidupan-manusia/