Wednesday, January 14, 2009

Sekilas Three Cups of Tea: Inspiratif dan Menyentuh

Buku yang ditulis oleh Greg Mortenson dan Oliver Relin ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Greg Mortenson, seorang pendaki gunung yang pada awal cerita di buku tersebut sedang berusaha mendaki K2, gunung kedua tertinggi di dunia. Pendakian tersebut pada akhirnya gagal karena salah satu anggota tim rombongan pendaki mengalami musibah: paru-parunya dibanjiri cairan dan darah akibat tekanan dan tipisnya atmosfer di ketinggian, dan harus segera diselamatkan dengan membawanya turun ke tempat yang lebih rendah. Akhirnya Mortenson dan salah satu rekannya yang membawanya turun ke base camp yang lebih rendah. Proses penyelamatan ini akhirnya menguras energi Mortenson dan memaksanya turun gunung dan tidak bisa melanjutkan pendakian. Pada saat turun gunung, Mortenson tersesat, dan alih-alih menuju desa yang ia tuju, ia tiba di sebuah desa yang bernama Korphe yang tidak tertera di peta. Dalam kisah ini, Mortenson diselamatkan dan dirawat oleh pemimpin desa, Haji Ali hingga ia sembuh. Mortenson terenyuh dengan kebaikan Haji Ali dan keluarganya, dan untuk membalas kebaikannya, dia berjanji untuk membuat sekolah di Korphe.

Itulah awal kisah yang menjadi inti dari buku ini. Selanjutnya dalam buku tersebut diceritakan perjuangan Mortenson untuk mencari dana sebesar 12 ribu dolar untuk membangun sekolah di Korphe. Pada akhirnya dia mendapatkan dana tersebut dari Jean Hoerni, seseorang yang kaya raya yang ketika mudanya pernah menjadi pendaki gunung. Jean Hoerni akhirnya mendirikan CAI (Central Asia Institute) dan menunjuk Mortenson sebagai direkturnya. CAI memiliki misi untuk membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil di Pakistan dan Afghanistan yang tidak terjangkau oleh pemerintah. Kisah perjuangan Mortenson dalam membangun sekolah-sekolah yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan inilah yang mewarnai buku ini hingga halaman terakhirnya.

Judul buku Three Cups of Tea diambil pepatah Balti, dimana di dalam buku ini dikutip dari kata-kata Haji Ali:
"...(Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir yang pertama engkau masih orang asing; cangkir yang kedua, engkau teman; dan cangkir yang ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun - bahkan untuk mati."
Rasa-rasanya tak salah mengambil judul seperti itu. Buku ini menceritakan bagaimana tradisi minum teh untuk menjamu seorang tamu seolah menjadi seperti kewajiban. Dan tiap kali Mortenson melakukan suatu kunjungan, baik itu untuk urusan bisnis atau bukan, selalu saja acara minum teh tak pernah terlewat untuk diceritakan.

Buku ini menurutku sangat menarik walaupun ceritanya agak-agak monoton (karena memang bukan novel sih). Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana pembangunan sekolah-sekolah ini bisa menjadi alat untuk melawan terorisme. Pada salah satu plot di buku ini menceritakan kondisi Afganistan dan Pakistan ketika rezim Taliban berkuasa hingga pada akhirnya terjadilah kejadian 9/11, dimana pada saat itu Amerika menyerang Afghanistan dan menyisakan banyak sekali korban. Dari buku tersebut diceritakan bahwa kaum ekstrimis seperti Taliban merekrut prajuritnya melalui sekolah-sekolah yang sumber dananya diselundupkan dari negara-negara yang mendukung tindakan-tindakan terorisme ini. Melalui sekolah ini, anak-anak yang memang di daerahnya tidak memiliki sekolah lain akan terpaksa untuk bersekolah disana, yang kemudian akan didoktrinasi untuk menjadi teroris. Melalui sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini, diharapkan pengaruh dari sekolah-sekolah kaum ekstrimis ini berkurang. Bukan berarti sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini pro Amerika lho. Karena tujuannya semula CAI ini berusaha memerangi kemiskinan dan menyediakan sekolah bagi kaum perempuan yang notabene dilarang disana.

Terlepas dari apakah buku ini terlalu subjektif atau tidak, buku ini layak untuk dibaca. Perjuangan dan kerja keras Mortenson dalam kisah ini patut untuk ditiru. Sangat inspiring menurutku, bahwa hanya dengan satu orang saja, bisa membawa begitu banyak perubahan untuk penduduk di Pakistan dan Afghanistan. Dan satu hal lagi yang patut untuk direnungkan adalah isu pendidikan yang menjadi misi utama Mortenson. Akan seberapa besarkah dampak yang diakibatkan jika daerah-daerah terpencil di Indonesia diberikan sarana pendidikan yang memadai secara merata? Mungkin pengaruhnya tidak akan terasa secara langsung, tetapi dalam beberapa generasi, bisa terlihat dampaknya.

4 comments:

rezaachmad said...

"Kali pertama kau minum teh bersama seorang Balti, Kau masih seorang asing . Kali kedua kau minum teh , kau adalah tamu yang di hormati . Kali ketiga kau berbagi semangkuk teh , kau menjadi keluarga . Dan untuk keluarga kami , kami bersedia untuk melakukan apapun, bahkan untuk mati sekali pun"

ya mungkin itu yang saya ingat setelah membaca buku yang mungkin tidak tersentuh itu,menurut saya ini sangat menginspirasi kan saya ketika saya besar nanti dan berpenhasilan untuk membuat (setidaknya) membantu mereka dalam pendidikan, mungkin akan menjadi pengajar sementara di daerah yang membutuh kan, akhir akhir ini saya menjadi terinspirasi untuk membuka lebih dalam mengenai rahasia dari K2,

selamat membaca bagi yang belum membaca dan salam kenal yah

Eko Budi Prasetyo said...

@reza achmad
Salam kenal juga. Iya tuh, bukunya inspiratif. Wajib dibaca oleh semua orang yang peduli akan pentingnya pendidikan. Bangsa ini harusnya bisa mencontoh apa yang dilakukan Greg Mortenson di Balti sana.

aam said...

Dan yg pasti bagaimana agar kita bisa berperan dalam ketersediaan pendidikan yg memadai dengan biaya terjangkau..
Ok ma pren!
Action? Yuu

nallied said...

salam kenal...sy nina...
buku ini bner2 inspiratif n kren bgt, klw aj smua ngara d dunia mw nglakuin kyk greg psti g ad lg prang..gw pgn bgt bs jdi volunter bt yayasan CAI, klw ad yg tau crany tlg informasinya yaa......
makasihhh...ayo kita sm2 nyaranin org2 bt bc bku ini