Wednesday, January 07, 2009

Sekilas The Orange Girl (Gadis Jeruk): Novel Penuh Makna

Buku yang aslinya berjudul Appelsinpiken ini dikarang oleh Jostein Gaarder, pengarang Sophie's World atau Dunia Sophie. Setelah diterjemahkan, bukunya berjudul The Orange Girl atau dalam bahasa Indonesianya menjadi Gadis Jeruk.

Buku ini bercerita tentang Georg Roed, seorang remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Oslo. Georg tinggal bersama ibu, ayah tirinya (Jorgen), dan adik perempuannya dari pernikahan ibu dengan ayah tirinya. Ayah kandung Georg telah meninggal 11 tahun sebelumnya, ketika dia berusia 4 tahun.

Alur cerita dari buku ini muncul ketika nenek Georg menemukan sebuah surat yang ditulis ayah Georg 11 tahun yang lalu beberapa saat sebelum meninggal. Surat tersebut ditujukan untuk Georg. Isi surat inilah yang kemudian dipaparkan dalam buku The Orange Girl dan menjadi inti cerita di dalamnya.

Halaman demi halaman di dalam buku ini menceritakan kisah-kisah pertemuan antara Jan Olav dengan Gadis Jeruk yang misterius yang selalu menghilang tiba-tiba. Diceritakan pula bagaimana di dalam buku ini Jan Olav mengutarakan kepolosannya dengan membuat hipotesis-hipotesis mengapa si Gadis Jeruk membawa jeruk begitu banyak, mengapa si Gadis Jeruk bisa tahu namanya dan dimana dia tinggal. Jostein Gaarder bisa dengan tepat menceritakan keadaan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang berhubungan dengan kekasih hatinya. Dari pertemuan-pertemuan dengan si Gadis Jeruk, aku jadi cukup paham, mengapa cover buku ini didominasi oleh warna oranye tua dan menampilkan seorang gadis yang mengenakan pakaian oranye yang berwarna-warni sambil membawa sekantong besar jeruk.

Setelah melewati 2/3 bagian dari buku, aku mulai menemukan bagian-bagian yang bisa dijadikan pelajaran dan direnungkan. Salah satunya adalah pertanyaan dari Jan Olav kepada si Gadis Jeruk. Jan Olav bertanya mengapa si Gadis Jeruk harus repot-repot membawa puluhan jeruk untuk dilukis. Mengapa tak hanya mengambil satu buah saja dan mengulagi gambar jeruk tadi di atas kanvas. Dan jawabannya sungguh sangat sederhana: Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang sama persis dengan yang lainnya. Bahkan dua batang rumput yang terlihat sama pun tak mungkin benar-benar sama. Dan begitu pula manusia, semuanya unik.

Ketika isi surat dari ayah kandung Georg selesai diceritakan dalam buku ini, inti dari The Orange Girl pun terkuak. Aku menyimpulkan bahwa inti dari buku ini adalah mengenai kehidupan, kematian, dan harapan. Bisa direnungkan bagaimana Georg bisa saja tidak pernah dilahirkan di dunia ini jika Jan Olav dan si Gadis Jeruk tidak pernah bertemu. Jika dipikirkan lebih lanjut, begitu pula dengan dunia yang sedang kita alami sekarang ini. Bisa jadi hal-hal sepele yang kita lakukan pada akhirnya bisa mengubah dunia ini atau sekedar menciptakan kehidupan baru di dalamnya.

Kembali ke topik sebelumnya, pertemuan antara Jan Olav dan Gadis Jeruk menumbuhkan harapan-harapan baru yang dalam bukunya dikisahkan begitu romantis dan dipenuhi antusiasme diantara keduanya. Bagaimana akhirnya mereka mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Georg itu sendiri sebelum akhirnya cerita menjadi berakhir pahit karena Jan Olav sakit dan meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Ya, Gaarder mencoba menjelaskan kematian, namun dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Suatu saat kita semua akan mati, dan Jan Olav menyampaikan pesan tersebut melalui surat yang ditulisnya untuk Georg. Kurasa ini adalah pesan moral terpenting dalam buku ini. Apapun jalan yang kita ambil, suatu saat kita akan mati dan meninggalkan semuanya. Pesan yang bisa diambil adalah: apakah yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita lahir dan ada di dunia ini dan suatu saat akan mati. Jawaban tiap orang tentu saja berbeda mengenai hal ini.

Bahkan di dalam buku ini, ada beberapa pertanyaan filosofi yang agak-agak sulit dijawab. Jika kita diberi kesempatan, apakah yang akan kita pilih: memilih hidup singkat di dunia yang kita tahu kita akan meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi kesana, atau mengatakan 'tidak, terima kasih', dalam artian kita tidak pernah mengalami hidup itu sendiri. Berat sekali untuk direnungkan dan memilih seandainya ada pilihan seperti itu. Dalam keyakinanku, hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita terlahir sebagai manusia juga sudah ada yang mengatur. Ini hanyalah masalah akan diapakan sisa hidup kita. Banyak harapan-harapan yang bisa dicapai sebelum kita mencapai apa yang disebut dengan kematian.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Terutama untuk orang-orang yang menyukai filsafat. Walaupun pada awalnya buku ini seperti novel biasa yang bertema pengejaran cinta, namun bacalah hingga ujung bukunya dan bisa disimpulkan buku macam apa yang ditulis oleh Gaarder. Buku ini adalah buku kedua karangannya yang aku baca setelah Dunia Sophie yang kubaca ketika aku SMP dulu. Udah rada-rada lupa, tapi paling nggak The Orange Girl lebih sederhana dan nggak ribet seperti Dunia Sophie. Rencana berikutnya adalah berburu buku-buku lain karangan Jostein Gaarder, semoga aja masih ada di Kinokuniya / Periplus. Seapes-apesnya paling mesen ke www.inibuku.com edisi terjemahannya.

1 comments:

Johar Manik said...

Buku yang bagus...tapi setelah membaca buku ini, Ane mendapatkan pengalaman yang berbeda...tidak sama dengan apa yang tertulis di blohg ini, secara garis besar tidak beda sih cuma, Ane menangkap bahwa penghargaan akan sesuatu yang kadang kita anggap sebagai hal yang sepele adalah lebih penting melebihi pentingnya hal tersebut...Dalam bahasa sehari-hari Ane itu disebut Materialitas