Monday, January 26, 2009

Sebuah Pilihan

Manusia memiliki impian dan keinginannya sendiri. Terkadang impian tersebut adakalanya mudah diraih dan adakalanya pula sulit diraih dan memerlukan perjuangan yang cukup berat. Permasalahannya disini adalah apakah kita cukup berani untuk bermimpi pada hal-hal yang tidak pasti, dimana faktor-faktor penentunya banyak ditentukan oleh lingkungan luar, diluar diri kita sendiri.

Impian dan keinginan memberikan motivasi yang cukup kuat kepada manusia untuk berusaha menggapai sesuatu yang lebih baik. Memiliki mimpi tentu lebih baik daripada tak memilikinya sama sekali. Tak memiliki mimpi berarti tak ada keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.

Sesuai dengan topik permasalahan yang telah aku sebutkan sebelumnya. Seberapa jauh manusia berani bermimpi, jika penentu pencapaian mimpinya itu tidak hanya ditentukan oleh diri sendiri, tapi oleh pihak lain. Jika tingkat kepastiannya rendah, masihkah berani bermimpi? Seperti misalnya masalah karir dan kenaikan posisi yang sering kali diincar, tapi apa daya keputusan tersebut ada di manajemen perusahaan. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana menyikapi masalah ini. Terus menerus bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti menurutku sangat menguras energi dan pikiran. Ujung-ujungnya yang muncul adalah pikiran dan perasaan negatif seperti rasa kecewa dan rasa tidak puas. Istilahnya stress sendiri lah.

Inilah yang aku alami sekarang, dihadapkan diantara dua pilihan. Terus berharap dan mengejar mimpiku atau berusaha untuk melupakannya - at least menerima kondisi serta kenyataan yang ada. Salah satu impianku terancam tak tercapai, karena tingkat kepastian yang rendah dan banyak faktor luar yang mempengaruhi.

Walaupun kemungkinan tercapainya mimpiku kecil, tapi kurasa aku akan tetap berusaha mengejarnya. It's worth every penny and I deserve it. Layak untuk aku perjuangkan hingga titik darah penghabisan, mengingat aku sudah berada di tengah-tengah dan terlalu sayang untuk aku buang dengan percuma. Hanya saja, tampaknya aku harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai konsekuensi dari pilihanku ini. Well, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru seharusnya bisa memotivasi manusia untuk terus memperbaiki dirinya yang pada akhirnya menjadi awal untuk menuju keberhasilan.

1 comments:

aam said...

Ciayo..
Lamun keyeng tangtu pareng..

Salah ya istilah itu?
Ato mendekati bener? ;)