Saturday, January 31, 2009

Grasshopper

I love green color of this grasshopper, texture on its shell, and contrast between its green shell and the color of the flower. I found it in one of pot around my house. Because lack of light, I used my tripod to help me to produce a sharp image.


ISO 200 - 1/100s - F9 - 105mm - Nikon AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED


Friday, January 30, 2009

Apalah arti cuti 3 hari??

Cuti selama 3 hari yang aku ambil dari hari Selasa hingga Kamis lalu memberikan beberapa hal yang bermanfaat dan menyenangkan, dan priceless tentunya. Jika aku rangkum, mungkin inilah beberapa hal tersebut:

  1. Yang pertama tentu saja untuk rileks dan menyegarkan kembali pikiranku. Namanya juga cuti, harus dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat otak beristirahat. Karena rileks, ini memberiku banyak sekali waktu untuk berpikir dan menyusun kembali rencana-rencanaku di tahun 2009 ini. Intinya sih memungkinkanku untuk memperoleh inspirasi-inspirasi yang tidak akan aku dapat ketika sudah tenggelam dalam pekerjaan.

  2. Mengunjungi keluarga dan bersilaturahmi. Betapa senangnya bisa bertemu dengan keluarga jauhku yang jarang-jarang bisa aku temui, paling banter setahun 2 atau 3 kali.

  3. Wisata Kuliner. Ini adalah hal yang tak boleh dilewatkan ketika aku pulang kampung. Sayangnya aktivitas ini kurang optimal karena seperti Jakarta, di kampungku sedang musim hujan. Mana ujannya lebih parah daripada di Jakarta. Kalo udah ujan, bisa sampe malem nggak berhenti.

  4. Hunting foto. Berhubung sedang musim hujan, jadi nggak bisa kemana-mana. Foto-foto kemarin yang aku anggap lumayan bagus juga cuma sedikit :(. Tapi nggak apa-apa lah. Lagipula objek yang aku cari juga cuma serangga, yang harusnya ada dimana-mana tapi susah nge-capturenya.

  5. Beruntung ketika cuti, sedang ada masalah di kantor. Walaupun ditelepon dari sana-sini, tinggal bilang: "Saya sedang cuti", beres deh masalahnya. Jadi berasa banget ngambil cutinya. Beda kalo cuti akhir tahun atau pas lagi lebaran, yang biasanya nggak ada masalah. Emang cuti itu harusnya diambil pas lagi banyak kerjaan, baru kerasa.

Namun ada juga beberapa hal yang kurang menyenangkan dan aku sesali dari liburan kemarin. Beberapa diantaranya adalah:
  1. Liburan terpotong sehari, gara-gara mesen tiketnya nggak bener :(( (Walaupun sehari, tetapi berharga banget)

  2. Di kampung tempat kelahiranku, lagi musim hujan. Keputusan yang salah ngambil cuti pas lagi musim hujan. Jadi nggak bisa kemana-mana, kebanyakan cuma tinggal di rumah aja. Untuk udah menyiapkan plan B: bawa buku bacaan.

  3. Begitu masuk kantor, langsung diuber-uber kerjaan, mana di perusahaanku sedang dilakukan reorganisasi. Membuat pekerjaan menjadi agak-agak nggak jelas. Selain itu, walaupun sebenarnya pekerjaan yang ke-pending gara-gara cuti bisa dibilang nggak ada, tetep aja pekerjaanku di hari pertama setelah cuti berasa banget, belum lagi udah ditungguin oleh orang audit yang kayaknya nggak bosan untuk mengganggu. Jadi menyesal kenapa cutinya nggak sampai hari Jumat aja sekalian
Fiuhh.. paling nggak masih lebih banyak sisi positifnya daripada sisi negatifnya.

Monday, January 26, 2009

Sebuah Pilihan

Manusia memiliki impian dan keinginannya sendiri. Terkadang impian tersebut adakalanya mudah diraih dan adakalanya pula sulit diraih dan memerlukan perjuangan yang cukup berat. Permasalahannya disini adalah apakah kita cukup berani untuk bermimpi pada hal-hal yang tidak pasti, dimana faktor-faktor penentunya banyak ditentukan oleh lingkungan luar, diluar diri kita sendiri.

Impian dan keinginan memberikan motivasi yang cukup kuat kepada manusia untuk berusaha menggapai sesuatu yang lebih baik. Memiliki mimpi tentu lebih baik daripada tak memilikinya sama sekali. Tak memiliki mimpi berarti tak ada keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.

Sesuai dengan topik permasalahan yang telah aku sebutkan sebelumnya. Seberapa jauh manusia berani bermimpi, jika penentu pencapaian mimpinya itu tidak hanya ditentukan oleh diri sendiri, tapi oleh pihak lain. Jika tingkat kepastiannya rendah, masihkah berani bermimpi? Seperti misalnya masalah karir dan kenaikan posisi yang sering kali diincar, tapi apa daya keputusan tersebut ada di manajemen perusahaan. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana menyikapi masalah ini. Terus menerus bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti menurutku sangat menguras energi dan pikiran. Ujung-ujungnya yang muncul adalah pikiran dan perasaan negatif seperti rasa kecewa dan rasa tidak puas. Istilahnya stress sendiri lah.

Inilah yang aku alami sekarang, dihadapkan diantara dua pilihan. Terus berharap dan mengejar mimpiku atau berusaha untuk melupakannya - at least menerima kondisi serta kenyataan yang ada. Salah satu impianku terancam tak tercapai, karena tingkat kepastian yang rendah dan banyak faktor luar yang mempengaruhi.

Walaupun kemungkinan tercapainya mimpiku kecil, tapi kurasa aku akan tetap berusaha mengejarnya. It's worth every penny and I deserve it. Layak untuk aku perjuangkan hingga titik darah penghabisan, mengingat aku sudah berada di tengah-tengah dan terlalu sayang untuk aku buang dengan percuma. Hanya saja, tampaknya aku harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai konsekuensi dari pilihanku ini. Well, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru seharusnya bisa memotivasi manusia untuk terus memperbaiki dirinya yang pada akhirnya menjadi awal untuk menuju keberhasilan.

Sunday, January 25, 2009

Telkomsel & iPhone 3G

Beberapa hari ini beberapa temanku menanyakan beberapa harga iPhone 3G kepadaku. Rupanya cepat sekali kabar kerjasama antar Telkomsel dan Apple itu menyebar. Well.. jujur aja aku juga nggak tahu berapa harga pastinya. Sejauh yang aku tahu, semua ini masih dalam tahap kerjasama aja sesuai dengan informasi yang dipajang di website resminya yang beralamat di http://www.telkomsel.com/web/corporate_news?cnid=NDkx :

TELKOMSEL bekerjasama dengan Apple menghadirkan iPhone 3G di dalam waktu dekat

Telkomsel today announced it has signed an agreement with Apple to bring iPhone 3G to in the coming months

Nah, buat orang-orang yang tertarik, dan ingin melakukan pemesanan, bisa masuk ke alamat berikut : http://www.telkomsel.com/iphone, dan silakan menunggu dengan sabar kabar berikutnya :P

Ngarep dapat potongan harga nih ^_^

Betapa Pelupanya Aku

Kisah ini dimulai dari rencanaku untuk pulang kampung minggu ini. Berangkat hari Jumat 23 Januari dari Jakarta dan pulang ke Jakarta hari Kamis 29 Januari. Tiket kereta PP sudah aku pesan sejak tahun lalu, sebelum libur tahun baru tiba.

Pada hari kamis kemarin, aku membuka kembali amplop yang berisi tiket kereta tersebut. Memastikan tanggal dan keberangkatan dan kepulanganku. Setelah melihat dengan setengah tak percaya, ternyata jadwal keberangkatan yang tertera di tiket adalah tanggal 24, bukan tanggal 23 seperti yang telah lama ini aku kira.

Aaaargh... #@?!&% Kaget dan kecewa aja nih. Duh, harusnya jatahku pulang kampung adalah 5 hari, sekarang malah berkurang jadi 4 hari. Entah salahnya dimana. Rasa-rasanya ketika itu aku pesen berangkatnya tanggal 23. Tapi udah jelas-jelas di invoice nya tertera tanggal 24. Bahkan aku nggak inget waktu itu apakah aku pesen tanggal 23 atau 24. Parah bener yak..

Aku masih bersyukur pada hari kamis itu aku memastikan kembali tanggal keberangkatannya. Tak terbayangkan jika fakta ini baru aku ketahui setelah berada di Gambir, terlebih lagi pas sudah masuk ke keretanya. Bisa-bisa jadi bahan tertawaan ama orang-orang nih.

Saturday, January 24, 2009

Menulis & Menulis

Sejak pertama kali memiliki blog yang aku mulai sekitar 1,5 tahun yang lalu, aku mulai meninggalkan kebiasaan lamaku ketika itu, yaitu menulis di buku harian. Ketika itu aku masih memiliki banyak waktu senggang untuk sekedar menulis keadaanku, emosiku, perasaanku, dan segudang informasi-informasi lainnya yang kebanyakan bersifat personal.

Setelah memiliki blog, tentu saja hal-hal yang seperti itu tidak akan pernah aku publikasikan. Walaupun baik blog maupun buku harianku sama-sama tersimpan secara digital di dunia maya sana. Blog aku batasi hanya untuk menulis hal-hal yang bersifat umum, dan aku mencoba untuk seobjektif mungkin dalam menulisnya. Sementara dalam buku harian, pilihan bahasa dan isinya lebih bebas dan tidak terikat aturan.

Beberapa hari yang lalu, salah seorang temanku 'memaksaku' untuk membuka kembali catatan-catatan lamaku yang masih tersimpan rapi. Menggelikan juga ketika aku baca paragraf demi paragraf yang menceritakan kegembiraan, kekesalan atau sekedar urusan sepele yang sebenernya nggak perlu dibahas. Hal ini memberikan motivasi untukku untuk memulai kembali kebiasaan lama yang telah aku tinggalkan tersebut. Mungkin apa yang aku kerjakan ini tampak seperti orang yang kurang kerjaan aja yang menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menulis sesuatu yang 'kurang penting'. Tapi kurasa, yang namanya hobi, layak untuk dikerjakan. Apalagi jika setelah beberapa lama, tulisan-tulisan itu dibaca ulang. Cukup menghibur dan membuat diriku bisa mentertawakan diriku sendiri :p.

Thursday, January 22, 2009

Dateng Siang, Pulang Sore, Tapi Kerjaan Beres

Beberapa hari terakhir ini rasa-rasanya males banget datang ke kantor pagi-pagi. Selain karena pagi-pagi biasanya kantor masih sepi banget, ditambah sekarang musim hujan, tambah males deh. Biasanya kantor mulai ramai jam 9 keatas. Kalaupun ada yang dateng pagi-pagi, paling belum ngurusin kerjaan: browsing, sarapan, ngopi, dan baca koran adalah kegiatan yang sudah lazim dilakukan sebelum jam 9.

Kondisi ini diperparah ketika makan siang. Dalam 3 hari terakhir ini ada ajakan untuk makan siang di luar, dimana kembali lagi ke kantor sekitar jam 2 s/d setengah 3. Yang lebih parah lagi adalah dalam 3 hari ini kerjaanku sedang menumpuk dan lumayan banyak. Entah kenapa aja, walaupun menumpuk, aku masih bisa merasa santai dengan waktu yang terbuang.

Setelah aku sakit tipes ketika awal tahun kemarin, aku selalu berusaha untuk pulang tepat waktu, jam 5 udah harus pulang untuk mengejar kereta ekspress yang berangkat dari Stasiun Sudirman jam 17:30, atau paling telat pulang jam 6 kurang. Dan herannya, dengan kondisi ini, justru waktu yang aku miliki benar-benar menjadi efektif walaupun aku merasa sedikit cemas dan panik karena mesti ngejar deadline kerjaan dan deadline jadwal kereta. Dalam 3 hari ini terbukti semua pekerjaanku bisa beres dan aku bisa pulang tepat waktu. Dengan catatan selama bekerja, nggak ada jeda untuk melakukan sesuatu diluar pekerjaan, seperti browsing, chatting, baca koran, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya: Untuk menyelesaikan pekerjaanku dalam sehari, waktu yang dibutuhkan sekitar 5 jam. Sementara jam kerja adalah 8 jam. 3 jam sisanya sebenernya nggak efisien. Karena biasanya ketika kerja 8 jam, banyak waktu yang terbuang juga untuk browsing, chatting, dan segelintir aktivitas-aktivitas lainnya diluar pekerjaan. Untung emang kultur departemenku fleksibel, yang penting kerjaan kelar.

Tuesday, January 20, 2009

Taman Menteng

Cerita ini dimulai dari beberapa bulan yang lalu. Karena penasaran dan seringkali lewat namun tanpa pernah menjejakkan kakiku di taman itu, akhirnya aku meniatkan diri untuk berjalan-jalan kesana. Sejak pertama kali aku kesana, aku merasa cukup betah. Taman Menteng tidak terlalu ramai namun tidak terlalu sepi juga. Ketika pagi hari, banyak orang yang berolahraga disana, atau orang-orang yang hanya datang untuk sekedar berjalan-jalan sepertiku hingga yang hobi fotografi. Ketika malam pun masih ramai juga, tapi dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang sedang berpacaran ria (ugh). Sepertinya taman ini benar-benar sepi ketika siang hari saja. Karena taman ini tak seperti Taman Suropati yang berada tak jauh dari situ yang pohonnya tinggi-tinggi dan rindang, Taman Menteng masih tergolong baru dan pepohonan yang ditanam disana pun tidak terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan ketika siang, pengunjung bisa terpapar sinar matahari langsung yang menyengat. Ada sih beberapa titik yang teduh, tapi hanya ada beberapa, kalopun ada beberapa yang kesana, mau nggak mau harus share tempat tersebut dengan pengunjung yang lain yang kebetulan lagi iseng dateng siang-siang.

Sesuai namanya, taman ini terletak di kawasan Menteng, salah satu kawasan elit di Jakarta. Biasanya sih aku kesini menggunakan P20 jurusan Lebak Bulus-Senen atau Busway Koridor 6 (Ragunan-Kuningan) turun di halte Latuharhari. Cuma kalo naik Busway, mesti jalan lagi sekitar 5-10 menit lah.

Saat ini, taman ini menjadi tempat favoritku ketika aku memiliki waktu senggang. Terakhir kemarin ada acara kumpul-kumpul bareng anak-anak FlashCom Community juga disana. Alasanku aku menyukai taman ini adalah: taman ini tidak terlalu ramai dan cukup tenang sehingga menurutku cocok untuk mengerjakan salah satu hobiku yaitu membaca buku. Terlebih lagi taman ini terletak di pusat kota. Rasa-rasanya seperti surga di tengah neraka kesibukan: tampak dari situ beberapa gedung tinggi di kawasan Thamrin.

Taman ini juga menyediakan hotspot gratis yang powered by Telkom Speedy. Cukup kenceng juga, karena memang yang menggunakan hotspot ini dikit banget. Dan so far, nggak pernah aku lihat ada orang yang sampe bawa-bawa laptop kesini. Sayang saja tidak disediakan meja dan sumber listrik gratis. Kalo iya, mungkin taman ini bisa rame sama yang nge-net (sekalian aja buka kafe). Namun demikian, jangkauan hotpot yang disediakan kurang memadai untuk meng-cover seluruh taman. Hotspot hanya tersedia di area kecil di tengah taman dalam radius sekitar 20-30 m.

Sayang, walaupun menjadi tempat favoritku, taman ini terkesan kering dan panas. Pohon-pohon yang ditanam disana kebanyakan tingginya tak lebih dari 5m, bahkan kebanyakan kurang dari itu. Menjadikan taman ini tak seramai Taman Suropati ketika siang hari.

Wednesday, January 14, 2009

Sekilas Three Cups of Tea: Inspiratif dan Menyentuh

Buku yang ditulis oleh Greg Mortenson dan Oliver Relin ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Greg Mortenson, seorang pendaki gunung yang pada awal cerita di buku tersebut sedang berusaha mendaki K2, gunung kedua tertinggi di dunia. Pendakian tersebut pada akhirnya gagal karena salah satu anggota tim rombongan pendaki mengalami musibah: paru-parunya dibanjiri cairan dan darah akibat tekanan dan tipisnya atmosfer di ketinggian, dan harus segera diselamatkan dengan membawanya turun ke tempat yang lebih rendah. Akhirnya Mortenson dan salah satu rekannya yang membawanya turun ke base camp yang lebih rendah. Proses penyelamatan ini akhirnya menguras energi Mortenson dan memaksanya turun gunung dan tidak bisa melanjutkan pendakian. Pada saat turun gunung, Mortenson tersesat, dan alih-alih menuju desa yang ia tuju, ia tiba di sebuah desa yang bernama Korphe yang tidak tertera di peta. Dalam kisah ini, Mortenson diselamatkan dan dirawat oleh pemimpin desa, Haji Ali hingga ia sembuh. Mortenson terenyuh dengan kebaikan Haji Ali dan keluarganya, dan untuk membalas kebaikannya, dia berjanji untuk membuat sekolah di Korphe.

Itulah awal kisah yang menjadi inti dari buku ini. Selanjutnya dalam buku tersebut diceritakan perjuangan Mortenson untuk mencari dana sebesar 12 ribu dolar untuk membangun sekolah di Korphe. Pada akhirnya dia mendapatkan dana tersebut dari Jean Hoerni, seseorang yang kaya raya yang ketika mudanya pernah menjadi pendaki gunung. Jean Hoerni akhirnya mendirikan CAI (Central Asia Institute) dan menunjuk Mortenson sebagai direkturnya. CAI memiliki misi untuk membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil di Pakistan dan Afghanistan yang tidak terjangkau oleh pemerintah. Kisah perjuangan Mortenson dalam membangun sekolah-sekolah yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan inilah yang mewarnai buku ini hingga halaman terakhirnya.

Judul buku Three Cups of Tea diambil pepatah Balti, dimana di dalam buku ini dikutip dari kata-kata Haji Ali:
"...(Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir yang pertama engkau masih orang asing; cangkir yang kedua, engkau teman; dan cangkir yang ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun - bahkan untuk mati."
Rasa-rasanya tak salah mengambil judul seperti itu. Buku ini menceritakan bagaimana tradisi minum teh untuk menjamu seorang tamu seolah menjadi seperti kewajiban. Dan tiap kali Mortenson melakukan suatu kunjungan, baik itu untuk urusan bisnis atau bukan, selalu saja acara minum teh tak pernah terlewat untuk diceritakan.

Buku ini menurutku sangat menarik walaupun ceritanya agak-agak monoton (karena memang bukan novel sih). Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana pembangunan sekolah-sekolah ini bisa menjadi alat untuk melawan terorisme. Pada salah satu plot di buku ini menceritakan kondisi Afganistan dan Pakistan ketika rezim Taliban berkuasa hingga pada akhirnya terjadilah kejadian 9/11, dimana pada saat itu Amerika menyerang Afghanistan dan menyisakan banyak sekali korban. Dari buku tersebut diceritakan bahwa kaum ekstrimis seperti Taliban merekrut prajuritnya melalui sekolah-sekolah yang sumber dananya diselundupkan dari negara-negara yang mendukung tindakan-tindakan terorisme ini. Melalui sekolah ini, anak-anak yang memang di daerahnya tidak memiliki sekolah lain akan terpaksa untuk bersekolah disana, yang kemudian akan didoktrinasi untuk menjadi teroris. Melalui sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini, diharapkan pengaruh dari sekolah-sekolah kaum ekstrimis ini berkurang. Bukan berarti sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini pro Amerika lho. Karena tujuannya semula CAI ini berusaha memerangi kemiskinan dan menyediakan sekolah bagi kaum perempuan yang notabene dilarang disana.

Terlepas dari apakah buku ini terlalu subjektif atau tidak, buku ini layak untuk dibaca. Perjuangan dan kerja keras Mortenson dalam kisah ini patut untuk ditiru. Sangat inspiring menurutku, bahwa hanya dengan satu orang saja, bisa membawa begitu banyak perubahan untuk penduduk di Pakistan dan Afghanistan. Dan satu hal lagi yang patut untuk direnungkan adalah isu pendidikan yang menjadi misi utama Mortenson. Akan seberapa besarkah dampak yang diakibatkan jika daerah-daerah terpencil di Indonesia diberikan sarana pendidikan yang memadai secara merata? Mungkin pengaruhnya tidak akan terasa secara langsung, tetapi dalam beberapa generasi, bisa terlihat dampaknya.

Wednesday, January 07, 2009

Sekilas The Orange Girl (Gadis Jeruk): Novel Penuh Makna

Buku yang aslinya berjudul Appelsinpiken ini dikarang oleh Jostein Gaarder, pengarang Sophie's World atau Dunia Sophie. Setelah diterjemahkan, bukunya berjudul The Orange Girl atau dalam bahasa Indonesianya menjadi Gadis Jeruk.

Buku ini bercerita tentang Georg Roed, seorang remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Oslo. Georg tinggal bersama ibu, ayah tirinya (Jorgen), dan adik perempuannya dari pernikahan ibu dengan ayah tirinya. Ayah kandung Georg telah meninggal 11 tahun sebelumnya, ketika dia berusia 4 tahun.

Alur cerita dari buku ini muncul ketika nenek Georg menemukan sebuah surat yang ditulis ayah Georg 11 tahun yang lalu beberapa saat sebelum meninggal. Surat tersebut ditujukan untuk Georg. Isi surat inilah yang kemudian dipaparkan dalam buku The Orange Girl dan menjadi inti cerita di dalamnya.

Halaman demi halaman di dalam buku ini menceritakan kisah-kisah pertemuan antara Jan Olav dengan Gadis Jeruk yang misterius yang selalu menghilang tiba-tiba. Diceritakan pula bagaimana di dalam buku ini Jan Olav mengutarakan kepolosannya dengan membuat hipotesis-hipotesis mengapa si Gadis Jeruk membawa jeruk begitu banyak, mengapa si Gadis Jeruk bisa tahu namanya dan dimana dia tinggal. Jostein Gaarder bisa dengan tepat menceritakan keadaan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang berhubungan dengan kekasih hatinya. Dari pertemuan-pertemuan dengan si Gadis Jeruk, aku jadi cukup paham, mengapa cover buku ini didominasi oleh warna oranye tua dan menampilkan seorang gadis yang mengenakan pakaian oranye yang berwarna-warni sambil membawa sekantong besar jeruk.

Setelah melewati 2/3 bagian dari buku, aku mulai menemukan bagian-bagian yang bisa dijadikan pelajaran dan direnungkan. Salah satunya adalah pertanyaan dari Jan Olav kepada si Gadis Jeruk. Jan Olav bertanya mengapa si Gadis Jeruk harus repot-repot membawa puluhan jeruk untuk dilukis. Mengapa tak hanya mengambil satu buah saja dan mengulagi gambar jeruk tadi di atas kanvas. Dan jawabannya sungguh sangat sederhana: Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang sama persis dengan yang lainnya. Bahkan dua batang rumput yang terlihat sama pun tak mungkin benar-benar sama. Dan begitu pula manusia, semuanya unik.

Ketika isi surat dari ayah kandung Georg selesai diceritakan dalam buku ini, inti dari The Orange Girl pun terkuak. Aku menyimpulkan bahwa inti dari buku ini adalah mengenai kehidupan, kematian, dan harapan. Bisa direnungkan bagaimana Georg bisa saja tidak pernah dilahirkan di dunia ini jika Jan Olav dan si Gadis Jeruk tidak pernah bertemu. Jika dipikirkan lebih lanjut, begitu pula dengan dunia yang sedang kita alami sekarang ini. Bisa jadi hal-hal sepele yang kita lakukan pada akhirnya bisa mengubah dunia ini atau sekedar menciptakan kehidupan baru di dalamnya.

Kembali ke topik sebelumnya, pertemuan antara Jan Olav dan Gadis Jeruk menumbuhkan harapan-harapan baru yang dalam bukunya dikisahkan begitu romantis dan dipenuhi antusiasme diantara keduanya. Bagaimana akhirnya mereka mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Georg itu sendiri sebelum akhirnya cerita menjadi berakhir pahit karena Jan Olav sakit dan meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Ya, Gaarder mencoba menjelaskan kematian, namun dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Suatu saat kita semua akan mati, dan Jan Olav menyampaikan pesan tersebut melalui surat yang ditulisnya untuk Georg. Kurasa ini adalah pesan moral terpenting dalam buku ini. Apapun jalan yang kita ambil, suatu saat kita akan mati dan meninggalkan semuanya. Pesan yang bisa diambil adalah: apakah yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita lahir dan ada di dunia ini dan suatu saat akan mati. Jawaban tiap orang tentu saja berbeda mengenai hal ini.

Bahkan di dalam buku ini, ada beberapa pertanyaan filosofi yang agak-agak sulit dijawab. Jika kita diberi kesempatan, apakah yang akan kita pilih: memilih hidup singkat di dunia yang kita tahu kita akan meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi kesana, atau mengatakan 'tidak, terima kasih', dalam artian kita tidak pernah mengalami hidup itu sendiri. Berat sekali untuk direnungkan dan memilih seandainya ada pilihan seperti itu. Dalam keyakinanku, hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita terlahir sebagai manusia juga sudah ada yang mengatur. Ini hanyalah masalah akan diapakan sisa hidup kita. Banyak harapan-harapan yang bisa dicapai sebelum kita mencapai apa yang disebut dengan kematian.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Terutama untuk orang-orang yang menyukai filsafat. Walaupun pada awalnya buku ini seperti novel biasa yang bertema pengejaran cinta, namun bacalah hingga ujung bukunya dan bisa disimpulkan buku macam apa yang ditulis oleh Gaarder. Buku ini adalah buku kedua karangannya yang aku baca setelah Dunia Sophie yang kubaca ketika aku SMP dulu. Udah rada-rada lupa, tapi paling nggak The Orange Girl lebih sederhana dan nggak ribet seperti Dunia Sophie. Rencana berikutnya adalah berburu buku-buku lain karangan Jostein Gaarder, semoga aja masih ada di Kinokuniya / Periplus. Seapes-apesnya paling mesen ke www.inibuku.com edisi terjemahannya.