Friday, December 12, 2008

Sekilas Maryamah Karpov: Dibawah ekspektasi


Kesan pertama ketika aku membuka sampul buku ini adalah sedikit terkejut. Karena tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, bukunya ternyata cukup tebal. Lebih tebal daripada buku pertamanya malah. Dan yang lebih mengesankan lagi, bahan kertas yang digunakan juga menurutku lebih baik dibandingkan ketiga buku sebelumnya. Bahan kertas yang digunakan mirip dengan buku-buku impor yang walaupun tebal tapi ringan. Dengan harga 79.000 rupiah dipotong diskon 15%, kurasa worth lah. Terlebih lagi, buku ini telah berada di meja kantorku hari Jumat pagi, tak lama setelah buku ini resmi di-launch.

Buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi ini menceritakan kisah Ikal, tokoh utama dalam cerita, setelah menyelesaikan studi masternya di Eropa dan kembali lagi ke kampung halamannya di Belitong. Inti dari cerita di dalam buku ini adalah kisah perjuangan Ikal dalam mencari A Ling. Seorang tokoh perempuan yang dia sukai di buku pertamanya. Perjalanan mengenai pencarian cinta dan orang yang dicintai terkadang memang membuat semuanya seolah tak masuk akal. Dalam bukunya, diceritakan bagaimana Ikal yang seumur hidupnya tak pernah membuat perahu harus membuatnya untuk membuktikan kebenaran yang dia yakini.

Dalam buku ini juga dikisahkan pertemuan Ikal dengan anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya. Tadinya aku pikir inti buku ini adalah pertemuan kembali para anggota Laskar Pelangi. Ternyata aku salah. Dikisahkan pula dalam bukunya kecerdasan-kecerdasan Lintang yang tak pernah lagi dibahas sejak buku pertamanya.

Pesan moral yang aku tangkap dari cerita ini adalah betapa pentingnya mimpi dan bagaimana seseorang seharusnya menggapai mimpi-mimpinya. Walaupun mungkin terkadang tak masuk akal, namun jangan menyerah sebelum mencoba. Terkadang dalam memandang masalah, seseorang terlalu overestimated, sehingga menganggap masalah tersebut tak bisa dipecahkan. Padahal dengan mengubah sudut pandang, masalah tersebut dapat disederhanakan. Hal ini dibuktikan Ikal dengan keberhasilannya membuat perahu dan keberhasilannya dalam memainkan biola walaupun dalam buku tersebut dia tidak memiliki bakat musik dan tidak memiliki bakat sebagai pembuat perahu. Pelajaran yang bisa ditarik adalah hal-hal yang tak mungkin bisa dibuat menjadi mungkin asal ada keinginan yang kuat walaupun tak memiliki bakat.

Aku masih sedikit penasaran kenapa bukunya diberi judul Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang. Maryamah Karpov adalah salah seorang tokoh dalam buku yang memiliki anak perempuan yang dikisahkan dalam buku itu pandai bermain biola (sesuai dengan covernya). Sementara Mimpi-mimpi Lintang adalah nama perahu buatan si tokoh utama. Diberi nama itu karena Lintang si tokoh cerdas memiliki andil yang besar dalam pembuatan desain perahu yang dibuat oleh Ikal. Keduanya tampak tidak ada hubungannya. Tapi aku rasa, dinamai demikian karena kedua-duanya seolah menunjukkan semuanya bisa diraih jika ada keinginan yang kuat. Mungkin itulah pesan moral tersembunyi dari penulisnya, Andrea Hirata dalam memberikan judul buku ke empatnya.

Namun entah kenapa, secara alur cerita aku agak-agak kurang suka dengan buku ini. Dengan sedikit terpaksa aku memberikan rating 3 di www.goodreads.com, dan secara statistik kebanyakan pembaca lain juga memberikan rating 3 untuk buku ini. Pesan moralnya sih bagus, cuma alur ceritanya menurutku banyak bercabang dan nggak fokus. Tadinya aku pikir akan diceritakan masa depan Laskar Pelangi dalam buku ini. Atau at least, ada semacam kisah penutup lah untuk para anggota Laskar Pelanginya. Di dalam buku ini seolah hanya lewat begitu aja. Padahal bukunya kan bertajuk buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi. Cukup banyak lah hal-hal yang dibiarkan left unexplained dan menggantung. Terlebih lagi ending ceritanya juga menggantung dan nggak jelas. Rasa-rasanya buku kedua dan ketiga aja nggak separah ini.

Membaca kisah di akhir bukunya, aku malah jadi berpikir, jangan-jangan masih ada lanjutannya nih. Aku merasa ekspektasiku terlalu besar pada buku ini. Sedikit kecewa lah :(. Dan akhirnya kesimpulanku adalah: menurutku isi buku ini seolah dibuat untuk memenuhi keinginan pasar. Seolah telah disiapkan lagi buku lanjutannya sebagai penyambung buku keempat ini. Ujung-ujungnya bukan tetralogi deh. Jadi berasa baca komik, dimana karena laku, ceritanya dipanjang-panjangin dan nggak pernah tamat.

Well, adakah pendapat lain? Atau mungkin pikiran yang serupa denganku?

5 comments:

edel said...

gw baru baca setengah buku sih, belum selesai. tapi untuk pertama kalinya gw ngerasa bosen baca tetralogi laskar pelangi. konten2 babnya kayaknya cuman comot, cerita trus udah gitu doang ditinggalin. gak terlalu nyambung satu sama lain. dan gw juga gak jelas intinya buku ini mau cerita apa. sampai saat ini berasanya buku tentang demografi dan karakter suku2 yang hidup di belitung.

mungkin juga gw kayak elu, over expectation. padahal udah gw tunggu2, bolak balik toko buku pas tau buku ini di-launch (di batam baru masuk 3 hari yang lalu).

kecewa aku kecewa..

Eko Budi Prasetyo said...

Yup, gw setuju ma lo Syn. Intinya jadi berasa ga jelas. Apalagi kalo lo udah sampe selesai baca bukunya.

Btw, rajin amat ampe bolak-balik ke toko buku. Gw aja pre-order ke www.inibuku.com. Dan dikirimin tepat di hari yang sama setelah launching.

Sari said...

Aku malah cuma kasih 2 bintang ^^

http://sekigahara.multiply.com/reviews/item/19

Eko Budi Prasetyo said...

@Sari:

Ternyata ada yang lebih 'kejam' dari aku :p hehehe

aam said...

Rp. 79.000,00 - (15% x Rp. 79.000,00) = Rp. 67.150,00

Ko aku beli cuma Rp. 60 rebu y? Dianter pula ke mes -buku asli pula- :D
Hee ga penting dibahas..

Hmm.. Kecewa siy boleh, termasuk ku jg da..

Tapi ya salut lah bwt Andrea Hirata yg telah selesein 'tetralogi'nya, walo punya dugaan bakal ada buku k5 ^^

Mungkin dikasih judul 'Maryamah Karpov' (bener ga ngetiknya :p) karena semangat pertama yg muncul di diri Ikal (untuk tidak menyerah begitu ajah dalam pencarian 'cinta') pas dia pengen belajar maen 'biola' yg sebegitu susahnya, yg akhirnya dia bisa memainkannya dengan cukup baik untuk ukuran pemula.
Tp lumayan tuh baca bukunya, bisa belajar bikin perahu dengan berbagai 'speed' (kalo mau, haha) & harusnya dibaca ma nelayan kalee yo? Kekeke

Ceritanya berlete-lete ;)