Tuesday, December 30, 2008

Ipod di Ubuntu

Rythmbox Music Player
Sejak beberapa bulan terakhir ini, aku tak pernah lepas dari Ipod. Pergi kemana-mana, pasti Ipod Shuffle yang aku miliki sejak bulan Agustus lalu selalu aku bawa. Ketika itu, aku pikir Ipod hanya kompatibel dengan iTunes yang hanya bisa digunakan di Windows. Jadilah aku mengkopi lagu-lagu favoritku menggunakan iTunes. Kelemahan Ipod Shuffle adalah perangkat ini hanya bisa digunakan menggunakan iTunes pada komputer yang sama. Ribet banget dah dan nggak praktis. Kalau digunakan di iTunes di komputer yang lain, pilihan yang tersedia adalah me-reset isi Ipod Shuffle sebelum mengkopi lagu baru, atau membatalkan opsi. Duh, padahal Ipod Shuffle nya sih praktis dan yang paling menyenangkan perangkat ini memiliki klip. Bisa dicantolin di baju atau jaket.

Lain ceritanya ketika aku plug ke laptopku yang menggunakan Ubuntu. Ipod Shuffle ku langsung terdeteksi dan bisa dibuka menggunakan aplikasi Rythmbox Music Player yang sudah pre-installed di Ubuntu. Melalui aplikasi ini, aku dapat menambahkan lagu-lagu favoritku kedalam Ipod Shuffleku sekaligus memainkan lagu yang ada di dalamnya.

gtkPod
Lain ceritanya ketika akhir bulan Nopember kemarin ada yang berbaik hati memberikan Ipod Nano secara gratis untukku. Dengan ukuran 8 GB yang menurutku cukup mubazir untuk orang sepertiku, Ipod Nano memberikan kualitas suara yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Ipod Shuffle. Mungkin karena interface Ipod Shuffle dirancang begitu simplenya, sehingga tidak ada pilihan equalizer, plus mungkin kualitas suaranya kurang begitu diperhatikan. Setelah terbiasa mendengarkan lagu menggunakan Ipod Nano, rasa-rasanya aneh aja ketika mendengarkan lagu menggunakan Ipod Shuffle lamaku.

Ternyata Ipod Nano tidak kompatibel dengan Rythmbox. Sebagai gantinya, di Ubuntu ada package yang namanya gtkpod (untuk menginstall tinggal mengetikkan apt-get install gtkpod sebagai super user). Aplikasi ini benar-benar pengganti iTunes di Ubuntuku. Sejauh ini, aplikasi ini sudah sangat mencukupi kebutuhan ketika berurusan dengan Ipod Nano ataupun Ipod Shuffle. Aku bisa membuat playlist baru dan menambahkan lagu-lagu favoritku. Selain itu aku juga bisa mengkopi lagu yang telah tersimpan di Ipod ke laptop, salah satu fitur yang tidak ada di iTunes (untuk mengurangi penyebaran lagu secara ilegal). Aku pun bisa mengkopi foto, video, mengedit metadata lagu (ID3 tag), dan melakukan sinkronisasi kontak, notes, dan kalender melalui aplikasi ini.

Video untuk Ipod
Ipod Nano hanya kompatibel dengan video dengan format .m4v, .mp4, dan .mov. Kebanyakan format video saat ini menggunakan format .avi. Sehingga jika ingin menambahkan video dengan format .avi tersebut, harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam format yang telah disebutkan sebelumnya. Di Windows sebenarnya banyak aplikasi konverternya, dan setahuku nggak gratis (walaupun bisa di-crack). Berhubung udah Ubuntu-minded :P, jadi seperti biasa, googling dulu. Dan akhirnya aku temukan juga aplikasi konverter sederhana yang bernama mvPod yang bisa diunduh melalui link berikut ini:
http://sourceforge.net/projects/mvpod

Aplikasi konverter ini sangat sederhana menurutku, dan tidak masuk ke dalam daftar package bawaan Ubuntu. Saking sederhananya, aplikasi ini hanya bisa mengkonversi video. Tidak bisa menggabungkan video + subtitle dan mengkonversinya kedalam format yang dikenali Ipod.

Agar video yang telah dikonversi ini bisa disimpan ke dalam Ipod melalui aplikasi gtkPod, package gtkpod-aac harus sudah terinstall terlebih dahulu. Package ini memungkinkan aplikasi gtkPod untuk menambahkan lagu atau video dengan format aac (MP4) ke dalam Ipod.

Selamat mencoba..

Wednesday, December 17, 2008

Kalap: Betapa Cepat Uang Menguap :(

Well, hari Selasa kemarin aku lagi kalap. Banyak hal-hal yang tidak kurencanakan sebelumnya terjadi begitu saja, yang dalam kasus ini tentunya berkaitan dengan pengeluaran. Salah satu hal yang rada-rada aneh adalah membeli buku di 4 toko buku yang berbeda. Dan ini tentunya diluar rencanaku.

Kejadiannya dimulai dari hari Kamis minggu kemarin ketika aku memesan beberapa buku dari www.inibuku.com. Buku-buku tersebut baru dikirimkan hari Selasa kemarin dengan rincian sebagai berikut:

  • La Tahzan (Walaupun buku ini udah lama banget jadi bestseller dan direkomendasikan, baru sekarang-sekarang ini muncul niat untuk membelinya :P)
  • Gunung Kelima - Paulo Coelho
  • Sebelas Menit - Paulo Coelho
Pada hari yang sama aku dan temanku merencanakan untuk menonton sebuah film di Citos. Tadinya sih hari mau nontonnya hari Rabu ini, tapi tiba-tiba berubah menjadi jadi hari Selasa kemarin. Okelah, ini adalah perubahan rencana mendadak yang pertama. Berhubung sebelumnya aku sudah merencanakan untuk membeli tas kamera dan memory card tambahan untuk kameraku di JPC Kemang (harusnya sih belinya weekend kemarin, tapi ada acara dadakan juga untuk mengikuti acara FlashCom Community Gathering) jadilah aku berpikir dua kali. Sebelumnya, aku berencana untuk membeli kedua barang tersebut akhir minggu ini, tapi daripada weekend mesti keluar rumah, dan kebetulan skalian mau ke Citos, nggak ada salahnya juga jika beli barangnya kemarin, biar sekalian dan nggak bolak-balik.

Dengan menggunakan ojek, selepas jam kerja, aku langsung ke JPC Kemang. Tadinya sih mau beli memory card SD Sandisk yang Ultra II. Karena ternyata kecepatan baca tulis nya nggak terlalu berpengaruh ke kameraku. Eh, ternyata stoknya lagi kosong, dan yang ada adalah San Disk Extreme III, yang harganya berbeda hampir 200 ribu. Akhirnya kubeli juga tuh barangnya seharga sekitar 480 ribu. Pemborosan pertama diluar rencana pun terjadi.

Ketika dalam perjalanan menuju Citos dari JPC Kemang, temanku ngasih tahu kalo acara nontonnya terpaksa dibatalkan. Well.. bagus sekali. Rencanaku hari itu sudah rusak gara-gara dibatalkannya acara nonton itu. Berhubung udah nanggung mau ke Citos, sekalian aja jalan-jalan ke Periplus untuk mencari buku yang pengen aku beli dari dulu(tapi ga terlalu butuh sih): By River Piedra I Sat Down and Wept karangannya Paulo Coelho dan buku lainnya yang berjudul Orange Girl karangan Jostein Gaarder, pengarang Dunia Sophie. Sayangnya, buku kedua tidak aku temukan di Periplus, stoknya sedang kosong. Begitu pula di Aksara, barangnya juga udah habis. Kecewa deh. Tapi ini kedua kalinya aku membeli barang diluar rencanaku hari itu.

Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot ke arah Lebak Bulus. Tiba-tiba keingetan kalo aku lagi butuh mouse untuk laptopku. Beberapa minggu ini aku terpaksa pake mouse buat PC di laptop karena mouse yang sebelumnya hilang entah dimana dan belum sempet beli lagi. Jadi deh turun dulu ke Poins Square dan belanja mouse. Yang ini nggak pemborosan karena aku memang butuh, tapi tetep aja diluar rencana. :(

Keluar dari Poins Square, aku masih penasaran dengan Orange Girl tadi. Udah nanggung di Lebak Bulus, mengapa tak sekalian aja ke PIM, kan deket dari situ pikirku. Dan berhubung udah cukup boros, aku berencana beli buku edisi Indonesianya saja, yang judulnya menjadi Gadis Jeruk dan aku taksir harganya sekitar 30 s/d 40 ribuan. Ternyata di Gramedia bukunya nggak ada, stoknya sedang kosong juga. Di www.inibuku.com terakhir aku lihat ada sih bukunya, tapi nanggung kalo cuma beli satu. Jadi, mending sekalian menjajal aja Periplus dan Kinokuniya. Harga sih udah jelas berbeda cukup jauh karena itungannya buku impor. Di Periplus PIM ternyata bukunya nggak ada. Di Kinokuniya hampir aja nggak ketemu bukunya. Setelah mencari dan meminta tolong mbak-mbak yang ada disitu, akhirnya ditemukan juga tuh bukunya: Hard Cover dengan harga 293 ribu. Weks, padahal bukunya aja cuma 160 halaman. Ga worth deh. Tapi ternyata lagi diskon 50% jadi 144 ribu. Masih kemahalan juga sih, tapi kalopun ada yang soft covernya, harganya juga nggak beda jauh dari situ. Berhubung gambar cover depannya cukup menarik hatiku (damn), yah.. ujung-ujungnya bisa ditebak. Beberapa menit kemudian, buku tersebut sudah beralih kepemilikan.

Pulangnya, aku balik lagi ke Gramedia karena sebelumnya tak sengaja melihat Kartun Benny & Mice yang baru: Lost in Bali. Sekalian udah belanja macam-macam, dan entah kapan lagi bisa menyempatkan untuk jalan-jalan, jadi aku beli buku itu seharga 40 ribu. Bener-bener parah, dalam sehari beli 6 buku dari 4 toko buku yang berbeda. Kayaknya bulan depan alokasi pengeluaran untuk belanja buku distop dulu nih. Mana ini belum termasuk tas kamera dan memory card yang aku beli sebelumnya. :((

Monday, December 15, 2008

FlashCom Community Gathering 13-14 Des'08

Ceritanya berawal dari hari Kamis minggu lalu. Salah seorang teman kantorku yang kebetulan pernah membantu mengurus website FlashCom Community diundang untuk mengikuti acara gathering ini. Namun entah karena alasan apa, minggu kemarin ini dia nggak bisa ikut. Berhubung dia tahu kalo aku adalah pengguna setia Flash - walaupun powered by kantor :P, dia menawariku untuk menggantikannya.

Semula aku ragu mau ikutan atau nggak, karena weekend kemarin aku udah ada rencana lain. Tapi, setelah aku pikir masak-masak, nggak ada salahnya juga kalau aku ikut. Lumayan, bisa nambah relasi dan berkenalan orang-orang baru. Seluruh peserta acara FlashCom Community Gathering ini adalah pelanggan Telkomsel Flash. Yang beruntung mengikuti acara ini adalah pelanggan-pelanggan yang paling cepat me-reply sms notifikasi dari panitia penyelenggara acara ini. Untuk beberapa area, peserta dipilih secara random dan dihubungi melalui telepon.

Acara ini merupakan gathering komunitas pelanggan Telkomsel Flash yang pertama. Acaranya diadakan di Bandung pada hari sabtu dan minggu kemarin (13-14 Des '08). Jatah pesertanya katanya sih ada sekitar 150 orang. Cuma yang confirm nggak sampai segitu. Peserta yg ikut aku taksir sekitar 80 orang, kurang lebih 50% dari jatah dan kebanyakan adalah laki-laki.

Pada hari sabtu, semua peserta yang berasal dari Jabotabek berkumpul di Kantor Regional Telkomsel jam 8 pagi dan berangkat ke Bandung jam 9. Sementara peserta dari Bandung langsung menuju lokasi acara, yaitu di Hotel Jayakarta. Sampai di lokasi sekitar jam 12 siang, yang dilanjutkan dengan makan siang dan istirahat sejenak. Acara dilanjutkan dengan workshop mengenai Internet Marketing dari pukul 14:30 s/d 17:30. Workshopnya menurutku sangat bagus. Menjelaskan mengenai dasar-dasar memasarkan produk di internet. Pembicaranya menurutku lumayan oke. Langsung dipraktekkan di tempat. Karena memang kebanyakan peserta disarankan membawa laptop masing-masing. Sayang, walaupun menurutku workshopnya bagus, tapi agak nggak tepat sasaran. Karena kebanyakan pesertanya masih muda-muda dan banyak juga yang masih kuliah. Dan kalau aku lihat, profilenya mereka menggunakan internet adalah untuk sekedar browsing dan download. Hanya sedikit yang memiliki background sebagai pebisnis. Tapi, oke lah untuk sekedar menambah ilmu.

Setelah dipotong istirahat dan sholat maghrib, acara dilanjutkan dengan makan malam dan entertainment di Fame Station. Bener-bener nggak ngerti tempat macam apa itu Fame Station. Setelah akhirnya aku menghubungi salah seorangku yang tinggal di Bandung dan mengatakan kalo itu adalah tempat dugem. Kaco banget dah. Tapi aku berpikir positif aja, seharusnya sih nggak bakalan ada acara rame-rame disana. Memang sih itu adalah tempat dugem, tapi disulap menjadi tempat makan malam yang diselingi dengan lagu yang slow dan menenangkan.

Ternyata dugaanku salah. Setelah acara makan malam selesai, baru deh semua berubah total. Bener-bener jadi acara hiburan yang berisik. Mana ada sexy dancersnya pula lagi. Doh, kenapa selalu ada acara yang seperti ini. Aku bener-bener nggak suka. Mana musiknya juga berisik banget. Membuat kepalaku pening dan merasa nggak nyaman di tempat seperti ini. Akhirnya aku putuskan untuk mojok dan mencari tempat dimana aku bisa menyendiri dan mengeluarkan laptopku untuk online dan sekedar menghabiskan waktu selagi acara berjalan. Tak lupa aku memasang earphone untuk sedikit mengurangi suara berisik yang ada di tempat itu. Akhirnya acara selesai jam 10 (padahal di run downnya, acaranya sampai jam 11 malam). Akhirnya bisa terbebas juga dari acara yang bikin nggak tenang seperti ini.

Di hari kedua, acaranya adalah off road menggunakan Land Rover plus Paint Ball di Cikole. Kedua acara ini menurutku sangat menyenangkan, secara selama ini belum pernah merasakan seperti apa sih off road itu. Seluruh peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang berjumlah sekitar 10 orang dan masing-masing kelompok berada pada kendaraan yang sama pada saat off-road. Dari situlah kami menjadi kenal satu sama lain. Dan menyenangkan aja dalam dua hari ini bisa berkenalan dengan banyak orang baru. Satu kelompokku backgroundnya macam-macam. Ada yang masih kuliah, dan ada yang sudah kerja. Campur aduk deh. Dan sepertinya seluruh peserta ini memiliki profile yang sama. Jadinya semua omongannya nyambung.

Acara off-roadnya benar-benar menyenangkan. Berasa rafting tapi di darat. Karena medannya sendiri juga memang parah sih, melewati jalanan kecil diantara pohon-pohon pinus. Beberapa kali kelompokku teriak-teriak histeris ketika melewati medan yang cukup sulit yang membuat semua penumpang sampai terjatuh dari tempat duduk. It's really amazing ^_^. Beruntung pada saat acara, kamera SLRku aku bawa. Jadilah sepanjang perjalanan kami berfoto-foto ria. Terlebih lagi teman-teman satu kelompokku memang doyan foto semua tambah klop deh. Bahkan ketika sampai di tempat tujuan untuk mengikuti acara selanjutnya: Paint Ball, kelompok kami bukannya mengatur strategi, tapi malah berfoto ria. Ibarat teman-teman kuliahku, yang demen difoto, begitu pula dengan kelompokku. Foto-foto narsis pun bertebaran memenuhi kameraku. Hehehehe.. Apalagi tempat Paint Ball nya menurutku sangat oke. Berada di dalam hutan pinus + kondisinya saat itu sedang berkabut tebal. Komplit deh.

Setelah acara selesai, kami semua kembali ke hotel untuk segera check out dan menuju Rumah Keboen untuk makan siang. Acara ini menjadi semacam acara penutup dari panitia penyelenggaranya. Di acara itu diumumkan pemenang terbaik dari game Paint Ball, dan ternyata kelompokku yang menang. Lumayan, masing-masing orang dapat screen protector untuk laptop. Dan yang penting adalah foto-foto tentunya.

Rangkaian acara diakhiri dengan sesi belanja yang cuma disediakan 1 jam karena sudah melewati jadwal. Parahnya, semua peserta dilepas di daerah yang dipenuhi dengan FO yang notabene, para peserta laki-laki pada males. Maunya sih dilepas di tempat oleh-oleh. Nggak tepat sasaran. Padahal yang ikutan juga kebanyakan cowok. Ceweknya masih bisa diitung dengan jari lah. Setelah semuanya selesai dan kembali ke bus untuk segera pulang ke Jakarta, para peserta yang duduk di belakang, langsung mengeluarkan laptop: segeralah dilakukan pertukaran foto-foto. Dan parahnya milis dan groups di facebook pun langsung dibuat di bus. Emang orang-orangnya edan juga. Di bus masih aja maenan laptop dan konek ke internet. Peserta lain yang berada di bus yang berbeda lalu di-broadcast agar segera mendaftarkan diri di milis yang baru saja dibuat. Yang lebih parah lagi adalah: total foto yang berhasil dikumpulkan ada sekitar 1.8 GB dan pada malam itu langsung diupload semuanya utuh-utuh. Nggak di resize atau diutak-atik dulu. Karena kebetulan ada salah satu peserta yang kerja di salah satu ISP di Gedung Cyber. Skalian deh..

It was another unforgettable weekend. Baru aja seminggu sebelumnya mendapat pengalaman rafting yang menyenangkan, langsung dilanjutkan dengan pengalaman baru yang tak kalah menyenangkan. Baru pertama kali ini bisa berkumpul dengan komunitas semacam ini. Lumayan lah, nggak menyesal aku ikut. Dan untungnya aku jadi pesertanya, jadi bisa berbaur dan berkenalan dengan orang-orang baru. Yang aku sesali cuma satu, acara dugem malam minggu itu yang nggak penting banget. Harusnya ada format acara lain yang lebih berguna dibandingkan dengan acara dugem yang cuma nambah-nambah dosa aja.

Friday, December 12, 2008

Sekilas Maryamah Karpov: Dibawah ekspektasi


Kesan pertama ketika aku membuka sampul buku ini adalah sedikit terkejut. Karena tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, bukunya ternyata cukup tebal. Lebih tebal daripada buku pertamanya malah. Dan yang lebih mengesankan lagi, bahan kertas yang digunakan juga menurutku lebih baik dibandingkan ketiga buku sebelumnya. Bahan kertas yang digunakan mirip dengan buku-buku impor yang walaupun tebal tapi ringan. Dengan harga 79.000 rupiah dipotong diskon 15%, kurasa worth lah. Terlebih lagi, buku ini telah berada di meja kantorku hari Jumat pagi, tak lama setelah buku ini resmi di-launch.

Buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi ini menceritakan kisah Ikal, tokoh utama dalam cerita, setelah menyelesaikan studi masternya di Eropa dan kembali lagi ke kampung halamannya di Belitong. Inti dari cerita di dalam buku ini adalah kisah perjuangan Ikal dalam mencari A Ling. Seorang tokoh perempuan yang dia sukai di buku pertamanya. Perjalanan mengenai pencarian cinta dan orang yang dicintai terkadang memang membuat semuanya seolah tak masuk akal. Dalam bukunya, diceritakan bagaimana Ikal yang seumur hidupnya tak pernah membuat perahu harus membuatnya untuk membuktikan kebenaran yang dia yakini.

Dalam buku ini juga dikisahkan pertemuan Ikal dengan anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya. Tadinya aku pikir inti buku ini adalah pertemuan kembali para anggota Laskar Pelangi. Ternyata aku salah. Dikisahkan pula dalam bukunya kecerdasan-kecerdasan Lintang yang tak pernah lagi dibahas sejak buku pertamanya.

Pesan moral yang aku tangkap dari cerita ini adalah betapa pentingnya mimpi dan bagaimana seseorang seharusnya menggapai mimpi-mimpinya. Walaupun mungkin terkadang tak masuk akal, namun jangan menyerah sebelum mencoba. Terkadang dalam memandang masalah, seseorang terlalu overestimated, sehingga menganggap masalah tersebut tak bisa dipecahkan. Padahal dengan mengubah sudut pandang, masalah tersebut dapat disederhanakan. Hal ini dibuktikan Ikal dengan keberhasilannya membuat perahu dan keberhasilannya dalam memainkan biola walaupun dalam buku tersebut dia tidak memiliki bakat musik dan tidak memiliki bakat sebagai pembuat perahu. Pelajaran yang bisa ditarik adalah hal-hal yang tak mungkin bisa dibuat menjadi mungkin asal ada keinginan yang kuat walaupun tak memiliki bakat.

Aku masih sedikit penasaran kenapa bukunya diberi judul Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang. Maryamah Karpov adalah salah seorang tokoh dalam buku yang memiliki anak perempuan yang dikisahkan dalam buku itu pandai bermain biola (sesuai dengan covernya). Sementara Mimpi-mimpi Lintang adalah nama perahu buatan si tokoh utama. Diberi nama itu karena Lintang si tokoh cerdas memiliki andil yang besar dalam pembuatan desain perahu yang dibuat oleh Ikal. Keduanya tampak tidak ada hubungannya. Tapi aku rasa, dinamai demikian karena kedua-duanya seolah menunjukkan semuanya bisa diraih jika ada keinginan yang kuat. Mungkin itulah pesan moral tersembunyi dari penulisnya, Andrea Hirata dalam memberikan judul buku ke empatnya.

Namun entah kenapa, secara alur cerita aku agak-agak kurang suka dengan buku ini. Dengan sedikit terpaksa aku memberikan rating 3 di www.goodreads.com, dan secara statistik kebanyakan pembaca lain juga memberikan rating 3 untuk buku ini. Pesan moralnya sih bagus, cuma alur ceritanya menurutku banyak bercabang dan nggak fokus. Tadinya aku pikir akan diceritakan masa depan Laskar Pelangi dalam buku ini. Atau at least, ada semacam kisah penutup lah untuk para anggota Laskar Pelanginya. Di dalam buku ini seolah hanya lewat begitu aja. Padahal bukunya kan bertajuk buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi. Cukup banyak lah hal-hal yang dibiarkan left unexplained dan menggantung. Terlebih lagi ending ceritanya juga menggantung dan nggak jelas. Rasa-rasanya buku kedua dan ketiga aja nggak separah ini.

Membaca kisah di akhir bukunya, aku malah jadi berpikir, jangan-jangan masih ada lanjutannya nih. Aku merasa ekspektasiku terlalu besar pada buku ini. Sedikit kecewa lah :(. Dan akhirnya kesimpulanku adalah: menurutku isi buku ini seolah dibuat untuk memenuhi keinginan pasar. Seolah telah disiapkan lagi buku lanjutannya sebagai penyambung buku keempat ini. Ujung-ujungnya bukan tetralogi deh. Jadi berasa baca komik, dimana karena laku, ceritanya dipanjang-panjangin dan nggak pernah tamat.

Well, adakah pendapat lain? Atau mungkin pikiran yang serupa denganku?

Wednesday, December 10, 2008

Reflection


Nggak sengaja nemu serangga di mobilnya Novan waktu acara rafting kmaren. Thx juga bwt Maya yang ngasih tahu :P

Tuesday, December 09, 2008

Rafting CSUI 02 - 6 Desember 2008

Perjalanan dimulai dari rumah Mamat pada hari Sabtu sekitar jam 5 pagi. Selanjutnya, dengan taksi, perjalanan diteruskan ke arah flyover Casablanca di Saharjo. Disana aku dijemput Novan dan langsung menuju ILP Pancoran untuk menjemput Kania, Diah, Enno, dan Tiwi. Maya dijemput di dekat Antam, sementara Isti dijemput di rumahnya di daerah Lenteng Agung. Selanjutnya, rombongan langsung menuju tol Ciawi dan berhenti di salah satu tempat peristirahatan (lupa km berapa) untuk bertemu dengan rombongan lainnya.

Disitu kami sempat menyempatkan foto-foto sebentar. Dan berhubung nggak menemukan makanan untuk sarapan, kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan berhenti di tempat peristirahatan selanjutnya. Pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat.
Akhirnya, di tempat peristirahatan selanjutnya sebelum pintu keluar tol Ciawi, kami bisa sarapan. Berhubung hampir semua pesertanya memesan makanan sementara yang jual makanannya hanya ada dua, jadinya pesen indomie rebus aja baru diantar setengah jam kemudian.


Perjalanan dilanjutkan. Tempat rafting yang akan kami tuju berada di daerah Sukabumi, tepatnya di sungai Cicatih. Walaupun jaraknya hanya sekitar 30 km dari pintu tol Ciawi, perjalanannya sendiri membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Permasalahannya adalah karena kami melalui banyak pasar yang membuat macet. Padahal yang kami lalui adalah jalan utama menuju Sukabumi. Setelah melalui pasar Cibadak, kami belok kanan ke arah Pelabuhan Ratu. Dari situ perjalanan bersisa sekitar 14 km, dan tidak macet.

Kami sampai di tempat tujuan sekitar jam 11 an lewat. Di tempat itu, kami dipersilakan untuk mengganti baju dan meninggalkan semua barang-barang bawaan. Sayang kamera nggak bisa aku bawa walaupun pada saat rafting panitia menyediakan water proof box. Terlalu beresiko. Setelah semuanya siap, kami diantar menuju tempat start rafting. Anak-anak cewek diantar naik angkot, sementara anak-anak cowoknya naik truk terbuka.

Di tempat start rafting kami diberi pengarahan dari panitianya. Perjalanan yang akan kami tempuh sekitar 19 km dan diperkirakan akan memakan waktu sekitar 3 jam (pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang). Rombongan dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 5 orang untuk satu perahu. Masing-masing kelompok akan ditemani oleh satu pemandu, jadi dalam satu perahu ada 6 orang. Kelompokku sendiri terdiri dari: Aku, Maya, Ari, Agnes, dan Arief.

Perjalanan selama rafting sungguh menyenangkan. Maklum lah baru pertama kali ikut acara bginian. Baru berjalan beberapa ratus meter, kami sudah dikejutkan oleh salah satu jeram yang kami lewati. Sampai-sampai pemandu kami pun terjerembab ke depan. Untung nggak ada yang jatuh ke sungai. Nggak seperti salah seorang pemandu lain yang katanya ingin menceburkan peserta yang dipandunya dari perahu, pemandu kami justru sangat care dan bertanggung jawab. Karena perahu kami harusnya berada paling belakang, jadi tiap kali ada perahu lain yang tertinggal pasti ditungguin.

Perjalanan kami terhenti di tengah-tengah karena salah satu perahu yang ditumpangi oleh Kania dkk terjebak di salah satu jeram. Entah lah penjelasan secara ilmiahnya gimana, yang jelas perahu tersebut nggak bisa kemana-mana. Perlu waktu sekitar setengah jam lebih untuk membebaskan perahu tersebut. Tim SAR dan pemanduku sendiri sampai turun tangan. Kesempatan ini aku gunakan untuk berjemur, secara semua pakaianku sudah basah kuyup setelah melewati berbagai macam jeram, walaupunn nggak sampai jatuh ke sungai. Akhirnya perjalanan diteruskan. Sayang, dari banyak jeram yang kami lalui, hanya beberapa yang membuat kami cukup 'shock' dan tertantang. Hehehe.. Di salah satu jeram terakhir, Arief yang satu kelompok denganku terjatuh ke sungai gara-gara keasyikan dan nggak memperhatikan laju perahu. Untungnya bisa cepet naik ke perahu. Katanya kakinya sempat terantuk batu ketika jatuh. Dari pengalamanku, sepertinya posisi perahu yang kemungkinan besar akan menjatuhkan orang yang menaikinya adalah ketika perahu berjalan menyamping, bukan ke depan. Kalo udah bgini, siap-siap aja orang yang berada di samping perahu untuk memegang tali ketika berhadapan dengan jeram.

Ketika perjalanan rafting kami selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Telah disediakan kelapa muda di tempat finish. Dan harusnya gorengan juga sih. Gara-gara emang kebagian kelompok terakhir, yang bersisa hanyalah kelapa mudanya aja. Dari tempat itu, perjalanan dilanjutkan lagi menggunakan truk terbuka dan angkot menuju tempat flying fox dan tempat peristirahatan. Busyet dah, udah pakaian basah semua, naik truk terbuka pula selama kurang lebih setengah jam. Untung nggak sampai masuk angin. Mana hanya bermodalkan sarapan di pagi hari dan mem by pass makan siang pula lagi. Bener kata Maya: Adrenalin mengalahkan segalanya.

Semua barang bawaan kami yang sebelumnya dititipkan diantar ke tempat peristirahatan tersebut. Disana kami mandi sholat dan 'makan siang' (walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore). Salah seorang temanku, Hera mengalami musibah, tas miliknya yang sebelumnya dititipkan ke panitia tidak ditemukan diantara barang-barang kami semua. Duh, padahal isinya HP, dompet, uang dan beberapa kartu ATM. Untungnya semua kartu ATM nya bisa diblok pada saat itu juga. Walaupun katanya pihak panitia akan mengganti semua barang akibat peristiwa ini, jadi rada-rada ngeri juga. Seharusnya, dari awal panitianya mencatat semua barang-barang yang dititipkan, jadi ketahuan nanti hilangnya dimana. Walaupun semua barang hilang diganti, tetep aja repot kalo misalnya mesti ngeblokir semua kartu atm dan ngeblokir nomor telepon. Semoga aja kedepannya kejadian seperti ini nggak terjadi lagi deh. Akibat kejadian ini, kami berada cukup lama disana dan waktu tersebut seperti biasa kami manfaatkan untuk berfoto-foto ria. Akhirnya kami pulang dari tempat peristirahatan sekitar pukul 7 malam dan langsung menuju tempat kami memarkir mobil. Untungnya kali ini nggak naik truk terbuka lagi. Bisa beneran kena masuk angin ntar.

Setengah jam kemudian kami sampai di tempat awal kami datang. Karena sudah malam, diputuskan kami semua akan langsung pulang tanpa perlu saling menunggu seperti pada waktu berangkat sebelumnya. Malam ternyata tak membuat perjalanan pulang menjadi lebih mudah. Jalur Sukabumi-Ciawi sama aja baik ke arah Sukabumi maupun Ciawi. Sama-sama macet. Karena pada saat itu adalah malam minggu, dimana pasar-pasar yang kami lewati sebelumnya menja pusat-pusat keramaian. Huff.. Perjalanan yang sungguh melelahkan. Akhirnya jam setengah 1 malam aku di drop di daerah Tanjung Barat oleh Novan dan perjalanan pulang aku teruskan dengan menggunakan taksi. Sampai rumah sekitar jam 1 malam. Aku membersihkan diri, sholat Isya, dan langsung tidur.

Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan. Walaupun sebenarnya pada hari itu aku masih belum terlalu sehat akibat dua hari sebelumnya aku sakit, tetap saja aku paksakan untuk ikut. Sayang kalo nggak bisa ikut acara kumpul-kumpul seperti ini. Mana jarang-jarang pula lagi bisa ngumpulin sekitar 30 orang lebih dari teman-teman kuliahku. Satu-satunya yang membuat kesal barangkali cuma satu: perjalanan PP dari Ciawi ke tempat raftingnya itu yang nggak kira-kira.



Foto-foto Rafting kemarin bisa diakses di Picasa melalui link berikut ini.

Yang mau file-file ukuran full-size nya bisa mengunduh melalui link rapidshare dibawah ini:

Atau dari Megaupload:
Note: Beberapa foto yang terlalu 'vulgar' dan 'personal' nggak aku upload. Silakan japri ajah yah.. ;)