Friday, November 14, 2008

Sisi Positif dan Negatif Audit

Sisi Positif dan Negatif dari Audit

Setelah badai audit mereda beberapa waktu yang lalu, aku mencoba untuk menelaah sisi-sisi positif dan negatif yang diakibatkan oleh proses audit itu sendiri, dilihat dari sudut pandang orang yang diaudit. Tulisan dibawah ini sangat subjektif. Jadi kalo ada yang mau berkomentar atau memberi masukan, sok-sok aja, terutama mungkin dari sisi auditornya sendiri :P.

Sisi positif:

  • Membantu unit kerja tertentu untuk menambal berbagai macam celah yang ada dan yang mungkin timbul di masa yang akan datang.
  • Memastikan suatu unit kerja menjalankan proses yang benar dan sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.
  • Dengan adanya audit, proses bisnis unit kerja tempat kita bekerja menjadi transparan. Terutama yang berhubungan dengan uang, dimana unit kerja tersebut sangat rentan dari tindakan-tindakan fraud dan korupsi. Dan tentunya, dengan audit pula, bisa mencegah segelintir orang tertentu untuk melakukan dosa-dosa korupsi dan fraud.
  • Membuat para karyawan menjadi lebih disiplin dalam pekerjaannya. Alasan ini aku pilih karena melalui audit, semua dokumen-dokumen yang mendukung harus tersedia. Cukup memaksa masing-masing unit kerja untuk selalu melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan. Ujung-ujungnya karena adanya suatu paksaan, bisa melatih kedisiplinan.
  • Audit bisa melatih seseorang menjadi rajin, karena semua hal yang berhubungan dengan transaksi dan proses bisnis akan selalu dicatat dengan baik. Sehingga hal ini memudahkan proses pencarian dan pengorganisasian dokumen-dokumen yang diminta oleh tim audit.
  • Bisa meningkatkan Key Performance Index (KPI) dari unit kerja yang diaudit, jika tidak ditemukan temuan apapun.

Sementara itu, sisi-sisi negatifnya antara lain:
  • Menambah kerjaan. Jelas banget nih. Karena mesti mengobrak-abrik dokumen dan menyediakan dokumen-dokumen yang diperlukan. Terkadang, bisa bermunculan dokumen-dokumen baru yang harus dibuat agar unit kerja tertentu comply dengan audit.
  • Menyita waktu dan memicu stress, karena dokumen-dokumen yang diminta seolah tak pernah habis dan deadlinenya sangat ketat. Belum lagi setelah dokumen diserahkan, ternyata masih ada yang salah dan kurang. Ujung-ujungnya, yang ada malah jadi kesel sama auditornya. *Untung audit kemaren auditornya nggak ngeselin*
  • Jika desain kontrolnya ternyata kurang sesuai dengan kondisi nyata, bisa ribet. Karena harus memenuhi dan membuat dokumen yang jelas-jelas tidak bisa dipenuhi. Artinya ekspektasi dari tim penyusun desain kontrolnya terlalu perfeksionis dan kurang memahami kondisi unit kerja yang diaudit.
  • Kurang ramah lingkungan. Bayangkan, berapa banyak lembar kertas yang harus dicetak dan difotokopi untuk menunjukkan bahwa pihak-pihak terkait menandatangani dokumen-dokumen tersebut. Untuk menghindari fotokopi, semua dokumen bisa di scan, dan tentunya akan memudahkan pencarian.
Well, kira-kira kalo dari sisi auditornya sendiri gimana yah?

3 comments:

ipun said...

Untuk sisi negatif, teknologi informasi seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan.

Jika ada suatu sistem yang mencatat transaksi yang akan di audit, auditor dapat mengakses sistem itu untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Tantangannya adalah merancang sistem tersebut sehingga data yang akan diaudit dapat terekam seiiring dengan transaksi yang berjalan.

Andrew said...

Audit memang bagus, menjadi terstruktur,
tetapi yang bikin jengkel itu kadangkala audit itu sendiri tidak punya standar baku mengenai apa yang akan di audit atau apa yang dibutuhkan untuk audit.

Kasus ini pernah saya alami ketika menjadi konsultan di salah satu perusahaan telekomunikasi.

Auditor A bilang dokumen yang dibutuhkan adalah A, B, C .
Tahun berikutnya ketika auditornya berganti menjadi X...kebutuhan dokumen dan formatnya juga berubah menjadi X, Y dan Z.

Jadi dari yang saya simpulkan, auditor itu cukup banyak menyita waktu, tenaga dan tentu saja biaya.

Eko Budi Prasetyo said...

Yup setuju. Terkadang yang menyebalkan adalah ketika kerangka untuk kontrolnya yang udah salah, sama seperti seolah mereka nggak punya standar baku mengenai apa yang akan diaudit. Jadinya ya, dokumen yang harus disediakan seolah menjadi formalitas untuk keperluan audit aja.