Thursday, May 29, 2008

Hari gini ga beli karcis???

Hari ini aku mencoba pulang lebih cepat dari biasanya. Jika biasanya aku pulang menggunakan KRL Ekonomi AC jurusan Tanah Abang Serpong, kali ini pulang naik KRL Ekonomi yang biasa. Penuhnya sih sama aja, cuma bedanya yang AC tentu lebih nyaman, tetapi jadwalnya 1 jam setelah KRL Ekonomi yang biasa. Harga karcis, tentu berbeda juga lah.

Biasanya, naik KRL Ekonomi AC atau KRL Ekspress, penumpangnya kebanyakan orang-orang kantoran. Yang dalam hal ini, tentunya mereka membeli karcis sesuai dengan harga yang telah ditetapkan. Walaupun jarang dilakukan pemeriksaan karcis diatas kereta, tapi aku yakin mereka cukup disiplin lah. Malu aja kali tuh pake baju rapi ketahuan nggak beli karcis.

Situasinya cukup berbeda dengan penumpang KRL Ekonomi biasa. Sebagian penumpangnya adalah orang-orang kantoran, sebagian lagi pedagang asongan dan penumpang biasa yang memang menggunakan KRL sebagai sarana transportasi, bukan pulang dari tempat kerja.

Tadi ada kejadian yang cukup menarik, setahuku biasanya hanya kondektur saja yang memeriksa karcis diatas kereta. Kali ini ada beberapa petugas keamanan yang menemani kondektur ketika memeriksa karcis masing-masing penumpang. Jika biasanya penumpang yang tidak memiliki karcis bisa membayar diatas kereta (dengan membayar Rp. 1000, padahal harga karcis Rp. 1500, dan nggak tahu tuh yang Rp. 1000 masuk ke PJKA atau ke kondekturnya), kali ini penumpang yang tidak memiliki karcis tak berkutik oleh petugas keamanannya. Menurut aturannya, yang ketahuan nggak memiliki karcis akan dikenakan denda sebesar Rp. 5000 (untuk KRL Ekonomi biasa), dan penumpang tersebut akan mendapatkan tanda bukti berupa karcis suplisi (kalo nggak salah namanya seperti itu). Tadi lumayan juga sih, ada beberapa yang ketahuan tak memiliki karcis. Padahal kulihat dari penampilannya sih mampu untuk beli. Masa iya sih harga karcis Rp. 1500 nggak bisa kebeli. Udah jaraknya lumayan jauh, waktu perjalanan lebih singkat, keitung murah banget, dan selama dua kali kenaikan harga BBM harganya belum naik, tetap Rp. 1500, masih bisa aja nggak beli karcis. Padahal, mereka-mereka yang nggak beli karcis tadi kulihat bisa tuh membayar harga karcis suplisinya.

Semoga saja dengan kejadian ini mereka kapok. Atau sekalian aja sekarang kondektur mesti ditemani oleh petugas keamanan supaya penumpangnya lebih disiplin dan nggak ada kebocoran pemasukan untuk PJKA.

Monday, May 19, 2008

The Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Berhubung dulu film pertamanya lumayan bagus, jadi pengen nonton film keduanya deh. Jadilah acara nontonnya hari sabtu kemaren di PIM 2. Sekalian jalan-jalan dan beli buku disana. Tadinya pengen nonton pas hari kerja. Lebih sepi dan lebih leluasa. Tapi karena jadwal filmya nggak cocok, jadi males deh.

Sewaktu mau beli tiket, antriannya panjang bener dah. Weekend sih. Karena datang kesananya udah agak telat, ngambil CD Ubuntu dulu di kantor pos Fatmawati, jadi agak ragu juga bisa dapet tiket atau nggak. Cuma, karena nontonnya sendirian, bisa dapet deh. Padahal hampir semua tempat duduknya sudah terisi. Cuma ada beberapa tempat duduk yg masih kosong, tapi tidak berderetan tentunya.

Di film yang kedua ini, menurutku nggak terlalu nyambung sama film yang pertamanya. Nyambungnya nggak terlalu signifikan lah. Jadi nggak masalah buat yang belum nonton film pertamanya.

Efek visual yang ditampilkan sudah jauh lebih baik dibanding pendahulunya, yang dulu masih kasar dan ketahuan banget bohongnya. Theme soundtracknya juga banyak kesamaannya dengan film yang pertama. Yah, secara overall sih lumayan worth lah untuk ditonton.

Akhirnya datang juga...


Setelah menunggu sekitar 3 mingguan lebih, CD Ubuntu Hardy yang kupesan akhirnya datang juga. Seperti biasa, berhubung mintanya dikirim ke kantor, ujung-ujungnya malah disuruh ngambil barangnya ke kantor pos, plus bayar Rp. 3000. Aneh deh, padahal kenapa ga dikasih langsung aja.

Di versi yang 8.04 ini, cuma bisa request 1 CD aja. Bisa minta lebih siy, tapi mesti ngasih alesan macem-macem. Padahal di versi yang 7.10 sekali pesan dikasih 2 CD. Walaupun sebenernya 1 aja udah cukup. Dan nggak perlu repot-repot pula. Tinggal download aja. Tapi, lumayan lah, buat kenang-kenangan ama stiker gratisnya.

Thursday, May 01, 2008

Hardy Heron on Portege M600

Beberapa hari yang lalu, aku menginstall Ubuntu 8.04 Hardy Heron ke laptop Portege M600 ku. Udah nggak perlu pake upgrade lah. Langsung hajar aja, install ulang, menimpa instalasi Ubuntu Gutsy 7.10 yang sudah ada. Berhubung sejak awal partisi untuk /home sudah aku pisahkan dari partisi utamanya, nggak perlu khawatir ada data-data personal dan preference (shortcut, tampilan desktop, history, bookmark, dsb) yang hilang.

Performa dan Tampilan
Puas deh ama tampilannya, apalagi didukung dengan GNOME 2.22, Xorg 7.3 dan Kernel 2.6.24. Walaupun dari tampilan nggak berbeda jauh dengan pendahulunya, untuk versi yang ini kurasa ada penambahan performa. Kerasa lebih kenceng dibandingkan dengan Gutsy. Bagi pengguna Gutsy, kusarankan untuk mengupgrade ke Hardy. Bakalan kerasa deh peningkatan performanya.

Tidak seperti pada Gutsy, dimana pertama kali install resolusi desktopnya rada-rada bermasalah di Portege M600. Mana VGA card nya masuk black list (atau memang belum di-support), jadi nggak bisa pake compiz kalo nggak diutak-atik dulu. Sekarang sudah diperbaiki di Hardy.


Suara
Sound Card Portege M600 (Realtek ALC268) dikenali dengan baik, dan yang penting suaranya keluar. Seneng banget ketika setelah proses login, keluar deh suara start up Ubuntu yang khas. Pada Ubuntu 7.10 sebelumnya sound cardnya dikenali, tapi suaranya nggak keluar. Waktu itu sempet puyeng karena solusinya nggak ketemu juga. Akhirnya bisa keluar juga setelah menginstall module backport nya Ubuntu.

Firefox 3 beta 5
Nggak terlalu ngeh dengan fitur-fitur baru yang ada di firefox terbaru ini. Yang paling berasa sih fungsi autocomplete pada address bar nya yang berasa lebih 'keren' dan lebih cerdas. Keyword yang diketik pada address bar selain dicari pada history alamat web yang dikunjungi, juga akan dicari pada judul bookmark dan tag yang diberikan pada bookmark.


Fitur lain yang menurutku lumayan menarik adalah fitur untuk menyimpan session dari tab yang sedang dibuka. Ketika aplikasi firefox akan ditutup, muncul dialog konfirmasi yang meminta pengguna untuk memilih menyimpan session semua tab yang sedang dibuka atau tidak. Jika session tab nya disimpan, maka nanti ketika firefox dijalankan lagi, semua tab yang terbuka sebelumnya, akan dibuka kembali. Jika dulu pengguna harus menginstall Add-On tambahan seperti Session Saver, sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena sudah terintegrasi.


Authorizations
Ada fitur baru yang namanya Authorizations / Policy Kit yang bisa diakses dari System->Administration->Authorizations. Fitur PolicyKit ini memungkinkan aplikasi-aplikasi administratif seperti pengaturan waktu, pengaturan user dan group, dan lain sebagainya dapat dijalankan dengan menggunakan priveledge user biasa, bukan sebagai root. User biasa tersebut dapat melakukan perubahan konfigurasi pada aplikasi-aplikasi administratif dengan mendapat priveleges khusus.


Masih belum ngerti banget ama fungsi sebenarnya dari PolicyKit ini. Tapi sepertinya dengan PolicyKit ini urusan-urusan yang bersifat administratif jadi lebih gampang ngaturnya. Bisa mengatur user mana saja yang dapat mengakses fungsi-fungsi administratif tertentu dan mana yang tidak.


Wubi
Wubi memungkinkan user untuk meng-install Ubuntu di dalam partisi Windows tanpa perlu membuat pertisi sendiri secara terpisah. Dan bisa di uninstall pula lagi. Minimal space yang tersedia sekitar 5GB untuk bisa digunakan. Ketika instalasi ukuran partisi instalasinya dapat diatur sesuai dengan kapasitas free space yang ada pada partisi yang akan diinstall. Ukuran minimal partisi instalasinya adalah 4GB. Pada dasarnya, Wubi membuat semacam hard disk virtual pada partisi yang telah ada. Lalu pada saat boot, hard disk virtual tersebut di load jadi seolah-olah menjadi seperti partisi sendiri yang terpisah. CMIIW. Walaupun katanya performanya sedikit menurun dibandingkan jika diinstall pada partisi sendiri, kurasa perbedaannya nggak terlalu terasa.


Fitur ini cocok untuk pengguna Windows yang tertarik untuk mencoba Ubuntu dan nggak mau ribet pada saat instalasinya. Terbukti beberapa temen kantorku berhasil kuracunin untuk menggunakan Ubuntu karena fitur ini. Buat yang sudah bosen dengan virus-virus yang berkeliaran di Windows, nggak ada salahnya untuk mencoba Wubi :P.